Wahid Foundation

Wahid Foundation 1 Tuhan 1000 Jalan

Bagaimana Imam Al Bukhari Wafat?Imam Al-Bukhari mengalami penindasan yang berat di akhir hayatnya dari para penguasa kot...
30/03/2026

Bagaimana Imam Al Bukhari Wafat?

Imam Al-Bukhari mengalami penindasan yang berat di akhir hayatnya dari para penguasa kota-kota Islam di wilayah timur dunia Islam, tepatnya di Neyshabur, Bukhara, dan Samarkand.

Penindasan ini terjadi karena banyak alasan, di antaranya:
• Penolakannya untuk mengajar anak-anak penguasa di dalam istana. Beliau dengan tegas berkata: "Ilmu itu didatangi, bukan mendatangi pintu-pintu (penguasa)."
• Kedengkian sebagian orang terhadap kemasyhuran dan perjalanan hidupnya, serta alasan-alasan lainnya.

Pengusiran Demi Pengusiran

Ketika Imam Al-Bukhari mencapai usia 62 tahun, datang perintah dari penguasa Neyshabur agar beliau meninggalkan kota karena kehadirannya tidak diinginkan lagi. Beliau pun hijrah hingga sampai ke tanah kelahirannya, Bukhara.

Di sana, rakyat menyambutnya di gerbang kota dengan menaburkan uang dan gula. Orang-orang, para penuntut ilmu, dan ahli hadis berkumpul mengerumuninya hingga mereka meninggalkan majelis ulama-ulama lain. Hal ini memicu rasa iri dan dengki di hati sebagian orang.

Tak lama kemudian, penguasa Bukhara mulai merasa terganggu dengan pop**aritas beliau. Surat dari penguasa Neyshabur pun tiba, mendesak agar sang Imam juga diusir dari Bukhara. Utusan penguasa datang ke rumah Imam Al-Bukhari dan memintanya pergi saat itu juga.

Saking mendadaknya, sang Imam bahkan tidak sempat mengemas dan merapikan kitab-kitabnya. Beliau keluar dari kota dan menetap di sebuah tenda di pinggiran kota selama tiga hari hanya untuk merapikan kitab-kitabnya, tanpa tahu harus pergi ke mana.

Perjalanan Terakhir di Khartank

Beliau kemudian bergerak menuju kota Samarkand. Namun, beliau tidak masuk ke pusat kota, melainkan menuju sebuah desa bernama Khartank untuk menginap di rumah kerabatnya, didampingi oleh Ibrahim bin Ma’qal.

Tidak berselang lama, penjaga rumah melaporkan bahwa utusan penguasa Samarkand telah tiba di depan pintu. Perintahnya sama: Imam Al-Bukhari harus segera keluar dari wilayah Samarkand dan desa-desanya.

Saat itu adalah malam Idul Fitri. Namun, perintah tersebut mengharuskan beliau pergi "sekarang juga", bukan setelah hari raya. Karena khawatir kehadirannya akan membawa bahaya bagi kerabat yang telah memuliakannya, sang Imam memutuskan untuk berangkat.

Detik-Detik Wafatnya Sang Imam

Ibrahim bin Ma’qal menyiapkan kitab-kitab di atas hewan tunggangan pertama dan menyiapkan tunggangan kedua untuk sang Imam. Ibrahim kemudian membantu memapah Imam Al-Bukhari yang tampak sangat lemah menuju tunggangannya.

Setelah berjalan kurang lebih 20 langkah, Imam Al-Bukhari merasa semakin lelah. Beliau meminta Ibrahim untuk memberinya waktu beberapa menit untuk beristirahat. Imam Al-Bukhari pun duduk di pinggir jalan, lalu tertidur.

Hanya berselang beberapa menit, ketika Ibrahim hendak membangunkan sang Imam, ia mendapati bahwa ruh beliau telah kembali kepada Allah... Semoga Allah merahmatinya.

Imam Al-Bukhari wafat di pinggir jalan pada malam Idul Fitri, 1 Syawal tahun 256 Hijriah, dalam keadaan diusir dari satu kota ke kota lainnya, pada usia yang telah melewati 62 tahun.

Hari ini, orang-orang sudah lupa siapa nama penguasa Neyshabur, Bukhara, atau Samarkand pada masa itu... namun seluruh dunia mengenal siapa Imam Al-Bukhari.

Semoga Allah merahmati Imam Al-Bukhari dan mengangkat derajatnya di surga ‘Illiyyin bersama para Nabi, Syuhada, dan orang-orang saleh.

(Sumber: Siyar A’lam al-Nubala, hal. 468, juz 12)

Kisah ini benar-benar menunjukkan bahwa kemuliaan seseorang tidak ditentukan oleh kekuasaan, melainkan oleh warisan ilmu dan integritasnya.

Tahukah kalian bagaimana ribuan ayat Al-Qur’an yang turun selama 23 tahun bisa terjaga rapi hingga sampai ke meja kita h...
16/02/2026

Tahukah kalian bagaimana ribuan ayat Al-Qur’an yang turun selama 23 tahun bisa terjaga rapi hingga sampai ke meja kita hari ini?

Di balik kemurnian kitab suci kita, ada sosok pemuda jenius yang ditunjuk langsung oleh Rasululloh SAW. Ia adalah Zaid bin Tsabit, sosok "pahlawan di balik layar" yang jasanya abadi di setiap lembar Mushaf yang kita baca.

Siapa Zaid bin Tsabit?
Zaid adalah pemuda asli Madinah (Anshar). Ia bukan sekadar sahabat biasa; ia adalah "asisten intelektual" Rasululloh. Bayangkan, saat usianya baru belasan tahun, ia sudah memiliki kecerdasan yang membuat orang dewasa takjub.

Zaid bukan penulis yang "kebetulan" ada. Ia dipilih secara resmi. Setiap kali wahyu turun, Rasululloh sering bersabda, "Panggilkan Zaid!".

