Parenting Class Bianglala

Parenting Class Bianglala

Share

Layanan pelatihan, pengajaran, dan komunitas dalam "pengasuhan" dengan pendekatan kesadaran.

Photos from Parenting Class Bianglala's post 22/01/2020

Pendaftaran siswa baru sudah dibuka nih Yanda Bunda. Monggo bisa datang langsung ke Bianglala. Diskon berlaku selama 2 minggu setelah tgl tersebut yaa.. ๐Ÿ˜Š๐Ÿ˜Š๐Ÿ˜Š

Photos from Parenting Class Bianglala's post 04/03/2017

Monggo Bunda dan Yanda, merapat ke Bianglala pada acara OPEN HOUSE Sabtu, 25 Maret 2017. Banyak diskon dan hiburan serta bisa trial class juga lhooh... :) :) :)

23/07/2016

#15

"Kapan kita belajar menjadi orangtua?" demikian tanya Bu Yanti kepada kami. Sekelompok orangtua. Bu Yanti adalah seorang psikolog klinis anak dan dari beliau dulu saya banyak belajar.

"Saat memiliki seorang anak," demikian jawab seorang ibu. Pernyataan itu ditimpali oleh yang lain,"Karena di saat punya anak itulah kita mulai belajar banyak hal lagi. Yang itu tidak pernah kita pelajari sebelumnya."

Ibu yang lain pun menegaskan banyak hal yang lain. Sebab saat punya anak itulah teori yang dipelajari di kuliahan, dapat dipelajarinya lebih mendalam dengan mengalami langsung. Kebetulan ibu ini dulu kuliah di Psikologi.

Sesudah beberapa jawaban yang rerata hampir sama itu, Bu Yanti itu pun mengulang pertanyaannya, "Kapan kita belajar menjadi orangtua?"

"Saat menjadi anaklah kita sebenarnya sedang belajar untuk menjadi orangtua. Dari apa yang dilakukan oleh orangtua kita, sebenarnya kita sedang belajar bagaimana akan memperlakukan anak-anak kita nantinya. Dari apa yang dikatakan oleh ayah kita, kita sebenarnya sedang belajar tentang kata, kalimat, konsep yang akan kita ucapkan nantinya kepada anak kita."

"Dari keseharian ibu kita berinteraksi dengan tukang sayur, dengan tukang becak, dengan polisi, dengan rumputan, kita sedang merekam bagaimana memperlakukan semua realitas. Hingga akhirnya itu pun akan kita ajarkan kepada anak-anak kita, Sadar atau tidak sadar," sambung beliau.

"Jadi sadarilah seawal mungkin hari ini, bahwa anak-anak keturunan kita sedang mengamati dari kejauhan, memperhatikan bagaimana kita bertindak, berpikir, bertutur, dan merasakan. Sadarilah."

Photos 05/07/2016

Selamat Idul Fitri
Mohon maaf lahir dan batin

05/03/2016

#14
"Banyak Orangtua yang Tahu"

Banyak orangtua yang tahu, bahwa saat mulai menerima anugerah seorang anak hidupnya berubah. Seratus delapan puluh derajat berbeda.

Yang tadinya tidur susah dibangunkan, saat anak menangis, terbangun seperti dipanggil alarm yang sangat kuat dari dalam.
Saat sedih, memaksa untuk tetap bergembira. Sebab anak.
Saat sakit kesadaran menjadi terjaga, yang membuat orangtua seperti punya banyak daya yang tak terbayangkan sebelumnya.

Banyak orangtua yang tahu, bahwa hidupnya menjadi "lebih belajar", melebihi saat-saat kuliah. Benar-benar paham apa itu mengasuh, siapa itu anak dan bagaimana harus menyikapi anak pada saat-saat moodnya tidak bagus. Benar-benar dipaksa mengambil keputusan dan tidak lagi tergantung dengan pikiran orang lain.

Banyak orangtua merasa "lebih besar", "lebih matang", "lebih dewasa" saat mulai mengasuh. Dengan pemahaman ini semestinya paradigma pengasuhan bukan lagi hanya urusan menemani tumbuh kembang anak agar menjadi optimal.
Agar anak mencapai kesuksesan di kehidupan mereka sekarang hingga nanti.

Sudah semestinya paradigma pengasuhan diletakkan sebagai "jalan pengembangan diri." Layaknya seorang samurai dengan "jalan pedang"-nya yang mengembara mencari pertarungan demi pertarungan untuk mencari kesempurnaan dirinya, pengasuhan pun semestinya demikian. Hari demi hari dilakukan untuk semakin memastikan bahwa kita sebagai pribadi dan diri semakin "tumbuh", "membesar", dan "meninggi". Memastikan bahwa selama bersentuhan dengan anak kita menjadi "jago" mengendalikan emosi, lebih trampil berkomunikasi, lebih kreatif, suportif, dan jauh-jauh lebih empatik.

