Yayasan Pendidikan Islam Al-Irfaniyyah

Yayasan Pendidikan Islam Al-Irfaniyyah

Share

Contact information, map and directions, contact form, opening hours, services, ratings, photos, videos and announcements from Yayasan Pendidikan Islam Al-Irfaniyyah, Educational Research Center, Kp. Kutasirna RT. 009/RW. 003/Kec. Cisaat/Kab. Sukabumi, Sukabumi.

01/01/2018

cara sholat jama'..

Yang dimaksud dengan shalat jama’ ialah mengumpulkan dua shalat fardlu dikerjakan dalam satu waktu shalat. Shalat yang boleh dijama’ adalah shalat dhuhur dengan ashar dan magrib dengan isya’.Shalat jama’ ada 2 (dua) macam, pertama jama’ taqdim ialah melakukan shalat dhuhur dan ashar pada waktunya dhuhur atau melakukan shalat maghrib dan isya’ pada waktunya maghrib. Kedua, Jama’ ta’khirialah melakukan shalat dhuhur dan ashar pada waktunya shalat ashar atau melakukan shalat maghrib dan isya’ pada waktunya shalat isya’.

Syarat-syarat jama’ taqdim ada 4 (empat): Pertama, tartib maksudnya mendahulukan shalat yng pertama dari pada yang kedua seperti mendahulukan shalat dhuhur dari pada ashar, atau mendahulukan maghrib dari pada isya’.

Kedua, niat jama’ dalam shalat yang pertama. Waktu niatnya adalah antara takbir dan salam, tapi yang sunat, niat bersamaan dengan takbiratul ihram. Niatnya shalat dhuhur dan ashar dengan jama’ taqdim:

أصلى فرض الظهر أربع ركعات مجموعا بالعصر جمع تقديم لله تعالى

“Saya niat shalat fardlu dhuhur empat rekaat dijama’ bersama ashar dengan jama’ taqdim karena Allah Ta’ala”.

Niatnya shalat maghrib dan isya’ dengan jama’ taqdim:

أصلى فرض المغرب ثلاث ركعات مجموعا بالعشاء جمع تقديم لله تعالى

“Saya niat shalat fardlu maghrib tiga rekaat dijama’ bersama isya’ dengan jama’ taqdim karena allah Ta’ala”.

Ketiga, Muwalat ( berurutan ) maksudnya antara dua shalat pisahnya tidak lama menurut uruf, jadi setelah dari shalat yang pertama harus segera takbiratul ihran untuk shalat yang kedua.

Keempat, Ketika mengerjakan shalat yang kedua masih tetap dalam perjalanan, meskipun perjalanan itu tidak harus mencapai masafatul qashr, sebagaimana shalat qashar (lihat keterangan dalam rubrik syariah judul tuntunan mengqashar Shalat). Sebagaimana dalam matan gahayah wat taqrib:

ويجوز للمسافر أن يجمع بين الظهر والعصر فى وقت أيهما شاء, وبين المغرب والعشاء فى وقت أيهما شاء

Boleh saja bagi musafir menjamak (mengumpulkan) antara shalat dzuhur dan ashar dalam waktu mana saja yang ia s**a (diantara keduanya). Dan antara shalat maghrib dan isya di waktu mana saja yang ia s**a.

Adapun syarat-syarat jama’ ta’khir ada dua, pertama, Niat jama’ ta’khir dilakukan dalam waktunya shalat yang pertama. Niatnya shalat dhuhur dan ashar dengan jama’ ta’khir :

أصلى فرض الظهر أربع ركعات مجموعا بالعصر جمع تأخيرالله تعالى

“Saya niat shalat fardlu maghrib empat rekaat dijama’ bersama ashar dengan jama, ta’khir karena Allah Ta’ala”.

Niatnya shalat maghribi dan isya’ dengan jama’ ta’khir:

أصلى فرض المغرب ثلاث ركعات مجموعا بالعصر جمع تأخيرالله تعالى

“Saya niat shalat fardlu maghrib tiga rekaat dijama’ bersama isya’ dengan jama’ ta’khir karena Allah Ta’ala”.

Dua, ketika mengerjakan shalat yang kedua masih tetap dalam perjalanan sebagaimana keterangan di atas.

Wallahu a'lam...

24/12/2017

kita mengobati anak atau keluarga yang tersesat (s**a maksiat atau tidak taat pada Allah dan Rasulullah) serta keras kepala tidak mau menuruti nasehat orang lain/orang tua ??

Guru Mulia Al-Habib Umar Bin Hafidz:

Kita mendoakan mereka agar segera mau menerima hidayah dari Allah dengan cara banyak membaca ayat ini:

وَأَصْلِحْ لِي فِي ذُرِّيَّتِي إِنِّي تُبْتُ إِلَيْكَ وَإِنِّي مِنَ الْمُسْلِمِينَ

Wa aṣliḥ lī fī dhurrīyyatī innī tubtu ilayka wa innī min al-muslimīn

berilah kebaikan kepadaku dengan (memberi kebaikan) kepada keturunanku. Sesungguhnya aku bertaubat kepada Engkau dan sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri”. (Al Ahqaf 15),

رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا

Rabbanā hab lanā min azwajinā wa dhurriyyatinā qurrata `ayun wa’ja’lnā lilmuttaqīn imamā

(Al Furqan 74. “Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami pasangan kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami),dan jadikanlah kami pemimpin bagi orang-orang yang bertakwa”).

