Mohammad Fauzil Adhim

Mohammad Fauzil Adhim Orang biasa yang masih harus banyak belajar, pegiat Komunitas Psikologi Mengaji, menulis beberapa buku sederhana untuk para pendidik dan orangtua.
(3)

Penulis buku-buku parenting, mengkaji tentang remaja dalam psikologi dan Islam, menekuni kajian tentang fithrah menurut Islam.

Bismillah. Memenuhi saran dari berbagai pihak, beberapa sahabat maupun pendidik di berbagai tempat, maka hari ini saya m...
21/08/2026

Bismillah. Memenuhi saran dari berbagai pihak, beberapa sahabat maupun pendidik di berbagai tempat, maka hari ini saya memulai saluran khusus mengenai pendidikan anak dan parenting. In sya Allah ke depan saya juga akan membuat saluran khusus mengenai pernikahan dan masalah keluarga.

Salah satu yang menjadi pikiran saya untuk akhirnya mengikuti saran membuat saluran adalah bagaimana menyiapkan anak-anak kita di rumah maupun di sekolah agar memiliki kesejahteraan mental yang baik. Bukan sekedar resiliensi mental. Tentu saja ini hanya salah satunya.

Usulan pembahasan akan sangat berharga agar saluran ini benar-benar bermanfaat. Semoga Allah Ta'ala ridhai langkah ini.


https://whatsapp.com/channel/0029VbDl4zE545uxq76SMh2e

Follow Mohammad Fauzil Adhim - Mendidik Anak's WhatsApp Channel. Tempat berbagi dan berkabar tentang pendidikan anak di rumah, parenting maupun tema psikologi yang relevan dengan berusaha mengacu pada tuntunan agama. Join 75 followers for the latest updates.

21/08/2026

Kompetisi pasti merusak? Tidak sesederhana itu. Baik buruknya kompetisi sangat berkaitan dengan bagaimana kita mendesain kompetisi. Begitu p**a pemeringkatan di kelas. Desain yang tepat akan membawa hasil yang baik, sementara desain yang salah akan membawa masalah.

Jika sekolah ingin merancang kompetisi yang bukan sekadar sebagai ajang mencari juara, tetapi sebagai instrumen pendidikan, buku The Will to Learn karya Martin V. Covington menjadi titik awal. Kemudian Inspiring Motivation in Children and Youth karya David A. Bergin menjadi langkah kedua. Lalu buku Motivational Design for Learning and Performance karya John M. Keller.

Remaja itu datang konsultasi bukan karena putus cinta, bukan juga karena masalah kesehatan mental, tetapi karena ingin l...
21/08/2026

Remaja itu datang konsultasi bukan karena putus cinta, bukan juga karena masalah kesehatan mental, tetapi karena ingin lepas dari HP, memiliki daya tahan baca yang lebih baik, dan memiliki kemampuan berpikir yang lebih baik.

Umurnya baru belasan tahun, masih belajar di sebuah SLTA, tetapi ia risau dengan dirinya sendiri. Ia merasa setelah memiliki HP sendiri, menggunakannya selama 1 – 2 jam sehari, konsentrasinya ketika belajar maupun daya tahannya membaca buku menurun. Ketertarikannya kepada buku juga berkurang.

Ia sudah mencoba melakukan berbagai kegiatan lain sesudah menggunakan HP agar bisa kembali buku secara efektif. Tetapi ternyata daya serap dan kemampuannya mengkritisi bacaan jauh berkurang dibandingkan ketika tidak menggulir smartphone selama beberapa pekan.

Dari pengalaman tersebut ia menyimpulkan bahwa menurunnya konsentrasi dan kemampuan membaca secara mendalam merupakan pengaruh langsung kegiatan scrolling. “Apalagi kalau banyak melihat reels,” katanya. Ia ingin berhenti memakai smartphone. Masalahnya, tuntutan sekolah dan teman sebaya tidak kondusif untuk berhenti memakai smartphone.

