Salafiyah Dawuhan

Salafiyah Dawuhan Halaman ini didirikan untuk mendukung program Yayasan Pondok Pesantren Islam Salafiyah Dawuhan Situbondo

📍Jln.

Sucipto No. 99 RT/RW : 05/04 Dawuhan Situbondo Jatim 68311.

16/01/2026

Peringatan Israk Mikraj 17 Rajab



10/01/2026

اللهم يامُصَرِّفَ القلوب صَرِّفْ قلوبنا بطاعة الله ... آمين يا رب العالمبن



09/01/2026

KENAPA FIKIH BEUBAH-UBAH? Apakah Fikih tidak konsisten? Atau justru dng perubahannya itu, justru fikih tampak konsisten dalam mengawal moral masyarakat melalui batas hukum? Inilah penjelasannya.

05/01/2026

Part 3 harapan santri Salafiyah Dawuhan



05/01/2026

Part 2 dalam keseruan menguak harapan santri salafiyah dawuhan



05/01/2026

ANDA Punya harapan? Tentu kita smeua punya harapan dan "Harapan" itulah satu-satunya alasan kita bertahan hidup. Demikian para santri, maka seperti apakah harapan mereka. Mari kita intip harapan santri Salafiyah Dawuhan di tahun 2026....



berat

01/01/2026

Pentingnya Mensyukuri waktu dng cara memaksimalkan dalam hal-hal positif




#

SEKETIKA muncul rasa bersalah. "Apakah ini kemunafikan?" batin saya. Bagaimana mungkin baru saja, saya menasehati anak-a...
26/08/2025

SEKETIKA muncul rasa bersalah. "Apakah ini kemunafikan?" batin saya. Bagaimana mungkin baru saja, saya menasehati anak-anak untuk terus belajar, tekun, dan ulet. Lalu seketika saya sendiri dan mengajak anak-anak p**a mencari hiburan dan berganti dengan tawa riang.

Rupanya, keresahan itu bukan hal baru. Dalam sebuah hadis sahih, Hanzhalah – seorang sahabat Nabi – sebagaimana Imam Muslim mencatatnya. Beliau mengisahkan.

Pada suatu hari, Hanzhalah duduk bersama Rasulullah . Suasana majelis begitu hening, semua orang larut dalam nasihat beliau. Kata-kata tentang neraka membuat hati mereka bergetar, seakan api itu sudah menyala di hadapan mata.

Namun, setelah majelis bubar dan Hanzhalah p**ang ke rumah, ia kembali menjadi seorang ayah dan seorang suami. Ia bercanda dengan anak-anak, bermain dan bergurau dengan istrinya. Tiba-tiba perasaan aneh menyelip di hatinya. Ia merasa imannya naik-turun. “Apakah ini kemunafikan?” gumamnya resah.

Ketika keluar rumah, Hanzhalah bertemu dengan Abu Bakar raḍiyallāhu ‘anhu. Ia pun menceritakan kegelisahannya. Dengan kaget bercampur lega, Abu Bakar menjawab, “Aku juga merasakan hal yang sama, seperti yang engkau sebutkan.”

Mereka berdua akhirnya mendatangi Rasulullah. Dengan jujur, Hanzhalah berkata, “Wahai Rasulullah, Hanzhalah ini telah menjadi munafik.” Rasulullah menatapnya lembut, lalu bersabda, “Mah (tenanglah, jangan berkata begitu).”

Hanzhalah pun menceritakan apa yang ia alami. Abu Bakar menimpali, “Aku juga pernah melakukan hal yang sama.” Maka Rasulullah tersenyum bijak, lalu bersabda:

“Wahai Hanzhalah, sā‘ah wa sā‘ah — ada saatnya begini, ada saatnya begitu. Seandainya hati kalian selalu berada dalam kondisi seperti ketika berdzikir, niscaya para malaikat akan menyalami kalian, bahkan memberi salam kepada kalian di jalan-jalan.”

Kata-kata itu membuat hati Hanzhalah tenang. Ia belajar bahwa manusia memang memiliki irama iman: ada waktu serius, ada waktu santai; ada saat hati larut dalam dzikir, ada saat bercanda bersama keluarga. Dan itu bukan tanda kemunafikan, melainkan bagian dari fitrah manusia yang dirahmati Allah.

