12/06/2026
Istidraj paling hina adalah miskin tapi masih meninggalkan sholat. Kalimat ini memang keras. Tapi kadang, ada kalimat yang harus terasa keras supaya hati yang terlalu lama kebas bisa kembali merasa.
Namun perlu diluruskan sejak awal. Miskin itu bukan hina. Hidup sederhana bukan aib. Banyak orang yang hartanya sedikit, tapi derajatnya tinggi karena sabar, jujur, menjaga ibadah, dan tidak menjual harga diri hanya demi isi perut.
Yang jadi masalah bukan kemiskinannya. Yang jadi masalah adalah ketika hidup sudah sempit, rezeki sudah pas-pasan, masalah datang bertumpuk, tapi satu-satunya jalan pulang kepada Allah justru ikut ditinggalkan.
Hidup dalam kekurangan itu berat. Harga kebutuhan naik, penghasilan belum tentu cukup, pekerjaan tidak selalu pasti, utang menunggu, dan pikiran sering penuh sebelum hari dimulai. Dalam keadaan seperti itu, manusia biasanya mencari pegangan agar tidak roboh dari dalam.
Bagi orang beriman, pegangan paling dasar adalah sholat. Bukan karena sholat langsung membuat rekening penuh. Bukan juga karena setelah sholat semua masalah langsung hilang. Tapi sholat menjaga manusia agar tidak merasa sendirian menghadapi hidup yang sering tidak ramah.
Di sinilah ironi itu terasa tajam. Kalau orang kaya lalai karena merasa punya segalanya, itu sudah berbahaya. Tapi kalau orang miskin lalai padahal dunia saja tidak sedang banyak memberi, itu lebih menyedihkan. Dunia tidak tergenggam, akhirat pun dilepas.
Parahnya sih begini, tabungan tidak punya, ketenangan tidak punya, masa sholat juga tidak punya. Hidup sudah dikejar tagihan, dikejar kebutuhan, dikejar keadaan, tapi panggilan Allah masih dianggap bisa nanti dulu. Seolah semua urusan dunia mendesak, sementara urusan dengan Pencipta bisa terus ditunda.