Tulisan-tulisan Hasyim Arsal Alhabsi

Tulisan-tulisan Hasyim Arsal Alhabsi

Share

Saya hanya berharap semoga apa yang saya tulis berguna dan bermanfaat terutama bagi saya, sebagai pengngat. Senoga Allah SWT berkenan menjadikannya pahala.

Kalau ada yang menyukai dan mensharenya saya mengucapkan terima kasih.

23/02/2026

Di Barbershop Karbala

Oleh Hasyim Arsal Alhabsi-Dehills Institute

Ketika memasuki Najaf, mata kita akan segera disambut oleh billboard-billboard raksasa. Hampir semuanya berbicara tentang satu tema yang sama: persatuan.

Di antara kalimat-kalimat itu, ada satu yang menempel kuat dalam ingatan saya. Kalimat dari Sayyid Ali al-Sistani:

“Mereka (Sunni) bukan saudara kita, tapi diri kita sendiri.”

Kalimat itu bukan sekadar slogan.
Ia adalah terapi sejarah.
Ia adalah penawar luka.
Najaf adalah kota ilmu. Kota makam Ali ibn Abi Talib. Kota yang tahu betul betapa mahalnya harga perpecahan. Maka ketika Sistani memilih kata anfusuna — “diri kita sendiri” — ia sedang menghapus jarak psikologis yang selama ini diwariskan oleh sejarah yang berdarah.

Bukan toleransi.
Bukan sekadar hidup berdampingan.

Tetapi pengakuan bahwa yang berbeda itu tetap bagian dari kita.

Rombongan kami kemudian menuju Karbala. Kami menginap di hotel dekat maqam Imam Husayn ibn Ali.

Salah satu dari kami memiliki kebiasaan unik. Setiap kali berziarah, ia selalu memotong rambut. Katanya, ia ingin meninggalkan sebagian dari dirinya di tempat suci. Sebuah penanda. Sebuah simbol.

Saya merenung.

Bukankah ziarah memang tentang itu?

Meninggalkan sebagian ego.
Meninggalkan sebagian kesombongan.
Meninggalkan sebagian prasangka.

Kami pun masuk ke sebuah barbershop di samping hotel. Tukang cukurnya lelaki gagah. Wajahnya tegas, sorot matanya tenang.

Salah satu dari kami bertanya,
“Namanya siapa?”
Ia menjawab singkat,
“Umar.”

Umar?

Nama itu dalam sejarah Islam bukan nama biasa. Ia bisa membangkitkan tafsir panjang, perdebatan lama, bahkan luka yang belum sepenuhnya sembuh.

Lalu seseorang bertanya,

“Sunni?”

Sebelum lelaki itu menjawab, seorang anak kecil yang berada di sana tiba-tiba bersuara:

La Sunni. La Syiah. Lakin Muslim.

Bukan Sunni.
Bukan Syiah.
Tapi Muslim.

Saya terdiam.
Kalimat itu keluar bukan dari politisi.
Bukan dari ulama.
Bukan dari akademisi.
Dari seorang anak kecil.
Di kota Karbala.

Kota yang pernah menjadi simbol keterbelahan paling tragis dalam sejarah Islam.
Anak itu mungkin tidak membaca Tarikh Thabari.
Tidak menghafal perdebatan teologis.
Tidak mengkaji sanad dan riwayat.

Tapi ia memahami sesuatu yang paling mendasar:
Identitas terdalamnya adalah Islam.
Bukan mazhab.

Karbala bukan sekadar kisah tentang siapa melawan siapa.
Ia adalah kisah tentang menjaga martabat agama.
Husayn ibn Ali tidak bangkit untuk membangun sekat mazhab. Ia bangkit untuk menolak kezaliman. Untuk menjaga agar Islam tidak berubah menjadi legitimasi kekuasaan tanpa nurani.

Jika hari ini di Karbala seorang anak kecil berkata “Lakin Muslim”, itu bukan pengkhianatan terhadap Ahlul Bait. Justru itu buah dari pengorbanan mereka.

Karena darah Karbala tidak menuntut kebencian.
Ia menuntut kesadaran.

Teman saya meninggalkan potongan rambut.
Tapi mungkin yang lebih penting adalah apa yang tak terlihat:

Kita meninggalkan sedikit fanatisme.

