SDIT Al Husna Sukabumi

SDIT Al Husna Sukabumi

Share

Institusi pendidikan di bawah Yayasan Al Husna Sukabumi.

06/12/2019

.:: JSIT INDONESIA Ajak Komponen Pendidikan Islam Sebagai Kontributor Kemajuan Bangsa ::.

Pendidikan Islam harus beradaptasi dan berpacu mengikuti kemajuan Ilmu pengetahuan dan teknologi. Namun, identitas dan jatidiri Pendidikan Islam tetap harus memiliki ‘roadmap’ yang sudah pasti agar tujuan utama pendidikan tidak bergeser. Hal ini disampaikan oleh H. Mohammad Zahri, M.Pd; Ketua Umum Jaringan Sekolah Islam Terpadu (JSIT) Indonesia; pada Rapat Kordinasi Nasional (Rakornas) yang digelar di Swissbell Hotel Airport Jakarta, 7-8 Desember 2019 ini.

Zahri menjelaskan bahwa Pendidikan Islam seharusnya tidak hanya menghasilkan tenaga kerja semata. Namun lebih dari itu, yakni, lahirnya SDM strategis yang memiliki ketaqwaan kepada Allah SWT, memiliki ilmu pengetahuan dan skill sesuai zamannya, mencintai Indonesia dan NKRI, serta menjadi kontributor kemajuan bangsa.

“Tugas kita di Sekolah Islam Terpadu, karya terbaiknya adalah menghasilkan generasi dan sumber daya manusia strategis untuk Indonesia ke depan. Hal ini sesuai dengan tujuan Pendidikan Nasional yakni untuk menciptakan manusia-manusia yang bertaqwa kepada Allah SWT,” ungkap Zahri.

Zahri mengajak seluruh komponen institusi pendidikan Islam untuk kembali meletakkan tujuan pendidikan nasional menuju kemajuan bangsa. Pendidikan Islam diarahkan kepada persatuan dan tidak memecah belah bangsa.

“Mari kita sadari betul bahwa tujuan Pendidikan Islam, mestinya punya kemauan dan kemampuan untuk membangun negaranya, untuk mencintai negaranya. Tidak ada pendidikan Islam yang mengajarkan membenci negaranya. Tidak ada pendidikan Islam yang mengajarkan memecah-belah persatuan bangsa,” tegasnya.

Sementara itu, Ketua Dewan Pembina; Dr. Sukro Muhab, M.Si; mengungkapkan bahwa JSIT bukan sekolah penghasil radikalisme. Menurutnya, justru di Sekolah Islam Terpadu, anak-anak ditumbuhkan sikap mencintai bangsa dan tanah air Indonesia.

“JSIT bukan sekolah penghasil radikalisme. Justru di SIT, ditumbuhkan anak-anak yang mencintai bangsa dan tanah air Indonesia. Kita sikapi adanya stigma buruk dengan bijak, meliputi dengan penguatan nilai-nilai Islam, meluruskan stigma radikalisme, menguatkan konsensus dasar nasional, objektivitasi sumber-sumber keilmuan, counter isu dengan kajian, performance aktivis pendidikan, penyempurnaan pemahaman Islam yang tepat dan benar, tingkat komunikasi dengan unsur pemerintahan, berintegrasi dengan kearifan lokal, bersinergi dalam mewujudkan pembangunan, dan bedah sejarah perjuangan tokoh tokoh Islam,” pungkas Sukro yang pernah memimpin JSIT Indonesia sejak 2006-2017 lalu.

RAKORNAS JSIT INDONESIA ini diikuti oleh 175 peserta yang meliputi 78 Pengurus Pusat, 63 Pengurus Wilayah di 34 Provinsi, dan 27 Pengurus Wilayah bidang sosial kemanusiaan.

25/11/2019

Selamat milad Satuan Komunitas Pramuka Sekolah Islam Terpadu ke-6.
Tetaplah menjadi pribadi sholih yang taqwa, tangguh, tangkas, dan teguh.
25 November 2019

25/11/2019

Rosululloh ﷺ bersabda:

إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ وَأَهْلَ السَّمَوَاتِ وَالْأَرَضِينَ حَتَّى النَّمْلَةَ فِي جُحْرِهَا وَحَتَّى الْحُوتَ لَيُصَلُّونَ عَلَى مُعَلِّمِ النَّاسِ الْخَيْرَ
“Sesungguhnya Alloh, para malaikat-Nya, penduduk langit dan bumi, sampai pun semut di sarangnya dan ikan di lautan turut mendo’akan kebaikan untuk orang yang mengajarkan kebaikan kepada manusia.”
(Hadits Abu Umamah Al-Bahili riwayat Tirmidzi dishohihkan oleh Al-Albani)

10/11/2019
09/03/2019

Sri Sultan Hamengku Buwono IX dan kak A. Azis Saleh mengumpulkan 60-an organisasi kepanduan se-Indonesia untuk kemudian meleburkan seluruh organisasi kepanduan dalam satu bendera: Pramuka.

9 Maret 1961 malam itu ditetapkan sebagai Hari Tunas Gerakan Pramuka.

Pada Sarasehan dalam rangka penetapan Sultan Hamengku Buwono IX sebagai Bapak Pramuka Indonesia, terungkap p**a hal menarik mengenai falsafah hidup serta nilai-nilai yang ditanamkan Sultan HB IX kepada anak-anaknya.

Gubernur DIY Sultan Hamengku Buwono X berkisah, “Saya sempat dipanggil dan ditanyai (oleh Sri Sultan HB IX), ‘Pilih mukti atau mulya’. Saat itu saya pilih mukti dengan alasan, walaupun nanti saya tidak kaya tapi pikiran dan tenaga saya bisa berguna bagi masyarakat luas, utamanya Yogyakarta. Setelah itu saya diminta berjanji tiga hal oleh beliau.”

1. Harus mampu mengayomi semua orang, siapa pun itu. Meski ada kemungkinan orang tersebut menaruh benci.
2. Tidak boleh melanggar aturan negara.
3. Harus lebih berani mengatakan yang benar itu benar, yang salah itu salah.

“Untuk janji yang ketiga sempat saya interupsi, lebih berani dari siapa. Ternyata lebih berani dari beliau. Karena menurut beliau, selama hidupnya beliau lebih sering diam. Tapi ternyata diam beliau salah karena nasib rakyat Indonesia masih saja miskin dan bodoh.”

Selamat Hari Tunas Gerakan Pramuka

06/01/2019

Dalam pelajaran sejarah di sekolah, kita dapatkan sejarah Islam masuk ke Indonesia adalah pada masa abad ke-13. Namun menurut K.R.H. Abdulloh bin Nuh adalah pada abad ke-7 M dalam Sejarah Islam di Jawa Barat hingga Zaman Keemasan Banten. Hubungan pedagang Indonesia dengan pedagang Arab, asimilasi kepercayaan dan budaya, membangun kekuatan politik Islam.

