15/07/2022
PENDIDIKAN KARAKTER MUSLIM, DIAWALI DENGAN LITERASI ALQURAN
Oleh : Wawan Funtahsin
Apa rahasia kesuksesan peradaban Islam di masa lalu? Bagaimana merekonstruksi kembali peradaban islam yang jaya pada masa lalu, untuk kemajuan peradaban masa kini?
Jawabannya adalah kembali kepada Alquran. Dan dimulai dari hal paling sederhana yang membaca alquran setiap hari. Lintas generasi sedari anak-anak, remaja, dewasa, hingga lansia mestilah bebas buta huruf alquran, dan mereka membiasakan diri membaca alquran setiap hari.
Al imam Syafi'i rahimahullah berkata :
إذا اردت صلاح قلبك او ابنك او أخيك او من شئت صلاحه فأودعه فى رياض القرأن وبين صحبة القرأن. سيصلحه الله شاء ام ابى.
"Jika engkau menginginkan kebaikan hatimu, anakmu, saudaramu atau siapa saja yang engkau kehendaki menjadi baik, maka tempatkan ia di majelis al Qur'an dan jadikan ia bersahabat dengan Al-Qur'an.
Niscaya Allah akan memperbaiki keadaannya baik dia menghendaki jadi baik atau tidak mau menjadi orang baik."
MasyaAllah Tabarakallah. Awalnya kita menghadirkan alquran dalam aktivitas keseharian kita, efeknya Alquranlah yang akan membentuk karakter kita menjadi baik. _first we make habbits, then habbits make our_
Atau dalam bahasa Alquran surat Albaqarah 151 :
Tugas kerasulan, ialah membacakan ayat² Allah (setiap hari), *sehingga tersucikan jiwa (mendorong perubahan karakter menjadi baik),* mengajarkan ilmu dan hikmah, dan mengajarkan ilmu² khusus bagi yang tidak mengetahuinya (namun membutuhan).
Al imam Ibnu Jauzi rahimahullah juga berkata :
كان السلف إذا نشأ لاحدهم ولد شغولهم بحفظ القرأن وسماع الحديث فيثبت الإيمان فى قلبه
"Para ulama klasik terdahulu jika anaknya mulai tumbuh, mereka akan menyibukkannya dengan hafalan Al-Qur'an dan mendengarkan hadits. Karena itulah mengapa iman di hati anak -anak mereka begitu kokoh."
Ketika Adam Smith, Bapak Ekonomi, menjuluki praktek terbaik dalam ekonomi adalah _mohammedanism_, perekonomian yang terjadi di kota _madinah al munawwarah_ (kota yang bercahaya). Siangnya mereka berdagang, bertani, beternak, dan berbagai aktivitas dunia lainnya, malam harinya mereka menyalakan pelita dan melantunkan alquran yang menjadikan kota madinah bercahaya secara lahir oleh pelita² dirumah² penduduknya, dan memancarkan nur illahi dengan lantunan kalamNya dari setiap rumah penduduk madinah.
Peradaban kaum muslimin yang gilang gemilang menyilaukan dahulu bahkan hingga hari ini, adalah bukti betapa produk pendidikan karakter di masa itu luar biasa hebatnya.
Karena itu, selayaknya bila umat Islam kembali kepada Alquran. Eksekutif memberikan dorongan kebijakan, legislatif membuatkan peraturan perundangan dan anggaran yang memadai untuk *gerakan ayo mengaji alquran setiap hari*. Para tokoh masyarakat, para takmir masjid, komunitas², para dermawan, 'alim ulama', kyai/ibu Nyai, juga ustadz ustadzah (kembali) memberi perhatian ekstra kepada gerakan pemberantasan buta huruf alquran dan gerakan mengaji alquran setiap hari.
Pembetulan bacaan agar sesuai dengan yang dibaca oleh Kanjeng Nabi saw (bersanad) ialah jalan agar dicintai Allah swt. _sesungguhnya Allah mencintai Alquran dibaca sebagaimana ia diturunkan_ (HR Ibnu Khuzaimah).
Bila dalam membaca saja, sudah enggan belajar dari nol menjadi bisa membaca, yang sudah bisa membaca enggan melancarkan, yang sudah lancar enggan diperbaiki hingga tartil, apa lagi praktek keseharian perilaku pun akan enggan diperbaiki hingga mulia akhlaknya sesuai ajaran alquran. _Naudzubillah._
Dengan menyadari bahwa perbaikan bacaan alquran adalah awal dari perbaikan karakter menjadi akhlaqul karimah, maka literasi alquran sudah menjadi keharusan untuk diseriusi (kembali) oleh seluruh umat Islam. Sehingga terwujud generasi quran yang tartil bacaan Alqurannya, Ajeg tadarusnya, Mulia Akhlaqnya. Aamiin
Semoga Allah jadikan kita, dan keturunan kita semua generasi Al- Qur'an. Karena hanya kita & merekalah yang akan mampu memikul peradaban besar umat ini.
Allahummarchamnaa bil quran, wa min dzurriyatinaa. Aamiin.