KutipanTausiyah

KutipanTausiyah

Share

Adalah kump**an poster-poster yang berisi kutipan singkat ayat al-Qur'an, hadits Rasulullah, riwayat

08/04/2022

TAHUKAH ENGKAU SIAPA YANG BANGKRUT?!

Dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

أَتَدْرُونَ مَنِ الْمُفْلِسُ قَالُوا الْمُفْلِسُ فِينَا مَنْ لَا دِرْهَمَ لَهُ وَلَا مَتَاعَ فَقَالَ إِنَّ الْمُفْلِسَ مِنْ أُمَّتِي مَنْ يَأْتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِصَلَاةٍ وَصِيَامٍ وَزَكَاةٍ وَيَأْتِي قَدْ شَتَمَ هَذَا وَقَذَفَ هَذَا وَأَكَلَ مَالَ هَذَا وَسَفَكَ دَمَ هَذَا وَضَرَبَ هَذَا فَيُعْطَى هَذَا مِنْ حَسَنَاتِهِ وَهَذَا مِنْ حَسَنَاتِهِ فَإِنْ فَنِيَتْ حَسَنَاتُهُ قَبْلَ أَنْ يُقْضَى مَا عَلَيْهِ أُخِذَ مِنْ خَطَايَاهُمْ فَطُرِحَتْ عَلَيْهِ ثُمَّ طُرِحَ فِي النَّارِ

”Apakah kalian tahu siapa orang yang muflis (orang yang bangkrut) itu?”

Para sahabat menjawab,
“Muflis (orang yang bangkrut) di antara kami adalah yang tidak mempunyai dirham, tidak p**a harta benda.”

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, “Muflis (orang yang bangkrut) dari umatku ialah orang yang datang pada hari kiamat membawa (pahala) shalat, puasa, dan zakat. Namun, (ketika di dunia) dia telah mencaci, (salah) menuduh orang lain, makan harta, menumpahkan darah, dan memukul orang lain (tanpa hak).

Maka orang-orang (yang dizalimi) itu akan diberi pahala dari kebaikan-kebaikannya. Jika telah habis kebaikan-kebaikannya sebelum terselesaikan utang kezalimannya, dosa-dosa mereka yang dizalimi akan ditimpakan kepadanya.

Kemudian, dia akan dilemparkan ke dalam neraka.”

HR. Muslim no. 2581, at-Tirmidzi no. 2418, dan Ahmad 2/303

24/03/2020

PAHALA BAGI SEORANG MUSLIM

(Oleh Aris Munandar, SS, MPI)

إن المسلم ليؤجر في كل شيء حتى النكبة وانقطاع شعسه والبضاعة تكون في كمه فيفتقد بها فيفزع لها فيجدها في ضبته

"Sungguh seorang muslim itu diberi pahala dalam semua permasalahan hidupnya sampai-sampai musibah, tali sandal yang putus dan cemas karena barang yang disangka ada di tangan ternyata tidak ada dan akhirnya ditemukan di tasnya. Semuanya jadi sumber pahala. "

(Az-Zuhd karya Imam Ahmad 136)

"Muslim itu istimewa di sisi Allah."

Oleh karena itu semua musibah dan kesusahan yang menimpa seorang muslim berbuah pahala.

Sedih karena putusnya tali sandal jepit seorang muslim itu berpahala.

Kunci motor yang disangka ada di saku baju ternyata tidak ada. Dengan cemas kunci dicari-cari. Ternyata ketemu di tas. Rasa cemas semisal ini pun berpahala.

Demikian p**a cemas karena wabah corona juga berpahala.

Ini semua karena seorang muslim itu demikian istimewa dalam pandangan Allah.

23/03/2020

PELUANG EMAS PAHALA SYAHID MENGHADAPI CORONA

Oleh: Abdullah Zaen, Lc., MA

Seburuk apapun kondisi saat ini, seorang mukmin akan tetap berbesar hati. Sebab dia memiliki panduan hidup dari Rabbul alamin. Hanya orang yang tidak punya pegangan, yang akan terjangkiti kepanikan.

