Rumah Tahfidz Daarul Anshor Sukabumi

Rumah Tahfidz Daarul Anshor Sukabumi

Share

أحب الصااحين ولست منهم # أن أنال بهم سفاعه

31/03/2026

" AMALAN PEMBUKA PINTU RIZKI "

أَنَّ بَعْضَ الْعُلَمَاءِ قَالَ: مَنْ دَاوَمَ عَلَىٰ قِرَاءَةِ الْفَاتِحَةِ وَقْتَ السَّحَرِ إِحْدَىٰ وَأَرْبَعِينَ مَرَّةً، فَتَحَ اللَّهُ عَلَيْهِ الرِّزْقَ، وَسَهَّلَ أُمُورَهُ مِنْ غَيْرِ تَعَبٍ وَلَا مَشَقَّةٍ، بِإِذْنِ اللَّهِ تَعَالَىٰ، كَذَا مِنْ خَوَاصِّ الْقُرْآنِ.

Artinya : "Sesungguhnya sebagian ulama berkata:
Barang siapa yang rutin membaca Surah Al-Fatihah pada waktu sahur sebanyak empat puluh satu kali, maka Allah akan membukakan baginya pintu rezeki, memudahkan segala urusannya tanpa kelelahan dan tanpa kesulitan, dengan izin Allah Ta‘ala. Demikian ini termasuk sebagian dari khasiat Al-Qur’an. (Kitab Khazinatul Asrar)

Photos from Rumah Tahfidz Daarul Anshor Sukabumi's post 27/03/2026

AGAR ANAK KITA CERDAS & TIDAK CEPAT LUPA

Masa liburan hampir usai. Sebentar lagi putra-putri kita akan kembali ke pondok. Ada satu amalan yg sangat cocok untuk para orang tua sebagai bekal batin mereka.

Kaifiyyah : Membaca Surat Al-Fatihah sebanyak 70 kali.
Dilakukan selama 7 hari berturut-turut dalam keadaan punya wudhu. Tiupkan bacaan tersebut pada air yang suci (air minum).

Fadhilah:
- Anak tersebut dikaruniai keluasan ilmu dan hikmah.
- Hati yang bersih dari pikiran buruk.
- Kecerdasan luar biasa, sehingga mudah menghafal dan tidak cepat lupa atas apa yg ia dipelajari.

Semoga putra-putri kita menjadi santri yang bermanfat dan dimudahkan dalam menuntut ilmu.

Sumber: Kitab Khazinatul Asrar hal 118-119. cet. al Haramaian.
وَمَنْ قَرَأَهَا بِالوُضُوءِ سَبْعَةَ أَيَّامٍ فِي كُلِّ يَوْمٍ سَبْعِينَ مَرّةً وَنَفَخَ عَلَى مَاءٍ طَاهِرٍ فَشَرَبَهُ رَزَقَهُ اللهُ تعَالَى بفَضْلِهِ العِلْمَ وَالحِكْمَةَ وَطَهُرَ قَلْبُهُ مِنَ الأَفْكَارِ الفَاسِدَةِ وَجَعَلَهُ ذَاكِيًا لَا يَنْسِى أبَدًا مَا سَمِعَهُ

26/03/2026

10 hal yang termasuk kurang adab

Diriwayatkan dari Sufyan Ats-Tsauri, beliau berkata: "Sepuluh hal termasuk dalam kekasaran (kurang adab) (Al-Jafa') :

1. Laki-laki atau perempuan yang berdoa untuk dirinya sendiri, tetapi tidak mendoakan kedua orang tuanya dan orang-orang beriman.

2. Orang yang membaca Al-Qur'an, tetapi tidak membaca 100 ayat setiap harinya.

3.Orang yang masuk masjid lalu keluar tanpa salat dua rakaat.

4. Orang yang melewati pekuburan tanpa mengucapkan salam dan mendoakan mereka.

5. Orang yang masuk suatu kota pada hari Jumat, kemudian keluar tanpa mendirikan salat Jumat.

6. Laki-laki atau perempuan yang di lingkungannya kedatangan seorang alim (ulama), namun tidak ada satupun yang mendatangi-nya untuk belajar ilmu.

7.Dua orang yang berteman dalam perjalanan, namun salah satu dari mereka tidak bertanya tentang nama temannya.

8.Orang yang diundang ke sebuah jamuan, namun tidak mendatangi undangan tersebut.

9. Pemuda yang menyia-nyiakan masa mudanya dalam keadaan kosong tanpa menuntut ilmu dan adab.

10. Orang yang kenyang sementara tetangganya lapar, dan dia tidak memberikan sedikitpun dari makanannya."

18/03/2026

Doa Akhir Ramadhan Dibaca setelah Ashar :

اللهم اختم رمضان لنا ولكم بالقبول. واجعل صيامنا وصيامكم وسيلة للطهور. واجعل قيامنا وقيامكم تكفيرا للذنوب طول الدهور. اللهم ثبت حبنا وحبكم لله العزيز الغفور. وثبت و عطر حبنا و حبكم لسيدنا وحبيبنا وشفيعنا محمد وعلى أهل بيته أهل الصدق والطهور. اللهم اجعلنا وإياكم من العائدين والفا ئزين وكل عام وانتم بخير.

