30/03/2018
Pertanyakan Diri dan Mantapkan Tujuan Dulu Sebelum Kuliah
Oleh Edi Subkhan*
Pertengahan tahun bagi anak-anak lulusan Sekolah Menengah Atas (SMA), Madrasah Aliyah (MA), Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) dan sejenisnya selalu menjadi masa-masa yang mendebarkan. Karena setelah dinyatakan lulus Ujian Nasional (UN) mereka harus menentukan untuk melangkah ke mana: apakah studi lanjut di perguruan tinggi, bekerja, atau menikah saja?
Inilah masa-masa galau bagi mereka, karena walaupun sejak kecil (usia-usia Batita, Balita, PAUD, dan TK) mereka sudah sering ditanya oleh guru mengenai cita-citanya, namun makin dewasa tampaknya justru mereka makin ragu akan jawabannya dulu. Entah karena realistis atau makin paham bahwa menggapai masa depan tidak sesederhana pemahaman mereka dulu ketika masih unyu-unyu. Ironisnya, bahkan ketika sudah duduk di bangku kuliahpun dengan status sebagai mahasiswa mereka masih saja galau mengenai masa depan mau jadi apa. Bukankah ini aneh?
Ya, aneh, karena bukankah mereka sudah berada pada Program Studi tertentu yang mereka pilih? Logikanya, ketika mereka sudah memilih untuk kuliah mestinya mereka tahu akan jadi apa nantinya dan sadar harus berbuat apa untuk mencapai. Namun pada kenyataannya sebagian besar mahasiswa berada pada kondisi galau akut stadium empat. Sebagian mengambil jalan pindah Program Studi yang dirasa lebih menjanjikan masa depan, atau setidaknya dirasa lebih sesuai kata hati. Sebagian yang lain pasrah dan kuliah ala kadarnya saja.
Sebagai dosen yang mengampu beberapa perkuliahan dengan tugas pada mahasiswa berupa menulis paper, makalah, observasi, penelitian kecil-kecilan, dan presentasi atau diskusi di depan kelas dari tahun 2011 sampai 2015 sekarang saya melihat teramat banyak mahasiswa yang tidak punya gairah belajar tinggi. Hal tersebut bisa dilihat dari karya makalah, paper, laporan observasi dan/atau penelitian kecil-kecilan yang ala kadarnya saja.
Sivitas Akademika yang Tidak Berbakat dan Berminat Menjadi Akademisi
Artinya tidak dibuat serius mengikuti kaidah tata tulis ilmiah yang benar, banyak referensi dari internet yang patut diragukan validitas dan akurasi datanya, bahkan cenderung copy-paste dan plagiasi, tata letak (lay out) tidak diperhatikan (ukuran huruf, kerapatan, dan sejenisnya berantakan), salah menulis kutipan dan daftar pustaka (ada yang menulis Google sebagai daftar pustaka). Selain itu laporan dari tugas berjenis observasi dan riset kecil-kecilan hanya beberapa lembar yang tidak lengkap data dan informasinya, tidak ada analisis, tidak sistematis, tidak rapi tata letaknya, dan tidak diperhatikan tata tulisnya.
Banyak juga mahasiswa yang pada jadwal presentasi ternyata tidak siap. Atau bahkan belum mengerjakan tugas presentasi. Ada p**a yang baru mengerjakan di kampus beberapa menit jelang presentasi. Hingga dapat ditebak presentasi mereka sekadar membaca saja, bukan presentasi sebenarnya yang mampu menarik perhatian audiens. Menghadapi peristiwa tersebut saya sering bertanya pada diri sendiri: mereka sebenarnya kurang paham dengan materi atau malas? Kalau kurang paham kenapa tidak bertanya di kelas atau di grup diskusi facebook yang sudah saya buatkan sebagai ruang diskusi online?