Remaja ini sebenarnya bukan anti kemajuan. Ia mempunyai laptop pribadi dan dipakainya ketika ada keperluan. Ia ingin mengganti smartphone dengan HP “jadul” juga bukan karena masalah anggaran. Tetapi karena ia memperhatikan bahwa kembali membaca buku, mencatat dan mengerjakan tugas dengan tulisan tangan memberi manfaat lebih besar.

Dialog saya dengan remaja ini mengingatkan saya kepada dialog serupa ketika seorang remaja ingin meningkatkan kemampuannya membaca agar memiliki daya tahan lebih tinggi, daya serap lebih baik serta mampu menggali lebih baik saat membaca sebuah buku. Terlihat seperti konsultasi, tetapi saya senang menemukan pengalaman-pengalaman seperti itu.

Kualitas interaksi guru dengan anak tidak hanya ditentukan oleh kompetensi pedagogik, tetapi juga oleh kesejahteraan men...
20/08/2026

Kualitas interaksi guru dengan anak tidak hanya ditentukan oleh kompetensi pedagogik, tetapi juga oleh kesejahteraan mental guru.

Mengapa kesejahteraan mental guru menentukan perkembangan anak? Hubungan guru-anak merupakan salah satu faktor pelindung terpenting pada masa usia dini. Bagaimana dengan pendidikan di jenjang berikutnya? Sangat penting, bahkan hingga jenjang SLTA. Hubungan itu sebelum kendali.

Ekspektasi tinggi tanpa hubungan yang dekat dan hangat akan terasa seperti tekanan. Sebaliknya, hubungan akrab tanpa ekspektasi tinggi akan berubah menjadi permisivisme. Serba boleh, meskipun boleh jadi karena guru tak berdaya untuk melarang. Nah, guru yang hebat memadukan keduanya.

Guru yang memiliki psychological flourishing cenderung mengembangkan emosi yang baik, keterlibatan penuh terhadap pekerjaan, hubungan sosial yang hangat dengan murid dan sejawat maupun walimurid, menghayati makna hidup, dan lebih mampu mencapai sesuatu. Salah satunya standar kualitas yang ia tetapkan bagi murid.

Corey Keyes menambahkan bahwa flourishing juga mencakup berfungsinya seseorang secara sosial dan psikologis. Guru yang flourishing bukan berarti tidak pernah lelah, tetapi tetap mampu bersikap sabar, memiliki harapan, menikmati pekerjaannya, mampu pulih setelah menghadapi tekanan.

Peranan orangtua sangat mempengaruhi kesejahteraan mental guru. Ada empat hal yang dapat dilakukan oleh orangtua, tetapi sepertinya saya perlu menambahkan satu lagi untuk konteks negeri kita, yakni jangan melakukan kriminalisasi seolah-olah guru adalah penjahat. Guru bisa saja salah, tetapi cara memberikan koreksi harus baik.

Selengkapnya in sya Allah akan kita bahas pada acara KePOiN Pro-U (Kelas Parenting Online Pro-U Media) hari Senin dan Selasa, 24 dan 25 Agustus 2026 bertajuk Menjadi Pendidik yang Utuh: Sehat Mentalnya, Kuat Pengaruhnya.

Informasi dan pendaftaran bisa via WA melalui link:


https://wa.me/6281808919000 (Mbak Ana)

atau:

https://wa.me/628982241123 (Mas Tris)

Baik buruknya kompetisi sangat berkaitan dengan bagaimana kita mendesain kompetisi. Begitu p**a pemeringkatan di kelas. ...
19/08/2026

Baik buruknya kompetisi sangat berkaitan dengan bagaimana kita mendesain kompetisi. Begitu p**a pemeringkatan di kelas. Desain yang tepat akan membawa hasil yang baik, sementara desain yang salah akan membawa masalah.

Jika sekolah ingin merancang kompetisi yang bukan sekadar sebagai ajang mencari juara, tetapi sebagai instrumen pendidikan, buku The Will to Learn karya Martin V. Covington menjadi titik awal. Covington mengajak kita melihat kompetisi dari sisi psikologis: apakah ia menumbuhkan keinginan untuk belajar, atau justru membuat siswa takut gagal, mengejar pengakuan, dan mengaitkan harga diri dengan kemenangan?

