SATU Identik NYATA

SATU Identik NYATA Halaman resmi, info: ahlulbaitnabisaw-infosejarah.blogspot.com/ BUKTI BUKTI MEDIA DARI SEJARAH

Islamoderat Adalah Situs Pembela dan Pengikut Wahabi Yaitu Arrahmah, Ini Faktanya!
08/08/2017

Islamoderat Adalah Situs Pembela dan Pengikut Wahabi Yaitu Arrahmah, Ini Faktanya!

18/02/2017

Nah Lo!? Ibnu Jawzi: Maraknya Pemalsuan Hadis Keutamaan Abu Bakar. Dengan Tujuan Untuk Menandingi Hadis-hadis Sahih Keutamaan Imam Ali as, Berikut Buktinya!

Polisi Saudi Wahabi Bantai Peziarah Makam Nabi.Mengingat Kejadian 25 February 2009.Peringatan wafatnya Rasulullah saww d...
24/04/2014

Polisi Saudi Wahabi Bantai Peziarah Makam Nabi.

Mengingat Kejadian 25 February 2009.

Peringatan wafatnya Rasulullah saww diwarnai bentrokan antara pas**an keamanan Arab Saudi dan para peziarah makam nabi serta kompleks kuburan Baqi’. Bentrokan tersebut mengakibatkan dua peziarah gugur dan empat lainnya cidera.

Para saksi mata mengatakan, polisi syariat Arab Saudi menyerang para peziarah makam nabi dan Baqi serta memaki mereka. para saksi mata juga menyatakan bahwa usai perang mulut terjadi bentrokan dengan menggunakan batu dan pentungan. Sementara itu, polisi syariat Arab Saudi menembaki para peziarah yang mengakibatkan dua orang syahid dan sejumlah orang lainnya cidera.

Polisi syariatArab Saudi dan pas**an keamanan negara ini dua hari sebelumnya menyerang sekump**an wanita syiah yang berkumpul di depan komplek kuburan Baqi’. Selain itu polisi syariat Arab Saudi juga memukuli para wanita tersebut. Seorang pezirah sempat mengabadikan peristiwa tersebut dan memasukkannya ke situs Youtube.

Dalam rekaman tersebut dilihatkan permintaan bantuan dari seorang wanita syiah yang tengah dipukuli polisi syariat Arab Saudi. Film rekaman yang ditayangkan melalui situs Youtube tersebut membangkitkan kemarahan umat Syiah dunia.

Terkait hal ini, Sheikh Saffar, seorang ulama syiah Arab Saudi mengkritik sikap bungkam pemerintah Riyadh terhadap peristiwa ini. Sheikh Saffar meminta Pemimpin Arab Saudi, Raja Abdullah untuk mengambil tindakan pengamanan guna mengakhiri aksi brutal ini. Ia juga menuntut pembebasan warga Syiah yang ditahan saat berkonsentrasi di depan kuburan Baqi’. Saffar mengatakan, sikap polisi syariatArab Saudi terhadap para peziarah Rasulullah dan Baqi’ bertentangan dengan moral Islam,

Hak Asasi Manusia (HAM) dan kinerja Raja Abdullah yang tengah membentuk dialog antar agama dan nasional. Situs Rasid.com, Arab Saudi seraya mengisyaratkan puluhan warga cidera dalam bentrokan tersebut menulis, pas**an keamanan Arab Saudi menangkapi korban cidera yang tengah dirawat di rumah sakit Madinah

Menurut sumber ini, kondisi sejumlah korban cidera yang tengah dirawat di Rumah Sakit Az-Zahra dan Raja Fahd sangat kritis. Pengamat Arab Saudi, Taufiq As-Saif sangat mengkhawatirkan insiden yang terjadi di komplek Masjid Nabi dan kuburan Baqi’. Dikatakannya, pemerintah Riyadh harus menjaga keamanan dan jiwa warganya terhadap aksi kekerasan.

AS Membuat Al Quran Palsu di Timur Tengah.Al Quran palsu baru saja beredar di Timur Tengah. Qur’an palsu ini dicetak ole...
20/04/2014

AS Membuat Al Quran Palsu di Timur Tengah.

Al Quran palsu baru saja beredar di Timur Tengah. Qur’an palsu ini dicetak oleh dua perusahaan Amerika dengan embel-embel "True Furqon" atau Furqonul Haq.

Al Qur’an yang telah bertahan lebih dari 1400 tahun keasliannya, seperti yang kita tahu, adalah kitab suci umat Islam. Berbeda dengan Bibel umat Kristen, Qur’an tdaik punya versi apapun, walaupun dalam berbagai terjemahan, termasuk Al Qur’an yang diterjemahkan oleh para orientalis. Yang dimaksud kaum Orientalis di sini adalah para ilmuwan Kristen yang mempelajari Islam dan Qur’an, dengan niat untuk menjatuhkannya.

Qur’an dan terjemahannya yang beredar selama ini mempunyai 114 surat atau bagian, sedangkan True Furqon yang diklaim sebagai "Al Qur’an Abad 21" hanya mempunyai 77 surat, termasuk surat "Al-Fathihah, Al-Jana dan Al-Injil."

Surat-surat di dalam True Furqon tidak dimulai dengan "Bismillah" sebagaimana Al qur’an kecuali surat tertentu. Yang ada setiap surat dimulai dengan kepercayaan Kristen menyangkut konsep Trinitas. Al Qurqan mempunyai 366 halaman yang memakai huruf Arab dan terjemahan, untuk saat ini, bahasa Inggris. True Furqon juga banyak bertentangan dengan kepercayaan Islam. Salat satu ayatnya bahkan menyatakan bahwa poligami dilarang, perceraian diharamkan dan memuat pembolehan sistem perbankan.

True Furqon yang dijual dengan harga $3 AS mengatakan bahwa jihad sebagai sesuatu yang haram dan dilarang. Yang paling membuat heboh adalah hal ini ditemukan oleh M**F (Moro Islamic Liberation Front). Jadi kemana saja bangsa Arab selama ini?

