dakwahpamulihan

dakwahpamulihan Nyerdaskeun, ngabangkitkeun

ISLAM: IDEOLOGI HIDUP YANG MENYELURUHIslam bukanlah sekadar rangkaian ritual yang kita jalankan di ruang ibadah. Ia hadi...
19/05/2025

ISLAM: IDEOLOGI HIDUP YANG MENYELURUH

Islam bukanlah sekadar rangkaian ritual yang kita jalankan di ruang ibadah. Ia hadir sebagai pedoman hidup yang mengurai setiap persoalan manusia—dari cara kita berdagang, mengelola keuangan, hingga membangun tata pemerintahan yang adil dan beradab. Saat kita memahami Islam hanya sebagai ibadah ritual, kita melewatkan kekayaan ajaran yang sesungguhnya mampu menjawab tantangan zaman.

Dalam Islam, kewajiban salat mengasah kedisiplinan dan kesadaran spiritual, sementara sistem zakat mengikat tanggung jawab sosial dan solidaritas terhadap sesama. Hukum muamalah (interaksi sosial dan ekonomi) mengatur transaksi agar berlangsung jujur dan seimbang. Begitu p**a aturan siyasah (political governance) mendorong kepemimpinan yang mengutamakan kepentingan rakyat, bukan sekadar ambisi kekuasaan.

Tak heran jika Islam disebut ideologi sempurna—karena ia mencakup seluruh aspek kehidupan manusia, tanpa celah. Mengabaikan satu saja bagiannya sama dengan memotong satu sisi sayap burung yang hendak terbang; kesempurnaan akan sulit tercapai. Ketika kita terapkan Islam secara kaffah, maka kehidupan kita tidak lagi retak oleh ketidakadilan atau krisis makna.

Mari kita sambut Islam sebagai kerangka hidup utuh—bukan hanya di atas sajadah, tapi juga di ruang kelas, ruang rapat, hingga ruang publik yang jauh dari gema takbir. Dengan begitu, kita merajut peradaban yang sejahtera, berakhlak mulia, dan berdaya dalam menghadapi kompleksitas modernitas.

🌿 Ya Allah, anugerahkanlah kepada kami pemahaman yang mendalam tentang agama-Mu, dan kuatkan tekad kami untuk mengamalkan Islam secara menyeluruh dalam setiap langkah kehidupan. Aamiin.

Oleh: Cicin Suhendi








🌿 Syukur Bukan Sekadar Ucapan, Tapi Komitmen Ketaatan TotalSyukur bukan sekadar ucapan "Alhamdulillah" saat menerima nik...
17/05/2025

🌿 Syukur Bukan Sekadar Ucapan, Tapi Komitmen Ketaatan Total

Syukur bukan sekadar ucapan "Alhamdulillah" saat menerima nikmat.
Bukan hanya tentang rezeki yang lancar, keluarga yang harmonis, atau kesehatan yang terjaga.

Syukur sejati adalah pengakuan bahwa setiap nikmat berasal dari Allah, dan karenanya harus diarahkan untuk taat kepada-Nya.

Bahkan sebagai Muslim, nikmat terbesar yang harus kita syukuri adalah iman dan Islam. Jika kita menyadari ini, maka bentuk syukur kita tidak boleh berhenti pada doa dan dzikir semata—tetapi harus diwujudkan dalam ketaatan total kepada seluruh aturan Allah, baik dalam ibadah, akhlak, muamalah, hingga sistem tata kelola negara.

Allah SWT berfirman:
_"Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu memaklumkan: ‘Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.’"_
(QS. Ibrahim: 7)

Ayat ini bukan hanya tentang syukur pribadi,
tetapi peringatan kepada umat secara kolektif—bahwa meninggalkan syariat Allah dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara adalah bentuk kufur nikmat.

Maka ketika umat hari ini terjajah oleh sistem kapitalisme-demokrasi, ketika hukum Allah diganti dengan hukum buatan manusia, dan ketika Islam dipinggirkan hanya menjadi agama ritual, itulah bentuk pengingkaran terhadap nikmat terbesar: Islam sebagai dien yang sempurna.

Jangan biarkan syukur kita menjadi semu—sekadar kata tanpa konsekuensi perjuangan.
Karena syukur yang tidak ditunaikan dengan penegakan Islam adalah syukur yang kosong.

Mari bersyukur dengan cara yang benar—dengan menegakkan Islam sebagai aturan hidup. Karena syukur sejati adalah ketaatan yang utuh terhadap semua aturan-Nya.

Semoga Allah jadikan kita hamba-Nya yang pandai bersyukur,
bukan hanya dalam ucapan, tapi dalam gerak langkah perjuangan. Bukan hanya dalam doa, tapi terwujud dalam kehidupan nyata.

Semoga Allah teguhkan kita dalam menunaikan amanah ini—hingga Islam kembali memimpin dunia. Aamiin.