Kita meninggalkan sedikit ego identitas.

Kita meninggalkan sedikit warisan kebencian.

Dan kita membawa pulang sesuatu yang jauh lebih berharga:

Harapan.

Bahwa Islam yang satu tetap mungkin.

Bahwa cinta kepada Ahlul Bait tidak harus dibangun di atas kebencian kepada yang lain.

Bahwa kebenaran tidak butuh amarah untuk berdiri.

Di barbershop kecil itu, di sudut Karbala, seorang anak kecil mengingatkan kita semua:

Mazhab adalah jalan memahami.
Islam adalah rumahnya.

Dan rumah itu terlalu luas untuk dipersempit oleh kebencian, meski luka sejarah tetap mengucurkan darah.

(Photo: saya sedang dioperasi oleh Umar Karbalai)

29/10/2025

ذِكْرُ يَوْمِ الأَرْبِعَاءِ:
يَا حَيُّ يَا قَيُّومُ
يُسَبَّحُ مِائَةَ مَرَّةٍ عَلَى الأَقَلِّ.

27/10/2025

Kelelahan Tanpa Tuhan
Hasyim Arsal Alhabsi,

Tidak ada yang lebih melelahkan daripada berpikir, sebab berpikir adalah kerja ruh dan nalar dalam mencari makna. Namun puncak dari seluruh kelelahan itu adalah ketika seseorang berpikir tanpa Tuhan. Sebab pada saat itu, ia sedang berusaha menafsirkan semesta tanpa pusat, menimbang hidup tanpa timbangan, dan mencari arah tanpa kompas.

Orang yang tidak percaya Tuhan sesungguhnya sedang menanggung beban kesunyian tertinggi. Ia menolak sumber energi terbesar—Sang Pencipta—namun tetap ingin menyalakan cahaya di dalam gelap pikirannya sendiri. Ia seperti seseorang yang menimba air dari sumur yang kering, dan mengira ketekunannya adalah kebenaran. Padahal yang ia hasilkan hanyalah haus yang tak pernah usai.

Imam Ali bin Abi Thalib kw pernah berkata:

“Barang siapa mengenal dirinya, maka ia mengenal Tuhannya.”

Artinya, pengetahuan tentang Tuhan bukanlah hasil dari kelelahan otak, tetapi buah dari kesadaran ruhani. Ketika akal menafsirkan hidup tanpa sandaran Ilahi, maka ia berputar dalam lingkaran tanpa pusat. Dan setiap langkah pikirannya justru memperdalam jurang kehampaan.

Dalam Al-Qur’an, Allah berfirman:

“Dan janganlah kamu seperti orang-orang yang melupakan Allah, maka Allah menjadikan mereka lupa kepada diri mereka sendiri.”
(QS. Al-Hasyr: 19)

Ayat ini menggambarkan bentuk kelelahan paling sunyi — ketika manusia lupa siapa dirinya, karena menolak mengenal sumber asalnya.

Maka berpikir adalah ibadah jika ujungnya menemukan Tuhan. Tapi berpikir tanpa Tuhan hanyalah perjalanan akal yang terputus dari ruh, sebuah kelelahan tanpa cahaya.

18/10/2025

Cium Tangan Semu

oleh Hasyim Arsal Alhabsi

Ada satu kebiasaan yang kini sering terlihat di kalangan anak muda, terutama di lingkungan jama’ah keturunan Arab: mencium tangan, tetapi hanya sekejap — bahkan sebelum tangan yang dicium sempat benar-benar menyentuh dahi atau bibir, mereka menariknya dengan cepat. Seolah “tidak sengaja” atau tercapai tujuannya mencium itu.

Gerakan itu tampak sopan dari luar, namun kosong di dalam. Ia tidak lebih dari ritual sosial tanpa ruh, penghormatan yang kehilangan substansi. Cium tangan semacam itu bukan lagi bentuk adab, melainkan gestur yang diseragamkan tanpa kesadaran.

Padahal, mencium tangan bukanlah seremoni tubuh, melainkan pernyataan jiwa. Ia adalah bahasa tanpa kata, tanda bahwa seseorang merendahkan diri di hadapan sumber keberkahan: orang tua, guru, ulama, atau siapa pun yang pernah menanamkan kebaikan dalam hidup kita.
(Tentu ini tidak berlaku bagi situasi di mana orang yang akan dicium tangannya yang menariknya, yang lahir dari kesadaran dan adab yang tinggi).

