IInstitute for Research and Empowerment (IRE) adalah sebuah lembaga independen dan non partisan berbasis pada komunitas akademik yang berdiri di Yogyakarta
Institute for Research and Empowerment (IRE) adalah sebuah lembaga independen dan non partisan berbasis pada komunitas akademik yang berdiri di Yogyakarta pada tahun 1994. Fokus kegiatan IRE adalah memperluas dan memperdalam demokrasi melalui penguatan gagasan dan sikap kritis elemen masyarakat sipil, Negara da swasta. Topik penelitian IRE terkini dikembangkan melalui tiga klaster, yaitu; deepenin
g democracy, governance and policy reform, serta community development and empowerment, dengan memperkuat isu lintas klaster yang meliputi poverty aleviation dan village reform." Latar Belakang
Institute for Research and Empowerment (IRE) berdiri di Yogyakarta pada tanggal 02 Juni l994. Pendirian lembaga ini berangkat dari sebuah respons terhadap hilangnya otonomi dan daya kritis masyarakat dalam menghadapi berbagai bentuk konstruksi sosial politik yang respresif dan diskriminatif, yang berasal dari rezim global, negara, pasar, maupun konteks sosio-kultural yang berakar dalam masyarakat. Masyarakat sangat tidak berdaya (powerless) ketika berhadapan dengan struktur sosial politik dan kultur yang melingkupinya. Ketidakberdayaan masyarakat lokal karena kontrol dan dominasi melalui sarana-sarana represif negara di tangan birokrasi dan militer. Lewat pasar, negara melakukan monopoli dan eksploitasi yang menimbulkan masyarakat dalam posisi marginal. Meskipun negara tampil dominan dan hegemonik, tetapi dikelola secara tidak transparan dan tidak bertanggungjawab, bahkan digerogoti oleh praktik-praktik perampasan dan korupsi yang merajalela. Dalam konteks ini yang terjadi adalah negara yang lembek (soft state), yakni negara yang miskin kapasitas dalam mengawal transformasi ekonomi, redistribusi sosial dan mengelola konflik antar aktor sosial dalam masyarakat. Di sisi lain masyarakat dalam posisi marginal karena dampak dari imperialisme rezim global melalui media pasar. Rezim global menimbulkan ketergantungan masyarakat melalui media negara. Bahkan rezim global melancarkan homogenisasi dan regimentasi budaya melalui media sosio-kultural yang menyebabkan alienasi dan isolasi masyarakat. Dalam konteks sosio-kultural, dimana masyarakat hidup sehari-hari, juga terjadi diskriminasi melalui instrumen agama, etnis, gender, umur, ras, dan sebagainya, sehingga menimbulkan uncivility. Era transisi demokrasi pasca tumbangnya Orde Baru membuka harapan baru bagi masyarakat Indonesia, sekaligus juga tantangan. Restriksi negara mulai mengendor, tetapi euforia di era transisi justru diikuti dengan merebaknya kekerasan horizontal dalam konteks sosio-kultural masyarakat. Orang bisa melihat merebaknya kekerasan horizontal di berbagai daerah atau munculnya “tirani mayoritas” yang berbasis pada agama, etnis, ras, dan sebagainya. Di tempat lain, masyarakat lokal juga belum bisa lepas dari tekanan rezim internasional yang melewati media pasar dan konteks sosio-kultural. Ketidakberdayaan masyarakat lokal itulah yang sampai saat ini tetap menjadi “justifikasi sosial” bagi IRE untuk tetap eksis di tengah-tengah masyarakat. Melalui upaya-upaya pemberdayaan IRE tetap berkiprah untuk memberikan sumbangsih bagi terwujudnya kemandirian dan democratic civility masyarakat lokal.
23/06/2024
BUM DESA SERIES | Vol. 1
"PENGEMBANGAN USAHA BUM DESA LESTARI"
Yuk, kita belajar bareng mengenai
Chapter kali ini, kita akan mengulas beberapa catatan-catatan penting mengenai 'Pengembangan Usaha BUMDesa Berbasis Aset dan Potensi Desa'.