Dokumen Ini Ungkap Ide Mendirikan Negara Yahudi di Arab Saudi.Sebuah dokumen di Inggris tercatat tahun 1917 mengungkap s...
08/04/2014

Dokumen Ini Ungkap Ide Mendirikan Negara Yahudi di Arab Saudi.

Sebuah dokumen di Inggris tercatat tahun 1917 mengungkap sebuah rencana pendirian negara Yahudi di Arab Saudi. Untuk mewujudkan gagasan itu, sekitar 120 ribu tentara Yahudi dari Inggris dan Rusia disiapkan untuk menyerang kawasan Teluk.

Kawasan teluk yang menjadi target kala itu adalah sebuah provinsi El-Hassa, Turki. Dokumen kuno itu ditulis ilmuwan Rusia yang bekerja pada The British Library, Dr ML Rothstein.

Dalam suratnya, dia pernah menyampaikan ide itu kepada duta besar Inggris untuk Perancis, Lord Francis Bertie dan diketahui Menteri Luar Negeri Inggris, Arthur James Balfour.

Dia mempunyai gagasan untuk menciptakan negara Yahudi modern di area yang sekarang menjadi wilayah Arab Saudi. Dokumen itu menjelaskan secara rinci bagaimana infiltrasi tersebut akan dilanjutkan.

”Saya berusaha untuk menyusun, untuk musim semi berikutnya, sebuah pertempuran pas**an Yahudi, berkekuatan 120.000 orang, yang akan berlipat ganda yang bekerjasama dengan pas**an Entente,” tulis Rothstein dalam suratnya, seperti dikutip Al Arabiya, kemarin (6/4/2014).

Rothstein--masih menurut dokumen itu--, menjelaskan bahwa perang dengan Turki bisa terjadi. Dia bahkan yakin pas**an Yahudi dari Inggris dan Rusia bisa memenangkan perang.

Kendati demikian, ide itu akhirnya ditolak Pemerintah Inggris, karena dianggap tidak pantas. Menteri Luar Negeri Inggris Arthur James Balfour melalui sekretaris pribadinya, pada 3 Oktober 1917 meminta Bertie berkomunikasi dengan Rothstein terkait penolakan ide pendirian negara Yahudi itu dari Pemerintah Inggris.

Dalam surat Rothstein itu juga tertulis latar belakang keluarga Rothstein. Di mana, anak Rothstein yang bernama Amedee, merupakan tokoh zionis muda Rusia yang tewas dalam Perang Verdun tahun 1916.

Lokasi lain untuk pendirian negara Yahudi, selain Arab Saudi, adalah Uganda, Argentina, Rusia, dan Siprus. Tapi semua wilayah dalam ide itu juga ditolak Inggris. Namun, Balfour dalam suratnya tertanggal 2 November 1917 mendukung pendirian pendirian permukiman untuk orang-orang Yahudi di Palestina.

Sikap FPI Terhadap Kasus Kendal. Jakarta – FPI: Kasus bentrokan di Kendal yang melibatkan FPI hingga kini masih menjadi ...
22/03/2014

Sikap FPI Terhadap Kasus Kendal.

Jakarta – FPI: Kasus bentrokan di Kendal yang melibatkan FPI hingga kini masih menjadi pembahasan yang serius di masyarakat maupun dalam internal organisasi FPI sendiri. Sementara menunggu hasil pemeriksaan mendalam oleh aparat berwenang di Polda Jateng, pihak DPP-FPI pun terus berkonsolidasi dan merangkum bukti dan keterangan seputar peristiwa tersebut untuk menetukan sikap selanjutnya. Setelah serangkaian kejadian Kendal sejak Rabu minggu lalu hingga hari ini, akhirnya FPI mengemukakan pernyataan MENYIKAPI KASUS KENDAL:

Dalam Kasus Kendal ada EMPAT peristiwa, sehingga penyikapan dan penanganannya harus cermat dan teliti, apalagi aspek hukumnya berbeda-beda :

Pertama, PEMBIARAN PELACURAN. Ini merupakan kejahatan serius, karena Pelacuran dalam keputusan HAM PBB maupun perundang-undangan nasional kita termasuk Human Trafficking (Perdagangan Manusia). Sehingga jika SBY selaku Presiden RI tetap membiarkan SARANG PELACURAN, maka SBY terlibat langsung mau pun tidak langsung dalam kejahatan Human Trafficking. Apalagi jika SARANG PELACURAN dilokalisasi dan dilegalisasi, maka berarti SBY secara terang-terangan menjustifikasi HUMAN TRAFFICKING.

Kedua, BENTROK FPI dan PREMAN. Ini wajib diproses secara hukum hingga tuntas, karena para PREMAN PELACURAN tidak lain dan tidak bukan adalah OPERATOR HUMAN TRAFFICKING, sehingga mereka harus dihukum berat. Ditambah lagi mereka telah menganiaya anggota FPI dan merusak serta membakar kendaraan FPI.

Ketiga, KECELAKAAN LALU LINTAS. Saat salah satu mobil FPI dikepung PREMAN PELACURAN dengan aneka sajam, maka supir sewanya panik dan ketakutan, sehingga tancap gas yang menabrak beberapa orang, salah satunya meninggal dunia. Kasus ini wajib diproses secara hukum hingga tuntas, karena ada orang tidak bersalah yang jadi korban dan FPI harus bertanggung-jawab terhadap korban tak bersalah.

Keempat, KEMARAHAN WARGA. Warga yang marah karena ada warga yang tak bersalah tertabrak, apalagi ditambah provokasi para preman adalah hal yang wajar dan harus dimaklumi. Karenanya, warga yang marah lalu merusak dan membakar kendaraan FPI seyogyanya dimaafkan dan tidak diproses hukum.