Jika kompetisi dimungkinkan menghasilkan motivasi yang keliru, lalu lingkungan sekolah seperti apa yang justru menumbuhkan motivasi yang sehat? Di sinilah Inspiring Motivation in Children and Youth karya David A. Bergin menjadi langkah kedua. Fokusnya bergeser dari “bahaya kompetisi” kepada kondisi pendidikan yang membuat anak merasa memiliki kompetensi, otonomi, relevansi, dan keterhubungan. Dengan demikian, kita tidak hanya bertanya bagaimana menghindari dampak negatif kompetisi, tetapi bagaimana membangun lingkungan sekolah yang membuat siswa memang ingin belajar dan berkembang. Kompetitif sekaligus suportif (iklim yang mendukung teman untuk berkembang).

Setelah tujuan psikologis dan kondisi lingkungannya dipahami, barulah muncul pertanyaan ketiga: bagaimana prinsip-prinsip tersebut diterjemahkan ke dalam sebuah program nyata? Motivational Design for Learning and Performance karya John M. Keller memberikan jembatan tersebut. Melalui pendekatan seperti model ARCS—Attention, Relevance, Confidence, dan Satisfaction—motivasi tidak lagi diperlakukan sebagai sesuatu yang abstrak, tetapi sebagai sesuatu yang dapat dipertimbangkan secara sistematis ketika merancang pengalaman belajar.

Urutan ketiga buku tersebut sebenarnya membentuk satu alur: Covington membantu menentukan arah, Bergin membantu menentukan ekosistem, dan Keller membantu menentukan arsitekturnya. Covington menjawab “mengapa”, Bergin menjelaskan “di bawah kondisi seperti apa”, dan Keller membantu menjawab “bagaimana”.

Jika diterapkan pada kompetisi sekolah, pendekatan ini mencegah kita terjebak pada desain yang hanya berorientasi pada pemenang. Kita terlebih dahulu menentukan tujuan pendidikan dan psikologisnya: kemampuan apa yang ingin dikembangkan, sikap apa yang ingin dibentuk, dan pengalaman apa yang ingin dibawa p**ang oleh siswa. Setelah itu kita memastikan lingkungan kompetisinya mendukung motivasi yang sehat, sebelum akhirnya menentukan aturan, format, tahapan, penghargaan, dan mekanisme evaluasinya.

Dengan kerangka tersebut, kompetisi tidak lagi dipandang terutama sebagai mekanisme seleksi—siapa terbaik dan siapa kalah—melainkan sebagai desain pengalaman belajar. Pemenang tetap boleh ada, standar tetap boleh tinggi, dan keunggulan tetap perlu dihargai; tetapi struktur kompetisi harus membuat lebih banyak siswa mengalami kemajuan, kompetensi, tantangan yang bermakna, dan keinginan untuk mencoba lagi.

Guru tidak cukup hanya kuat menghadapi tekanan. Resiliensi membuat kita mampu bertahan ketika keadaan sulit. Tetapi pend...
19/08/2026

Guru tidak cukup hanya kuat menghadapi tekanan. Resiliensi membuat kita mampu bertahan ketika keadaan sulit. Tetapi pendidikan membutuhkan lebih dari sekadar bertahan. Guru perlu memiliki psychological flourishing: kondisi ketika seseorang bukan hanya tidak tumbang, tetapi tetap bertumbuh, memiliki makna, merasa hidupnya bernilai, mampu membangun relasi yang sehat, dan menghadirkan pengaruh yang positif.

Mengapa ini penting? Sebab guru yang kelelahan secara batin akan sulit menyalakan kehidupan dalam diri murid. Kita dapat menguasai banyak metode mengajar, memahami kurikulum, bahkan memiliki pengalaman panjang—tetapi kualitas pengaruh kita tetap sangat terkait dengan keadaan jiwa kita sendiri.