Istilah Nasional dimasyarakatkan oleh Centraal Sjarikat Islam dalam National Congres Centraal Sjarikat Islam Pertama di Bandung 1916. Namun mengapa yang dianggap paling nasionalis adalah Soekarno dalam PNI-nya? Pun hari lahir KH. Achmad Dahlan tak digunakan sebagai Hari Pendidikan karena telah ada Muhammadiyah 1912; malah Ki Hajar Dewantoro dengan Taman Siswo-nya 1922 yang pada awalnya merupakan perkump**an Kebatinan Seloso Kliwon dinobatkan sebagai Hari Pendidikan Nasional. Tanggal berdiri Budi Utomo dijadikan Hari Kebangkitan Nasional padahal sampai pada kongres Budi Utomo 1928. Menurut AK. Pringgodigdo dalam “Sedjarah Pergerakan Rakjat Indonesia”, Budi Utomo tetap menolak pelaksanaan cita-cita persatuan Indonesia.

Sjarikat Islam, NU, Muhammadiyah, Persatuan Islam, Persatuan Ulama, Masyumi kemana?

Tanpa mengetahui latar sejarahnya, generasi muda tak mampu menentukan arah juang dan semangat untuk berjihad. Generasi modern menjadi terjangkit penyakit Wahn; cinta dunia dan takut mati.

Dalam QS. Al-Hasyr ayat 18 disebutkan, “Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Alloh dan perhatikanlah sejarahmu untuk hari esokmu. Dan bertakwalah kepada Alloh, sungguh Dia Mahateliti terhadap apa yang kamu kerjakan.”

Bab 1–Pengaruh Kebangkitan Islam di Indonesia
Penamaan berbagai tempat dan selat di Indonesia lazim dengan bahasa Arab, karena sudah sejak lama Islam telah banyak melahirkan cendekiawan Muslim jauh sebelum Barat tampil sebagai imperialis.

Adapun sistem pendidikan umat Islam, disebut dengan madrasah. Karenanya dulu ada Madrasah Qurtubah di Kordoba Spanyol, Madrasah Al-Azhar di Mesir, Madrasah Nizhomiyah.

Persinggungan yang kuat dengan Islam, maka sampai muncullah kekuatan politik Islam seperti: Leran Gresik, Samudra (Ahmad Mansur menulisnya dengan “Samodra”) Pasai, Aceh, Demak, Mataram, Cirebon, Banten, Jayakarta, Sumedang, Pontianak, Ternate, Tidore, Ambon, Malaka, Brunei, dan lain-lain.

Bab 2–Awal Masuk Perkembangan Agama Islam di Nusantara Indonesia
» Teori Gujarat dari Prof. Dr. C. Snouck Hurgronje (Orientalis Belanda). Katanya tidak mungkin Islam masuk tanpa melalui ajaran tasawuf di India. Dan daerah yang pertama dimasuki adalah Kesultanan Samodra Pasai pada abad ke-13. Dr. Snouck tak mampu membedakan kapan Islam masuk dan kapan Islam berkembang, kemudian mahzab apa yang sedang populer. Sungguh sangat lemah pendapatnya ini.

» Teori Makkah menurut Prof. Dr. Hamka (Medan, 1963), didasarkan pada berita Cina Dinasti T’ang; telah ada hunian bangsa Arab Islam di pantai Barat Sumatera pada abad ke-7 Masehi.

» Teori Persia dari Prof. Dr. Abubakar Atjeh yang ikut pandangan Dr. Hoesein Djajaningrat menuturkan Islam berasal dari Persia dan bermahzab Syi’ah. Didasarkan pada sistem baca/sistem eja membaca huruf Al-Qur’an: Fat-hah= Jabar, Kasroh= Je-er, Dhommah= Py-es.

» Teori Cina dari Prof. Dr. Slamet Muljana (1968) mengatakan, bahwa Sultan Demak adalah peranakan Cina, dan bahkan Wali Songo juga merupakan peranakan Cina. Didasarkan pada Kronik Klenteng Sam Po Kong yang menyebutkan Sultan Demak Panembahan Fatah dengan Panembahan Jin Bun, Sultan Trenggono dengan Tung Ka Lo, Sunan Ampel dengan B**g Swi Hoo, dan Sunan Gunung Jati dengan Toh A Bo.

» Teori Maritim menurut N.A. Baloch sejarawan Pakistan. Disebutkan bahwa Umat Islam telah memiliki navigator/mualim dan wirausaha Muslim yang dinamis dalam penguasaan maritim dan pasar. Karena melalui aktivitas tersebut, ajaran Islam mulai diperkenalkan di sepanjang laut niaga di pantai-pantai tempat persinggahannya pada masa abad ke-1 Hijriyah/7 Masehi.

Bab 3–Peran Kekuasaan Politik Islam Melawan Imperialisme Barat
Wirausahawan Muslim yang datang ke Indonesia tidak hanya sebatas bertindak sebagai pelaku pasar semata. Namun juga pengaruh pasar juga mengakumulasi kebutuhan ekonominya dan dari pasar tumbuh kebutuhan lain, yakni pendidikan generasi muda dan pesantren. Maka lahirlah komunitas baru di tengah masyarakat Nusantara Indonesia yang antara lain:
1) Wirausahawan dari pasar dan bandar pelabuhan;
2) Ulama dari pesantren dan masjid serta pasar;
3) Santri dari masyarakat, putra sultan, dan putra wirausahawan;
4) Perkembangan berikutnya komunitas ini, menuntut dibentuknya pemerintahan atau kekuasaaan politik Islam atau Khilafah.

Pada abad ke-9 Masehi telah terbentuk kekuasaan politik Islam di Aceh. Abad ke-11 Masehi telah berdiri p**a kekuasaan politik Islam di Leran Gresik, Jawa Timur, yang dibangun oleh Fatimah Hibatoellah binti Maimoen jauh sebelum Keradjaan Hindoe Madjapahit dibangun di Trowulan Mojokerto, Jawa Timur 1294 Masehi.

Perlawanan kekuasaan politik Islam terhadap Barat adalah karena imperialisme mereka yang hendak menjadikan rakyat Indonesia sebagai budak di tanah sendiri.

Muncul berbagai perlawanan kekuasaan politik Islam seperti Kesultanan Demak dan Kesultanan Aceh untuk merebut kembali Malaka (1512 M) yang telah direbut oleh Imperialis Katolik Portoegis, Albuquerque (1511 M). Kesultanan Cirebon oleh Syarif Hidayatulloh atau Sunan Gunung Jati (1527 M), Kesultanan Banten/Mataram oleh Sultan Agung (1613-1645 M), Sultan Hasanuddin di Makasar (1653-1669 M), Pangeran Diponegoro (1825-1830 M), Imam Bonjol di Sumatera Barat (1821-1837 M), Sisingamangaradja XII (1872-1907 M).

