31/08/2019
.
*KONTEMPLASI DIRI*
(Bagian 1)
(01/09/2019)
"Kontemplasi Diri" atau merenung dengan kesungguhan, ketenangan disertai memberdayakan hati dengan baik dan benar untuk memahami diri kita masing-masing dalam menjalani kehidupan dunia ini sebagai kerja amal dalam pengump**an bekal menuju akherat.
Mugkin ada orang yang mengalami fase dalam hidup ini terasa menjadi orang paling terpuruk di dunia, sehingga seolah tidak ada lagi perhatian, keberpihakan dari siapapun bahkan merasa bahwa Tuhanpun telah membencinya, sehingga nenimbulkan sikap anti dunia dan ingin segera meninggalkannya.
Mungkin jaga ada yang merasa menemukan fase dalam hidup ini dimana seolah keberuntungan selalu berpihak dan berduyun-duyun menghampirinya. Sehingga merasa Tuhan sangat-sangat menyayanginya, sehingga menimbulkan sikap sangat mencintai dunia dan takut mati.
Dan mungkin juga ada yang mengalami fase hidup silih bergantinya keberuntungan/kebahagian dengan kekurangan/kesedian, sehingga tidak dapat merasakan/tidak bisa menikmati hidup ini sebagaimana mestinya, sehingga muncullah sikap acuh terhadap peristiwa/kejadian yang terjadi.
Ketiga peristiwa/kejadian di atas bukanlah menggambarkan sikap sebagai seorang muslim baik/taat, seorang muslim seharus dapat memahami dan mensikapi hidup ini sebagai hamba اللَّهِ yang terikat oleh qodho' dan qodar-Nya.
Perhatikan firman اللَّهِ Azza wa Jalla berikut :
وَكَانَ أَمْرُ اللَّهِ قَدَرًا مَقْدُورًا
“…Dan adalah ketetapan اللَّهِ itu suatu ketetapan yang pasti berlaku.” [Al-Ahzab/33 :38]
Rasululloh saw juga bersabda :
حَدَّثَنَا عُمَرُ بْنُ حَفْصٍ حَدَّثَنَا أَبِى حَدَّثَنَا الأَعْمَشُ حَدَّثَنَا زَيْدُ بْنُ وَهْبٍ حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ حَدَّثَنَا رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم وَهْوَ الصَّادِقُ الْمَصْدُوقُ « إِنَّ أَحَدَكُمْ يُجْمَعُ فِى بَطْنِ أُمِّهِ أَرْبَعِينَ يَوْمًا، ثُمَّ يَكُونُ عَلَقَةً مِثْلَ ذَلِكَ، ثُمَّ يَكُونُ مُضْغَةً مِثْلَ ذَلِكَ، ثُمَّ يَبْعَثُ اللَّهُ إِلَيْهِ مَلَكًا بِأَرْبَعِ كَلِمَاتٍ، فَيُكْتَبُ عَمَلُهُ وَأَجَلُهُ وَرِزْقُهُ وَشَقِىٌّ أَوْ سَعِيدٌ، ثُمَّ يُنْفَخُ فِيهِ الرُّوحُ، فَإِنَّ الرَّجُلَ لَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ النَّارِ حَتَّى مَا يَكُونُ بَيْنَهُ وَبَيْنَهَا إِلاَّ ذِرَاعٌ، فَيَسْبِقُ عَلَيْهِ الْكِتَابُ فَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ الْجَنَّةِ، فَيَدْخُلُ الْجَنَّةَ، وَإِنَّ الرَّجُلَ لَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ الْجَنَّةِ، حَتَّى مَا يَكُونُ بَيْنَهُ وَبَيْنَهَا إِلاَّ ذِرَاعٌ فَيَسْبِقُ عَلَيْهِ الْكِتَابُ، فَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ النَّارِ فَيَدْخُلُ النَّارَ »
Telah menceritakan kepada kami Abdullah, telah mencertikan kepada kami Rasulullah saw : “Sesungguhnya salah satu dari kamu (sperma) dikumpulkan dalam perut ibumu selama 40 hari, kemudian menjadi segumpal darah selama itu juga, kemudian menjadi segumpal daging selama itu juga, kemudian اللَّهِ mengutus malaikat untuk menyerukan 4 hal. kemudian malaikat itu menulis _*amalnya, rezekinya, ajalnya, yang buruk maupun yang baik*_. Kemudian ditiupkan ruh ke dalam segumpal daging tersebut. Maka sesungguhnya salah seorang diantara kamu mengerjakan amalan ahli neraka hingga jarak antara dirinya dan neraka itu tinggal satu hasta, sampai melebihi apa yang telah ditetapkan padanya, tetapi kemudian ia mengerjakan amalan ahli surga, maka ia masuk ke dalam surga. Dan salah satu diantara kamu mengerjakan amalan ahli surga hingga jarak antara ia dan surga tinggal satu hasta, sampai ia melebihi apa yang telah ditetapkan padanya dan mengerjakan amalan ahli neraka, maka ia masuk ke dalam neraka". (HR. Bukhari)
Ayat Qur'an dan Hadits di atas sangatlah jelas, segala sesuatu yang terjadi/yang menimpa manusia tidak terlepas dari kehendak/ketetapan اللَّهِ Ta'ala.