Zaid akan datang membawa pelepah kurma, kepingan batu, atau kulit binatang. Di bawah pengawasan langsung Nabi, ia mencatat setiap kata dengan sangat teliti. Hebatnya, setelah menulis, Nabi memintanya membaca ulang untuk memastikan tidak ada satu titik pun yang salah. Inilah "Quality Control" pertama dalam sejarah penulisan kitab suci.

Apa yang membuat Zaid begitu spesial di mata Nabi?

1. Hafalan Baja: Tak hanya menulis, ia juga menghafal Al-Qur’an di luar kepala.
2. Ahli Bahasa: Nabi pernah memerintahkannya belajar bahasa Yahudi (Ibrani). Hanya dalam waktu 15 hari, Zaid sudah fasih bicara dan menulis bahasa tersebut! Inilah yang membuatnya menjadi sekretaris diplomatik kepercayaan Nabi.
3. Ketelitian Luar Biasa: Ia tidak pernah menuliskan satu ayat pun tanpa saksi dan bukti fisik yang kuat.

Jasa Zaid yang paling monumental terjadi setelah Nabi wafat. Saat itu, catatan Al-Qur’an masih berserakan di rumah-rumah sahabat—ada yang di batu, ada yang di kayu.

Di masa Khalifah Abu Bakar, Zaid diberi tugas yang ia sebut "lebih berat daripada memindahkan gunung": Mengumpulkan semua serpihan itu menjadi satu Mushaf utuh. Berkat kerja keras dan ketelitian Zaid-lah, Al-Qur'an tidak hilang ditelan zaman dan tetap seragam hingga sekarang.

Di Mana Makam Sang Pahlawan Sekarang?

Jika kamu berkesempatan mengunjungi Madinah, mampirlah ke Jannatul Baqi, pemakaman bersejarah yang terletak persis di samping Masjid Nabawi. Di sanalah Zaid bin Tsabit beristirahat.

Seperti makam sahabat lainnya di Baqi, makamnya sangat sederhana tanpa bangunan atau nisan bertuliskan nama. Namun, meski makamnya tak bertanda mewah, namanya selalu "hidup" setiap kali umat Islam di seluruh dunia melantunkan ayat suci Al-Qur’an.

Syeikh Bahauddin An-Naqsyabandiy RAPendiri Thariqah Naqsyabandiyah, Wali Agung dari Bukhara yang mengajarkan jalan ruhan...
25/01/2026

Syeikh Bahauddin An-Naqsyabandiy RA
Pendiri Thariqah Naqsyabandiyah, Wali Agung dari Bukhara yang mengajarkan jalan ruhani yang tenang, dalam, dan membumi.

Beliau mengajarkan:
✨ Dzikir sirri (diam, dalam, khusyuk)
✨ Kekuatan syariat sebagai fondasi.
✨ Cinta kepada Allah tanpa hiruk-pikuk dunia.
✨ Jalan wushul ilallah yang bisa ditempuh siapa saja.

Dari Bukhara, cahaya ilmunya menyebar ke seluruh dunia, hingga Nusantara.

Beliau bukan hanya seorang wali besar, tetapi penuntun jiwa—mengajarkan bahwa jalan menuju Allah bukan dengan keramaian dunia, melainkan dengan kejernihan hati dan keistiqamahan amal.

“Carilah ridha Allah, maka segala urusan akan dimudahkan.”

Semoga kita termasuk orang-orang yang mendapatkan barakah ilmu dan akhlaknya.
Radhiyallahu ‘anhu.

KISAH SUFI, YANG BACAAN SURAT AL-FATIHAHNYA TIDAK FASIH.Pada dahulu kala, ada seorang sufi yang maqomnya setingkat wali,...
24/01/2026

KISAH SUFI, YANG BACAAN
SURAT AL-FATIHAHNYA TIDAK FASIH.

Pada dahulu kala, ada seorang sufi yang maqomnya setingkat wali, bernama Syaikh Abu Said Abul Khoir.

Beliau dikaruniai banyak Karomah dari Allah SWT, walau bacaan ayat-ayat Al-Qur'an beliau sangat tidak fasih.

Alkisah, pada suatu hari ada ustadz muda, yang ingin sekali berguru kepada sufi tersebut, perjalanan yang memakan waktu berminggu lamanya dilalui oleh ustadz muda tersebut demi menuju rumah sang sufi yang kebetulan terletak di tengah gurun padang pasir.

Ahirnya sampailah ustadz muda tersebut di rumah sang syeh tersebut.

Syekh Abul Khoir sedang mengaji.
Pada waktu sang syekh membaca surat Al- Fatihah, pada saat itulah sang ustadz muda kurang puas terhadap bacaan al-fatihahnya syekh Abul Khoir,
yang menurut ustadz muda tersebut kurang pas makhroj bacaan Al-Qur'an.

"Bagaimana mungkin ia seorang sufi, sedangkan bacaan Al-Fatihahnya saja tidak fasih ", gumam ustad muda dalam hati.
Atas bacaan sang sufi tersebut ahirnya, sang ustadz muda mengurungkan niatnya untuk berguru kepada syekh Abu Said Abul Khoir.

Dengan perasaan kecewa, ustadz muda tersebut kemudian segera meninggalkan kediaman sang Syekh.

Ditengah perjalanan, ustadz muda tersebut di cegat 2 ekor singa besar yang siap menerkamnya, wajah ustadz muda segeralah Pucat pasi.

Dengan sekuat tenaga, ustadz muda tersebut berteriak dengan kerasnya, yang kemudian didengar oleh sang syekh.

Dengan tergopoh-gopoh Syekh Abul Khoir segera meninggalkan majelisnya, menuju arah suara.

Ketika sampai ditempat, sang syekh segera berkata dengan kedua ekor singa tersebut sambil memandangi matanya. " wahai singa, bukankah aku sudah katakan jangan pernah mengganggu para tamuku".

Sungguh ajaib, singa tersebut kemudian segera bersimpuh di hadapan sang syekh. Setelah di elus kepalanya kedua singa tersebut segera meninggalkan syekh Abul Khoir dan ustadz muda.

