بسم الله الرحمن الرحيم
التهنئة بشعائر الكفر المختصة به فحرام بالاتفاق
"Memberi Ucapan Selamat atas Hari Raya Keagamaan Orang-orang Kafir maka (Hukumnya) Haram Menurut Kesepakatan (Para Ulama)"
(Seperti “Selamat Hari Natal”, “Selamat Hari Raya Nyepi”, “Selamat Hari Raya Waisak”, “Selamat Hari Raya Imlek” dll.)
Balai Pengajian Darul Ilmi Al Aziziyah
Tempat Menuntut Ilmu Agama
عَلاَمَات الْفَرْعِيَّة
ALAMAT FAR'IYYAH (TANDA-TANDA CABANG)
Dalam pelajaran-pelajaran yang lalu kita sudah melihat Alamat Ashliyyah atau tanda-tanda asli (pokok) dari I'rab yaitu baris Dhammah untuk I'rab Rafa', baris Fathah untuk I'rab Nashab, dan baris Kasrah untuk I'rab Jarr.
Diantara bentuk-bentuk Isim, ada yang menggunakan tanda-tanda yang berbeda dari Alamat Ashliyyah untuk menunjukkan I'rab Rafa', Nashab atau Jarr tersebut, karena bentuknya yang khas, mereka menggunakan Alamat Far'iyyah yaitu:
1) Isim Mutsanna (Kata Benda Dual).
a. I'rab Rafa' ditandai dengan huruf Alif-Nun ( ان )
b. I'rab Nashab dan I'rab Jarr ditandai dengan huruf Ya-Nun ( ين )
جَاءَ رَجُلاَنِ
= datang dua orang lelaki
رَأَيْتُ رَجُلَيْنِ = aku melihat dua orang lelaki
سَلَّمْتُ عَلَى رَجُلَيْنِ = aku memberi salam kepada dua orang lelaki
2) Isim Jamak Mudzakkar Salim (Kata Benda Jamak Laki-laki Beraturan).
a. I'rab Rafa' ditandai dengan huruf Wau-Nun ( ون )
b. I'rab Nashab dan I'rab Jarr ditandai dengan huruf Ya-Nun ( ين )
جَاءَ الْمُسْلِمُوْنَ = datang kaum muslimin
رَأَيْتُ الْمُسْلِمِيْنَ = aku melihat kaum muslimin
سَلَّمْتُ عَلَى الْمُسْلِمِيْنَ = aku memberi salam kepada kaum muslimin
3) Al-Asma' al-Khamsah ( اَلأَسْمَاء الْخَمْسَة ) atau "isim-isim yang lima" yakni: أَبٌ (=ayah), أَخٌ (=saudara), حَمٌ (=ipar), ذُوْ (=pemilik) dan فَمٌ (=mulut). Isim-isim ini memiliki perubahan bentuk yang khas sebagai berikut:
a. I'rab Rafa' ditandai dengan huruf Wau ( و ) di akhirnya
b. I'rab Nashab ditandai dengan huruf Alif ( ا ) di akhirnya
c. I'rab Jarr ditandai dengan huruf Ya ( ي ) di akhirnya
جَاءَ أَبُوْ بَكْرٍ
= datang Abubakar
رَأَيْتُ أَبَا بَكْرٍ = aku melihat Abubakar
سَلَّمْتُ عَلَى أَبِيْ بَكْرٍ = aku memberi salam kepada Abubakar
Hafalkanlah kelompok-kelompok Isim yang mempunyai tanda-tanda I'rab yang khas ini, sebelum melangkah ke pelajaran selanjutnya.
اِسْم غَيْرُ مُنَوَّن
ISIM GHAIRU MUNAWWAN (Isim yang Tidak Menerima Tanwin)
Dalam kaitannya tentang Alamat I'rab Far'iyyah (tanda-tanda I'rab cabang), kita harus mempelajari golongan Isim yang huruf akhirnya tidak menerima baris tanwin maupun kasrah (hanya menerima baris dhammah dan fathah).
Isim-isim ini dinamakan ISIM GHAIRU MUNAWWAN yang terdiri dari:
1) Semua Isim 'Alam (Nama) yang diakhiri dengan Ta Marbuthah (meskipun ia adalah Mudzakkar). Misalnya: فَاطِمَةُ (=Fatimah), آمِنَةُ (=Aminah), مَكَّةُ (=Makkah), مُعَاوِيَةُ (=Muawiyah), حَمْزَةُ (=Hamzah), dan sebagainya.
2) Semua Isim 'Alam Muannats (meskipun tidak diakhiri dengan Ta Marbuthah). Misalnya: خَدِيْجَةُ (=Khadijah), سَوْدَةُ (=Saudah), زَيْنَبُ (=Zainab), بَغْدَادُ (=Bagdad), دِمَشْقُ (=Damaskus), dan sebagainya.
3) Isim 'Alam yang merupakan kata serapan atau berasal dari bahasa 'ajam (bukan Arab). Misalnya: إِبْرَاهِيْمُ (=Ibrahim), دَاوُدُ (=Dawud), يُوْسُفُ (=Yusuf), فِرْعَوْنُ (=Fir'aun), قَارُوْنُ (=Qarun), dan sebagainya.
4) Isim 'Alam yang menggunakan wazan (pola/bentuk) Fi'il. Misalnya: يَزِيْدُ (=Yazid), أَحْمَدُ (=Ahmad), يَثْرِبُ (=Yatsrib), dan sebagainya.
5) Isim 'Alam yang menggunakan wazan فُعَل . Misalnya: عُمَرُ (=Umar), زُحَلُ (=Zuhal), جُحَا (=Juha), dan sebagainya.
6) Semua Isim, baik Isim 'Alam maupun bukan, yang diakhiri dengan huruf Alif-Nun. Misalnya: عُثْمَانُ (=Utsman), سُلَيْمَانُ (=Sulaiman), رَمَضَانُ (=Ramadhan), جَوْعَانُ (=lapar), غَضْبَانُ (=marah), dan sebagainya.
7) Semua Isim yang menggunakan wazan (pola/bentuk) أَفْعَل . Misalnya: أَفْضَلُ (=lebih utama), أَكْبَرُ (=lebih besar), أَسْوَدُ (=hitam), dan sebagainya.
8) Isim Jamak yang mempunyai wazan yang di tengahnya terdapat Mad Alif. Misalnya: رَسَائِلُ (=surat-surat), أَنَاشِيْدُ (=nasyid-nasyid), شَوَارِعُ (=jalan-jalan), قَبَائِلُ (=suku-suku), dan sebagainya.
9) Isim 'ADAD (عَدَد) atau Bilangan dari satu sampai sepuluh yang menggunakan wazan فَعَال atau مَفْعَل . Misalnya: ثُلاَثُ (=tiga), رُبَاعُ (=empat), خُمَاسُ (=lima), مَعْشَرُ (=kelompok), dan sebagainya.
10) Isim أُخَرُ (=yang lain) yang merupakan bentuk Jamak dari أُخْرَى .
11) Isim yang huruf akhirnya berupa Alif Mamdudah ( أَلِف مَمْدُوْدَة ) atau Alif Lurus ( اء ). Misalnya: زَهْرَاءُ (=yang berkilau), عُلَمَاءُ (=orang-orang berilmu), أَصْدِقَاءُ (=teman-teman), dan sebagainya.
Seperti dinyatakan di awal tadi, Isim-isim di atas huruf akhirnya tidak menerima baris tanwin dan kasrah. Oleh karena itu, dalam kaitannya dengan I'rab, Isim Ghairu Munawwan mempunyai alamat atau tanda-tanda I'rab sebagai berikut:
a. I'rab Rafa' dan I'rab Nashab tetap menggunakan Alamat Ashliyyah yakni baris Dhammah untuk I'rab Rafa' dan baris Fathah untuk I'rab Nashab.
b. I'rab Jarr tidak menggunakan baris Kasrah melainkan baris Fathah.