Memasuki abad ke-20 (1900-1939 M) muncullah beberapa isme yang timbul pada masa kebangkitan kesadaran nasional Indonesia yang di pelopori oleh Nasionalisme Islam diikuti oleh isme kontranya:
1) Islamisme; memelopori bangkitnya kesadaran nasionalisme Islam seperti Djamiatoel Choir, Al-Irsjad, Sjarikat Dagang Islam, Sjarikat Islam, Persjarikatan Moehammadijah, Persjarikatan Oelama, Matlaoel Anwar, Nahdlatoel Oelama, Nahdlatul Wathan, Persatoean Moeslimin Indonesia dan Persatuan Islam;
2) Djawanisme, Tradisionalisme, Kesoendenisme; Boedi Oetomo, Serikat Prijaji, Igama Djawa Pasoendan, Seloso Kliwon-Taman Siswa;
3) Komunisme; Ide komunis internasional yaitu Perserikatan Kommunist di India (PKI) diikuti ide komunis nasional;
4) Marhaenisme; Perserikatan Nasional Indonesia/PNI); dan
5) Kebangsaan Sekuler; Partai Indonesia Raja/Parindra, Gerakan Rakjat Indonesia/Gerindo).

Bab 4–Peran Ulama dalam Gerakan Kebangkitan Kesadaran Nasional (1900-1942 M)
Kondisi penjajahan dan penindasan yang telah dilakukan oleh Barat melahirkan pemahaman bagi rakyat Indonesia bahwa Islam identik dengan kebangsaan atau nasionalisme, sedangkan imperialisme atau penjajahan itu identik dengan kristenisasi. Oleh karena itu, Islam menjadi Simbol Nasionalisme Bangsa Indonesia pada saat itu.

Sampai awal abad ke-20, masyarakat Indonesia hanya mengenal huruf Arab Al-Qur’an, huruf Arab Melayu, atau huruf daerah. Hal ini menunjukkan begitu kuatnya dampak pengaruh Ulama dan Pesantren sebagai lembaga pencerdas bangsa.

Menurut Prof. Dr. Sartono Kartodirdjo dalam “Pemberontakan Petani Banten 1888”, disebutkan di p**au Jawa terdapat sekitar 300 pesantren. Kemudian kemasyhuran dan daya tarik nasional yang melekat pada sebuah pesantren, sangat bergantung kepada reputasi gurunya. Ajaran pesantren telah meniadakan rasa etnoregional dan menjadikan Islam sebagai simbol gerakan nasional. Dengan kata lain, pengaruh ajaran ulama mengubah jiwa sukuisme atau rasisme menjadi nasionalisme.

Sjarikat Dagang Islam oleh para sejarawan Orde Lama dianggap sebagai pelopor Kebangkitan kembali kesadaran Nasional Indonesia.

Hadji Samanhoedi (1868-1956) melalui Sjarikat Dagang Islamnya telah berhasil membangun pondasi yang kokoh untuk menjawab tantangan zamannya. Hal ini karena suatu perubahan politik terjadi disebabkan pengaruh pasar. Hal demikian sekaligus merupakan pengulangan kembali sejarah, dimana keberhasilan Islam masuk ke Nusantara dan cepatnya proses perkembangannya karena penguasaan pasar dan pemasarannya.

Realitas sejarah tentang adanya eksistensi kekuasaan politik Islam di Nusantara semenjak abad ke-9 hingga 20 Masehi digunakan oleh para ulama dan santri untuk menyadarkan kembali kebangkitan politik umat Islam Indonesia. Hal ini dilakukan melalui pembentukan organisasi modern sebagai wahana mobilitas dan mendinamisasi semangat juang umat Islam Indonesia.

Organisasi modern tersebut diantaranya Hadji Samanhoedi dengan Sjarikat Dagang Islam (SDI) 1905; Oemar Said Tjokroaminoto dengan Sjarikat Islam 1912 yang sebelumnya telah berdiri di Surakarta pada 1906; Sajid Al-Fachir bin Abdurrahman Al-Masjhoer mencerdaskan umat melalui Djamiat Choir 1905; KH. Achmad Dahlan dengan Persjarikatan Moehammadijah 1912; KH. Abdoel Halim dengan Persjarikatan Oelama 1915; K.H.M. Jasin dengan Mathlaul Anwar; Moehammad Joenoes bersama Hadji Zamzam dengan Persatoean Islam 1923; KH. Hasjim Asjari dengan Nahdlatul Oelama 1926 dan masih banyak lagi.

Rapat Akbar Sjarikat Islam di Surabaya (1913) menghasilkan keputusan didirikannya Centraal Sjarikat Islam (CSI) di Surabaya, Yogyakarta, dan Bandung sebagai organisasi politik dengan tuntutan politiknya adalah dengan mendirikan Pemerintahan sendiri atau Indonesia Merdeka.

Hadji Oemar Said Tjokroaminoto, Hadjie Agoes Salim, Abdoel Moeis, dan Wignjadisastra memelopori istilah Nasional melalui National Congres Centraal Sjarikat Islam Pertama –1e Natico di Gedung Concordia atau Gedung Merdeka Bandung (1916).

• National Congres Centraal Sjarikat Islam Pertama (1e Natico) di Bandung dihadiri oleh 80 Sjarikat Islam lokal dengan anggota 860.000 orang.
• National Congres Centraal Sjarikat Islam Kedua (2e Natico) di Jakarta dihadiri oleh 71 Sjarikat Islam lokal dengan anggota 825.000 orang.
• National Congres Centraal Sjarikat Islam Ketiga (3e Natico) di Surabaya dihadiri oleh 87 Sjarikat Islam lokal dengan anggota 450.000 orang.
• National Congres Centraal Sjarikat Islam Keempat (4e Natico) di Surabaya dihadiri oleh 83 Sjarikat Islam lokal dengan anggota 2.500.000 orang.

National Congres Centraal Sjarikat Islam di Madiun (1923) menghasilkan keputusan pemberlakuan Disiplin Partai dan perubahan Sjarikat Islam menjadi Partai Sjarikat Islam. Dengan demikian, Sjarikat Islam menjadi pelopor pertama pendirian Partai Politik dari kalangan Pribumi disusul oleh PKI (1924) dan PNI (1928).

Antara 1905 sampai 1928, di p**au Jawa dan Sumatera telah berdiri beberapa organisasi yang benar-benar berakar di tengah masyarakat antara lain:
1. Sjarikat Dagang Islam pimpinan Hadji Samanhoedi (1905) dan Sjarikat Islam (1906) kemudian pimpinannya diserahkan kepada Oemar Said Tjokroaminoto di Surabaya pada tahun 1912.
2. Persjarikatan Moehammadijah pimpinan Kiai Hadji Achmad Dahlan di Yogyakarta pada 1912.
3. Hajatoel Qoeloeb pada 1915 yang kemudian berubah nama menjadi Persjarikatan Oelama pimpinan Kiai Hadji Abdoelhalim di Majalengka (1917).
4. Djamiah Nahdlatul Wathon pimpinan Wahab Chasboellah dan Mas Mansoer di Surabaya (1916), kemudian menjadi Djamiah Nahdlatul Oelama pimpinan Rois Akbar K.H. Hasjim Asjari pada 1926.
5. Matlaoel Anwar pimpinan Hadji Mohammad Jasin di Menes, setelah Nahdlatul Oelama berdiri 1926, namanya berubah menjadi Matlaoel Anwar Lil Nahdlatul Oelama.
6. Persatoean Islam pimpinan Hadji Mohammad Joenoes dan Hadji Zamzam pada 1923 di Bandung. Kelanjutannya A. Hassan dikenal sebagai Guru Utama Persatuan Islam.
7. Jong Islamieten Bond (1925) pimpinan R. Samsoeridjal dan pemimpin pemogokan buruh dari Centraal Sjarikat Islam.