Berdasarkan pada pengakuan dosa dari beberapa mahasiswa, ternyata mereka melakukan hal-hal tersebut (tidak serius mengerjakan tugas, sering telat, tidak maksimal presentasi) karena beberapa hal, antara lain:
Belum paham materi (dan tidak berani/malu bertanya);
Malas mencari referensi dan menulis;
Tidak bisa dan tidak minat membaca dan menulis;
Merasa tugas yang diberikan tidak penting;
Merasa yang penting mendapat nilai dari dosen;
Mengapa hal tersebut bisa terjadi? Padahal kampus/perguruan tinggi tempat saya bekerja diberi nama resmi sebagai Universitas dan mahasiswanya disebut sebagai sivitas akademika. Bukankah sudah seharusnya mahasiswa yang disebut sebagai sivitas akademika tadi harus s**a membaca, cinta pada buku, termotivasi untuk menulis, mengembangkan ilmu pengetahuan?
Karena sejatinya universitas adalah tempat pengembangan ilmu pengetahuan dan mahasiswa (terutama mahasiswa S1) dididik untuk menjadi akademisi, bukan praktisi. Dengan demikian mahasiswa harus belajar filsafat ilmu, teori-teori, konsep, bergelut dengan buku-buku babon referensi, jurnal-jurnal ilmiah akademik. Jadi, wajib hukumnya mencintai buku, menulis, dan melakukan penelitian. Oleh karena itu aneh jika mahasiswa S1 sebuah universitas menyatakan diri tidak s**a membaca, malas menulis, apalagi meneliti.
Penyakit malas, tidak bisa menulis, dan tidak s**a membaca pada mahasiswa S1 patut dicurigai. Jangan-jangan mereka sebenarnya tidak punya niat, bakat, dan kemampuan untuk menjadi akademisi—sebagaimana dituntut dari mahasiswa S1. Jangan-jangan mereka lebih berbakat dan punya kemampuan teknis ketimbang akademis. Bisa jadi mereka sebenarnya lebih s**a pada dunia seni, olah raga, atau hal-hal teknis lain. Lalu mengapa mereka mendaftar dan akhirnya menjadi mahasiswa S1 sebuah universitas?
Ada banyak jawaban, terutama berkaitan dengan cara pandang masyarakat bahwa kalau mau studi lanjut dan sukses dalam hidup ya harus kuliah S1 di universitas. Terlebih lagi di universitas negeri (public university) yang kalau di Indonesia dilihat lebih prestise ketimbang kampus swasta (private university). Hal yang dipahami adalah: makin tinggi pendidikan makin baik peluang untuk mendapatkan pekerjaan, dan S1 di mata awam jelas lebih prestise dibanding jenis pendidikan lain.
Jangan Paksa Belajar Hal yang Tidak Anda Sukai dan Mampu
Artinya, mereka mengabaikan suara hati dan otentisitas kedirian mereka demi ikut dalam gerbong orang-orang yang menggantungkan masa depannya pada selembar ijazah S1. Kebiasaan inilah yang mestinya dihentikan. Mengapa? Karena kalau memaksakan diri untuk kuliah S1, maka yang terjadi mereka akan berpotensi besar tidak niat, tidak serius belajar, malas-malasan, mengerjakan tugas asal-asalan, dan secara alami akan lebih termotivasi melakukan hal-hal yang dia senangi dan merasa berbakat di bidang tersebut.
Oleh karena itu, ada beberapa hal yang perlu dilakukan sebelum memutuskan untuk studi lanjut.
Kenali dulu bakat dan minat diri, refleksikan kira-kira hal-hal apa yang dirasa menyenangkan dan mendatangkan rasa puas ketika melakukannya. Apakah s**a membaca, menulis, s**a ilmu pengetahuan, sains, atau cerita-cerita, novel, atau musik, tari, olah raga, atau tertarik pada perangkat-perangkat elektronik, atau apa?
Identifikasi cita-cita hidup yang diimajinasikan, apakah rasanya menyenangkan dan membanggakan seandainya jadi guru, pemain sepak bola, penyanyi, cerpen*s, novelis, filsuf, ustadz, selebritis, atau apa? Kombinasikan cita-cita hidup Anda dengan cita-cita yang lebih besar, misalnya mengubah kondisi masyarakat, komunitas, bangsa, ekonomi rakyat, dan lainnya.
