Kabuyutan Cipaku

Kabuyutan Cipaku Apakah yang dimaksud dengan Cipaku dan mengapa orang tua zaman dulu menyampaikan bahwa semua manusia berasal dari Cipaku.

Kampung Buhun Cipaku, Kampung Wisata Budaya & Spiritual Nusantara, Tempat Kembali Ke Alam Belajar Mengenal Waruga Jagat, Jagat Alit Jagat Agung, Jatidiri Jatigede, Tata Salira Tata Buana. Sampurasun, wilujeng sumping di Kabuyutan Cipaku,
Kabuyutan Cipaku atau Kampung Buhun Cipaku, Kecamatan Darmaraja, Kabupaten Sumedang merupakan kampung tri tangtu (tiga penentu kebijakan dunia) cikal bakal Sumeda

ng dan Nusantara. Cipaku berasal dari kata Ci atau Chi dan Paku dimana Ci atau Chi artinya Cahaya dan Paku artinya Pakuning Alam, jadi Cipaku adalah Cahaya Pakuning Alam, simbol hadirnya Cahaya Tuhan di dalam diri manusia dan alam semesta. Dalam kepercayaan masyarakat Kabuyutan Cipaku ada dua perbedaan sosok seorang manusia yaitu Jelema dan Manusa, Jelema adalah Jelmaan yang wujudnya seperti manusia namun belum mendapatkan Cahaya Tuhan. Sedangkan Manusa adalah manusia sejati yang telah mendapatkan pencerahan Cahaya Tuhan. Ciri seorang manusia sejati adalah memiliki sifat atau karakteristik seorang manusia yang berperikemanusiaan diantaranya ditandai dengan adanya Sopan Santun dan Budi Pekerti atau Mampu Menata Dirinya sehingga memiliki jatidiri. Seorang Jelmaan adalah yang wujudnya seperti manusia namun didalamnya kehilangan Jatidiri, Jati Kasilih Ku Junti, didalamnya bukan manusia namun berupa jelmaan entah itu jelmaan entitas berupa hewan, tumbuhan, setan, siluman, dll. Page Kabuyutan Cipaku ini merupakan bahtera untuk belajar mengenal Waruga Jagat, Jagat Alit Jagat Ageung, Jatidiri Jatigede, Tata Salira Tata Buana, agar mampu menjadi Paku Alam di alam semesta ini. Mengenali diri untuk bisa hidup dalam cinta, kebaikan, kebenaran, dan kebijaksanaan. Berharmonisasi antar individu, saling memberi buah kebaikan, dan bersama memberi manfaat untuk generasi penerus. Pakena Gawe Rahayu Pakeun Heubeul Jaya Di Buana, semakin banyak berbuat kebaikan semakin jaya di dunia. Nusa Jaya Jaya Deui, Hade Deui Sakabehna. Salam sejahtera, rahayu, semoga seluruh semesta bahagia,

Kupat, Lepat, Lipatan, Lepatan, LuputanTulisan Bernas dari Kang Hendra Hendarin, Kasepuhan Bandung. Upawasa, Blabaran, T...
01/05/2022

Kupat, Lepat, Lipatan, Lepatan, Luputan

Tulisan Bernas dari Kang Hendra Hendarin, Kasepuhan Bandung.

Upawasa, Blabaran, Tipat
Puwasa, Lebaran, Ketupat.

Secara simbolis, makan adalah "memberi makan Bhuta", atau menyuplai (feeding) nafsu (makan). Secara simbolis, wilayah perut ke bawah adalah wilayah otoritas ke-Bhuta-an, karena berkaitan dengan hal-hal duniawi, nafsu makan, syahwat, dan berbagai motif ekonomis. (Sedangkan wilayah ke-Dewa-an, atau Ketuhanan, adalah dari kerongkongan ke atas; kemanusiaan adalah dari kerongkongan ke pusar).