جَاءَ سُلَيْمَانُ = datang Sulaiman
رَأَيْتُ سُلَيْمَانَ = aku melihat Sulaiman
سَلَّمْتُ عَلَى سُلَيْمَانَ = aku memberi salam kepada Sulaiman
Sebagai perkecualian, bila Isim-isim tersebut menggunakan awalan Alif-Lam Ma'rifah, maka ia menerima baris kasrah bila terkena I'rab Jarr. Perhatikan:
سَلَّمْتُ عَلَى قَبَائِلَ
= aku memberi salam kepada suku-suku
سَلَّمْتُ عَلَى الْقَبَائِلِ
= aku memberi salam kepada suku-suku itu
سَلَّمْتُ عَلَى عُلَمَاءَ = aku memberi salam kepada para ulama
سَلَّمْتُ عَلَى الْعُلَمَاءِ
= aku memberi salam kepada para ulama itu
Namun masih ada lagi kelompok Isim Ghairu Munawwan yang huruf akhirnya selalu tetap, tidak mengalami perubahan baris apapun. Yaitu:
12) Isim-isim yang huruf akhirnya Alif Maqshurah ( أَلِف مَقْصُوْرَة ) atau Alif Bengkok ( ى tanpa titik dua). Misalnya: مُوْسَى (=Musa), عِيْسَى (=Isa), هُدَى (=petunjuk), طُوَى (=Thuwa: nama bukit), dan sebagainya.
Isim-isim ini huruf akhirnya tidak pernah berubah, dalam keadaan I'rab apapun.
جَاءَ مُوْسَى
= datang Musa
رَأَيْتُ مُوْسَى = aku melihat Musa
سَلَّمْتُ عَلَى مُوْسَى = aku memberi salam kepada Musa
Hafalkanlah istilah-istilah tata bahasa Arab yang terdapat dalam pelajaran ini sebelum melangkah ke pelajaran selanjutnya.
إِعْرَب فِعْل الْمُضَارِع
I'RAB FI'IL MUDHARI'
Fi'il Mudhari' juga mengalami I'rab atau perubahan baris/bentuk di akhir kata bila didahului oleh harf-harf tertentu. Fi'il Mudhari mengenal tiga macam I'rab:
1) I'RAB RAFA' ialah bentuk asal dari Fi'il Mudhari' dengan alamat (tanda):
a. Baris Dhammah: أَفْعَلُ / نَفْعَلُ / تَفْعَلُ / يَفْعَلُ
b. Huruf Nun: تَفْعَلِيْنَ / تَفْعَلاَنِ / تَفْعَلُوْنَ / يَفْعَلاَنِ / يَفْعَلُوْنَ
2) I'RAB NASHAB bila dimasuki Harf Nashab. Alamatnya adalah:
a. Baris Fathah: أَفْعَلَ / نَفْعَلَ / تَفْعَلَ / يَفْعَلَ
b. Hilangnya huruf Nun: تَفْعَلِيْ / تَفْعَلاَ / تَفْعَلُوْا / يَفْعَلاَ / يَفْعَلُوْا
Adapun yang termasuk Harf Nashab ialah: أَنْ (=bahwa), لَنْ (=tidak akan), إِذَنْ (=kalau begitu), كَيْ (=supaya), حَتَّى (=hingga), لـِ (=untuk).
Perhatikan contoh-contohnya dalam kalimat:
Fi'il Mudhari' Rafa' Fi'il Mudhari' Nashab
أَنَا أَكْتُبُ الدَّرْسَ أُرِيْدُ أَنْ أَكْتُبَ الدَّرْسَ
(=saya menulis pelajaran) (=saya mau menulis pelajaran)
هُمْ يَدْرُسُوْنَ. هُمْ يَفْهَمُوْنَ.
هُمْ يَدْرُسُوْنَ حَتَّى يَفْهَمُوْا
(=mereka belajar. mereka mengerti)
(=mereka belajar hingga mengerti)
3) I'RAB JAZM ( جَزْم ) bila dimasuki Harf Jazm. Alamatnya ada tiga:
a. Baris Sukun: أَفْعَلْ / نَفْعَلْ / تَفْعَلْ / يَفْعَلْ
b. Hilangnya huruf Nun: تَفْعَلِيْ / تَفْعَلاَ / تَفْعَلُوْا / يَفْعَلاَ / يَفْعَلُوْا
c. Hilangnya huruf 'Illat ( عِلَّة ) atau "huruf penyakit" yaitu ا / و / ى
Adapun yang termasuk Harf Jazm terbagi dalam dua kelompok:
1. Harf Jazm yang men-jazm-kan satu fi'il saja yaitu: لَمْ (=tidak), لَمَّا (=belum), لِـ/لْـ untuk perintah (=hendaklah), لاَ untuk larangan (=jangan).
Perhatikan contoh-contohnya dalam kalimat:
Fi'il Mudhari' Rafa' Fi'il Mudhari' Jazm
هُوَ يَدْرُسُ وَهُوَ يَفْهَمُ
لَمْ يَدْرُسْ وَلَمْ يَفْهَمْ
(=dia belajar, dia mengerti)
(=dia belum belajar dan dia belum mengerti)
أَنْتُمْ تَدْخُلُوْنَ بَيْتِيْ
لاَ تَدْخُلُوْا بَيْتِيْ
(=kalian memasuki rumahku)
(=jangan memasuki rumahku)
2. Harf Jazm yang men-jazm-kan dua fi'il yaitu: إِنْ (=jika), مَنْ (=siapa), مَا (=apa), مَهْمَا (=jangan), مَتَى (=kapan), أَيَّانَ (=kapan), أَيْنَ (=dimana), أَيْنَمَا (=dimana saja), أَنَّى (=darimana), حَيْثُمَا (=darimana saja), كَيْفَمَا (=bagaimana saja), أَيُّ (=yang mana).
Contoh I :
أَنْتَ تَعْمَلُ بِعَمَلٍ ؛ أَنْتَ تُجْزَى بِهِ (=engkau mengerjakan suatu pekerjaan; engkau akan dibalas dengannya)
إِنْ تَعْمَلْ بِعَمَلٍ تُجْزَ بِهِ (=jika engkau mengerjakan suatu pekerjaan, engkau akan dibalas dengannya)
Contoh II :
هُوَ يُؤْمِنُ بِاللهِ ؛ اللهُ يَهْدِيْ قَلْبَهُ
(=dia beriman kepada Allah; Allah menunjuki hatinya)
مَنْ يُؤْمِنْ بِاللهِ يَهْدِ قَلْبَهُ (=siapa yang beriman kepada Allah, Dia akan menunjuki hatinya)
Contoh III :
أَنْتُمْ تَفْعَلُوْنَ مِنْ خَيْرٍ ؛ اللهُ يَعْلَمُهُ
(=kalian melakukan suatu kebaikan; Allah mengetahuinya)
مَا تَفْعَلُوْا مِنْ خَيْرٍ يَعْلَمْهُ اللهُ
(=kebaikan apa saja yang kalian lakukan, Allah mengetahuinya)
Contoh IV :
أَنْتُمْ تَتَّقُوْنَ اللهَ ؛ أَنْتُمْ تُفْلِحُوْنَ
(=kalian bertaqwa kepada Allah; kalian beruntung)
مَتَى تَتَّقُوا اللهَ تُفْلِحُوْا
(=kapan kalian bertaqwa kepada Allah, kalian bertuntung)
Contoh V :
هُمَا يَذْهَبَانِ ؛ هُمَا يُخْدَمَانِ
(=mereka berdua pergi; mereka berdua dilayani)
أَيْنَمَا يَذْهَبَا يُخْدَمَا
(=kemana saja mereka berdua pergi, akan dilayani)
Contoh VI :
أَنْتَ تَقْرَأُ كِتَابًا ؛ تَسْتَفِيْدُ مِنْهَا
(=engkau membaca sebuah buku; engkau memperoleh manfaat darinya)
أَيُّ كِتَابٍ تَقْرَأْ تَسْتَفِدْ
(=buku apa saja yang engkau baca, engkau akan memperoleh manfaat)
Bila anda telah mengerti dan menghafalkan semua pelajaran yang telah diberikan, anda sudah cukup memiliki bekal untuk mengembangkan keterampilan bahasa Arab anda dengan bantuan Kamus Bahasa Arab. Selamat belajar dan berlatih!