Like, Comment and Share.
*Gambar postingan ini dapat disebarluaskan untuk kemanfaatan seluas-luasnya.
02/06/2024
Genap 30 Tahun IRE Bergerak dan Berkarya. Terimakasih atas segala doa dan dukungan mitra dan jejaring. Bersiap menuju transformasi aksi yang lebih berdampak dan berkelanjutan.
09/04/2024
Selamat Idul Fitri 1 syawal 1445 Hijriyah. Ramadhan telah usai, namun proses pembelajaran membangun empati, kepedulian dan solidaritas harus terus dihidupkan. Mohon maaf lahir dan bathin 😇
28/03/2024
Yang Muda yang Ber-BUM Desa: Bergerak dan Saling Menggerakan!
03/02/2024
Praktik-praktik kecurangan telah menodai Pemilu kita hingga hari ini. Akal-akalan hukum di MK, keberpihakan kepala negara, menteri, hingga kepala daerah, politisasi Bansos, kekerasan serta intimidasi oleh aparat negara. Presiden dengan instrumen kekuasaannya telah jelas-jelas mengingkari demokrasi dan mengangkangi konstitusi sehingga jauh dari etika seorang negarawan.
Saatnya masyarakat kritis untuk tidak memilih pasangan calon yang terlibat dalam kasus pelanggaran HAM, menodai konstitusi, dan melakukan berbagai praktik kecurangan dalam Pemilu ini.
24/01/2024
Pelatihan dan asistensi untuk BUM Desa ini merupakan bagian dari program SIGAP (Aksi Inspiratif Warga untuk Perubahan) di 17 desa yang berada di Lanskap Kayan, Kabupaten Bulungan. Pendekatan SIGAP menempatkan penerima manfaat program yaitu Pemerintah Daerah, Pemerintah Desa dan BUM Desa sebagai mitra sekaligus aktor perubahan yang memiliki mimpi atau visi perubahan yang dirancang secara partisipatif. Termasuk dalam konteks Pengembangan Ekonomi Lokal yang Inklusif, Demokratis dan Lestari.
21/01/2024
11/11/2023
Desa Membangun dengan Semangat Tenguyun 🌿
07/11/2023
Studi kolaboratif penyusunan Dokumen RPKP bersama DPMD kabupaten Kutai Karganegara. 🙌
07/11/2023
Studi kolaboratif untuk penyusunan dokumen Rencana Pembangunan Kawasan Perdesaan (RPKP) Kabupaten Kutai Kartanegara.
04/11/2023
IRE Yogyakarta mengucapkan: Selamat atas Peresmian "Balai Suluh Ngagesang" Gazebo kolaborasi UGM dengan Perhutani. Semoga dapat menjadi ruang produktif yang mendorong lahirnya diskursus-diskursus sosial untuk memperkuat isu desa dan pembangunan kawasan perdesaan yang mewujudkan kemandirian desa.
23/09/2023
Pembangunan Kabupaten Bulungan tidak lepas dari pengaruh desa yang memiliki peran kuat dalam mendukung daerah dan sebaliknya. Sebanyak 74 desa dengan sumber daya yang dimiliki, terutama SDA dan SDM diharapkan dapat memperkuat pertumbuhan ekonomi daerah dan sebaliknya, daerah melalui kebijakan, program dan anggaran juga berkontribusi terhadap pembangunan desa dan kawasan perdesaan.
Pengelolaan sumber daya lokal dengan menjadikan desa sebagai arena dan subjek penting, tampak kuat dalam desain kebijakan pembangunan di Kabupaten Bulungan. Kebijakan inilah yang penting untuk ditindaklanjuti dalam seperangkat kebijakan turunan yang lebih implementatif sehingga seluruh mitra pembangunan daerah memiliki roadmap yang jelas dalam merancang kebijakan dan program di tingkat kelembagaan dengan tetap memperhatikan nilai, prinsip dan komitmen pembangunan daerah.
Want your school to be the top-listed School/college in Sleman?