Masak kita akan membiarkan kesempatan baik ini berlalu begitu saja. Tanpa disadari. Tanpa dihayati detil-detil perjalanannya. Sungguh kita akan merasa tersia-sia nantinya.

20/12/2015

#13
"Setiap Orang Mengasuh dengan Sejarah"

"Hah? Napa Ayah?"
("Hah? Ada apa Ayah?")

Begitu tanggapan si kecil Hayu, saat saya bertanya tentang sesuatu. Itu diucapkan dengan nada tertentu.

Saya pun terperangah. Sebab dia menggunakan kata "Hah" dalam menanggapi saya. Saya ketemu cermin saya lagi. Saya terkaget sebab itu adalah kata yang seringkali tidak sadar saya ucapkan saat menanggapi sesuatu. Kepada orang lain. Dengan nada yang terdengar "mirip-mirip" dengan bagaimana saya mengucapkannya.

Bagi orang yang tak kenal saya mungkin akan biasa saja. Bahkan orang yang kenal saya lama juga agak susah mengenali ini. Namun ini akan sangat berkesan bagi "orang terdekat saya": istri saya. Sebab saya tahu benar, nada suara itu terdengar "sengak"(huruf "e"-nya dibaca sebagaimana "e" pada telur) --kalau orang Jawa bilang. Ucapannya bernada menyakitkan hati. Walau tak berniat untuk menyakiti, saya kira kalimat-kalimat tersebut berasal dari kondisi tak ingin diusik. Sebab terganggu kenyamanannya.

Agh, akhirnya saya ketemu lagi dengan sejarah panjang terbentuknya kata-kata dalam diri saya. Begitu panjang, sehingga di sisi ini saya perlu sangat berhati-hati kembali.

Dalam mengasuh, sejarah para orangtua begitu penting dikenali. Bagaimana dulu dunia membantu kita mengenalinya, bagaimana dulu orang-orang dekat kita, guru-guru mengajari untuk bersikap dan menanggapi dunia. Ini bukan hanya masalah pendidikan yang diperoleh, namun juga berasal dari pengasuhan yang pernah kita peroleh.

Seorang ibu yang pencemas, cenderung akan melahirkan dan mendidik seorang pencemas yang lain. Begitu kata Bu Yanti--seorang psikolog senior. Dulu sekali. Saat saya masih banyak menemani beliau. Tentu ada "sejarah" yang melatarbelakangi kecemasan seorang ibu.

Tak ayal lagi kalau kita tak menyadarinya, kita tentu akan menjadi orangtua atau guru yang hanya akan berorientasi "mengajari" dan "mendidik" anak tanpa perlu tahu bahwa sebenarnya yang perlu kita ajari dan didik terlebih dahulu adalah diri kita. Guru dan orangtuanya.

Padahal, apa yang dilakukan seorang yang tak menyadari letak permasalahan sesungguhnya tentu cenderung menumbuhkan masalah baru. Tentu akan berbeda benar dengan seseorang yang tahu benar bahwa dirinya memiliki sejumlah "sejarah" yang mesti dibacanya kembali. Agar dia mendidik dan mengajari dirinya kembali.

23/10/2015

#12
"Sadar Satu Sisi, Lupa yang Lain"

Pagi ini, saya bangun dalam kondisi tidak nyaman. Saya pun meminta istri saya untuk membuatkan secangkir kopi untuk 'membangunkan' saya.

"Bun, kopi d**g," pinta saya sambil merasakan ketidaknyaman saya. Namun sesudah selesai mengucapkannya saya teringat bagaimana saya dan istri mendidik Hayu (2 tahun, 8 bulan) untuk meminta sesuatu. Saya pun terjatuh malu.
Sebab saya selalu mengajari Hayu dengan kalimat yang lengkap untuk meminta sesuatu.

"Ayah, Hayu nyuwun didamelaken teh. Matur nuwun," misalnya.
"Ayah, Hayu minta dibuatkan teh. Terima kasih."

Saya jatuh malu karena ternyata di satu sisi saya menyadari untuk mendidik putri saya berbahasa bagus, sopan, lengkap dan terstruktur. Namun tindakan saya kepada istri saya ternyata jauh dari apa yang disebut baik.

Tentu saja saya bisa beralasan sama-sama dewasa. Sama-sama tahu. Namun sungguh saya akan malu kalau peristiwa itu dilihat putri kami. Sebab ayahnya ternyata menuntut banyak pada putrinya (andai dia sudah tahu), sementara dia tak menuntut banyak pada dirinya. Hayu memang tidak tahu, namun saya yakin tanpa sadar dia pun akan mempelajarinya. Menirunya.

