NEXT Edu

NEXT Edu

Share

Seminar & Workshop, Teacher Training, Parenting, School Consulting, Multiple Intelligences Research

12/05/2026

Kunjungan ke Daycare/TK di Australia Tidak Mudah, Kami sudah Membuktikan.
Mengikuti berita kasus daycare di Jogja yang memprihatinkan, Kami semakin memahami bahwa pekerjaan yang berhubungan dengan anak-anak usia dini tidak sembarangan. Harus ada filter latarbelakan terhadap pengasuh atau guru yang bekerja didalamnya.
Ceritanya dalam 4 kali kunjungan ke Australia, ada hal yang tidak dapat kami sentuh. Yaitu kunjungan ke daycare atau TK.
Sejujurnya beberapa taman kanak-kanak di Australia kami kirim permohonan kunjungan. Dari sekian email yang kami kirim, hanya ada satu yang merespon dan bersedia menerima kunjungan. Seminggu setelahnya, ada balasan yang memberitahu bahwa mereka menolak dengan alasan karena banyak agenda kegiatan.
Baiklah, kami tidak putus asa mencari dan berusaha submit ke TK lainnya. Puluhan data email TK kita kumpulkan lantas kita kirim lagi surat permohonan. Lantas, ada satu yang bersedia, tapi syaratnya harus memiliki kartu WWCC (Working With Children Check), yaitu sebuah kartu yang memberikan akses bagi seseorang untuk bekerja dan berhubungan langsung dengan anak-anak. Syarat ini bahkan berlaku bagi tukang sampah yang rutin ambil sampah di daycare, tukang kebun, pekerja tentative (seperti: tukang listrik, tukang bangunan yang melakukan pekerjaan dilingkungan daycare/TK) pun wajib punya kartu ini.
Tentu rombongan kami tidak punya itu. Karena kami kira itu adalah kartu ijin bagi yang setiap hari bekerja dengan anak-anak. Alasan itu telah kami sampaikan kepada TK ybs, tapi bagi aturan manajemen, hal itu mutlak dipenuhi. Lagi-lagi kami ditolak dan kunjungan kami dibatalkan.
Bapak dan ibu, pada agustus nanti, kami akan mencoba kembali berkunjung ke Daycare/TK di Australia. Walau tanpa kehadiran anak-anak, kita musti tetap belajar tentang sistem disana.
info pendaftaran Trip Pendidikan ke Australia silahkan hubungi 081330788222

11/05/2026

Kunjungan ke Daycare/TK di Australia Tidak Mudah, Kami sudah Membuktikan.

Mengikuti berita kasus daycare di Jogja yang memprihatinkan, Kami semakin memahami bahwa pekerjaan yang berhubungan dengan anak-anak usia dini tidak sembarangan. Harus ada filter latarbelakan terhadap pengasuh atau guru yang bekerja didalamnya.

Ceritanya dalam 4 kali kunjungan ke Australia, ada hal yang tidak dapat kami sentuh. Yaitu kunjungan ke daycare atau TK.
Sejujurnya beberapa taman kanak-kanak di Australia kami kirim permohonan kunjungan. Dari sekian email yang kami kirim, hanya ada satu yang merespon dan bersedia menerima kunjungan. Seminggu setelahnya, ada balasan yang memberitahu bahwa mereka menolak dengan alasan karena banyak agenda kegiatan.

Baiklah, kami tidak putus asa mencari dan berusaha submit ke TK lainnya. Puluhan data email TK kita kumpulkan lantas kita kirim lagi surat permohonan. Lantas, ada satu yang bersedia, tapi syaratnya harus memiliki kartu WWCC (Working With Children Check), yaitu sebuah kartu yang memberikan akses bagi seseorang untuk bekerja dan berhubungan langsung dengan anak-anak. Syarat ini bahkan berlaku bagi tukang sampah yang rutin ambil sampah di daycare, tukang kebun, pekerja tentative (seperti: tukang listrik, tukang bangunan yang melakukan pekerjaan dilingkungan daycare/TK) pun wajib punya kartu ini.
Tentu rombongan kami tidak punya itu. Karena kami kira itu adalah kartu ijin bagi yang setiap hari bekerja dengan anak-anak. Alasan itu telah kami sampaikan kepada TK ybs, tapi bagi aturan manajemen, hal itu mutlak dipenuhi. Lagi-lagi kami ditolak dan kunjungan kami dibatalkan.