Perlu diperhatikan bahwa ke semua organisasi tersebut telah ada jauh sebelum adanya Soempah Pemoeda (1928).

Untuk mengatasi keluasan keretakan perbedaan masalah Fiqh furu’ dan khilafiyah, maka pada September 1937 diadakan Syuro di mushola Pontren Kebondalem Surabaya antara lain KH. Mas Mansoer (Persjarikatan Moehammadijah); KH. Hasjim Asjari dan KH. Wahab Chasboellah (Nahdlatul Oelama); W. Wondoamiseno (Partai Sjarikat Islam Indonesia); dan KH. Achmad Dachlan (Pontren Kebondalem Surabaya). Dan atas inisiatif dari KH. Hasjim Asjari dan para ulama serta pimpinan Partai Sjarikat Islam Indonesia tersebut, terbentuklah Organisasi Madjlis Islam A’laa Indonesia (M.I.A.I) pada 21 September 1937.

Adapun anggota Madjlis Islam A’laa Indonesia (M.I.A.I) antara lain: Persjarikatan Moehammadijah, Al-Irsjad, Partai Sarekat Islam Indonesia, Al-Islam (Solo), Al-Choiriyah (Surabaya), Madjelis Oelama Indonesia (Toli-toli), Persatoean Moeslimin (Minahasa), Persatoean Poetra Borneo (Surabaya), Persjarikatan Oelama Indonesia (Majalengka), Al-Hidajatoel Islamijah (Banyuwangi).

Dan bertambah setelah mengadakan Kongres Al-Islam Indonesia I di Surakarta (1939), yaitu: Nahdlatul Oelama (N.O), Persatuan Islam (Persis), Partai Islam Indonesia (P.I.I), Partai Arab Indonesia (P.A.I), Jong Islamiaten Bond (J.I.B), Al-Ittihadijatoel Islamijah (A.I.I), Persatoean Oelama Seloeroeh Atjeh (P.Oe.S.A).

Untuk menandingi M.I.A.I dan BAPEPPI (Badan Perantara Partai Politik Indonesia), maka Parindra (Partai Indonesia Raja) mengadakan pertemuan di Gedoeng Pemoefakatan Batavia Mei 1939 dan terbentuklah GAPI (Gaboengan Politik Indonesia) dengan Abikoesno Tjokrosoejoso dari Partai Sjarikat Islam Indonesia terpilih sebagai penulis umum yang berarti juga Ketua Umum.

Kongres perdana GAPI pada Desember 1939 di Gang Kanari, Jakarta berani memutuskan menuntut Indonesia Berparlemen. Tuntutan ini seperti mengulang sejarah seperti yang telah dilakukan oleh National Congres Centraal Sjarikat Islam di Bandung Juni 1916 yang menuntut Pemerintahan Sendiri dan Indonesia Berparlemen.

Dari seluruh paparan di atas, sudah bisa terlihat dengan jelas betapa peran para ulama dan santri begitu luar biasa atas kemerdekaan bangsa ini dan memperjuangkan Islam sebagai dasarnya. Sehingga seorang E.F.E. Douewes Dekker Setiaboedhi menyatakan: “Jika tidak karena sikap dan semangat perjuangan para ulama, sudah lama patriotisme di kalangan bangsa kita mengalami kemusnahan.”

Buku yang ketebalannya mencapai 586 halaman ini boleh dibilang sangat antusias untuk memaparkan sejarah Islam Indonesia dari kemunculannya hingga tahun 1950. Fakta-fakta lainnya dalam buku ini jarang ditemukan dalam buku-buku sejarah Islam Indonesia sehingga cukup menggelitik untuk di telaah lebih jauh. Namun, referensi yang dipakai sang penulis dalam menggunakan argumentasinya, memaksa kita untuk berpikir dua kali untuk membantahnya.

Pembagian pembahasannya yang memakai metode pembabakan waktu sejarah sangat tepat, sehingga terjadi ketersinambungan antara satu Bab dengan Bab lainnya. Hal ini juga memudahkan kita sebagai pembaca untuk memahami alur pergerakan sejarah Islam di Indonesia

Buku terbitan Salamadani ini bisa dikatakan sebuah buku yang sempurna. Hanya saja, patut disayangkan, buku ilmiah ini sedikit ternoda oleh ambisi sang penulis sendiri yang kentara sekali ingin memunculkan istilah ulama dan santri. Kesan yang saya tangkap bahwa yang dimaksud kaum Muslim dalam perjuangan pada zaman pra dan pasca kemerdekaan hanyalah ulama dan santri. Tentu, hal itu mengecilkan kaum Muslim sendiri yang notabene banyak kaum Muslim yang berada di luar dua kelompok itu. Mestinya, dijelaskan terlebih dahulu apa yang dimaksud ulama dan santri itu.

Selain itu, beberapa hal juga sedikit mengganggu dalam membaca buku ini, seperti di halaman 100 paragraf kedua, mestinya di situ ditulis sunni bukan ahlush shunnah wal jamaaah, karena dikontraskan dengan Syi’ah. Dalam hal penulisan, juga masih banyak ditemukan kesalahan, seperti wirauswasta yang mungkin dimaksud adalah wiraswasta. Atau penulisan Boedi Otomo yang mungkin dimaksudkan sebagai Boedi Oetomo.

Banyak fakta-fakta yang diungkapkan oleh Ahmad Mansur yang ternyata jauh sekali dibandingkan pelajaran Sejarah yang kita dapat di SMP dan SMA. Hal ini karena terjadinya deislamisasi yang memang sengaja dilakukan oleh oknum-oknum Belanda. Yang tujuannya tentu saja untuk membutakan kita dari sejarah kita.

Upaya deislamisasi pihak Belanda terhadap Islam, masih resentator alami semasa kecil ketika masjid-masjid kampung sengaja diletakkan di pinggir kampung dan dekat dengan pemakaman agar siapa saja –Muslim– yang ingin ke masjid, akan dihinggapi rasa takut karena keberadaan makam.

Sejarah itu tidak seutuhnya bisa kita ketahui dengan pasti. Banyak orang yang menuliskan sejarah dengan versi yang berbeda-beda.