22/10/2015

#11
"Kita Baru Terbangun Saat Mulai ada Krisis"

Ada perkataan begini, "tidak ada yang ditampakkan anak di luar kecuali apa yang dilihatnya di dalam."

Apa-apa yang keluar dari diri anak, entah itu pikirannya, perasaannya, dan tindakannya--sungguh tak lain dan tak bukan berasal dari apa-apa yang dilihat dan didengarnya dari orangtuanya di rumah.

Setiap kata-katanya adalah ajaran yang didapatkannya dari orangtuanya. Bagaimana dia bersikap terhadap masalah menunjukkan bagaimana orangtuanya menyelesaikan masalah. Bagaimana anak memperlakukan orang lain, itu adalah rangkuman rekaman dari pengalamannya melihat ayahnya memperlakukan ibunya dan sebaliknya.

Duhai, betapa banyak orangtua mengetahui hal ini. Banyak guru mengenalinya sebagai sarana pengajaran karakter dan moral. Namun seringkali pengetahuan ini hanyalah menjadi kalimat tanpa kesadaran yang mengikutinya. Seringkali pemahaman yang didapat belum diimbangi dengan penghayatan yang nyata dalam kehidupan sehari-hari.

Bahkan banyak dari kita tiba-tiba baru menyadari itu ketika anak โ€œmenghantamโ€ kita dengan logat yang sering kita gunakan. Dengan kata dan mimik yang sering kita gunakan saat marah. Kita tergugah dengan tiba-tiba, sebab kita melihat diri kita di sana. Benar-benar mirip dengan kita. Dari caranya bersikap atau menanggapi sesuatu. Saat itu tersadar dan serasa dibangunkan dari tidur yang panjang.

Yah, kebanyakan orangtua dan guru baru benar-benar "terbangun" atas apa yang dilakukannya selama ini setelah ada krisis. Entah anak yang membully anak lain, anak yang kesulitan adaptasi dengan lingkungannya, anak yang rendah diri, dan seabrek masalah yang lainnya. Walau tak semuanya terlambat untuk ditangani, namun sungguh semuanya sering menumbuhkan sesal di hati.

01/09/2015

#10
"Bagaimana dengan Pengetahuan Perkembangan?"

Saat orangtua mengasuh hal yang pertama diaksesnya biasanya adalah pengetahuan mengenai perkembangan anaknya. Apa yang sedang dialaminya, apa yang sedang terjadi di dalam dirinya. Sekaligus menemukan cara bagaimana akan menghadapinya.

Pengetahuan mengenai pertumbuhan dan perkembangan anak sungguh penting. Ketrampilan untuk mengelola situasi perkembangan pun penting.

Apa sebenarnya yang sedang dicari dengan pengetahuan mengenai anak-anak kita? Apakah agar lebih "mudah" menghandlenya?

Ya, saya kira itu sisi praktisnya.
Bagaimana pun pengasuhan membutuhkan "sisi praktis" itu.

Namun sebenarnya kalau Anda mau lebih teliti, sisi praktis itu lahir dari "lahir"-nya kesadaran kita. Akan banyak hal.

Paling tidak: "kesadaran mengenai keberadaan tumbuh kembang anak kita."

..dan dari sinilah sisi praktis "how to"-nya baru dimunculkan.

Selebihnya kesadaran mengenai kondisi diri kita, kesadaran mengenai tujuan, kesadaran mengenai unfinished bussines, dan sebagainya.

Itulah mengapa kesadaran itu perlu terlebih dahulu diletakkan
sebelum solusi praktis yang akan kita lakukan.

Tanpa meletakkan "kesadaran" dalam kesadaran kita,
sungguh kita hanya akan menjadi pengguna tips-tips ahli
"how to" tanpa benar-benar mengenali apa yang sedang terjadi, apa yang sedang diupayakan, dan apa yang akan menjadi konsekuensinya.

Anda akan menjadi pengikut hingar bingar trend pengasuhan, tanpa benar-benar menyadari sepenuhnya yang sedang Anda pilih.

Sungguh, Anda pun akan kehilangan "kemampuan alami" sebagai orangtua: mengenali anaknya sendiri, mengenali potensinya, mengenali tujuan hidupnya, dan bagaimana mengolah segenap dinamika hidup anak. Kemampuan yang sebenarnya akan terinstall dalam diri Anda, saat Anda meletakkan penuh kesadaran Anda dalam pengasuhan.

Photos 11/08/2015

Launching Parenting Class & Talk Show
"Pengasuhan Anak Berkesadaran"

Sabtu, 15 Agustus 2015
09.00-12.00 WIB

Want your school to be the top-listed School/college in Sleman?

Click here to claim your Sponsored Listing.

Location

Category

Website

Address


Jalan Kopen Utama 14 A Jl. Kaliurang Km 7, 5
Sleman