🪷 Barakallahu fiikum.

Oleh: Cicin Suhendi
---
https://chat.whatsapp.com/JyfMCehsMlu5SiOejHcFL3

Menjadi Muslim Rabbani: Jalan Menuju Kematangan Iman dan KehidupanWahai saudara-saudaraku seiman, dalam kehidupan yang b...
14/05/2025

Menjadi Muslim Rabbani: Jalan Menuju Kematangan Iman dan Kehidupan

Wahai saudara-saudaraku seiman, dalam kehidupan yang bergejolak antara dunia dan akhirat, antara hawa nafsu dan petunjuk langit, kita dituntun menuju satu jalan yang agung—jalan *Rabbani*.

Sebuah jalan yang tak hanya mengajarkan bagaimana menjadi tahu, tapi bagaimana menjadi tunduk; bukan sekadar cerdas, tapi juga bersih hati.

Allah ‘Azza wa Jalla memanggil kita dalam firman-Nya:

وَلَٰكِن كُونُوا۟ رَبَّـٰنِيِّـۧنَ...

_"Akan tetapi jadilah kalian orang-orang Rabbani..."_
(QS. Ali Imran: 79)

*Rabbani*, bukan sekadar sebutan bagi ulama, namun sebuah sifat yang bisa dimiliki oleh setiap Muslim—yang hatinya dekat dengan Rabb, lisannya basah dengan dzikir, dan hidupnya terikat pada ajaran yang suci.

Apa artinya menjadi Rabbani?

Ia adalah pribadi yang tumbuh bersama wahyu, bukan hanya membacanya tetapi menghidupkannya. Ia menjaga shalat, menundukkan hawa nafsu, memelihara lisannya, dan menjadikan Al-Qur’an sebagai cermin dalam setiap langkahnya.

Ia bukan malaikat, tapi ia terus berusaha jujur dalam taubat. Ia bukan nabi, tapi ia berupaya sabar seperti para rasul.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

كُونُوا رَبَّانِيِّينَ حُلَمَاءَ فُقَهَاءَ...

_"Jadilah orang-orang Rabbani, penyantun, ahli ilmu dan pemahaman..."_
(HR. Bukhari)

Dalam hadis ini, Nabi tidak membatasi makna Rabbani hanya untuk guru dan ulama. Ia menyeru kepada semua—untuk memiliki akhlak santun, membangun kedalaman ilmu, dan bersikap tenang dalam menghadapi kehidupan.

Menjadi Rabbani berarti membina diri secara bertahap. Seperti benih yang tidak langsung berbuah, kita pun belajar dari dasar, menguatkan fondasi sebelum meninggi.

Disebutkan:

الرَّبَّانِيُّ الَّذِي يُرَبِّي النَّاسَ بِصِغَارِ الْعِلْمِ قَبْلَ كِبَارِهِ

_"Rabbani adalah yang mendidik manusia dengan bagian kecil dari ilmu sebelum menyampaikan yang besar."_
(HR. Bukhari)

Jadilah Rabbani dalam rumahmu—dengan adab terhadap keluarga dan keteladanan ibadah.
Jadilah Rabbani dalam pekerjaanmu—dengan jujur, adil, dan menolak yang haram.

Jadilah Rabbani dalam masyarakat—dengan mencegah maksiat dan menyebar maslahat.
Jadilah Rabbani dalam kesendirianmu—dengan dzikir, muraqabah, dan taubat.

Karena Rabbani sejati tak terlihat dari banyaknya kata, tapi dari tenangnya jiwa. Ia bukan pencari pujian, tapi penempuh jalan keselamatan.

Dan ketahuilah, mereka yang berjalan di jalan Rabbani adalah pewaris para nabi, dan Allah sendiri yang menjadi penolong mereka.

إِن تَنصُرُوا اللَّهَ يَنصُرْكُمْ وَيُثَبِّتْ أَقْدَامَكُمْ

_"Jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Allah akan menolongmu dan meneguhkan kakimu."_
(QS. Muhammad: 7)

Semoga kita semua, dengan segala keterbatasan dan harapan, dihimpun oleh Allah dalam barisan para *Rabbaniyyīn*—di dunia dan di akhirat. Aamiin.

---

https://chat.whatsapp.com/HzyPBmOxEBXLUquMVyjUyv





*MENERIMA SYARIAT ALLAH DENGAN KELAPANGAN HATI*Oleh: Cicin SuhendiSalah satu bentuk tertinggi dari keimanan adalah ketik...
12/05/2025

*MENERIMA SYARIAT ALLAH DENGAN KELAPANGAN HATI*

Oleh: Cicin Suhendi

Salah satu bentuk tertinggi dari keimanan adalah ketika hati kita mampu menerima syariat Allah dengan penuh kelapangan, tanpa keberatan. Sebab sejatinya, semua perintah dan larangan-Nya bukan untuk membebani, melainkan untuk menyucikan jiwa, menuntun kehidupan, dan menyelamatkan kita.

