Mohammad Fauzil Adhim

Mohammad Fauzil Adhim

Share

Orang biasa yang masih harus banyak belajar, pegiat Komunitas Psikologi Mengaji, menulis beberapa buku sederhana untuk para pendidik dan orangtua.

Penulis buku-buku parenting, mengkaji tentang remaja dalam psikologi dan Islam, menekuni kajian tentang fithrah menurut Islam.

Photos from Mohammad Fauzil Adhim's post 10/06/2026

Banyak kepala sekolah menjadi bingung karena kata reinforcement sering langsung diterjemahkan sebagai: hadiah, pujian, penghargaan, bonus, sertifikat, guru teladan.

Padahal dalam teori perilaku, organisasi, maupun manajemen perubahan budaya, reinforcement tidak identik dengan hadiah. Ini kesalahpahaman yang sangat umum. Bahkan dalam konteks profesionalisme guru, ada perilaku-perilaku yang memang tidak tepat jika terus-menerus diberi hadiah.

Lalu, apa itu reinforcement yang sesungguhnya? Dalam konteks perubahan budaya sekolah, reinforcement adalah segala tindakan yang membuat perilaku yang diinginkan menjadi lebih mungkin untuk terus terjadi.

Jadi, tidak identik dengan hadiah, bonus, apresiasi, penghargaan.

Tanpa hadiah, bagaimana disebut reinforcement? Contohnya begini. Saya pernah memberikan training 4 kali sebulan di sebuah sekolah. Training berlangsung jam 06:30 - 17:00. Jam 06:30 tepat training dimulai meskipun yang hadir baru 30%. Ini merupakan reinforcement kepada yang sudah hadir tepat waktu. Tanpa hadiah, mereka memperoleh penguatan.

Rapat dijadwalkan pukul 07.00. Tetapi baru mulai pukul 07.20. Mengapa? Menunggu guru yang terlambat. Artinya, sekolah sedang memberikan reinforcement kepada keterlambatan.

Pesan budayanya: "Tidak apa-apa terlambat. Nanti juga ditunggu." Hari ini rapat terlambat 20 menit, 6 bulan lagi minimal terlambat 50 menit. Budaya sekolah rusak karena keterlambatan mendapatkan reinforcement dari sekolah.

Ada yang punya catatan lain dari acara Kelas Parenting Online (KePOiN) Pro-U tadi malam? Bagian mana yang perlu dikuatkan dalam bentuk materi tertulis? Ada komentar? Silakan tulis.

Ada usulan tema bulan depan?

10/06/2026

Hidup yang tidak otentik itu memberatkan. Bahkan seandainya tidak ada masalah secara ekonomi, hidup tidak otentik melelahkan jiwa sehingga ibu-ibu jadi rentan secara mental. Bukan karena beratnya keadaan, tetapi karena dirinya yang bermasalah.

Maka menata diri itu penting. Menata orientasi hidup itu sangat mendasar. Saat orang hendak menikah, menjalani kehidupan berumah-tangga, atau mendidik anak, apa yang menggerakkan di tiap-tiap Langkah? Demi sesuatu yang mendatangkan tepuk tangan atau kebaikan yang sesungguhnya.

Selengkapnya, in sya Allah kita bincang pagi ini jam 09:30 di link:

https://youtube.com/live/mzIgJBxWJnE?feature=share

Photos from Mohammad Fauzil Adhim's post 09/06/2026

Ada yang berbeda di acara KePOiN tadi malam, saat membincang tema Bergerak untuk Berubah. Perubahan kecil, mudah-mudahan bermanfaat bagi para peserta.

Jika biasanya setiap membicarakan satu topik mengacu pada banyak buku, tadi malam saya mencoba mengambil langkah berbeda. Satu topik, saya bahas dengan mengacu pada satu buku utama. Jadi dari berbagai literatur, saya memilih yang menurut saya paling menjawab persoalan, mudah dicerna dan lebih mudah didapatkan.

Menurut Anda, mana yang lebih baik? Ada masukan? Untuk KePOin bulan berikutnya, tema apa yang sebaiknya kita bahas?

