28/01/2020
Tema: Adab Poros Pendidikan
Kelas: 5A Al-Fajr
Guru: Asep Kurniawan, S.Pd
Bismillah… Semangat Berkarya!!!
A. Apersepsi
Mendidik tak sekedar melakukan aktivitas transfer ilmu dari guru ke murid. Sekolah tak sekedar gudang ilmu dengan sederet konsep teoritis. Siswa bukanlah robot yang bisa diinstall dan bekerja berdasarkan sistem yang diinstall ke dalam benak. Lebih dari itu, siswa adalah manusia yang yang semsetinya diperlakukan secara manusiawi. Sehingga pendidikan seharusnya mampu mencetak generasi terbaik yang akan mengelola alam semesta dengan baik, bukan sekedar pabrik pencetak ijazah. Outputnya pun bukan sekedar manusia-manusia robot yang kemudian akan menjadi hamba dunia yang berderet berjejer dalam antrian kapitalisme global yang hidupnya diabdikan untuk materi.
Siswa adalah bakal calon makhluk mulia yang telah diberikan potensi akal oleh sang pencipta. Oleh karenanya, penanaman nilai-nilai adab sejak dini hingga meresap ke dalam kalbunya dan terintegrasi dalam kehidupannya sehingga menjadi mahkota perbuatannya.
B. Proses Pembelajaran
Menanamkan pembelajran dan nilai-nilai adab kepada anak tidaklah semudah membalikan telapak tangan. Butuh pengorbanan, kerja keras, kontinuitas, dan kesabaran dalam melakukannya. Karena yang kita hadapi adalah manusia yang harus diperlakukan secara manusiawi, bukan robot yang hanya tinggal diinstall sejumlah program untuk bekerja.
Adab semestinya menjadi poros dalam pendidikan sehingga menjadi sokoguru dalam pembelajaran dan pusat berputarnya seluruh materi pembelajaran.
Saat saya membahas materi pembelajaran IPA lalu saya selalu mengaitkannya dengan nilai-nilai ruhiyah dan adab dalam praktek kehidupan, anak-anak spontan bertannya, “Pak, belajar IPA kok kayak belajar PAI?”
Saya hanya dapat tersenyum mendengar pertanyaan polos dari anak-anak di kelas. Lalu saya jawab secara sederhana, “Nak, setiap perbuatan kita harus terikat dengan aturan dari sang pencipta, sehingga saat belajar apapun harus berada dalam koridor aturan Sang Maha Pencipta agar ilmu yang kita peroleh bermanfaat kelak bagi masyarakat serta tidak dijadikan ala tuntuk merusak masyarakat”.
Maka, dalam proses pembelajaran materi apapun, urgen bagi kita untuk selalu mengaitkan nilai-nilai ruhiyah dan adab agar ilmu yang diperoleh oleh siswa menjadi berkah dan dapat menjadi bekal untuk selalu dekat dengan Penciptanya, menjadi landasan untuk menjaga alam semesta, dan dapat menebar kemanfaatan di tengah-tengah masyarakat.
Dengan demikian, harapan untuk mencetak generasi terbaik (generasi khairu ummah) dpat terwujud.
Hal lain yang tidak kalah pentingnya adalah teladan dari kita selaku pengajar dan pendidik. Suri teladan yang baik dari seorang pendidik kepada peserta didiknya amatlah penting dan berpengaruh dalam pembentukan karakter peserta didiknya. Anak-anak akan melakukan imitasi (pola meniru) dari gurunya. Maka sudakh selayaknya apa yang disampaikan dan dinasehatkan oleh guru sejalan dengan apa yang dilakukan dan diperbuat oleh guru. Jangan sampai apa yang diperbuat oleh seorang guru malah menjadi bumerang terhadap nasehat yang pernah disampaikan.
Alhasil, mari kita jadikan adab sebagai poros dalam pendidikan. Melakukan upaya pengaitan setiap materi pembelajaran dengan nilai-nilai ruhiyah dan adab secara kontinu.
C. Penutup
Semoga catatan pembelajaran ini bermanfaat bagi para pembaca yang budiman.
Akhir kata saya sampaikan, berbahagialah menjadi seorang guru...