Tamim Aziz Muhammad Saleh

Tamim Aziz Muhammad Saleh Halaman untuk menuangkan Catatan, Dokumentasi, dan Kliping Media.

07/10/2023

KARAKTER KUAT DAN KUKUH

Siang itu, di salah satu pinggiran Madinah, cuaca sangat panas. Terik matahari memapar hamparan pegunungan. Ibnu Umar bersama rombongan sedang bersiap menyantap hidangan di bentangan alam bebas. Tetiba ada seorang budak yang melintas di dekat mereka. Dia sedang menggembalakan kambing. Dia beruluk salam.

“Wahai penggembala, mari makan bersama kami,” ajak Ibnu Umar.

"Saya sedang berpuasa,” jawabnya singkat.

"Apakah engkau berpuasa di tengah terik panas matahari yang menyengat seperti ini, padahal engkau sedang menggembalakan kambing di antara hamparan pegunungan?” tanya Ibnu Umar dengan nada heran.

"Demi Allah, saya tengah berpacu dengan hari-hari saya di dunia yang akan berlalu,” ujarnya dengan nada meyakinkan.

Ibnu Umar sangat terkesan dengan jawaban penggembala tersebut.

"Maukah engkau menjual seekor kambing kepada kami. Kami akan bayar. Kami akan bagikan kepadamu sebagian dagingnya untuk berbuka?” Kali ini pertanyaan disampaikan oleh Ibnu Umar untuk mengujinya.

"Ini bukan kambing saya. Ini milik tuan saya,” tampiknya dengan memberikan alasan.

"Saya kira tuanmu tidak akan mempermasalahkan bila dia kehilangan seekor kambing. Engkau bisa katakan kepadanya bahwa ia dimakan serigala,” kata Ibnu Umar mencoba membujuknya dengan menyodorkan alibi.

Penggembala tersebut mengeloyor pergi meninggalkan Ibnu Umar. Sambil mengangkat telunjuknya ke arah langit dia bertanya dengan nada retoris, “Lalu di manakah Allah?”

Ibnu Umar pun mengulang-ulang kalimat sang penggembala, ‘Lalu di manakah Allah?’.

Setiba di Madinah, Ibnu Umar mengirim utusan kepada tuan sang penggembala dengan misi luhur membebaskannya dari perbudakan. Dia beli sang penggembala beserta semua kambingnya. Dia merdekakan sang penggembala dan dia hibahkan kambing-kambing tersebut untuknya.

Tanpa mengubah plot cerita, kisah ini saya tuturkan dengan cara yang berbeda dari bahasa aslinya. Ini semata-mata agar mudah dipahami oleh pembaca. Asal kisah ini diketengahkan oleh Baihaqi dalam Syu’ab Al Iman dan Ibnul Jauzi dalam Shifat Ash Shafwah dengan redaksi yang sedikit berbeda. Kedua sumber menyebutkan bahwa kisah ini dialami oleh Abdullah ibnu Umar Ra (Abdullah putra Umar), bukan sang ayah Umar ibnul Khatab Ra. Hanya saja, Baihaqi dan Ibnul Jauzi sama-sama tidak menyebutkan nama sang penggembala, anonim.

Ruh dari kisah ini ada pada dialognya yang mengalir secara natural sepanjang cerita. Ia tidak dipaksakan dan dibuat-buat. Ia menyentakkan kesadaran imani yang sangat mengagumkan, terutama soal puasa dan kejujuran sang penggembala. Ibnu Umar pun dibikin terkesan olehnya.

Kisah ini menguak bahwa sang penggembala memiliki pandangan jauh tentang konsep masa depan. Pada saat orang lain beranggapan masa depan adalah hari-hari tua di dunia, dia memandang masa depan adalah hari-hari setelah kematian. Demi berbekal untuk hari setelah kematian inilah dia tetap menunaikan ibadah puasa tanpa peduli terik matahari yang garang membakar kulitnya, menguras keringatnya. Perjuangan yang luar biasa. Konsep berpikirnya sederhana, dunia adalah ladang untuk akhirat. Kapan lagi mau beramal kalau bukan saat masih di dunia?

Kisah ini juga mengulik kekuatan dibalik kejujuran sang penggembala. Nyatanya, kejujuran yang diperagakan olehnya benar-benar tulus lahir dari relung terdalam kalbunya. Bukan sekedar abang-abang lambe. Dia melakukannya bukan karena takut kepada tuannya. Rupanya, tindakan tersebut dipicu oleh kesadarannya akan pengawasan Allah Swt (muraqabatullah) kapan pun, di mana pun, dan dalam situasi apa pun. Prinsipnya tegas, meskipun tuannya tidak tahu, tetapi Tuhannya Maha Tahu.

