BENARKAH RIDHA ALLAH TERGANTUNG RIDHA ORANGTUA ?
Terdapat sebuah hadits yang masyhur (populer) yang dinisbatkan kepada Nabi shallallahu alaihi wa sallam :
رِضَا الرَّبِّ فِي رِضَا الْوَالِدِ وَسَخِطُ الرَّبِّ فِي سَخَطِ الْوَالِدِ
"Ridha Rabb terkait ridha orangtua, kemarahan Rabb terkait juga dengan kemarahan orangtua."
Takhrij Hadits :
Hadits ini diriwayatkan oleh beberapa ulama dengan lafazh yang hampir mirip yaitu :
1. Imam Bukhari dalam Adabul Mufrad (no. 2 –pen. Maktabah Al-Maa’arif, Riyadh).
2. Imam Tirmidzi dalam As-Sunan (no. 1899 –pen. Maktabah Baabil Halabiy, Mesir).
3. Imam Al-Hakim dalam Al-Mustadrak (no. 7249 –pen. Daarul Kutubil ‘Ilmiyyah, Beirut).
4. Imam Baihaqi dalam Syu’abul Iman (no. 7446 & 7447–pen. Maktabah Rusydi, India).
5. Imam Thabrani dalam Mu’jam Kabiir (no. 14367 & 14368).
6. Imam Ibnu Hibban dalam Shahihnya (no. 429 –pen. Muasasah Risalah, Beirut).
7. Imam Al-Baghawi dalam Syarhus Sunnah (no. 3423 & 3424 –pen. Maktabul Islamiy, Beirut).
8. Imam Ibnu Bathah dalam Al-Ibaanah Al-Kubra (no. 99 –pen. Daarur Rayaah, Riyadh).
9. Imam Ibnu Syahiin dalam At-Targhiib fii Fadhailul Amal (no. 299 –pen. Daarul Kutubil ‘Ilmiyyah, Beirut).
10. Imam Al-Bazzar dalam Al-Musnad (no. 2394 –pen. Maktabah al-‘Uluum wal Hikam, Madinah).
11. Imam Abu Syaikh Al-Asbahaani dalam Al-Fawaaid (no. 28 –pen. Daarus Shuma’iy, Riyadh).
Semuanya meriwayatkan dari Jalan Syu’bah dari Ya’laa bin ‘Atha’ dari bapaknya dari Abdullah bin ‘Amr radhiyallahu 'anhumaa. Sebagian perawi kitab di atas meriwayatkannya hanya mauquf (disandarkan kepada Sahabat) Abdullah bin ‘Amr radhiyallahu anhuma, misalnya :
- Imam Bukhari dalam kitabnya Adabul Mufrad sebagaimana di atas meriwayatkan dari jalan Adam bin Abi Iyaas –perawi tsiqah ‘aabid- dari Syu’bah dan seterusnya secara mauquf.
- Imam Tirmidzi dalam kitabnya di atas meriwayatkan dari Muhammad bin Ja’far –perawi tsiqah- dari Syu’bah dan seterusnya secara mauquf.
- Imam Thabrani dalam Mu’jam Kabiir di atas no. 14367 meriwayatkan dari jalan Muslim bin Ibrahim –perawi tsiqah ma’muun- dari Syu’bah dan seterusnya secara mauquf.
- Imam Baghawi dalam kitabnya di atas meriwayatkan dari An-Nadhar bin Syumail –perawi tsiqah tsabat- dari Syu’bah dan seterusnya secara mauquf.