Aisyah radhiyallahu ‘anha bertutur,

“Aku pernah bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tentang tha’un (wabah)”.

Beliau menjawab,

أَنَّهُ كَانَ عَذَابًا يَبْعَثُهُ اللَّهُ عَلَى مَنْ يَشَاءُ، فَجَعَلَهُ رَحْمَةً لِلْمُؤْمِنِينَ، فَلَيْسَ مِنْ رَجُلٍ يَقَعُ الطَّاعُونُ، فَيَمْكُثُ فِي بَيْتِهِ صَابِرًا مُحْتَسِبًا يَعْلَمُ أَنَّهُ لاَ يُصِيبُهُ إِلاَّ مَا كَتَبَ اللَّهُ لَهُ إِلاَّ كَانَ لَهُ مِثْلُ أَجْرِ الشَّهِيدِ.

“Sesungguhnya wabah adalah azab yang ditimpakan Allah kepada siapapun yang dikehendaki-Nya. Namun Dia menjadikan wabah sebagai rahmat untuk kaum mukminin.

Saat terjadi wabah, siapapun yang berdiam di rumahnya. Dengan penuh kesabaran dan berharap pahala. Sambil meyakini bahwa dia tidak akan terkena sesuatu, kecuali yang telah ditakdirkan Allah. Orang yang seperti itu, pasti akan mendapatkan pahala orang yang syahid”. (HR. Ahmad dan sanad-nya dinilai sahih oleh al-Arna’uth)

Hadits di atas menjelaskan empat kriteria yang bila dipenuhi, maka seseorang akan mendapat pahala syahid.

Pertama: Berdiam di rumah. Sebagai salah satu upaya agar tidak tertular wabah atau menulari orang lain. Ini tentu sangat selaras dengan himbauan pemerintah supaya kita melakukan social distancing.

Kedua: Sabar dan ridha. Tidak banyak mengeluh. Sebab ini adalah ujian dari Allah.

Ketiga: Berharap pahala. Pahala menjalankan perintah Allah dan Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam. Pahala berdiam di rumah, walaupun terasa jenuh dan bosan.

Keempat: Beriman dengan takdir. Bahwa apapun yang terjadi, itu adalah dengan kehendak Allah. Sehingga bila Allah menakdirkan tidak kena wabah, maka tidak mungkin kena. Namun bila terkena, maka itulah yang memang telah ditakdirkan oleh-Nya.

Siapapun yang memenuhi empat kriteria di atas, dia akan mendapatkan pahala orang yang syahid. Walaupun ia tidak terjangkiti wabah. Apalagi bila terjangkit dan meninggal. Atau terjangkiti dan bisa sembuh. Semuanya dijanjikan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pahala syahid. Demikian keterangan yang dibawakan Imam Ibn Hajar rahimahullah dalam kitab beliau Fath al-Bariy (X/204).

Wajarlah bila Rasul _shallallahu ‘alaihi wasallam_ menyatakan bahwa wabah adalah rahmat bagi kaum mukminin.

Namun tentu tetap harus dihadapi dengan upaya lahiriah maksimal dan tawakal total kepada Allah ta’ala.

Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, Senin, 28 Rajab 1441 / 23 Maret 2020

16/03/2020

HIKMAH ADANYA WABAH, AGAR MANUSIA KEMBALI KEPADA ALLAH

Allah Ta'ala berfirman,

وَلَقَدْ أَرْسَلْنَا إِلَىٰ أُمَمٍ مِنْ قَبْلِكَ فَأَخَذْنَاهُمْ بِالْبَأْسَاءِ وَالضَّرَّاءِ لَعَلَّهُمْ يَتَضَرَّعُونَ