Buku ini layak di apresiasi sekaligus diuji fakta-fakta yang disajikan. Tentunya bukan mencari siapa yang benar dan salah. Lebih penting adalah meletakkan fakta-fakta sejarah secara proporsional agar api semangat dan cita-cita luhur para pahlawan terus dilanjutkan untuk kejayaan Indonesia. Oleh karena itu, akan sangat rugi bagi Anda yang tidak mencoba untuk membaca buku ini.

Judul: Api Sejarah (1)
Penulis: Ahmad Mansur Suryanegara
Tebal: # # #+586 hlm.
Dimensi: 17x25 cm
Cetakan: VI, Juli 2013
ISBN: 978-602-84-5897-9
Penerbit: Salamadani, Bandung
Resentator: Harmasto Hendro Kusworo





Baca koleksi lainnya di https://warung-arsip.blogspot.com

30/12/2018

Kali ini, kita akan kupas sedikit isi buku besutan Rachmad Abdullah –seorang guru Fisika SMP Al Islam 1 Surakarta– salah satu dari Trilogi Revolusi Islam di Tanah Jawa.

Seperti umumnya pembahasan sejarah masuknya Islam di Nusantara, ada beragam teori yang disebutkan dalam buku ini dengan merujuk pada tulisan Ahmad Mansur Suryanegara dalam “Api Sejarah 1”, yakni Teori Gujarat, Teori Makkah, Teori Persia, Teori Cina, dan Teori Maritim. Juga dibahas p**a tentang asal-muasal dan makna “Wali Songo” dari beberapa sejarawan.

Menurut Prof. K.H.R. Moh. Adnan, penyebutan “Songo” adalah kerancuan dari kata “Tsana’” yang bermakna mulia, sepadan dengan kata “mahmud” yang berarti terpuji. Sehingga menurut beliau, Wali Songo berasal dari istilah Wali Tsana’. Sedikit berbeda oleh R. Tanojo tentang arti Tsana’, beliau menyebutkan bahwa tsana’ mengandung makna tempat. Artinya, Wali Tsana’ adalah wali yang berkuasa di suatu tempat (h.69).

Sedangkan menurut Asnan Wahyudi dan Abu Khalid, Wali Songo adalah nama sebuah lembaga dakwah yang menjadikan kata “Songo” –yang berarti sembilan dalam bahasa Jawa– sebagai kode jumlah wali dalam setiap angkatan. Artinya, kapan angkatan dakwah itu mesti dipergilirkan, selalu ditentukan terlebih dahulu melalui rapat atau syuro.

Berawal dari catatan laporan perjalanan Ibnu Bathuthoh ke Nusantara, ia sampaikan kepada Sultan Muhammad I –kakek Muhammad Al-Fatih– di Turki. Dari sanalah berawal pemetaan kebutuhan akan perluasan dakwah ke Nusantara dengan mengutus tenaga ahli sekaligus da’i.

Tidak seperti apa yang kita pahami melalui istilah “Songo” untuk menyebut jumlah du’at internasional ini. Sebab, Sultan Muhammad I mengirim du’at ini secara bergelombang dan tentunya dengan strategi yang matang. Jumlahnya pun bukan sembilan, tetapi lebih dari itu.

Menurut Prof. Hasanu Simon, angkatan du’at yang dikirim ke Nusantara sebanyak enam angkatan adalah sebagai berikut:
» Angkatan I (1404-1421):
• Maulana Malik Ibrohim
• Maulana Ishaq
• Maulana Ahmad Jumadil Kubro
• Muhammad Al-Maghribi (Ki Ageng Gribig)
• Maulana Malik Isro’il
• Muhammad ‘Ali Akbar
• Maulana Hasanuddin
• Maulana Aliyuddin
• Syaikh Subakir

» Angkatan II (1421-1436):
• Raden ‘Ali Rahmatulloh (Sunan Ampel)
• Maulana Ishaq
• Maulana Ahmad Jumadil Kubro
• Muhammad Al-Maghribi (Ki Ageng Gribig)
• Maulana Malik Isro’il
• Muhammad ‘Ali Akbar
• Maulana Hasanuddin
• Maulana Aliyuddin
• Syaikh Subakir (Gn. Merapi: mbah Petruk)

» Angkatan III (1436-1463):
• Raden ‘Ali Rahmatulloh (Sunan Ampel)
• Maulana Ishaq
• Maulana Ahmad Jumadil Kubro
• Muhammad Al-Maghribi (Ki Ageng Gribig)
• Ja’far Shodiq (Sunan Kudus)
• Syarif Hidayatulloh (Sunan Gunung Jati)
• Maulana Hasanuddin
• Maulana Aliyuddin
• Syaikh Subakir (Gn. Merapi: mbah Petruk)

» Angkatan IV (1463-1466):
• Raden ‘Ali Rahmatulloh (Sunan Ampel)
• Makhdum Ibrohim (Sunan Bonang)
• Maulana Ahmad Jumadil Kubro
• Muhammad Al-Maghribi (Ki Ageng Gribig)
• Ja’far Shodiq (Sunan Kudus)
• Syarif Hidayatullah (Sunan Gunung Jati)
• Raden Paku (Sunan Giri)
• Raden Qosim (Sunan Drajat)
• Raden Said (Sunan Kalijogo)

» Angkatan V (1466-1478):
• Raden Paku (Sunan Giri)
• Raden ‘Ali Rahmatulloh (Sunan Ampel)
• Makhdum Ibrohim (Sunan Bonang)
• Ja’far Shodiq (Sunan Kudus)
• Syarif Hidayatullah (Sunan Gunung Jati)
• Raden Qosim (Sunan Drajat)
• Raden Said (Sunan Kalijogo)
• Raden Fatah (Jin Bun)
• Fathulloh Khan (Portugis: Falatehan)

» Angkatan VI (1478-...):
• Raden Paku (Sunan Giri)
• Raden ‘Ali Rahmatulloh (Sunan Ampel)
• Makhdum Ibrohim (Sunan Bonang)
• Ja’far Shodiq (Sunan Kudus)
• Syarif Hidayatullah (Sunan Gunung Jati)
• Raden Qosim (Sunan Drajat)
• Raden Said (Sunan Kalijogo)
• Umar Said (Sunan Muria)
• Ki Ageng Pandanaran (Sunan Tembayat) (h.121)

Apa yang menjadi pembahasan tentang Gelora Jihad para Wali ini di Tanah Jawa adalah bahwa dakwah mereka bukan sekadar mengenalkan Islam, tetapi benar-benar mengejawantahkan kesejatian pribadi Muslim dengan kebermanfaatannya bagi sesama. Jika disebut dakwah mereka mudah, tidak juga. Sebab mereka bukan saja membaur di tengah politeis, juga agama resmi penguasa adalah Hindu-Buddho.