Kemudian sisa ulama yang kami sebutkan di atas meriwayatkan secara marfu’ (disandarkan kepada Nabi shallallahu alaihi wa sallam). Imam Tirmidzi dalam Sunannya mengatakan :
حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ بَشَّارٍ قَالَ: حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ جَعْفَرٍ، عَنْ شُعْبَةَ، عَنْ يَعْلَى بْنِ عَطَاءٍ، عَنْ أَبِيهِ، عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو، نَحْوَهُ، وَلَمْ يَرْفَعْهُ وَهَذَا أَصَحُّ،: وَهَكَذَا رَوَى أَصْحَابُ شُعْبَةَ، عَنْ شُعْبَةَ، عَنْ يَعْلَى بْنِ عَطَاءٍ، عَنْ أَبِيهِ، عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو، مَوْقُوفًا، وَلَا نَعْلَمُ أَحَدًا رَفَعَهُ غَيْرَ خَالِدِ بْنِ الحَارِثِ، عَنْ شُعْبَةَ وَخَالِدُ بْنُ الحَارِثِ ثِقَةٌ مَأْمُونٌ،
"Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ja’far dari Syu’bah dari Ya’laa bin ‘Atha’, dari Bapaknya dari Abdullah bin ‘Amr radhiyallahu 'anhu semisalnya, namun tidak memarfukannya dan ini lebih shahih. Demikian muridnya Syu’bah meriwayatkan dari Syu’bah dari Ya’laa bin ‘Atha’ dari bapaknya dari Abdullah bin ‘Amr secara mauquf, kami tidak mengetahui yang memarfukan hadits ini, selain Khalid ibnu Haarits dari Syu’bah. Khalid bin Al-Haarits perawi tsiqah ma’muun."
Namun perkataan beliau disanggah oleh Syaikh Al Albani dalam Silsilah Ahaadits Shahihah (no. 516), Syaikh Al Albani menemukan ada 2 perawi yang me-mutaba’ah-i Khalid di atas, sebagai berikut :
- Abdur Rahman bin Mahdi, salah satu Aimah Sunnah yang masyhur dengan ketsiqahannya, sebagaimana dalam riwayat Imam Al Hakim di atas.
- Abu Ishaaq Ibrahim bin Ibrahim ibnul Haarits, seorang Imam yang tsiqah lagi Haafizh, sebagaimana dalam riwayat Imam Abu Syaikh di atas.
Kemudian kami tambahkan yang meriwayatkan dari Syu’bah secara marfu’, yakni :
- Al Husain bin Waliid –perawi tsiqah-, sebagaimana dalam Syu’abul Iman.
- Al Qasim bin Sulaim –perawi majhul-, diriwayatkan oleh Imam Thabrani dalam Mu’jam Thabrani (no. 14368).
Berdasarkan hal tersebut, maka klaim bahwa yang rajih mauquf tidak bisa diterima begitu saja, karena jalan yang marfu’ juga diriwayatkan sampai 4 perawi yang berstatus tsiqah.
Namun masih tersisa satu kelemahan lagi yang dijelaskan oleh Asy-Syaikh Syu’aib Arnauth dalam Ta’liq Syarhus Sunnah :
والحق أن الحديث إسناده ضعيف. فإن في إسناده عطاء العامري وهو مجهول الحال ما روى عنه غير ابنه يعلى كما قال أبو الحسن القطان كما في التهذيب (7/220) . وقال الذهبي في الميزان (3/78) : “لا يعرف إلا بابنه”. وفي التقريب (2/23) : “مقبول”. ولم يرو له مسلم بل روى له البخاري في الأدب وأبو داود والترمذي والنسائي.
"Yang benar hadits ini sanadnya dhaif, karena dalam sanadnya ada perawi yang bernama ‘Atha’ Al-‘Aamiriy (bapaknya Ya’laa bin ‘Atha’ –pent.), ia perawi majhul Haal, tidak ada yang meriwayatkan dirinya selain anaknya, Ya’laa, sebagaimana dikatakan Abul Hasan Al-Qathan dalam At-Tahdziib (7/220). Adz-Dzahabi dalam Al-Mizaan berkata (3/78) : 'tidak dikenal, kecuali melalui anaknya'. Dalam At-Taqriib (2/23) : 'maqbuul'. Muslim tidak meriwayatkan haditsnya, namun hanya diriwayatkan oleh Bukhari dalam Adabul Mufrad, Abu Dawud, Tirmidzi, dan Nasa’i."