Adab sejati tidak mungkin lahir dari paksaan sosial. Kalau hati belum ikhlas, tangan tidak akan jujur.
Maka Ayah kami, pernah menasihati:

“Kalau tidak rela mencium tangan seseorang, jangan lakukan.
Lebih baik engkau menunduk dalam diam daripada berpura-pura dalam adab.”

Karena adab tanpa keikhlasan adalah kemunafikan yang berbalut sopan santun.

Cium tangan semu sering kali lahir dari rasa takut dianggap tak beradab, bukan dari cinta dan hormat yang sejati. Padahal, Allah tidak menilai gerakan tangan, melainkan niat di dalam hati. Rasulullah SAW bersabda:

“Sesungguhnya amal itu bergantung pada niat.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Artinya, mencium tangan tanpa niat penghormatan tidak lebih berharga dari menyentuh benda tanpa makna.

Dalam budaya Islam, adab adalah cabang dari iman. Tapi iman bukanlah seragam, dan adab bukanlah teater, bukan pertunjukan. Bila kita mencium tangan orang tua, guru, atau ulama, lakukanlah dengan hati yang hidup — bukan dengan gengsi yang takut dinilai. Karena kehormatan sejati bukan pada gerakan, tapi pada kesadaran: bahwa di hadapan orang yang lebih dahulu dalam ilmu, usia, dan kasih sayang, atau pemimpin yang dihormati dan disegani, kita sedang berhadapan dengan pancaran cahaya Allah.

Cium tangan semu menipu dua pihak sekaligus:
yang mencium, karena ia berpura-pura menghormati;
dan yang dicium, karena ia disuguhi kehormatan yang hampa.

Sementara ciuman yang tulus menyalurkan sesuatu yang tak kasat mata: doa yang naik dari hati, keberkahan yang turun dari langit. Itulah sebabnya cium tangan yang ikhlas terasa damai — yang tidak hanya sekedar kulit yang bersentuhan, tetapi karena jiwa yang bersentuhan menyalurkan energi rahmat.

Kalau tidak rela mencium, jangan lakukan.

Kalau belum mampu menghormati dengan hati, hormatilah dengan dengan bersikap apa adanya, jujur.

Karena lebih baik adab yang sederhana namun tulus, daripada gerakan megah yang kosong dari makna.

Mencium tangan bukan tentang formalitas sosial,
tetapi tentang keikhlasan spiritual —
tentang pengakuan bahwa di hadapan yang lebih mulia,
ada sesuatu dalam dirimu yang harus merendah agar bisa naik.

Nabi SAW mencium tangan petani. Karena melihat Allah Yang Agung di tangan pejuang. Nabi SAW mencium tangan anak kecil karena melihat kesucian Allah yang Maha Suci. Bisa jadi gerakan mencium tangan kita yang tulus telah mengundang cinta Allah yang membuka Kasih SayangNya menjadi energi bagi hubungan yang indah di hari itu dan di masa yang akan datang.

18/10/2025

Sujud Kecil dari Jiwa yang Tahu Diri

oleh Hasyim Arsal Alhabsi

Ayah kami, Arsal Alhabsi, pernah berpesan:

“Cium tangan gurumu,
cium tangan orang tua temanmu,
cium tangan kakakmu,
cium tangan orang yang dicium tangannya oleh kakakmu.
Apa pun yang terjadi,
terhadap orang yang pernah kau cium tangannya,
besok tetap harus kau cium tangannya…”

Saya bertanya polos:
“Terus bagaimana dengan orang tua?”

Ayah hanya tersenyum dan menepuk kepala saya pelan.

Adab yang Menumbuhkan Jiwa

Dalam keheningan, saya mengerti: pelajaran terbesar Ayah kami itu adalah tentang jiwa yang tahu berterima kasih.
“Cium tangan” adalah gerak tubuh yang mengajarkan kerendahan hati, simbol dari kesadaran bahwa kita tidak pernah berdiri sendiri.
Setiap ilmu yang kita miliki, setiap langkah yang kita ambil, adalah hasil doa, bimbingan, dan kasih dan persentuhan kita dengan orang lain.