Sebagai manusia paripurna, kita harus memuja Ketuhanan dan pada saat yang sama juga menghormati ke-Bhuta-an, karena secara esoteris mereka juga bagian dari kita. Manusia adalah makhluk campurna. Campurna ti na sagala rupi nu aya di dunya.

Sebagai entitas dunia tengah, kita harus "menancap pada dunia bawah dan menyangga dunia atas". Kita adalah penyambung, buffer, dari keberlangsungan sirkulasi Enerji dan Urip dari kedua dimensi tersebut; menjaga keseimbangan.
---

Shiam, shaum, sebagai salah satu bentuk dari Upawasa, adalah metoda "pengekangan" (fasting, fastening) sisi ke-Bhuta-an kita, yang dalam sehari-hari biasanya kita umbar tanpa kendali. Ini sebabnya secara simbolis disebutkan bahwa pada bulan Ramadhan "setan diikat". Artinya adalah bahwa kita mengikat sisi setan (Bhuta) dalam diri kita.

Setelah seluruh proses shaum dilaksanakan, kemudian secara simbolis kita kembali "memberikan hadiah, upah" kepada sisi nafsu kita dengan cara Blabaran, luberan, baloboran, boboran, atau maknanya adalah menyediakan suguhan yang berlimpah, plenty of presents. Di Jawa Barat disebut juga "Boboran shiam".

Pemberian hadiah ini, suguhan, ségéh, offering, adalah suguhan bagi sisi "kebhutaan" kita. Aspek nafsu kita. Karena nafsu, nafs, adalah aspek esensial dan fundamental manusia. Tanpa memiliki nafsu, maka manusia tak akan jadi makhluk ekonomi. Dunia tak akan memiliki dinamika. Secara esoteris juga merupakan simbol bahwa kita juga memberi bagian kepada entitas ke-Bhuta-an di alam dunia, sebagai simbolisasi bahwa kita menghormati mereka, menjaga keberlangsungan polarisasi positif dan negatif agar dunia Semesta tetap sinambung.

Blabaran, Lebaran, Mblabar, lubar, luber, maknanya adalah berlebihan, limpahan, abundance, plentious, over-flowing, spilling-out, banjir, juge merupakan simbolisasi dari syukuran dan penghormatan terhadap sisi daya kelimpahan semesta.

Dalam perayaan proses akhir ini, dalam Blabaran, disediakan tipat, (bahasa Bali dari Ketupat), sebagai simbolisasi penggodokan yang telah matang dan memberikan barokah, hasil. Hasilnya adalah menjadi manusia yang handap asor, humble, rendah hati, manusia yang melayani dan membagi.

***
Gambar: Segeh Tipat

Wilujeng boboran shiam, hapunten samudaya kalepatan. Selamat merayakan hari kemenangan bersama keluarga, saudara dan seg...
01/05/2022

Wilujeng boboran shiam, hapunten samudaya kalepatan.

Selamat merayakan hari kemenangan bersama keluarga, saudara dan segenap handai taulan. Kiranya berkah ibadah selama bulan suci yang lalu membawa damai sukacita, kebahagiaan, dan keberkahan untuk keluarga semuanya.

Taqaballahu mina waminkum, minal aidzin wal faidzin 🙏

~Kel Besar Komunitas Kabuyutan Cipaku

Tulisan dari Kang Ra Hyang: Sistematika Sunda diaplikasikan ke dalam kehidupan menjadi Tri Tangtu atau TIGA ketentuan, y...
03/03/2022

Tulisan dari Kang Ra Hyang:

Sistematika Sunda diaplikasikan ke dalam kehidupan menjadi Tri Tangtu atau TIGA ketentuan, yaitu:

Tri Tangtu di SALIRA atau tata salira ( jati diri ), berisi ketentuan kehidupan pribadi dan keluarga sebagai mikrokosmos dari negara sebagai jati diri bangsa.