Untuk status ‘Atha’, bapaknya Ya’laa Syaikh Al Albani tidak menyebutkan komentar tentangnya, barangkali beliau merasa cukup dengan Tautsiq yang diberikan oleh Imam Ibnu Hibban kepadanya, atau lupa, atau sebab lainnya. Kemudian saya mendapatkan penilaian negatif dari Imam Ahmad yang dinukil oleh Imam Bukhari dalam kitabnya Tariikh Kabiir (no. 2997 –pen. Daairah Al-Ma’aarif) ketika menyebutkan biografi ‘Atha’ :
قَالَ أَحْمَد: حدَّثنا أَبو دَاوُد، أَخبرنا شُعبة؛ كَانَ يَعلَى يُحدِّثني عَنْ أَبيه، فِيرسلَهُ، فأقول لَهُ: فأَبُوك عَمَّن؟ قَالَ: أنتَ لا تأخذ عَنْ أَبي، وأدرك عُثمان، رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، وأدرك كذا
"Ahmad berkata, Telah menceritakan kepada kami Abu Dawud, telah mengabarkan kepada kami Syu’bah bahwa Ya’laa menceritakan hadits dari bapaknya kepadaku, lalu ia memursalkannya, maka aku bertanya kepadanya : ‘bapakmu mengambil hadits dari siapa?’, ia menjawab : ‘engkau tidak perlu mengambil dari bapakku, aku berjumpa dengan Utsman radhiyallahu 'anhu, aku berjumpa ini dan itu’."
Dalam kitab Jarh wa Ta’dil (no. 1872 –pen. Dairah Al-Ma’aarif) karya Imam Ibnu Abi Hatim, beliau juga tidak menyebutkan jarh maupun ta’dil kepadanya. Berdasarkan hal ini, maka kami condong sepakat dengan penilaian yang diberikan oleh Asy-Syaikh Syu’aib Arnauth bahwa hadits ini dhaif, baik secara marfu’, maupun mauquf, karena sanadnya berporos kepada ‘Atha’ Al-‘Aamiriy –ayahnya Ya’laa- yang tidak diketahui penilaian jarh maupun ta’dil kepadanya, sehingga dihukumi sebagai perawi majhul. Adapun tautsiq Imam Ibnu Hibban kepadanya, maka telah ma’ruf tasahulnya beliau di dalam memberikan tautsiq kepada perawi yang majhul, sebagaimana telah ditegaskan oleh lebih dari satu ulama. Wallahu A’lam.
Namun tentunya bukan berarti karena hadits ini lemah, boleh bagi seorang anak untuk durhaka kepada kedua orangtuanya, karena telah terdapat nash-nash yang tsabit dari Kitabullah dan Sunnah Rasul-Nya yang melarang untuk durhaka kepada orangtua. Dan juga bagi yang menshahihkannya, bukan berarti semua perintah orangtua yang menyelisihi syariat untuk dikerjakan, sekalipun itu menyebabkan kedua orangtuanya ridha, karena Allah Subhanahu Wa Ta’ala tidak akan ridha terhadap orang yang menyelisihi syariat-Nya, dan kaidahnya adalah sebagaimana dalam hadits Nabi shallallahu alaihi wa sallam :
لا طاعة لأحد في معصية الله تبارك وتعالى
"Tidak ada ketaatan kepada seorang pun di dalam bermaksiat kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala."
(Musnad Ahmad no. 19740)
Semoga bermanfaat dan dapat dipahami.
Baarakallahu fiiykum
Muhammad Abdul Majid
Menuju hidup yang lebih baik bersama Allah dan RosulNya
Adakah Malaikat Penyelamat Manusia ?
Mungkin yang anda maksud adalah malaikat yang diperintahkan Allah untuk menjaga manusia.
Keberadaan malaikat ini, telah Allah sebutkan dalam al-Quran,
لَهُ مُعَقِّبَاتٌ مِنْ بَيْنِ يَدَيْهِ وَمِنْ خَلْفِهِ يَحْفَظُونَهُ مِنْ أَمْرِ اللَّهِ
"Bagi manusia ada malaikat mu’aqibat yang selalu mengikutinya bergiliran, di muka dan di belakangnya, mereka menjaganya atas perintah Allah."
(QS. Ar-Ra’du : 11)
Ibnu Katsir menjelaskan, bahwa semua manusia yang hidup, dia disertai 4 malaikat.
2 malaikat pencatat amal. Yang satu di kanan dan yang satu di kiri. Malaikat di kanan mencatat amal baik, sementara malaikat yang di kiri mencatat amal buruk.
2 malaikat penjaga. Yang satu di depan dan yang satu di belakang.
Untuk apa mereka menjaga manusia ?
Mereka menjaga manusia dari semua takdir buruk yang belum saatnya menimpa mereka. Meskipun ada bahaya besar yang mengancamnya, jika dia belum ditakdirkan terkena bahaya, maka malaikat ini akan menjaganya sehingga dia selamat dari bahaya.