Bapak dan ibu, pada agustus nanti, kami akan mencoba kembali berkunjung ke Daycare/TK di Australia. Walau tanpa kehadiran anak-anak, kita musti tetap belajar tentang sistem disana.
info pendaftaran Trip Pendidikan ke Australia silahkan hubungi 081330788222

09/05/2026

Sistem Penerimaan Siswa Baru (SPMB) merupakan momen krusial bagi satuan pendidikan untuk menyaring dan menerima siswa baru. Selama ini, fokus utama SPMB lebih banyak tertuju pada identifikasi bakat, minat, dan kemampuan akademik calon siswa. Namun, pengalaman berbagai sekolah menunjukkan bahwa keberhasilan pendidikan seorang anak tidak hanya ditentukan oleh faktor individu siswa, tetapi juga sangat dipengaruhi oleh lingkungan keluarga, terutama peran dan komitmen orangtua.

Coba renungkan apakah hal-hal berikut ini yang diperlukan oleh sekolah / lembaga pendidikan anda?
1.⁠ ⁠Pemetaan keselarasan nilai antara harapan dan pola asuh orangtua dengan visi, misi, serta tata tertib sekolah.
2.⁠ ⁠Mengukur komitmen dan keterlibatan orangtua bagi pendidikan anak
3.⁠ ⁠Antisipasi potensi kesulitan atau konflik yang mungkin timbul selama masa pendidikan di sekolah.
4.⁠ ⁠Mengurangi risiko tunggakan biaya pendidikan.

Jika ada satu atau beberapa hal di atas yang anda alami, kami mengajak anda berpartisipasi dalam webinar yang membahas strategi memprofil komitmen dan kemampuan finansial orangtua secara profesional dan beretika. Materi ini sangat penting bagi guru, kepala sekolah, pengawas sekolah, yayasan ataupun pemilik sekolah untuk menjaga keberlangsungan pendidikan siswa secara lebih terencana dan bijak. Webinar ini akan membuka cara cerdas dan terukur dalam memprofil komitmen serta kemampuan finansial calon orangtua siswa baru.

Dengan adanya profil calon orangtua, sekolah tidak hanya menerima siswa yang cerdas secara akademik, tetapi juga membangun ekosistem pendidikan yang harmonis antara sekolah, siswa, dan orangtua. Profiling ini bukan untuk mendiskriminasi, melainkan untuk menciptakan kecocokan yang saling menguntungkan demi keberhasilan pendidikan jangka panjang.

👉 Segera daftarkan diri Anda sekarang!
Klik link pendaftaran: https://bit.ly/DaPerWebinarNE
Atau hubungi: 0878 5114 1650

09/05/2026

Kunjungan ke Daycare/TK di Australia Tidak Mudah, Kami sudah Membuktikan.

Mengikuti berita kasus daycare di Jogja yang memprihatinkan, Kami semakin memahami bahwa pekerjaan yang berhubungan dengan anak-anak usia dini tidak sembarangan. Harus ada filter latarbelakang terhadap pengasuh atau guru yang bekerja didalamnya.

Ceritanya dalam 4 kali kunjungan ke Australia, ada hal yang tidak dapat kami sentuh. Yaitu kunjungan ke daycare atau TK.
Sejujurnya beberapa taman kanak-kanak di Australia kami kirim permohonan kunjungan. Dari sekian email yang kami kirim, hanya ada satu yang merespon dan bersedia menerima kunjungan. Seminggu setelahnya, ada balasan yang memberitahu bahwa mereka menolak dengan alasan karena banyak agenda kegiatan.

Baiklah, kami tidak putus asa mencari dan berusaha submit ke TK lainnya. Puluhan data email TK kita kumpulkan lantas kita kirim lagi surat permohonan. Lantas, ada satu yang bersedia, tapi syaratnya harus memiliki kartu WWCC (Working With Children Check), yaitu sebuah kartu yang memberikan akses bagi seseorang untuk bekerja dan berhubungan langsung dengan anak-anak. Syarat ini bahkan berlaku bagi tukang sampah yang rutin ambil sampah di daycare, tukang kebun, pekerja tentative (seperti: tukang listrik, tukang bangunan yang melakukan pekerjaan dilingkungan daycare/TK) pun wajib punya kartu ini.
Tentu rombongan kami tidak punya itu. Karena kami kira itu adalah kartu ijin bagi yang setiap hari bekerja dengan anak-anak. Alasan itu telah kami sampaikan kepada TK ybs, tapi bagi aturan manajemen, hal itu mutlak dipenuhi. Lagi-lagi kami ditolak dan kunjungan kami dibatalkan.

Bapak dan ibu, pada agustus nanti, kami akan mencoba kembali berkunjung ke Daycare/TK di Australia. Walau tanpa kehadiran anak-anak, kita musti tetap belajar tentang sistem disana.
info pendaftaran Trip Pendidikan ke Australia silahkan hubungi 081330788222

Want your school to be the top-listed School/college in Surabaya?

Click here to claim your Sponsored Listing.

Location

Category

Address


Jalan Penghela 34-36
Surabaya
60174

Opening Hours

Monday 08:00 - 17:00
Tuesday 08:00 - 17:00
Wednesday 08:00 - 17:00
Thursday 08:00 - 17:00
Friday 08:00 - 17:00