Wallahu a'lam..

15/12/2017

EMPAT DARI IMAM SYAFI'I RA.

Dinukil dari Kitab Adabus Syar'iyyah Syaich Muhammad bin Muflih al Muqoddasi
وَقَالَ الشَّافِعِيُّ : أَرْبَعَةٌ تُقَوِّي الْبَدَنَ ، أَكْلُ اللَّحْمِ ، وَشَمُّ الطِّيبِ ، وَكَثْرَةُ الْغُسْلِ مِنْ غَيْرِ جِمَاعٍ ، وَلُبْسُ الْكَتَّانِ .
✓Empat perkara bisa menguatkan badan:
1. makan daging.
2. mencium wewangian.
3. memperbanyak mandi tanpa jima'.
4. memakai pakaian dari katun.
وَأَرْبَعَةٌ تُوهِنُ الْبَدَنَ : كَثْرَةُ الْجِمَاعِ وَكَثْرَةُ الْهَمِّ ، وَكَثْرَةُ شُرْبِ الْمَاءِ عَلَى الرِّيقِ وَكَثْرَةُ أَكْلِ الْحَامِضِ ،
✓Empat perkara bisa melemahkan badan :
1. banyak jima'.
2. banyak bersedih.
3. banyak minum air pada ludah
4. banyak makan yg rasanya kecut.
*وَأَرْبَعَةٌ تُقَوِّي الْبَصَرَ : الْجُلُوسُ حِيَالَ الْكَعْبَةِ ، وَالْكُحْلُ عِنْدَ النَّوْمِ ، وَالنَّظَرُ إلَى الْخُضْرَةِ وَتَنْظِيفُ الْمَجْلِس*ِ
✓Empat perkara bisa menguatkan pandangan:
1. duduk disekitar ka‘bah
2. bercelak ketika akan tidur.
3. melihat hijau2 an.
4. membersihkan tempat duduk.
وَأَرْبَعَةٌ تُوهِنُ الْبَصَرَ : النَّظَرُ إلَى الْقَذَرِ وَإِلَى الْمَصْلُوبِ وَإِلَى فَرْجِ الْمَرْأَةِ وَالْقُعُودُ مُسْتَدْبِرَ الْقِبْلَةِ ،
✓Empat perkara bisa melemahkan pandangan :
1. melihat kotoran.
2. melihat salib.
3. melihat farjinya perempuan.
4. duduk membelkangi qiblat.
وَأَرْبَعَةٌ تَزِيدُ فِي الْعَقْلِ : تَرْكُ الْفُضُولِ مِنْ الْكَلَامِ ، وَالسِّوَاكُ ، وَمُجَالَسَةُ الصَّالِحِينَ ، وَمُجَالَسَةُ الْعُلَمَاءِ .
✓Empat perkara bisa menambah ‘aqal :
1. meninggalkan banyak omong.
2. bersiwak.
3. berkumpul dgn orang2 sholih.
4. berkumpul dgn ‘ulama’

Wallahu a’lam...

15/12/2017

membayangkan atau menggambarkan Dzat ALLAH SWT.???

Sebagaimana kita ketahui bersama, bahwa Allah itu Dzat Yang Maha Sempurna, dan tidak disifati dengan sifat-sifat keterbatasan. Allah berfiman dalam surat As Syura ayat 11,

لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْء

Artinya, "Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia. (QS. Al-Syura : 11)."

Ayat ini sangat tegas dalam menjelaskan kesucian Allah dari menyerupaia papun. Allah tidak menyerupai makhluk-Nya dari aspek apapun. Allah tidak butuh tempat dan arah yang menentukannya.

Ayat tersebut menjadi dalil sifat Allah, mukhalafatuhulil-hawadits (Allah tidak menyerupai makhluk-makhluk-Nya).Sifat ini termasuk sifat salbiyyah, yaitu sifat yang menafikan sifat-sifat yang tidak layak bagi Allah

Oleh karena itu, mustahil Allah menyerupai makhluk yang mempunyai roh seperti manusia, jin, Malaikat dan lain-lain. Allah juga mustahil menyerupai benda-benda padat (jamad), baik benda yang ada di atas, maupun yang ada di bawah

Rasulullah dalam tuturan Imran bin Hushain radhiyallahu 'anhuma berkata, "Rasulullah SAW. bersabda:

كان الله ولم يكن شىء غيره

"Allah ada pada azal (keberadaan tanpa permulaan) dan belum ada sesuatupun selain-Nya." (HR. al-Bukhari : 2953)

Allah ada (dengan keberadaan yang azali atau tanpa permulaan), dan belum ada tempat, waktu, arah arsy, langit, benda, gerak, diam, makhluk. Kemudian Allah menciptakan makhluk, dan setelah diciptakan makhluk-makhluk Allah tetap ada seperti sediakala (sebelum menciptakan makhluk), Allah subhanahuwata'ala ada tanpa bersifat dengan sifat makhluk, tanpa tempat dan tanpa arah.