Karenanya, Usai Dialog di TV ONE, Selasa 23 Juli 2013 malam, suami Almarhumah Tri Munarti korban meninggal dalam Kasus Kendal, Bpk. Samsu Eko Julianto, langsung malam itu juga diundang secara khusus datang silaturrahmi ke rumah Ketua Umum FPI, Habib Muhammad Rizieq Syihab, untuk didengar semua keluhan dan penderitaan serta tuntutannya. Beliau didampingi beberapa pengurus FPI dan dua orang Crew TV ONE. Usai mendengar curhat Bpk. Samsu dengan seksama dan penuh keprihatinan, maka Habib Muhammad Rizieq Syihab memutuskan sebagai berikut:

1. DPP FPI dengan rasa penyesalan yang mendalam memohon maaf kepada keluarga korban meninggal mau pun luka. Dan mendoakan semoga korban meninggal diterima di sisi Allah SWT, sedang korban luka agar lekas sembuh.

2. DPP FPI siap memberikan santunan untuk keluarga korban meninggal mau pun luka buat pengobatan dan persiapan menyambut Lebaran.

3. Oknum penabrak korban hingga meninggal dunia tetap akan diproses secara hukum hingga tuntas. Begitu juga oknum FPI lainnya yang melakukan tindak kriminal.

4. DPP FPI siap memberikan BEA SISWA untuk kedua putra korban hingga S-1 dengan nilai per bulannya Rp.500 ribu per anak terhitung mulai bulan Juli 2013.

5. Terkait warga yang ditahan karena menganiaya FPI atau merusak kendaraan FPI, jika mereka WARGA UMUM, maka FPI mencabut laporan dan meminta Polri untuk melepaskan mereka, karena mereka hanya korban provokasi. Sedang jika yang ditahan adalah WARGA PREMAN, maka tetap akan diproses secara hukum, karena mereka adalah provokator sekaligus penjahatnya.

6. DPP FPI tetap menugaskan TIM INVESTIGASI KENDAL untuk menuntaskan tugasnya, agar permasalahan jadi jelas, sehingga DPP FPI bisa mengambil tindakan yang semestinya terhadap jajaran pengurus FPI yang bersalah.

7. DPP FPI menginstruksikan kepada segenap cabang FPI agar dalam merekrut anggota diperketat dan wajib mengikuti persyaratan sesuai AD / ART, yaitu : Muslim, Beriman dan Bertaqwa, Berakhlaqul Karimah, Tahu Rukun Iman dan Rukun Islam, Bisa Shalat dan Baca Al-Qur'an, serta wajib izin orang tua.

8. Sesuai Prosedur Standar AMAR MA'ARUF NAHI MUNKAR FPI, maka dilarang keras melakukan SWEEPING, PERUSAKAN, PENGANIAYAAN apalagi PEMBUNUHAN. Aktivis FPI hanya boleh MONITORING, itu pun harus berkoordinasi dengan aparat yang berwenang.

9. DPP FPI membolehkan dalam hal pelaku ma'siat / pelanggar hukum yang tertangkap tangan, untuk ditangkap Aktivis FPI tanpa dianiaya untuk langsung diserahkan kepada yang berwajib sebagaimana diatur dalam KUHAP.

10. DPP FPI kembali mengingatkan bahwa FPI akan mengambil TINDAKAN TEGAS terhadap setiap cabang mau pun anggota jika melakukan pelanggaran terhadap HUKUM AGAMA dan HUKUM NEGARA.

Sumber: http://fpi.or.id/79-Sikap-FPI-Terhadap-Kasus-Kendal.html

Puasa Asyura – Penyimpangan Historis?Hari ini, 10 Muharram, banyak Muslim yang saleh me­lakukan puasa Asyura (Asyura art...
22/03/2014

Puasa Asyura – Penyimpangan Historis?

Hari ini, 10 Muharram, banyak Muslim yang saleh me­lakukan puasa Asyura (Asyura artinya tanggal 10 Muharram) Mereka ingin mencontoh Rasulullah saw. yang berpuasa pada hari itu. Saya kutipkan salah satu hadis tentang puasa Asyura dari Shahih Bukhari:

“Dari Ibnu ‘Abbas, ketika Nabi Muhammad saw. tiba di Madinah dia melihat orang Yahudi berpuasa pada hari Asyura. Nabi saw. bertanya: ‘Apakah ini?’ Orang-orang Yahudi berkata: ‘Ini hari yang balk. Pada hari inilah Allah menyelamatkan Bani Israil dari musuh mereka, maka Musa a.s. berpuasa pada hari itu.’ Kata Nabi saw.: ‘Aku lebih berhak terhadap Musa daripada kalian.’ Maka Nabi pun melakukan puasa dan menyuruh orang untuk melakukannya juga.”

Bukhari menyatakan -hadis ini sahih. Tetapi marilah kita teliti dengan ilmu hadis dan kritik historis. Segera kita menemukan beberapa hal yang janggal.

Pertama. Sahabat yang meriwayatkan peristiwa ini adalah Abdullah ibnu ‘Abbas. Menurut para penulis biografinya, Ibnu ‘Abbas lahir tiga tahun sebelum hijrah. Ia hijrah ke Madinah pada tahun ketujuh Hijri. jadi, ketika Nabi saw. tiba di Madinah, Ibnu ‘Abbas masih di Makkah dan belum menyelesai­kan masa balita-nya.

Dari mana Ibnu ‘Abbas mengetahui peristiwa, itu? Mungkin dari sahabat Nabi yang lain, tetapi ia tidak menyebutkan siapa sahabat Nabi itu. Ia menyembunyikan sumber berita, sehingga seakan-akan ia menyaksikan sendiri peristiwa itu. Dalam ilmu hadis, perilaku seperti itu disebut tadlis (Pelakunya disebut mudallis).

Kedua, bandingkanlah riwayat ini dengan riwayat-riwayat yang lain dari Ibnu ‘Abbas. Menurut Muslim, Nabi diriwayatkan bermaksud puasa pada hari Asyura tetapi tidak kesampaian. Dia keburu meninggal dunia. Masih menurut Muslim, dan juga dari Ibnu ‘Abbas, Nabi saw. sempat melakukannya setahun sebelum dia wafat. Bila kita bandingkan riwayat Ibnu ‘Abbas ini dengan riwayat-riwayat dari sahabat-sahabat Nabi yang lain, kita akan menemukan lebih banyak lagi pertentangan. Menurut Siti Aisyah, Nabi sudah melakukan puasa Asyura sejak zaman jahiliyah. Nabi meninggalkan puasa Asyura setelah turun perintah puasa Ramadhan (Shahih Bukhari). Menurut Mu`awiyah, Nabi saw. memerintahkan puasa Asyura pada waktu haji wada [Shahih Bukhari].