Mengapa yang dihancurkan Yahudi pertama kali adalah wanita?
”Seorang anak yang rusak masih bisa menjadi baik asalkan ia pernah mendapatkan pengasuhan seorang ibu yang baik. Sebaliknya, seorang ibu yang rusak akhlaknya hanya akan melahirkan generasi yang rusak p**a akhlaknya. Itulah mengapa yang dihancurkan pertama kali oleh Yahudi adalah wanita.”
Ucapan diatas dilontarkan oleh Muhammad Quthb dalam sebuah ceramahnya puluhan tahun silam. Muhammad Quthb adalah seorang ulama Mesir yang concern terhadap pendidikan Islam sekaligus pemikir ulung abad ke-20. Ia tidak hanya dikenal sebagai aktivis yang gencar melakukan perlawanan terhadap rezim imperialisme Mesir, namun juga cendikiawan yang terkenal luas ilmunya.
Beberapa bukunya pun telah beredar di Timur-tengah dan diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa yang diantaranya adalah Shubuhat Hawla al-Islam (literally ”Misconceptions about Islam”), Hal Nahnu Muslimun (Are We Muslims?), Al-Insan Bayna al-Maddiyah wa al-Islam (Man between Material world and Islam), Islam and The Crisis of The Modern World), dan masih banyak lagi. Maka tak heran, lepas dari penjara ia pun mendapatkan gelar profesor kajian Islam di Arab Saudi.
Muhammad Quthb mementingkan bagaimana pentingnya peran yang dimiliki seorang ibu dalam Islam. Ibu tidak saja sebagai pihak yang dekat secara emosional kepada seorang anak, tetapi ia juga memiliki pengaruh besar terhadap masa depan akhlak dari generasi yang dilahirkannya.
Menurut Muhammad Quthb, anak yang di kemudian hari mendapatkan ujian berupa kehancuran moral akan mudah diatasi, asal sang anak pernah mendapatkan pengasuhan ibu yang sholihah. Pendidikan Islami yang terinternalisasi dengan baik, akan membuat sang anak lekas bangkit dari keterpurukannya mengingat petuah-petuah rabbani yang pernah terekam dalam memorinya.
Sebaliknya, seorang ayah yang memiliki istri yang sudah rusak dari awalnya, maka ia pun hanya akan melahirkan sebuah keturunan yang memiliki kepribadian persis dengan wanita yang dipinangnya. Sifat alami anak yang banyak mengimitasi prilaku sang ibu akan membuka peluang transferisasi sifat alami ibu kepada anaknya. Maka kerusakan anak akan amat tergantung dari kerusakan ibu yang mendidiknya. Oleh karena itu, dalam bukunya Ma’rokah at-Taqooliid, Muhammad Quthb mengemukakan alasan mengapa Islam mengatur konsep pendidikan yang terkait dengan arti kehadiran seorang ibu dalam keluarga.
Ia menulis: ”Dalam anggapan Islam, wanita bukanlah sekedar sarana untuk melahirkan, mengasuh, dan menyusui. Kalau hanya sekedar begitu, Islam tidak perlu bersusah-payah mendidik, mengajar, menguatkan iman, dan menyediakan jaminan hidup, jaminan hukum dan segala soal psikologis untuk menguatkan keberadaannya… Kami katakan mengapa ‘mendidik’ dan bukan sekedar melahirkan, membela, dan menyusui yang setiap kucing dan sapi subur pun mampu melakukannya.”
Konsep inilah yang tidak terjadi di negara Barat yang mengalami kehancuran total pada sisi masyarakatnya karena bermula dari kehancuran moral yang menimpa wanitanya. Wanita-wanita Barat hanya dikonsep untuk mendefinisikan arti kepribadian dalam pengertian yang sangat primitif, yakni konsep pemenuhan biologis semata. Dosen dan pelacur bisa jadi sama kedudukannya, ini mirip dengan perkataan Sumanto al-Qurtubhy, kader liberal didikan Kanada yang berujar, “Lho, apa bedanya dosen dengan pelacur? Kalau dosen mencari nafkah dengan kepintarannya, maka pelacur mencari makan dengan tubuhnya.”
Qurtubhy hanyalah muqollid (pengikut) dari Sigmund Freud, psikolog kenamaan asal Austria yang membumikan konsep psikoanalisis. Ia mengatakan bahwa ketika dorongan seksual sudah menggelora dalam diri pria maupun wanita, maka sudah selayaknya mereka tuntaskan lewat jalan perzinahan, tanpa harus melalui jalur pernikahan. Maka itu Freud menuding orang yang senantiasa menjaga akhlaknya rentan terserang gangguan psikologis, seperti neurosis.
Kini Freud memang telah mati, namun gagasan itu membekas dalam pribadi orang Barat. Jika anda kerap menyaksikan berita olahraga, pembawa acara sering memberitakan bahwa salah seorang pemain sepak bola di Inggris telah memiliki anak dari pacarnya, ya pacar bukan istri. Karena konsep pernikahan sudah mendebu di benua biru itu.
Pasca kematian Freud, muncul banyak pengganti yang tidak lebih ekstrim yang salah-satunya adalah Lawrence Kohlberg. Ia adalah pengusung metode pendidikan karakter. Metode ini sudah gagal di negara Barat dan sekarang di adopsi oleh negeri-negeri muslim termasuk Indonesia.
Wajah pendidikan karakter terlihat manis. Ia mentitah agar para siswa berlaku jujur dan memegang komitmen, namun ia tidak memiliki dasar agama. Jika seorang remaja memilih untuk hidup tanpa bertuhan, adalah tidak menjadi persoalan dalam pendidikan karakter, asalkan hal itu dapat dipertanggung-jawabkan.
Begitu p**a masalah hubungan seks. Bagi Kohlbergian, kita tidak boleh menyalahkan seorang anak perempuan yang hamil di luar nikah, sebab masalah baik atau buruk menjadi relatif. Pendidikan karakter pun tidak boleh menghakiminya, karena anak akan jatuh salah jika ia tidak bisa mempertanggung-jawabkan hubungan seksnya. Jadi jika seorang anak perempuan hamil—masih bisa terbebas dari “dosa”, asal ia siap menjadi seorang ibu. Urusan benar atau salah—tergantung tanggung-jawab, bukan persoalan agama.
Maka tak heran ketika Kohlberg lebih memilih bunuh diri dengan menyelam di laut yang dingin pun disambut gembira oleh masyarakat Barat. Alasannya (bisa membuat kita sebagai umat Islam tertawa): Kohlberg telah memilih jalan yang memang ia kehendaki. Ya, terlepas dari bahwa ia akan masuk neraka jahanam. Sebuah metode berpikir yang terlalu konyol untuk kita pahami.
Kembali ke masalah perempuan, kehidupan Barat yang bebas, sejatinya diawali dari kehendak di kalangan wanita untuk hidup merdeka sesukanya. M. Thalib, cendekiawan muslim yang telah menulis puluhan buku tentang pendidikan Islam, juga menekankan bagaimana proyek Zionis di balik wacana pembebasan wanita di Barat. Menurutnya kaum Yahudi memiliki peran kuat di balik slogan Liberty, Egality, dan Fraternity (Kebebasan, Persamaan, dan Persaudaraan) yang berasal dari Prancis.
Hal ini dipropagandakan oleh Zionis dan disebarkan ke seluruh penjuru dunia hingga kita bisa merasakan apa yang disebut Hak Azasi Manusia dan Feminisme pada saat ini. Dalam bukunya “Pergaulan bebas, prostitusi, dan Wanita”, M. Thalib menulis, “Slogan-slogan inilah yang membuat orang-orang bodoh turut-serta mengulang-ulanginya di seluruh penjuru dunia dikemudian hari, tanpa berpikir dan memakai akalnya lagi.”