Yakinkanlah bahwa apapun yang terlintas di hati kita tentang gambaran Allah, bahwa sesungguhnya Allah tidaklah seperti itu. Dikatakan:

مهما تصورت ببالك فالله بخلاف ذلك

Artinya:"Apapun yang terlintas dalam benakmu maka Allah tidak seperti itu."

Dan jika pernah terlintas di hati kita bahkan slalu memikirkan tentang penggambaran dzat Allah, dipastikan itu adalah ciri pnyakit was-was. Maka abaikanlah was-was ini, karna ia adalah bisikan syetan yang mengganggu ibadah kita, padahal kita tidak berkeyakinan sperti itu.
Segeralah beristighfar dan syahadat.

Kemudian, bagaimana kiat agar terhindar dari menggambarkan Allah? Saran agar terbebas dari belenggu was-was ini, cobalah dengan hati yang mantap dengan banyak membaca surat al-Ikhlas, al-Falaq, ayat kursi, dan terutama surat an-Nas, dan istighfar. Hal ini antara lain dikemukakan Imam Al-Ghazali dalam Kitab Bidayatul Hidayah dan Sirojut Tholibin.

Wallahu a'alam..

08/12/2017

membaca sholawat di malam atau hari jum'at..

Dalam Kitab Nawadirul Hikayah Karya Syaikh Syihabuddin bin Salamah Al Qulyuby termaktub hadits:

روي عن أنس رضي الله عنه قال: قال رسول الله صلى الله غليه وسلم: "من صلى عليّ في يوم الجمغة مائة مرة قضى الله له مائة حاجة, سبعين من حوائج الأخرة وثلاثين من حوائج الدنيا. ويوكل الله بصلاته على ملكا حتى يدخلها على قبري كما تدخل على أحدكم الهداية. ويخبرني بإسمه فأثبته عندي في صحيفة بيضاء وأكفئه بها يوم القيامة.

Artinya: diriwayatkan dari Anas radhiyallahu 'anhu berkata: Rasulullah Salallahu 'alaihi wasalam bersabda:

"Barang siapa bershalawat kepadaku di hari Jumat 100 kali, maka Allah akan mengabulkan baginya 100 hajat (kebutuhan), yang 70 dari kebutuhan akhirat dan 30 dari kebutuhan-kebutuhan duniawi. Dan Allah membebankan shalawat tersebut kepada malaikat hingga menghaturkannya ke kuburanku, layaknya (cahaya) hidayah yang masuk kepada kamu sekalian, dan malaikat memberi tahu akan namanya, kemudian aku menetapkannya di sampingku di dalam lembaran yang putih bersih, dan dengan shalawatnya, aku mencukupinya (memberi syafaat) kelak di hari kiamat,".

Lewat Hadits diatas, dapat disimpulkan bahwa, keutamaan membaca shalawat di hari Jumat 100 kali, adalah::

1. Dikabulkan 100 hajatnya: 70 mengenai kebutuhan akhirat dan yang 30 kebutuhan dunia

2. Bacaan shalawatnya tersampaikan kepada nabi oleh malaikat atas perintah Allah

3. Bagi yang bershalawat, namanya akan disebut malaikat di kehadirat nabi

4. Namanya akan diingat dan dicatat nabi dalam lembaran yang putih dan bersih

5. Nabi Muhammad SAW akan memberikan syafaatnya kelak di hari kiamat kepada orang yang telah membaca shalawat untuknya.
Wallahu'alam..

08/12/2017

sholat jum'at tiga kali secara berturut, apakah telah kafir????

Jumat merupakan hari ied mingguan bagi umat Islam. Sementara sembahyang Jumat merupakan sebuah kewajiban bagi mereka yang menjadi ahli Jumat seperti laki-laki, sehat, aqil, baligh, penduduk setempat, dan seterusnya sebagaimana diatur dalam kitab fikih.

Kewajiban sembahyang Jumat sangat kuat. Karena banyak sekali keutamaan di dalamnya. Bahkan sembahyang Jumat disinggung secara khusus dan diabadikan dalam Al-Quran pada surat Al-Jumuah.

Adapun status kufur-nifaq yang disematkan kepada mereka yang meninggalkan sembahyang Jumat tiga kali berturut-turut didasarkan pada sebuah hadits Rasulullah SAW bahwa mereka yang meninggalkan Jumat sebanyak tiga kali akan dicatat sebagai kalangan munafiq.