Allaahummakhtim Ramadhaana lanaa walakum bil qabuuli. Waj'al shiyaamana washiyaamakum wasiilatan liththuhuuri. Waj'al qiyaamana wa qiyaamakum takfiiran lidzdzunuubi thuuladduhuuri. Allaahumma tsabbit hubbanaa wa hubbakum lillaahil 'aziizil ghafuuri. Wa tsabbit wa 'aththir hubbanaa wa hubbakum lisayyidina wa habiinaa wa syafii'ina Muhammadin wa 'alaa ali baitihi ahlishshidqi wath thuhuuri. Allahummaj'alnaa wa iyyakum minal 'aaidiina wal faaiziina wa kullu 'aamin wa antum bikhairin.

03/03/2026

5 Keutamaan Berbakti kepada Orang Tua:

1. Termasuk Amal Paling Dicintai Allah
عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مَسْعُودٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ:
سَأَلْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: أَيُّ الْعَمَلِ أَحَبُّ إِلَى اللَّهِ؟
قَالَ: الصَّلَاةُ عَلَى وَقْتِهَا
قَالَ: ثُمَّ أَيٌّ؟
قَالَ: بِرُّ الْوَالِدَيْنِ
(HR. Bukhari no. 527 dan Muslim no. 85)
Artinya:
“Amalan yang paling dicintai Allah adalah shalat pada waktunya.” Lalu beliau menyebut: “Berbakti kepada kedua orang tua.”

2. Ridha Allah Tergantung Ridha Orang Tua
عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ:
قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ:
رِضَا الرَّبِّ فِي رِضَا الْوَالِدِ، وَسَخَطُ الرَّبِّ فِي سَخَطِ الْوَالِدِ
(HR. Tirmidzi no. 1899 – hasan shahih)
Artinya:
“Ridha Allah tergantung pada ridha orang tua, dan murka Allah tergantung pada murka orang tua.

3. Bakti kepada Orang Tua Menjadi Sebab Pertolongan Allah
Dalam hadits tentang tiga orang yang terkurung dalam gua, salah satunya bertawassul dengan baktinya kepada orang tuanya. Ia berkata:
اللَّهُمَّ إِنِّي كُنْتُ لَا أَغْبِقُ قَبْلَهُمَا أَهْلًا وَلَا مَالًا
(HR. Bukhari no. 2272 dan Muslim no. 2743)
Artinya:
“Ya Allah, dahulu aku tidak pernah memberi minum (mendahulukan) siapa pun sebelum kedua orang tuaku.”
Karena baktinya itu, Allah menggeser batu besar dan menyelamatkan mereka.

4. Jihad bagi yang Orang Tuanya Masih Hidup
عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا:
قَالَ لَهُ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: فَفِيهِمَا فَجَاهِدْ

(HR. Bukhari no. 3004 dan Muslim no. 2549)
Artinya:
“Maka berjihadlah dengan berbakti kepada keduanya.”

5. Durhaka Termasuk Dosa Besar
عَنْ أَبِي بَكْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ:
قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ:
أَكْبَرُ الْكَبَائِرِ: الإِشْرَاكُ بِاللَّهِ، وَعُقُوقُ الْوَالِدَيْنِ
(HR. Bukhari no. 2654 dan Muslim no. 87)
Artinya : “Dosa terbesar adalah syirik kepada Allah dan durhaka kepada kedua orang tua.”

Photos from Rumah Tahfidz Daarul Anshor Sukabumi's post 02/03/2026

Dari Sahabat Anas bin Malik Ra, bahwasannya Baginda Nabi Muhammad SAW bersabda :

''Tidaklah seorang pemuda yang memuliakan seorang tua karena usianya, melainkan Allah SWT akan menyiapkan untuknya orang yang akan memuliakannya pada waktu ia telah tua.." [ HR. at-Tirmidzi ]

22/02/2026

Romadona apa Romadoni?
Kasrah atau Fathah?

Pengaruhnya dengan Niat Puasa

‘Ala kulli hal, sebenarnya perbedaan pendapat mengenai pembacaan lafaz niat puasa Ramadan ini hanyalah terletak pada teori gramatika arab antara ulama Basrah dan Kufah.

Keduanya memiliki statement yang diperkuat berdasarkan tendensinya masing-masing. Dan yang perlu digarisbawahi adalah perbedaan tersebut hanyalah berimbas pada kefasihan penuturan dan tidaklah sampai menimbulkan konsekuensi batalnya puasa kita.

Karena sejatinya, niat terletak pada hati sedangkan pengucapannya hanyalah sebatas sunah.

Dalam pelafalan lafaz رمضان seringkali terjadi dilema dikarenakan sebagian membacanya رَمَضَانَ (romadona) dengan fathah nun-nya. Sedangkan sebagian yang lain memilih membacanya dengan رَمَضَانِ dengan kasrah nun.

Lantas, manakah yang benar?

Apakah mempengaruhi keabsahan puasa kita?

Status lafaz رمضان

نَوَيْتُ صَوْمَ غَدٍ عَنْ أَدَاءِ فَرْضِ شَهْرِ رَمَضَان هَذِهِ السَّنَةِ لِلهِ تَعَالَى

Lafaz رمضان termasuk isim ghairu munsharif, karena ada ‘ilat berupa ‘alam (nama) dan tambahan alif nun (ziyadah alif nun).

Isim ghairu munsharif adalah isim yang tidak bisa ditanwin. Ketika dibaca jar, maka alamat I’rab-nya adalah fathah. Berbeda ketika di-idhafah-kan atau kemasukan alif lam, maka alamat i’rab-nya kasrah.