Artinya : “Dan sesungguhnya Kami telah mengutus (rasul-rasul) kepada umat-umat yang sebelum kamu, kemudian Kami siksa mereka dengan (menimpakan) kemelaratan dan kesengsaraan, supaya mereka memohon (kepada Allah) dengan kerendahan hati.” (QS. Al-An'am : 42)

Dalam tafsir Al Imam Ibnul Jarir at-Thobari Rahimahullah, ketika menyebutkan ‎بِالْبَأْسَاءِ وَالضَّرَّاءِ, ‎بِالْبَأْسَاءِ ‎ yakni ujian yang ditimpakan kepada mereka berupa kemiskinan, kesempitan (dalam penghidupan), sedangkan ‎وَالضَّرَّاءِ yakni ujian yang ditimpakan kepada mereka berupa penyakit dan cacat yang menimpa tubuh. ‎لَعَلَّهُمْ يَتَضَرَّعُونَ yakni agar mereka itu kembali kepada Allah (agar mereka itu tunsuk kepada Allah), memurnikan ibadah hanya kepada Allah, dia mencintai Allah, merendahkan diri hanya kepada Allah dan hanya taat kepada Allah. Ini dalam tafsir at-Thobari dan tafsir Ibnu Katsir dalam menafsirkan ayat ini.

Artinya, Allah timpakan be Cana atau wabah agar manusia kembali kepada Allah, agar manusia bertaubat kepada Allah, agar manusia meninggalkan kesyirikan, meninggalkan dosa dan maksiat. Dan juga kita melihat, diantara dosa-dosa yang dilakukan oleh manusia sehingga Allah turunkan berbagai macam bencana termasuk wabah penyakit, karena kesombongan manusia dan keangkuhan manusia, kedzaliman manusia, kesyirikan manusia dan yang lainnya, sehingga Allah timpakan itu. Kalau kita hitung dosa-dosa, ini banyak sekali. Lihat dalam kitab Al Imam Ibnul Qayyim Rahimahullah dalam kitab ad Daa wa ad Dawa' (penyakit dan obatnya)

Dikutip dari kajian Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas "Sikap Seorang Muslim Dalam Menyikapi Wabah Virus Corona". __________________________
Follow us on :
Instagram : bekasibertauhidofficial

12/03/2020

JANGAN MEMAKSA ORANG SAKIT UNTUK MAKAN

Dari Uqbah bin Amir al-Juhani _radhiyallahu 'anhu_, Nabi Muhammad _shalallahu alaihi wassalam_ bersabda,

لا تُكْرِهوا مَرْضَاكُمْ على الطَّعَامِ و الشرابِ ، فإنَّ اللهَ يُطْعِمُهُمْ و يَسْقِيهِمْ

"Jangan kalian memaksa orang yang sakit untuk makan! Karena sesungguhnya Allah yang memberi mereka makan dan minum." - HASAN- (Ash-Shahihah, 727) HR. At-Tirmidzi (2040) dan Ibnu Majah (3444)

Hadits ini secara jelas melarang kita untuk memaksa orang sakit untuk makan. Tetap kita tawarkan makanan / minuman, atau diajak dengan makan bersama, atau dengan menghidangkan makanan kesukaannya agar dia ingin makan. Tapi saat dia tetap tidak ingin makan maka kita dilarang untuk menyuruhnya dengan cara paksa, berdasarkan hadits di atas.

Makna, 'Karena sesungguhnya Allah yang memberi mereka makan dan minum' ialah,

أي يحفظ قواهم ، ويمدهم بما يفيد فائدة الطعام والشراب في حفظ الروح وتقويم البدن

"Allah menjaga kekuatan mereka yang sedang sakit. Dan juga Allah memberi mereka sesuatu yang layaknya seperti makanan dan minuman dalam hal menjaga ruh dan ketahanan tubuh." (Tuhfatul Ahwadzi, VI/193)

▫️ Al-Allamah al-Mubarakfuri rahimahullah memberikan keterangan yang sangat bagus untuk menghilangkan kekhawatiran kita yang mungkin berpikir, 'Kalau orang sakit tidak makan, bagaimana bisa sembuh?' Beliau menyatakan,