Photos from Mohammad Fauzil Adhim's post 07/06/2026

Kadang yang paling diperlukan oleh seorang istri adalah telinga yang mendengarkan sepenuh hati. Bukan kata-kata indah yang memukau seperti deklamasi.

Begitu p**a dengan anak-anak remaja kita.

Ada ungkapan yang perlu kita renungkan:

ٱلنَّاسُ لَيْسُوا بِحَاجَةٍ لِلنُّصْحِ دَائِمًا، فَأَحْيَانًا كُلُّ مَا يَحْتَاجُونَهُ هُوَ يَدٌ تُمْسِكُ بِهِمْ، وَأُذُنٌ تَسْتَمِعُ لَهُمْ، وَقَلْبٌ يَسْتَوْعِبُهُمْ.

"Tidak setiap saat orang memerlukan nasehat. Ada kalanya yang mereka harapkan hanyalah uluran tangan yang meneguhkan, telinga yang setia mendengar, dan hati yang lapang untuk memahami mereka."

Orang-orang shalih terdahulu mengatakan:

لَمْ تُعْطَ مَعَ أُذُنَيْكَ نُطْقًا وَاحِدًا
إِلَّا لِتَسْمَعَ ضِعْفَ مَا تَتَكَلَّمُ

"Tidaklah engkau diberi satu kemampuan berbicara bersama kedua telingamu, kecuali agar engkau mendengar dua kali lipat dari apa yang engkau ucapkan."

Tidak jarang meluruskan kesalahan dengan membaguskan diri dalam mendengarkan lebih diperlukan daripada berbanyak perkataan menceramahi.

Mengapa?

إِنَّ النَّاسَ عَادَةً يُحِبُّونَ مَنْ يَسْتَمِعُ إِلَيْهِمْ وَيُظْهِرُ اهْتِمَامُهُ بِحَدِيثِهِمْ وَيُقَدِّرُ آرَاءَهُمْ

“Sesungguhnya manusia cenderung mencintai orang yang mendengarkannya, menunjukkan minat pada percakapannya, dan menghargai pandangannya.”

Photos from Mohammad Fauzil Adhim's post 07/06/2026

BERGERAK UNTUK BERUBAH

"Dananya kurang. Orangtuanya sulit. Siswanya tidak mendukung."

Kalau alasan itu benar, mengapa ada sekolah-sekolah miskin yang justru mampu mencetak prestasi luar biasa?

Jadi, yang sebenarnya menghambat perubahan itu keterbatasan... atau cara kita memandang keterbatasan?

Katharine Birbalsingh sering dijadikan contoh bahwa sekolah unggulan dapat dibangun bahkan ketika mayoritas orangtuanya berasal dari keluarga berpenghasilan rendah. Namun tidak sedikit yang menanggapinya dengan cepat, "Itu kan karena dia memulai sekolah dari awal. Jelas lebih mudah. Coba kalau sekolah yang sudah jalan??!"

Alasan tersebut sebenarnya sudah lama dipatahkan oleh Lorraine Monroe. Ia tidak membangun sekolah baru. Ia mengambil alih sekolah yang berada di lingkungan kumuh, dengan berbagai persoalan kedisiplinan dan prestasi yang memprihatinkan. Banyak yang menganggap perubahan mustahil terjadi. Namun Monroe membuktikan bahwa keterbatasan bukan alasan untuk tetap tertinggal. Dengan kepemimpinan yang kuat, budaya sekolah yang jelas, dan harapan yang tinggi, perubahan dapat diwujudkan.

Masih menganggap itu hanya satu kasus yang kebetulan berhasil?

Penolakan terhadap perubahan sering kali bertahan karena kita selalu menemukan alasan untuk menganggap keberhasilan orang lain sebagai pengecualian. Namun Samuel Casey Carter melalui bukunya No Excuses: Lessons from 21 High-Performing, High-Poverty Schools menunjukkan fakta yang sulit dibantah. Ia mendokumentasikan 21 sekolah dengan prestasi luar biasa yang seluruhnya melayani siswa dari lingkungan dengan tingkat kemiskinan yang sangat tinggi.