Syariat Allah adalah cahaya yang membimbing, bukan beban yang mengekang. Namun, hati yang sempit karena hawa nafsu dan kecintaan pada dunia sering menjadikan hati berat menerimanya. Padahal, justru dalam ketaatan penuh itulah terdapat ketenangan yang hakiki.

Allah ﷻ berfirman:
_“Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakikatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan engkau (Muhammad) sebagai hakim dalam perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa keberatan dalam hati mereka terhadap putusan yang engkau berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya.”_
(QS. An-Nisa: 65)

Ayat ini menjadi pengingat bahwa iman yang sempurna ditandai dengan hati yang lapang terhadap hukum Allah, bukan hanya dalam ucapan tetapi juga dalam sikap batin.

Menerima syariat secara utuh—baik dalam aspek ibadah, muamalah, akhlak, hingga sistem hidup—membutuhkan keikhlasan yang dalam. Bukan sekadar mengikuti karena tradisi atau tekanan sosial, melainkan karena cinta kepada Allah dan keyakinan bahwa hukum-Nya lebih baik dari hukum manusia mana pun.

Dalam kelapangan hati terhadap syariat, seseorang tidak lagi mencari-cari celah untuk menghindar. Ia justru bergegas melaksanakan perintah dan menjauhi larangan, meski bertentangan dengan hawa nafsu, karena ia yakin bahwa Allah Maha Mengetahui, Maha Pengasih, dan Maha Bijaksana.

Ya Allah, lapangkanlah hati kami untuk menerima seluruh ajaran-Mu. Jadikanlah kami hamba yang tunduk sepenuhnya kepada syariat-Mu, tanpa ragu. Aamiin.

📲 Bagikan jika tulisan ini menggugah hatimu
---

SYARIAH: KESEMPURNAAN ISLAM YANG HARUS DITEGAKKAN SEUTUHNYAKita hidup di tengah zaman dimana sebagian umat Islam memanda...
12/05/2025

SYARIAH: KESEMPURNAAN ISLAM YANG HARUS DITEGAKKAN SEUTUHNYA

Kita hidup di tengah zaman dimana sebagian umat Islam memandang ajaran agamanya secara parsial. Ada yang merasa cukup dengan mengatakan, "Yang penting esensinya: jujur, adil, dan berakhlak baik."

Pelaksanaan syariat yang menyeluruh—seperti hukum hudud, ekonomi tanpa riba, pemerintahan berbasis wahyu—dianggap tidak relevan atau tidak prioritas.

Benarkah Islam hanya sebatas akhlak dan nilai-nilai? Bukankah Islam adalah agama yang sempurna dan menyeluruh?

Allah Ta’ala berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا ادْخُلُوا فِي السِّلْمِ كَافَّةً

_“Wahai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam secara keseluruhan...”_
(QS. Al-Baqarah: 208)

Ayat ini adalah panggilan tegas kepada seluruh kaum muslimin agar menerima Islam secara total, tidak setengah-setengah, dan tidak memilah hanya yang dirasa sesuai dengan zaman atau selera.

Rasulullah ﷺ tidak hanya mengajarkan akhlak mulia. Beliau juga menegakkan hukum, mengatur perekonomian umat, memimpin pasukan, menyusun perjanjian internasional, hingga mendirikan negara yang menerapkan seluruh hukum Allah secara nyata.

Beliau tidak sekadar menyampaikan pesan moral, tetapi menjadi pelaksana syariat dalam seluruh aspek kehidupan.

Nabi Muhammad ﷺ bersabda:

أَلَا إِنِّي أُوتِيتُ الْكِتَابَ وَمِثْلَهُ مَعَهُ

_“Ingatlah, aku telah diberi Al-Kitab (Al-Qur'an) dan yang semisal dengannya bersamanya (yaitu as-Sunnah)."_
(HR. Abu Dawud, sahih)

Hadits ini menunjukkan bahwa Rasulullah bukan hanya membawa nilai-nilai, tetapi sistem kehidupan yang utuh dan menyeluruh, sebagai panduan hidup umat manusia.

Maka sungguh keliru jika Islam hanya dipahami sebagai agama ibadah ritual dan akhlak personal, tanpa penerapan hukum, sistem ekonomi, politik, dan peradilan yang bersumber dari wahyu.

Ketika umat Islam meninggalkan sebagian syariat dan mengambil sebagian lainnya, mereka sedang mengulang kesalahan kaum Bani Israil yang ditegur Allah:

أَفَتُؤْمِنُونَ بِبَعْضِ الْكِتَابِ وَتَكْفُرُونَ بِبَعْضٍ؟

_“Apakah kamu beriman kepada sebagian Kitab dan mengingkari sebagian yang lain?”_
(QS. Al-Baqarah: 85)

Syariah adalah satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan. Tidak ada esensi yang lebih tinggi dari perintah Allah itu sendiri. Jika Allah memerintahkan, maka ketaatan total adalah satu-satunya pilihan seorang mukmin sejati.