Tetapi apakah munafiq yang dimaksud ini adalah munafiq-kafir sebagaimana sebagian penduduk Madinah dan sekitarnya di zaman Rasulullah SAW atau sekadar munafiq-praktis? Ada baiknya kita melihat keterangan Al-Munawi perihal hadits tersebut.

من ترك ثلاث جمعات من غير عذر كتب من المنافقين) أراد النفاق العملي قال في فتح القدير : صرح أصحابنا بأن الجمعة فرض آكد من الظهر وبإكفار جاحدها.

Artinya, “(Siapa saja yang meninggalkan tiga Jumat tanpa udzur (sakit/berhalangan darurat), maka ia akan dicatat sebagai kalangan orang-orang munafik) munafik yang dimaksud adalah kemunafikan dalam bentuk perbuatan, (bukan keyakinan). Penulis Fathul Qadir menyebutkan, sahabat-sahabat kami menyatakan bahwa shalat Jumat adalah kewajiban bahkan lebih wajib dari sembahyang Zuhur. Mereka juga menyatakan bahwa orang yang mengingkari kewajibannya menjadi kafir,” (Lihat Abdurrauf Al-Munawi, Faidhul Qadir, Beirut, Darul Kutub Al-Ilmiyah, tahun 14-15 H/1994 M, juz 6, halaman 33).

Dari keterangan Al-Munawi, kita menyimpulkan bahwa sifat kemunafikan terbagi sedikitnya atas dua jenis, pertama munafik keyakinan (mereka yang memang tidak beriman kepada Allah dan rasul-Nya seperti banyak orang Madinah di masa Rasulullah SAW yang kerap disinggung Al-Quran); kedua munafik perbuatan (mereka yang benar-benar beriman kepada Allah dan rasul-Nya, hanya saja kerap melanggar agama seperti berbohong, berkhianat, melanggar janji). Mereka yang meninggalkan Jumat tiga kali itu termasuk dalam kategori kemunafikan jenis kedua.

Dengan demikian, mereka yang meninggalkan sembahyang Jumat tidak keluar dari Islam. Artinya ia tidak perlu membaca syahadat kembali sebagai pernyataan masuk Islamnya. Hanya saja ia harus bertobat kepada Allah dan beritikad kuat di dalam untuk tidak mengulangi kesalahannya. Meninggalkan sembahyang Jumat termasuk salah satu dosa besar. Karenanya agama Islam sangat mengecam keras orang-orang yang meninggalkan sembahyang Jumat tanpa ada uzur syar’i.

Merujuk pada pandangan Ahlussunnah wal Jamaah, orang beriman yang terjebak dalam dosa kecil maupun besar (misalnya meninggalkan sembahyang Jumat) tetap dihukumkan sebagai seorang yang beriman. Artinya, kalau orang seperti ini meninggal dunia, kita yang masih hidup tetap berkewajiban mengurus jenazahnya dari “a” sampai “z” seperti keterangan Syekh Al-Baijuri dalam Jauharatut Tauhid berikut ini.

لا نكفر مؤمنا بالوزر) مفرع على ما ذكر أي فلا نكفر بالنون أي معاشر أهل السنة أو بالتاء أي أيها المخاطب أحدا من المؤمنين بارتكاب الذنب صغيرة كان الذنب أو كبيرة عالما كان مرتكبه أو جاهلا بشرط أن لا يكون ذلك الذنب من المكفرات كإنكار علمه تعالى بالجزئيات والا كفر مرتكبه قطعا وبشرط أن لا يكون مستحلا له وهو معلوم من الدين بالضرورة كالزنا وإلا كفر باستحلاله لذلك وخالفت الخوارج فكفروا مرتكب الذنوب وجعلوا جميع الذنوب كبائر كما سيأتي (ومن يمت ولم يتب من ذنبه فأمره مفوض لربه)

Artinya, “(Kita tidak boleh mengafirkan orang lain yang seiman karena sebuah dosa), ini rincian atas penjelasan sebelumnya. Kalau dibaca dengan ‘nun’, maka artinya ‘Kita sebagai penganut Ahlussunah tidak mengafirkan orang lain.’ Kalau dibaca dengan ‘ta’, maka artinya, ‘Kamu tidak boleh mengafirkan orang lain yang seiman karena ia telah berdosa baik dosa kecil maupun dosa besar, baik ia menyadari maupun tidak menyadari bahwa itu adalah dosa.’ Tentu dengan catatan bahwa dosa itu bukan termasuk dosa yang menyebabkannya menjadi kufur seperti pengingkaran atas pengetahuan Allah terhadap hal-hal yang kecil. Kalau seseorang mengingkari itu, maka ia jatuh ke dalam kekufuran. Di samping itu ia juga tidak menghalalkan larangan Allah yang sangat maklum dalam agama seperti larangan zina. Kalau seseorang menganggap halal larangan seperti itu, maka ia telah kufur karena telah menganggap halal larangan yang hukumnya sudah terang. Ahlusunnah berbeda dengan kelompok Khawarij. Khawarij mengafirkan orang seiman yang berbuat dosa dan mereka menganggap semua dosa itu sebagai dosa besar. (Orang beriman yang meninggal dunia sementara ia belum sempat bertobat, maka [kita] serahkan saja kepada Allah),” (Lihat Syekh Ibrahim Al-Baijuri, Hasyiyah Tuhfatil Murid ala Jauharatit Tauhid, Indonesia, Daru Ihyail Kutubil Arabaiyah, tanpa tahun, halaman 112).