"Bagaimana anda bisa menaklukan singa2 liar lapar tersebut ?", tanya ustadz muda keheranan kepada syekh Abul Khoir.

" Wahai anak muda, selama ini aku mencoba menaklukan hatiku agar senantiasa tidak pernah menaruh prasangka buruk kepada orang lain dan selalu mencintai Allah ketimbang yang lainnya.

Atas perbuatanku ini oleh Allah, aku dikaruniai karomah alam semesta ini-termasuk binatang buas di pasir ini-juga takluk dihadapanku", jawab Syekh Abu Khoir.

"Apakah engkau tahu kelemahanmu anak muda?", tanya sang syekh kepada ustadz muda tersebut.." tidak guru", jawab ustadz muda dengan menundukan wajah memerah menahan malu.

"Selama ini kamu hanya konsentrasi memperhatikan hal-hal lahiriah semata, sehingga lupa memperhatikan hatimu, karena itulah kamu lebih takut kepada alam semesta ini",

jelas syekh Abul Khoir.

Atas kejadian tersebut akhirnya, ustadz muda menetapkan hatinya untuk menjadi murid waliyullah sufi, syekh Abu Said Abul Khoir.
Wallahu a'lam.

Memahami Isra Mikraj melalui kacamata iman adalah upaya menyingkap selapis demi selapis tirai yang memisahkan dunia fisi...
19/01/2026

Memahami Isra Mikraj melalui kacamata iman adalah upaya menyingkap selapis demi selapis tirai yang memisahkan dunia fisik dengan alam metafisik.

Syaikh Ahmad al-Marzuki al-Hasani, dalam nadzam monumentalnya Aqidatul Awam, tidak sekadar menyusun rima, melainkan sedang membangun peta jalan bagi pemula yang masih tersesat dalam belantara skeptisisme dengan pemahaman yang sejatinya sederhana namun sarat akan tafsir (syarh).

Penjelasan Bait ke-48 Perihal Analogi Semut

Problem terbesar manusia modern saat memahami peristiwa Isra Mikraj, sudah dijelaskan oleh Syaikh Ahmad Marzuki dalam bait:

مِنۡ غَيۡرِكَيۡفٍ وَانۡحِصَارٍ وَافۡـتَرَضۡ * عَلَيۡهِ خَمۡسًا بَعۡدَ خَمۡسِينَ فَرَضۡ

“Tanpa pertanyaan ‘bagaimana’ dan tanpa inhishar (batas ruang dan waktu) Nabi (naik ke atas langit).

Dan Dia (Allah) mewajibkan atasnya lima (waktu salat) setelah (sebelumnya) lima puluh kewajiban.”

Muncul sebuah perbandingan ganjil yang menantang batas logika, sebuah gagasan yang dinamai Analogi Semut.

Bayangkan seekor semut menumpang pesawat Jakarta-Surabaya. Bagi kaum semut lainnya, perjalanan kilat itu mustahil. Mereka akan mengukur jarak dengan langkah kaki mungil mereka bukan dengan kecepatan pesawat yang maha dahsyat.

Begitu p**a manusia; kita sering mengukur kekuasaan Tuhan dengan kecepatan lari logika kita sendiri. Padahal, Nabi tidak berangkat dengan kemauan sendiri—beliau "dijalankan" (asro bi 'abdihi). Jika Sang Pemilik Alam yang menjadi sopirnya, maka hukum fisika tak lebih dari sekadar catatan kaki yang bisa dianulir kapan saja.

Bait ke-49: Hadiah Salat dari Allah

وَبَـلَّـغَ ٱلۡأُمَّـةَ بِٱلۡإِسۡــرَاءِ * وَفَـرۡضِ خَـمۡـسَةٍ بِلاَ امۡتِرَاءِ

“Nabi cerita tentang isra agar kita tahu bahwa beliau diperintah salat lima waktu tanpa keraguan.”

Nadzam di atas menegaskan kewajiban bagi setiap mukalaf untuk meyakini sesungguhnya Rasulullah saw. telah menyampaikan risalah mengenai peristiwa Isra’ dan Mi’raj, termasuk di dalamnya perintah untuk mendirikan shalat lima waktu.

Salat adalah hadiah terindah dari Allah Swt. Jika nabi mikraj, bertemu langsung dengan Allah Swt. dengan jiwa raganya, maka dengan salat jiwa umat Nabi Muhammad bisa bertemu, paling tidak lima kali sehari dengan Allah Swt.1

Dalam Tafsir asy-Sya’rawi, dijelaskan bahwa Allah pernah berfirman:

تَعالَوْا لِي فِي أَيِّ وَقْتٍ وَكَلِّمُونِي فِي أَيِّ شَيْءٍ وَأَنَا لَا أَمَلُّ حَتَّى تَمَلُّوا وَأَنْتُمْ يَا عِبِيدِي مَنْ تَنْهُونَ الْمُقَابَلَةَ

"Mendekatlah kalian kepadaku kapanpun. Utarakan segalanya kepadaku. Aku tidak akan bosan sehingga kalian bosan. Wahai hambaku kalian lah yang enggan menghadap."2

Perihal Abu Bakar dan Paradox Kebenaran di Bait ke-50

Bait penutup mengenai Isra Mikraj:

قَدْ فَازَ صِـدِّيْقٌ بِتَصْـدِيْقٍ لَهُ * وَبِالْعُرُوْجِ الصِّـدْقُ وَافَى أَهْلَهُ

“Sesungguhnya Abu Bakar telah memperoleh keyakinan membenarkan Rasulullah dan setuju dengan berita Isra’ dan Mi’raj yang telah disampaikan oleh Rasulullah.”

Bait tersebut menghadirkan tokoh sentral: Abu Bakar. Di saat publik Makkah yang awalnya menjuluki Nabi sebagai Al-Amin (Yang Terpercaya) tiba-tiba berbalik menghujat sebagai pembohong, Abu Bakar tampil dengan logika iman yang kokoh.