Tri Tangtu di BALAREA atau tata nagara ( jati nagara ) berisi ketentuan kehidupan atau hubungan bermasyarakat dalam negara.

Tri Tangtu di BUANA atau tata buana ( jati kusumah ) berisi ketentuan kehidupan beragama dalamnegara.

Tri Tangtu ini menurunkan tiga butir nilai, yaitu :

Adil Palamarta ( RATU ), menciptakan rasa keadilan untuk semua pihak atau adil ka diri adil ka balarea, untuk kepentingan : pribadi, balarea , sarerea dalam nagara.

Bener ( RESI ), Benar menurut keyakinan diri, kelompok dan semua pihak, untuk kepentingan pribadi, balarea , sarerea dalam nagara.

Daulat ( RAMA ), Berdaulat atau Merdeka lahir batin , “ teu sirik pidik jail kaniaya, teu sudi ngajajah teu sudi dijajah ” , untuk yaitu untuk kepentingan semua pihak pribadi, balarea, sarerea dalam negara.

Kemudian Tritangtu di Salira dan Tri Tangtu di Balarea pada implementasinya di bagi menjadi tiga, yaitu:

▪︎Batur Sakasur atau keluarga,
▪︎Batur Sadapur atau masyarakat atau kelompok,
▪︎Batur Salembur atau seluruh komponen negara,

Sementara Tri Tangtu di Buana di implementasikan dalam sistem pemerintahan negara, menjadi:

▪︎RAMA merupakan pemegang kekuasaan tertinggi secara wilayah teritorial, ajaran, kerakyatan dan hukum nagara Kartagama.

▪︎RESI merupakan pemegang kekuasaan tertinggi dalam ajaran dan hukum nagara Kartagama.

▪︎RATU merupakan pemegang kekuasaan tertinggi secara wilayah pemerintahan teritorial nagara Kartagama, ....


🔱_____🇮🇩_____☀️

Hanya boleh satu istri tidak boleh poligami, tidak boleh cerai...
09/02/2022

Hanya boleh satu istri tidak boleh poligami, tidak boleh cerai...

Video ini merupakan Dialog bersama teman saya dari "Suku Baduy Dalam" yang bernama Kang Sanif. Beliau merupakan Suku Asli Baduy Dalam. Saya dengan Kang Sanif...

09/02/2022

Rajah Nyi Pohaci Sanghyang Asri

Abdi seja babakti kanu sakti, agung tapa
Nyanggakeun sangu putih sapulukan
Kukus kuning purba herang
Tuduh kang seseda tuhu

Datang ka sang seda herang
Tepi ka kang seda sakti
Nu sakti neda kasakten
Neda deugdeugan tanjeuran

hérang lénggang nu ngalénggang
matak nangtung Sri
nu matak tiis
rasa nu ngahurip hayu
ngahuripkeun Nyi Pohaci Mayang Sri

Ka Indung nu ngandung
Ka Rama nu ngayuga
Ka Indung nu teu ngandung
Ka Rama nu ngayuga
Kadulur opat kalima pancer
Pangnepikeun ieu hate
Ka Indungna anu ngandung
Ka Ramana anu ngayuga
Ka Indungna nu teu ngandung
Ka Ramana nu ngayuga
Kadulur opat kalima pancer
Kalawan kanu ngurus jeung ngaluis hirup jeung huripna

Panca Darma TajimalelaTa: Taklukan Nafsu Jahat Dalam DiriJi : Jiwa Murni Pangkal Keluhuran BudiMa : Mantapkan Rasa Penye...
09/02/2022

Panca Darma Tajimalela
Ta: Taklukan Nafsu Jahat Dalam Diri
Ji : Jiwa Murni Pangkal Keluhuran Budi
Ma : Mantapkan Rasa Penyerahan Diri Pada Tuhan
Le : Lekatkan Keberanian Di Taraf Kebenaran
La : Lapangkan Rasa Kerendahan Hati Di Mata Kesombongan

Mengenal sejarah Tadjimalela-Guru besar-Berdiri dimana-Tahun berapa-Tingkatan-Lambang-PrestasiJika ada saran atau ingin di vlogBisa kasih alamat dan kontak y...

