26/08/2025
SEKETIKA muncul rasa bersalah. "Apakah ini kemunafikan?" batin saya. Bagaimana mungkin baru saja, saya menasehati anak-anak untuk terus belajar, tekun, dan ulet. Lalu seketika saya sendiri dan mengajak anak-anak p**a mencari hiburan dan berganti dengan tawa riang.
Rupanya, keresahan itu bukan hal baru. Dalam sebuah hadis sahih, Hanzhalah – seorang sahabat Nabi – sebagaimana Imam Muslim mencatatnya. Beliau mengisahkan.
Pada suatu hari, Hanzhalah duduk bersama Rasulullah . Suasana majelis begitu hening, semua orang larut dalam nasihat beliau. Kata-kata tentang neraka membuat hati mereka bergetar, seakan api itu sudah menyala di hadapan mata.
Namun, setelah majelis bubar dan Hanzhalah p**ang ke rumah, ia kembali menjadi seorang ayah dan seorang suami. Ia bercanda dengan anak-anak, bermain dan bergurau dengan istrinya. Tiba-tiba perasaan aneh menyelip di hatinya. Ia merasa imannya naik-turun. “Apakah ini kemunafikan?” gumamnya resah.
Ketika keluar rumah, Hanzhalah bertemu dengan Abu Bakar raḍiyallāhu ‘anhu. Ia pun menceritakan kegelisahannya. Dengan kaget bercampur lega, Abu Bakar menjawab, “Aku juga merasakan hal yang sama, seperti yang engkau sebutkan.”
Mereka berdua akhirnya mendatangi Rasulullah. Dengan jujur, Hanzhalah berkata, “Wahai Rasulullah, Hanzhalah ini telah menjadi munafik.” Rasulullah menatapnya lembut, lalu bersabda, “Mah (tenanglah, jangan berkata begitu).”
Hanzhalah pun menceritakan apa yang ia alami. Abu Bakar menimpali, “Aku juga pernah melakukan hal yang sama.” Maka Rasulullah tersenyum bijak, lalu bersabda:
“Wahai Hanzhalah, sā‘ah wa sā‘ah — ada saatnya begini, ada saatnya begitu. Seandainya hati kalian selalu berada dalam kondisi seperti ketika berdzikir, niscaya para malaikat akan menyalami kalian, bahkan memberi salam kepada kalian di jalan-jalan.”
Kata-kata itu membuat hati Hanzhalah tenang. Ia belajar bahwa manusia memang memiliki irama iman: ada waktu serius, ada waktu santai; ada saat hati larut dalam dzikir, ada saat bercanda bersama keluarga. Dan itu bukan tanda kemunafikan, melainkan bagian dari fitrah manusia yang dirahmati Allah.
Kisah itu membuat saya lega. Ternyata, rekreasi dan hiburan bukanlah dosa, selama tidak keluar dari batas syariat. Ada kalanya kita serius, ada kalanya kita butuh istirahat. Bahkan Abū al-Dardā’ raḍiyallāhu ‘anhu pernah berkata, “Aku menyegarkan hatiku dengan sedikit hiburan, agar lebih kuat dalam menegakkan kebenaran.”
Pernah juga saya membaca kalimat yang dinisbatkan kepada Sayyidina ‘Alī: “Rekreasilah hati sejenak, sebab jika ia dipaksa terus-menerus, maka ia akan menjadi buta.” Indah sekali. Seperti halnya tanah yang butuh air, hati juga butuh jeda.
Dari pengalaman kecil itulah saya sadar, refresing dalam Islam bukan sekadar hiburan kosong. Ia bisa bernilai ibadah jika diniatkan untuk menguatkan diri dalam ketaatan. Maka tidak aneh bila jiwa seorang muslim kadang rindu pada kesenangan. Yang aneh justru ketika seseorang menjadikan hiburan sebagai alasan untuk melanggar aturan Allah.
Dan hari ini, kami melakukan refresing barang sebentar. Hanya sekedar melepas penat-penat jiwa yg senantiasa ditekan belajar, dan belajar. Karena, ternyata hati juga butuh rekreasi. Dan rekreasi kali ini yaitu dalam rangka menyambut Maulid Nabi.