I’rab lafaz رمضان dalam susunan niat puasa adalah khafdz (jar) sebab رمضان menjadi mudaf dari mudaf ilaih berupa lafaz شَهْرِ.

Terkait alamatnya kasrah atau fathah, ulama berbeda pendapat.

Nun Terbaca Kasrah

Mengutip pendapat Syaikh al-Barmawi, Syekh Sulaiman al-jamal menyampaikan bahwa lafaz رمضان harus terbaca kasrah, karena I’rab-nya khafdz dan disambung (di-idhafah-kan) pada lafaz setelahnya, هَذِهِ السَّنَةِ.

Diperkuat lagi dengan alasan bahwa apabila lafaz رمضان tidak disambung akan menyebabkan kerancauan makna, yakni akan ada kemungkinan isim isyarah هَذِهِ yang menjadi dharaf, ber-ta’alluq pada lafaz نَوَيْتُ sehingga makna yang dihasilkan akan rancau.

Nun Terbaca Fathah

Namun sebagian ulama justru membaca lafaz رمضان dengan fathah. Mereka berlandaskan bahwa رمضان adalah sebuah nama (isim alam) yang secara gramatika Arab tidak diperbolehkan untuk disambung dengan lafaz setelahnya.

Keterangan tersebut sebagaimana tertuang dalam kitab Hasyiyah al-Jamal yang berupa:

(قَوْلُهُ: بِإِضَافَةِ رَمَضَانَ) أَيْ لِمَا بَعْدَهُ فَنُونُهُ مَكْسُورَةٌ؛ لِأَنَّهُ مَخْفُوضٌ وَإِنَّمَا اُحْتِيجَ لِإِضَافَتِهِ إلَى مَا بَعْدَهُ؛ لِأَنَّ قَطْعَهُ عَنْهَا يُصَيِّرُ هَذِهِ السَّنَةَ مُحْتَمَلًا لِكَوْنِهِ ظَرْفًا لِقَوْلِهِ: أَنْ يَنْوِيَ وَلَا مَعْنَى لَهُ؛ لِأَنَّ النِّيَّةَ زَمَنُهَا يَسِيرٌ، وَقَالَ بَعْضُهُمْ: إنْ جَرَرْت رَمَضَانَ بِالْكَسْرِ جَرَرْت السَّنَةَ وَإِنْ جَرَرْته بِالْفَتْحِ نَصَبْت السَّنَةَ وَحِينَئِذٍ فَنَصْبُهَا عَلَى الْقَطْعِ، وَعَلَيْهِ فَفِي إضَافَةِ رَمَضَانَ إلَى مَا بَعْدَهُ نَظَرٌ؛ لِأَنَّ الْعَلَمَ لَا يُضَافُ فَلْيُتَأَمَّلْ اهـ. بِرْمَاوِيٌّ

“Dengan di-idhafah-kannya lafaz رمضان terhadap lafaz setelahnya (هَذِهِ السَّنَةِ) maka huruf nun terbaca kasrah karena berupa I’rab jar. Meng-idhafah-kan lafaz رمضان terhadap lafaz setelahnya, dikarenakan—jika tidak demikian—maka lafaz هَذِهِ السَّنَة menjadi dhorf yang dapat merusak makna.

Sebagian ulama mengatakan, jika lafaz رمضان dibaca jar dengan kasrah, lafaz السَّنَة juga terbaca jafr. Jika lafaz رمضان terbaca jar dengan fathah maka lafaz السَّنَة terbaca nashab.

Maka dari itu, السَّنَة terbaca nashab karena terputus dari lafaz رمضان. Akan tetapi, dalam meng-idhafah-kan lafaz رمضان dengan lafaz setelahnya, ini perlu dikaji ulang. Sebab lafaz رمضان adalah isim ‘alam yang tidak bisa di-idhafah-kan....”

22/02/2026

syeh muhammad ali yamani

Dinamakan sholat taraweh

صلاة التراويح ، وأهم أحكامها في المذهب الشافعي من خلال كتاب [مغني المحتاج للخطيب الشربيني] :

سبب تسمية صلاة التراويح بهذا الاسم:التراويح: جمع ترويحة، وهي المرة الواحدة من الراحة، كتسليمة من السلام، وسميت بهذا الاسم؛ لأن الصحابة كانوا يستريحون بين كل تسليمتين عندما اجتمعوا لصلاتها في بداية الأمر. [فتح الباري لابن حجر العسقلاني 4/250].

"Shalat Tarawih dan hukum-hukum pentingnya dalam mazhab Syafi'i berdasarkan kitab [Mughni al-Muhtaj oleh al-Khatib as-Syarbini]:

Asbabunuzul (sebab) penamaan Shalat Tarawih:

- Tarawih adalah jamak dari "taroihah", yang berarti istirahat sekali, seperti "taslimah" dari "salam". Shalat ini dinamakan Tarawih karena para sahabat Nabi beristirahat di antara setiap dua salam ketika mereka berkumpul untuk shalat Tarawih pada awalnya." (Fath al-Bari oleh Ibn Hajar al-Asqalani 4/250)

مشروعية صلاة التراويح:
صلاة التراويح سنة، فعن أبي هريرة رضي الله عنه: أن رسول الله صلى الله عليه وسلم، قال: (من قام رمضان إيماناً واحتساباً، غفر له ما تقدم من ذنبه).
وفي مشروعية صلاة التراويح جماعة؛ قال ابن شهاب: "فتوفي رسول الله صلى الله عليه وسلم والأمر على ذلك، ثم كان الأمر على ذلك في خلافة أبي بكر، وصدراً من خلافة عمر رضي الله عنهما". "رواه البخاري" حديث رقم: (2009)، أي إن صلاة التراويح تشرع جماعة لإجماع الصحابة رضي الله عنهم.