Sisi lain yang juga tak kalah menariknya ialah hadirnya ibadah (puasa) dan etika (kejujuran) secara bersamaan dalam satu babak cerita. Ini mengisyaratkan adanya benang merah di antara keduanya. Ibadah berbuah etika. Puasa berbuah kejujuran. Rasulullah Saw bersabda sebagaimana diriwayatkan oleh Bukhari, "Barangsiapa yang tidak meninggalkan perkataan dusta dan (tetap) mengamalkannya, maka Allah tidak butuh dia meninggalkan makan dan minumnya (berpuasa).”

Potret utuh kisah ini menggambarkan bahwa sang penggembala adalah orang cerdas. Dia mampu mengendalikan dirinya dan beramal untuk bekal akhiratnya. Ini sebagaimana sabda Rasulullah Saw dalam riwayat Tirmidzi, "Orang yang cerdas adalah orang mampu menguasai dirinya dan beramal untuk (bekal) setelah kematian.”

Ya, sang penggembala adalah orang luar biasa. Jiwanya telah merdeka jauh sebelum fisiknya. Keimanannya kepada Allah Swt dan keyakinannya terhadap hari akhir telah menjadikan kepribadiannya memiliki karakter kuat dan kukuh. Dia tahan banting, tahan uji, tak bisa disetir, dan tak mempan bujuk rayu.

Wallaahu a’lam. [ta]

21/09/2023

MENGINGKARI KEMUNGKARAN

***
Suatu hari salah seorang sahabat Rasulullah Saw sedang menyusuri jalanan. Dia lebih dikenal dengan sebutan Abu Darda. Nama aslinya adalah Uwaimir bin Amir. Tanpa sengaja dia melewati kerumunan banyak orang. Mereka sedang membuli seorang lelaki yang ketahuan melakukan perbuatan dosa.

"Apa yang terjadi jika kalian mendapati lelaki tersebut tercebur dalam sumur? Tidakkah kalian akan menolongnya untuk keluar dari sumur?" tanya Abu Darda dengan bijak.

"Tentu,” jawab mereka singkat.

"Janganlah kalian membulinya. Dia saudara kalian. Lebih baik kalian memuji Allah Swt yang telah menyelamatkan kalian dari dosa yang diperbuatnya,” kata Abu Darda menasehati.

"Tidakkah Tuan membencinya?” tanya orang-orang dalam kerumunan.

"Saya membenci perbuatannya, bukan orangnya. Jika telah meninggalkan perbuatannya, dia adalah saudara saya,” jelas Abu Darda memberikan sedikit uraian.

Kisah ini dituturkan oleh Abu Nua’im dalam Hilyat Al Auliya Wathabaqat Al Ashfiya, Al Baghawi dalam Syarh As Sunnah, dan Ibnul Jauzi dalam Shifat Ash Shafwah. Para penutur kisah tidak menyebutkan jati diri lelaki malang tersebut. Mereka juga tidak memerinci jenis dosa yang telah diperbuatnya.

Siapa yang tidak geram melihat perbuatan tercela dilakukan di depan mata? Siapa yang tidak marah saat pelanggaran terhadap nilai dan norma dipertontonkan? Kira-kira seperti itulah situasi emosional yang menjadi latar cerita atau ‘setting’ dari kisah ini. Akibatnya, kerumunan orang yang geram dan marah membuncah meledakkan perundungan terhadap pelaku. Abu Darda menjadi pahlawan yang datang pada saat yang tepat. Dia hadir dengan taujih cerdas dan bijak.

Secara umum dialog yang mengalir antara Abu Darda dan orang-orang dalam kerumunan mengajarkan dua sikap. Kedua sikap tersebut menjadi etika yang harus ada pada setiap orang yang mengetahui orang lain melakukan perbuatan tercela. Pertama, memuji Allah Swt karena, berkat karunia-Nya, dia selamat dan tidak ikut terlibat dalam dosa yang diperbuat oleh pelaku. Kedua, menyelamatkan pelaku agar insaf dan menjauhkan diri dari perbuatan buruknya.

Kisah satu babak ini mengajarkan tentang hakikat mengingkari kemungkaran. Sejatinya ia adalah mengingkari perbuatan mungkar, bukan mengingkari orang yang melakukannya. Karena itu, kalau ada seseorang melakukan perbuatan tercela, mestinya yang menjadi sasaran dari rasa geram, marah, dan benci adalah perbuatannya, bukan pelakunya.

Adapun terkait pelakunya, dia harus dibantu untuk sadar. Pelaku keburukan harus diselamatkan agar tidak terus-menerus berkubang dalam keburukan. Rasulullah Saw, sebagaimana diriwayatkan oleh Bukhari, memerintahkan menolong orang yang berbuat zalim maupun yang terzalimi.