Dalam hadis, ketika ditanyai perihal Isra Mikraj bagi Sayyidina Abu Bakar, kebenaran bukan soal "apakah masuk akal", tapi "siapa yang berbicara".3
Inilah titik di mana iman melampaui fakta empiris.

Di era post-truth sekarang, di mana narasi sering kali diproduksi untuk menipu, keteguhan Abu Bakar adalah pengingat: bahwa kejujuran absolut hanya milik mereka yang hatinya sudah selesai dengan urusan duniawi.

Wallahualam.

Referensi:
1. Sayyid Muhammad ibn 'Alawi ibn Abbas Al-Maliki, Anwar al-Bahiyyah, Hal. 102-104.
2. Muhammad Mutawalli As-Sya'rawi, Tafsir as-Sya'rawi, vol 6, Hal. 3793.
3. Ismail bin Umar bin Katsir, Tafsir al-Qur’an al-Adzim, (Riyadh: Dar Thayyibah, 1999), vol. 4 hlm. 417.

SYEIKH MUHAMMAD ARSYAD BANJARBiografi Syeikh Muhammad Arsyad al-Banjari (Datu Kalampayan)Nama lengkap:Syeikh Muhammad Ar...
30/12/2025

SYEIKH MUHAMMAD ARSYAD BANJAR

Biografi Syeikh Muhammad Arsyad al-Banjari (Datu Kalampayan)

Nama lengkap:
Syeikh Muhammad Arsyad bin Abdullah al-Banjari
Gelar:

Datu Kalampayan

Tempat lahir:
Lok Gabang, Martapura, Kalimantan Selatan

Tahun lahir:
1710 M (1122 H)

Wafat:
1812 M (1227 H)

Dimakamkan di:
Kalampayan, Martapura – Kalimantan Selatan

Syeikh Muhammad Arsyad al-Banjari bukan hanya ulama Banjar, tetapi ulama besar Nusantara yang meletakkan fondasi syariat, ilmu, dan akhlak Islam secara kokoh di Kalimantan dan wilayah Melayu.
Ia adalah teladan bahwa ilmu, adab, dan keberpihakan kepada umat adalah jalan kemuliaan seorang ulama.

"𝗞𝗜𝗦𝗔𝗛 𝗦𝗘𝗢𝗥𝗔𝗡𝗚 𝗝𝗔𝗠𝗔'𝗔𝗛 𝗬𝗔𝗡𝗚 𝗥𝗘𝗟𝗔 𝗠𝗘𝗡𝗔𝗕𝗨𝗡𝗚 𝗛𝗔𝗡𝗬𝗔 𝗨𝗡𝗧𝗨𝗞 𝗜𝗞𝗨𝗧 𝗔𝗖𝗔𝗥𝗔 𝗛𝗔𝗨𝗟 𝗔𝗕𝗔𝗛 𝗚𝗨𝗥𝗨 𝗦𝗘𝗞𝗨𝗠𝗣𝗨𝗟"Acara Haul Abah Guru SekumpuL a...
29/12/2025

"𝗞𝗜𝗦𝗔𝗛 𝗦𝗘𝗢𝗥𝗔𝗡𝗚 𝗝𝗔𝗠𝗔'𝗔𝗛 𝗬𝗔𝗡𝗚 𝗥𝗘𝗟𝗔 𝗠𝗘𝗡𝗔𝗕𝗨𝗡𝗚 𝗛𝗔𝗡𝗬𝗔 𝗨𝗡𝗧𝗨𝗞 𝗜𝗞𝗨𝗧 𝗔𝗖𝗔𝗥𝗔 𝗛𝗔𝗨𝗟 𝗔𝗕𝗔𝗛 𝗚𝗨𝗥𝗨 𝗦𝗘𝗞𝗨𝗠𝗣𝗨𝗟"

Acara Haul Abah Guru SekumpuL atau yang biasa disebut sekarang Moment 5 Rajab setiap tahun selalu ramai dan terus bertambah. Dimana bagi para pecintanya momen Haul tersebut terkadang selalu mereka upload kemedia sosial sebagai tanda mereka sangat bangga memiliki Ulama kharismatik yang terkenal didunia. Hingga berita ini sampai lah kepada seorang nenek dari luar p**au Kalimantan.

Sang nenek pun begitu penasaran dengan acara Haul Abah Guru Sekumpul hingga berniat mengumpulkan uang agar bisa hadir di acara Haul tersebut tahun depan.

Selama 1 tahun sang nenek mengumpulkan uang untuk persiapan biaya selama naik pesawat nginap dimartapura dan transportasi, tibalah waktu menjelang acara sang nenek memesan tiket pesawat untuk persiapan berangkat sesuai jadwal menjelang acara Haul.

Pada hari keberangkatan dan pada saat pesawat yang ditumpangi sang nenek tiba di bandara Syamsudin Noor Banjarmasin dengan selamat.

Pada saat keluar dari terminal, kedatangan sang nenek berencana naik angkot biasa dibanding naik taksi bandara guna menghemat keuangan.

Akan tetapi pada saat nenek berjalan kearah luar, sang nenek di hampiri sebuah mobil sedan mewah dan menawarkan nenek tersebut untuk ikut dengannya, dimana terjadi percakapan :

Sopir : Maaf, nenek mau kemana?
Nenek : Saya mau ke acara Haul Guru Zaini di Martapura..!!
Sopir : Oh... Saya mau ke Martapura juga nek, ayo mari saya antar?

Dengan sedikit takut dan ragu karena sang nenek tidak kenal dengan sopir tersebut, dijawab sang nenek dengan halus.

Nenek : Maaf nak, nenek mau naik angkot aja, karena nenek takut nenek gak bisa bayar apalagi mobilnya mewah sekali.

Sopir : Jangan takut nek, saya orang baik dan saya beri tumpangan gratis buat nenek, spesial karena mau ikuti acara Haul Guru kami.

Dengan hati sedikit lega sang nenek pun menerima tumpangan dari sopir yang tutur kata nya sangat lembut dan sopan serta wajah yang sangat enak dipandang apalagi mau memberi tumpangan secara gratis, akhirnya sang nenek pun mau menerima tawaran sang sopir tersebut.