Kisah itu membuat saya lega. Ternyata, rekreasi dan hiburan bukanlah dosa, selama tidak keluar dari batas syariat. Ada kalanya kita serius, ada kalanya kita butuh istirahat. Bahkan Abū al-Dardā’ raḍiyallāhu ‘anhu pernah berkata, “Aku menyegarkan hatiku dengan sedikit hiburan, agar lebih kuat dalam menegakkan kebenaran.”

Pernah juga saya membaca kalimat yang dinisbatkan kepada Sayyidina ‘Alī: “Rekreasilah hati sejenak, sebab jika ia dipaksa terus-menerus, maka ia akan menjadi buta.” Indah sekali. Seperti halnya tanah yang butuh air, hati juga butuh jeda.

Dari pengalaman kecil itulah saya sadar, refresing dalam Islam bukan sekadar hiburan kosong. Ia bisa bernilai ibadah jika diniatkan untuk menguatkan diri dalam ketaatan. Maka tidak aneh bila jiwa seorang muslim kadang rindu pada kesenangan. Yang aneh justru ketika seseorang menjadikan hiburan sebagai alasan untuk melanggar aturan Allah.

Dan hari ini, kami melakukan refresing barang sebentar. Hanya sekedar melepas penat-penat jiwa yg senantiasa ditekan belajar, dan belajar. Karena, ternyata hati juga butuh rekreasi. Dan rekreasi kali ini yaitu dalam rangka menyambut Maulid Nabi.

SAYYIDINA Utsman, konon, tak menangis bila ada yang menceritakan pedihnya api neraka. Pun tak gentar dengan huru hara ke...
24/08/2025

SAYYIDINA Utsman, konon, tak menangis bila ada yang menceritakan pedihnya api neraka. Pun tak gentar dengan huru hara kengerian hari kiamat. Tapi, Sayyidina Utsman akan meneteskan air mata akan sepinya penjara kuburan.

Sikapnya itu, membuat segelintir orang bertanya-tanya. Gerangan apa yang membuat tegar menghadapi pedihnya api neraka dan ngerinya hari kiamat, sementara air matanya berlinang karena kuburan yg sunyi?

Sunyi, jawabannya. “Saya bila di neraka maka banyak manusia menemani, pun saat menghadapi kiamat masih bersama manusia. Tapi, penjara bernama kuburan tidak ada. Saya benar-benar sendirian. Sunyi. Dan menyedihkan” tegas Sayyidina Utsman.

Dan tahukah Anda?

Kunci penjara kuburan dipegang Malaikat Israfil. Pintu itu tak akan di buka kecuali kiamat sudah tiba. Maka, Israfil akan membukanya seraya berkata, “Barang Siapa yg dunia menjadi penjara (hawa nafsu), maka kuburanlah surganya. Tapi bila dunia menjadi surganya, maka kuburan adalah penjaranya”.

Oleh sebab itu, maka sebelum memasuki kuburan siapkanlah bekal dan bangunlah kuburan kalian dengan Indah bukan yang memenjarakan. Allahu A’lam.


SITUBONDO, 20 Agustus 2025 — Empat anggota kepolisian dari Polres Situbondo hadir dalam acara Silaturahmi Nasional (Sila...
20/08/2025

SITUBONDO, 20 Agustus 2025 — Empat anggota kepolisian dari Polres Situbondo hadir dalam acara Silaturahmi Nasional (Silatnas) di Pondok Pesantren Salafiyah Dawuhan serta dimeriahkan siswa dan guru MTs Sarji Ar-Rasyid dan MA Sarji Ar-Rasyid dalam mensosialisasikan keselamatan lalu lintas.

Dipimpin oleh Pak Cahya bersama Bu Intan, dan 2 rekan lainnya, polisi menyampaikan pentingnya disiplin berlalu lintas, penggunaan helm standar, serta larangan berkendara tanpa kelengkapan surat-surat. Sosialisasi berlangsung santai dengan dialog langsung bersama para santri.

Dalam sesi tanya jawab, seorang santri bernama Tad Soleh mengajukan pertanyaan kritis seputar isu praktik pungutan terhadap masyarakat, termasuk soal “bayar polisi” dan aturan dalam ujian praktik SIM. Pertanyaan itu disambut terbuka, dengan penegasan dari pihak kepolisian bahwa pelayanan publik harus dilakukan secara profesional dan sesuai aturan.