Karena itu, menjadi pendidik yang utuh berarti merawat dua hal sekaligus: kesehatan mental dan kekuatan pengaruh. Bukan sekadar bagaimana kita bertahan menghadapi tuntutan pendidikan, tetapi bagaimana kita tetap menemukan makna, bertumbuh sebagai manusia, menikmati proses mendidik, dan menjadi pribadi yang kehadirannya menguatkan.

Mari kita bicarakan lebih dalam lagi. Apa yang membuat guru benar-benar flourishing? Mengapa psychological flourishing penting bagi kualitas pendidikan? Dan bagaimana seorang pendidik dapat tetap sehat secara mental tanpa kehilangan daya juang dan daya pengaruhnya?

Selengkapnya in sya Allah akan kita bahas pada acara KePOiN Pro-U (Kelas Parenting Online Pro-U Media) bertajuk Menjadi Pendidik yang Utuh: Sehat Mentalnya, Kuat Pengaruhnya. Bukan sekadar Webinar untuk menambah pengetahuan, tetapi ruang untuk berhenti sejenak, bercermin, berdiskusi, dan menemukan kembali alasan mengapa kita memilih menjadi pendidik.

18/08/2026

Keterlibatan orangtua secara aktif di sekolah, itu bukan kepentingan sekolah. Itu sebenarnya adalah untuk kepentingan anak-anak kita sendiri. Itulah antara lain yang dapat kita ambil sebagai pelajaran dari buku Parental Involvement in Childhood Education: Building Effective School-Family Partnerships karya Garry Hornby.

Di dalam buku ini kita mendapatkan pelajaran berharga tentang hal-hal apa saja yang harus ada pada diri orangtua ketika melakukan kemitraan dengan sekolah, yakni yang pertama ada trust (kepercayaan), kemudian respect, competence; artinya tidak bisa kita menegakkan kemitraan orangtua dan sekolah ketika orangtua tidak percaya, tidak menghargai, tidak menghormati bahwa guru maupun sekolah itu memiliki kompetensi professional untuk mendidik, untuk menyiapkan anak-anaknya. Kemudian communication (komunikasi), commitment, equality (kesetaraan) dan advocacy.

Jadi, Parental Involvement in Childhood Education (keterlibatan orangtua dalam pendidikan anak) merupakan hal mendasar kalau kita ingin mengantarkan anak kita berhasil di sekolah.

Keterlibatan, ya…. Bukan intervensi.

Tugas pendidik menyiapkan anak memiliki daya juang yang tinggi dan tidak mudah jatuh. Bukan memuluskan seluruh jalan hid...
18/08/2026

Tugas pendidik menyiapkan anak memiliki daya juang yang tinggi dan tidak mudah jatuh. Bukan memuluskan seluruh jalan hidupnya sehingga rapuh.

Pendidikan di rumah dan sekolah bukanlah memastikan agar anak tidak pernah kalah, ditolak, kecewa, mendengar “tidak”, atau melakukan kesalahan. Tugas kita bukan memuluskan seluruh jalan hidupnya, melainkan membekalinya agar cukup kuat ketika jalan itu tidak mudah. Anak bahagia ketika mampu menyelesaikan tantangan.

Ajari anak menerima kekalahan tanpa merasa dirinya pecundang. Ajari meminta maaf tanpa merasa dirinya hina. Ajari menunggu tanpa menuntut. Ajari menghadapi kekecewaan tanpa menyerah. Ajari memecahkan masalah tanpa selalu mencari tangan kita. Dan ajari menerima kata “tidak” tanpa merasa dunia berhutang kepadanya sebuah “ya”; tanpa merasa orangtua memiliki hutang kepengasuhan pada dirinya.

Anak yang selalu diselamatkan dari kesulitan pada dasarnya justru tidak sedang dipersiapkan untuk kehidupan; ia sedang dipersiapkan untuk bergantung. Itu sebabnya, jangan buru-buru menghapus setiap kesulitan yang datang. Sebagian kesulitan justru merupakan guru yang sangat baik—jika anak diberi kesempatan untuk menghadapinya dengan bimbingan yang tepat.