Didalam perjalanan sang nenek bertanya kepada sang sopir :

Nenek : Nak, asli orang banjar?
Sopir : Gih nek, saya asli orang banjar dan rumah saya dimartapura dekat makam Guru Zaini.

Nenek : Oh.. Alhamdulillah, saya sedikit takut ya nak, kalau kalau ntar salah alamat, kalau begitu nanti boleh saya diturunkan dekat area pemakaman Tuan Guru Zaini ya?

Sopir : In syaa Allah nek, nanti saya antar langsung depan gerbang komplek SekumpuL.

Seperti yang kita ketahui bersama panitia acara Haul biasa menutup jalan kurang lebih 2 kilo disekitar acara Haul dimana mobil sudah tidak bisa masuk lagi ke area depan gerbang regol Sekumpul.

Akan tetapi berbeda dengan mobil yang ditumpangi sang nenek begitu mudah menerobos padatnya manusia yang datang hingga sampai didepan gerbang regol komplek sekumpul tanpa ada hambatan apapun.

Sopir : Maaf nek, kita sudah sampai didepan gerbang komplek, nenek kalau langsung kemakam lurus saja, kemudian masuk kesamping Mushola, disana ada area khusus untuk ziarah perempuan, karena acara Haul besok baru dimulai.

Nenek : Aduh nak, saya terimakasih banyak, Anda sungguh mulia mau mengantarkan saya kesini tanpa dibayar sepersen pun, semoga Allah balas jasa budi baik Anda.

Sopir : Aamiin Yaa Allah? (jawab sang sopir)

Kalau begitu saya langsung jalan ya nek, Nanti kalau mau nginap silahkan tanya saja sama petugas acara Haul, banyak kok penginapan disini.

Nenek : Oh iya terima kasih nak..

Sambil pamit, sang sopir pun berlalu dari hadapan sang nenek dengan sopan, Sang nenek pun berjalan menuju arah kubah makam Guru Sekumpul.

Dimana sambil berjalan sang nenek melihat banyak rumah-rumah yang berjualan aneka pakaian, kopiah dan lain lain hingga sang nenek berhenti disatu rumah karena melihat begitu banyaknya foto atau gambar yang dijual.

Hingga pada saat tersebut pandangan sang nenek tertuju pada sebuah foto yang hampir mirip mukanya dengan sang sopir yang mengantar nya tadi.

Kemudian sang nenek bertanya ;

Nenek : Maaf non, ini gambar siapa ya?
Penjual : Ohh... Nenek orang mana?
Nenek : Saya orang luar p**au Kalimantan!
Penjual :Ohh... Ini gambar ulama Abah Guru Sekumpul atau Tuan Guru Zaini yang akan kita hauli besok hari.

Seketika itu sang nenek langsung pingsan tidak sadarkan diri dan di gotong beberapa panitia acara kerumah sang penjual diarea komplek.

Setelah sang nenek sadar, pemilik rumah pun atau penjual bertanya :

Penjual : Nek, kenapa sampeyan pingsan tadi.
Nenek : Orang yang digambar itu yang menjemput saya langsung di bandara, padahal saya tidak kenal, orangnya sungguh baik hati mau mengantarkan saya langsung ke depan area komplek tadi.

Penjual : Masa sih nek, soalnya mobil sudah tidak boleh lagi masuk kearea depan komplek sejak pagi tadi.
Nenek : Bener Non, saya tidak bohong, muka sang sopir mirip sekali sama yang difoto.

Nampak pemilik rumah dan orang orang sekitar yang menyaksikan kejadian tersebut berucap "Maa syaa Allah, untung banar pian nek, Abah Guru Sekumpul sendiri yang mengantarkan pian kesini".

Padahal beliau sudah wafat beberapa tahun yang lalu, Sang nenek pun menangis setelah mendengar penjelasan pemilik warung tersebut.

Hingga pada akhirnya sang nenek mendapatkan tumpangan menginap gratis dari pemilik rumah diarea komplek tersebut.

Subhanallah..🤲🤲

Sungguh mulia hati nenek tersebut mengumpulkan uang selama setahun hanya untuk menghadiri Haul Abah Guru Sekumpul dan pada hari acara dimudahkan Allah untuk menghadirinya dengan kejadian yang sulit diterima akal, hanya orang orang pilihan yang bisa merasakan kehadiran sang Waliyullah.

Semoga kisah nyata ini menambah kecintaan kita kepada Syekhona Abah Guru SekumpuL, dengan tetap selalu mengharap Rahmat dari Allah Subhanahu Wa Ta'ala serta Syafaat dari Rasulullah Sholallahu Alaihi Wa Sallam, dengan harapan bisa berkumpul dengan Abah Guru SekumpuL di surga nanti.

Aamin Yaa Robbal Aalamin 🤲 🤲

Sumber : Abah Guru Zuhdiannor/Abah Haji Sungai Jingah(Guru Zuhdi)

KISAH KEWALIAN PENDIRI PONDOK PESANTREN NURUL JADID PAITON PROBOLINGGO ______________________Tahun 1906, di Desa Galis P...
28/12/2025

KISAH KEWALIAN PENDIRI PONDOK PESANTREN NURUL JADID PAITON PROBOLINGGO
______________________
Tahun 1906, di Desa Galis Pamekasan Madura, Lora Zaini Mun'im dilahirkan. Lora adalah kata lain dari Gus atau Mas, sebutan kehormatan untuk putera kiai. Beliau merupakan putera pertama dari pasangan KH. Abdul Mun'im dan Ny. Hj. Hamidah. Lora Zaini memiliki adik bernama KH. Zawawi Mun'im.

Nama kecil Lora Zaini adalah Abdul Mughni. Sejak lahir, masyarakat Galis berharap banyak pada dirinya. Sebab, dalam tubuh beliau mengalir darah bangsawan sekaligus Ulama, yang mempunyai komitmen pada nilai nilai ajaran Islam, baik dari jalur ayahanda maupun dari ibunda. Lebih-lebih, jika diruntut, silsilahnya sampai kepada Rasulullah SAW melalui Bindere Sa'ud (Bendoro Saud).