Ketiga, Nabi saw. menemukan orang Yahudi berpuasa Asyura ketika dia tiba di Madinah. Semua ahli sejarah sepakat Nabi tiba di Madinah pada bulan Rabi`ul Awwal. Bagaimana mungkin orang berpuasa 10 Muharram pada 12 Rabi`ul Awwal? Mungkinkah orang shalat Jum’at pada hari Senin?

Keempat, Nabi saw. diriwayatkan meniru tradisi Yahudi untuk melakukan puasa Asyura. Bukankah Nabi berulang-ulang mengingatkan umatnya untuk tidak meniru tradisi Yahudi dan Nashara? “Bedakan dirimu dari orang Yahudi,” kata Rasulullah saw. Begitu seringnya Nabi saw. mengingatkan umat Islam waktu itu untuk berbeda dengan Yahudi, sampai seorang Yahudi berkata, “Lelaki ini (maksudnya Muhammad) tidak ingin membiarkan satu pun tradisi kita yang tidak ditentangnya)” [Lihat Sirah Al-Halabi­yah, 2:115].

Kelima, bila kita mempelajari ilmu perbandingan agama, kita tidak akan menemukan tradisi puasa Asyura pada agama Yahudi. Puasa Asyura hanya dikenal oleh sebagian umat Islam, berdasarkan riwayat yang otentisitas dan validitasnya kita ragukan itu.

Berdasarkan penelitian di atas, banyak di antara kita dengan setia menjalankan sunnah Rasulullah saw yang tidak benar. Bila pe­nelitian historis ini kita lanjutkan kita akan menemukan bahwa puasa Asyura adalah hasil rekayasa politik Bani Umayyah. Yazid bin Mu`awiyah berhasil membantai -keluarga Rasulullah saw. di Karbela pada 10 Muharram. Bagi para pengikut keluarga Nabi saw, hari itu adalah hari dukacita, hari berkabung, bukan hari bersyukur. Bani Umayyah menjadikan hari itu hari bersyukur. Salah satu ungkapan syukurnya ialah menjalankan puasa. Di samping riwayat-riwayat di atas ditambahkan juga riwayat-riwayat lain. Konon, pada 10 Muharram Allah SWT menyelamatkan Musa dari kejaran Fir`aun, menyelamatkan Nuh dari air bah, menyelamatkan Ibrahim, dari api Namrud, dan sebagainya.

[tulisan diatas di kutip dari buku Islam Aktual - Jalaluddin Rakhmat, dibawah judul: Kritik Hadist]

Tak ada kisah tragis yang melebihi kedahsyatan tragedi Karbala, bahkan Raja Bani Umayah waktu itu, Yazid bin Muawiyah secara diplomatis berusaha menyangkal kejadian itu dan melemparkan tanggung jawab ke panglima perangnya yang durjana Ubaidillah bin Ziyad, walaupun strategi politik dan kenyataan sejarahnya malah menguatkan hal itu. Imam Huseyn bin Ali AS adalah Amirul Mukminin dan Khalifah Nabi yang sah yang dipilih oleh umat Islam waktu itu, sepeninggal saudaranya Hasan bin Ali AS. Perseteruan politik dan kerakusan akan kekuasaan oleh Bani Umayah membuat mereka hilang ingatan, berusaha membantai lawan politiknya yang tak lain adalah cucunda Rasulullah SAWW.

Suatu ketika di suatu masa, seorang pemimpin keluarga, pemimpin komunitas yang disucikan, selama 10 hari berturut2 dipaksa untuk berpuasa di padang gersang, tak jauh darinya ada oase yang dijaga oleh tentara2 bengis yang berpedoman pada kitab yang sama, al-Quran yang mulia. Imam Huseyn bin Ali Sayyidu- syuhada Alaihimussalam, cucunda Rasulullah SAWW dengan kekuatannya yang hanya berjumlah 72 orang melewati hari ke 10 Muharram tahun 61Hijriah dengan erangan ketika leher suci beliau dipenggal oleh Syimr bin Dzil Jausyan. Cerita lengkap dapat disimak di link ini; Pembantaian di Karbala. Dan kemudian sejarah membuktikan, pembantaian demi pembantaian yang dilakukan oleh sesama Muslim diteruskan oleh para durjana bersorban demi kekuasaan dunia.

10 Muharram tahun 61 Hijriah, Imam Husain a.s. gugur syahid di Padang Karbala. Sebelumnya, Imam Husain a.s. dipaksa untuk berbaiat kepada Yazid yang telah mengangkat diri sebagai khalifah umat muslimin. Imam Husain menolak berbaiat dan beliau bersama 72 sahabat dan anggota keluarganya, meninggalkan Madinah untuk menuju kota Kufah. Sebelumnya, rakyat kota Kufah mengundang beliau agar memimpin perjuangan melawan Yazid. Namun, represi dari pemerintahan Yazid membuat rakyat Kufah berkhianat dan dalam perjalanan menuju Kufah, kafilah Imam Husain digiring ke Padang Karbala, di tepi sungai Eufrat. Akhirnya pada tanggal 10 Muharam, pas**an Yazid menyerang Imam Husain. Dalam pertempuran yang sangat tidak seimbang itu, Imam Husain dan para pembela setia beliau gugur syahid.

Akulah Husein putra Ali, putra Fatimah,
Untuk tunduk, aku tak kan sudi,
Kubela keluarga ayahku sampai mati,
aku memegang teguh agama Nabi.

