16/08/2026
Gempa dimana mana, suara aceh merdeka dan Papua merdeka kembali memekik telinga. Mungkin inilah buah dari ketidak adilan para pengemban amanah, mereka banyak berkhianat dan sudah tidak lagi takut akan dosa. Kini Sunamipun siap menyapa. Negeri ini sudah terlalu jauh dari apa yang Tuhan kehendaki untuk semesta.
Ada rasa sesak ketika melihat bencana, ketidakadilan, konflik, dan suara-suara perlawanan muncul bersamaan. Tetapi mungkin kita perlu berhati-hati agar tidak langsung memastikan bahwa setiap gempa atau tsunami adalah hukuman Allah atas suatu bangsa. Kita tidak mengetahui perkara gaib seperti itu.
Al-Qur'an justru mengajarkan kita melihat musibah dengan dua sisi: ujian dan peringatan. Allah berfirman:
“Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, agar Allah merasakan kepada mereka sebagian dari akibat perbuatan mereka, supaya mereka kembali.”
(QS. Ar-Rum: 41)
Ayat ini sangat dalam. Tujuan akhirnya bukan sekadar menghukum, tetapi “la'allahum yarji'un” — agar mereka kembali.
Dan tentang para pemegang amanah, kegelisahan ini juga memiliki dasar yang kuat.
Allah memperingatkan:
“Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya dan apabila kamu menetapkan hukum di antara manusia hendaklah kamu menetapkan dengan adil.”
(QS. An-Nisa: 58)
Maka ketika amanah berubah menjadi kesempatan memperkaya diri, kekuasaan menjadi alat menindas, hukum kehilangan keadilan, dan dosa tidak lagi membuat hati takut—yang rusak bukan hanya sistemnya, tetapi jiwa manusia yang berada di dalam sistem itu.
Namun justru di tengah keadaan seperti ini, menurutku tugas orang-orang yang masih peduli bukan memperbesar kebencian. Tugasnya adalah menjaga agar kebenaran tetap hidup.
Jangan sampai kita melihat ketidakadilan lalu ikut menjadi zalim.
Jangan sampai melihat pengkhianatan lalu kita kehilangan amanah.
Jangan sampai melihat kebencian lalu kita membenci manusia tanpa batas.
Dan jangan sampai bencana membuat kita sibuk menunjuk siapa yang pantas disalahkan, sementara kita lupa bertanya:
“Apa yang harus aku perbaiki dari diriku dan lingkungan yang berada dalam tanggung jawabku?”
Mungkin inilah makna dakwah yang jauh lebih berat: memperbaiki manusia sebelum kerusakan menjadi budaya.
Dan tentang Aceh, Papua, atau daerah mana pun yang sedang bergejolak, suara mereka juga perlu didengar dengan kepala dingin. Ketidakadilan harus dilawan dengan keadilan, bukan dibalas dengan ketidakadilan baru. Sebab sebuah negeri tidak akan menjadi baik hanya karena benderanya berubah; ia menjadi baik ketika manusianya kembali takut kepada Allah dan para pemegang amanah kembali merasa bahwa setiap keputusan akan dipertanggungjawabkan di hadapan-Nya.
Barangkali yang paling mengerikan bukan ketika bumi berguncang.
Yang paling mengerikan adalah ketika hati manusia sudah tidak lagi berguncang ketika berbuat dosa.