Dari jalur ayahandanya, Lora Mughni adalah putera KH. Abdul Mun'im. Sedang Kiai Abdul Mun'im adalah putera Kiai Mudarik. Adapun Kiai Mudarik sendiri adalah putera ke 4 Kiai Ismail, generasi kedua penerus Pondok Pesantren Kembang Kuning Pamekasan. Kiai Ismail adalah keponakan Kiai Mahalli, Pendiri Pondok Pesantren Kembang Kuning, yang pada tahun 619 M diangkat sebagai anak angkat Kiai Mahalli. Kakek Kiai Ismail adalah Kiai Nuruddin Gunung Tinggi Pakong, yang tidak lain adalah keturunan (dari jalur Kiai Batu Ampar Wetan) Bendoro Saud, alias Temenggung Tirtonegoro, adipati Sumenep yang juga keturunan Pangeran Ketandur, atau cucu dari Sunan Kudus.

Sedang dari jalur ibunda, Lora Mughni adalah keturunan para Raja Pamekasan melalui jalur KH. Bujuk Azhar (Ratoh Sidabulangan), penguasa Kraton Pamekasan Madura. Ibunda Lora Mughni berasal dari Desa Palesanggar, Kecamatan Pegantenan, Pamekasan, Madura. Kehidupan keluarganya terkenal sebagai keluarga santri.

Pada tahun 1937, Lora Abdul Mughni (yang lebih populer dengan nama KH. Zaini Mun'im) kemudian menikah dengan keponakan Kiai Abdul Madjid Banyuanyar, Nyai Nafi'ah. Dari pernikahan ini, beliau dikaruniai enam putera dan satu puteri. Tiga putera beliau lahir di Madura, yaitu:
1) KH. Moh. Hasyim, BA.
2) Drs. KH. Abdul Wahid Zaini, SH.
3) Nyai Hj. Aisyah (kemudian dipersunting oleh KH. Hasan Abdul Wafi). Sedang empat lainnya lahir di Karanganyar Paiton Probolinggo, yaitu:
4) KH. Fadlurrahman, BA.
5) KH. Moh. Zuhri Zaini, BA
6) KH. Abdul Haq Zaini, Lc, dan
7) Drs. KH. Nur Chotim Zaini.

Diantara KEWALIAN BELIAU Adalah :

(Pertama) Pernah Suatu ketika beliau menyuruh KH Ahmad Sufyan Miftahul Arifin untuk berjaga Takut ada tamu, karena beliau akan istirahat sejenak lalu kiai sufyan saat tugas jaga beliau ketiduran, selang beberapa waktu beliau kiai sufyan terbangun dari tidurnya lalu kaget "Ihoo kok aku ketiduran" setelah itu tiba-tiba KH Zaini Mun'im Datang Dari Luar akan masuk ke rumahnya sambil berkata "lho kamu kok sudah bangun sufyan" lalu kiai sufvayn meniawab " ia kiai saya ketiduran, ngomong-ngomong kiai dari mana Kiai Sufyan bertanya ke kiai Zaini??? "oh saya tadi habis rapat bersama para ulama-ulama yang membahas tentang akan meletusnya Gunung Semeru, tapi tidak jadi karna saya bilang begini, kalau Gunung Semeru Meletus Maka Akan Banyak Umat Islam yang akan terkena dampak nya, "bagaimana kalau gunung Agung di bali saja karna di bali kan banyak non muslim, kata ulama-ulama lain oh iya sudah gunung agung saja yang meletus". selang beberapa hari ada kabar bahwa gunung agung yang ada di Bali meletus dan banyak memakan korban jiwa itu terjadi pada tahun 1963M.

(Kadua) Berjalan di atas air di ceritakan oleh KH Hasan Saiful Islam bahwa dulu pernah di daerah probolinggo mengalami banjir besar sementara pengajian yang di asuhan beliau dan KH Hasan Saiful Rizal tidak libur banyak masyarakat yang menunggu untuk memulai pengajian, tiba-tiba kiai Zaini Mun'im Turun ke bawah yang pada saat itu airnya sedang mengamuk saking derasnya lalu kiai Mukhtar yang mengikuti kaai Zaini tidak jadi karena kiai Zaini Berjalan di atas BANJIR, lalu kiai Mukhtar Berkata (kalau kiai Zaini berjalan diatas air lalu saya mengikutinya pasti saya tenggelam), kejadian ini terjadi pada tahun 1970M,

Akhirnya pada tahun 1976m ketika beliau mengisi pengajian di daerah probolinggo beliau berkata "badanku sedang tidak enak" lalu beliau menyudahi pengajiannya dan beliau pergi p**ang ke paiton, sesampainya dirumah beliau mengalami sakit darah tinggi yang cukup parah dan di larikan ke rumah sakit.

Akhirnya Pada Pukul 04.00 beliau menuju ketenangan ilahi Robbi menghembuskan nafas terakhir nya diusia 70 Tahunan (Kurang lebih Begitu) Semoga Beliau Ditempatkan di Surganya Allah SWT dan Kita semua Mendapat Aliran Barokahnya Amin Allahumma Amin 🤲 🤲 🤲 🙏

'im

Ahir hayat Abah Guru Sekumpul ❤️ Di akhir hayat Guru Sekumpul sebelum meninggal dunia, sempat dirawat di Rumah Sakit Mou...
27/12/2025

Ahir hayat Abah Guru Sekumpul ❤️

Di akhir hayat Guru Sekumpul sebelum meninggal dunia, sempat dirawat di Rumah Sakit Mount Elizabeth, Singapura, selama 10 hari. Namun, pada Selasa malam beliau p**ang dan tiba di Banjarmasin. Keesokannya, Rabu 10 Agustus 2005, pukul 5.10 waktu setempat, beliau berp**ang ke Rahmat Allah.