Kafilah Karbala Tiba di Damaskus
1 Shafar tahun 61 Hijriah, kafilah Karbala tiba di Damaskus, ibu kota pemerintahan Yazid bin Muawiyah. Dua puluh hari sebelumnya, tanggal 10 Muharram, Imam Husain a.s. beserta 72 anggota kafilah beliau bertempur di Padang Karbala melawan pas**an Yazid yang berjumlah ribuan orang. Imam Husain a.s. dan beberapa kerabat serta sahabat setia beliau gugur syahid dalam pertempuran ini. Sisa rombongan yang terdiri dari kaum perempuan, anak-anak, dan Imam Ali Zainal Abidin yang saat itu sedang sakit, ditawan oleh pas**an Yazid dan digiring ke Damaskus. Di hadapan khlayak Damaskus, Imam Zainal Abidin dan Sayyidah Zainab menyampaikan kejadian Karbala dan membongkar perilaku keji pas**an Yazid. Untuk mengelakkan kemarahan rakyatnya, Yazid mengingkari telah memerintahkan pembunuhan terhadap Imam Husain a.s. dan melemparkan kesalahan kepada komandan pas**annya, Ubaidillah bin Ziyad. Yazid juga terpaksa membebaskan kafilah Karbala untuk kembali ke Madinah.

Selanjutnya, dimasa kekhalifaan dinasti Umayah dan Abbasyah, para Imam AhlulBayt diberangus hak politiknya. Walaupun demikian, pengikut-pengikutnya tetap setia sampai saat ini. Tercatat beberapa kerajaan Islam yang kemudian berdiri dan berlandaskan perjuangan Imam Huseyn bin Ali; semisal Dinasti Fatimiah di Mesir dan Republik Islam Iran.

Dua Wajah Asyura.Sejarah selalu punya sisi ironi. Entah  siapa yang memulai, ada semacam ‘kearifan’ untuk menyikapi seja...
22/03/2014

Dua Wajah Asyura.

Sejarah selalu punya sisi ironi. Entah siapa yang memulai, ada semacam ‘kearifan’ untuk menyikapi sejarah dengan santun; mengingat yang baik-baik saja dan berusaha mengubur dalam-dalam kisah yang mencederai ‘kebaikan’nya.

Tapi sejarah tidak selalu menyajikan kronik yang berakhir indah, terutama bagi pihak yang konon terkalahkan. Jauh di dalam ingatan penerusnya, mereka merawat kenangan berbeda dari yang disajikan sejarah. Sejarah memang selalu punya sisi ironi. Dan tragisnya, keyakinan hidup kita banyak terbentuk karena pergumulan kita dengan bacaan sejarah itu!

Asyura, salah satu hari ‘suci’ bersejarah dalam agama Islam, juga agama-langit lainnya, tak lepas dari konteks yang melahirkan dua wajah berbeda. Penamaan ‘asyura’ sendiri merujuk ke bahasa arab, asyarah yang berarti sepuluh. Namun secara terminologis dikatikan khusus kepada 10 Muharram.

Wajah Sukacita Asyura.

Dalam banyak tradisi agama, puasa memang dimaksudkan sebagai ungkapan atau peringatan rasa syukur kepada Sang Pencipta atas ‘kebaikan’ yang diberikanNya. Juga, terkadang sebagai ibadah untuk ‘mengambil hati’ sang Maha Agung agar memberikan ampunan dan barokah bagi umat yang melaksanakannya. Pun demikian dengan puasa pada hari asyura. Banyak riwayat yang mengungkapkan bahwa puasa ini di ‘syariat’kan sebagai ungkapan s**a cita, dari jaman umat nabi Nuh as hingga Muhammad saw.

Sepanjang pekan lalu dan mungkin akan terus berlangsung hingga 10 Muharram tiba, banyak pesan dakwah berseliweran di email, BBM, twitter dan facebook, mengingatkan pentingnya melaksanakan puasa sunnah Asyura pada tanggal 9-10 Muharram.

Pesan baik itu berbunyi bahwa barang siapa berpuasa pada 9-10 Muharram atau besok (Senin & Selasa) itu seolah-olah ia telah melakukan ibadah selama 2 tahun, dan siapapun yang mengingatkan orang lain hal ini seolah-olah ia telah melakukan ibadah selama 80 tahun.

Asal muasalnya berikut ini. Diceritakan dalam beberapa sumber bahwa awalnya puasa Asyura ini hanya dikerjakan oleh Nabi Muhammas SAW sendiri. Kemudian setelah itu Nabi memerintahkan umatnya untuk berpuasa. Setelah Ramadhan diwajibkan, beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak memerintahkan lagi, cuma menganjurkan saja. (HR. Bukhari: 3/454, 4/102, 244, 7/147. Muslim: 2/792, dll).

Ada juga riwayat yang menyatakan bahwa Rasulullah berpuasa hanya pada tgl 10 Muharram saja, kemudian ‘berkeinginan’ menambah puasa pada tgl 9 untuk menyelisihi orang-orang Yahudi yang juga berpuasa pada setiap tgl 10 (mungkin yang dimaksud adalah Yom Kippur, 10 bulan Tishrei, Day of Atonement/Hari Pembalasan) http://en.wikipedia.org/wiki/Yom_Kippur .
(Fathul-Baari 4/245). Namun puasa tanggal 9 Muharram ini tidak pernah dilaksanakan karena beliau SAW keburu dipanggil Allah azza wa jalla.”(HR: Muslim 2/798).

Mitos-mitos di seputar Asyura.

Konon, bertepatan dengan 10 Muharram ini ada banyak kejadian yang terjadi di umat-umat terdahulu semisal; Allah SWT menerima taubat nabi Adam as, Bebasnya Nabi Nuh dan ummatnya dari banjir besar, Nabi Ibrahim selamat dari apinya Namrudz, Kesembuhan Nabi Yakub dari kebutaan dan ia dibawa bertemua dengan Nabi Yusuf pada hari Asyura, Nabi Musa selamat dari pas**an Fir’aun saat menyeberangi Laut Merah, dan Nabi Isa diangkat ke surga setelah usaha Roma untuk menangkap dan menyalibnya gagal.

