25/05/2026
Tahun 2018, setelah menyelesaikan studi saya di Ponpes al-Mawaddah Ciganjur dengan niat yang sangat mantap, saya berkeinginan mondok ke Pesantren Al-Anwar Karangmangu, Jawa Tengah, yang diasuh oleh KH. Maimun Zubair.
Sebelum berangkat, saya sowan ke beberapa guru di kampung. Mereka berkata bahwa beliau adalah ulama paling waraโ di Jawa.
Singkat cerita, saya sempat sampai ke pesantren, namun harus pulang karena berbagai ujian. Belum benar-benar belajar, saya sudah kembali. Beberapa bulan kemudian, saya datang lagi untuk kedua kalinya. Di kesempatan itulah Allah mempertemukan saya dengan beliau.
Pagi itu kami makan bersama. Setelah Subuh, beliau baru saja mengajar Ihyaโ Ulumiddin dengan suara yang tetap lantang meski usia sudah sepuh. Saya sangat ingat lauknya urap sama tempe goreng dan seusai makan jamuan, ada beberapa obrolan antara tamu yang hadir dan beliau. Berjalannya waktu, tibalah momen mengantri mencium tangan beliau. Saat giliran saya, beliau tiba-tiba menahan tangan saya dan bertanya, โPundi?โ
Saya jawab, โDari Subang, Kyai.โ
Beliau tersenyum, wajahnya teduh dan berseri, lalu berkomentar ringan, โOrang Subang kok kaya gini ๐(sambil senyum tipis).โ Saat itu saya hanya bisa tertunduk senyum penuh taโdzim. Momen singkat itu sangat membekas. Saya melihat jelas ketenangan di wajah beliau yang kata Ulama Makkah โWajah Ahli Surgaโ. Sampai hari ini, kenangan itu tak pernah hilang. Ini juga yang menjadi cikal bakal kenapa akun media saya bernama โSantri Batawieโ bukan santri Jawa atau Sunda, hehe.
Pelajaran yang saya ambil: terkadang kita belum ditakdirkan lama belajar di suatu tempat, tapi Allah menggantinya dengan perjumpaan yang cukup menjadi cahaya seumur hidup.
Semoga kita semua yang pernah memandang wajah ulama secara langsung mendapatkan Nadzroh dari beliau-beliau. Semoga Syaikhuna KH. Maimun Zubair Dahlan mendapatkan tempat terbaik di sisi Allah ๐คฒ๐ป