Ribuan orang dari berbagai daerah di Kalimantan Selatan berdatangan ke Martapura untuk memberikan penghormatan terakhir dan mengiringi jenazah beliau hingga ke pemakaman. Guru Sekumpul merupakan keturunan ke-8 dari ulama besar Banjar, Maulana Syekh Muhammad Arsyad bin Abdullah Al Banjari, semoga kita semua sebagai Muhibbin Abah Guru Sekumpul selalu mendapatkan keberkahan dari beliau di dunia dan akhirat amiin ya robbal alamin 🤲🏻🙏🏻
Sekedar berbagi.
Semoga bermanfaat
Wassalamu Alaikum wr wb.

RAHASIA DEBU DI MAKAM NABI MUHAMMAD S.A.WKisah ini pertama kali dimuat dalam harian Alarabiyah.net (pada kamis,1 Robi'ul...
12/12/2025

RAHASIA DEBU DI MAKAM NABI MUHAMMAD S.A.W

Kisah ini pertama kali dimuat dalam harian Alarabiyah.net (pada kamis,1 Robi'ul Awwal 1427 H atau 30 Maret 2006 M), yang mana wartawan Omar al-Midwahy melakukan wawancara langsung dengan dua orang saksi hidup yang pernah mendapat tugas mengganti kain penutup makam Nabi Muhammad SAW (pada tahun 1971 Masehi).

Aku (Omar al-Midwahy) masih ingat pada percakapan dengan seorang sepuh di Makkah sambil melihat tenunan mereka. Saat aku berada di Makkah, aku berkesempatan mengunjungi pabrik pembuat kain penutup ka'bah (kiswah). Dari situ aku mengetahui bahwa ternyata pabrik tersebut juga mendapat kehormatan untuk membuat kain penutup ruang makam Nabi.

Aku merekam setiap percakapan dengan mereka yang dicampur dengan rasa takjub dan tangis air mata. Terkadang aku jumpai mereka menceritakannya dengan penuh emosional seakan-akan pengalaman berharga itu terjadi kemarin, bukan seperempat abad yang lalu.

Syaikh Muhammad Ali Madani, beliau adalah salah satu dari beberapa pekerja yang ikut ambil bagian dalam menenun dan memasang kain penutup makam Nabi. Aku berkata padanya, ceritakan tentang tudung makam dan ruang makam Nabi SAW

Beliau menjelaskannya : "Pada hari itu, perasaan takjub begitu lengkap mengambil alih semua perhatianku, ini adalah tempat teragung di muka bumi, aku tidak tahu persis berapa panjang garis lingkarnya, tetapi menurut taksiran kami, RUANG MAKAM itu memiliki garis lingkar sekitar 48 meter.

Kekaguman terhadap tempat itu sangat menarik perhatianku, aku begitu terpesona melihat lampu-lampu antik menggantung di langit-langit ruang, peninggalan dari zaman kuno, kami diberitahu bahwa ada beberapa peninggalan Nabi yang disimpan di tempat lain - aku tidak tahu dimana - tapi aku tahu bahwa beberapa benda bersejarah ada yang disimpan pada ruang Sayyidah Fatimah az-Zahra - di tempat yang sama, dimana beliau tinggal."

Syaikh Muhammad Ali Madani menambahkan : "Ruang itu sebagian besar tertutup kain tenunan yang terbuat dari sutra murni, berwarna hijau lembut dengan kain katun yang kuat, dan dimahkotai oleh sabuk yang mirip dengan penutup Ka'bah, tetapi ini berwarna merah. Seperempat bagian dari kain dibordir bertuliskan ayat Al-Qur'an yang mulia dari suroh al-Fath, terbuat dari garis kapas dan benang emas dan perak.."

*Reporter Omar al-Midwahy menyebutkan bahwa penutup ruangan makam Nabi tidak seperti penutup Ka'bah yang saban tahun harus diganti, hal ini karena penutup makam Nabi terletak di dalam ruangan tertutup dan tak pernah tersentuh oleh siapapun. Penggantian hanya dilakukan apabila diperlukan.

Setelah itu aku (Omar al-Midwahy) bertemu dengan Syaikh Ahmad Sahirty. Beliau adalah ketua divisi bordir di pabrik kain penutup Ka'bah dan Makam Rosululloh SAW. Terlihat jelas usianya yang sudah sepuh dan penglihatannya yang lemah. Beliau mengambil inisiatif untuk bercerita:

"Bagaimana aku bisa mengungkapkan perasaanku pada saat aku memasuki ruang makam Nabi ... aku tidak mampu .. Karena itu sudah di luar batas kemampuan aku berbicara, dan aku tidak pernah berpikir bahwa suatu hari aku akan ditanyakan tentang pengalaman ini. Dan aku jamin bahwa aku tidak akan dapat melakukan atau melalui pengalaman itu lagi".

Kemudian Syaikh Ahmad Sahirty mendekat kepadaku dan menambahkan : "Lihatlah lensa kacamata ini (Syaikh Ahmad Sahirty menunjukkan ketebalan kacamatanya) dan lihatlah berapa banyak rambut putih, itu semua menunjukkan berapa berat tahun kehidupan yang ku bawa. Usiaku, meski tidak ku hitung, tapi aku pernah mendengar mereka mengatakan bahwa aku lahir pada tahun 1333 H (1917 M). Dan seumur hidupku, aku tidak memiliki kegemaran selain kecintaaan pada aroma indah dan parfum. Aku telah menghabiskan jangka waktu yang panjang di tahun-tahun tersisa, berusaha untuk memuaskan nafsu mencium segala keharuman yang ada. Aku belajar banyak, dan aku memberitahu Anda dengan keyakinan: bahwa aku memiliki keahlian khusus bagaimana mencampur minyak wangi dan menghasilkan wewangian terbaik, dan tidak ada orang lain yang bisa membuat wewangian seperti racikanku."