Disamping itu, ada banyak lagi kisah yang berbau mitos melekat pada peringatan 10 Muharram ini, seperti bahwa pada hari yang sama merupakan hari awal Allah SWT menciptakan Luh Mahfuz dan alam semesta, menurunkan Rahmat/hujan, membangun ‘Arasy, juga hari dimana Allah SWT mencipta malaikat agung Jibril as.

Adalah seorang ahli hadist asal Pakistan, M***i Taqi Uthmani http://www.albalagh.net/general/muharram.shtml , dalam situs http://www.albalagh.net mempersoalkan anggapan yang mengaitkan berbagai kisah besar dibalik tanggal 10 Muharram ini. Tidak ada satupun ayat dalam al-Qur’an atau riwayat hadist shahih yang membenarkan bahwa kejadian supranatural atau mujizat para nabi di zamannya itu terjadi pada tanggal 10 Muharram, apalagi dikaitkan dengan hari pertama Allah SWT menciptakan alam, jibril, atau arsy’.

Disamping bermasalah dari sisi teologis dan filosofis, pengaitan berbau mitos ini juga sangat meragukan dari sisi telaah hadist. Karenanya M***i Taqi Uthmani yang juga mendalami tasawwuf menyatakan banyaknya mitos dan kesalahan yang melekat pada peringatan Asyura tanpa ada landasan syariah yang otentik.

Hadist yang dikumpulkan oleh Imam Bukhari yang menjadi rujukan utama dilembagakannya puasa asyura juga bukan bebas dari kritikan. Bunyi hadist terkenal itu sebagai berikut:

“Dari Ibnu ‘Abbas, ketika Nabi Muhammad saw. tiba di Madinah dia melihat orang Yahudi berpuasa pada hari Asyura. Nabi saw. bertanya: ‘Apakah ini?’ Orang-orang Yahudi berkata: ‘Ini hari yang balk. Pada hari inilah Allah menyelamatkan Bani Israil dari musuh mereka, maka Musa a.s. berpuasa pada hari itu.’ Kata Nabi saw.: ‘Aku lebih berhak terhadap Musa daripada kalian.’ Maka Nabi pun melakukan puasa dan menyuruh orang untuk melakukannya juga.

Hadist ini diriwayatkan oleh Ibn Abbas pada saat Rasulullah SAW tiba di Madinah selepas melakukan perjalanan hijrah dari Mekka. Namun, dari telaah sejarah hidup para sahabat diketahui bahwa Ibn Abbas sendiri pada saat peristiwa hijrah terjadi baru berusia 3 tahun dan masih menetap di Mekka bersama orang tuanya. Bagaimana mungkin Ibn Abbas meriwayatkan hadist saat beliau masih balita dan berada ratusan kilometer dari sisi Nabiullah SAW?

Juga, sekira nabi melihat umat yahudi berpuasa asyura saat itu, bukankah umum dipahami bahwa saat Nabi hijrah itu terjadi pada bulan Rabiul Awal, bukan Muharram? Bagaimana mungkin orang berpuasa 10 Muharram pada bulan Rabi`ul Awwal?

Selain itu, hadist-hadist yang menjadi rujukan awal penerapan puasa asyura ini sepertinya saling bertentangan. Riwayat dari Aisyah ra menyatakan bahwa Nabi menjalankan puasa asyura ini sejak jaman jahiliah, sementara hadist Ibn Abbas di atas menyebutkan bahwa Rasulullah menjalankan sejak hijrah, ada juga hadist versi lain dari Muawiyah yang menyebutkan bahwa puasa asyura dijalankan selepas haji wadha dan setahun kemudian beliau wafat tanpa sempat menjalankannya.

Logika awam menyatakan bahwa tidak mungkin tiga-tiganya benar, meski seluruhnya ternyata dikumpulkan dalam kump**an hadist terpercaya yang disusun oleh Bukhari.

Tradisi “Pesta” di Hari Asyura.

Terlepas dari kontroversinya, sebagian besar umat Islam sunni di nusantara dan seluruh dunia menyambut asyura dengan s**acita. Selain berpuasa, mereka juga melakukan berbagai perayaan untuk menyambut hari mulia ini. Suku Banjar di Kalimantan merayakan hari Asyura dengan membuat bubur Asyura yang terbuat dari beras dan 41 macam bahan campuran yang berasal dari sayuran, umbi-umbian dan kacang-kacangan. Bubur Asyura tersebut akan disajikan sebagai hidangan berbuka puasa sunnah di Hari Asyura.

Tradisi peringatan asyura juga dikenal dalam budaya jawa yang berpusat di kraton Yogyakarta dan Surakarta. Dimulai sejak 1 Muharram yang di-jawa-kan menjadi 1 Suro, pihak kraton mengawali tradisi ‘Mubeng Beteng’ atau berjalan mengitari benteng Kraton membawa benda-benda pusaka. Tetangga dekatnya, Kraton Kasunanan Solo, juga melakukan perayaan yang sama, menggelar kirab mengelilingi kraton dan ruas jalan protokol sejauh tujuh kilometer membawa sejumlah pusaka dan tujuh ekor kerbau Kyai Slamet. Warga meyakini kirab benda pusaka dan kerbau Kyai Slamet memiliki nilai mistis yang tinggi. Mereka berharap, tuah pusaka yang di arak keliling akan mendatangkan berkah.

Di Lereng Gunung Merapi, perayaan asyura ditandai oleh ribuan warga yang menggelar nasi tumpeng saat ritual sedekah gunung digelar di Boyolali, Jawa Tengah. Warga percaya, dengan memakan nasi tumpeng dari acara ritual sedekah gunung itu kehidupan mereka bisa aman dari ancaman erupsi gunung merapi.

Sementara di Sleman, warga menggelar lomba memasak nasi kebuli berhadiah kambing. Sajian nasi kebuli mengandung pengharapan dikabulkannya segala keinginan warga. Makna itu berasal dari kata kebuli yang berasal dari bahasa Arab yaitu qobuli yang berarti terkabul.