Tetapi jika disebut dakwah mereka sangat payah, tidak juga. Sebab, jauh sebelum itu, masyarakat pesisir –terutama bandar transit ekspor-impor kala itu– sudah tidak asing dengan pendatang dari Arab, Cina, India, Afrika. Terlebih dengan beberapa kali pelayaran muhibbah Laksamana Cheng Ho –seorang Muslim– ke Nusantara semasa para Wali berdakwah di tanah Jawa, juga mempunyai pengaruh kuat terhadap Islamisasi di Nusantara.

Hal yang menarik bagi saya pribadi adalah dilampirkannya –meskipun hanya terjemahan– dari isi Kropak Ferrara dalam buku ini. Tetapi ada satu hal lagi yang masih membuat penasaran saya adalah tidak dilampirkannya isi dari Het Boek van Bonang (catatan tentang aliran keagamaan di jilid I maupun catatan rapat/syuro para Wali di jilid II).

Dalam penulisan istilah dan nama tokoh di buku ini, Penulis berusaha menyajikan sesuai pengucapan aslinya dari bahasa Jawa Kawi, seperti Wali Songo, Girindro Wardhono, Mbonang, dan lain-lain. Tetapi kami menemukan banyak istilah yang tidak konsisten, seperti Wali Songo dengan Walisongo, Buddho dengan Buddha atau Budha, Fatahillah dengan Fattahillah, dan sejenisnya. Dan daftar erata sebanyak 20 halaman A4 sudah kami kirimkan ke Penulis.

Daftar Isi
Bab 1–Runtuhnya Mojopahit dan Bangkitnya Islam di Tanah Jawa
A. Awal Mula Masuknya Islam ke Nusantara Abad 7
B. Peta Kekuatan Politik Dunia Menjelang Abad 15 M
C. Peta Kekuatan Politik di Jawa Abad 15

Bab 2–Wali Songo: Perintis Jalan Penyebaran Islam di Jawa
A. Beberapa Pendapat tentang Istilah Wali Songo
B. Wali Songo Angkatan Pertama (1404-1421 M)
C. Wali Songo Angkatan Kedua (1421-1438 M)
D. Wali Songo Angkatan Ketiga (1436-1463 M)
E. Wali Songo Angkatan Keempat (1463-1466 M)
F. Wali Songo Angkatan Kelima (1466-1678 M)
G. Wali Songo Angkatan Keenam
H. Ajaran Wali Songo

Bab 3–Gelora Dakwah dan Jihad Wali Songo
A. Gelora Dakwah di Jawa Timur
B. Gelora Dakwah di Jawa Tengah
C. Gelora Dakwah di Jawa Barat
D. Berdirinya Kerajaan Islam dan Jihad Wali Songo

Judul: Walisongo; Gelora Dakwah dan Jihad di Tanah Jawa (1404-1482 M)
Penulis: Rachmad Abdullah, S.Si., M.Pd
Tebal: 240 hlm.
Dimensi: 14 x 20,5 cm
Cetakan: V, Februari 2018
ISBN: 978-979-1093-33-0
Penerbit: Al-Wafi Publishing, Solo
Resentator: Harmasto Hendro Kusworo



23/12/2018

Barus. Apa yang pertama kali terlintas dalam benak Anda ketika disebut nama “Barus”?

Nama salah satu produk alam Barus –konon– terabadikan dalam QS. Al-Insan ayat 5;
“Dan orang-orang yang taat akan minum dari gelas, sejenis minuman yang campurannya adalah ‘kafur’ (kapur).”

Bahkan dalam hadits Bukhori no.1180 juga tersebut ‘kafur’ dalam bahasan memandikan jenazah.

Membaca peta sejarah Nusantara (sebelum bernama Indonesia) masa lalu, tidaklah lebih sepi dari keramaian masa kini. Kerajaan Sriwijaya di Palembang pernah berjaya menguasai lautan, bahkan Afrika dan Cina mengakuinya. Tapi jauh sebelum imperium Sriwijaya lahir, nama kecamatan Barus di Tapanuli sudah lebih dulu tenar di masanya. Bahkan –konon– kapur “Barus” menjadi salah satu syarat ramuan mengawetkan jenazah (mumifikasi) dinasti Fir’aun.

Dari trilogi Barus, saya baru memiliki 2 di antaranya.

Resensi:
:: Barus Negeri Kamper ::.

Sejak dulu, pop**aritas Barus yang terletak di pantai barat Sumatera Utara berkaitan dengan perdagangan kamper dari daerah pedalaman serta dengan penyair mistis Hamzah Fansuri. Kedua jilid awal (1998, 2003) seri ini telah memberi tumpuan kepada sejarah Barus di antara abad ke-9 dan abad ke-11. Kali ini, buku ini menyampaikan sumbangan terbaru mengenai sejarah Barus di antara abad ke-12 dan pertengahan abad ke-17.

Publikasi ini memuatkan enambelas studi hasil penelitian yang ditulis berdasarkan data-data arkeologi dan epigrafi, serta sebagai jenis sumber tertulis, baik lokal maupun asing. Duabelas studi hasil penelitian di antaranya berkaitan dengan program penelitian arkeologi yang dijalankan di antara tahun 2001 dan 2005 oleh École française d’Extrême-Orient (EFEO) bersama dengan Pusat Penelitian dan Pengembangan Arkeologi Nasional Indonesia.

Buku ini memperkenalkan hasil-hasil utama survei dan penggalian, sebuah esai tentang perkembangan ruang situs permukiman di daerah Barus, serta sebuah katalog temuan yang lengkap. Dia juga memuat dua studi yang dijalankan di laboratorium atas sekitar 200 temuan, sebuah esai tentang sejarah seni makam Islam di Barus di antara pertengahan abad ke-14 dan pertengahan abad ke-20 yang dilengkapi dengan kajian epigrafi inskripsi berbahasa Arab yang belum dikenal sebelumnya. Publikasi ini juga memuatkan edisi pertama sebuah teks setempat berkaitan dengan sejarah Barus, serta sebuah studi epigrafi mengenai sebuah prasasti Tamil dari abad ke-13, yang berasal dari wilayah Aceh juga dibahas dalam buku ini.

Akhirnya, semua data di manfaatkan untuk menulis sebuah sintesis tentang beberapa aspek sejarah Barus, terutamanya identifikasi dan perkembangan permukiman di daerah Barus, struktur umum permukiman utama, berbagai aspek budaya kebendaan dan kehidupan sosial, inti dan perkembangan perdagangan jarak jauh, serta hubungan bukan komersial yang dijalin Barus dengan dunia luar, dari Timur Dekat ke Tiongkok.

:: Ringkasan
Bab 1–Ekskavasi di Bukit Hasang, Kedai Gedang, dan Lobu Dalam (oleh: Heddy Surachman, Daniel Perret, Untung Sunaryo, Sophie Péronnet, Ery Soedewo, Nenggih Susilowati, Deni Sutrisna, Repelita Wahyu Utomo)
Empat situs permukiman kuno di daerah Barus, Sumatera Utara, digali dari tahun 2001 sampai 2004: Bukit Hasang, dua situs di Kedai Gedang dan Loba Dalam. Di Bukit Hasang, sekitar 470 m2 di gali di 24 sektor. Ditemukan terutama sebuah parit pertahanan sepanjang hampir 300 meter, banyak lubang, sebuah pekuburan di atas sebuah gundukan buatan, serta sebuah struktur berarah utara/selatan, yang dibuat dari batu dan bongkahan batu karang.