Ya Allah,
Bimbing kami untuk tidak hanya mencintai Islam secara nilai, tetapi juga memperjuangkan penerapan syariat-Mu secara keseluruhan, sebagaimana yang telah dicontohkan oleh Rasul-Mu tercinta. Kuatkan langkah kami dalam barisan penegak kebenaran, dan jangan palingkan hati kami setelah Engkau beri petunjuk.



---

Hukum Jahiliah: Ketika Manusia Menyisihkan Hukum AllahOleh Cicin Suhendi Allah SWT berfirman:أَفَحُكْمَ ٱلْجَٰهِلِيَّةِ ...
10/05/2025

Hukum Jahiliah: Ketika Manusia Menyisihkan Hukum Allah
Oleh Cicin Suhendi

Allah SWT berfirman:

أَفَحُكْمَ ٱلْجَٰهِلِيَّةِ يَبْغُونَ ۚ وَمَنْ أَحْسَنُ مِنَ ٱللَّهِ حُكْمًا لِّقَوْمٍ يُوقِنُونَ

_"Apakah hukum jahiliah yang mereka kehendaki? Dan hukum siapakah yang lebih baik daripada hukum Allah bagi orang-orang yang yakin?"_
(QS. Al-Ma'idah: 50)

Ayat ini hadir sebagai cahaya yang menembus gelapnya zaman. Sebuah pertanyaan retoris dari Tuhan semesta alam yang mengguncang nalar manusia. Mengapa harus mencari hukum lain—selain hukum-Nya? Mengapa masih menggantungkan harapan pada aturan buatan manusia, sementara hukum Allah adalah yang paling adil, paling sempurna, dan paling sesuai dengan fitrah?

Hukum jahiliah bukan sekadar hukum zaman pra-Islam yang sarat kebodohan. Ia adalah label bagi segala bentuk sistem, undang-undang, dan kebijakan yang tidak bersumber dari wahyu Allah SWT.

Hukum yang lahir dari akal manusia tanpa petunjuk ilahi, meski dikemas dalam bahasa modern atau demokratis, tetaplah termasuk hukum jahiliah. Jahiliah bukan masalah waktu, tetapi masalah sikap terhadap wahyu.

Ketika manusia lebih memilih suara mayoritas dibanding perintah Al-Qur’an, ketika konstitusi lebih diagungkan daripada hukum syariat, ketika sistem buatan manusia lebih dijaga daripada aturan Tuhan—maka itulah jahiliah yang sejati.

Bukankah ironis jika makhluk yang lemah merasa lebih pandai dari Sang Pencipta? Bukankah sebuah tragedi jika kaum muslimin sendiri justru abai terhadap aturan Rabb-nya?

Padahal Allah sudah mengingatkan:
_"Dan siapa yang tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itulah orang-orang kafir."_
(QS. Al-Ma'idah: 44)

Kini saatnya kembali kepada ketundukan total, kepada hukum Allah. Bukan hanya dalam ibadah ritual, tapi juga dalam politik, ekonomi, pendidikan, dan seluruh sendi kehidupan.

Taubat sejati adalah meninggalkan dukungan terhadap hukum selain hukum Allah. Karena kesempurnaan iman ditandai oleh kesempurnaan tunduk.

_"Tidaklah pantas bagi laki-laki mukmin dan perempuan mukminah, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka."_
(QS. Al-Ahzab: 36)

🌿 Ya Allah, karuniakan kepada kami kekuatan untuk mencintai hukum-Mu. Teguhkan langkah kami untuk menegakkan syariat-Mu. Jangan wafatkan kami kecuali dalam keadaan ridha terhadap hukum syariat-Mu.

Aamiin ya Rabbal ‘alamiin.

---

08/05/2025

Penuh kenangan

Dakwah Islam Kaffah: Perjuangan yang Harus Dibenahi dengan Amal TerbaikDalam perjalanan dakwah menyeru kepada Islam kaff...
08/05/2025

Dakwah Islam Kaffah: Perjuangan yang Harus Dibenahi dengan Amal Terbaik

Dalam perjalanan dakwah menyeru kepada Islam kaffah—Islam yang utuh dan menyeluruh dalam seluruh aspek kehidupan—terdapat amanah besar yang tidak cukup diemban hanya dengan lisan yang lantang atau aktivitas yang sibuk. Ia menuntut ketulusan hati, kejernihan niat, dan kemantapan amal. Karena sesungguhnya, keberkahan dakwah lahir dari kejujuran pengembannya, bukan dari gemuruh slogan belaka.