عدد ركعات صلاة التراويح:
عدد ركعات صلاة التراويح عشرون ركعة، فعن السائب بن يزيد رضي الله عنه أنه قال:
(كانوا يقومون على عهد عمر بن الخطاب رضي الله عنه في شهر رمضان بعشرين ركعة".

ويثاب المصلي بقدر ما صلى من التراويح ، فإن صلى أقل من عشرين ركعة ، فيثاب بقدر صلاته ، ولا يجوز التشدد والإنكار على من صلى أقل من عشرين ركعة ، ومن أراد أن يصلي عشرين ركعة ، فله أن يصلي منفرداً بعد انتهاء الجماعة.

"Disyariatkannya Shalat Tarawih:

- Shalat Tarawih adalah sunnah, berdasarkan hadits Abu Hurairah RA, bahwa Rasulullah SAW bersabda: 'Barangsiapa yang shalat Tarawih dengan iman dan mengharapkan pahala, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.'

- Shalat Tarawih disyariatkan berjamaah, berdasarkan riwayat Ibnu Shihab: 'Rasulullah SAW wafat, dan keadaan tetap seperti itu, kemudian pada masa khilafah Abu Bakar dan awal khilafah Umar RA.' (HR. Bukhari, no. 2009)

- Jumlah rakaat Shalat Tarawih adalah 20 rakaat, berdasarkan riwayat Saib bin Yazid RA: 'Mereka shalat Tarawih pada masa Umar bin Khattab RA dengan 20 rakaat.'

- Orang yang shalat Tarawih akan diberi pahala sesuai dengan jumlah rakaat yang dikerjakannya. Jika shalat kurang dari 20 rakaat, maka pahalanya sesuai dengan jumlah rakaat yang dikerjakannya. Tidak boleh mengingkari orang yang shalat kurang dari 20 rakaat, dan jika ingin shalat 20 rakaat, boleh shalat sendirian setelah selesai berjamaah."

صفة صلاة التراويح:
- يُشترط لصحتها أن يستحضر المصلي نية صلاة التراويح، أو قيام الليل من رمضان ، ولا يكفي أن ينوي صلاة النفل بشكل مطلق.
- تُصلى كل ركعتين معاً، ولا يصح صلاة أربع ركعات معاً ؛ لأنه خلاف المشروع ، فالتراويح شرعت فيها الجماعة ، فأشبهت الفرائض ، فلا تغير عن الصفة التي وردت فيها.

وقت صلاة التراويح:
وقت صلاة التراويح ما بين صلاة العشاء وصلاة الفجر ، فلو جمع المصلي صلاة العشاء جمع تقديم بعذر المطر أو السفر ، فيباح له صلاة التراويح بعدها مباشرة.

المناداة لصلاة التراويح:
لا حرج في المناداة لصلاة التراويح بـ "الصلاة جامعة" أو "الصلاة الصلاة"، أو حي، أو "هلموا إلى الصلاة"، أو "الصلاة رحمكم الله"، أو "التراويح أثابكم الله"، وتندب إجابة ذلك بلا حول ولا قوة إلا بالله. [بشرى الكريم بشرح مسائل التعليم 1/185].

"Tata Cara Shalat Tarawih:

- Disyaratkan untuk sahnya shalat Tarawih bahwa orang yang shalat harus memiliki niat shalat Tarawih atau qiyam Ramadhan, tidak cukup hanya niat shalat sunnah secara mutlak.

- Shalat Tarawih dilakukan dua rakaat dua rakaat, tidak sah shalat empat rakaat sekaligus, karena hal itu bertentangan dengan yang disyariatkan. Shalat Tarawih disyariatkan berjamaah, sehingga mirip dengan shalat fardhu, tidak boleh diubah dari tata cara yang telah ditetapkan.

Waktu Shalat Tarawih:

- Waktu shalat Tarawih adalah antara shalat Isya dan shalat Subuh. Jika seseorang menggabungkan shalat Isya dengan shalat Maghrib karena hujan atau safar, maka boleh shalat Tarawih setelahnya.

Seruan untuk Shalat Tarawih:

- Tidak apa-apa menyerukan shalat Tarawih dengan "shalat berjamaah", "shalat shalat", "hayya", "ayo shalat", "shalat, semoga Allah rahmati kalian", atau "Tarawih, semoga Allah memberi pahala kalian". Disunnahkan menjawab seruan itu dengan "la hawla wa la quwwata illa billah"."