Saran kami, kita sebaiknya lebih bersemangat dalam sembahyang Jumat karena selain kewajiban, di dalamnya juga terdapat banyak keutamaan. Selagi tidak ada uzur (sakit/berhalangan darurat), yang memberatkan, sebaiknya kita menunaikan kewajiban sembahyang Jumat.

Wallahu'alam...

Photos from PonPes Salafiyah Al-Irfaniyyah's post 06/12/2017
06/12/2017

fase umur Manusia menurut Al arifbillah Al Habib Abdullah bin Alawi Al-Haddad.

Alarifbillah Al Habib Abdullah bin Alawi Al-Haddad dalam karya Kitabnya bedujul Sabîlul Iddikâr wal I’tibâr bimâ Yamurru bil Insân wa Yanqadli Lahu minal A’mâr (Dar Al-Hawi, Cet. II, 1998, hal. 13-14), menjelaskan bahwa kehidupan manusia terbagi ke dalam 5 (lima ) fase umur sebagai berikut:

1. Fase Umur Pertama

Fase umur pertama manusia dimulai sejak Nabi Adam AS diciptakan oleh Allah SWT. Saat itu juga dalam punggung Nabi Adam AS terdapat anak-cucunya. Hal ini sebagaimana penjelasan Sayyid Abdullah Al-Haddad (hal. 13) sebagai berikut:

العمر الأول منها: من حين خلق الله أدم عليه السلام، وضمَّن ظهرَه الذرية

Artinya: “Fase umur pertama manusia adalah sejak Allah menciptakan Nabi Adam AS dan dalam punggungnya dibekali anak-anak keturunannya.”

Lebih lanjut dijelaskan bahwa sebelum Allah SWT menyimpan semua anak cucu Adam AS di tulang punggungnya, Allah SWT mengeluarkan mereka untuk diambil kesaksian atau pengakuannya atas ketuhanan Allah SWT. Mereka semua menjawab sebagaimana bunyi penggalan ayat 172, Surah Al-A’raf, sebagai berikut:

أَلَسْتُ بِرَبِّكُمْ قَالُوا بَلَى شَهِدْنَا

Artinya: “Bukankah Aku ini Tuhan kamu? Mereka menjawab: ‘Ya, kami menjadi saksi’.”

Jadi jauh sebelum manusia lahir ke dunia mereka sesungguhnya sudah beriman kepada Allah SWT dan inilah yang disebut fitrah sebagaimana dimaksud dalam sebuah hadits yang diriwayatkan dari Abu Hurairah bahwa setiap anak lahir ke dunia dalam keadaan fitrah.

2. Fase Umur Kedua

Fase umur kedua dimulai sejak kelahiran manusia ke dunia ini hingga meninggal dunia. Hal ini merupakan tahapan pertengahan di antara semua umur sebagaimana penjelasan Sayyid Abdullah Al-Haddad sebagai berikut:

والعمرالثاني: من حين خروج الإنسان من بين أبويه الى الدنيا، إلى وقت موته، وخروجه من الدنيا.

Artinya: “Fase umur kedua dimulai sejak manusia dilahirkan ke dunia dari perkawinan kedua orang tuanya hingga mati meninggalkan dunia ini.”

Dalam fase umur kedua ini, berlaku taklif dimana manusia dibebani kewajiban-kewajiban tertentu ketika telah mencapai usia baligh dengan keharusan menunaikan perintah-perintah Allah SWT dan meninggalkan larangan-larangan-Nya. Konsekwensi taklif adalah manusia mendapatkan pahala atas kewajiban-kewajiban yang dilaksanakan dan mendapatkan hukuman atas dosa-dosa yang dilakukannya.

3. Umur Ketiga

Fase umur ketiga dimulai sejak manusia mati sebagaimana penjelasan Sayyid Abdullah Al-Haddad (hal. 14) sebagai berikut:

والعمرالثالث: من حين خروج الإنسان من الدنيا.بالموت، إلى ان يبعثه الله بالنفخ في الصور، وتلك مدة البرزاخ.

Artinya: “Fase umur ketiga dimulai sejak manusia meninggalkan alam dunia ini hingga ia dibangkitkan oleh Allah dari kubur dengan tiupan sangkakala. Dan inilah masa tunggu manusia di alam barzakh.”

Penjelasan tersebut sejalan dengan firman Allah SWT dalam Surah Al-Mukmin, ayat 100, sebagai berikut:

وَمِن وَرَائِهِم بَرْزَخٌ إِلَىٰ يَوْمِ يُبْعَثُونَ

Artinya: “Dan di belakang mereka ada Barzakh sampai hari mereka dibangkitkan.”