Pesannya sederhana tapi kuat: kemiskinan memang tantangan, tapi tidak harus menjadi kegagalan.

Lalu mengapa sebagian perubahan berhasil, sementara sebagian lainnya berhenti di tengah jalan?

Untuk menjawab pertanyaan tersebut, buku Leading School Change: How to Overcome Resistance, Increase Buy-In, and Accomplish Your Goals karya Todd Whitaker memberikan penjelasan. Buku ini membantu kita memahami mengapa perubahan sering ditolak, mengapa resistensi muncul, dan faktor apa yang menentukan keberhasilannya.

Sementara itu, Implementation Guide: Leading School Change – Nine Strategies to Bring Everybody on Board menawarkan sesuatu yang tidak kalah penting: langkah-langkah praktis untuk mengubah gagasan menjadi tindakan nyata. Jika buku pertama menjelaskan "mengapa", buku kedua membantu menjawab "bagaimana".

Namun memulai perubahan saja tidak cukup. Tantangan berikutnya adalah menjaga agar perubahan tetap hidup.

Banyak program sekolah diawali dengan semangat besar, tetapi perlahan menghilang ketika antusiasme awal mereda. Di sinilah pemikiran Michael Fullan menjadi sangat relevan. Karyanya membantu kita memahami mengapa sebagian perubahan mampu bertahan dan berkembang, sementara sebagian lainnya hanya menjadi proyek sesaat yang terlupakan.

Pertanyaan terakhir yang sering muncul adalah: bagaimana menghadapi orangtua yang sulit?

Kritiknya tajam. Ketika sekolah diam, mereka mempersoalkan. Ketika sekolah membuka ruang dialog, mereka menolak. Ketika perubahan dilakukan, mereka menjadi pihak yang paling keras menyuarakan keberatan.

Situasi seperti ini sering membuat pemimpin sekolah merasa serba salah.

Kabar baiknya, tantangan tersebut bukanlah sesuatu yang baru. Todd Whitaker dan Douglas J. Fiore melalui buku A School Leader's Guide to Dealing with Difficult Parents menawarkan berbagai pendekatan praktis untuk membangun komunikasi yang lebih sehat, meredakan konflik, dan mengubah hubungan yang penuh ketegangan menjadi kerja sama yang lebih produktif.

Pada akhirnya, sekolah tidak berubah karena memiliki kondisi yang sempurna.

Sekolah berubah karena ada orang-orang yang memutuskan untuk bergerak, meskipun kondisi belum sempurna.

Sebab sejarah pendidikan berulang kali menunjukkan satu pelajaran yang sama: keterbatasan bukanlah penghalang terbesar bagi perubahan. Alasan kitalah yang sering kali menjadi penghalangnya.

Photos from Mohammad Fauzil Adhim's post 05/06/2026

SEKOLAH BISA BERUBAH! Masalahnya, kita terlalu banyak alasan.

Kalimat yang sering terdengar:
✕ Orangtua tidak mendukung
✕ Dana sekolah minim
✕ Muridnya sulit
✕ Guru-gurunya sudah nyaman
Benarkah itu hambatan?

Katharine Birbalsingh membangun sekolah unggulan. Mayoritas siswanya berasal dari keluarga miskin. Lalu muncul alasan: "Ya maklum, karena dia memulai sekolah dari nol."

Baik. Kalau begitu lihat Lorraine Monroe.Ia tidak membangun sekolah baru. Ia mengubah sekolah yang sudah ada. Di kawasan kumuh. Dengan murid-murid yang dianggap bermasalah. Dan sekolah itu berubah. Prestasinya melonjak.

Monroe membuktikan:
Keterbatasan bukan alasan untuk menyerah.

Masih menganggap itu hanya kasus? Samuel Casey Carter meneliti 21 sekolah berprestasi tinggi di lingkungan kemiskinan ekstrem. NO EXCUSES. Tidak ada alasan.