هل تسن لها الجماعة؟
يسن أداء صلاة التراويح والوتر بعدها في جماعة، وهو أفضل من صلاتها بشكل منفرد، بدليل فعله صلى الله عليه وسلم ذلك في بداية الأمر، فعن عروة رضي الله تعالى عنه، أن عائشة رضي الله عنها، أخبرته: أن رسول الله صلى الله عليه وسلم خرج ليلة من جوف الليل، فصلى في المسجد، وصلى رجال بصلاته، فأصبح الناس فتحدثوا، فاجتمع أكثر منهم فصلى فصلوا معه، فأصبح الناس فتحدثوا، فكثر أهل المسجد من الليلة الثالثة، فخرج رسول الله صلى الله عليه وسلم فصلى فصلوا بصلاته، فلما كانت الليلة الرابعة عجز المسجد عن أهله، حتى خرج لصلاة الصبح، فلما قضى الفجر أقبل على الناس، فتشهد، ثم قال: (أما بعد، فإنه لم يخف علي مكانكم، ولكني خشيت أن تفترض عليكم، فتعجزوا عنها)، فتوفي رسول الله صلى الله عليه وسلم والأمر على ذلك" "رواه البخاري" حديث رقم: (2012).

ويستدل على ذلك أيضاً بفعل سيدنا عمر بن الخطاب رضي الله عنه، حيث جمع الرجال على أبي بن كعب، وجمع النساء على سليمان بن أبي حثمة في صلاة التراويح، فعن عبد الرحمن بن عبد القاري، أنه قال: خرجت مع عمر بن الخطاب رضي الله عنه، ليلة في رمضان إلى المسجد، فإذا الناس أوزاع متفرقون، يصلي الرجل لنفسه، ويصلي الرجل فيصلي بصلاته الرهط، فقال عمر: "إني أرى لو جمعت هؤلاء على قارئ واحد، لكان أمثل" ثم عزم، فجمعهم على أبي بن كعب، ثم خرجت معه ليلة أخرى، والناس يصلون بصلاة قارئهم، قال عمر: "نعم البدعة هذه، والتي ينامون عنها أفضل من التي يقومون" يريد آخر الليل وكان الناس يقومون أوله" رواه البخاري" حديث رقم: (2010).

"Apakah disunnahkan berjamaah dalam Shalat Tarawih?

Disunnahkan melakukan Shalat Tarawih dan witir setelahnya secara berjamaah, dan itu lebih baik daripada melakukannya sendirian. Hal ini berdasarkan perbuatan Nabi SAW pada awalnya. Dari Uruwah RA, bahwa Aisyah RA menginformasikan: Rasulullah SAW keluar pada malam hari dan shalat di masjid, dan beberapa orang shalat bersamanya. Keesokan harinya, orang-orang membicarakan hal itu, maka pada malam kedua, jumlah orang bertambah dan mereka shalat bersamanya. Pada malam ketiga, jumlah orang semakin bertambah, maka Rasulullah SAW keluar dan shalat, dan mereka shalat bersamanya. Pada malam keempat, masjid tidak mampu menampung jamaah, hingga beliau keluar untuk shalat Subuh. Setelah selesai, beliau menghadap jamaah, bersyahadat, lalu berkata: 'Sesungguhnya aku tidak takut pada tempat kalian, namun aku khawatir hal ini diwajibkan atas kalian, dan kalian tidak mampu melakukannya.' Kemudian Rasulullah SAW wafat, dan keadaan tetap seperti itu. (HR. Bukhari, no. 2012)

Hal ini juga didukung oleh perbuatan Umar bin Khattab RA, yang mengumpulkan jamaah laki-laki di belakang Ubay bin Ka'b, dan jamaah perempuan di belakang Sulaiman bin Abu Hasma dalam Shalat Tarawih. (HR. Bukhari, no. 2010)"

الجلوس في صلاة التراويح:
- القيام في صلاة النافلة كالتراويح سنة، فيجوز للمصلي أن يصلي جالساً على الأرض أو على كرسي، وإن كان قادراً على القيام، ولكن من صلى جالساً دون عذر فله نصف أجر القائم، فعن ابن بريدة، قال: حدثني عمران بن حصين رضي الله عنه - وكان مبسوراً (أي مصاباً بمرض البواسير)- قال: سألت رسول الله صلى الله عليه وسلم عن صلاة الرجل قاعداً، فقال: (إن صلى قائماً فهو أفضل، ومن صلى قاعداً، فله نصف أجر القائم، ومن صلى نائماً، فله نصف أجر القاعد). "رواه البخاري" حديث رقم: (1115).
- من صلى جالساً إن استطاع أن يأتي بالركوع والسجود تامين فيجب عليه فعل ذلك، بمعنى أن يركع وهو جالس، ويسجد سجوداً تاماً يلامس به الأرض، أما إن لم يستطع ذلك فيومئ بهما - أي يحني رأسه فقط- ويجعل السجود أخفض من الركوع.

"Dudukan dalam Shalat Tarawih:

- Berdiri dalam shalat sunnah seperti Tarawih adalah sunnah, namun boleh shalat dengan duduk di atas: Al-Karisi (penyakit hemoroid)- berkata: Aku bertanya kepada Rasulullah SAW tentang shalat seseorang dengan duduk, beliau menjawab: 'Jika shalat berdiri, itu lebih baik. Jika shalat duduk, pahalanya setengah dari shalat berdiri. Jika shalat tidur, pahalanya setengah dari shalat duduk.' (HR. Bukhari, no. 1115)

- Jika shalat duduk dan mampu melakukan ruku dan sujud dengan sempurna, maka wajib melakukannya, yaitu ruku sambil duduk dan sujud dengan benar menyentuh tanah. Jika tidak mampu, maka cukup isyarat (menganggukkan kepala) dan sujud lebih rendah dari ruku."