فإن الحياة والقوة من الله حقيقة. لا من الطعام ولا من الشراب ولا من جهة الصحة

"Sesungguhnya kehidupan dan kekuatan yang sebenarnya berasal dari Allah. Bukan dari makanan, minuman, maupun kesehatan." (At-Tuhfah, VI/193)

Hikmah tersembunyi dari larangan ini ialah yang disebutkan oleh para dokter bahwa di saat sakit tubuh sedang berusaha melakukan perlawanan terhadap sumber penyakit. Karena itulah keinginannya terhadap makanan teralihkan dengan kegiatan tersebut. Sehingga tidak tepat memaksa makanan masuk dalam kondisi demikian (Baca: Zadul Ma'ad, IV/83).

05/03/2020

DOA MEMOHON PERLINDUNGAN DARI PENYAKIT YANG BURUK

عَنْ أَنَسٍ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَقُولُ

Dari sahabat Anas radhiyallahu’anhu bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berdoa,

اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنَ الْبَرَصِ وَالْجُنُونِ وَالْجُذَامِ وَمِنْ سَيِّئِ الْأَسْقَامِ

“ALLAAHUMMA INNII A’UUDZU BIKA MINAL BARASHI WAL JUNUUNI WAL JUDZAAMI WA MIN SAYYI-IL ASQAAMI”

“Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari penyakit belang, gila, lepra, dan dari segala penyakit buruk lainnya.”

(HR. Abu Dawud no. 1554, dishahihkan Syaikh al-Albani dalam Shahih Sunan Abi Dawud no. 1554 dan Syaikh Muqbil dalam ash-Shahih al-Musnad Mimmaa Laisa fi ash-Shahihain hlm. 56 no. 39)

20/02/2020

JADIKANLAH SABAR DAN SHALAT SEBAGAI PENOLONGMU

Allah ta’ala berfirman:

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اسْتَعِيْنُوْا بِالصَّبْرِ وَالصَّلٰوةِ ۗ اِنَّ اللّٰهَ مَعَ الصّٰبِرِيْنَ

“Wahai orang-orang yang beriman! Mohonlah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan shalat. Sungguh, Allah beserta orang-orang yang sabar.” (Surah Al-Baqarah: 153)

✍🏻 Asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullah mengatakan:

أمر الله تعالى أن نستعين على الأمور بالصبر عليها لأن الإنسان إذا صبر و انتظر الفرج من الله سهلت عليه الأمور

“Allah ta’ala telah memerintahkan kita supaya meminta pertolongan kepada Allah dalam menghadapi segala macam urusan dengan kesabaran. Karena, jika manusia bersabar sambil menunggu jalan keluar dari Allah, maka urusan-urusannya menjadi mudah.”

(Syarh Riyadhush Shalihin 1/91)

20/02/2020

JANGAN MERASA IMANMU AMAN

Ibnu Katsir rahimahulllah berkata,

كان أبو هريرة يتعوذ في سجوده أن يزني، أو يسرق، أو يكفر أو يعمل كبيرة

Dahulu, dalam sujudnya, Abu Hurairah sering meminta perlindungan kepada Allah dari perbuatan zina, mencuri, kekafiran, atau dosa besar lainnya.

Ada yang bertanya kepadanya,

أتخاف ذلك؟

Apakah engkau takut kepada itu semua?

Beliau menjawab,

ما يؤمنني وإبليس حي، ومصرف القلوب يصرفها كيف يشاء؟

Apa yang bisa membuatku merasa aman, padahal iblis masih hidup?

(Apa yang bisa membuatku merasa aman), dalam keadaan hati ini dibolak-balik oleh Dzat Yang membolak-balikkan hati sesuai kehendak-Nya?

