TBM Titian Cahaya Iman

TBM Titian Cahaya Iman

Share

TBM TITIAN CAHAYA IMAN adalah taman baca masyarakat yang berada di bawah naungan YAYASAN TITIAN CAHAYA IMAN.

TBM ini terbuka untuk umum dari berbagai usia dan menyediakan berbagai macam buku bacaan serta permainan tradisional.

30/01/2026
28/01/2026

BAB 1

Aku masih bisa merasakan getaran halus saat roda pesawat menyentuh landasan. Suara gesekan itu seperti tanda pembuka, sebuah garis awal yang selama ini hanya ada dalam doa dan bayangan. Aku menahan napas, lalu menghembuskannya perlahan. Turki. Aku benar-benar sampai.

Dari balik jendela pesawat, lampu-lampu bandara berpendar seperti gugusan bintang yang jatuh ke bumi. Malam menyelimuti kota ini dengan cara yang berbeda, dingin dan anggun, seolah Turki sedang mengamati kami dengan tenang, menimbang apakah kami layak menjadi bagian kecil dari ceritanya. Tanganku sedikit gemetar ketika aku berdiri dan mengambil tas. Bukan karena dingin, tapi karena kesadaran bahwa hidupku, mulai detik ini, tidak akan sama lagi.

Aku menoleh ke Akbar. Ia tersenyum tipis, senyum yang kutahu menyimpan banyak hal. Lelah, rindu, dan tekad yang sengaja ia sembunyikan agar tak terlihat rapuh. Hilman berdiri di depan kami, bahunya tegap, tapi dari caranya menghela napas aku tahu ia juga sedang menenangkan diri. Aziza dan Putri berjalan berdampingan, langkah mereka ragu-ragu, mata mereka sibuk menyerap segala hal baru, seakan takut melewatkan satu detail pun dari hari pertama ini.

Kami datang bukan sebagai turis yang membawa rasa ingin tahu sesaat. Kami datang sebagai mahasiswa, sebagai anak-anak yang meninggalkan rumah, keluarga, dan bahasa ibu demi sebuah mimpi bernama pendidikan. Pikiran itu membuat dadaku sesak dan lapang dalam waktu bersamaan.

Begitu pintu bandara terbuka, udara dingin menyergap tanpa permisi. Aku refleks merapatkan jaket, dan saat itulah aku sadar: ini bukan lagi Indonesia. Dingin ini jujur, menusuk, dan tak peduli siapa aku. Langit malam Turki menggantung rendah, berwarna kelabu kebiruan, seolah ikut menekan rasa gugup yang sejak tadi kupendam.

Kami berjalan mengikuti arus orang-orang yang berbicara dalam bahasa yang belum sepenuhnya kupahami. Huruf-huruf Turki pada papan petunjuk terlihat asing, seperti teka-teki yang menantang untuk dipecahkan. Di kepalaku, pertanyaan-pertanyaan bermunculan tanpa jeda: bagaimana kuliah nanti, apakah aku mampu mengikuti pelajaran, apakah aku akan kesepian, apakah aku akan gagal?

"Alhamdulillah, kita sampai juga."

Aku menoleh pada Bang Gani. Senyumnya sederhana, tapi entah kenapa rasanya seperti pelukan. Ia mengenakan jaket tebal dan syal, wajahnya tenang, seperti seseorang yang sudah lama berdamai dengan negeri ini. Dialah pendamping kami, orang yang akan menuntun kami melewati hari-hari pertama sebagai mahasiswa asing di Turki.

"Selamat datang," lanjutnya. "Kalian pasti capek. Tapi percayalah, ini awal yang baik."

Aku mengangguk, tenggorokanku terasa tercekat. Kehadiran Bang Gani membuat rasa asing itu sedikit surut. Ia membantu kami mengurus koper, menjelaskan prosedur dengan sabar, dan sesekali melempar candaan kecil yang membuat kami tertawa pelan. Tawa itu canggung, tapi jujur. Tawa orang-orang yang sedang belajar bernapas di dunia baru.

Perjalanan menuju penginapan terasa seperti adegan film yang diputar pelan. Aku duduk di dekat jendela, menempelkan dahi ke kaca yang dingin. Kota ini lewat begitu saja di hadapanku: jalanan yang tertata rapi, bangunan-bangunan tua dengan cahaya kekuningan, dan sesekali siluet masjid dengan kubah besar dan menara yang menjulang. Aku terdiam, ada rasa haru yang tak bisa kujelaskan. Seolah sejarah dan masa depan bertemu di satu titik, dan aku berdiri tepat di tengahnya.

"Kuliah di sini nggak cuma soal belajar di kelas," kata Bang Gani dari kursi depan. "Kalian juga akan belajar hidup."

Kalimat itu menancap dalam pikiranku. Aku melirik Akbar, Hilman, Aziza, dan Putri. Kami semua diam, tenggelam dalam pikiran masing-masing. Aku yakin, di balik wajah-wajah itu ada ketakutan yang sama. Takut tak cukup kuat, takut mengecewakan orang-orang di rumah, takut kehilangan diri sendiri.

Putri tiba-tiba berbisik, suaranya hampir tenggelam oleh suara mesin. "Dien ... kita beneran di Turki ya?"

Aku tersenyum kecil. "Iya. Beneran."

Aziza mengangguk pelan, matanya berkaca-kaca. "Aku baru sadar... kita sejauh ini dari rumah."

Kalimat itu membuat dadaku mengencang. Rumah. Kata yang sederhana, tapi kini terasa begitu jauh. Aku membayangkan umi dan suara-suara yang biasa menyapaku setiap pagi. Untuk sesaat, aku ingin kembali. Tapi di saat yang sama, aku tahu aku tak boleh menoleh ke belakang terlalu lama.

Saat akhirnya kami tiba di penginapan, malam semakin larut. Aku berdiri di dekat jendela kamar, membuka tirai sedikit, dan menatap kota yang masih terjaga. Lampu-lampu berkelip, angin dingin menyusup lewat celah kaca. Aku menarik napas panjang, mencoba menyusun perasaan yang berantakan.

Aku bukan siapa-siapa di negara ini. Aku hanya seorang mahasiswa asing, dengan bahasa yang terbata-bata dan mimpi yang terlalu besar untuk tubuh yang sering ragu. Tapi malam itu, untuk pertama kalinya, aku berani berkata dalam hati: Aku di sini. Dan aku akan bertahan.

Photos from TBM Titian Cahaya Iman's post 25/02/2025

Aku Di Hari Minggu
TBM Titian Cahaya Iman

Photos from TBM Titian Cahaya Iman's post 29/01/2025

Libur Imlek. Tapi tetap semangat datang ke tbm

22/09/2024

Aku di hari Minggu, 22 September 2024

25/08/2024

Kegiatan rutin hari minggu di TBM Titian Cahaya Iman

Want your school to be the top-listed School/college in Sumber?

Click here to claim your Sponsored Listing.

Location

Category

Website

Address


Kp. Mekarasih 001/004 Desa Durajaya Kec. Greged Kab. Cirebon
Sumber
45172