القنوت في التراويح:
- يسن للمصلي القنوت في صلاة الوتر في النصف الثاني من رمضان، وإن تركه أو نسيه لا يأثم بذلك، ولكن يستحب له أن يسجد للسهو قبل السلام، وأما في غير النصف الثاني من رمضان فلا يسن القنوت، ويجوز القنوت للنازلة في كل صلاة.
- يستحب رفع اليدين أثناء دعاء القنوت كما يرفعهما في سائر الأدعية.
- يستحب عدم تطويل دعاء القنوت، بل الأفضل الاقتصار على المأثور، ولكن من أطال الدعاء فلا تبطل صلاته.
- لا يمسح وجهه بكفيه بعد الفراغ من الدعاء في الصلاة، وأما في خارج الصلاة فلا مانع منه.

"Qunut dalam Shalat Tarawih:

- Disunnahkan melakukan qunut pada shalat witir di paruh kedua bulan Ramadhan. Jika ditinggalkan atau dilupa, tidak berdosa, namun disunnahkan sujud sahwi sebelum salam. Di luar paruh kedua Ramadhan, tidak disunnahkan qunut, kecuali jika ada musibah, maka boleh qunut pada setiap shalat.

- Disunnahkan mengangkat kedua tangan saat doa qunut, seperti pada doa lainnya.

- Disunnahkan tidak memperpanjang doa qunut, lebih baik mengikuti doa yang ma'thur. Jika memperpanjang doa, shalatnya tidak batal.

- Tidak disunnahkan mengusap wajah dengan kedua tangan setelah doa dalam shalat, namun di luar shalat boleh dilakukan."

أحكام متفرقة في صلاة التراويح:
- صلاة التراويح من قيام الليل ولم يرد شرعاً ما يدل على تحديد مقدار معين واجب للقراءة في كل ركعة، وعلى الإمام مراعاة حال المأمومين، وعلى المأمومين تجنب إثارة المشاكل والخلافات حول مقدار القراءة، فمن لم يستطع الصلاة قائماً فيمكنه الجلوس أثناء القراءة، وقد ورد أن الصحابة كانوا يقرأون في كل ركعة من قيام رمضان بالمئين أي بمقدار مائة آية تقريباً، حتى أنهم كانوا يتوكئون على عصيهم في عهد عثمان من شدة القيام. [مرقاة المفاتيح 2/971].
- يجوز للمصلي في صلاة التراويح أن يستعين بالقراءة من المصحف لقيام الحاجة الشرعية التي تنفي كراهة القراءة من المصحف، كما هو الحال في صلاة الفرض.
- يجوز لمن فاتته صلاة العشاء مع الجماعة أن يصليها مقتدياً بمن يصلي النفل، كصلاة التراويح، ويتم صلاته بعد سلام الإمام.
- لا حرج في إلقاء المواعظ والدروس أو تقديم بعض الطعام أو الشراب أثناء الاستراحة بين الركعات، مع مراعاة حرمة المساجد والحفاظ على نظافتها.
- يجوز أن يتناوب على إمامة الناس في صلاة التراويح في كل ليلة أكثر من إمام.

ونسأل الله عز وجل أن ينفعنا بما علمنا ، وأن يعلمنا ما ينفعنا، إنه على ذلك قدير.

"Hukum-hukum lain tentang Shalat Tarawih:

- Shalat Tarawih adalah bagian dari qiyam Ramadhan, dan tidak ada ketentuan syar'i tentang jumlah bacaan Al-Qur'an yang harus dibaca pada setiap rakaat. Imam harus mempertimbangkan kemampuan makmum, dan makmum harus menghindari menimbulkan masalah dan perselisihan tentang jumlah bacaan. Jika seseorang tidak mampu shalat berdiri, maka boleh shalat duduk saat membaca Al-Qur'an. Diriwayatkan bahwa para sahabat Nabi membaca sekitar 100 ayat pada setiap rakaat qiyam Ramadhan, bahkan mereka bersandar pada tongkat mereka karena kelelahan berdiri.

- Boleh bagi orang yang shalat Tarawih membaca Al-Qur'an dari mushaf jika ada kebutuhan syar'i yang membolehkan hal itu, seperti pada shalat fardhu.

- Boleh bagi orang yang tidak sempat shalat Isya berjamaah untuk shalat Isya dengan mengikuti orang yang shalat Tarawih, dan ia menyempurnakan shalatnya setelah imam salam.

- Boleh memberikan ceramah atau menyajikan makanan dan minuman saat istirahat antara rakaat, dengan tetap menjaga kesucian dan kebersihan masjid.

- Boleh bergantian imam dalam shalat Tarawih setiap malam.

Kami memohon kepada Allah agar memberi manfaat kepada kita dengan ilmu yang kita miliki, dan agar mengajarkan kita apa yang bermanfaat bagi kita. Sesungguhnya Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu... "

14/02/2026

SHOLAWAT AHLUL MAHABBAH
(Sayyid al-Imam Ahmad Bin Muhammad Attijaniy)

ALLOHUMMA SHOLLI 'ALAA SAYYIDINAA
MUHAMMADIN WA 'ALAA AALI SAYYIDINAA MUHAMMADIN SHOLAATAN TA'DILU JAMII'A SHOLAWAATI AHLI MAHABBATIKA, WA SALLIM 'ALAA SAYYIDINAA MUHAMMADIN WA 'ALAA AALI SAYYIDINAA MUHAMMADIN SALAAMAN YA'DILU SALAAMAHUM.