Masalahnya ternyata bukan pada kemiskinan. Bukan pada murid. Bukan pada orangtua.

Sering kali masalahnya adalah kita terlalu cepat percaya perubahan tidak mungkin. Pertanyaannya bukan: Apakah sekolah kita bisa berubah? Tetapi, “Apakah kita sungguh-sungguh siap berubah?”



Repost dari:
https://www.instagram.com/p/DZNDh1qGEmX/?igsh=d2tkZXgwNmw4M3Jv

Photos from Mohammad Fauzil Adhim's post 05/06/2026

Sekilas sama, tetapi keduanya sangat jauh berbeda. Pertama, berusaha tampil baik agar tampak sempurna di hadapan manusia, tidak tampak kekurangannya. Kedua, berusaha menampakkan nikmat Allah dan menyembunyikan kekurangan dalam rangka menyempurnakan ketaatan kepada Allah.

Yang pertama rawan menyebabkan masalah kesehatan mental. Ini terutama ketika sudah jatuh pada cara hidup yang tidak otentik (inauthentic life). Sementara yang kedua justru merupakan kebaikan, kemuliaan dan menguatkan jiwa. Ia jalan meraih ridha Allah ‘Azza wa Jalla.

Photos from Mohammad Fauzil Adhim's post 04/06/2026

Indonesia tidak menjadi terang hanya dengan berteriak, "Indonesia gelap!"

Di tengah sistem yang belum berpihak dan perlindungan guru yang masih lemah, kita tetap membutuhkan orang-orang yang berani bergerak, mengambil inisiatif, dan menyalakan harapan. Dimulai dari langkah kecil di sekolah. Atau bahkan hanya di lingkup kelas.

Karena masa depan tidak dibangun oleh mereka yang hanya mengeluh, tetapi oleh mereka yang memilih bertindak. Bukan untuk berontak. Bukan untuk marah-marah. Tetapi untuk melakukan perubahan. Mungkin kecil, tetapi besar dampaknya.

Mari berdiskusi, bertumbuh, dan berbagi harapan melalui Kelas Parenting Online (KePOin) Pro-U Media bertajuk “Bergerak untuk Berubah” pada:

Senin dan Selasa, 8 & 9 Juni 2026
Jam 20:00 – 21:30 WIB.

Bersama kita belajar untuk percaya bahwa perubahan masih mungkin diwujudkan di negeri ini.

Jangan hanya menangisi keadaan. Jangan hanya menyaksikan dengan sedih. Jadilah bagian dari perubahan. Sekecil apa pun. Milikilah harapan dan keberanian.






Photos from Mohammad Fauzil Adhim's post 04/06/2026

Apa yang terjadi ketika istilah agama dibawa-bawa ke ranah yang sama sekali tidak hubungannya? Bahaya. Bahkan bisa mengancam keselamatan jiwa. Padahal salah satu tujuan utama syari’ah adalah melindungi jiwa (hifzh al-nafs), selain dimaksudkan untuk melindungi akal sehat (hifzh al-‘aql).

Salah satu istilah yang sekarang banyak dibawa kemana-mana sehingga menyimpang jauh sejauh-jauhnya adalah fitrah. Seakan setiap hal yang alami atau hanya dianggap alami adalah fitrah, sehingga yang tidak seperti itu dianggap salah, berdosa dan menentang agama. Padahal untuk menetapkan semua itu perlu dalil.

Melahirkan per vaginam secara alami alias al-wiladah ath-thabi‘iyyah (الولادة الطبيعية) itu baik. Tetapi jika seorang perempuan menurut pertimbangan medis, maka persalinan Caesar dibolehkan dan bahkan bisa masuk ke dalam hukum wajib. Bukankah menjaga keselamatan jiwa (ḥifẓh al-nafs) merupakan salah satu tujuan utama syariat (maqashid al-syari'ah)?