“Tolonglah saudaramu yang berbuat zalim maupun yang terzalimi,” perintah Rasulullah Saw.

"Ya Rasulullah, saya bisa menolongnya jika dia terzalimi. Lantas, terhadap yang berbuat zalim, bagaimana saya harus menolongnya?” tanya salah seorang sahabat.

"Cegahlah dia dari berbuat zalim. Sungguh itu adalah pertolongan untuknya,” jawab Rasulullah Saw.

Inilah hakikat mengingkari kemungkaran. Tak jarang hakikat ini dilupakan oleh kalangan pegiat dakwah. Tak bisa dipungkiri, terkadang ada di antara para aktivis, dengan dalih mengingkari kemungkaran, menjadikan pelaku dosa sebagai objek perundungan sebagaimana dalam kisah ini. Padahal, seharusnya yang dilakukan adalah misi penyelamatan agar pelakunya bisa meninggalkan perbuatan dosanya.

Perundungan pada pelaku dosa bukan saja menyalahi misi penyelamatan, tapi lebih dari itu, sebagaimana disinyalir oleh Ibnu Mas’ud, merupakan bentuk dukungan kepada setan yang telah menjerumuskan pelaku. "Bila kalian melihat saudara kalian melakukan perbuatan dosa, janganlah kalian membantu setan dengan mengatakan, ‘Ya Allah, hinakanlah dia! Ya Allah, laknatlah dia!’ Tetapi, berdoalah agar Allah Swt menyelamatkannya,” tuturnya.

Apa yang diperagakan oleh Abu Darda, dalam kisah ini, menggambarkan kedalaman penguasaannya terhadap fiqh inkar al munkar (fikih mengingkari kemungkaran). Ini tentu tidak bisa dilepaskan dari keberadaannya sebagai salah seorang yang pernah ditarbiyah langsung oleh Rasulullah Saw.

Walau boleh dibilang bahwa Abu Darda Ra termasuk dari kalangan kaum Anshar yang terakhir masuk Islam, namun demikian, dia menjadi sosok sahabat yang terkenal dalam sejarah Islam dengan kecerdasan akal dan hikmah (kebijaksanaan)-nya. Para salaf menyematkan sebutan hakimul ummah (orang bijaksana di tengah umat ini) padanya. Tak heran bila dia pernah menduduki jabatan sebagai qadhi (hakim di mahkamah) pertama di Damaskus.

Semoga Allah Swt meridai Abu Darda.

Wallaahu a’lam. [ta]

07/06/2022

SISI LAIN KECERDASAN

“Orang yang cerdas adalah orang yang mampu mengendalikan dan menguasai dirinya serta beramal untuk bekal di hari setelah kematian. Sedangkan orang bodoh adalah orang memperturutkan dirinya pada hawa nafsunya dan berangan-angan mendapatkan ampunan dari Allah.” (HR Tirmidzi, Ibnu Majah, dan Ahmad)

Seringkali kita dihadapkan pada pilihan-pilihan rumit. Tak jarang kerumitan tersebut berujung pada pergulatan psikologis. Seolah-olah ada suara-suara yang saling berlawanan dalam hati kita. Pergulatan kejiwaan dalam diri manusia ini merupakan kisah klasik setua umur sejarah manusia itu sendiri. Karena dalam tiap individu terdapat dua potensi yang memiliki kepentingan yang saling bertolak belakang. Potensi fujur dan taqwa. Dua kekuatan yang sama-sama berusaha untuk mendominasi dan mempengaruhi. Akibatnya, manusia kerap mejadi ragu dan bimbang di tengah pusaran tarik ulur antara dua kepentingan yang berlawanan. Allah berfirman, “Maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) fujur (kefasikan) dan ketakwaannya.” (QS al Syams: 08)

Dihadapan pilihan dan tarik ulur kepentingan ini, setiap individu dituntut mampu untuk menentukan pilihan secara cerdas dengan mempertimbangkan variabel-variabel yang ada. Hadits ini mengisyaratkan bahwa menentukan pilihan secara cerdas dapat dilakukan melalui dua pertimbangan penting. Pertama, pertimbangan akal sehat. Kedua, pertimbangan masa depan.

Pertimbangan Akal Sehat

Suatu pilihan akan berbobot jika ditentukan berdasarkan pertimbangan akal sehat. Sebaliknya, pilihan tersebut akan kehilangan nilainya manakala didasarkan pada pertimbangan emosional hawa nafsu. Rasulullah saw menyarankan, “Istafti Qalbaka, Istafti Nafsaka.” “Tanyakan kepada hatimu, tanyakan kepada dirimu “

Mengikutsertakan hawa nafsu dalam menentukan pilihan bukanlah tindakan cerdas. Sebaliknya, akan menjerumuskan pilihan tersebut dalam jurang kesulitan yang semakin rumit. Orang Arab mengatakan, “Aafatu al ra’yi al hawa.” “Yang merusak gagasan adalah hawa nafsu.”