Artinya:
” Ya Allah berikanlah shalawat kepada Nabi Muhammad dan keluarganya sebenar-benar shalawat yang menyamai seluruh shalawat ahli mahabbah kepada-Mu. Dan berikanlah salam kepada Nabi Muhammad serta keluarganya sebenar-benar salam yang menyamai seluruh salam ahli mahabbah kepada-Mu.”

Penjelasan:

Shalawat ini disebut oleh sebagian ulama dengan nama shalawat Ahlul Mahabbah. Shalawat ini salah satu shalawat yang ditalqinkan oleh Rasulullah shallahu alaihi Wa sallam dalam pertemuan Ruhani Yaqzhatan (sadar) kepada seorang wali besar al-Imam Sayyidi Syaikh Ahmad Bin Muhammad Attijaniy (1150-1230 H).

Sayyidi Syaikh Ahmad Tijaniy berkata: “Ketika aku pergi dari kota Tilimsan ke kota Abi Samaghun, aku diberikan oleh Rasulullah redaksi shalawat, bila membacanya satu kali sama dengan membaca kitab Dalail al-Khairat 1000 kali. Dalam riwayat lain, Qadhi al-Imam Ahmad al-Sukairij mengatakan: Siapa yang membacanya membandingi pahala mengkhatamkan 70.000 kali Dalailul khairat.

Shalawat Ahlul mahabbah ini memiliki keutamaan yang sangat besar lantaran di dalamnya terdapat rahasia-rahasia yang tersimpan yang tidak dapat diketahui kecuali oleh orang-orang yang telah mendapat khushusiyat dari Allah Taala untuk mengetahuinya.

Hendaknya seseorang mengamalkan shalat ini dengan niat yang baik dan benar tanpa disertai keraguan dan buruk sangka. Karena siapa saja yang memiliki niat dan persangka yang baik, maka ia akan mendapatkan keistimewaan tersebut. lihat kitab:

ﻛﺸﻒ ﺍﻟﺤﺠﺎﺏ ﻋﻤﻦ ﺗﻼﻗﻰ ﻣﻊ ﺍﻟﺸﻴﺦ ﺍﻟﺘﺠﺎﻧﻲ ﻣﻦ ﺍﻷﺻﺤﺎﺏ (halaman 440).

09/02/2026

Tidak Semua Jiwa Disiapkan Menanggung Hafalan Al-Qur’an

Nasehat KH. Zuhri Zainipada Wisuda Al-Qur’an dan Pelantikan PAC JQH NU se-PC JQH NU Kraksaan

Oleh: Ahmad Taufiq Zein

Di sebuah forum yang khidmat—wisuda bin-nadhor dan tahfidz—KH. Zuhri Zaini Mun’im menyampaikan dawuh yang tidak panjang, tidak keras, bahkan nyaris terdengar biasa. Tapi justru di situlah letak dayanya. Kalimatnya pelan, namun mampu membuat hati yang peka terdiam lama.

Beliau mengingatkan bahwa kaderisasi penghafal Al-Qur’an tidak bisa asal dorong. Tidak cukup kuat ingatan. Tidak cukup cerdas pikiran. Yang paling menentukan justru kesanggupan jiwa untuk istiqamah—untuk setia hidup bersama Al-Qur’an, bukan sekadar lulus darinya.

Dawuh itu terasa dingin di zaman ketika tahfidz sering berubah jadi proyek. Ada target, ada grafik, ada wisuda. Yang cepat dipuji, yang tertinggal perlahan dilupakan. Seolah Al-Qur’an adalah lomba, bukan amanah seumur hidup.

Padahal, yang sedang diuji Allah bukan hanya hafalan murid, tetapi kejernihan batin guru dalam menakar, siapa yang layak dipanggil Al-Qur’an, dan siapa yang justru harus dijaga darinya.

Di sinilah pusat persoalan itu berdiri, guru.

Bukan metode. Bukan kurikulum. Tapi pendidik itu sendiri. Guru Qur’an bukan sekadar penyimak setoran. Ia penjaga pintu amanah. Ia dituntut peka—bukan hanya pada lancar dan tidaknya bacaan, tetapi pada kekuatan batin seorang anak.

Karena Al-Qur’an tidak pernah salah ketika terasa berat. Yang sering keliru adalah manusia yang salah menakar.

Ketajaman semacam ini tidak lahir dari buku atau seminar. Ia tumbuh dari tirakat. Dari sujud-sujud panjang yang sepi. Dari ketaatan yang tidak perlu disaksikan siapa-siapa. Semakin dekat seorang guru kepada Allah, semakin jernih mata batinnya membaca manusia.

Di situlah guru tahu, anak ini perlu didorong, yang itu perlu ditahan. Yang ini dirawat pelan-pelan, dan yang itu—justru—perlu diselamatkan.

Tidak semua anak harus menjadi hafidz. Tetapi semua anak harus selamat dari amanah yang tak sanggup ia pikul.

Kiai Zuhri lalu memberi perbandingan yang sederhana tapi menohok. Menghafal nadzom kitab, kata beliau, jika lupa ya selesai urusannya. Rugi waktu, rugi tenaga. Tapi menghafal Al-Qur’an berbeda. Lupa karena lalai—bukan karena uzur—itu urusannya langsung dengan Allah.

