29/07/2014
Memahami Cinta Allah
Di sebuah negeri zaman dulu kala, seorang
pelayan raja tampak gelisah. Ia bingung kenapa
raja tidak pernah adil terhadap dirinya. Hampir
tiap hari, secara bergantian, pelayan-pelayan lain
dapat hadiah. Mulai dari cincin, kalung, uang
emas, hingga perabot antik. Sementara dirinya
tidak.
Hanya dalam beberapa bulan, hampir semua
pelayan berubah kaya. Ada yang mulai
membiasakan diri berpakaian sutera. Ada yang
memakai cincin di dua jari manis, kiri dan kanan.
Dan, hampir tak seorang pun yang datang ke
istana dengan berjalan kaki seperti dulu.
Semuanya datang dengan kendaraan. Mulai dari
berkuda, hingga dilengkapi dengan kereta dan
kusirnya.
Ada perubahan lain. Para pelayan yang
sebelumnya betah berlama-lama di istana, mulai
pulang cepat. Begitu pun dengan kedatangan
yang tidak sepagi dulu. Tampaknya, mereka
mulai sibuk dengan urusan masing-masing.
Cuma satu pelayan yang masih miskin. Anehnya,
tak ada penjelasan sedikit pun dari raja. Kenapa
beliau begitu tega, justru kepada pelayannya
yang paling setia. Kalau yang lain mulai enggan
mencuci baju dalam raja, si pelayan miskin ini
selalu bisa.
Hingga suatu hari, kegelisahannya tak lagi
terbendung. “Rajaku yang terhormat!” ucapnya
sambil bersimpuh. Sang raja pun mulai
memperhatikan. “Saya mau undur diri dari
pekerjaan ini,” sambungnya tanpa ragu. Tapi, ia
tak berani menatap wajah sang raja. Ia mengira,
sang raja akan mencacinya, memarahinya,
bahkan menghukumnya. Lama ia tunggu.
“Kenapa kamu ingin undur diri, pelayanku?” ucap
sang raja kemudian. Si pelayan miskin itu diam.
Tapi, ia harus bertarung melawan takutnya.
Kapan lagi ia bisa mengeluarkan isi hati yang
sudah tak lagi terbendung. “Maafkan saya, raja.
Menurut saya, raja sudah tidak adil!” jelas si
pelayan, lepas. Dan ia pun pasrah menanti titah
baginda raja. Ia yakin, raja akan membunuhnya.
Lama ia menunggu. Tapi, tak sepatah kata pun
keluar dari mulut raja. Pelan, si pelayan miskin ini
memberanikan diri untuk mendongak. Dan ia pun
terkejut. Ternyata, sang raja menangis. Air
matanya menitik.
Beberapa hari setelah itu, raja dikabarkan wafat.
Seorang kurir istana menyampaikan sepucuk
surat ke sang pelayan miskin. Dengan penasaran,
ia mulai membaca, “Aku sayang kamu,
pelayanku. Aku hanya ingin selalu dekat
denganmu. Aku tak ingin ada penghalang antara
kita. Tapi, kalau kau terjemahkan cintaku dalam
bentuk benda, kuserahkan separuh istanaku
untukmu. Ambillah. Itulah wujud sebagian kecil
sayangku atas kesetiaan dan ketaatanmu.”
Kisah diatas apakah benar terjadi atau hanya
sebuah kisah yang dikarang untuk diambil
hikmahnya, bagi saya keseluruhan cerita diatas
memberikan kesadaran akan misteri cinta Ilahi.
Kita selalu menginginkan Allah mencintai dan
memperlakukan kita sebagaimana yang kita
inginkan akan tetapi tidak pernah direnungi
sesaat bagaimana keinginan Tuhan
memperlakukan kita.
Pernahkah kita merenung sesaat, bisa jadi jalan
hidup yang sedang kita alami (baik atau buruk)
merupakan rencana Tuhan agar kita selalu bisa
dekat dengan-Nya. Tuhan mempunyai rencana
yang begitu hebat agar kita sebagai hamba selalu
bisa dekat dengan-Nya. Bisa jadi cobaan yang
diberikan Allah kepada kita bukan sebuah bala
akan tetapi bentuk lain dari cinta-Nya kepada
hamba, cinta Allah yang ingin melihat tangisan
hamba-Nya.
Saya menutup tulisan ini dengan sebuah hadist
dari Abu Hurairah yang diriwayatkan oleh
Tarmidzi, Baginda Nabi bersabda, ““Tidak masuk
neraka orang yang menangis karena takut Allah
hingga susu kembali lagi ke kantung susu dan
tidaklah menyatu debu dijalan Allah dan debu
jahannam.”.
Semoga kita menjadi orang yang selalu Ridha
dengan apa yang diberikan Allah sehingga Allah
menjadi Ridha dengan kita, amin ya Rabbal
‘Alamin