Mungkin terasa ganjil bagi kita tentang mengapa bangsa Yahudi sebagai bangsa yang pongah begitu takut dengan perempuan muslimah? Jawabannya sederhana: membiarkan seorang wanita tumbuh menjadi sholihah adalah alamat kiamat bagi mereka. Jika seorang ibu yang sholihah bisa mengasuh lima orang anaknya dalam keluarganya untuk tumbuh menjadi generasi mujahid, maka bisa dihitung berapa banyak generasi yang bisa dihasilkan dari 800 juta perempuan muslim saat ini…
Seorang sahabat pernah bertanya kepada Rasulullah, “Siapakah di muka bumi ini yang harus diperlakukan dengan cara yang paling baik?” Rasulullah menjawab, “Ibumu.” “Setelah itu siapa lagi, ya Rasul?” Sekali lagi Rasulullah menjawab, “Ibumu.” Sahabat bertanya kembali, “Kemudian siapa?” Lagi-lagi Rasulullah menjawab, “Ibumu, lalu ayahmu.” (HR. Bukhari)
Si Kaya dan Si Miskin Memiliki Peluang Sama Untuk Masuk Surga
Dikisahkan, di suatu negeri pernah hidup orang yang kaya dan taat beribadah. Mesti kaya, orang ini tidak sombong dan membanggakan kekayaannya. Ia sangat rajin membangun rumah ibadah, menyantuni anak yatim, membantu kerabat, tetangga, orang miskin, dan kegiatan sosial lainnya. Saat musim paceklik tiba, ia selalu membagi-bagikan kebutuhan pangan kepada orang yang membutuhkan. Salah seorang yang sering ia bantu ialah seorang tetangga miskin.
Saat orang kaya ini meningal dunia, ini masuk surga. Tanpa terduga, ia bertemu dengan tetangga miskin yang selalu disantuninya saat di dunia. Dengan rasa heran, orang kaya ini berkata, ”Sungguh tak menduga bisa bertemu anda di surga ini”,
Orang miskin menjawab, ”Kenapa tidak, bukannya Alloh memberi surga kepada siapa saja yang dikehendakinya. Alloh maha pengasih kepada semua hamba-Nya tanpa pandang kaya atau miskin”. Si kaya balik bertanya, “Amalan apakah yang bisa memasukkan anda ke surga?”, Si miskin menjawab, “Saya mendapat pahala menyantuni anak yatim, kaum kerabat, tetangga, dan kegiatan sosial lainnya sama seperti yang anda dapatkan”.
Orang kaya bertanya sambil heran, “Bagaimana mungkin anda mendapatkan pahala seperti yang saya dapatkan, bukannya kamu orang miskin?. Si miskin menjawab lagi, “Memang benar saya orang miskin, namun saat di dunia saya sering berdoa, Seandainya saya diberi kekayaan sama seperti engkau, saya berniat membantu orang miskin, anak yatim, kaum kerabat dan kegiatan sosial lainya. Namun, saya ditakdirkan menjadi orang miskin, dan saya iklas dan sabar menerimanya”.
Kisah di atas kelihatan seperti rekayasa dan sulit dibuktikan karena menyangkut hal gaib, siapa yang pernah dan kembali dari surga. Namun saat ditelusuri merujuk hadits nabi, kisah di atas mengandung kebenaran. Ada dua golongan manusia terkait dengan kepemilikan atas harta dan cara menggunakannya yakni:
Pertama, Orang yang diberikan ilmu agama dan harta melimpah. Ia bertaqwa kepada Alloh melalui ilmu dan harta. Orang ini mendapat tempat utama di sisi Alloh
Kedua, Orang yang diberikan ilmu agama tetapi miskin. Dia berniat dengan jujur, andai diberi kekayaan, ia akan berbuat sama seperti orang kaya. Orang ini dengan niat saja, di sisi alloh mendapat pahala yang sama.
Pelajaran yang bisa kita ambil, saat diberi nikmat kaya oleh Alloh, hendaklah menjadi orang dermawan dan tidak sombong. Lengkapi diri dengan ilmu dan pemahaman agama dengan baik. Gunakan harta sebaik-baiknya sehingga memberikan manfaat dan berkah untuk banyak orang. Tumbuhkan kesadaran, bahwa sesungguhnya harta akan ditanya Alloh dari dua sisi. Dari mana memperolehnya dan kemana saja harta itu digunakan. Niscaya, akan mendapat kedudukan tertinggi dari Alloh SWT.
Sebaliknya, jika kita ditakdirkan menjadi orang miskin, tetap juga harus berusaha memiliki ilmu agama dengan baik sampai akhir hayat. Niatkan dengan jujur dan bulat untuk menjadi orang yang dermawan kepada orang yang membutuhkan. Niscaya, Alloh tidak akan menyia-nyiakan niat baik ini. Dan akan mendapat kedudukan tinggi di hadapan Alloh.
Kuliah Tarawih, Mesjid Darussalam Kota Wisata, 29 Agustus 2010, Narasumber: Drs. Israr Nawawi
Semoga kita adalah orang orang yang kelak bisa menjadi penghuni Surga .. Aamiin ..
12 GOLONGAN MANUSIA YANG DIDOAKAN OLEH MALAIKAT
Ada beberapa golongan orang yang di doakan malaikat, semoga kita semua termasuk dalam golongan tersebut.
1. Orang yang tidur dalam keadaan bersuci/wudlu
"Barangsiapa yang tidur dalam keadaan suci, maka malaikat akan bersamanya di dalam pakaiannya. Dia tidak akan bangun hingga malaikat berdoa ’Ya Allah, ampunilah hambamu si fulan karena tidur dalam keadaan suci". (HR Imam Ibnu Hibban dari Abdullah bin Umar)
2. Orang yang sedang duduk menunggu waktu shalat.
"Tidaklah salah seorang diantara kalian yang duduk menunggu shalat, selama ia berada dalam keadaan suci, kecuali para malaikat akan mendoakannya ’Ya Allah, ampunilah ia. Ya Allah sayangilah ia’ (HR Imam Muslim dari Abu Hurairah, Shahih Muslim 469)
3. Orang-orang yang berada di shaf barisan depan di dalam shalat berjamaah.
"Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat kepada (orang - orang) yang berada pada shaf - shaf terdepan" (Imam Abu Dawud (dan Ibnu Khuzaimah) dari Barra’ bin ’Azib)
4. Orang-orang yang menyambung shaf pada sholat berjamaah (tidak membiarkan sebuah kekosongan di dalam shaf).
"Sesungguhnya Allah dan para malaikat selalu bershalawat kepada orang-orang yang menyambung shaf-shaf" (Para Imam yaitu Ahmad, Ibnu Majah, Ibnu Khuzaimah, Ibnu Hibban dan Al Hakim meriwayatkan dari Aisyah)
5. Para malaikat mengucapkan ’aamin’ ketika seorang Imam selesai membaca Al Fatihah.
"Jika seorang Imam membaca ’ghairil maghdhuubi ’alaihim waladh dhaalinn’, maka ucapkanlah oleh kalian ’aamiin’, karena barangsiapa ucapannya itu bertepatan dengan ucapan malaikat, maka ia akan diampuni dosanya yang masa lalu" (HR Imam Bukhari dari Abu Hurairah, Shahih Bukhari 782)
6. Orang yang duduk di tempat shalatnya setelah melakukan shalat.
"Para malaikat akan selalu bershalawat ( berdoa ) kepada salah satu diantara kalian selama ia ada di dalam tempat shalat dimana ia melakukan shalat, selama ia belum batal wudhunya, (para malaikat) berkata, ’Ya Allah ampunilah dan sayangilah ia’" (HR Imam Ahmad dari Abu Hurairah, Al Musnad no. 8106)