Ibnu Rajab Al-Hambaly rahimahullah pernah menasihati:
_"Para Salaf berwasiat untuk memantapkan dan memperbaiki amalan bukan memperbanyak, karena amalan yang sedikit tapi bagus dan mantap lebih afdol dari amalan yang banyak namun lalai dan tidak mantap."_
(Majmu’ Rasailihi, 1/352)

Nasihat ini menjadi pengingat yang sangat relevan bagi para aktivis dakwah hari ini. Kita bukan hanya dituntut untuk giat menyeru umat kepada syariat Islam yang kaffah, tetapi juga dituntut untuk senantiasa memperbaiki kualitas amal kita—agar apa yang kita serukan benar-benar tercermin dalam kehidupan pribadi.

Allah SWT telah memberikan peringatan keras dalam firman-Nya:
_"Wahai orang-orang yang beriman, mengapa kamu mengatakan apa yang tidak kamu kerjakan? Sangat besar kemurkaan di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa yang tidak kamu kerjakan."_
(QS. Ash-Shaff: 2–3)

Ayat ini bukan sekadar teguran, tapi cambuk tajam bagi siapa pun yang terlibat dalam dakwah namun lalai dalam menata diri. Betapa bahayanya jika seorang penyeru Islam kaffah justru terjatuh dalam kontradiksi—menyeru perubahan tapi abai pada pembenahan amal, membela syariah tapi melalaikan akhlak, menyuarakan keadilan tapi meninggalkan keikhlasan.

Maka marilah kita kembali memfokuskan diri untuk memperbaiki amalan dalam dakwah. Jadikan setiap langkah, setiap tulisan, setiap ajakan kepada Islam sebagai amal yang berkualitas—dilakukan dengan ilmu, ditopang oleh keikhlasan, dan dilandasi oleh teladan pribadi.

Karena perjuangan ini bukan hanya soal apa yang kita sampaikan, tetapi seberapa besar kita menghidupkan dakwah itu dalam diri dan amal keseharian.

---
https://chat.whatsapp.com/JyfMCehsMlu5SiOejHcFL3

*INDONESIA DARURAT KEKERASAN SEKSUAL*Memprihatinkan. Kekerasan seksual terhadap perempuan makin meningkat di tanah air. ...
02/05/2025

*INDONESIA DARURAT KEKERASAN SEKSUAL*

Memprihatinkan. Kekerasan seksual terhadap perempuan makin meningkat di tanah air. Pelakunya juga kian beragam. Ada guru besar melecehkan mahasiswa. Dokter melecehkan pasien. Tokoh agama melecehkan murid/jamaahnya. Polisi memperkosa tahanan. Bahkan ada ayah dan kakek menodai anak kandung mereka sendiri.

Indonesia memang darurat pelecehan seksual. Data terbaru dari Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KemenPPPA) menunjukkan bahwa hingga April 2025 saja sudah tercatat 5.949 kasus kekerasan terhadap perempuan di Indonesia. Komisi Nasional Anti Kekerasan terhadap Perempuan (Komnas Perempuan) melaporkan tindak kejahatan kekerasan seksual naik lebih dari 50 persen dibandingkan dengan tahun 2023. Angka ini diyakini hanyalah puncak gunung es. Artinya, masih banyak kasus yang belum terlaporkan.

*Perempuan Makin Tidak Aman*

Kondisi ini adalah gambaran makin berkurang ruang aman untuk perempuan. Salah satu tempat yang terjadi pelecehan seksual adalah transportasi umum. Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK) mencatat sepanjang 2022 terjadi 3.539 kejahatan seksual di transportasi umum.

Tempat kerja juga menjadi tempat yang tidak aman untuk perempuan. Keterangan resmi situs Gajimu.com, melalui studi bertajuk Survei Kelayakan Kerja pada tahun 2022, ditemukan data bahwa pelecehan seksual terjadi pada 1 dari 20 pekerja di pabrik tekstil, garmen, alas kaki dan kulit. Ada atasan yang melakukan kekerasan seksual terhadap pekerja perempuan dengan ancaman pemutusan kontrak kerja.

Yang makin memprihatinkan, pelecehan seksual justru banyak terjadi di tempat-tempat yang harusnya aman untuk perempuan. Beberapa kali diberitakan perempuan menjadi korban kekerasan seksual di rumah sendiri, di ruang praktek dokter, bahkan di pondok pesantren atau di ruang tahanan dengan pelakunya justru aparat keamanan.

Pelaku tindak kekerasan juga kebanyakan adalah orang yang dikenal bahkan dekat dengan korban. Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK) mengungkap 70 persen korban kekerasan seksual kenal dengan pelaku mulai dari ayah kandung, paman, kakek, kakak, keluarga, guru, dosen, aparat dan pejabat negara.

