01/05/2022
Kupat, Lepat, Lipatan, Lepatan, Luputan
Tulisan Bernas dari Kang Hendra Hendarin, Kasepuhan Bandung.
Upawasa, Blabaran, Tipat
Puwasa, Lebaran, Ketupat.
Secara simbolis, makan adalah "memberi makan Bhuta", atau menyuplai (feeding) nafsu (makan). Secara simbolis, wilayah perut ke bawah adalah wilayah otoritas ke-Bhuta-an, karena berkaitan dengan hal-hal duniawi, nafsu makan, syahwat, dan berbagai motif ekonomis. (Sedangkan wilayah ke-Dewa-an, atau Ketuhanan, adalah dari kerongkongan ke atas; kemanusiaan adalah dari kerongkongan ke pusar).
Sebagai manusia paripurna, kita harus memuja Ketuhanan dan pada saat yang sama juga menghormati ke-Bhuta-an, karena secara esoteris mereka juga bagian dari kita. Manusia adalah makhluk campurna. Campurna ti na sagala rupi nu aya di dunya.
Sebagai entitas dunia tengah, kita harus "menancap pada dunia bawah dan menyangga dunia atas". Kita adalah penyambung, buffer, dari keberlangsungan sirkulasi Enerji dan Urip dari kedua dimensi tersebut; menjaga keseimbangan.
---
Shiam, shaum, sebagai salah satu bentuk dari Upawasa, adalah metoda "pengekangan" (fasting, fastening) sisi ke-Bhuta-an kita, yang dalam sehari-hari biasanya kita umbar tanpa kendali. Ini sebabnya secara simbolis disebutkan bahwa pada bulan Ramadhan "setan diikat". Artinya adalah bahwa kita mengikat sisi setan (Bhuta) dalam diri kita.
Setelah seluruh proses shaum dilaksanakan, kemudian secara simbolis kita kembali "memberikan hadiah, upah" kepada sisi nafsu kita dengan cara Blabaran, luberan, baloboran, boboran, atau maknanya adalah menyediakan suguhan yang berlimpah, plenty of presents. Di Jawa Barat disebut juga "Boboran shiam".
Pemberian hadiah ini, suguhan, ségéh, offering, adalah suguhan bagi sisi "kebhutaan" kita. Aspek nafsu kita. Karena nafsu, nafs, adalah aspek esensial dan fundamental manusia. Tanpa memiliki nafsu, maka manusia tak akan jadi makhluk ekonomi. Dunia tak akan memiliki dinamika. Secara esoteris juga merupakan simbol bahwa kita juga memberi bagian kepada entitas ke-Bhuta-an di alam dunia, sebagai simbolisasi bahwa kita menghormati mereka, menjaga keberlangsungan polarisasi positif dan negatif agar dunia Semesta tetap sinambung.
Blabaran, Lebaran, Mblabar, lubar, luber, maknanya adalah berlebihan, limpahan, abundance, plentious, over-flowing, spilling-out, banjir, juge merupakan simbolisasi dari syukuran dan penghormatan terhadap sisi daya kelimpahan semesta.
Dalam perayaan proses akhir ini, dalam Blabaran, disediakan tipat, (bahasa Bali dari Ketupat), sebagai simbolisasi penggodokan yang telah matang dan memberikan barokah, hasil. Hasilnya adalah menjadi manusia yang handap asor, humble, rendah hati, manusia yang melayani dan membagi.
***
Gambar: Segeh Tipat