Bab 2–Perkembangan Ruang Situs Permukiman di Barus (oleh: Daniel Perret, Heddy Surachman, Marie-France Dupoizat)
Suatu tafsiran kronologi dan perkembangan ruang situs permukiman di Barus di antara abad ke-12 dan abad ke-17 diusulkan di sini berdasarkan hasil-hasil penggalian dan keramik impor kuno yang dapat ditanggali (lebih dari 30.000 serpihan). Bukit Hasang dan Kedai Gedang (sektor D) mulai dihuni pada abad ke-12. Mungkin dilindungi sebuah parit pertahanan sejak zaman itu, Bukit Hasang mengalami peningkatan jumlah penduduk yang pesat di antara akhir abad ke-13 dan abad ke-14. Luas bagian tengah situs permukiman mencapai 15 hektar. Kedai Gedang ditinggalkan pada peralihan abad ke-15. Setelah parit pertahanan ditimbun pada abad ke-15, luasnya maksimal hunian di Bukit Hasang diperkirakan mencapai 65 hektar, dan kepadatan permukiman sangat rendah. Kedai Gedang dihuni kembali mulai pada akhir abad ke-15 (sektor A), sebelum ditinggalkan pada tahun 1539-an, seperti Bukit Hasang, Benteng Lobu Datam satu-satunya peninggalan dari abad ke-17 di dataran rendah, bersama beberapa titik hunian di tanah tinggi sebelah barat laut dan tenggara Bukit Hasang.

Bab 3–Keramik Berbahan Batuan dan Porselen (oleh: Marie-France Dupoizat)
Penggalian menghasilkan sekitar 46.000 serpihan keramik berbahan batuan dan porselen. Separuhny aberasal dari tempayan, sisanya berasal dari berbagai jenis wadah, terutamanya mangkuk. Kronologi temuan meliputi periode abad ke-12 hingga abad ke-19. Barus, serpihan keramik Cina dari abad ke-12 hingga abad ke-13, berjumlah sedikit. Jumlahnya meningkat dengan pesat mulai akhir abad ke-13 dan tetap tinggi sampai abad ke-15 (terutamanya dari Dehua, Longquan, dan Jingdezhen). Barus juga mengimpor keramik dari Vietnam dalam jumlah yang lumayan pada abad ke-14 dan ke-15. Sebaliknya, jumlah keramik Thai sedikit, diwakili wadah yang bertarikh di antara abad ke-14 dan awal abad ke-16. Beberapa serpihan keramik dari Birma (abad ke-16) dan Jepang (paruh kedua abad ke-17) juga diidentifikasi.

Bab 4–Tembikar (oleh: Daniel Perret, Heddy Surachman, Sophie Péronnet, Dayat Hidayat, Ery Soedewo, Nenggih Susilowati, Repelita Wahyu Utomo, Deny Sutrisna, Untung Sunaryo)
Sekitar 138.000 serpihan tembikar ditemukan sewaktu penggalian dan survei. Lebih dari 400 temuan digambarkan dalam katalog. Terdapat 15 bentuk umum yang dibagi ke dalam sekitar 200 tipe. Tiga kump**an utama dibedakan berdasarkan kawasan produksi yang diusulkan: Asia Tenggara, Asia Selatan, dan Dunia India Barat Laut-Persia. Di Bukit Hasang, kump**an pertama merupakan kump**an terbesar dari segi jumlah dan berat. Enam wilayah asal diusulkan untuk temuan dari Asia Selatan: Tamil Nadu, Sri Lanka, Andhra Pradesh-Orrisa, Benggala, Kerala, dan Gujarat. Tampaknya sejumlah tembikar berglasir juga berasal dari Gujarat. Jumlah temuan dari Dunia India Barat Laut-Persia sangat sedikit.

Bab 5–Tinjauan Geokimia Bahan-bahan Tembikar (oleh: Anne Schmitt)
Terdapat 87 serpihan tembikar, kebanyakan temuan dari Bukit Hasang, dianalisis dengan teknik X-Ray fluorescence. Dendrogram yang dihasilkan menunjukkan sekurang-kurangnya 15 kelompok geokimia. Hasil ini mencerminkan keanekaragaman tempat asal tembikar yang ditemukan di situs. Dari perbandingan hasil ini dengan klasifikasi tipologis, analisis ini membantu untuk mengusulkan sejumlah wilayah asal untuk setiap kelompok geokimia.

Bab 6–Kaca (oleh: Daniel Perret & Heddy Surachman)
Sekitar 1.400 pecahan kaca kuno ditemukan sewaktu penggalian yang dilakukan di Bukit Hasang dan di Kedai Gedang. Katalog temuan memuat deskripsi sebanyak 169 pecahan wadah yang mewakili teknik yang digunakan (koleksi didominasi kaca yang ditiup) dan hiasan, serta deskripsi gelang dan manik-manik. Walau pun tidak ditemukan wadah utuh, koleksi wadah terdiri dari botol, karaf, botol kecil, tempayan kecil, mangkuk, gelas, dan piala. Wadah yang didatangkan di Barus di antara abad ke-12 dan abad ke-14 berasal dari Timur Tengah, Timur Dekat, dan kemungkinan besar dari Asia Selatan.

Bab 7–Analisis Komposisi Bahan Kaca Kuno (oleh: Laure Dussubieux)
Lebih dari 100 sampel kaca, kebanyakan pecahan wadah asal Barus (Lobu Tua dan Bukit Hasang), dianalisis dengan teknik Laser Ablation - Inductively Coupled Plasma - Mass Spectrometry (LA-ICP-MS). Hasilnya mengungkapkan rumitnya jaringan perdagangan kaca di Sumatera selama paruh pertama milenium kedua Masehi. Tampaknya kaca yang ditemukan di Lobu Tua berasal dari terutamanya dari Timur Tengah dan sedikit dari Timur Dekat. Di Bukit Hasang tidak ditemukan kelompok kimiawi yang mendominasi koleksi di Lobu Tua, sedangkan terdapat kesinambungan untuk kelompok kimiawi yang sedikit diwakili di Lobu Tua. Selain itu, Bukit Hasang menerima wadah buatan Asia Selatan sejak sekurang-kurangnya abad ke-14.

Bab 8–Logam (oleh: Daniel Perret & Heddy Surachman)
Kebanyakan temuan dari logam yang ditemukan dalam penggalian di Bukit Hasang dan di situs-situs lain terdiri dari serpihan besi, diikuti serpihan dari perunggu. Katalognya memuatkan deskripsi 68 fragmen paku dan pasak, lempengan dan pegangan, wadah, mata kail, alat-alat, perhiasan dari besi, serta gelang, dan pengikat, wadah, dan paku dari perunggu.