Jadi alam barzakh adalah saat dimana manusia meninggal dunia lalu dibaringkan di dalam kubur hingga dibangkitkan dengan ditiupnya terompet sangkakala untuk pertama kali oleh Malaikat Israfil di hari Kiamat.

4. Fase Umur Keempat

Fase umur keempat dimulai sejak manusia dibangkitkan dari kuburnya sebagaimana penjelasan Sayyid Abdullah Al-Haddad sebagai berikut:

العمر الرابع: : من حين خروج الإنسان من قبره، أو من حيث شاء الله بالنفخ في الصور، ليوم البعث والنشور، إلى الحشر إلى الله، والوقوف بين يديه للوزن والحساب، والمرور على الصراط وأخذ الكتاب، الى غير ذالك من مواقف القيامة واحوالها وشدائدها وأهوالها.

Artinya:”Fase umur keempat dimulai sejak dikeluarkannya manusia dari kubur, atau tempat lain yang Allah kehendaki; sejak ditiupkan sangkakala pada hari kebangkitan, hingga tibalah hari ketika seluruh manusia dikumpulkan di Makhsyar untuk diadili di hadapan Allah SWT dengan ditimbang semua amalnya untuk dihisab. Sesudah itu meniti jalan kecil (shirath), menerima buku catatan amal masing-masing dan hal-hal lain tentang berita hari Kiamat, keadaan-keadaannya dan bermacam-macam kesulitan serta hal-hal yang menakutkan.”

Penjelasan itu sejalan dengan perintah Allah SWT kepada Malaikat Israfil untuk meniup sangkakala yang kedua kalinya. Allah berfirman dalam Surat Yasin, ayat 51:

وَنُفِخَ فِي الصُّورِ فَإِذَا هُمْ مِنَ الْأَجْدَاثِ إِلَى رَبِّهِمْ يَنْسِلُونَ

Artinya: “Dan ditiuplah sangkakala, maka merekapun bangkit dari kubur masing-masing, lalu datang bergegas menuju Tuhan mereka.”

5. Fase Umur Kelima

Fase umur kelima dimulai dari saat masuknya manusia ke dalam surga dan kekal di dalamnya sebagaimana penjelasan Sayyid Abdullah Al-Haddad sebagai berikut:

والعمر الخامس: من وقت دخول الإنسان في الجنة إلى الأبد. وهذا هو العمر الذي لا انقضاء له غاية، أو من حين دخول أهل النار إلى النار

Artinya:”Fase umur kelima dimulai sejak dimasukkannya manusia ke surga sampai selama-lamanya atau abadi. Inilah fase umur yang takkan berakhir, atau sejak masuknya ahli neraka ke neraka.”

Dengan kata lain fase umur kelima yang merupakan fase terkahir dan abadi dimulai sejak ahli surga masuk ke surga dan ahli nereka masuk ke neraka dengan keadaan yang berbeda-beda sesuai dengan catatan amal masing-masing. Mereka yang masuk neraka ada yang kekal dan ada p**a yang tidak. Orang-orang kafir akan kekal di dalam neraka. Sedangkan orang-orang mukmin yang berdosa tidak kekal di neraka sehingga pada saatnya akan masuk surga dan kekal di dalamnya.

Kelima fase umur tersebut berlangsung secara urut dan berlaku pada semua manusia, yakni dimulai sejak fase umur pertama atau disebut juga alam azali; fase umur kedua atau disebut juga alam dunia; fase umur ketiga atau juga disebut alam kubur/barzakh; fase umur keempat dan fase umur kelima disebut alam akhirat yang dimulai dengan kebangkitan manusia dari kubur, berkumpul di makhsyar, ditimbang untuk dihisab amal-amalnya ketika hidup di dunia, hingga mereka mendapat balasan atas amal-amal itu. Ada yang masuk ke surga, dan ada p**a yang masuk ke neraka.

Wallahu'alam...

06/12/2017

Sukses dalam Kitab Alfiyah Ibnu Malik..

“Tholabul ilmi faridhatun ‘ala kulli muslimin wa muslimatin”.

“Uthlubul ‘ilma minal mahdi ilal lahdi”.

Dua hadis ini rasanya tidak asing lagi di telinga orang pesantren sebagai penuntut ilmu (thalibul ‘ilmi). Sejak madrasah ibtidaiyah (MI) dulu ustadz/ustadzah sudah mengenalkan dua hadits tersebut. Kalau masa sekarang (mungkin) sejak masa taman kanak-kanak (TK) sudah dikenalkan.