Berkaitan dengan studi lanjut, dengan demikian kategorisasikan apakah diri Anda berbakat dan berminat pada bidang akademik atau non-akademik? Mau jadi akademisi melalui belajar di S1 atau praktisi?
Berdasarkan pada identifikasi diri dan lingkungan itulah seharusnya Anda memilih jenis studi lanjut. Jadi bukan berdasarkan pada asal/yang penting S1 dan universitasnya berstatus negeri, atau asal dapat beasiswa.
Nah, jika Anda menemukan diri Anda lebih nyaman dan puas serta bangga menjadi guru, maka mendaftarlah di kampus kependidikan seperti Unnes, UNY, UNJ, dan sejenisnya. Jangan lupa Anda merasa berbakat dan puas serta bangga menjadi guru PAUD, matematika, bahasa Indonesia, olah raga, atau apa. Jika Anda merasa lebih senang dan akan bangga jika menjadi penulis, maka daftarlah di kampus yang akan mengantarkan Anda menjadi penulis besar.
Banyak Jalan/Jalur Pendidikan untuk Sukses
Jika Anda merasa lebih bangga, senang, nyaman, dan cinta menjadi penulis fiksi, maka sebenarnya ada jalan lain yang akan lebih mengantarkan pada kesuksesan. Yaitu magang pada komunitas belajar fiksi, atau magang pada penulis yang sudah sukses besar. Cara ini lebih tepat dibandingkan masuk kuliah S1 yang mengharuskan belajar teori-teori lebih banyak keitmbang praktik menghasilkan karya sastra berkualitas. Atau Anda ingin menjadi penyanyi sukses, ikut saja sekolah menyanyi. Atau ingin menjadi artis, ikut saja kelas akting, komunitas teater, dan sejenisnya.
Dengan begitu Anda akan mengluarkan energi minimal dengan hasil maksimal. Tidak dibebani tugas-tugas akademik yang bagi para orang yang berbakat non-akademik sangat membosankan dan tidak ada gunanya. Oleh karenanya, kalau Anda ingin menjadi sastrawan besar seperti Chairil Anwar, Rendra, Emha Ainun Nadjib, Triyanto Triwikromo, dan lainnya jalur yang tepat bukan studi S1, melainkan ikut magang di komunitas-komunitas sastra. Para sastrawan tersebut adalah contoh riil bagaimana mereka menjadi besar bukan karena kuliah S1 atau bahkan berprestasi S1. Mereka besar karena serius belajar magang di komunitas-komunitas sastra dan budaya.
Atau Anda ingin seperti Crisye, Bob Tutupoli, Broery Marantika, Rhoma Irama, Agnes Monica, Afgan, Noe Letto, dan lainnya. Maka jalur yang tepat untuk meraihnya bukan dengan masuk studi S1, melainkan belajar di sekolah, kursus, atau komunitas-komunitas seni suara. Seandainya mereka mengejar hasrat semua berprestasi di bidang-bidang akademik yang sekarang menjadi “raja” di kurikulum pendidikan dasar dan menengah, bisa jadi mereka tidak akan punya nama besar dalam belantika musik Indonesia. Mereka sukses bukan karena studi S1 yang karakternya akademik, melainkan karena intensif belajar dan berjuang di dunia musik, bukan akademik.
Nah, itulah yang perlu diperhatikan oleh kita. Universitas bukan jalan satu-satunya untuk sukses, universitas lebih cocok menjadi jalan bagi orang-orang yang berbakat dan minat di bidang akademik. Sedangkan banyak jenis dan jalur pendidikan lain yang lebih fleksibel cocok untuk orang-orang yang berbakat dan minat di bidang non-akademik. Di sinilah yang perlu dilakukan adalah melawan stigma bahwa non-akademik dan orang-orang yang tidak kulaih S1 akademik tidak kalah mulia derajatnya dibanding mereka yang kuliah S1 akademik.
Coba sekarang pertanyakan diri: apakah kita betul-betul merasa nyaman, bangga, dan puas dengan aktivitas studi S1 di universitas, atau justru merasa berat, tidak nyaman, dan tersiksa?