Penyikapan terhadap qodho' dan qodar (takdir) yang baik dan benar merupakan titik tolak dalam menentukan langkah hidup selanjutnya.
DR. Yusuf Qardhawi menerangkan bahwa banyak orang salah dalam memahami persoalan takdir dan salah mengambil sikap dalam bertawakal, hal ini dikarenakan melupakan hukum sebab-akibat, mereka hanya melihat hasil akhir dan tidak melihat proses, padahal sebab-akibat merupakan salah satu qadha’ اللَّهِ.
Dicontohksn beliau, ketika banyak orang terkagum-kagum dengan keberhasilan Dzulkarnain dalam pemerintahannya, اللَّهِ menerangkan rahasia suksesnya Dzulkarnain karena kehendak-Nya, dikarenakan patuhnya Dzulkarnain mengikuti proses sebab-sebab kesuksesan tersebut.
Firman اللَّهِ :
وَيَسْئَلُونَكَ عَن ذُىلْقَرْنَيْنِ ،قُلْ سَأَتْلُوْا عَلَيْكُمْ ذِكْرًا [83] إِنَّا مَكَّنَّا لَهُ فِى اْلأَرْضِ وَاَتَيْنَهُ مِنْ كُلِّ شَيْءٍٍ سَبَبًا[84] فَأََتْبَعَ سَبَباً [85]
Mereka akan bertanya kepadamu (Muhammad) tentang Dzulqarnain. Katakanlah: “Aku akan bacakan kepadamu cerita tentangnya”. Sesungguhnya Kami telah memberi kekuasaan kepadanya di (muka) bumi, dan Kami telah memberikan kepadanya jalan/sebab-sebab (untuk mencapai) segala sesuatu, maka diapun menempuh sebab-sebab itu. (QS. Al Kahfi: 83-85)
Sedang DR. Abdullah Nashih Ulwan, mejelaskan dua dimensi taqdir dari sudut pandang makhluk :
1. Taqdir yang musayyar (yang hamba tidak ada ikhtiyar di dalamnya). dan
2. Taqdir yang mukhoyyar (yang hamba diharuskan berikhtiyar dan disediakan balasan atas ikhtiyarnya itu).
Atas sifat kasih sayang اللَّهِ, manusia diberikan potensi dan sarana yang bersifat musayyar (akal, petunjuk, peluang, fisik, dsb) yang dengan potensi itu hamba harus berikhtiyar/berproses sehingga hadir ketentuan اللَّهِ yang terbaik untuk hamba-Nya.
Dengan kata lain, usaha untuk memenuhi ketentuan sebab-akibat itulah tempatnya ikhtiyar, adapun atas hasilnya tentu sesuai dengan qadar اللَّهِ yang kemudian kita dituntut untuk bertawakal.
Firman اللَّهِ :
إِنَّ اللهَ لاَ يُغَيِّرُ ماَ بِقَوْمٍ حَتَّى يُغَيِِِّرُوْا مَا بِأَنْفُسِهِمْ؛ وَ إِذَا أَرَادَ اللهُ بِقَوْمٍ سُوْءًا فَلاَ مَرَدَّ لَهُ وَمَا لَهُمْ مِّنْ دُوْنِهِ مِنْ وَالٍٍٍٍ [الرعد:11]
“Sesungguhnya اللَّهِ tidak mengubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. Dan apabila اللَّهِ menghendaki keburukan terhadap sesuatu kaum, maka tak ada yang dapat menolaknya; dan sekali-kali tak ada pelindung bagi mereka selain Dia." (QS. Ar Ra’du 11).
يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ لِغَدٍ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ(18)
“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada اللَّهِ dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), dan bertakwalah kepada اللَّهِ, sesungguhnya اللَّهِ Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan". (QS. Al Hasyr 18)
“Barangsiapa yang mengerjaka amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan". (QS. An Nahl 97).
👉BERSAMBUNG👉👉👉