02/09/2015
Bapak Presiden, Jika BBM Naik, Maka Naikkan
Harga Rokok
Bapak presiden yang Terhormat, Jika BBM akan
Naik Menjadi Rp. 9500/ liter, Maka Naikkan
Harga Rokok Rp. 100.000/ bungkus, Wani Opo
Ora?
Jika BBM dinaikkan begitu cepat, maka rokok
harus lebih melesat. Tujuannya agar para
perokok hanyalah kaum terhormat, sedangkan
kaum melarat bakal berpikir ulang membeli
rokok jika upahnya hanya cukup membeli beras
dan daging sekerat.
Rokok harus jadi barang paling “Wah”. Dijual
di Mall dan Plaza dengan label barang mewah.
Barangkali dengan begitu para pecandu rokok
bakal menangis darah.
Rokok bukan sekadar dilabeli “Merokok
Membunuhmu,” tetapi diubah “Dasar tolol,
merokok membunuh dan memiskinkanmu, mau
mati dan miskin gara-gara rokok dan cerutu!”.
Jika ada yang berujar; “Harga rokok dinaikkan,
kasihan pabrik rokok akan merugi,” padahal
justru jika rokok menjadi barang mewah,
niscaya penghasilan bertambah. Sedangkan
BBM dinaikkan menjadi Rp.9500,
diperkirankan menambah devisa negara sebesar
20 trilyun rupiah. Tentu jika harga rokok
dinaikkan menjadi Rp. 100.000 maka pabrik
rokok akan meraup untung hingga beratus-ratus
trilyun rupiah.
Jika ada yang berujar; “Nanti tidak ada yang
beli, maka pengangguran besar-besaran terjadi,”
buktinya bensin dinaikkan walaupun dibarengi
demontrasi tetap saja ada yang antri. Jadi, orang
kaya justru akan bangga sebab rokok bisa jadi
pembeda antara pendapatan kelas kakap dan
kelas teri, maka mereka akan antri beli rokok
untuk jaga gengsi dan harga diri.
Jika ada yang berujar; “Lalu kami yang miskin
ini, apa tidak boleh mencicipi rokok?” Maka itu
bergantung pada kesanggupan untuk menjadi
kaya, jika tak sanggup maka silakan berhenti.
Pilih berhenti merokok atau berhenti jadi suami
karena dianggap lebih mencintai rokok daripada
anak dan istri, sebab sudah tahu miskin masih
saja nekad beli rokok yang harganya sedemikian
tinggi. []
Sumber Aksara Razaan:
Bapak Presiden, Jika BBM Naik,
Maka Naikkan Harga Rokok -
Islampos
islampos.com
Media Islam Generasi Baru