Dalam pandangan batin, mencium tangan bukan sekadar menyentuh kulit — tetapi menyentuh mata rantai cahaya yang turun dari satu hati ke hati lain. Ia adalah bentuk kecil dari wilayah cinta: pengakuan bahwa dalam hidup, selalu ada yang lebih dahulu menundukkan diri kepada kebenaran sebelum kita.

Tangan yang Menyalakan Cahaya

Mencium tangan guru adalah tanda bahwa kita menyadari ilmu itu suci. Ilmu tidak lahir dari ruang kosong, tetapi dari mujahadah, pengorbanan, dan cinta yang menyalakan pelita agar muridnya tidak berjalan dalam gelap.
Setiap kali tangan guru kita cium, sebenarnya kita sedang berikrar:

“Aku menerima cahaya dari tangan yang telah menyentuh kitab, menulis kebenaran, dan menuntunku menuju Allah.”

Dalam dunia pesantren, tradisi ini disebut tabarrukan — mencari keberkahan dari rantai sanad. Tapi keberkahan sejatinya bukan di tangan itu sendiri, melainkan pada adab dan niat hati yang menghubungkannya dengan Allah.

Sumber Kasih yang Tak Pernah Putus

Ketika Ayah kami menepuk kepala saya, saya paham: kepada orang tua, cium tangan bukan lagi kebaikan — melainkan kewajiban, fisik dan ruhani.
Karena tangan merekalah yang pertama kali menimang tubuh kita; dari mereka kita belajar arti sabar, arti diam, arti cinta yang tidak menuntut balas.

Orang tua bukan hanya ayah dan ibu yang melahirkan kita.
Mereka juga mencakup saudara-saudara mereka — paman, bibi, mertua — seluruh mata rantai kasih yang menjaga silsilah keberkahan. Dalam Islam, tidak ada “mantan mertua,” sebab pernikahan yang suci menanamkan ikatan yang abadi di bawah nama Allah.

Rantai Kebaikan

Mencium tangan kakak berarti menghormati hierarki kehidupan — mengakui bahwa sebelum kita ada yang menempuh jalan, dan kita melanjutkannya.
Sedangkan mencium tangan orang yang dicium oleh kakakmu berarti menghargai kebaikan yang mengalir, bukan hanya yang langsung kita terima.
Inilah inti dari adab: mengenali sumber kebaikan, bahkan ketika kebaikan itu datang melalui perantara.

Ayah mengajarkan bahwa adab adalah rantai tak terlihat yang menjaga dunia dari kekacauan.
Ketika adab terputus, manusia kehilangan arah; ketika adab terjaga, dunia tetap berputar dalam keseimbangan kasih.

Sujud Kecil yang Menjaga Kemanusiaan

Kalimat terakhir Ayah —

“Apa pun yang terjadi, terhadap orang yang pernah kau cium tangannya, besok tetap harus kau cium tangannya” —
adalah ujian batin paling dalam.

Sebab sering kali, perjalanan hidup membuat kita berjarak dari orang-orang yang dulu kita hormati. Namun adab sejati tidak mengikuti gelombang perasaan; ia mengikuti kesadaran bahwa kehormatan seseorang tidak ditentukan oleh perbedaan, tetapi oleh peran yang pernah ia berikan dalam hidup kita.

Cium tangan bukan tentang siapa yang lebih tinggi, tetapi tentang siapa yang lebih dahulu mengajarkan kebaikan.
Itu sebabnya, dalam dunia sufi, mencium tangan sering dipahami sebagai sujud kecil yang menjaga manusia tetap manusia — gerak tubuh yang membuat hati ingat bahwa semua kemuliaan kembali kepada Allah.

Imam Ja’far ash-Shadiq pernah berkata:

“Barang siapa merendahkan diri kepada orang yang mengajarinya satu huruf, maka Allah akan meninggikan derajatnya tujuh puluh kali.”

Makna ini menegaskan bahwa penghormatan adalah jalan menuju keberkahan.
Tangan yang kita cium hari ini — mungkin lemah, tua, atau bahkan berbeda pandangan — bisa jadi tangan yang dulu Allah pakai untuk menuntun kita keluar dari gelap menuju cahaya.