7. Orang-orang yang melakukan shalat shubuh dan ’ashar secara berjama’ah.
"Para malaikat berkumpul pada saat shalat shubuh lalu para malaikat ( yang menyertai hamba) pada malam hari (yang sudah bertugas malam hari hingga shubuh) naik (ke langit), dan malaikat pada siang hari tetap tinggal. Kemudian mereka berkumpul lagi pada waktu shalat ’ashar dan malaikat yang ditugaskan pada siang hari (hingga shalat ’ashar) naik (ke langit) sedangkan malaikat yang bertugas pada malam hari tetap tinggal, lalu Allah bertanya kepada mereka, ’Bagaimana kalian meninggalkan hambaku?’, mereka menjawab, ’Kami datang sedangkan mereka sedang melakukan shalat dan kami tinggalkan mereka sedangkan mereka sedang melakukan shalat, maka ampunilah mereka pada hari kiamat’" (HR Imam Ahmad dari Abu Hurairah, Al Musnad no.9140)
8. Orang yang mendoakan saudaranya tanpa sepengetahuan orang yang didoakan.
"Doa seorang muslim untuk saudaranya yang dilakukan tanpa sepengetahuan orang yang didoakannya adalah doa yang akan dikabulkan. Pada kepalanya ada seorang malaikat yang menjadi wakil baginya, setiap kali dia berdoa untuk saudaranya dengan sebuah kebaikan, maka malaikat tersebut berkata ’aamiin dan engkaupun mendapatkan apa yang ia dapatkan’ (HR Imam Muslim dari Ummud Darda’, Shahih Muslim 2733)
9. Orang-orang yang berinfak.
"Tidak satu hari pun dimana pagi harinya seorang hamba ada padanya kecuali 2 malaikat turun kepadanya, salah satu diantara keduanya berkata, ’Ya Allah, berikanlah ganti bagi orang yang berinfak’. Dan lainnya berkata, ’Ya Allah, hancurkanlah harta orang yang pelit’" (HR Imam Bukhari dan Imam Muslim dari Abu Hurairah, Shahih Bukhari 1442 dan Shahih Muslim 1010)
10. Orang yang sedang makan sahur.
"Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat (berdoa ) kepada orang-orang yang sedang makan sahur" Insya Allah termasuk disaat sahur untuk puasa"sunnah" (HR Imam Ibnu Hibban dan Imam Ath Thabrani, dari Abdullah bin Umar)
11. Orang yang sedang menjenguk orang sakit.
"Tidaklah seorang mukmin menjenguk saudaranya kecuali Allah akan mengutus 70.000 malaikat untuknya yang akan bershalawat kepadanya di waktu siang kapan saja hingga sore dan di waktu malam kapan saja hingga shubuh" (HR Imam Ahmad dari ’Ali bin Abi Thalib, Al Musnad 754)
12. Seseorang yang sedang mengajarkan kebaikan kepada orang lain.
"Keutamaan seorang alim atas seorang ahli ibadah bagaikan keutamaanku atas seorang yang paling rendah diantara kalian. Sesungguhnya penghuni langit dan bumi, bahkan semut yang di dalam lubangnya dan bahkan ikan, semuanya bershalawat kepada orang yang mengajarkan kebaikan kepada orang lain" (HR Imam Tirmidzi dari Abu Umamah Al Bahily)
Wallahu A'lam Bishawab. Semoga kita termasuk 12 golongan di atas. Aamiin Yaa Rabbal 'Aalamiin.
23/06/2014
*Perkara-Perkara Terpenting Yang Harus Diminta Seorang Hamba Kepada Robbnya…
1. Memohon Petunjuk (Hidayah) Kepada Allah.
Allah berfirman,
مَن يَهْدِ اللَّهُ فَهُوَ الْمُهْتَدِ وَمَن يُضْلِلْ فَلَن تَجِدَ لَهُ وَلِيًّا مُّرْشِدًا
“Barangsiapa yang diberi petunjuk oleh Allah, maka dialah yang mendapat petunjuk; dan barangsiapa yang disesatkanNya, maka kamu tidak akan mendapat seorang pemimpin pun yang dapat memberi petunjuk kepadanya.”
{QS. Al-Kahfi: 17.}
Dan petunjuk itu ada dua macam: Petunjuk yang bersifat global yaitu petunjuk kepada Iman dan Islam dan hal ini terjadi untuk setiap Mukmin, dan yang kedua petunjuk yang sifatnya terperinci yaitu petunjuk untuk mengetahui perincian-perincian bagian Iman dan Islam, dan membantunya untuk dapat mengerjakan hal itu. Dan hal ini dibutuhkan oleh setiap Mukmin, malam dan siang hari, maka Allah memerintahkan hamba-hambaNya untuk selalu membaca pada setiap roka’at sholat mereka firman Allah,
إيَّاكَ نعبُدُ وإيَّاكَ نستَعينُ
“Hanya kepadaMu lah kami meyembah dan hanya kepadaMu lah kami meminta pertolongan.”
{QS. Al-Fatihah: 6.}
Dan begitu juga Nabi shollallaahu ‘alayhi wa’alaa aalihi wasallam membaca dalam do’anya sebagai pembukaan pada sholat malam,
اهدني لما اختلف فيه من الحق بإذنك، إنك تهدي من تشاء إلى صراط مستقيم
“Tunjukilah aku kepada kebenaran-kebenaran yang diperselisihkan orang dengan izinMu, sesungguhnya Engkau menunjukkan siapa yang Engkau kehendaki kepada jalan yang lurus.”
{HR. Muslim (1/534, no. 770.)}
Dan juga Nabi selalu mewasiatkan kepada Mu’adz bin Jabal rodhiyallaahu ‘anhu untuk berdo’a setiap selesai sholat,
اللَّهمَّ أعنِّي على ذكرك وشكرك، وحسن عبادتك
“Ya Allah, bantulah aku untuk selalu mengingatMu, bersyukur kepadaMu dan melaksanakan ibadah dengan baik kepadaMu.”
{HR. Abu Dawud (2/86), An-Nasa’I (3/53), Shahih Abu Dawud (1/248).}
Dan diantara do’a istiftah (pembukaan) Nabi shollallaahu ‘alayhi wa’alaa aalihi wasallam pada sholat malam,
اهدني لأحسن الأخلاق، لا يهدي لأحسنها إلا أنت، واصرف عني سيِّئها، لا يصرف عني سيئها إلا أنت
“Tunjukilah aku untuk berakhlaq yang baik, karena tidaklah ada yang mampu memberikan petunjuk untuk perbaikan akhlaq kecuali Engkau dan jauhkanlah dariku kejelekannya, karena tidaklah ada yang menjauhkan dariku kejelekannya kecuali Engkau.”
{HR. Muslim (1/534, no. 771.)}
Dan sungguh Nabi shollallaahu ‘alayhi wa’alaa aalihi wasallam telah memerintahkan ‘Aliy bin Abi Tholib rodhiyallaahu ‘anhu untuk meminta kepada Allah petunjuk dan kebenaran,
اللَّهم إني أسألك الهُدى والسداد
“Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepadaMu petunjuk dan kebenaran.”
{HR. Muslim (4/209, no. 2725).}
Dan juga mengajarkan Al-Hasan bin ‘Aliy rodhiyallaahu ‘anhuma untuk membaca pada setiap qunut witir,
اللَّهم اهدني فيمن هديت
“Ya Allah, tunjukilah aku sebagaimana orang-orang yang telah Engkau beri petunjuk.”
{Irwa-ul Gholil (2/172), Shahih Sunan At-Tirmidzi (1/144), Shahih Sunan Ibnu Majah (1/149).}
2. Memohon Kepada Allah Pengampunan Dosa.
Karena sesungguhnya permintaan terpenting yang diminta seorang hamba kepada Robbnya adalah ampunan dari dosa-dosanya, keselamatan dari neraka dan masuk surga.
{Lihat Jami’ Al-‘Ulum wal Hikam, (2/41, 404.)}
Seorang hamba memiliki hajat untuk memohon ampunan atas segala dosanya dari Allah, karena seorang hamba melakukan kesalahan di malam dan di siang hari dan Allah mengampuni dosa-dosa seluruhnya. Karena pentingnya perkara ini Rosulullaah shollallaahu ‘alayhi wa’alaa aalihi wasallam bersabda,
يا أيها الناس توبوا إلى اللَّه فإني أتوب في اليوم إليه مائة مرة
“Hai manusia, bertaubatlah kalian kepada Allah, dan aku sendiri bertaubat kepada Allah dalam sehari seratus kali.”
