MTs. Salafiyah Darul Muta'allimin Tanah Merah

MTs. Salafiyah Darul Muta'allimin Tanah Merah MTs. Tsanawiyah Darul Muta'allimin Tanah Merah

09/11/2022
Rapat persiapan perayaan Akbar pesantren Darul Muta'allimin Tanah Merah 1444 H.
08/08/2022

Rapat persiapan perayaan Akbar pesantren Darul Muta'allimin Tanah Merah 1444 H.

Lanjut Micro teaching (belajar menjadi pengajar kitab kuning) tahap ketiga pelajaran Sharaf Kitab Syarah al-Kaylani kela...
02/08/2022

Lanjut Micro teaching (belajar menjadi pengajar kitab kuning) tahap ketiga pelajaran Sharaf Kitab Syarah al-Kaylani kelas III Pondok Pesantren Darul Muta'allimin Tanah Merah Aceh Singkilđź’š

Lanjut Micro teaching (belajar menjadi pengajar kitab kuning) tahap pertama pelajaran Sharaf Kitab Syarah al-Kaylani kel...
01/08/2022

Lanjut Micro teaching (belajar menjadi pengajar kitab kuning) tahap pertama pelajaran Sharaf Kitab Syarah al-Kaylani kelas III Pondok Pesantren Darul Muta'allimin Tanah Merah Aceh Singkilđź’š

21/05/2017


"Jadi wali santri itu harus punya 5 sifat dan sikap...yaitu TITIP...:

1. Tega

Harus tega...harus tega...harus tega...harus percaya kalau dipesantren anakmu itu dididik bukan dibuang. Harus tega, karena pesantren adalah medan pendidikan dan perjuangan...

2. Ikhlas

Harus ikhlas...harus sadar kalau anakmu itu tidak akan dibiarkan terlantar..harus ikhlas anakmu didik, dilatih, ditempa, diurus, di tigaskan, disuruh hafalan, dan sebagainya...kalau merasa anakmu dibuat nda senyaman hidup dirumah...ambil anakmu serkarang juga..

3. Tawakkal

Setelah itu serahkan sama Allah...berdoalah..karena pesantren bukan tukang sulap, yg bisa merubah begitu saja santri-santrinya...maka berdoalah..

4. Ikhtiar

Dana dan doa...ini yg keempat...

5. Percaya

Percayalah bahwa anak kalian ini dibina, betul-betul dibina. Apa yg mereka dapatkan disini adalah bentuk wadah pembinaan. Jadi kalau melihat anak-anakmu diperlakukan bagaimanapun, percayalah itu adalah bentu wadah pembinaan....

Jadi jangan salah paham...jangan salah sikap...jangan salah persepsi...

Peringatan Isra' Mi'raj  Nabi Muhahammad SAW PP.  DARUL MUTA'ALLIMIN TANAH MERAH 1438 H.
21/05/2017

Peringatan Isra' Mi'raj Nabi Muhahammad SAW PP. DARUL MUTA'ALLIMIN TANAH MERAH 1438 H.

Selamat hari santri nasional 22 oktober 2016,
22/10/2016

Selamat hari santri nasional 22 oktober 2016,

21/07/2016

Innalillahi wainna ilaihi raji'un..
Pesantren Darul Muta'allimin Tanah Merah turut berduka telah berpulangnya kerahmatullah abuya djamaluddin wali pimpinan Dayah Darus Salam Labuhan haji..
Allahummaghfir lahu warhamhu wa'afihi wa'fuanhu... aamiin.

10/07/2016

Assalamu'alaikum wr. Wb
Pemberitahuan bagi orngtua/wali santri Darul Muta'allimin Tanah pembukaan Pesantren pasca libur Ramadhan tepat pada tgl 16 Juli 2016. Pukul 08.30 wib.
Mohon saling sampai menyampaikan disekeliling kita.. .
Wassalamu'alaikum wr. Wb.

09/10/2015

Benarkah Tahlilan & Kenduri Haram?
Posted by: Ust. Idrus Ramli in Buku 08/06/2013 0 120 Views