Dalam dunia yang kian kehilangan adab, gerakan kecil ini menjadi doa yang bergerak:
bahwa hormat tidak lekang oleh waktu,
bahwa sujud jiwa lebih mulia daripada sujud status,
dan bahwa setiap tangan yang pernah kita cium adalah jembatan yang menghubungkan kita dengan sumber rahmat.

Maka, bila suatu hari engkau merasa tinggi karena ilmu atau jabatan,
ingatlah satu hal sederhana:
di awal perjalananmu, ada tangan yang pernah kau cium —
dan di sanalah keberkahanmu masih bertumpu.

17/10/2025

JUMAT MUBARAK❤️

🌹 Tidak Ada yang Berlebihan dalam Cinta kepada Rasulullah ﷺ

Oleh Hasyim Arsal Alhabsi/Dehills Corp

Ada kalimat yang sering disalahpahami dalam perjalanan iman manusia:
“Jangan berlebihan mencintai Rasulullah ﷺ.”
Kalimat itu terdengar bijak di lidah sebagian orang, tapi sesungguhnya keliru dalam makna.
Karena tidak ada yang berlebihan dalam mencintai sumber segala cinta selain Allah.
Dan Rasulullah ﷺ — bukan sekadar manusia pilihan — adalah pembawa dan perantara cinta itu sendiri.

🌸 Cinta Kepada Rasulullah ﷺ Adalah Perintah Langit

Cinta kepada Rasulullah ﷺ bukan hasil emosi manusia, tapi perintah langsung dari Allah.
Dalam Surah At-Taubah ayat 24, Allah berfirman dengan tegas:

قُلْ إِن كَانَ آبَاؤُكُمْ وَأَبْنَاؤُكُمْ وَإِخْوَانُكُمْ وَأَزْوَاجُكُمْ وَعَشِيرَتُكُمْ وَأَمْوَالٌ اقْتَرَفْتُمُوهَا وَتِجَارَةٌ تَخْشَوْنَ كَسَادَهَا وَمَسَاكِنُ تَرْضَوْنَهَا أَحَبَّ إِلَيْكُم مِّنَ اللَّهِ وَرَسُولِهِ وَجِهَادٍ فِي سَبِيلِهِ فَتَرَبَّصُوا حَتَّىٰ يَأْتِيَ اللّٰهُ بِأَمْرِهِ

“Katakanlah: Jika bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, istri-istri, keluarga kalian, harta kekayaan yang kalian usahakan, perniagaan yang kalian khawatiri kerugiannya, dan rumah-rumah yang kalian sukai lebih kalian cintai daripada Allah, Rasul-Nya, dan jihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya.”

Ayat ini menegaskan tingkat cinta kepada Rasulullah ﷺ:
ia bukan hanya dibolehkan, tapi wajib mengungguli segala cinta duniawi.
Maka bagaimana mungkin ada yang mengatakan “berlebihan”, jika Allah sendiri memerintahkan cinta itu berada di atas cinta kepada ayah, ibu, anak, bahkan diri sendiri?

🌿 Rasulullah ﷺ Adalah Cermin Cinta dan Keindahan Allah SWT

Rasulullah ﷺ bukan hanya penyampai wahyu,
beliau adalah wajah rahmat Allah yang hidup di dunia ini.
Allah berfirman dalam Surah Al-Anbiya’ ayat 107:

وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِّلْعَالَمِينَ

“Dan tidaklah Kami mengutus engkau (Muhammad), melainkan sebagai rahmat bagi seluruh alam.”

Rahmat itu bukan sekadar belas kasih, tapi pancar cahaya keindahan Allah yang membuat hati manusia mengenal kelembutan dan cinta-Nya.
Maka mencintai Rasulullah ﷺ bukanlah bentuk pemujaan manusia kepada manusia,
melainkan bentuk pengakuan hati atas Rahmatullah yang mengalir melalui makhluk termulia.

Ketika seseorang mencintai Rasulullah ﷺ,
sebenarnya ia sedang menapaki jalan untuk mengenal keindahan Allah.
Karena cinta kepada Rasulullah adalah cinta kepada Nurullah.

🌸 Cinta yang Menjadi Jalan Menuju Keindahan Ilahi

Dalam Surah Ali ‘Imran ayat 31, Allah menegaskan hukum cinta yang sesungguhnya:

قُلْ إِن كُنتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ ۗ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَّحِيمٌ

“Katakanlah (wahai Muhammad): Jika kalian mencintai Allah, maka ikutilah aku, niscaya Allah mencintai kalian dan mengampuni dosa-dosa kalian.”

