13/05/2026
“Menikah saat miskin itu kriminal.”
Kalimat ini sering diucapkan seolah Islam mewajibkan seseorang kaya raya dulu sebelum halal.
Kalau memang begitu, maka banyak sahabat Nabi ﷺ tidak akan pernah menikah.
Islam tidak pernah menjadikan kekayaan sebagai syarat sah menikah.
Yang diwajibkan adalah:
- kemampuan bertanggung jawab,
- kesiapan memberi nafkah sesuai kemampuan,
- dan kesungguhan membangun rumah tangga.
Allah Ta’ala bahkan berfirman:
وَأَنْكِحُوا الْأَيَامَىٰ مِنْكُمْ وَالصَّالِحِينَ مِنْ عِبَادِكُمْ وَإِمَائِكُمْ ۚ إِنْ يَكُونُوا فُقَرَاءَ يُغْنِهِمُ اللَّهُ مِنْ فَضْلِهِ
“Nikahkanlah orang-orang yang masih sendiri di antara kalian… Jika mereka miskin, Allah akan memberi kemampuan kepada mereka dengan karunia-Nya.”
(QS. An-Nur: 32)
Perhatikan ayat ini. Allah tidak mengatakan:
“Tunggu kaya dulu baru menikah.”
Justru Allah memerintahkan menikahkan mereka, lalu Allah menjanjikan kecukupan dari karunia-Nya.
Nabi ﷺ juga pernah menikahkan seorang sahabat yang bahkan tidak memiliki harta untuk mahar. Beliau bersabda:
“Carilah walau hanya cincin dari besi.”
(HR. Al-Bukhari no. 5121, Muslim no. 1425)
Ketika tidak ditemukan apa pun, akhirnya mahar beliau adalah hafalan Al-Qur’an.
Artinya apa?
Kesungguhan dan tanggung jawab lebih penting daripada gengsi dan kemewahan.
Yang menjadi masalah bukan miskinnya.
Tapi:
- laki-laki yang malas bekerja,
- tidak mau menafkahi,
- hidup tanpa tanggung jawab,
lalu menjadikan istri dan anak sebagai korban.
Ini yang zalim.
Hari ini banyak orang berkata:
“Jangan nikah kalau belum mapan.”
Tapi anehnya, mereka membiarkan:
- pacaran bertahun-tahun,
- jalan berdua tanpa halal,
- chat romantis setiap hari,
- bahkan zina yang jelas dosanya besar.
Menunda halal terlalu lama juga bisa menjadi pintu kerusakan. Padahal menikah bukan tentang pesta besar, dekor mahal, atau gaya hidup sosial media.
Menikah adalah ibadah.
Tempat menjaga pandangan, kehormatan, dan ketenangan hati.
Bukan berarti setelah menikah lalu boleh nekat tanpa ikhtiar. Tetap wajib bekerja, berusaha, dan bertanggung jawab.
Namun jangan sampai standar manusia membuat orang takut halal, sementara maksiat justru dinormalisasi.