16/08/2026
🟠 MASIHKAH TIDAK PERHATIAN DENGAN TAUHID & SYIRIK?
[Dauroh Ilmiyah Kitab "Mukhalafat Fit Tauhid" bersama Ustadz Mu'tashim Lc. MA حفظه الله تعالى ]
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيم
Setiap manusia diciptakan Allah di dunia untuk beribadah hanya kepada Allah, sebagaimana firman Allah سبحانه و تعالى
وَمَا خَلَقْتُ ٱلْجِنَّ وَٱلْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ
Artinya: Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku.[QS Az-Zariyat Ayat 56]
Dengan mentauhidkan Allah hamba berusaha memenuhi hak Allah yang paling utama, itulah kenapa para Rasul diutus untuk mengajak manusia mentauhidkan Allah & meninggalkan kesyirikan di masa awal dakwah & fokus utama dakwahnya, karena tauhid menjadi salah satu syarat diterimanya amal ibadah, yakni mengikhlaskan ibadah hanya kepada Allah.
Al Fudhail bin ‘Iyadh tatkala menjelaskan mengenai firman Allah,
لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا
“Supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya.” (QS. Al Mulk: 2), beliau mengatakan, “yaitu amalan yang paling ikhlas dan showab (mencocoki ajaran Nabi ﷺ).”
[2] Jaami’ul ‘Ulum wal Hikam, Ibnu Rojab Al Hambali, Darul Muayyid, cetakan pertama, 1424 H]
Oleh karena pentingnya tauhid bagi hamba, maka wajib kita memahami apa saja perkara yang merusak & membatalkan tauhid.
Disisi lain setan membisikan kepada manusia berupa :
1. Menghiasi para Du'at & Da'i agar tidak mendakwahkan tauhid, supaya manusia bisa bersatu & tidak berpecah belah.
2. Kekhawatiran bahwa masyarakat akan menolak & lari dari dakwah
3. Anggapan bahwa semua sudah paham tauhid
Adakah yang merasa aman dari kesyirikan?padahal Nabi Ibrahim saja mengkhawatirkan anak keturunannya terjatuh dalam kesyirikan, sebagaimana doa beliau dalam QS Ibrahim Ayat 35
وَإِذْ قَالَ إِبْرَٰهِيمُ رَبِّ ٱجْعَلْ هَٰذَا ٱلْبَلَدَ ءَامِنًا وَٱجْنُبْنِى وَبَنِىَّ أَن نَّعْبُدَ ٱلْأَصْنَامَ
Artinya: Dan (ingatlah), ketika Ibrahim berkata: "Ya Tuhanku, jadikanlah negeri ini (Mekah), negeri yang aman, dan jauhkanlah aku beserta anak cucuku daripada menyembah berhala-berhala.
Tegaknya dakwah tauhid maka akan tegak p**a daulah islamiyah, tidak seperti sangkaan sebagian manusia yang justru fokus dengan meraih kekuasaan kemudian baru tauhid akan tegak, ini keliru. Perlunya konsep tasfiyah [pembersihan] & tarbiyah [pendidikan], yakni membersihkan keyakinan-keyakinan batil ditengah umat baru kemudian membimbing & mendidik mereka dengan ilmu yang bersumber dari Al Quran & As Sunnah.
Diantara penyimpangan tauhid adalah :
=> Menjadikan perantara [ kuburan orang shalih] antara dirinya dengan Allah, dalam berdoa & beribadah dengan keyakinan bahwa doa & ibadah mereka akan sampai kepada Allah melalui perantara tersebut. Allah berfirman
وَأَنَّ ٱلْمَسَٰجِدَ لِلَّهِ فَلَا تَدْعُوا۟ مَعَ ٱللَّهِ أَحَدًا
Artinya: Dan sesungguhnya mesjid-mesjid itu adalah kepunyaan Allah. Maka janganlah kamu menyembah seseorangpun di dalamnya di samping (menyembah) Allah.[QS Al-Jin Ayat 18]
=> Kekeliruan dalam menafsirkan kalimat tauhid, لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ , yakni "tidak ada pencipta kecuali Allah", jika demikian maka tidak ada bedanya dengan keyakinan kaum musyrikin Quraisy, yang benar maknanya la ma'buda bi haqqin illallah" (لا معبود بحق إلا الله), tidak ada ilah yang berhak diibadahi [dengan benar] kecuali Allah.
=> Tawassul yang syirik & bid'ah, padahal Allâh Azza wa Jalla telah berfirman :
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَابْتَغُوا إِلَيْهِ الْوَسِيلَةَ
Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allâh dan carilah wasilah (jalan) untuk mendekatkan diri kepada-Nya, [al-Mâ-idah/5:35]
Ibnu ‘Abbas Radhiyallahu anhu berkata, “Makna wasilah dalam ayat tersebut adalah peribadahan yang dapat mendekatkan diri kepada Allâh (al-Qurbah).” Demikian p**a yang diriwayatkan dari Mujâhid, Abu Wa’il, al-Hasan, ‘Abdullah bin Katsir, as-Suddi, Ibnu Zaid dan yang lainnya. Qatâdah berkata tentang makna ayat tersebut, “Mendekatlah kepada Allâh dengan mentaati-Nya dan mengerjakan amalan yang diridhai-Nya.”[Tafsîr Ibni Jarir ath-Thabari (IV/567) dan Tafsîr Ibni Katsiir (III/103),]
=> Berbicara tentang Allah tanpa ilmu, pentingnya memilih guru yang memiliki pemahaman yang benar,
Muhammad bin Sirin rahimahullah mengatakan:
إن هذا العلم دين فانظروا عمن تأخذون دينكم
“Ilmu ini adalah bagian dari agama kalian, maka perhatikanlah baik-baik dari siapa kalian mengambil ilmu agama” (Diriwayatkan oleh Ibnu Rajab dalam Al Ilal, 1/355).
=> Ghuluw kepada Nabi ﷺ, padahal terdapat larangan dalam hadits dari Umar bin Al-Khaṭṭāb -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan, ia berkata, Aku mendengar Nabi ﷺ bersabda,
"Janganlah kalian berlebih-lebihan dalam memujiku sebagaimana orang-orang Nasrani berlebih-lebihan dalam memuji Isa bin Maryam. Sesungguhnya aku seorang hamba, maka katakanlah: Abdullah (hamba Allah) dan rasul-Nya."[Ṣaḥīḥ Bukhari - 3445]
Wallahu'alam
Sesi 1 https://youtube.com/live/ziKSe1N3DGo?feature=share
Sesi 2
https://youtube.com/live/UXCi3dGDm58?feature=share
Supported by :
▪️Takmir Masjid Al Ikhlas Karangbendo
▪️AAW Media
▪️Godean Mengaji
🌏 Informasi :
▪️bit.ly/profilrumahtahfidz