Namun, bagaimana cara kita untuk bisa mencapai derajat yang tinggi dalam mencari ilmu? Dalam hal ini, Ibnu Malik Al-Andalusi dalam kitab Alfiyah-nya mesdiskripsikan cara itu. Ada lima syarat yang bisa mengantarkan seseorang (thalibul ‘ilmi) pada derajat yang tinggi. Lima point tersebut yang nantinya akan membedakan antara thalibul ‘ilmi yang taat dan tidak. Hal itu beliau torehkan dalam bait syair Alfiyah-nya yang berbunyi:

“Bil jarri wat tanwini wan nida wa al # wa musnadin lil ismi tamyizun hashal”

Artinya, seorang thalibul ‘ilmi harus mempunyai dan bersifat, pertama, jar. Dalam artian tunduk dan tawadduk terhadap semua perintah (baik dari Allah SWT maupun pemerintah). Sesuai dengan apa yang difirmankan Allah swt. yang berbunyi, “athi’ullaha wa athi’ur rasul wa ulil amri minkum”.

Kedua, tanwin. Artinya kemampuan (baca: niat) yang tinggi mencari ridha Allah SWT. Dengan adanya kemauan yang tinggi seorang thalibul ‘ilmi akan mencapai apa yang ia inginkan. Sesuai dengan apa yang di sabdakan nabi Muhammad saw. yang datangnya dari Amirul Mukminin, Abu Hafsh, Umar bin Khattab r.a. bahwa nabi Muhammad saw. pernah bersabda yang bunyinya, “innamal a’malu binniyati, wa innama likullimriin ma nawa… (al-Hadits)”.

Ketiga, nida’. Artinya dzikir. Setelah adanya niat yang baik untuk mencapai tempat yang layak di sisi Allah swt., seorang thalibul ‘ilmi diharapkan berdzikir mengingat-Nya. Dengan ini, niat awal tidak akan menjadi ‘ashi (bis safar/fis safar).

Keempat, al, yang berarti berfikir. Karena berfikir manusia mempunyai derajat yang lebih tinggi dari makhluk Allah lainnya. Maka dari itu, setidaknya seseorang yang ingin menggapai sesuatu seyogyanya menggunakan akal pikirannya sebaik mungkin, dengan tidak menggunakannya pada jalan yang salah, tidak berpikiran licik. Tidak seperti apa yang jamak dilakukan para aktivis yang kadang menggunakan akal pikirannya untuk mengkorup uang bawahannya, instansi, dan sejenisnya.

Kelima, musnad ilaih. Beramal nyata (ikhlas). Cara yang kelima ini merupakan puncak dari semuanya. Dengan ikhlas semuanya akan gampang. Sekedar gambaran, dalam film “Kiamat Sudah Dekat”, dengan ikhlas Fandi (Andre) bisa mendapatkan Sarah (Zazkia Adya Mecca) dari Pak Haji (Deddy Mizwar), ayah Sarah.

Sejatinya lima konsep di atas tidak hanya untuk thalibul ‘ilmi semata, akan tetapi lima konsep tersebut juga untuk merka yang ingin menjadi lebih baik dan lebih maju, termasuk para pemimpin kita yang berada dalam angka krisis.
Wallahu'alam..

25/10/2017

Tauhid sifat Wahdaniyah..

~ Wahdaaniyat artinya tunggal. Allah wajib disifati dengan sifat wahdaniyat, artinya ke-beradaan Allah pasti tunggal.

~ Bila Allah pasti disifati wahdaniyyah, mustahil disifati lawannya, yaitu ta’addud (terhitung), artinya tidak dimengerti oleh akal akan beradaanya sifat itu pada Allah.

a. Dzat

Wahdaniyat fii Dzat ini ada 2 makna, yaitu ;

~ pertama Dzat Allah tidak tersusun dari bagian atau unsur.

Berbeda dengan tunggalnya makhluk atau sesuatu. Sudah pasti ia akan tersusun dari beberapa bagian, contoh jam tangan itu ada unsur-unsurnya seperti tali, bak jam, jarum second, jarum panjang, jarum pendek, putaran dll.

Kalau salah satu unsur ini tidak ada, maka akan mengakibatkan kurang sempurnanya jam tangan tadi. Begitupun dengan Allah. Kalau Dia tersusun dari bagian-bagian akan menimbulkan kurang sempurna. Sedang Dia itu Maha Sempurna. Makanya Dia harus tunggal.
Dengan arti yang pertama ini, hilanglah kam muttasil fidz Dzat artinya suatu zat tersusun dari beberapa bagian.

~ Kedua tidak ada dzat lain yang menyerupai Dzat Allah. Dengan arti yang kedua ini maka hilanglah kam munfasil fidz Dzat artinya ada dzat lain yang menyerupai Dzat Allah.

b. Sifat

~ Wahdaniyyat ini mengandung dua makna;

~ Pertama, Satu sifat yang sama jenis dan namanya tidak tersusun dari bagian yang lain . Seperti 2 qudrot. 2 irodat dll. Jadi Qudrot Allah itu hanya satu, begitupun Irodat, Ilmu, Hayat, Sama’, Bashor dan Kalam-Nya. Ini berarti bawa qudrot yang dipakai menciptakan langit, qodrot itu p**a yang dipakai menciptakan bumi, gunung, manusia, jin, binatang, tumbuh-tumbuhan dll. Jadi tidak menggunakan qudrot yang lain.