Di sini kita mulai paham, yang dibicarakan bukan hafalan, melainkan tanggung jawab.

Al-Qur’an bukan sekadar teks suci di kepala. Ia titipan. Dan setiap titipan akan dimintai pertanggungjawaban. Maka menjadi hafidz sejatinya bukan soal bisa setor, tetapi siap ditagih.

Saya teringat kisah lama, Nenek saya pernah sowan kepada Kiai Munawwir Tulungagung. Beliau ditanya, apakah saya (Ahmad Taufiq Zein) ini cocok menghafal Al-Qur’an atau tidak.

Jawaban beliau singkat;

“Tunggu. Saya istikharah. Saya mau lihat wadahnya, muat atau tidak.”

Wadah.

Bukan otak. Bukan usia. Bukan ranking. Wadah itu batin—kapasitas jiwa untuk menampung kalam Tuhan.

Karena tidak semua orang diciptakan sebagai wadah hafalan. Sebagian dijadikan penjaga nilai. Sebagian pengamal makna. Sebagian pengabdi Al-Qur’an lewat jalan lain. Dan semua itu sama mulianya.

Itulah sebabnya ada guru/kiai yang justru melarang santrinya menghafal Al-Qur’an. Bukan karena kurang cinta, tetapi karena terlalu cinta. Memaksa orang memikul amanah yang belum sanggup ditanggung hanya akan menjadikannya celaka kelak.

Lebih baik tidak hafal tapi selamat, daripada hafal tapi Al-Qur’an menjadi penuntut di akhirat. Maka dawuh KH. Zuhri sejatinya bukan mengecilkan tahfidz, tetapi memuliakan Al-Qur’an setinggi-tingginya. Bahwa Al-Qur’an terlalu agung untuk dijadikan ambisi, terlalu suci untuk sekadar target.

Pesan itu seperti mengetuk pelan ke dalam diri kita, jangan tergesa menjadikan anak penghafal sebelum siap menjadi penjaga. Jangan bangga pada hafalan sebelum siap menanggung amanahnya.

Karena pada akhirnya, Al-Qur’an tidak menanyakan berapa juz yang kita hafal, tetapi sejauh apa kita setia pada titipan yang pernah kita terima.

Wallāhu a‘lam

06/02/2026

PUNYA ANAK MONDOK?

"Logika manusia seringkali tak sampai pada cara Allah menjamin rejeki."

Ada wali santri kami yg bercerita:
Dahulu, saat anak²nya masih di rumah, ekonomi keluarganya terasa begitu sempit. Namun, segalanya berubah saat anak pertamanya mulai mondok; pintu rezeki seolah terbuka lebih lebar.

Keajaiban berlanjut saat anak kedua menyusul ke pesantren, rezekinya justru semakin bertambah. Hingga akhirnya si bungsu pun ikut mondok, Masya Allah Tabarakallah, rezeki mereka tidak berkurang sedikit pun.

Beliau sering berujar penuh syukur, "Saya sendiri heran, bagaimana bisa membiayai tiga anak di pondok dengan semudah ini. Padahal kalau dihitung di atas kertas, penghasilan saya rasanya tidak akan pernah cukup."

Kisah di atas mengingat saya pada hadits riwayat Imam Tirmidzi:

كَانَ أَخَوَانِ عَلَى عَهْدِ النَبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَكَانَ أَحَدُهُمَا يَأْتِي النَبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَالْآخَرُ يَحْتَرِفُ، فَشَكَا الْمُحْتَرِفُ أَخَاهُ لِلنَبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَال ﷺ: لَعَلَّكَ تُرْزَقُ بِهِ
Ada dua orang laki-laki bersaudara pada zaman Rasulullah Saw; Yang satu datang kepada Nabi (untuk menuntut ilmu). Sedangkan yg satunya lagi bekerja (menanggung biaya hidup saudaranya tadi).

Maka orang yg bekerja tersebut mengeluhkan kepada Nabi tentang saudaranya (yg hanya fokus mencari ilmu dan tidak membantunya bekerja).

Maka Baginda Nabi Saw. bersabda:
Bisa jadi kamu diberi (kemudahan) rezeki mu sebab dia (krn barokahnya membiayai penuntut ilmu).

Kami doakan, Semoga yg uangnya menipis krn membiayai anaknya mondok, rejekinya diluaskan dan bertambah melimpah. Amiin.

25/11/2025

“Wahai anak Adam! Aku menciptakanmu untuk beribadah kepada-Ku, maka janganlah bermain-main.
Aku telah membagikan rezekimu untukmu, maka janganlah bersusah payah berlebih-lebihan.
Dan terhadap apa yang lebih banyak dari itu, janganlah tamak.
Jika engkau ridha dengan apa yang telah Aku tetapkan untukmu, Aku akan membuat jiwamu tenang, dan engkau akan menjadi hamba yang terpuji di sisi-Ku..”

Syeikh mutawali sya’rowi rahimahallah..

Want your school to be the top-listed School/college in Sukabumi?

Click here to claim your Sponsored Listing.

Location

Category

Telephone

Website

Address


Jalan Parungseah, Km. 04 Kp Renged Rt. 012 Rw. 004 Desa Kadudampit Kec. Kadudampit Kab. Sukabumi Jawa Barat Indonesia Hp 0816827330
Sukabumi
43153