Acara berlangsung lancar, ditutup dengan doa bersama yg dipimpun oleh Ustad. Jundam, dan diharapkan dapat menumbuhkan kesadaran para santri untuk menjadi pelopor keselamatan di jalan raya.

berat

19/08/2025

DAUL Sabdo Pandito Ratu — begitu santri Salafiyah Dawuhan menyebutnya. Dan itu, memang namanya. Nama yg tentu mendapat restu pengasuh dulu, Syaikhona Mursyid Kiai Haji. Abidi Rasyid.

Dan kamu tahu?
Daul salah satu kesenian yg ada di pondok kami. Bahkan umur Daul berkisar seumuran pesantren ini berdiri. Tepatnya, tahun 2012/2013 lalu. Mungkin sebelum kurikulum pesantren berjalan, Daul sudah lahir duluan.

Dan kamu Tahu?
Daul merupakan salah satu strategi pemasaran atau iklan pondok kami, Salafiyah Dawuhan. Tak sedikit yg rela mendaftar jadi santri baru, bukan lantaran sekolahnya unggul, apalagi kitab kuningnya. Tidak. Jika hanya kitab kuning, Lirboyo, Sukorejo, Sidogiri, Ploso dll tempatnya. Tapi mereka malah kepincut dengan Daul.

Dan Kamu tahu?
Daul di pondok kami menjadi primadona — konon yg pertama di Situbondo. Selain asyik sebagai kesenian, juga buat keren-kerenan di beberapa ajang sebagaimana pengakuan Tad Soleh sebagai mantan personel Daul Sabdo Pandito Ratu. Video di bawah ini, misalnya. Di mana Daul Sabdo Pandito Ratu diundang ke Bondowoso dalam rangka, entah saya gak tahu. Pokoknya, sekarang 19 Agustus 2025.

MAKA, SIAPAPUN YG MAU NGUNDANG SILAKAN HUBUNGI YG BERTUGAS, ASAL JELAS DARI AWAL BERSPA CUANNYA!

“Sayangnya, tidak banyak santri yang rela mengupas tuntas makna filosofi
nama “Sabdo Pandito Ratu” yg disematkan ke Daul itu” Tandas Tad Soleh. Demikian, Tad Soleh sendiri belum mendapatkan penjelasan gamblang dari senior-seniornya terkait itu selama beliau mondok. Maka Tad Soleh rela tidak berhenti-henti mondok karena menjadi sang pencari makna sejati dari nama Sabdo Pandito Ratu --- laksana biksu yg terus ke barat mencari kitab suci.

Dan Kamu tahu, apa itu Daul?

Ini jawaban versi Chat GPT. Daul adalah salah satu kesenian tradisional khas Madura, terutama dari wilayah Sampang dan sekitarnya. Bentuknya berupa musik perkusi dengan alat utama bedug atau dalul (sejenis kendang besar), ditambah dengan beberapa alat musik pengiring seperti saronen (alat tiup khas Madura mirip klarinet) serta alat musik modern seperti drum, simbal, bahkan kadang dipadukan dengan orgen.

Awalnya, Daul berkembang sebagai musik pengiring sahur di bulan Ramadan—rombongan pemuda keliling kampung sambil menabuh alat musik untuk membangunkan orang sahur. Tapi lama-kelamaan, Daul berkembang jadi kesenian pertunjukan dan festival.

Sekarang ada beberapa variasi, misalnya:

🎶 Daul Tradisional: iringan sahur dengan tabuhan bedug dan saronen. 🎶 Daul Modern (Hadrah Daul/Drum Daul): dikolaborasikan dengan drum band, musik elektrik, bahkan koreografi penari, biasanya tampil di acara festival, hajatan, atau lomba. 🎶 Parade Musik Daul: sering diadakan di Madura sebagai ajang kreasi pemuda.