Menghijaukan greenbelt Jatigede dengan pohon Jati Buhun di penyangga Situs Astana Gede Cipaku Desa Paku Alam Kecamatan D...
03/02/2022

Menghijaukan greenbelt Jatigede dengan pohon Jati Buhun di penyangga Situs Astana Gede Cipaku Desa Paku Alam Kecamatan Darmaraja Kabupaten Sumedang jejak peninggalan Eyang Prabu Guru Aji Putih, Dewi Nawang Wulan, Eyang Bima Raksa, Eyang Resi Agung, Eyang Prabu Tajimalela, Eyang Prabu Lembu Agung, dan Prabu Gajah Agung. Semoga apa yang kita lakukan dapat membawa berkah bagi semesta alam. Yuuuuuuk mari kita hijaukan bumi kita yes.

Sunda Alus tur Maju, pesan ti Ceu Popong.Jalan Darma, Be The Best in Everything... sesuai minat dan bakat. Maung Manusa ...
01/02/2022

Sunda Alus tur Maju, pesan ti Ceu Popong.

Jalan Darma, Be The Best in Everything... sesuai minat dan bakat. Maung Manusa Unggul!!!

Prung Ah, Cimanuk Marigi Deui, Jatigede Sirungan Deui, Cipaku Tembong Deui, Sunda Tandang Makalangan 💪💪💪👍👍👍

Injabar Podcast (In-Cast)Edisi perdana,menghadirkan narasumber:Dr.(H.C). H.M Ridwan Kamil, S.T.,M.Ud - Gubernur Jawa Barat,Prof. Dr. Asep Warlan S.H.,M.H - P...

Bibit pohon jati siap ditanam besok di Penyangga / Green Belt Jatigede Blok Situs Astana Gede Cipaku.
28/01/2022

Bibit pohon jati siap ditanam besok di Penyangga / Green Belt Jatigede Blok Situs Astana Gede Cipaku.

Jatigede Samida Hyang CampOOng TourGanesha Tour menggelar CampOOng Open Trip, jalan- jalan ke alam, c***r budaya, dan ke...
14/01/2022

Jatigede Samida Hyang CampOOng Tour

Ganesha Tour menggelar CampOOng Open Trip, jalan- jalan ke alam, c***r budaya, dan kemping ceria di Kampung Nusantara. Trip kali ini tgl 29 - 30 Januari 2022 menuju Jatigede dan Samida Hyang Camp Sumedang dengan tema perjalanan, "back to nature to nurture our life".

Itenary perjalanan utk Jabodetabek via Cipali:
- Start dari Tugu Kujang Bogor jam 6 pagi, menuju Cipali, janjian dgn Tim Jakarta di Rest Area/ Exit Kertajati.
- Meninjau Pembangunan Menara Kujang Kembar di Panenjoan Jemah, Lingkar Timur Jatigede.
- Makan Siang di Situs Kabuyutan Cipaku, Bale Gede Pakuning Alam, CSR Sinergi ITB 80 & 90an di Pesisir Jatigede.
- Berperahu Tabur Bunga ke Punden Berundak Situs Aji Putih, Dewi Nawang Wulan, dan Situs Megalitikum Gunung Surian.
- Camping Ceria di Samida Hyang Camp, Kebun Agro Kopi Buhun dan Situs Dewi Candra Wulan, Bangbayang, Situraja.
- Treking ke Kebun Kopi Buhun, Leuwi/ Sungai Dahyang Sumbi dan Curug Kijang Pananjung.