(Al-Bidayah Wan Nihayah, 8/120)

https://forumsalafy.net/jangan-merasa-imanmu-aman/

14/02/2020

VALENTINE'S DAY, BENCANA YANG DIANGGAP ANUGERAH

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Bencana Perayaan Valentine's Day:

1. MENYERUPAI ORANG-ORANG KAFIR

Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ

“Barangsiapa menyerupai suatu kaum maka ia bagian dari mereka.” [Abu Daud dari Abdullah bin Umar radhiyallahu’anhuma, Shahihul Jaami’: 6149]

2. LOYAL KEPADA ORANG-ORANG KAFIR

Mengikuti tradisi-tradisi orang kafir termasuk sikap loyal kepada mereka dan ridho terhadap kemungkaran.

Allah ta’ala berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَتَّخِذُوا الْيَهُودَ وَالنَّصَارَى أَوْلِيَاءَ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ وَمَنْ يَتَوَلَّهُمْ مِنْكُمْ فَإِنَّهُ مِنْهُمْ إِنَّ اللَّهَ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ

“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi wali-wali (orang-orang yang kamu bersikap loyal kepada mereka); sebahagian mereka adalah wali bagi sebahagian yang lain. Barangsiapa di antara kamu mengambil mereka menjadi wali, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang lalim.” [Al-Maidah: 51]

3. BID'AH, MENAMBAH-NAMBAH HARI PERAYAAN SELAIN YANG DITETAPKAN AGAMA

Tidak boleh mengada-adakan hari perayaan apa pun selain yang telah ditetapkan syari’at. Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam juga melarang hari raya apa pun selain yang ditetapkan syari’at.

Sahabat yang Mulia Anas bin Malik radhiyallahu’anhu berkata,

قَدِمَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- الْمَدِينَةَ وَلَهُمْ يَوْمَانِ يَلْعَبُونَ فِيهِمَا فَقَالَ مَا هَذَانِ الْيَوْمَانِ قَالُوا كُنَّا نَلْعَبُ فِيهِمَا فِى الْجَاهِلِيَّةِ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- إِنَّ اللَّهَ قَدْ أَبْدَلَكُمْ بِهِمَا خَيْرًا مِنْهُمَا يَوْمَ الأَضْحَى وَيَوْمَ الْفِطْرِ

“Ketika Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam mendatangi kota Madinah, para sahabat memiliki dua hari raya yang padanya mereka bersenang-senang. Maka beliau bersabda: Dua hari apa ini? Mereka menjawab: Dua hari yang sudah biasa kami bersenang-senang padanya di masa Jahiliyah. Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda: Sesungguhnya Allah telah mengganti kedua hari tersebut dengan dua hari yang lebih baik, yaitu Idul Adha dan Idul Fitri.” [HR. Abu Daud, Shahih Abi Daud: 1039]

4. ZINA MATA, TELINGA, LISAN, TANGAN, KAKI DAN HATI, HINGGA KEMALUAN

Allah 'azza wa jalla berfirman,

وَلا تَقْرَبُوا الزِّنَا إِنَّهُ كَانَ فَاحِشَةً وَسَاءَ سَبِيلا

“Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji dan suatu jalan yang buruk.” [Al-Isra: 32]

Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda,

إِذَا ظَهَرَ الزِّنَا وَالرِّبَا فِي قَرْيَةٍ، فَقَدْ أَحَلُّوا بِأَنْفُسِهِمْ عَذَابَ اللهِ

“Apabila zina dan riba telah nampak di suatu negeri, maka sungguh penduduk negeri itu telah menghalalkan azab Allah bagi diri-diri mereka.” [HR. Al-Hakim dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu’anhuma, Shahihut Targhib: 2401]

5. MUBAZIR, MEMBELANJAKAN HARTA UNTUK KESIA-SIAAN BAHKAN KEMAKSIATAN

Allah ta’ala berfirman,

وَلَا تُبَذِّرْ تَبْذِيرًا, إِنَّ الْمُبَذِّرِينَ كَانُوا إِخْوَانَ الشَّيَاطِينِ وَكَانَ الشَّيْطَانُ لِرَبِّهِ كَفُورًا

“Janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros. Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara setan, dan setan itu adalah sangat ingkar kepada Rabb-nya.” [Al-Isra: 26-27]

14/02/2020

TIDAK ADA RUGINYA

Oleh Ustadz Abdullah Zaen,Lc MA

Mungkin banyak di antara kita pernah lama berdoa meminta sesuatu kepada Allah, namun belum juga dikabulkan. Dalam menghadapi kondisi tersebut, setiap kita mungkin sikapnya berbeda-beda. Orang pertama pantang menyerah, tetap saja berdoa, hingga dikabulkan Allah atau kedahuluan dijemput ajal. Orang kedua memilih untuk putus asa, lalu tidak lagi berdoa. Dan orang ketiga mulai bersu’uzhan kepada Allah. Ia berkata, “Kayaknya Allah sudah tidak peduli lagi dengan diriku!”.

Orang kedua dan ketiga bisa bersikap demikian, kemungkinan besar karena mereka belum begitu mengenal siapa Allah. Kurang menyadari luasnya rahmat dan karunia Allah. Padahal dalam kondisi apapun, orang yang berdoa itu tidak akan rugi. Entah doanya dikabulkan atau tidak.

Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam menjelaskan,

“مَا مِنْ مُسْلِمٍ يَدْعُو بِدَعْوَةٍ لَيْسَ فِيهَا إِثْمٌ، وَلَا قَطِيعَةُ رَحِمٍ، إِلَّا أَعْطَاهُ اللهُ بِهَا إِحْدَى ثَلَاثٍ: إِمَّا أَنْ تُعَجَّلَ لَهُ دَعْوَتُهُ، وَإِمَّا أَنْ يَدَّخِرَهَا لَهُ فِي الْآخِرَةِ، وَإِمَّا أَنْ يَصْرِفَ عَنْهُ مِنَ السُّوءِ مِثْلَهَا” قَالُوا: “إِذًا نُكْثِرُ”، قَالَ: “اللهُ أَكْثَرُ”

“Setiap muslim yang berdoa dan doanya tidak bermuatan dosa ataupun memutus silaturrahim; pasti Allah akan karuniakan padanya salah satu dari tiga hal.

Akan segera dikabulkan doanya. Atau; Akan ditabung sebagai pahala di akhirat. Atau; Akan dihindarkan dari marabahaya yang sepadan dengan isi doanya.

Para sahabatpun berkomentar, “Jika demikian, kami akan perbanyak berdoa!”. Beliau menimpali, “Allah itu lebih banyak lagi (karunianya)”. HR. Ahmad dari Abu Sa’id al-Khudry radhiyallahu ’anhu dan dinilai sahih oleh al-Albany.

Jadi, setiap doa yang benar yang dipanjatkan oleh seorang mukmin itu pasti dikabulkan oleh Allah Ta’ala. Sebab itulah isi janji-Nya. Tidak mungkin Dia ingkar janji. Dalam sebuah ayat al-Qur’an telah ditegaskan,

“وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ”

Artinya: “Rabb kalian telah berfirman, “Berdoalah kepada-Ku; niscaya akan Aku kabulkan”. QS. Ghafir (40): 60.

Hanya saja, proses pengabulan doa masing-masing orang itu tidak sama.

Ada yang langsung dikabulkan permintaannya, mirip seperti isi doanya.

Ada yang dikabulkan permintaannya sesuai dengan apa yang ia minta, namun setelah waktu yang cukup lama. Karena suatu hikmah yang dikehendaki Allah Ta’ala.

Ada yang dikabulkan doanya, namun sedikit berbeda dengan isi permintaannya. Sebab Allah mengetahui, bahwa apa yang diminta orang tersebut kurang baik untuk dirinya.