{HR. Muslim (4/2076.)}
Dan lafazh riwayat An-Nasa’i berbunyi,
يا أيها الناس، توبوا إلى اللَّه واستغفروه، فإني أتوب إلى اللَّه، وأستغفره كلّ يومٍ مائة مرّة، أو أكثر من مائة مرّة
“Hai manusia, bertaubatlah kalian kepada Allah dan beristighfarlah kepadaNya, maka sesungguhnya aku bertaubat dan beristighfar kepada Allah setiap hari seratus kali.”
{HR. An-Nasa’i, (no. 444) dalam Amal Al-Yaum wa Al-Lailah.}
Dari ‘Abdullah bin ‘Umar rodhiyallaahu ‘anhuma, beliau berkata, “Sesungguhnya dalam satu majelis kami menghitung Rosulullaah shollallaahu ‘alayhi wa’alaa aalihi wasallam mengucapkan seratus kali,
ربِّ اغفر لي وتب عليَّ إنك أنت التوابُ الرحيم
[Robbighfirliy watub ‘alayya innaka antat tawwaabur rohiim]
“Ya Robb, ampunilah aku dan terimalah taubat diriku, sesungguhnya Engkau Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang.”
{HR. Abu Dawud (no.1516.), Ibnu Majah (no. 3814.), Shohih Abu Dawud (1/283.), dan diriwayatkan juga oleh Imam Ahmad (1/21.).}
Adapun lafazh At-Tirmidzi dalam riwayat Ahmad,
رب اغفر لي وتب عليَّ إنك أنت التواب الغفور
[Robbighfirliy watub ‘alayya innaka antat tawwaabul ghofuur]
“Ya Robb, ampunilah aku dan terimalah taubat diriku, sesungguhnya Engkau Maha Penerima Taubat lagi Maha Pengampun.”
{HR. At-Tirmidzi (no. 3444.)}
Allah berfirman,
وَمَن يَعْمَلْ سُوءًا أَوْ يَظْلِمْ نَفْسَهُ ثُمَّ يَسْتَغْفِرِ اللَّهَ يَجِدِ اللَّهَ غَفُورًا رَّحِيمًا
“Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan dan menganiaya dirinya, kemudian ia mohon ampun kepada Allah, niscaya ia mendapati Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”
{QS. An-Nisa’: 110.}
Dan Allah ‘azza wajalla juga berfirman,
وَإِنِّي لَغَفَّارٌ لِّمَن تَابَ وَآمَنَ وَعَمِلَ صَالِحًا ثُمَّ اهْتَدَى
“Dan sesungguhnya Aku Maha Pengampun bagi orang yang bertaubat, beriman, beramal sholih, kemudian tetap di jalan yang benar.”
{QS. Thoha: 82.}
Dan dari Anas rodhiyallaahu ‘anhu, dia berkata, aku mendengar Rosulullaah shollallaahu ‘alayhi wa’alaa aalihi wasallam bersabda,
قال اللَّه تعالى: يا ابن آدم، إنك ما دعوتني ورجوتني غفرت لك على ما كان فيك ولا أبالي، يا ابن آدم لو بلغت ذنوبك عَنَانَ السماء ثم استغفرتني غفرت لك ولا أبالي، يا ابن آدم لو أتيتني بقراب الأرض خطايا، ثم لقيتني لا تشرك بي شيئاً، لأتيتك بقرابها مغفرة
“Allah yang Mahasuci lagi Mahatinggi berfirman, “Wahai anak Adam, selagi kamu minta dan berharap kepadaKu, maka Aku akan mengampuni bagimu segala yang telah berlalu dari dosamu dan Aku tidak peduli. Wahai anak Adam, walaupun dosamu sampai setinggi langit, kemudian kamu meminta ampun kepadaKu, niscaya Aku ampuni kamu, dan Aku tidak peduli. Wahai anak Adam, jika kamu datang kepadaKu dengan kesalahan (dosa) sepenuh bumi, kemudian kamu mendatangiKu dengan tidak menyekutukanKu dengan sesuatu pun, niscaya Aku datang kepadamu dengan ampunan sepenuh bumi p**a.”
{HR. At-Tirmidzi (4/122), Ad-Darimi (2/230), Shohih Al-Jami’ (5/584).}
Kata “Istighfar” sering disebutkan bersama kata “Taubah” di dalam satu kalimat, maka kata istighfar pada saat itu berarti suatu ungkapan meminta ampunan dengan lisan dan taubah berarti meninggalkan dosa-dosa dengan hati dan seluruh organ tubuh, dan Allah telah menjanjikan dalam surat Ali Imron ayat 135 dengan suatu ampunan bagi orang yang meminta ampunan dari dosa-dosanya dan tidak terus menerus dari melakukan dosa (berhenti dari dosa).
Setiap kata Istighfar di dalam Al-Quran atau hadits bermakna memohon ampunan dosa dan meninggalkan dosa tersebut dengan hati dan seluruh anggota tubuh. Adapun orang yang beristighfar dengan lisan sedangkan hatinya terus berbuat dosa, maka hal ini hanya bersifat do’a, jika Allah kehendaki, Dia mengabulkan dan jika meghendaki, Dia menolaknya, bahkan terkadang terus menerus melakukan dosa dapat menjadi penghalang terkabulnya do’a.
{Lihat Jami’ Al-‘Ulum wal Hikam (2/407-411.)}
Dan dari ‘Abdullah bin Amr bin Al-Ash rodhiyallaahu ‘anhuma dari Nabi shollallaahu ‘alayhi wa’alaa aalihi wasallam, beliau bersabda,
ارحموا تُرحموا، واغفروا يغفر اللَّه لكم، ويل لأقماع القول، ويل للمصرين الذين يصرون على ما فعلوا وهم يعلمون
“Sayangilah, niscaya kalian akan disayangi, dan maafkanlah, niscaya Allah akan mengampuni kalian, celakalah bagi ‘aqma’il qoul’ dan celakalah bagi orang yang terus menerus melakukan dosa sedang mereka mengetahui.”
{HR. Ahmad (2/156, 219), Al-Bukhori dalam adabul mufrod (no.380.) dihasankan oleh Al-Hafizh Ibnu Hajar dalam Fath Al-Bari (1/112.) dan silsilah al-ahadits ash-shohihah (no.482.)}
Aqma’il qoul (أقماع القول) adalah bentuk kata jamak dari kata qom’un (قمع) yang berarti; Bejana penampung yang dipasang pada kucuran untuk mengisi benda cair berupa minuman dan minyak, Rosulullaah shollallaahu ‘alayhi wa’alaa aalihi wasallam mengumpamakan pendengaran orang-orang yang mendengar suatu ucapan sedangkan mereka tidak memahaminya, tidak menghafalkannya, dan tidak mengamalkannya, dengan sebuah bejana yang tidak dapat memahami sesuatu pun yang tertuang padanya, maka ucapan yang dikatakan atau didengar hanya lewat begitu saja sebagaimana benda cair melewati corong bejana tersebut.
Jika seseorang mengatakan, “Saya beristighfar kepada Allah dan bertaubat kepadaNya,” maka ada dua kemungkinan:
Keadaan Pertama; Dia mengatakan hal itu tapi hatinya terus berbuat maksiat, maka dia dusta, karena dia mengatakan bertaubat padahal dia tidak meninggalkan dosa dengan hati dan anggota tubuhnya.
Keadaan yang Kedua; Dia meninggalkan maksiat dengan hatinya dan memohon kepadaNya taubat nahusa dan berjanji kepada Allah untuk tidak kembali ke dalam maksiat, maka sesungguhnya tekad untuk meninggalkan maksiat wajib atasnya, ucapannya, “aku bertaubat kepadaNya” mengabarkan tentang keinginan untuk bertaubat dengan sebenar-benarnya.