Terkait biaya kita saweran aja yes, sharing transport alias nebeng ke yang bawa mobil, makan siang kita liwetan di Kabuyutan. Makan malam kita bakar2an di Samida Hyang Camp. Bawa peralatan Camping sendiri minimal Sleeping Bag yes.

Tertarik? Info lebih lanjut hubungi Mang Kaby: 08129397391.

Prabu Adji PutihPrabu Adji Putih  ialah raja pertama Kerajaan Tembong Agung yang merupakan cikal bakal Kerajaan Sumedang...
20/12/2021

Prabu Adji Putih

Prabu Adji Putih ialah raja pertama Kerajaan Tembong Agung yang merupakan cikal bakal Kerajaan Sumedanglarang. Prabu Aji Putih memimpin kerajaan Tembong Agung.

Kerajaan Tembong Agung didirikan oleh Prabu Guru Aji Putih 678 M di Citembong Girang Kecamatan Ganeas Sumedang kemudian pindah ke kampung Muhara Desa Leuwi Hideung Kecamatan Darmaraja. Prabu Guru Aji Putih merupakan putra Bimaraksa atau Ratu Komara keturunan dari Wretikandayun. Prabu Guru Aji Putih hasil pernikahan dengan Dewi Nawang Wulan (Ratna Inten) memiliki empat orang putra; yang sulung bernama Batara Kusuma atau Batara Tuntang Buana yang dikenal juga sebagai Prabu Tajimalela, yang kedua Sakawayana alias Aji Saka, yang ketiga Haris Darma dan yang terakhir Jagat Buana yang dikenal Langlang Buana
Kisah Sumedang diceritakan tumbuh sejak seorang resi keturunan Galuh datang untuk bermukim di pinggiran Cimanuk, daerah Cipaku, Kecamatan Darmaraja, ada juga yang menyebutkan didaerah Citembong Girang Kecamatan Ganeas Sumedang kemudian pindah ke kampung Muhara Desa Leuwi Hideung Kecamatan Darmaraja. Daerah-daerah tersebut telah ada pada abad kedelapan, dirintis oleh Cakrabuana. Konon kabar resi itu bernama Prabu Guru Aji Putih. Ia adalah putra Ratu Komara keturunan Wretikandayun dari (Kerajaan Galuh).

Prabu Guru Aji Putih menikah dengan Dewi Nawang Wulan (Ratna Inten), kemudian berputra ; sulung bernama Batara Kusuma atau Batara Tuntang Buana yang dikenal juga sebagai Prabu Tajimalela, kedua Sakawayana alias Aji Saka, ketiga Haris Darma dan yang terakhir Jagat Buana yang dikenal Langlang Buana.

Jika kisah ini ditelusuri lebih lanjut, tentunya masing-masing putra Wretikandayun dalam versi ini memiliki sejarahnya yang mandiri. Tokoh-tokoh tersebut tidak asing didengar telinga masyarakat tradisional Sunda, dikisahkan secara turun temurun melalui cerita lisan atau cerita pantun. Demikian p**a tentang Prabu Guru Aji Putih, didalam kisah tradisional masyarakat Sunda, terutama yang hidup di tatar Parahyangan sangat meyakini bahwa cikal bakal berdirinya Sumedang Larang tidak dapat dilepaskan dari kerajaan sebelumnya, yakni Tembong Agung yang didirikan Prabu Guru Aji Putih.

Menurut catatan Pemda Sumedang: “Berdasarkan catatan sejarah yang ada, sebelum menjadi Kabupaten Sumedang seperti sekarang ini, telah terjadi beberapa peristiwa penting diantaranya: Pada mulanya kabupaten Sumedang adalah sebuah kerajaan bernama Kerajaan Tembong Agung dengan rajanya bernama Prabu Galuh Haji Aji Putih (Aji Purwa Sumedang) ;
Pada masa pemerintahan Prabu Tuntang Buana yang juga dikenal dengan sebutan Prabu Tajimalela, Kerajaan Tembong Agung berubah nama menjadi kerajaan Sumedanglarang”.