Ada p**a yang belum dikabulkan doanya di dunia. Sampai ia meninggal, apa yang ia minta tidak juga dikabulkan Allah Ta’ala. Namun ternyata Allah menjadikan doa-doanya itu sebagai pahala yang akan ia nikmati kelak di hari kiamat.

Jadi, orang yang berdoa, apapun kondisi yang dialaminya, tidak akan pernah merugi. Jadi mengapa ada di antara kita yang masih bermalas-malasan untuk berdoa?

http://www.salamdakwah.com/artikel/3076-tidak-ada-ruginya

13/02/2020

MENDEKAT KEPADA ALLAH

Al-Imam Ibnul Qayyim rahimahullah berkata,

إذا استغنى الناسُ بالدُّنيا فاستغنِ أنت بالله

Ketika orang-orang merasa cukup dengan dunia, hendaknya engkau merasa cukup dengan Allah.

وإذا فرحوا بالدُّنيا فافرح أنت بالله

Ketika mereka bergembira dengan dunia, hendaknya engkau bergembira dengan Allah.

وإذا أَنِسُوا بأحبابهم فاجعلْ أنسَك بالله

Ketika mereka merasa tenteram dengan orang-orang yang mereka cintai, hendaknya engkau jadikan ketenteramanmu bersama Allah.

وإذا تعرَّفوا إلى ملوكهم وكبرائهم وتقربوا إليهم لينالوا بهم العزَّ والرفعة؛ فتعرَّفْ أنت إلى الله وتودَّدْ إليه؛ تنالُ بذلك غاية العز والرفعة

Ketika mereka berusaha mendekat kepada para raja dan pembesar mereka agar mendapat kedudukan dan kemuliaan, hendaknya engkau berusaha mengenal dan mendekat kepada Allah, niscaya engkau akan mendapat puncak kedudukan dan kemuliaan.

Al-Fawaid, hlm. 170

12/02/2020

JANGAN PERNAH BOSAN TUK MENGUCAP SALAM PADA TIAP MUSLIM

Gemar mengucapkan salam pada tiap muslim yang kita jumpai termasuk amalan yang bisa menghapuskan dosa dosa. Nabi Muhammad ﷺ bersabda,

إن من موجبات المغفرة بذل السلام وحسن الكلام

"Sesungguhnya termasuk amalan yang pasti mendatangkan ampunan ialah menyebarkan salam dan berucap dengan ucapan santun." -SHAHIH- (Ash-Shahihah, 1035) HR. Al-Khoro'ithi dalam Makarimul Akhlak, hlm. 23

Bersama dengan ringannya amalan ini, manfaat menyebarkan salam juga sangat besar dan banyak. Oleh sebab itu, ulama mengkategorikan perbuatan tidak mengucapkan salam sebagai hal yang sangat buruk. Al-Allamah al-Munawi menyatakan,

والإمساك عنه من أخبث الأفعال الرديئة والخصال المؤدية إلى الضرر والأذية

"Tidak mengucapkan salam termasuk sejelek-jelek perbuatan buruk dan perilaku yang bisa mengantarkan pada mudarat dan ketidaknyamanan." (Faidhul Qadir, III/198)

Ketika menjelaskan kitab Riyadhus Shalihin, Asy-Syaikh Al-Utsaimin menyampaikan suatu nasihat,

"Tidak pantas seseorang merasa bosan karena banyak mengucapkan salam. Seandainya antara tempatmu dan masjid kamu bertemu 100 orang maka ucapkanlah salam. Jika kamu mengucapkan salam pada 100 orang maka kamu mendapatkan pahala 1000 kebaikan. Ini nikmat yang besar!" (Syarah Riyadhus Shalihin, IV/396)

-- Jalur Masjid Agung @ Kota Raja
-- Hari Ahadi [Penggalan Penjelasan hadits 6 Hak Muslim atas Saudaranya]

Want your school to be the top-listed School/college in South Jakarta ?

Click here to claim your Sponsored Listing.

Location

Category

Address


CIPEDAK
South Jakarta
12630