Inilah hukum cinta tertinggi:
Cinta kepada Allah harus melewati cinta kepada Rasulullah ﷺ.
Sebab beliau adalah pintu menuju Allah — Bab al-Rahmah, gerbang segala rahmat dan pengampunan.

Maka tidak ada cinta kepada Allah tanpa cinta kepada Rasulullah ﷺ.
Dan siapa yang mencintai beliau tanpa batas,
sebenarnya sedang meniti jalan menuju keindahan tanpa batas — yaitu Allah sendiri.

🌿 Cinta kepada Rasulullah ﷺ Tidak Pernah Menjadi Berhala

Sebagian orang takut cinta kepada Rasulullah ﷺ akan berubah menjadi pengkultusan.
Ketakutan itu muncul karena mereka tidak memahami perbedaan antara cinta dan ibadah.

Ibadah adalah penghambaan yang mutlak kepada Allah.
Sedangkan cinta kepada Rasulullah ﷺ adalah pengakuan atas keindahan Allah yang terpantul melalui beliau.
Kita tidak menyembah Nabi, tetapi mengenal Allah melalui Nabi.
Kita tidak mengangkat beliau sebagai Tuhan, tetapi menjadikan beliau sebagai cermin yang menunjukkan Wajah Tuhan.

“Barang siapa mencintaiku, ia bersamaku di surga.”
— (HR. Tirmidzi)

Cinta kepada beliau bukan hanya dibolehkan,
tetapi menjadi jalan keselamatan dan penyatuan dengan rahmat Allah.

🌸 Cinta yang Melahirkan Akhlak dan Keindahan

Cinta sejati kepada Rasulullah ﷺ bukan berhenti pada kata atau seremonial maulid semata.
Ia harus memancar menjadi akhlak: kelembutan, kesabaran, kasih, dan pemaafan.
Karena itulah Allah berfirman dalam Surah Al-Qalam ayat 4:

وَإِنَّكَ لَعَلَىٰ خُلُقٍ عَظِيمٍ

“Dan sesungguhnya engkau (wahai Muhammad) benar-benar berada di atas akhlak yang agung.”

Maka setiap orang yang mencintai Rasulullah ﷺ seharusnya mencintai akhlaknya,
karena itulah bentuk cinta yang paling indah dan paling jujur.
Mencintai beliau berarti menyalakan cahayanya di dalam diri —
menjadi rahmat kecil yang memantulkan rahmat besar.

🌿 Cinta yang Tidak Pernah Sia-sia

Rasulullah ﷺ bersabda:

“Seseorang akan bersama dengan yang dicintainya.”
(HR. Bukhari dan Muslim)

Inilah janji cinta yang paling indah.
Cinta kepada Rasulullah ﷺ tidak akan pernah sia-sia,
karena cinta itu sendiri akan menjadi kendaraan menuju Allah.

Cinta kepada beliau bukan hanya amal,
tapi cahaya yang menuntun setiap langkah menuju keindahan yang abadi.

🌸 Cinta yang Mengembalikan Cahaya

Mencintai Rasulullah ﷺ bukanlah kelebihan, tetapi keseimbangan.
Bukan emosi berlebihan, tapi kesadaran tertinggi akan sumber kasih yang sejati.
Cinta kepada beliau adalah fitrah ruhani, seperti bunga yang tak bisa menolak matahari.

Dan siapa yang menyalakan cinta itu dalam dirinya,
akan berjalan dalam cahaya sebagaimana Allah berfirman:

وَمَن يُطِعِ اللَّهَ وَالرَّسُولَ فَأُولَـٰئِكَ مَعَ الَّذِينَ أَنْعَمَ اللَّهُ عَلَيْهِم مِّنَ النَّبِيِّينَ وَالصِّدِّيقِينَ وَالشُّهَدَاءِ وَالصَّالِحِينَ ۚ وَحَسُنَ أُولَـٰئِكَ رَفِيقًا

(“Barang siapa taat kepada Allah dan Rasul-Nya, maka mereka akan bersama orang-orang yang Allah beri nikmat: para nabi, orang-orang jujur, para syuhada, dan orang-orang saleh. Mereka itulah sebaik-baik teman.”)
— QS. An-Nisa: 69

Cinta kepada Rasulullah ﷺ tidak akan pernah berlebihan —
ia adalah kewajaran langit yang ditanamkan ke dalam hati manusia.
Sebab dari beliaulah kita mengenal Allah,
dan melalui cintanya, kita melihat keindahan yang tiada tanding:
keindahan Allah Yang Maha Cinta.