Di belahan dunia lain, kebiasaan umat islam di Mesir menyantap kue puding Asyura yang dihidangkan setelah makan malam pada hari Asyura. Puding asyura ini dibuat khusus dari bahan gandum dengan tambahan kacang, kismis, dan air mawar.

Hidangan yang hampir mirip juga disajikan di Turki, yang di sana disebut sebagai kue Ashure atau puding nabi Nuh, merujuk kepada peringatan bebasnya umat nabi Nuh dari bencana banjir dahsyat. Konon ketika Bahtera Nuh akhirnya bersandar di Gunung Ararat di timur laut Turki, keluarga nabi Nuh hendak merayakannya dengan hidangan khusus. Namun persediaan mereka hampir habis, kecuali biji-bijian, buah-buahan kering dan sejenisnya. Akhirnya bahan itu dimasak bersama-sama dan terciptalah puding Ashure yang kemudian menjadi kuliner khas dari Turki.

Peristiwa Karbala: Wajah Duka Asyura.

Kalau sebagian umat islam merayakan kesyukuran dan s**a cita menyambut 10 muharram dengan berpuasa asyura dan berbagai macam pesta makanan, maka keadaan sangat berbeda terjadi pada ummat syiah.

Umat syiah sering menyebut diri mereka sebagai pengikut mazhab ja’farian (merujuk ke Imam syiah ke-6 Imam Ja’far Shadiq yang mengukuhkan dasar-dasar teologis dan fiqh Syiah) atau mazhab ahlul-bayt (ahlul bayt: keluarga nabi Muhammad SAW dari keturunan Imam Ali bin Abi Thalib as – Fatimah).

Bagi umat syiah, hari Asyura pada 10 Muharram diperingati sebagai hari duka cita yang sangat mendalam. Duka cita ini merujuk ke sebuah peristiwa sejarah yang terjadi pada tanggal 10 Muharram 61H/680M.

Pada hari naas itu, Imam Husain bin Ali bin Abi Thalib, cucu kesayangan Rasulullah SAW dibantai bersama 72 anggota keluarganya di padang Karbala, sebuah padang gersang menjelang Kufah, dalam sebuah peperangan tak seimbang melawan balatentara Ubaidillah Ibn Ziyad yang berjumlah 100ribu serdadu.

Peperangan ini bermula dari sikap Imam Husayn yang menolak membaiat Yazid bin Muawiyah. Setelah Mu’awiyah mati, gubernur Madinah kala itu, Walid bin ‘Utbah, menerima perintah untuk memaksa Imam Husayn as membaiat Yazid.

Namun Imam Husayn menjawab tegas, “Yazid adalah penenggak minuman keras dan fasik yang menumpahkan darah tanpa hak, penebar kerusakan, dan tangannya telah ternodai oleh darah orang-orang tak bersalah. Orang seperti saya tidak akan pernah membaiat orang bejat seperti ini.”

Salah satu ungkapan lain Imam Husayn sebelum terbunuh dalam peristiwa ini berbunyi “jika saja agama datukku Muhammad tidak akan lestari kecuali dengan kematianku, maka biarkan pedang mengoyak-ngoyak tubuhku hingga terserak”.

Dalam peperangan tragis itu, tentara suruhan Yazid bin Muawiyah itu berhasil membunuh semua rombongan Imam Husayn dan menjadikan keluarga beliau yang terdiri dari para wanita dan anggota keluarga yang sakit termasuk Imam Ali Zainal Abidin as yang kelak menjadi Imam Syiah pengganti Imam Husayn, sebagai tawanan dan pampasan perang.

Tubuh Imam Husayn sendiri tak luput dari pembantaian, kepala beliau dipenggal dan tubuhnya dikoyak-koyak oleh kuda tunggangan pas**an Syimr bin Dzil Jausyan. Kepala Imam Husayn yang dipenggal itu kemudian diarak beserta keluarga yang dijadikan tawanan perang, dipertontonkan kepada penduduk di Kufah dan Damaskus, dan kemudian menjadi ‘hiasan’ di istana Yazid bin Muawiyah. Dalam sebuah riwayat disebutkan bahwa Yazid sempat menusuk-nusuk kepala cucu Rasulullah SAW itu dengan tombak di hadapan menteri-menterinya.

Peristiwa pembantaian Imam Husayn di Karbala ini tercatat baik dalam sejarah, baik sunni maupun syiah. Bahkan kronik syiah merekam detail peristiwa itu sejak Imam Husayn dan rombonganya melakukan perjalanan dua bulan dari Medina, singgah di Mekka dan berakhir di Karbala.

Tradisi Majelis Duka.

Peringatan Asyura yang berwajah duka ini juga menghadirkan banyak tradisi. Berbeda dengan umat Sunni yang merayakannya dengan berpuasa, umat syiah menyambutnya dengan kesedihan, menolak berpuasa apalagi melakukan pesta. Dalam salah satu pesan Imam Rida as, imam ke-8 Syiah, menyatakan bahwa hari asyura adalah hari berkabung, tidak boleh ada perayaan yang berbau duniawi.

Dalam tradisi Syiah, menjelang peringatan pembantaian Karbala yang biasanya dimulai sejak awal Muharam, para penganut Syiah berkumpul di mesjid-mesjid, atau sebuah tempat khusus yang didirikan khusus untuk peringatan Asyura yang disebut sebagai “Imambargah” http://en.wikipedia.org/wiki/Imambargah dan Hussainia http://en.wikipedia.org/wiki/Hussainia.

Para jamaah Syiah berkumpul di Masjid atau Imambarga untuk merayakan hari berkabung itu, membacakan puisi atau cerita kepahlawanan dan kesyahidan Imam Husayn, meratapi dan berduka sambil sesekali memekikkan lirih nama “Ya Hussain.”

Saat majelis duka ini berlangsung, para ulama memberikan khotbah yang menceritakan kepribadian Imam Husain dan posisinya dalam Islam, termasuk sejarah pemberontakan suci yang dilakukannya. Di negara-negara Arab seperti Irak dan Libanon, juga di Indonesia dibacakan kisah rinci pembantaian karbala yang populer disebut sebagai Maqtal al-Husayn.