{Lihat Jami’ Al-‘Ulum wal Hikam (2/410-412).}
3. Memohon Surga Kepada Allah dan Berlindung Kepada Allah dari Neraka.
Sebagaimana hadits Abu Huroiroh rodhiyallaahu ‘anhu, dia berkata,
قال: قال رسول اللَّه لرجلٍ: ((ما تقول في الصلاة))؟ قال: أتشهد ثم أسأل اللَّه الجنة، وأعوذ به من النار. أما واللَّه ما أحسن دندنتك، ولا دندنة مُعاذ. فقال: ((حولها ندندنُ))
“Rosulullaah shollallaahu ‘alayhi wa’alaa aalihi wasallam bertanya kepada seorang laki-laki, “Apa yang kamu baca dalam sholat?” Dia menjawab, “Saya bertasyahud kemudian saya memohon surga kepada Allah dan berlindung kepadaNya dari neraka, ketahuilah, demi Allah, saya tidak bisa mengikuti bacaan anda dan juga bacaan Mu’adz,” lalu beliau bersabda, “Sekitar itu juga yang kami baca”.”
{HR. Abu Dawud (no.792,793). Ibnu Majah (no.910). Shahih Abu Dawud (1/10) dan Shohih Ibnu Majah (1/150).}
Yakni sekitar memohon surga kepada Allah dan berlindung memohon keselamatan dari neraka.
Dan dari Anas bin Malik rodhiyallaahu ‘anhu, beliau berkata, Rosulullaah shollallaahu ‘alayhi wa’alaa aalihi wasallam bersabda,
من سأل اللَّه الجنة ثلاث مرات قالت الجنة: اللَّهم أدخله الجنة، ومن استجار من النار ثلاث مرات قالت النار: اللَّهم أجره من النار
“Barangsiapa memohon surga kepada Allah tiga kali, maka surga itu berkata, “Ya Allah, masukkanlah dia ke dalam surga,” dan barangsiapa memohon perlindungan dari neraka tiga kali, maka neraka berkata, “Ya Allah, lindungilah ia dari neraka”.”
{HR. At-Tirmidzi (4/700). Ibnu Majah (1/1452). Shohih At-Tirmidzi (2/319).}
Dari Robi’ah bin Ka’ab Al-Aslami rodhiyallaahu ‘anhu, dia berkata,
كنت أبيت مع رسول اللَّه فأتَيْتُهُ بِوَضُوئهِ وحاجته فقال لي: ((سَلْ)) فقلت: أسألك مرافقتك في الجنة. قال: ((أو غير ذلك))؟ قلت: هو ذاك. قال: ((فأعني على نفسك بكثرة السجود))
“Aku pernah bermalam bersama Rosulullaah shollallaahu ‘alayhi wa’alaa aalihi wasallam, aku datangkan air wudhu dan juga keperluan beliau, lalu beliau berkata kepadaku, “Mintalah”, aku berkata, “Aku memohon agar bisa menemani anda di surga,” beliau berkata, “Adakah selain itu?” Aku berkata, “Hanya itu.” Lalu beliau berkata, “Bantulah aku untuk mewujudkan keinginanmu dengan memperbanyak sujud”.”
{HR. Muslim (1/353, no.489).}
Dan ini menunjukkan atas sempurnanya pemikiran Robi’ah rodhiyallaahu ‘anhu dan kecintaannya terhadap permohonan yang paling agung dan kekal, lalu Nabi shollallaahu ‘alayhi wa’alaa aalihi wasallam menunjukkan untuk memperbanyak sujud (sholat). Sebagaimana juga hadits Tsauban rodhiyallaahu ‘anhu bahwasanya beliau berkata kepada Nabi shollallaahu ‘alayhi wa’alaa aalihi wasallam, “Kabarkanlah kepadaku suatu amalan yang (jika) aku kerjakan akan memasukkanku ke surga,” atau dia mengatakan dengan amalan yang sangat dicintai Allah, maka beliau bersabda,
عليك بكثرة السجود، فإنك لا تسجد للَّه سجدة إلا رفعك اللَّه بها درجة، وحطَّ عنك بها خطيئة
“Hendaklah kamu memperbanyak sujud (sholat) kepada Allah, karena tidaklah kamu bersujud kepada Allah sekali saja, melainkan Allah akan mengangkatmu satu derajat karenanya, dan dihapuskan darimu satu kesalahan juga karenanya.”
{HR. Muslim (1/353, no.488).}
4. Memohon Kepada Allah Ampunan dan Keselamatan di Dunia dan Akherat.
Sebagaimana hadits Al-Abbas bin Abdul Muththolib, ia berkata,
“Aku berkata, “Wahai Rosulullaah, ajarkan kepadaku sesuatu yang aku mohonkan kepada Allah.” Maka beliau bersabda,
سل اللَّه العافية
“Mintalah kepada Allah ke’afiyatan (keselamatan).” Lalu aku berdiam beberapa hari, kemudian aku datang kembali dan berkata, “Wahai Rosulullaah, ajarkan kepadaku sesuatu yang aku mohonkan kepada Allah.” Lalu beliau berkata kepadaku,
يا عباسُ، يا عمَّ رسول اللَّه: سل اللَّه العافية في الدنيا والآخرة
“Wahai ‘Abbas, wahai paman Rosulullaah, mintalah kepada Allah ke’afiyatan di dunia dan akherat”.”
{HR. At-Tirmidzi (5/534, no.3761.). Shohih At-Tirmidzi (3/170).}
Dan hadits dari Abu Bakar Ash-Shiddiq rodhiyallaahu ‘anhu bahwa Nabi shollallaahu ‘alayhi wa’alaa aalihi wasallam pernah bersabda di mimbar,
سلوا اللَّه العفو والعافية؛ فإن أحداً لم يُعْطَ بعد اليقين خيراً من العافية
“Mintalah kepada Allah ampunan dan ke’afiyatan (keselamatan), karena tidaklah seseorang diberi sesuatu setelah keyakinan (dalam iman), yang lebih baik dari ke’afiyatan.”
{HR. At-Tirmidzi (no.3811). Shohih At-Tirmidzi (3/180). Hadits ini memiliki banyak penguat dalam Musnad Ahmad, tahqiq Ahmad Syakir (1/156-157) dan hadits Anas bin Malik rodhiyallaahu ‘anhu dalam riwayat Tirmidzi (no.3846). lihat Shohih At-Tirmidzi (3/170,180).}
Dan Rosulullaah shollallaahu ‘alayhi wa’alaa aalihi wasallam pun langsung mengajarkan kepada kita semua bahwa hal tersebut sangat penting untuk diminta, Rosulullaah selalu meminta hal tersebut kepada Allah dalam dzikir pagi dan petang, do’a yang beliau ajarkan;
اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَسْأَلُكَ الْعَفْوَ وَالْعَافِيَةَ فِي الدُّنْيَا وَاْلآخِرَةِ، اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَسْأَلُكَ الْعَفْوَ وَالْعَافِيَةَ فِي دِيْنِيْ وَدُنْيَايَ وَأَهْلِيْ وَمَالِيْ. اَللَّهُمَّ احْفَظْنِيْ مِنْ بَيْنِ يَدَيَّ، وَمِنْ خَلْفِيْ، وَعَنْ يَمِيْنِيْ وَعَنْ شِمَالِيْ، وَمِنْ فَوْقِيْ، وَأَعُوْذُ بِعَظَمَتِكَ أَنْ أُغْتَالَ مِنْ تَحْتِيْ
[Allaahumma inny as-alukal ‘afwa wal ‘aafiyah fiid dunyaa wal aakhiroh, Allaahumma inny as-alukal ‘afwa wal ‘aafiyah fii diiniy wa dunyaaya wa ahliy wa maaliy, Allaahummahfazhniy min bayni yadayya wa min kholfiy wa ‘an yamiiniy wa ‘an syimaaliy wa min fauqiy wa a’uudzu bi ‘azhomatika an ughtaala min tahtiy]
“Ya Allah! Sesungguhnya aku memohon kebajikan dan keselamatan di dunia dan akhirat. Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kebajikan dan keselamatan dalam agama, dunia, keluarga dan hartaku. Ya Allah, tutupilah auratku (aib dan sesuatu yang tidak layak dilihat orang) dan tenteramkanlah aku dari rasa takut. Ya Allah! Peliharalah aku dari muka, belakang, kanan, kiri dan atasku. Aku berlindung dengan kebesaranMu, agar aku tidak disambar dari bawahku.”