Kita sering mendengar dalam sebuah kecelakaan besar, semua penumpang meninggal, tapi ada satu bayi yang selamat. Padahal secara perhitungan, seharusnya dia meninggal, karena tidak bisa menyelamatkan diri sendiri. Allah menjaganya dengan memerintahkan Malaikat mu’aqibat.
Keberadaan Malaikat mu’aqibat ini telah diceritakan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
يَتَعَاقَبُونَ فِيكُمْ مَلاَئِكَةٌ بِاللَّيْلِ وَمَلاَئِكَةٌ بِالنَّهَارِ وَيَجْتَمِعُونَ فِى صَلاَةِ الْفَجْرِ وَصَلاَةِ الْعَصْرِ ثُمَّ يَعْرُجُ الَّذِينَ بَاتُوا فِيكُمْ فَيَسْأَلُهُمْ رَبُّهُمْ وَهُوَ أَعْلَمُ بِهِمْ كَيْفَ تَرَكْتُمْ عِبَادِى فَيَقُولُونَ تَرَكْنَاهُمْ وَهُمْ يُصَلُّونَ وَأَتَيْنَاهُمْ وَهُمْ يُصَلُّونَ
“Para Malaikat di malam dan siang hari silih berganti mengawasi kalian, dan mereka berkumpul pada saat shalat Subuh dan shalat Ashar. Kemudian para malaikat yang mengawasi kalian semalam suntuk naik (menuju Allah). Allah menanyakan kepada mereka, padahal Dia lebih mengetahui tentang kondisi para hamba-Nya, “Bagaimana kondisi kalian tinggalkan hamba-hamba-Ku?” Mereka menjawab, “Kami tinggalkan mereka dalam keadaan mengerjakan shalat, dan kami mendatangi mereka juga dalam kondisi sedang shalat.”
(HR. Bukhari no. 7486)
Mereka diistilahkan malaikat mu’aqibat karena mereka datang silih berganti. Ada malaikat yang berjaga siang, dan ada yang berjaga di malam hari.
Semua Berjalan Sesuai Takdir Allah
Keberadaan malaikat ini memberi pelajaran bagi kita, bahwa apapun yang belum ditakdirkan Allah untuk menimpa kita, tidak akan terjadi pada kita. Meskipun andai semua manusia berharap agar itu menimpa kita. Sebaliknya, jika Allah telah takdirkan musibah itu menimpa kita, pasti akan terjadi pada kita. Sekalipun sejuta usaha telah kita lakukan untuk menghindarinya.
Allah Ta'ala berfirman,
مَا أَصَابَ مِنْ مُصِيبَةٍ فِي الأَرْضِ وَلا فِي أَنْفُسِكُمْ إِلاَّ فِي كِتَابٍ مِنْ قَبْلِ أَنْ نَبْرَأَهَا
"Tiada suatu bencanapun yang menimpa di bumi dan (tidak p**a) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauhul Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya."
(QS. Al-Hadid : 22)
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajarkan hal ini dalam haditsnya,
واعلم أنَّ الأُمَّةَ لَو اجْتَمَعَتْ عَلَى أنْ يَنْفَعُوكَ بِشَيءٍ ، لَم يَنفَعُوكَ إلاَّ بِشَيءٍ قَد كَتَبَهُ الله لَكَ ، وَإنِ اجْتَمَعُوا عَلَى أنْ يَضرُّوكَ بِشَيءٍ ، لَم يَضُرُّوكَ إلاَّ بِشَيءٍ قَدْ كَتَبَهُ الله عَلَيكَ
“Ketahuilah, bahwa seluruh makhluk (di dunia ini), seandainya pun mereka bersatu untuk memberikan manfaat (kebaikan) bagimu, maka mereka tidak mampu melakukannya, kecuali dengan kebaikan yang telah Allah tuliskan (takdirkan) bagimu, dan seandainya pun mereka bersatu untuk mencelakakanmu, maka mereka tidak mampu melakukannya, kecuali dengan musihkan yang telah Allah takdirkan akan menimpamu.”
(HR. Turmudzi no. 2516)
Allahu a’lam
Click here to claim your Sponsored Listing.
Location
Category
Website
Address
Cemani Rt. 4/XV Kal. Cemani
Sukoharjo
57552