Tabuhan Daul itu khas: ritmis, enerjik, cepat, bikin suasana jadi meriah dan semangat.
berat


#

SUDAH merdeka?. Delapan puluh tahun bendera merah putih dikibarkan di langit Nusantara. Namun, setiap kali saya menengok...
17/08/2025

SUDAH merdeka?. Delapan puluh tahun bendera merah putih dikibarkan di langit Nusantara. Namun, setiap kali saya menengok sejarah, selalu terngiang kata-kata Sukarno yang pedih sekaligus visioner:

"Perjuanganku lebih mudah karena melawan penjajah, tapi perjuanganmu lebih sulit karena melawan bangsamu sendiri."

Bagi saya kalimat itu bukan sekadar romantisme sejarah. Kalimat itu adalah nubuat. Sukarno yang berlumur peluh di medan diplomasi dan revolusi, tahu benar bahwa melawan kolonialisme asing hanyalah satu babak dari sekian drama panjang bernama kemerdekaan.

Babak berikutnya—yang lebih berat—adalah melawan “penjajah dari dalam”: kerakusan, keserakahan, dan penyakit hati dan sosial yang tumbuh subur di tubuh dan berkembang di bangsa sendiri.

Saya yakin, kalimat yg mengalir dari lisan sang proklamator itu lantaran pengalaman dan pembacaan terhadap pemikiran tokoh dunia. Dan tokoh dunia, ada konsensus diam-diam senagaimana diceritakan Tad Soleh, tingkat teratas adalah Nabi Muhammad.

Nabi Muhammad — seusai kembali dari medan perang melawan "penjajah" tauhid dan risalah — menegaskan kepada para sahabatnya: "Kami baru saja p**ang dari jihad kecil menuju perjuangan akbar."

Para sahabat bertanya heran, “Apakah perjuangan akbar itu, Ya Rasulullah?”
Nabi menjawab: “Jihad akbar adalah melawan dirimu sendiri.”

Indonesia telah menorehkan sejarah heroik melawan Belanda dan Jepang. Tapi hari ini, kita masih harus bertanya: benarkah kita telah merdeka sepenuhnya?

Korupsi yang menggerogoti anggaran pendidikan, kesehatan, hingga bantuan sosial. Penyakit sosial yang menjelma dalam bentuk narkoba, perundungan, intoleransi, hingga polarisasi politik. Inilah musuh-musuh baru, yang ironisnya lahir bukan dari bangsa asing, melainkan dari anak bangsa sendiri. Lebih ironi lagi, kebejatan dan kebangsatan itu muncul dari dalam diri sendiri.

Jika dulu penjajah mengeruk hasil bumi untuk kepentingan negeri mereka, kini koruptor melahap kekayaan negeri untuk perut sendiri.

Inilah yang dimaksud Sukarno: perjuangan melawan bangsamu sendiri. Dan ini p**a yang dimaksud Rasulullah: jihad melawan hawa nafsu; keserakahan, keegoisan, dan keangkuhan.

Maka, kemerdekaan sejati bukan sekadar bebas dari kekuasaan asing. Tapi ketika terbebas dari belenggu hawa nafsu sendiri untuk korupsi, belenggu dari jabatan tertinggi.

Di sinilah kita diuji: apakah kemerdekaan yang diwariskan para pendiri bangsa hanya akan berhenti di seremoni 17 Agustus, atau benar-benar diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari?

Hari ini, tugas kita bukan lagi hanya mengangkat senjata. Tugas kita adalah mengangkat kesadaran. Mengibarkan integritas. Menggenggam nilai-nilai kejujuran dan solidaritas. Perang kita bukan di medan tempur, melainkan di meja birokrasi, ruang kelas, layar gawai, dan dalam batin kita masing-masing melawan musuh yg namanya hawa nafsu sendiri.

Karena sejatinya, jihad akbar itu bukan hanya melawan musuh di luar, tapi menundukkan keserakahan di dalam diri. Dan bangsa yang merdeka bukanlah bangsa yang bebas dari penjajah asing semata, melainkan bangsa yang mampu menaklukkan hawa nafsu diri sendiri.

Nb: Alfatihah bagi para pahlawan, baik diakui negara ataupun yang tidak. Alfatihah untuk para kyai yg mengaji di langgar-langgar yg mengajarkan kemerdekaan sejati untuk terbebas dari kungkungan hawa nafsu.

Senin, 17 Agustus 2025

Address

Situbondo

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Salafiyah Dawuhan posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Shortcuts

Share

Category