Seram(p)angan menggunakan istilah al-fithrah sehingga dibawa-bawa ke dalam urusan cara melahirkan sampai melampaui batas kewenangan karena sudah berhubungan dengan penetapan status hukum, merupakan salah satu contoh bahaya dari sikap tidak tertib istilah. Ceroboh menempelkan istilah fithrah dalam urusan lain tidak kalah menyeramkannya.

Benarlah peringatan dari Ibnu Hajar Al-Asqalani berkata di dalam Fathul Bari:

من تكلم بغير فنه أتى بالعجائب

“Barangsiapa yang berbicara tentang sesuatu yang bukan bidangnya, maka ia akan memunculkan banyak keanehan.”


Catatan: saya sengaja menggunakan dua macam transliterasi, yakni fitrah dan fithrah. Saya menggunakan transliterasi fithrah ketika menempatkan makna fithrah sebagaimana seharusnya.

Photos from Mohammad Fauzil Adhim's post 02/06/2026

Pahami makna al-fithrah dengan benar. Salah memahami maknanya, salah p**a langkahnya dalam mendidik anak sehingga alih-alih mendidik di atas al-fithrah justru merusaknya. Memalingkan dari al-fithrah karena mengira fithrah itu dikembangkan.

Ada perbedaan makna yang saling menguatkan, saling menegaskan, antara hadis yang berbunyi “tiap-tiap anak dilahirkan di atas al-fithrah” (كُلُّ مَوْلُوْدٍ يُوْلَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ), “tiap-tiap anak dilahirkan di atas al-fithrah” (لَيْسَ مِنْ مَوْلُودٍ يُولَدُ إِلَّا عَلَى هَذِهِ الْفِطْرَةِ) dengan “tidaklah ada anak kecuali dilahirkan di atas al-fithrah” (مَا مِنْ مَوْلُودٍ إِلَّا يُولَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ). Hadis tentang al-fithrah sendiri jumlahnya sangat banyak dan seluruhnya menunjukkan bahwa makna al-fithrah itu adalah al-Islam, tauhid, millah, ash-shalah dan al-ikhlash.

Berdasarkan hadis “مَا مِنْ مَوْلُودٍ إِلَّا يُولَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ” dan “لَيْسَ مِنْ مَوْلُودٍ يُولَدُ إِلَّا عَلَى هَذِهِ الْفِطْرَةِ” serta berbagai hadis yang menggunakan pola redaksi serupa, maka harusnya kita yakin bahwa anak lahir di zaman apa pun, di negeri manapun, mereka tetap lahir dalam keadaan yang sama. Tak ada bedanya sifat umum maupun sifat khusus generasi yang banyak disebut semisal Gen Z, Gen Alpha, Gen Betha dan seterusnya hingga Gen Delta yang lahir tahun 2069 nanti.

Mengimani bahwa sifat tiap generasi berbeda menjadikan orangtua maupun pendidik memperlakukan anak dengan cara berbeda sesuai apa yang mereka imani. Akibatnya, anak-anak itu tumbuh dan berkembang menjadi pribadi yang sangat berbeda, bukan karena generasinya tetapi karena perbedaan perlakuan orangtua dalam mendidik. Dan ini merusak fithrah anak.

Apa dampak lain berpikir “oh, Gen Alpha beda, harus begini” “oh, Gen Z jangan disuruh disiplin” dan sejenisnya? Prof. Bobby Duffy dari Inggris mengingatkan bahwa generational thinking is horribly corrupted; berpikir generasional itu kerusakannya benar-benar mengerikan.

Bobby Duffy menulis selengkapnya dalam buku bertajuk Generations: Does When You’re Born Shape Who You Are? (Generasi: Apakah Kapan Anda Dilahirkan Membentuk Siapa Anda?). Buku ini juga terbit di Amerika dengan judul The Generation Myth: Why When You're Born Matters Less Than You Think (Mitos-mitos Generasi: Mengapa Kapan Anda Dilahirkan Tidak Sepenting yang Anda pikirkan).

Want your school to be the top-listed School/college in Sleman?

Click here to claim your Sponsored Listing.

Location

Category

Telephone

Website

Address


Sleman
55284