08/06/2021
Mari kita syukuri bahwa keikhlasan para Kyai dan guru masih cukup tinggi. Para santri ikhlas diarahkan, diawasi, diajari, dievaluasi, dikritik, dihukum. Para guru ikhlas mengarahkan, ikhlas mengawasi, ikhlas mengajar, mengevaluasi, mengkritik, menghukum. Guru-guru di Gontor tidak dibayar. Inilah cara Gontor untuk menanamkan jiwa keikhlasan. Trimurti mengikhlaskan tanah warisan kepada umat, dikala miskin.
Santri dan guru hidup berdampingan dalam satu komplek pesantren. Saling membantu, bekerja sama. Begitulah PMDG hidup selama sembilan puluh tahun. SPP tidak digunakan untuk membayar guru. SPP digunakan untuk membaya listrik, membeli meja dan bangku, membangun ruang kelas. Tidak sepeserpun untuk membayar para guru.
Pada masa kepemimpinan Trimurti, seorang santri yang mendapat tugas mengajar oleh kyainya atau mendapat lowongan mengajar disuatu madrasah, mereka amat sangat senang walaupun tanpa imbalan. Guru-guru yang sangat ikhlas mengajar di PMDG, seperti: K.H. Shoiman LH., K.H. Imam Badri, K.H. Ibrahim Thoyyib, Ust. Hasuna, Ust. Sirman Nur Salim dan lain sebagainya, telah mengajar di PMDG selama bertahun-tahun bersama Trimurti dengan istiqomah tanpa mengharap imbalan apapun. Selain di PMDG, mereka membina/mengajar di madrasah-madrasah sore (sekolah arab) didaerah masing-masing juga tidak mengharap imbalan apapun.
K.H. Shoiman LH., K.H. Imam Badri, K.H. Ibrahim Toyyib, Ust. Imam Subani sebelum mengajar di PMDG, adalah alumni PP. Tegal Sari. Walaupun tak mendapat ihsan yang banyak, mereka tetap ikhlas mengajar sampai akhir hayat.
Tetapi PMDG tidak pernah membiarkan guru-gurunya tanpa kesejahteraan, oleh karena itu pada tahun 1960 telah dibangun Perdos (Perumahan Dosen) di belakang gedung Saudi. Ada empat buah rumah, sehingga mereka dapat tinggal dan membantu Trimurti dalam membina santri dan guru selama 24 jam. Namun, Kesejahteraan mereka tetap terbatas, dengan penuh kayakinan kehidupan mereka tetap dijamin oleh Allah. Keikhsalan-keikhlasan yang menjiwai para guru