*Akar Masalah*

Sebagai negeri dengan mayoritas Muslim, kita patut bertanya: Mengapa bisa begini? Padahal Pemerintah juga sudah membentuk jabatan dan lembaga yang mengurusi perempuan, termasuk ada Komnas Perlindungan Perempuan. UU Nomor 12 Tahun 2022 tentang Tindak Pidana Kekerasan Seksual (UU TPKS) juga sudah disahkan. Lalu mengapa perempuan malah makin tidak aman?

Jawabannya: Meski mayoritas Muslim, negeri ini hidup dalam sistem dan budaya sekularisme-liberalisme. Salah satu dampaknya ialah konten p***ografi membanjiri masyarakat. Dari tahun 2005 Indonesia masuk 10 besar negara pengakses situs p***o di dunia. Padahal konten p***ografi ini sudah terbukti menjadi pemicu perilaku seks bebas seperti perzinaan dan kekerasan seksual.

Di sisi lain, masyarakat makin permisif. Interaksi bebas antara pria dan wanita sudah dianggap normal. Selain membuka peluang perzinaan, hal ini juga memberikan celah bagi terjadinya kekerasan seksual terhadap perempuan.

Selain itu, disadari atau tidak, kaum perempuan sudah lama dieksploitasi seperti melalui kontes kecantikan, modeling, dsb. Ini juga menjadikan perempuan dicitrakan sebagai pelampiasan hawa nafsu lelaki.

Sementara itu, penegakan hukum justru gagal melindungi kaum perempuan. Banyak korban yang trauma sehingga takut melapor. Para pelaku pun kerap mendapatkan sanksi ringan. Bahkan tidak sedikit kasusnya tidak diselesaikan secara hukum, melainkan hanya dengan jalan damai.

*Islam Melindungi Perempuan*

Hanya Islamlah ideologi yang melindungi kaum perempuan. Islamlah satu-satunya ideologi yang memberikan kesetaraan pria dan wanita dalam keimanan dan ketakwaan serta dalam timbangan hukum. Allah SWT berfirman:

مَنْ عَمِلَ صَٰلِحًا مِّن ذَكَرٍ أَوْ أُنثَىٰ وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهُۥ حَيَوٰةً طَيِّبَةً ۖ وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ أَجْرَهُم بِأَحْسَنِ مَا كَانُوا۟ يَعْمَلُونَ

Siapa saja yang mengerjakan amal shalih, baik laki-laki maupun perempuan, sementara dia seorang Mukmin, sungguh akan Kami beri dia kehidupan yang baik. Mereka pun akan Kami beri balasan dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan (TQS an-Nahl [16]: 97).

Islam juga menjadikan iman dan takwa sebagai dasar relasi pria dan wanita. Islam menjauhkan kaum Muslim dari perilaku permisif, hedonis dan hanya mencari kepuasan biologis. Islam mengajarkan bahwa pria dan wanita harus tolong-menolong dalam keimanan dan ketakwaan.

Islam memberikan tindak preventif dan kuratif untuk melindungi kaum perempuan. Hukum preventif Islam yang melindungi perempuan di antaranya:

Pertama, mewajibkan pria dan wanita menutup aurat dalam kehidupan umum serta saling menjaga pandangan (QS an-Nur [24]: 30-31). Pandangan pada aurat lawan jenis adalah haram dan bisa memicu gejolak syahwat pada manusia. Nabi saw. bersabda:

النَّظْرَةُ سَهْمٌ مِنْ سِهَامِ إِبْلِيسَ مَسْمُومَةٌ فَمَنْ تَرَكَهَا مِنْ خَوْفِ اللَّهِ أَثَابَهُ جَلَّ وَعَزَّ إِيمَانًا يَجِدُ حَلَاوَتَهُ فِي قَلْبِهِ

Memandang wanita adalah panah beracun dari berbagai macam panah iblis. Siapa saja yang meninggalkan tindakan demikian karena takut kepada Allah, maka Allah akan memberi dia balasan iman yang terasa manis dalam kalbunya (HR al-Hakim dalam Al-Mustadrak).

Islam pun menetapkan bahwa pakaian wajib kaum Muslimah saat keluar rumah adalah kerudung (khimâr) yang terulur hingga menutupi dada (QS an-Nur [24]: 31) dan jilbab (gamis), yakni baju panjang yang lebar dan tidak menampakkan lekukan tubuh mereka (QS al-Ahzab [33]: 59).

Kedua, Islam mengharamkan khalwat (kondisi berduaan pria dan wanita yang bukan mahram). Khalwat sering menjadi peluang bagi terjadinya perzinaan dan kekerasan seksual. Dalam pengobatan, misalnya, seorang Muslimah wajib didampingi mahram-nya. Tidak boleh hanya berdua dengan dokter pria. Nabi saw. bersabda:

أَلاَ لاَ يَخْلُوَنَّ رَجُلٌ باِمْرَأَةٍ إِلاَّكاَنَ ثَالِثَهُمَا الشَّيْطَانُ

Ingatlah, tidaklah seorang laki-laki itu berdua-duaan dengan seorang wanita kecuali yang ketiganya adalah setan (HR Ahmad, at-Tirmidzi dan al-Hakim).