Bahkan di beberapa tempat, seperti Iran, Irak, Pakistan, juga dilakukan rekonstruksi Pertempuran Karbala untuk memberikan gambaran utuh bagaimana penderitaan dan kesyahidan Husain di tangan serdadu Yazid.

Tradisi Tabot : Wajah Asyura di Bengkulu.

Di Indonesia, terutama di sebelah selatan Sumatera, perayaan kesedihan memperingati terbunuhnya Imam Husayn juga ditradisikan secara turun temurun. Kita mengenal tradisi Tabot, yang lazim diadakan di Bengkulu dan Minangkabau.

Tabot merupakan upacara tradisional khusus untuk memperingati kesyahidan Imam Husayn yang pertama kali dilaksanakan oleh Syeh Burhanuddin atau Imam Senggolo pada tahun 1685. Syeh Burhanuddin (Imam Senggolo), kemungkinan berasal dari Hadramaut Yaman dan masih keturunan Imam Ali bin Abi Thalin, menikahi wanita Bengkulu dan keturunan mereka disebut sebagai keluarga Tabot. Upacara Tabot dilaksanakan dari 1 sampai 10 muharram setiap tahun.

Tradisi lain yang mengiringi Tabot adalah upacara mengambil tanah, dilakukan dari 1 sampai 4 Muharram. Upacara ini diasosiasikan sebagai rekonstruksi Imam Husayn memulai mendirikan kemah di Karbala, menjelang peperangan. Kemudian ada acara Duduk Penjah pada 5 Muharram. Upacara Menjara dari tanggal 5 sampai 6 of Muharram. Upacara Anak Jari-Jari dan Sorban, dari 7 sampai 8 Muharram. Arak Gedang, 9 Muharram hingga hari Pembuangan Tabot, 10 Muharram. Semua upacara ini merupakan rekonstruksi peristiwa Karbala.

Dua Wajah, Dua Keyakinan.

Itulah dua wajah Asyura, dua wajah yang saling bertolak belakang. Dua wajah yang kemudian melahirkan dua keyakinan berbeda, satu merayakan dengan s**a cita, yang lain dengan kesedihan mendalam. Dua penyikapan berbeda itu memiliki landasan sejarah yang berbeda p**a, dan hampir pasti membentuk dogma keyakinan yang kemudian berputus jalan.

Keyakinan yang berputus jalan itu hampir pasti punya keterikatan konteks dengan peristiwa politik yang menyertainya. Pada saat kesedihan memuncak di pihak imam Husayn dan keluarganya, di saat yang sama pihak Yazid dan serdadunya merayakan dengan s**a cita. Konon, kemudian setelah peristiwa tragis Karbala, untuk melegitimasi rasa s**acita Yazid maka diperintahkanlah ulama-ulama bayaran Umayah untuk meriwayatkan hadist-hadist yang melegitimasi puasa asyura, puasa s**acita.

Hingga 40 tahun selepas Karbala, para ulama di masa kekuasaan Bani Umayah diperintahkan untuk mengutuk Imam Ali dan keluarganya diatas mimbar-mimbar mesjid mereka. Disebarkan p**a hadist-hadist yang mencela keluarga Nabi. Hadist-hadist yang dilahirkan, dengan sokongan kekuasaan tentu kemudian lebih kuat di-sahih-kan daripada hadist-hadist yang diriwayatkan oleh pihak keluarga Imam Husayn yang saat itu tak pernah lepas dari jajahan dan pengawasan penguasa Umayah.

Imam Husain as kemudian berkata: “Sesungguhnya Bani Umayyah telah mencemarkan nama baikku, tetapi aku bersabar. Mereka merampas harta bendaku, aku juga bersabar. Mereka kemudian menuntut darahku, tetapi juga tetap sabar. Demi Allah, mereka akan membunuhku sehingga Allah akan menimpakan kepada mereka kehinaan yang amat sangat dan akan menghunjam kepada mereka pedang yang amat tajam.

Rasulullah saw suatu kali bersabda: “Sejumlah besar hadis palsu akan diceritakan atas namaku sesudah aku wafat, dan barangsiapa berbicara bohong terhadapku, ia akan dimasukkan ke neraka.” (Al Bukhari jil 1 hlm 38, jil 2 hlm 102, jil 4 hlm 207, jil 8 hlm 229. Abu Dawud jil 3 hlm 319-320, AtTirmidzi dan Ibnu Majah juga ada).

Dua ratus tahun kemudian jumlah hadis pasca Nabi wafat telah berjumlah jutaan (H. Fuad Hashem, Sirah Muhammad Rasulullah, Bandung: Mizan, hlm. 24-26). Pengumpul hadist termasyhur, Imam Bukhari sempat menemukan 600.000 hadis, dan kemudian memilah hadish yang terpercaya menjadi hanya 2761 hadis aja (Tarikh Baghdad jil 2 hlm 8, al irsyad as sari jil 1 hlm 28, Shifatu’s Shafwah jil 4 hlm 143).

Hal yang paling menyedihkan, dalam kutipan pesan ‘baik’ yang diutarakan di awal tulisan ini, berpuasa pada hari asyura seolah-olah akan diganjar pahala ibadah selama 80 tahun. Masa 80 tahun ini, kita ketahui adalah masa kekuasaan Bani Umayah, dari terbunuhnya Imam Hasan as dan naiknya Muawiyah bin Abi Sofyan ke tampuk kekuasaan di tahun 50H/669M hingga berakhir di ajal Marwan II tahun 750M.

Sejarah memang menyisakan banyak ironi, dan betapa sedihnya jika hal yang ironis kemudian mengkristal dalam keyakinan kita semua. Masya Allah!

Address

Jalan K. H WAHID HASYIM No. 15
Slawi
52419

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when SATU Identik NYATA posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Contact The School

Send a message to SATU Identik NYATA:

Shortcuts

Share

Category