23/02/2026
Di Barbershop Karbala
Oleh Hasyim Arsal Alhabsi-Dehills Institute
Ketika memasuki Najaf, mata kita akan segera disambut oleh billboard-billboard raksasa. Hampir semuanya berbicara tentang satu tema yang sama: persatuan.
Di antara kalimat-kalimat itu, ada satu yang menempel kuat dalam ingatan saya. Kalimat dari Sayyid Ali al-Sistani:
“Mereka (Sunni) bukan saudara kita, tapi diri kita sendiri.”
Kalimat itu bukan sekadar slogan.
Ia adalah terapi sejarah.
Ia adalah penawar luka.
Najaf adalah kota ilmu. Kota makam Ali ibn Abi Talib. Kota yang tahu betul betapa mahalnya harga perpecahan. Maka ketika Sistani memilih kata anfusuna — “diri kita sendiri” — ia sedang menghapus jarak psikologis yang selama ini diwariskan oleh sejarah yang berdarah.
Bukan toleransi.
Bukan sekadar hidup berdampingan.
Tetapi pengakuan bahwa yang berbeda itu tetap bagian dari kita.
Rombongan kami kemudian menuju Karbala. Kami menginap di hotel dekat maqam Imam Husayn ibn Ali.
Salah satu dari kami memiliki kebiasaan unik. Setiap kali berziarah, ia selalu memotong rambut. Katanya, ia ingin meninggalkan sebagian dari dirinya di tempat suci. Sebuah penanda. Sebuah simbol.
Saya merenung.
Bukankah ziarah memang tentang itu?
Meninggalkan sebagian ego.
Meninggalkan sebagian kesombongan.
Meninggalkan sebagian prasangka.
Kami pun masuk ke sebuah barbershop di samping hotel. Tukang cukurnya lelaki gagah. Wajahnya tegas, sorot matanya tenang.
Salah satu dari kami bertanya,
“Namanya siapa?”
Ia menjawab singkat,
“Umar.”
Umar?
Nama itu dalam sejarah Islam bukan nama biasa. Ia bisa membangkitkan tafsir panjang, perdebatan lama, bahkan luka yang belum sepenuhnya sembuh.
Lalu seseorang bertanya,
“Sunni?”
Sebelum lelaki itu menjawab, seorang anak kecil yang berada di sana tiba-tiba bersuara:
La Sunni. La Syiah. Lakin Muslim.
Bukan Sunni.
Bukan Syiah.
Tapi Muslim.
Saya terdiam.
Kalimat itu keluar bukan dari politisi.
Bukan dari ulama.
Bukan dari akademisi.
Dari seorang anak kecil.
Di kota Karbala.
Kota yang pernah menjadi simbol keterbelahan paling tragis dalam sejarah Islam.
Anak itu mungkin tidak membaca Tarikh Thabari.
Tidak menghafal perdebatan teologis.
Tidak mengkaji sanad dan riwayat.
Tapi ia memahami sesuatu yang paling mendasar:
Identitas terdalamnya adalah Islam.
Bukan mazhab.
Karbala bukan sekadar kisah tentang siapa melawan siapa.
Ia adalah kisah tentang menjaga martabat agama.
Husayn ibn Ali tidak bangkit untuk membangun sekat mazhab. Ia bangkit untuk menolak kezaliman. Untuk menjaga agar Islam tidak berubah menjadi legitimasi kekuasaan tanpa nurani.
Jika hari ini di Karbala seorang anak kecil berkata “Lakin Muslim”, itu bukan pengkhianatan terhadap Ahlul Bait. Justru itu buah dari pengorbanan mereka.
Karena darah Karbala tidak menuntut kebencian.
Ia menuntut kesadaran.
Teman saya meninggalkan potongan rambut.
Tapi mungkin yang lebih penting adalah apa yang tak terlihat:
Kita meninggalkan sedikit fanatisme.
Kita meninggalkan sedikit ego identitas.
Kita meninggalkan sedikit warisan kebencian.
Dan kita membawa pulang sesuatu yang jauh lebih berharga:
Harapan.
Bahwa Islam yang satu tetap mungkin.
Bahwa cinta kepada Ahlul Bait tidak harus dibangun di atas kebencian kepada yang lain.
Bahwa kebenaran tidak butuh amarah untuk berdiri.
Di barbershop kecil itu, di sudut Karbala, seorang anak kecil mengingatkan kita semua:
Mazhab adalah jalan memahami.
Islam adalah rumahnya.
Dan rumah itu terlalu luas untuk dipersempit oleh kebencian, meski luka sejarah tetap mengucurkan darah.
(Photo: saya sedang dioperasi oleh Umar Karbalai)