Judul : Benarkah Tahlilan & Kenduri Haram?
Penulis : Muhammad Idrus Romli
Editor: Achmad Ma’ruf Asrori
Penerbit: Khalista, Surabaya
Cetakan: I, 2012Tebal: v + 82 hlm.
Buku kecil “Bernarkah Tahlilan dan Kenduri Haram”, yang sederhana ini ditulis oleh salah seorang anak muda NU dan sangat produktif menulis berasal dari Jember. Kehadiran buku ini dilatar belakangi saat penulis mengisi acara daurah pemantapan Ahlussunnah Waljama’ah di salah satu Pesantren di Yogyakarta. Ketika sampai dalam sesi tanya jawab, ada salah seorang peserta mengajukan pertanyaan kepada penulis tentang hukum selamatan kematian, tahlilan dan yasinan. Selain itu penaya juga memberikan selebaran Manhaj Salaf, setebal 14 halaman dengan kumpulan artikel berjudul “Imam Syafi’i Mengharamkan Kenduri Arwah, Tahlilan, Yasinan dan Selamatan”.
Tradisi tahlilan, yasinan, dan tradisi memperingati 3 hari, 7 hari, 40 hari, 100 hari, dan 1000 hari orang yang meninggal dunia adalah tradisi yang telah mengakar di tengah-tengah masyarakat kita khususnya di kalangan warga nahdliyin. Dan tradisi tersebut mulai dilestarikan sejak para sahabat hingga saat ini, di pesantrenpun tahlilan, yasinan merupakan tradisi yang dilaksanakan setiap hari setelah shalat subuh oleh para santri. Sehingga tahlilan, yasinan merupakan budaya yang tak pernah hilang yang senantiasa selalu dilestarikan dan terus dijaga eksistensinya.
Seiring dengan lahirnya aliran-aliran baru seperti aliran wahabi atau aliran salafi yang telah diceritakan oleh penulis, tradisi tahlilan dan yasinan hanyalah dianggap sebatas budaya nenek moyang yang pelaksanaannya tidak berdasarkan dalil-dalil hadits atau al-Qur’an yang mendasarinya. Sehingga aliran Wahabi dan Aliran Salafi menolak terhadap pelaksanaan tradisi tersebut, bahkan mereka menganggapnya perbuatan yang diharamkam.
Tahlilan, yasinan merupakan tradisi yang telah di anjurkan bahkan disunnahkan oleh Rasulullah dan para sahabatnya. Yang di dalamnya membaca serangkaian ayat-ayat al-Qur’an, dan kalimah-kalimah tahmid, takbir, shalawat yang di awali dengan membaca al-Fatihah dengan meniatkan pahalanya untuk para arwah yang dimaksudkan oleh pembaca atau yang punyak hajat, dan kemudian ditutup dengan do’a. Inti dari bacaan tersebut ditujukan pada para arwah untuk dimohonkan ampun kepada Allah, atas dosa-dosa arwah tersebut.
Seringkali penolakan pelaksanaan tahlilan, yasinan, dikarenakan bahwa pahala yang ditujukan pada arwah tidak akan menolong terhadap orang yang meninggal. Padahal telah seringkali perdebatan mengenai pelaksanaan tahlil di gelar, namun tetap saja ada pihak-pihak yang tidak menerima terhadap adanya tradisi tahlil dan menganggap bahwa tahlilan, yasinan adalah perbuatan bid’ah.
Para ulama sepakat untuk terus memelihara pelaksanaan tradisi tahlil tersebut berdasarkan dalil-dalil Hadits, al-Qur’an, serta kitab-kitab klasik yang menguatkannya. Dan tak sedikit manfaat yang dirasakan dalam pelaksanaan tahlil tersebut. Diantaranya adalah, sebagai ikhtiyar (usaha) bertaubat kepada Allah untuk diri sendiri dan saudara yang telah meninggal, mengikat tali persaudaraan antara yang hidup maupun yang telah meninggal, mengingat bahwa setelah kehidupan selalu ada kematian, mengisi rohani, serta media yang efektif untuk dakwah Islamiyah.
Buku ini menguraikan secara rinci tentang hukum kenduri kematian, tahlilan, yasinan, dan menjelaskan khilafiyah ulama salaf memberikan makanan oleh keluarga duka cita kepada orang-orang yang berta’ziah. Karena dikalangan ulama salaf masih memperselisihkan bahwa, memberikan makanan kepada orang-orang yang berta’ziah, ada yang mengatakan makruh, mubah, dan sunnah. Namun dikalangan ulama salaf sendiri tidak ada yang berpendapat tahlilan, yasinan merupakan perbuatan yang diharamkan. Bahkan untuk selamatan selama tujuh hari, berdasarkan riwayat Imam Thawus, justru dianjurkan oleh kaum salaf sejak generasi sahabat dan berlangsung di Makkah dan Madinah hingga abad kesepuluh hijriah (hal. 13).
Menghadiahkan amal kepada orang yang telah meninggal dunia maupun kepada orang yang masih hidup adalah dengan media do’a, seperti tahlilan, yasinan, dan amalan-amalan yang lainnya. Karena do’a pahalanya jelas bermanfaat kepada orang yang sudah meninggal dan juga kepada orang yang masih hidup. Seorang pengikut madzhab Hambali dan murid terbesar Ibnu Taimiyah, yaitu Ibnul Qoyyim al-Jauziyah menegaskan pendapatnya, seutama-utama amal yang pahalanya dihadiahkan kepada orang yang meninggal adalah sedekah.
Adapun membaca al-Qur’an, tahlil, tahmid, takbir, dan shalawat dengan tujuan dihadiahkan kepada orang yang telah meninggal dunia secara sukarela, ikhlas tanpa imbalan upah, maka hal yang demikian sampailah pahala itu kepadanya. Karena orang yang mengerjakan amalan yang baik atas dasar iman dan ikhlas telah dijanjikan oleh Allah akan mendapatkan pahala. Artinya, pahala itu menjadi miliknya. Jika meniatkan amalan itu untuk orang lain, maka orang lain itulah yang menerima pahalanya, misalnya menghajikan, bersedekah atas nama orang tua dan lain sebagainya.
Dengan demikian, buku ini layak dibaca oleh semua kalangan manapun baik yang pro maupun yang kontra terhadap adanya tradisi tahlilan dan yasinan. Agar supaya tradisi tahlilan dan yasinan yang sudah akrab ditengah-tengah masyarakat tidak lagi terus dipertanyakan mengenai kekuatan dalilnya. Sehingga agar tumbuh saling pengertian dan membangun solidaritas antar sesama muslim. Membaca buku kecil dan sederhana ini, pembaca akan mengetahui secara jelas terhadap dalil-dalil bacaan tahlilan, yasinan yang selama ini dikatakan haram dan perbuatan bid’ah. Wallahu a’lam.

mengenang jasa para pahlawan, Santri Pesantren Darul Muta'allimin Tanah Merah membaca surah yasin. Semoga Allah senantia...
17/08/2015

mengenang jasa para pahlawan, Santri Pesantren Darul Muta'allimin Tanah Merah membaca surah yasin. Semoga Allah senantiasa menempatkan mereka disisinya.

Address

Tanah Merah
Singkil
34784

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when MTs. Salafiyah Darul Muta'allimin Tanah Merah posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Contact The School

Send a message to MTs. Salafiyah Darul Muta'allimin Tanah Merah:

Shortcuts

Share

Category