Selain khalwat, Islam juga mengharamkan ikhtilât (kondisi campur-baur pria dan wanita) kecuali untuk kepentingan muamalah, pengobatan dan pendidikan. Haram pria dan wanita bercampur-baur seperti di tempat pesta, tempat hiburan, dsb.

Ketiga, Islam mengharamkan tindakan eksploitasi terhadap perempuan seperti kontes kecantikan, ajang foto model, dsb. Baik secara sukarela apalagi dengan ancaman. Begitu juga haram mempekerjakan perempuan dengan cara mengeksploitasi tubuh dan penampilan mereka seperti dalam sistem kapitalisme. Misalnya sebagai model iklan, pelayan toko, frontline, sales, dsb. Kaum perempuan diperbolehkan bekerja di luar rumah berdasarkan keterampilan mereka. Namun, mereka harus menutup aurat mereka secara sempurna dengan memakai kerudung dan jilbab syar’i serta tidak ber-tabarruj (berhias yang mengeksploitasi kecantikan mereka).

*Sanksi Keras*

Selain tindak preventif, Islam juga menyiapkan sanksi keras bagi para pelaku kekerasan seksual terhadap perempuan. Syariah Islam menjatuhkan sanksi bagi pihak yang melakukan eksploitasi terhadap perempuan, termasuk pihak yang memproduksi konten-konten p***ografi. Para pelaku ini dijatuhkan sanksi ta’zîr yang jenis dan bobot sanksinya diserahkan pada qâdhi (hakim). Sanksinya bisa berupa hukuman penjara, hukuman cambuk, bahkan hukuman mati jika dinilai sudah keterlaluan oleh pengadilan.

Sanksi ta’zîr juga disiapkan untuk para pelaku pelecehan seksual seperti cat calling, menyentuh/meraba perempuan, mengintip, dsb. Qâdhi bisa memvonis hukuman penjara atau hukuman cambuk atas pelakunya, bergantung pada tingkat kejahatan tersebut menurut ijtihad qâdhi.

Adapun bagi para pelaku pemerkosaan ada sanksi yang jauh lebih berat. Jika pelakunya adalah lelaki yang belum menikah (ghayr muhshan) maka sanksinya adalah hukuman cambuk 100 kali dan diasingkan selama 1 tahun di tempat terpencil. Jika pelakunya kategori muhshan (sudah pernah menikah), maka sanksi atas dirinya adalah hukum rajam hingga mati. Demikian sebagaimana Nabi saw. pernah menjatuhkan sanksi rajam atas pezina yang telah menikah. Sanksi ini bisa ditambah lagi jika pelaku melakukan tindak penculikan dan penganiayaan terhadap korban. Qâdhi bisa menjatuhkan sanksi untuk semua tindak kejahatan tersebut.

Adapun korban wajib diberi perlindungan oleh negara. Korban wajib p**a diberi perawatan fisik maupun mentalnya hingga pulih.

Wahai kaum Muslim! Sadarlah bahwa kerusakan yang menimpa masyarakat saat ini, khususnya kaum perempuan, adalah akibat penerapan ideologi kapitalisme-liberalisme di negeri ini. Kebebasan perilaku dibiarkan meruyak dan kaum perempuan terus dieksploitasi.

Tidak ada jalan keluar dan perlindungan terbaik untuk kaum perempuan kecuali dengan menerapkan sistem kehidupan Islam. Inilah sistem terbaik. Sistem ini datang dari Allah SWT yang merupakan satu-satunya sistem yang dapat melindungi umat manusia, khususnya kaum perempuan. Hukum-hukum yang mulia sebagaimana dipaparkan di atas hanya bisa diterapkan di dalam institusi pemerintahan Islam, yakni Khilafah Islamiyah. Apakah ada aturan lain terbaik selain Islam?

WalLâhu a’lam bi ash-shawâb. []

---*---

*Hikmah:*

Rasulullah saw. bersabda:

وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ، لا تَفْنَى هَذِهِ الأُمَّةُ حَتَّى يَقُومَ الرَّجُلُ إِلَى الْمَرْأَةِ فَيَفْتَرِشَهَا فِي الطَّرِيقِ ، فَيَكُونَ خِيَارُهُمْ يَوْمَئِذٍ مَنْ يَقُولُ لَوْ وَارَيْتَهَا وَرَاءَ هَذَا الْحَائِطِ