Bab 9–Koin-koin Tionghoa (oleh: Claudine Salmon)
Duapuluh tiga keping koin dari perunggu ditemukan sewaktu penggalian. Kesepuluh koin yang diidentifikasi dan digambarkan dalam katalog berasal dari zaman dinasti Song Utara (8), dan dari zaman dinasti Song Selatan (2). Mereka menambah jumlah temuan yang sudah diketahui dari situs-situs lain di Sumatera dan di kawasan Selat Melaka.

Bab 10–Terakota (oleh: Daniel Perret & Heddy Surachman)
Di dalam bab ini digambarkan temuan terakota yang bukan wadah hasil penggalian di Barus. Katalognya memuat deskripsi 34 serpihan artefak, kebanyakan dari tungku (sebuah tipologi diusulkan), tetapi juga dari alas wadah, pemberat jala, kowi dan p**a tungku pandai besi, serta satu fragmen cangklong dan figurin perempuan yang kemungkinan besar berasal dari Asia Selatan, terakhir fragmen miniatur binatang.

Bab 11–Fauna (oleh: Rokus Due Awe)
Lebih dari 900 sisa fauna, dengan berat mendekati 10 kilogram, ditemukan sewaktu penggalian. Kebanyakan sisa berasal dari Vertebrata, terutama kerbau, diikuti Suidae, Cervidae, Equidae, Capridae, Tragulidae, Aves, Testunidata, Chelonidae, dan ikan. Hewan ternak hadir di Barus sejak abad ke-12/13.

Bab 12–Batu yang Dibentuk dan Temuan-temuan Lain (oleh: Daniel Perret & Heddy Surachman)
Katalog memuat deskripsi 42 artefak yang ditemukan sewaktu penggalian di Barus. Artefak ini terdiri dari perhiasan, wadah dari batu, pensil alis (?), batu yang diukir dalam, batu dari granit yang dipahat, cakra yang berlubang atau tidak, p**a tungku besi, batu giling dan penggilingan, batu asah, batu api, kelereng, serpih, dan batu nisan.

Bab 13–Enam Abad Seni Makam Islam di Barus (oleh: Daniel Perret & Heddy Surachman)
Kajian tipologi ini berdasarkan kump**an 294 batu nisan yang ditemukan di daerah Barus, dan ditanggali antara pertengahan abad ke-14 dan awal abad ke-20. Sejak pertengahan abad ke-14, Barus mengembangkan satu kesenian makam Islam dari batu tufa, yang indikasi awalnya diwakili oleh sebuah batu nisan tertanggal tertua di daerah Barus. Kesenian ini, yang mulai merosot pada pertengahan abad ke-16, hadir bersama satu tradisi yang menggunakan batu granit dan hampir pasti berasal dari luar Barus. Justru pada pertengahan abad ke-16, satu seni makam yang berasal dari Aceh mulai hadir. Kesenian ini cepat berkombinasi dengan tradisi kesenian setempat, sebelum hilang, kemungkinan besar pada awal abad ke-18. Periode ketiga dalam kesenian makam Islam di Barus bermula pada tahun 1820-an dan berakhir pada paruh pertama abad ke-20. Tahap ini menunjukkan ditinggalkannya pekuburan-pekuburan kuno, peniruan tipe-tipe batu nisan yang diimpor dahulu, khususnya jenis “batu Aceh”, dan mencerminkan perubahan mentalitas.

Bab 14–Syair Sultan Fansuri (oleh: Henri Chambert-Loir)
Tulisan ini memuat edisi pertama suatu syair yang disalin di Barus oleh H.N. van der Tuuk pada pertengahan abad ke-19. Kunjungan seorang wakil East India Company, yang dipanggil oleh pemimpin Barus, menjadi pokok syair ini. Sebuah perjanjian tolong-menolong ditandatangani pada kesempatan itu. Syair ini juga memuat satu versi peristiwa-peristiwa sejarah Barus sebelumnya, yang bersifat legenda atau realistis, yang dapat dibandingkan dengan isi kronik-kronik setempat. Selain itu, teks ini mengungkapkan kesulitan yang dihadapi Barus sejak beberapa abad untuk bertahan dengan menyesuaikan diri dengan ekspansionisme kerajaan-kerajaan di ujung utara dan di barat Sumatera.

Bab 15–Sebuah Prasasti Perkump**an dan Hubungan Luar (oleh: Y. Subbarayalu)
Teks bagian yang masih terbaca dari prasasti Tamil yang ditemukan pada tahun 1990 di pinngir kota Banda Aceh, diterbitkan untuk kali pertama di sini bersama terjemahannya. Berdasarkan paleografinya, dokumen ini ditanggali dari akhir abad ke-13, dan kemungkinan besar dihasilkan oleh perkump**an pedagang India bernama Ayyāvoḷe – Ke-500. Perkump**an yang sama yang menghasilkan prasati Tamil di barus (Lobu Tua) pada tahun 1088 M. Tampaknya sebagian dari teks ini berkenaan dengan peraturan kegiatan mencari dan memproses emas.

Bab 16–Barus: Masyarakat dan Hubungan Luar (Abad ke-12 - Pertengahan Abad ke-17) (oleh: Daniel Perret)
Data-data arkeologi, kronik dan tradisi setempat, kump**an inskripsi dan sumber-sumber tertulis asing ditelaah di sini untuk menghasilkan suatu sintesis mengenai berbagai aspek sejarah Barus. Sejumlah tema dibahas: didirikannya kembali Barus dan identifikasi permukiman, sejarah toponimi Barus, struktur umum permukiman, berbagai aspek budaya kebendaan dan kehidupan sosial, komponen dan perkembangan perdagangan jarak jauh, hubungan di antara Barus dan dunia luar: ujung utara dan pantai barat Sumatera, Padang Lawas, Jawa, Selat Malaka, Asia Selatan, Timur Tengah, Timur Dekat, dan akhirnya Tiongkok.

Judul: Barus Negeri Kamper; Sejarah Abad ke-12 hingga Pertengahan Abad ke-17
Penyusun: Daniel Perret & Heddy Surachman
Penerjemah: Daniel Perret
Tebal: 702 hlm. (berbonus CD halaman lampiran gambar pada buku dengan format pdf)
Dimensi: 18x27,5 cm
Cetakan: I, 2015
ISBN (Indonesia): 978-979-91-0981-1
Penerbit: KPG (Kepustakaan Populer Gramedia), Jakarta
Resentator: Harmasto Hendro Kusworo

Dapat juga dibaca di https://warung-arsip.blogspot.com/2018/12/resensi-barus-negeri-kamper.html?m=1

Bahasan serupa: Barus Seribu Tahun yang Lalu
https://warung-arsip.blogspot.com/2018/12/resensi-barus-seribu-tahun-yang-lalu_83.html?m=1



Want your school to be the top-listed School/college in Sukabumi?

Click here to claim your Sponsored Listing.

Location

Category

Website

Address


Sukabumi