{HR. Abu Dawud dan Ibnu Majah, lihat Shahih Ibnu Majah 2/332.}
5. Memohon Kepada Allah Keteguhan di Atas Agama dan Akibat yang Baik Pada Setiap Urusan.
Sebagaimana hadits ‘Abdullaah bin Amr bin Al-Ash rodhiyallaahu ‘anhuma, dia mendengar Rosulullaah shollallaahu ‘alayhi wa’alaa aalihi wasallam bersabda,
إنَّ قلوب بني آدم كلها بين إصبعين من أصابع الرحمن كقلب واحد، يصرِّفه حيث شاء
“Sesungguhnya hati-hati anak cucu Nabi Adam seluruhnya berada di antara dua Jemari dari Jari Jemari Dzat yang Maha Pengasih. Seperti satu hati yang Allah bolak-balikkan sesuai dengan apa yang Dia kehendaki. Kemudian Rosulullaah shollallaahu ‘alayhi wa’alaa aalihi wasallam berdo’a,
اللَّهم مُصرِّف القلوب صرِّف قلوبنا على طاعتك
[Allaahumma mushorrifal quluubi shorrif quluubanaa ‘alaa thoo’atika]
“Ya Allah, Dzat Yang membolak-balikkan hati, balikkanlah hati-hati kami terhadap ketaatan kepadaMu”.”
{HR. Muslim (4/2045, no.2645).}
Dan dari hadits Ummu Salamah rodhiyallaahu ‘anha ketika ditanya tentang do’a yang banyak diucapkan oleh Nabi shollallaahu ‘alayhi wa’alaa aalihi wasallam ketika di sisinya, beliau menjawab bahwa beliau banyak berdo’a,
يا مقلب القلوب ثبت قلبي على دينك
[Yaa muqollibal quluubi tsabbit qolbiy ‘alaa diinika]
“Wahai Dzat yang membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku di atas agamaMu.”
Lalu Ummu Salamah bertanya kepada Nabi, “Wahai Rosulullaah, kenapa anda banyak mengucapkan doa,
يا مقلب القلوب ثبت قلبي على دينك؟
[Yaa muqollibal quluubi tsabbit qolbiy ‘alaa diinika]?
“Wahai Dzat yang membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku di atas agamaMu”?
Beliau bersabda,
يا أم سلمة، إنه ليس آدمي إلا وقلبه بين إصبعين من أصابع اللَّه، فمن شاء أقام، ومن شاء أزاغ
“Wahai Ummu Salamah, sesungguhnya tak seorang pun dari anak cucu Adam kecuali hatinya di antara dua Jemari dari Jari Jemari Allah, maka apabila Allah kehendaki, Allah tegakkan (di atas kebenaran), dan jika Dia kehendaki, Allah palingkan.”
{HR. At-Tirmidzi (5/238), Ahmad (4/182), Al-Hakim (1/525,528), Shohih At-Tirmidzi (3/171).}
Dan juga hadits Busr bin Artho’ah rodhiyallaahu ‘anhu, beliau berkata, “Aku telah mendengar Rosulullaah shollallaahu ‘alayhi wa’alaa aalihi wasallam mengucapkan,
اللَّهم أحسن عاقبتنا في الأمور كلها وأجرنا من خزي الدنيا وعذاب الآخرة
[Allaahumma ahsin ‘aaqibatanaa fiil umuuri kullihaa, wa ajirnaa min khizyid dunyaa wa ‘adzaabil aakhiroti]
“Ya Allah, jadikanlah akibat (akhir) seluruh urusan kami adalah akhir yang baik dan selamatkanlah kami dari kehinaan dunia dan adzab akherat.”
{HR. Ahmad (4/181). Para perowinya tsiqot.}
6. Memohon Kepada Allah, Kenikmatan yang Langgeng dan Perlindungan dari Hilangnya Kenikmatan Tersebut.
Nikmat yang paling agung adalah mendapatkan petunjuk kepada Agama Allah (Islam) sebagaimana hadits Abu Huroiroh rodhiyallaahu ‘anhu bahwa Rosulullaah shollallaahu ‘alayhi wa’alaa aalihi wasallam berdo’a,
اللَّهم أصلح لي ديني الذي هو عصمة أمري، وأصلح لي دنياي التي فيها معاشي، وأصلح لي آخرتي التي فيها معادي، واجعل الحياة زيادةً لي في كل خير، واجعل الموت راحة لي من كل شر
[Allaahumma ashlihliy diiniy alladziy huwa ‘ishmatu amriy, wa-ashlih liy dunyaaya allatiy fiihaa ma’aasyiy wa-ashlihliy aakhirotiy allatiy fiihaa ma’aadiy, waj’alil hayaata ziyaadatan liy fii kulli khoyr, waj’alil mauta roohatan liy min kulli syarrin.]
“Ya Allah, perbaikilah bagiku agamaku yang menjadi penjaga segala urusanku, dan perbaikilah bagiku duniaku yang di dalamnya terdapat kehidupanku, dan perbaikilah bagiku akheratku yang merupakan tempat kembaliku, dan jadikanlah kehidupan ini bagiku tempat bertambahnya setiap kebaikan, dan jadikanlah kematian nanti sebagai istirahatku dari setiap keburukan.”
{HR. Muslim (4/2079, no.2720).}
Dari ‘Abdullah bin ‘Umar, beliau berkata, di antara do’a Nabi shollallaahu ‘alayhi wa’alaa aalihi wasallam,
اللَّهم إني أعوذ بك من زوال نعمتك، وتحوّل عافيتك، وفجاءة نقمتك، وجميع سخطك
[Allaahumma inniy a’uudzubika min zawaali ni’matika, watahawwuli ‘aafiyatika, wafujaa-ati niqmatika, wajamii’i sakhothika.]
“Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepadaMu dari hilangnya nikmatMu, berubahnya ke’afiyatan dariMu, hukumanMu yang tiba-tiba datang, dan seluruh kemurkaanMu.”
{HR. Muslim (4/2097, no.2739).}
7. Berlindung Kepada Allah dari Cobaan yang Berat, Kesengsaraan yang Dalam, Ketetapan (Taqdir) yang Buruk dan dari Kesenangan Musuh-Musuh.
Dari Abu Huroiroh rodhiyallaahu ‘anhu,
أن النبي : كان يتعوَّذ من سوء القضاء، ومن درك الشقاء، ومن شماتة الأعداء، ومن جهد البلاء
“Sesungguhnya Nabi shollallaahu ‘alayhi wa’alaa aalihi wasallam, beliau selalu berlindung dari ketetapan (taqdir) yang buruk, kesengsaraan yang perih, kesenangan para musuh, dan dari beratnya cobaan.”
{HR. Muslim (4/2080, no.2707).}
Dan contoh-contoh ini merupakan permohonan-permohonan yang penting, di mana tidak sepantasnya seorang hamba melalaikannya, dan hendaklah setiap hamba tidak melalaikan do’a kebaikan dirinya, keturunannya, dan seluruh kaum Muslimin.
Dan akhirnya mudah-mudahan sholawat, salam, dan berkah, Allah curahkan kepada Nabi kita Muhammad, keluarga, para shahabat beliau, dan orang-orang yang mengikuti jejak langkah mereka dengan baik sampai Hari Pembalasan.
{Dikutip dari kitab “Syuruth ad-du’a wa mawani’ al-ijabah fi dhou-il kitab was sunnah” Asy-Syaikh Dr. Sa’id bin ‘Aliy Wahf Al-Qohthoni; edisi terjemah “Agar Do’a Dikabulkan”, penerbit Darul Haq.}
Click here to claim your Sponsored Listing.
Location
Category
Contact the school
Telephone
Address
Desa Gajah Ayee
Sigli
24151