Didalam versi lain dijelaskan tentang masalah ini, bahwa: ”Kerajaan Sumedang Larang berasal dari pecahan kerajaan Sunda-Galuh yang beragama Hindu, yang didirikan oleh Prabu Aji Putih atas perintah Prabu Suryadewata sebelum Keraton Galuh dipindahkan ke Pajajaran, Bogor. Seiring dengan perubahan zaman dan kepemimpinan, nama Sumedang mengalami beberapa perubahan. Yang pertama yaitu Kerajaan Tembong Agung (Tembong artinya tampak dan Agung artinya luhur) dipimpin oleh Prabu Guru Aji Putih pada abad ke XII. Kemudian pada masa zaman Prabu Tajimalela, diganti menjadi Himbar Buana, yang berarti menerangi alam, Prabu Tajimalela pernah berkata “Insun medal; Insun madangan”. Artinya Aku dilahirkan; Aku menerangi. Kata Sumedang diambil dari kata Insun Madangan yang berubah pengucapannya menjadi Sun Madang yang selanjutnya menjadi Sumedang. Ada juga yang berpendapat berasal dari kata Insun Medal yang berubah pengucapannya menjadi Sumedang dan Larang berarti sesuatu yang tidak ada tandingnya.”

Kemudian versi lainnya, seperti buku rintisan penelusuran masa silam Sejarah Jawa Barat dan Sejarah Jawa Barat yang ditulis Yoseph Iskandar, memaparkan: Kerajaan Sumedang Larang didirikan oleh Praburesi Tajimalela, berkedudukan di gunung Tembong Agung, menurut Carita Parahyangan disebut Mandala Himbar Buana, sedangkan Tajimalela disebut Panji Rohmayang putera Demung Tabela Panji Ronajaya dari daerah Singapura.

Prabu Guru Aji Putih didalam buku rintisan penelusuran masa silam Sejarah Jawa Barat. Buku tersebut langsung menuliskan Praburesi Tajimalela sebagai pendiri Sumedanglarang. Sementara didalam versi lain, Prabu Guru Aji Putih dianggap pendiri dan penguasa Tembong Agung, yang merupakan cikal bakal dari Sumedang Larang.

Sebutan Haji didepan Aji tidak p**a disalahkan jika ditafsirkan bahwa Prabu Guru Aji Putih telah memeluk agama islam (Haji), bahkan disebut Aji Purwa Sumedang. Padahal secara resmi islam menjadi ageman penguasa Sumedang sejak tahun 1529 M, pasca Praburesi Tajimalela. Hal ini mengingatkan pada sebutan yang diberikan kepada Bratalegawa, salah seorang putra Sang Bunisora (Sunda – Galuh). Ia mendapat gelar Haji Purwa Galuh, karena dianggap sebagai Haji pertama dari Galuh.

Ada kaitannya gelar yang menggunakan Sumedang dengan para penguasa yang berasal dari luar Sumedang, seperti Mangkubumi Sumedang Larang, diberikan kepada Ki Gedeng Sindangkasih, putra dari Niskala Wastukencana penguasa Sunda Galuh, mengingat Sumedang berada di bawah Galuh. (Yoseph Iskandar). Kemudian ditemukan p**a gelar Ki Gedeng Sumedang yang diberikan kepada Pangeran Santri (rintisan masa silam sejarah Jawa Barat). Namun kedua tokoh ini tidak ditemukan adanya data yang menyebutkan bahwa mereka pendiri dari Sumedang Larang.
(sumber : Rintisan masa silam sejarah Jawa Barat – Proyek Penerbitan Sejarah Jawa Barat Pemerintahan Propinsi Daerah Tingkat I Jawa Barat}

Address

Jalan Raya Darmaraja Sumedang
Sumedang
14000

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Kabuyutan Cipaku posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Shortcuts

Share