08/02/2026
Dawuh KH. Anwar Manshur: Ada orang tua yang rumahnya hanya sepelemparan batu dari pesantren. Setiap hari mendengar suara adzan, melihat para santri hilir mudik, bahkan mungkin bersalaman dengan kiai di jalan. Tapi anaknya tidak pernah benar-benar “dititipkan” pada suasana itu.
Sebaliknya, ada yang rumahnya jauh. Harus menempuh perjalanan, menahan rindu, merelakan anak hidup mandiri di tempat orang. Tapi justru mereka yang berani memondokkan anaknya.
Dalam pandangan agama, keberanian seperti itu bukan sekadar pilihan pendidikan. Ia adalah pertolongan Allah. Tidak semua orang diberi kelapangan hati untuk melepas anak demi masa depan agamanya. Ada yang dekat secara jarak, tapi jauh secara keputusan. Ada yang jauh secara jarak, tapi dekat secara tekad.
Memondokkan anak bukan perkara ringan. Itu bukan hanya soal biaya atau fasilitas. Itu soal kepercayaan dan harapan. Orang tua menyerahkan sebagian hidup anaknya untuk dibentuk oleh ilmu, adab, dan disiplin. Dan itu adalah bagian dari tanggung jawab yang tidak kecil.
Dalam tradisi kita, kewajiban orang tua kepada anak disebutkan ada tiga.
Pertama, memberi nama yang baik. Nama bukan sekadar panggilan. Ia doa, harapan, dan identitas. Nama yang baik jumlahnya banyak, luas pilihannya. Yang penting ia mengandung kebaikan, bukan sekadar tren.
Kedua, mengajarkan kitab dan syariat ketika anak sudah berakal. Artinya, jangan biarkan anak tumbuh hanya dengan pengetahuan dunia tanpa arah agama. Akal perlu dibimbing, bukan hanya diisi. Anak yang cerdas tanpa tuntunan bisa tersesat oleh kecerdasannya sendiri.
Ketiga, mencarikan jodoh ketika anak sudah dewasa.
Bagian ini sering terasa sensitif di zaman sekarang. Banyak yang merasa urusan jodoh sepenuhnya hak anak. Memang benar, anak punya suara. Tapi orang tua punya pandangan yang lebih panjang. Anak yang mencari sendiri sering kali terpikat oleh yang tampak di permukaan—wajah, gaya, penampilan. Itu manusiawi. Tapi jika hanya itu yang dijadikan ukuran, bahayanya nyata.
Orang tua, jika benar-benar menjalankan perannya, tidak hanya melihat paras. Mereka mencari pasangan yang bisa diajak berjalan bersama dalam menegakkan syariat, dalam membangun rumah tangga yang tidak hanya nyaman, tapi juga berkah. Mereka berpikir tentang masa depan, tentang cucu-cucu, tentang kesinambungan kebaikan.
Tentu semua itu tidak otomatis benar hanya karena orang tua yang memilih. Orang tua pun harus bijak, tidak memaksakan ego atau gengsi. Tapi prinsip dasarnya jelas: tanggung jawab orang tua bukan selesai saat anak bisa makan dan sekolah. Ia berlanjut sampai anak siap berdiri sebagai pribadi yang utuh—secara akhlak, ilmu, dan keluarga.
Dan mungkin, inti dari semuanya sederhana saja: menjadi orang tua bukan hanya tentang membesarkan, tapi tentang mengarahkan. Bukan hanya tentang mencintai, tapi tentang menuntun.
Kadang menuntun itu berarti mendekatkan anak ke pesantren. Kadang berarti menahan diri untuk memilihkan yang terbaik. Dan di setiap keputusan yang berat itu, selalu ada harapan—semoga ini menjadi bagian dari pertolongan Allah.
Mas Dwi sadoellah Sidogiri