Pertimbangan Masa Depan

Pilihan hendaklah ditentukan bedasarkan pertimbangan jangka panjang, bukan kepentingan sesaat. Sebuah pilihan hendakya merupakan jawaban atas pertanyaan, “Nanti bagaimana?” bukan pernyataan, “Bagaimana nanti.” Allah berfirman, “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok; dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS Al Hasyr: 18)

Secara khusus, hadits ini juga menjelaskan tentang konsep masa depan. Orang-orang cerdas memandang masa depan dengan pandangan jauh kedepan. Mereka tidak seperti katak dalam tempurung yang memandang masa depan hanya di dunia, di atas lengkungan bola bumi dan di bawah lengkungan bola langit. Pandangan orang cerdas tentang masa depan melesat jauh menembus dinding duniawi. Masa depan hakiki, dalam pandangan mereka, adalah masa depan setelah kematian; surga atau neraka.

Wallaahu a'lam.[ta]

13/06/2021
01/03/2021

ISRA MIKRAJ DAN MIRAS

Bukhari dan Muslim menceritakan salah satu fragmen yang terjadi di antara peristiwa Isra Mikraj Rasulullah Saw. Pendapat paling populer di masyarakat muslim Indonesia, peristiwa tersebut terjadi pada malam 27 Rajab tahun ke-10 kenabian.

Potongan peristiwa tersebut terjadi ketika beliau, dalam perjalanan Isra, sedang berada di Iliya. Iliya adalah nama lain Kota Baitul Maqdis. Beliau disodori dua cawan yang masing-masing berisi minuman keras dan air susu. Beliau mengamatinya lebih dulu, baru kemudian memilih cawan yang berisi air susu dan membiarkan cawan yang berisi minuman keras. Malaikat Jibril yang menyaksikan peristiwa tersebut terjadi di depan pandangannya bertutur dengan rasa syukur, “Alhamdulillah. Segala puji bagi Allah yang telah menuntunmu ke arah fitrah. Kalau seandainya kamu mengambil minuman keras, pastilah umatmu tersesat.”

Peristiwa ini mengajarkan pentingnya bertindak; menentukan pilihan; atau mengambil keputusan secara cerdas. Kecerdasan ini sangat diperlukan agar tindakan, pilihan, atau keputusan tidak bernilai ‘bodoh’ dan berakibat fatal di kemudian hari. Kata kuncinya ada pada tiga variabel utama, yaitu (1) sikap tidak tergesa-gesa; (2) bertindak sesuai fitrah mengikuti nurani, bukan hawa nafsu; dan (3) mempertimbangkan dampak yang bakal ditimbulkan.

Seperti itulah Rasulullah Saw. Saat minuman keras dan air susu disodorkan, beliau tidak serta-merta mengambil tindakan dan menentukan pilihan. Tidak tergesa-gesa. Ora grusa-grusu. Tindakan cerdas tak selamanya harus menyambar secepat kilat. Ada juga yang perlu jeda waktu untuk mencermati masalah sebelum mengambil keputusan. Istilahnya, berpikir sebelum tergelincir.

Tindakan Rasulullah Saw yang memilih air susu diapresiasi oleh Malaikat Jibril sebagai pilihan tepat dan sesuai fitrah. Sesuai logika akal waras, air susu itu sehat dan kaya manfaat, sedangkan minuman keras tidak sehat dan mendatangkan bayak mudarat. Bahkan minuman keras disinyalir merupakan sumber semua malapetaka. Rasulullah Saw pernah bersabda kepada Abu Darda’ sebagaimana dituturkan oleh Ibnu Majah, “Janganlah kamu minum minuman keras, karena ia kunci segala keburukan.” Orang yang fitrah dan akalnya sehat tentu tidak memilih minuman keras.

Sebaliknya, andai --begitu ungkapan Jibril-- beliau salah pilih, tentu dampak negatifnya luar biasa. Bukan saja pada diri beliau. Tapi, juga menimpa umatnya. Umat menjadi tersesat. Boleh dikata, memilih minuman keras adalah tindakan sesat dan menyesatkan. Sesat untuk diri sendiri dan menyesatkan bagi umat. Spektrum dampaknya sangat luas. Durasinya akan memanjang sepanjang sejarah umat ini.

Selamat memperingati peristiwa Isra Mikraj. Semoga para pemimpin cerdas dalam mengambil kebijakan untuk kemaslahatan bangsa.

Wallāhu a’lam. [ta]

16/12/2020

Address

Slawi

Website

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Tamim Aziz Muhammad Saleh posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Shortcuts

Share

Category