24/08/2025
KEUTAMAAN BULAN ROBIUL AWWAL
Dalam kitab I‘anatut Thalibin juz III halaman 365, menurut Syekh Syatho Ad Dimyathi diceritakan kisah pemuda yang s**a maksiat menjadi wali Allah karena merayakan Maulid Nabi.
Alkisah, diceritakan pada masa Khalifah Harun al-Rasyid, ada seorang pemuda di Basra yang hidup dengan akhlak yang tercela dan s**a melalaikan ibadah. Penduduk kota pun memandangnya dengan sebelah mata karena perbuatannya yang buruk.
Meski dinilai sebagai orang yang maksiat, namun setiap bulan Rabiul Awal datang, pemuda ini akan mencuci pakaiannya, memakai wewangian, berhias, dan mengadakan pesta. Pesta tersebut dilakukan dengan membacakan kisah kelahiran Nabi Muhammad SAW.
Meski sering melalaikan ibadah, namun pemuda tersebut selalu merayakan hari kelahiran Nabi SAW dengan sungguh-sungguh pada tiap tahunnya. “Dia terus melakukan hal ini selama waktu yang lama,” demikian cerita dalam kitab I‘anatut Thalibin, halaman 365.
Lantas di akhir hayatnya, saat pemuda tersebut meninggal seluruh penduduk kota mendengar suara agar datang ke pemakaman pemuda tersebut. “Wahai penduduk Basra, datanglah dan saksikan pemakaman wali dari wali-wali Allah. Dia sangat dicintai oleh-Ku,” demikian suara yang didengar oleh para penduduk.
Mendengar seruan itu, para penduduk kota pun menghadiri pemakaman dan menguburkan pemuda tersebut. Tak hanya seruan, para penduduk juga bermimpi pemuda yang dinilai kerap bermaksiat itu tengah mengenakan pakaian dari sutra. Lantas penduduk bertanya kepada pemuda tersebut, “Dengan apa engkau memperoleh keutamaan ini?," Dia menjawab, “Dengan memuliakan kelahiran Nabi Muhammad SAW.”