02/07/2024
Pagi cerah di penghujung Mei, sudah beberapa minggu Ady tidak menggunakan jatah liburnya. Hari ini, Ady berencana mengunjungi kekasihnya, Ayu, yang bekerja di Blok M. Saat sedang bersiap-siap, ponselnya berdering dengan ringtone yang mengingatkan pada kenangan lama.
"Halloo ... Assalamualaikum ...." sapa Ady.
"Waalaikumussalam, Mas," jawab Ayu dengan suara lembut.
"Ada sesuatu yang ingin Ayu bicarakan," lanjutnya.
Ady bertanya, "Ada apa, Ayu? Hari ini Ayu libur nggak? Mas mau main ke tempat Ayu."
"Maaf, Mas..."
Ady terdiam sejenak, lalu berkata, "Bukannya hari Jumat Ayu selalu libur? Mas mau ngajak Ayu ke Monas. Mas mau memperbaiki dan menata lagi hubungan kita. Mas mau serius sama Ayu, nggak mungkin kita seperti ini terus. Mas sudah gede, nggak mau nanti ada fitnah atau masalah."
Ady menjelaskan semua keinginannya yang selama ini dipendam. Dia ingin meminang Ayu, meskipun ada keraguan yang menggelayuti hatinya karena kabar-kabar tak enak tentang Ayu. Tapi Ady mencoba menepis keraguan itu.
"Mas... Hallooo," suara Ayu membuyarkan lamunan Ady. "Ayu minta maaf sebelumnya."
"Iya, nggak apa-apa, kalau memang Ayu nggak libur," jawab Ady.
"Bukan itu, Mas."
"Terus apa? Ada apa?" tanya Ady.
"Iya, Mas. Ayu minta maaf. Lebih baik kita urus saja masing-masing. Mas urus diri Mas dan Ayu juga begitu."
"Apa...?" Ady bertanya dengan serius, meyakinkan bahwa yang didengarnya salah.
"Iya, kita putus, Mas."
"Putus? Maksud Ayu, kita udahan gitu?"
"Iya."
Siang itu, Ady yang baru pulang dari sholat Jumat mendadak merasa panas di dadanya. Yang seharusnya merasa adem setelah menyimak khutbah, tapi tidak. Dada Ady benar-benar sempit, napasnya tersengal menahan gejolak karena kata putus dari Ayu. Dalam benaknya, pertanyaan-pertanyaan membombardir dirinya sendiri.
Ada apa?
Kenapa?
Mengapa?
Apa salahku?
Apa karena selama ini aku kurang perhatian?
Tapi, aku sudah melakukan apa yang seharusnya seorang kekasih lakukan.
Apa karena aku terlalu sibuk dengan pekerjaanku?
Ady mencoba mengingat-ingat kembali hubungan mereka. Dia selalu menjaga komitmennya, tidak pernah memegang atau mencium Ayu, semuanya untuk menjaga kesucian hubungan mereka hingga menikah. Tapi sekarang, semua usahanya terasa sia-sia.
Diambilnya ponsel di sakunya, lalu dia menelepon Ayu.
Tuuut tuuut tuuut,
"Assalamu'alaikum..."
"Iya, halo," Ayu mengangkat tapi tidak membalas salam.
"Iya ada apa, ya?" dengan sedikit acuh, Ayu bertanya.
"Sebenarnya apa sih alasannya Ayu menyudahi semua ini?"
"Pingin tahu, Mas?"
"Iya, alasannya apa?" Ady mengulangi lagi dengan agak keras.
"Mas sadar nggak sih kita pacaran tapi kaya gini doang? Kapan kau ngajak jalan, Mas? Nggak pernah kan?"
"Ooh, jadi ini alasannya, atau memang ada yang lain?"
"Sudahlah, Mas. Ayu malas membahas soal ini. Lagian kita sudah nggak ada hubungan apa-apa lagi." Tuuuttt tut tut. Sepertinya Ayu mematikan teleponnya.
Dua minggu kemudian, Ady libur lagi. Meskipun masih merasa sakit hati karena pengkhianatan Ayu, dia berusaha mengalihkan pikiran dengan membaca pesan dari Nino, temannya di Roxy Mas.
"Assalamualaikum, apa kabar, Mas Bro? Hari ini libur nggak? Katanya mau main kalau libur?"
Ady masih bingung, sebenarnya malas keluar, tapi karena sudah janji, dia membalas singkat, "Waalaikum salam, iya Mas, baik, libur. Insya Allah main. Masih di tempat biasa, kan?"
Ady pun pergi, naik angkot B01 karena motornya dipinjam temannya. Turun di Cengkareng, Ady melanjutkan perjalanan dengan Kopaja 93. Di dalam bus, Ady tanpa sengaja bertabrakan dengan seorang gadis SMP bernama Dwi Aryani.
"Maaf, Kak," kata Dwi.
"Loh, kok maaf? Kaka yang seharusnya minta maaf. Silakan duduk, De," jawab Ady sambil mengalah.
Percakapan mereka mengalir dengan alami. Ady terkesan dengan kecantikan dan kerendahan hati Dwi. Mereka berbincang panjang lebar hingga Dwi harus turun di Pesing. Saat turun, Dwi terjatuh karena bus bergerak tiba-tiba.
"Tarik, Pir!"
"Brak..." Dwi terjatuh, buku berserakan di tepi jalan, dan tasnya lepas dari gendongan. Ady segera turun dan membopong Dwi ke bajaj. Mereka menuju rumah Dwi.
"Wi, rumahnya di mana?" tanya Ady.
"Itu, sebentar lagi nyampe, deket tikungan, deretan rumah nomor 3 yang cat temboknya warna kuning."
Sesampainya di rumah Dwi, Ady membantu Dwi masuk dan bertemu dengan mamanya yang terkejut melihat keadaan Dwi.
"Assalamualaikum,"
"Waalaikumussalam," jawab mamanya.
Mamanya segera membantu Dwi masuk dan menanyakan apa yang terjadi. Setelah mendengar penjelasan, mamanya Dwi berterima kasih kepada Ady.
Eka, saudara perempuan Dwi, baru pulang dari kerja dan turut prihatin melihat keadaan Dwi. Keluarga Dwi berterima kasih kepada Ady yang telah membantu.
Hari itu, meskipun awalnya berat, Ady merasa sedikit lega. Pertemuan dengan Dwi memberi harapan baru dalam hidupnya. Ia menyadari bahwa mungkin, di balik setiap kejadian buruk, selalu ada hikmah yang menunggu untuk ditemukan.