Demi Tuhan Yang jiwaku berada di tangan-Nya. Tidak akan hancur umat ini hingga seorang pria mendatangi seorang wanita, lalu dia menggauli wanita tersebut di jalanan. Orang yang paling baik di antara mereka saat itu hanya berkata, ”Andai saja engkau menyembunyikan wanita itu di balik tembok ini.” (HR Abu Ya’la al-Haitsami dan ia berkata, “Perawinya adalah perawi shahih.” Lihat: Al-Haitsami, Maj’ma az-Zawâ-id, 7/331). []

Buletin Kaffah Edisi 391 (4 Dzulqa’dah 1446 H - 2 Mei 2025 M)

*Jumat, Hari Sedekah Terbaik*Hari Jumat bukan hanya hari penuh keberkahan, tetapi juga hari terbaik untuk memperbanyak s...
02/05/2025

*Jumat, Hari Sedekah Terbaik*

Hari Jumat bukan hanya hari penuh keberkahan, tetapi juga hari terbaik untuk memperbanyak sedekah. Di hari ini, amal kebaikan dilipatgandakan, doa-doa dikabulkan, dan pintu-pintu rahmat terbuka lebih lebar.

Rasulullah SAW bersabda:
_“Sedekah paling utama adalah sedekah pada hari Jumat.”_
(HR. Ibnu Khuzaimah dalam Shahih-nya)

Mengapa hari Jumat begitu istimewa? Karena ia adalah penghulu segala hari, saat umat Muslim berkumpul dalam shalat Jumat, mendengarkan khutbah, dan memperbarui keimanan. Maka sedekah di hari Jumat menjadi bentuk amal yang sangat mulia, menambah pahala dan membuka pintu rezeki.

*Jadikan Jumatmu lebih bermakna dengan berbagi.*
Tidak perlu menunggu banyak, cukup dengan yang ada. Allah menilai keikhlasan, bukan jumlah.

---
https://chat.whatsapp.com/JyfMCehsMlu5SiOejHcFL3



---

WhatsApp Group Invite

*"Kalau Ternyata Akhirat Itu Ada…"*Kalau ternyata akhirat itu *tidak ada*, lalu kita menyesal karena dulu gak sempat foy...
01/05/2025

*"Kalau Ternyata Akhirat Itu Ada…"*

Kalau ternyata akhirat itu *tidak ada*, lalu kita menyesal karena dulu gak sempat foya-foya—itu penyesalan yang masih bisa disyukuri. Kenapa? Karena penyesalannya di akhir, dan tidak berdampak apa-apa selain rasa *"terlalu hati-hati"*.

Tapi *bagaimana jika akhirat itu ternyata benar-benar ADA*?

Bagaimana kalau setiap janji Allah tentang surga dan neraka, hisab dan mizan, shirath dan jannah, semua itu nyata?
Lalu kita menyia-nyiakan hidup hanya demi kenikmatan sebentar?
Lalai dari salat, malas taat, cuek pada dakwah, enggan belajar agama?

Maka sungguh, penyesalan itu bukan di ujung...
Penyesalan itu baru saja dimulai.
Dan itu sangat dahsyat.

Allah sudah memperingatkan:

> "Setiap jiwa akan merasakan mati. Dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan balasanmu. Barang siapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, sungguh ia telah beruntung. Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdaya."
> _(QS. Ali 'Imran: 185)_

Maka jangan tunggu mati untuk menyesal.
Jangan tunggu kiamat untuk sadar.
Karena waktu tidak pernah menunggu.
Dan ajal tidak menawar.

Pilih taat sekarang, atau bersiap menyesal selamanya.

---
https://chat.whatsapp.com/JyfMCehsMlu5SiOejHcFL3












---

Khilafah: Menjaga Kehormatan dan Keadilan untuk UmatSaat dunia terpuruk dalam ketidakadilan, Khilafah datang sebagai sol...
28/04/2025

Khilafah: Menjaga Kehormatan dan Keadilan untuk Umat

Saat dunia terpuruk dalam ketidakadilan, Khilafah datang sebagai solusi. Bukan hanya bagi umat Islam, tetapi bagi seluruh umat manusia. Di balik penentangan dari musuh-musuh Islam, Khilafah adalah harapan yang ditunggu untuk menghadirkan keamanan dan keadilan.

Allah SWT telah menjanjikan kemenangan bagi umat yang beriman dan beramal saleh, menjadikan mereka pemimpin di muka bumi. Sudah saatnya kita bersatu, menegakkan syariat-Nya, dan memuliakan Khilafah yang telah diabaikan.

“Allah telah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman dan yang mengerjakan kebajikan, bahwa Dia sungguh, akan menjadikan mereka berkuasa di bumi...” (QS. An-Nur: 55)

Mari bergabung untuk mewujudkan kembali Khilafah yang memuliakan orang yang mulia dan menghinakan orang yang hina.



---

Address

Jalan Cadas Pangeran
Sumedang
45361

Website

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when dakwahpamulihan posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Contact The School

Send a message to dakwahpamulihan:

Shortcuts

Share

Category