Aku katakan ini karena aku menemukan ketidakmampuan untuk menjelaskan apa yang terjadi pada malam yang diberkati itu, ketika pintu dibuka untuk kami, dan kami memasuki ruang pemakaman baginda Nabi, aku menghirup keharuman dan aroma yang tidak pernah ku ketahui atau mencium sebelumnya maupun sesudahnya, dan tidak pernah dikenal seumur hidupku. Aku tidak pernah tahu rahasia komposisinya: itu adalah keharuman di atas keharuman, aroma diatas aroma - sesuatu yang lain daripada yang lain, bahkan akan membuat takjub seorang ahli sekalipun, atau pedagang parfum manapun juga tidak akan pernah mencium seperti itu sebelum atau sesudahnya."

Ketika aku memintanya menggambarkan bagaimana ruang makam Nabi, Syaikh Ahmad Sahirty tampak bergetar hebat, Dan beliau berkata dengan suara samar:

Ketika aku memintanya menggambarkan bagaimana ruang makam Nabi, Syaikh Ahmad Sahirty tampak bergetar hebat, Dan beliau berkata dengan suara samar:

"Aku yakin bahwa tinggi ruangan itu 11 meter. Di bawah kubah hijau ada kubah kecil lainnya dan tertulis di situ :

Makam Nabi صلى الله عليه وآله وسلم,

Makam Abu Bakar ash-Shiddiq,

dan Makam Umar ibn al-Khoththob.

Dan aku juga melihat bahwa ada makam lain yang kosong (mungkin tempat kosong ini kelak untuk makam Nabi 'Isa 'alihissalam, wAllohu a'lam --red), dan di samping empat makam adalah ruang Sayyidah Fatimah az-Zahra yang merupakan rumah dimana beliau dan keluarganya tinggal.

Dari saking kagumnya, kami sampai tidak tahu bagaimana membersihkan potongan-potongan khusus yang dibuat untuk menempelkan kain pada kubah, (jari-jari kami bergetar) dan napas kami memburu. Kami tinggal selama 14 malam penuh, bekerja dari setelah sholat Isya sampai adzan pertama waktu Fajr untuk menyelesaikan tugas ini. Kami terus membersihkan potongan-potongan lama, melepas simpul dari penutup lama, dan membersihkan semua debu dan bulu merpati yang terjebak di tempat suci tersebut. Peristiwa itu terjadi pada tahun 1971 Masehi, dan penutup lama yang kami ganti telah berusia 75 tahun sesuai dengan tanggal yang tertulis di atasnya.

Aku adalah orang pertama yang masuk, bersama Sayyid Habib tokoh-tokoh Madinah al-Munawwaroh, dan (Syaikh) As'ad Syiroh yang merupakan direktur wakaf keagamaan Madinah pada saat itu, dan Habib Maghribi dari manajemen pabrik, dan Abdul Karim Falimbani, Nasir Qori, Abdur Rahim Bukhari dan lain-lain. Kami berjumlah 13 orang, aku tidak ingat sebagian besar dari mereka, karena saat ini mereka telah meninggal dunia kembali kepada rahmat Alloh.

Kami didampingi kepala Suku Aghwaat (juru kunci dan penjaga makam Nabi turun-temurun). Kami menggunakan bahasa isyarat dan kalau terpaksa berbicara akan kami lakukan dengan berbisik-bisik. Aku, yang pada waktu itu mataku sudah lemah dan kacamata ini tidak pernah meninggalkan mataku sejak bertahun-tahun sebelumnya, tapi di ruang itu aku berubah menjadi orang lain, sungguh aku merasakan hal itu, dan perbedaan itu sangat jelas bagiku."

Syaikh Ahmad Sahirty bersumpah, kemudian meneruskan :

"Di situ aku sanggup memasukkan benang ke lubang jarum tanpa kacamata ku, meskipun cahaya di tempat kami bekerja sangat redup. Bagaimana Anda bisa menjelaskan secara ilmiah tentang hal ini? Dan bagaimana Anda bisa menjelaskan fakta bahwa aku tidak merasa alergi (aku adalah penderita alergi akut), aku akan batuk parah jika sedikit terkena debu. Tapi pada waktu itu, aku sama sekali tidak terpengaruh oleh debu ruangan, atau pasir yang terbang ke udara. Seakan pasir tidak lagi pasir, dan seolah-olah debu menjadi obat untuk penyakitku, aku merasa bersemangat dan berjiwa muda seperti ketika usiaku belasan tahun (padahal waktu itu usiaku sudah lebih dari setengah abad).

Satu lagi hal aneh yang terjadi padaku, yang rahasia-nya belum aku mengerti hingga saat ini. Kami harus membawa keluar kain bordir (penutup lama) sepanjang 36 meter yang masih tersisa (dan tentunya sangat berat apabila diangkat seorang diri). Aku katakan pada mereka untuk melipat dan membungkusnya serta meninggalkannya disitu. Lalu aku pergi menuju bungkusan tersebut, dan meskipun tubuh ini sudah tua dan lemah, tapi aku sanggup memanggulnya di atas bahu ini (seorang diri). Aku pergi keluar dari Ruang mulia itu tanpa sedikitpun merasa berat. Setelah itu, datanglah mereka dengan lima orang muda untuk membawanya dari tempat aku meletakkannya, namun (aneh) mereka tidak bisa [membawanya]."

Syaikh Ahmad Sahirty mulai menangis terisak-isak sambil mendesah:

"Mereka bertanya siapa yang membawa karung bungkusan itu keluar?

Yang menurut mereka sangat berat hingga 5 orang muda dan kuat pun tak sanggup mengangkatnya. Saat ku jawab, 'akulah yang mengangkatnya', mereka tertawa dengan penuh rasa tidak percaya hingga datang Syaikh Abdur Rahim Bukhari, penulis kaligrafi yang terkenal itu bersaksi bahwa benar dia telah melihat aku Syaikh Ahmad Sahirty yang mengangkatnya sendirian!!"

Shollu 'Ala Rosuulillah!

Allohumma Sholli wa Sallim wa Baarik 'Alaihi wa 'ala Aalih.

Address

Jalan Krakatau No 11 RT: 01 RW: 01 Besuki
Situbondo
68356

Website

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Wahid Foundation posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Shortcuts

Share

Category