Kelak akan tiba masanya kita tidak lagi berada di sampingnya untuk melunakkan setiap penolakan, memperbaiki setiap kesalahan, atau menghibur setiap kekecewaan. Maka selama kita masih ada di sisinya, jangan hanya memberinya rasa aman. Berikan juga daya tahan, kecakapan, tanggung jawab, dan keberanian untuk menghadapi dunia.

Dr. Majid bin Abdullah bin Muhammad Al-Habib mengingatkan dalam bukunya yang bertajuk Qawaʿid Nabawiyyah lish-Shihhah an-Nafsiyyah (Prinsip-prinsip Nabawi untuk Kesehatan Mental):

لَا بُدَّ أَنْ تَتَحَلَّى بِٱلْقُوَّةِ ٱلنَّفْسِيَّةِ لِأَنَّ ٱلِٱبْتِلَاءَ قَدَرٌ حَتْمِيٌّ

“Tidak dapat tidak, seseorang harus membekali diri dengan kekuatan mental, karena ujian adalah takdir yang pasti.”

Anak yang sangat cerdas tetapi tidak memiliki arah bisa menjadi sangat efektif dalam mengejar sesuatu yang salah.⁣Anak y...
17/08/2026

Anak yang sangat cerdas tetapi tidak memiliki arah bisa menjadi sangat efektif dalam mengejar sesuatu yang salah.

Anak yang sangat kreatif tetapi tidak memiliki nilai dapat menghasilkan banyak hal tetapi tidak tahu apakah yang dihasilkannya layak atau tidak; membangun atau merusak.

Anak yang sangat kompetitif tetapi tidak memiliki orientasi moral dapat menjadi sangat gigih—tetapi seluruh kegigihannya dapat diarahkan untuk mengalahkan orang lain atau bahkan menjatuhkan teman sendiri.

Itu sebabnya orangtua maupun guru sangat perlu membangun orientasi hidup anak dengan standar moral yang tinggi dan membawa kepada keutamaan. Begitu p**a turunan dari orientasi hidup tersebut kita terjemahkan ke dalam orientasi yang lebih khusus dan terarah.

Berkait hubungan dengan lawan jenis misalnya, pendidik perlu mengawal agar anak-anak itu jangan habiskan masa muda untuk belajar menjadi pacar. Bangun orientasi menikah sehingga mereka menggunakan masa muda untuk belajar menjadi manusia yang kelak mampu membangun keluarga.

Siapkan mereka agar mampu membangun cinta, bukan terobsesi untuk jatuh cinta. Membangun cinta itu terencana, jatuh cinta itu tak terarah.

Ada yang termotivasi karena imbalan (motivation by incentive), ada yang termotivasi karena tujuan atau nilai idealis – ideologis yang mendasar (motivation by purpose/value). Motivasi karena imbalan akan mudah pupus dan layu.

Karena itu, jangan merusak orientasi hidup anak perempuan, misalnya dengan mengatakan, "Nanti 10 tahun lagilah kau boleh pacaran. Kau boleh pacaran setelah sabuk hitam karate-mu. Jadi enggak ada yang berani nanti main-main sama kau."

15/08/2026

Pemeringkatan siswa berdampak buruk pada mental anak? Ini ungkapan yang terlalu menyederhanakan. Rapuhnya mental anak di usia sekolah justru semakin marah belakangan ini ketika sekolah rata-rata sudah menghapus sistem ranking. Tetapi mengapa mental anak justru banyak yang bermasalah?

Konsep sebaik apa pun tidak akan membawa manfaat yang optimal jika tidak diilmui. Menghapuskan hukuman tidak serta-merta menjadikan siswa lebih bertanggung-jawab terhadap setiap tindakannya. Tidak jarang siswa justru semakin ringan melakukan pelanggaran karena merasa tidak ada resiko yang merugikan dirinya.

Address

Sleman
55284

Telephone

+62818269672

Website

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Mohammad Fauzil Adhim posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Contact The School

Send a message to Mohammad Fauzil Adhim:

Shortcuts

Share

Category