Dengan arti yang pertama ini, maka hilanglah kam muttasil fis Sifat. artinya sifat yang sama jenis dan namanya tersusun dari beberapa bagian.

~ Kedua : tidak ada satupun sifat-sifat makhluk yang menyamai sifat-sifat Allah dalam hakekatnya. Makhluk tidak mempunyai qudrot seperti qudrotnya Allah. Begitupun sifat-sifat yang lainnya. Yang sama hanya nama saja tapi hakekatnya tidak akan pernah sama.

Dengan arti yang kedua ini, maka hilanglah kam munfasil fidz Dzat artinya adanya sifat makhluk yang menyamai sifatnya Allah.

c. Af’al (perbuatan)

~ Wahdaaniyat fil Af’al ini artinya tunggalnya Allah dalam melakukan sesuatu perbuatan dengan kehendak-Nya pada segala sesuatu yang mungkin baik dzat, sifat maupun perbuatan.
Tidak ada yang menyekutui sesuatu apapun kepada-Nya. Oleh karena itu matahari, bulan, bintang, air, tanah, udara, api, pisau, nasi dan lain-lain tidak ada satupun yang berpengaruh akan yang lainnya. Matahari tidak berpengaruh pada keringnya pakaian yang dijemur, tanah tidak berpengaruh pada suburnya tanaman, udara tidak berpengaruh akan segarnya badan, api tak berpengaruh pada terbakarnya kertas, pisau tak berpengaruh pada terpotongnya tambang dan nasipun tak berpengaruh pada kenyangnya perut. Semuanya tak berpengaruh. Yang menjadikan semuanya adalah hanya Allah semata.

Oleh karena itu ketika kita sholat, Allahlah yang menciptakan perbuatan sholat tatkala disertai qudrot kita. Jadi bukan qudrot manusia yang menciptakan sholat. Begitupun dengan maksiat yang dilakukan oleh kita.

Dengan adanya wahdaniyat fil af’al maka hilanglah kam munfasil fil af’al, artinya adanya perbuatan yang tidak diciptakan oleh Allah.

~ Jadi wahdaaniyat itu menafikan/meniadakan adanya 5 kam yang di atas tadi. Oleh karena Allah disifati wahdaniyat, maka mustahil Dia disifati dengan lawannya yaitu ta’addud, artinya terbilang lebih dari satu.

~ Dalil sifat wahdaniyyah adalah Apabila ada tuhan lebih dari satu, maka alam inipun tidak ada, sedangkan alam ini ada. Oleh karena itu tuhan tidak lebih dari satu. Berarti Tuhan itu harus satu.

~ Dan yang satu itu tiada lain adalah Gusti Allah

Selamat siang, selamat beraktifitas.
Semoga hari ini bisa lebih baik dari hari kemaren.
Tetap semangat dan slalu perbanyak Shalawat.
Allaahumma Shalli 'alaa Sayyidinaa Muhammad.

21/10/2017

mempringati Hari Santri Nasional setiap 22 oktober.

Mengingatkan kembali untuk malam ini pembacaan Shalawat Nariyah 1 Milyar serentak seluruh Pondok Pesantren se-Indonesia.
Mari kita bergabung dan menjadi bagian dari jutaan energi positif yang akan menaungi langit Indonesia.
Sampaikan keluh kesahmu, puja-pujimu, semua hajat hidupmu hajat dunia akhiratmu, titip sertakan bersama milyaran Shalawat Nariyah yang terlantun dari segala penjuru bumi Indonesia. Lantunkan juga doa untuk Negri, harapan untuk Bangsa Indonesia yang lebih baik, aman, tentram dan damai....
Terhindar dari bala bencana, terlepas dari kesusahan dan dimudahkan segala urusan-urusannya...

19/10/2017

MENGHADAPI AKHIR ZAMAN INI, GURU MULIA KITA AL HABIB UMAR BIN HAFIDZ MEMBERIKAN NASEHAT..

۞اَللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ۞

"Wasiat Habib Umar bin Hafidz, untuk menghadapi akhir zaman ini :

1.Baca ayat kursi pada Empat keadaan :
• ketika selepas sholat.
• sebelum tidur.
• ketika keluar rumah.
• sebelum masuk rumah.

2. Baca Robisyrahli sodri wa yassirli amri 100x.

3. Membaca La ilaha illallah al malikul haqqul mubiin 100x.

4. Membaca Surah Al kahfi paling kurang sekali seminggu.

5. Senantiasa bersiwak/bersugi, lebih-lebih lagi sebelum sholat karena terdapat banyak keberkatan, 70x ganda berbanding sholat tanpa siwak (hadiahkan siwak kepada orang lain adalah 1 perkara yg terbaik).

Wallohu a'lam bishshowab..

Want your school to be the top-listed School/college in Sukabumi?

Click here to claim your Sponsored Listing.

Location

Telephone

Website

Address


Kp. Kutasirna RT. 009/RW. 003/Kec. Cisaat/Kab. Sukabumi
Sukabumi