17/10/2025

Rasa yang Tak Sekolah
(Kisah Kakek Gunung—Bagian 33)

Oleh Hasyim Arsal Alhabsi

Pagi itu kabut masih tebal. Kakek Gunung duduk di beranda gubuknya, menatap lembah yang perlahan mulai diterpa cahaya matahari. Di tangannya secangkir kopi hitam mengepul, di kepalanya ribuan renungan yang belum selesai.

Seorang pemuda datang tergesa, wajahnya muram, matanya menyimpan bara.
“Kecewa, Kek,” katanya pendek. “Aku benci mereka. Mereka menipuku.”

Kakek tersenyum samar, menatap pemuda itu seperti sedang membaca kitab lama.
“Benci, ya? Kau tahu dari mana bahwa yang kau benci itu pantas dibenci?”

Pemuda itu terdiam. “Mereka jahat, Kek.”
Kakek meneguk kopi perlahan. “Itu katanya rasa. Tapi apakah rasa itu sudah sekolah?”

Pemuda itu bingung. “Sekolah? Maksudnya, Kek?”
Kakek tertawa kecil. “Rasa itu seperti anak kecil. Kalau tak disekolahkan dengan pengetahuan, ia tumbuh liar. Ia berlari ke arah yang disukainya, bukan ke arah yang benarnya.”

Lalu Kakek melanjutkan dengan suara pelan, seolah sedang berbicara dengan semesta,
“Cinta dan benci sama-sama produk rasa. Tapi rasa tanpa ilmu adalah api tanpa kendali. Ia bisa menghangatkan, bisa juga membakar rumahmu sendiri.”

Pemuda itu menunduk. “Jadi aku salah mencinta juga, Kek?”
“Belum tentu,” jawab Kakek. “Cinta juga butuh guru. Orang yang mencinta tanpa tahu hakikatnya akan terperangkap dalam perasaan yang menipu. Ia akan menyembah bayangan, bukan kebenaran.”

Kakek memejamkan mata sejenak, lalu berkata lirih,
“Di zaman ini banyak yang benci tanpa sebab, cinta tanpa ilmu. Mereka mencintai karena ikut-ikutan, membenci karena mendengar kabar. Itulah sebab dunia tak pernah seimbang—karena rasa dibiarkan liar tanpa sekolah akal.”

Pemuda itu menarik napas panjang. “Jadi bagaimana cara mengendalikannya, Kek?”
Kakek menatap ke langit. “Sekolahkan rasa itu di madrasah pengetahuan. Biarkan akal menuntunnya, dan hati membersihkannya. Bila cinta lahir dari pengetahuan, ia menuntunmu ke arah cahaya. Bila benci lahir dari ilmu, ia menjaga dari kesesatan. Tapi jika keduanya lahir dari ego, ia hanya melahirkan luka.”

Lalu Kakek menutup pembicaraan dengan kalimat yang membuat angin berhenti sejenak:

“Orang pandai pun bisa tersesat kalau rasa tak dikawal ilmu. Apalagi orang bodoh yang menjadikan rasa sebagai kompasnya.”

Pemuda itu meneteskan air mata.
Kakek hanya tersenyum dan menepuk bahunya,
“Pergilah, Nak. Belajarlah mencintai dengan akal dan membenci dengan adab. Maka kau akan mengenal siapa dirimu, dan siapa yang sebenarnya pantas dicinta maupun dibenci.”

Kabut pun terbelah, dan matahari naik perlahan.
Kopi Kakek sudah dingin, tapi nasihatnya tetap hangat di hati siapa pun yang mau berpikir.

Want your school to be the top-listed School/college in South Jakarta ?

Click here to claim your Sponsored Listing.

Location

Category

Website

Address


Jalan Taman Kemang No 32
South Jakarta
12150