23/06/2014
*Perkara-Perkara Terpenting Yang Harus Diminta Seorang Hamba Kepada Robbnya…
1. Memohon Petunjuk (Hidayah) Kepada Allah.
Allah berfirman,
مَن يَهْدِ اللَّهُ فَهُوَ الْمُهْتَدِ وَمَن يُضْلِلْ فَلَن تَجِدَ لَهُ وَلِيًّا مُّرْشِدًا
“Barangsiapa yang diberi petunjuk oleh Allah, maka dialah yang mendapat petunjuk; dan barangsiapa yang disesatkanNya, maka kamu tidak akan mendapat seorang pemimpin pun yang dapat memberi petunjuk kepadanya.”
{QS. Al-Kahfi: 17.}
Dan petunjuk itu ada dua macam: Petunjuk yang bersifat global yaitu petunjuk kepada Iman dan Islam dan hal ini terjadi untuk setiap Mukmin, dan yang kedua petunjuk yang sifatnya terperinci yaitu petunjuk untuk mengetahui perincian-perincian bagian Iman dan Islam, dan membantunya untuk dapat mengerjakan hal itu. Dan hal ini dibutuhkan oleh setiap Mukmin, malam dan siang hari, maka Allah memerintahkan hamba-hambaNya untuk selalu membaca pada setiap roka’at sholat mereka firman Allah,
إيَّاكَ نعبُدُ وإيَّاكَ نستَعينُ
“Hanya kepadaMu lah kami meyembah dan hanya kepadaMu lah kami meminta pertolongan.”
{QS. Al-Fatihah: 6.}
Dan begitu juga Nabi shollallaahu ‘alayhi wa’alaa aalihi wasallam membaca dalam do’anya sebagai pembukaan pada sholat malam,
اهدني لما اختلف فيه من الحق بإذنك، إنك تهدي من تشاء إلى صراط مستقيم
“Tunjukilah aku kepada kebenaran-kebenaran yang diperselisihkan orang dengan izinMu, sesungguhnya Engkau menunjukkan siapa yang Engkau kehendaki kepada jalan yang lurus.”
{HR. Muslim (1/534, no. 770.)}
Dan juga Nabi selalu mewasiatkan kepada Mu’adz bin Jabal rodhiyallaahu ‘anhu untuk berdo’a setiap selesai sholat,
اللَّهمَّ أعنِّي على ذكرك وشكرك، وحسن عبادتك
“Ya Allah, bantulah aku untuk selalu mengingatMu, bersyukur kepadaMu dan melaksanakan ibadah dengan baik kepadaMu.”
{HR. Abu Dawud (2/86), An-Nasa’I (3/53), Shahih Abu Dawud (1/248).}
Dan diantara do’a istiftah (pembukaan) Nabi shollallaahu ‘alayhi wa’alaa aalihi wasallam pada sholat malam,
اهدني لأحسن الأخلاق، لا يهدي لأحسنها إلا أنت، واصرف عني سيِّئها، لا يصرف عني سيئها إلا أنت
“Tunjukilah aku untuk berakhlaq yang baik, karena tidaklah ada yang mampu memberikan petunjuk untuk perbaikan akhlaq kecuali Engkau dan jauhkanlah dariku kejelekannya, karena tidaklah ada yang menjauhkan dariku kejelekannya kecuali Engkau.”
{HR. Muslim (1/534, no. 771.)}
Dan sungguh Nabi shollallaahu ‘alayhi wa’alaa aalihi wasallam telah memerintahkan ‘Aliy bin Abi Tholib rodhiyallaahu ‘anhu untuk meminta kepada Allah petunjuk dan kebenaran,
اللَّهم إني أسألك الهُدى والسداد
“Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepadaMu petunjuk dan kebenaran.”
{HR. Muslim (4/209, no. 2725).}
Dan juga mengajarkan Al-Hasan bin ‘Aliy rodhiyallaahu ‘anhuma untuk membaca pada setiap qunut witir,
اللَّهم اهدني فيمن هديت
“Ya Allah, tunjukilah aku sebagaimana orang-orang yang telah Engkau beri petunjuk.”
{Irwa-ul Gholil (2/172), Shahih Sunan At-Tirmidzi (1/144), Shahih Sunan Ibnu Majah (1/149).}
2. Memohon Kepada Allah Pengampunan Dosa.
Karena sesungguhnya permintaan terpenting yang diminta seorang hamba kepada Robbnya adalah ampunan dari dosa-dosanya, keselamatan dari neraka dan masuk surga.
{Lihat Jami’ Al-‘Ulum wal Hikam, (2/41, 404.)}
Seorang hamba memiliki hajat untuk memohon ampunan atas segala dosanya dari Allah, karena seorang hamba melakukan kesalahan di malam dan di siang hari dan Allah mengampuni dosa-dosa seluruhnya. Karena pentingnya perkara ini Rosulullaah shollallaahu ‘alayhi wa’alaa aalihi wasallam bersabda,
يا أيها الناس توبوا إلى اللَّه فإني أتوب في اليوم إليه مائة مرة
“Hai manusia, bertaubatlah kalian kepada Allah, dan aku sendiri bertaubat kepada Allah dalam sehari seratus kali.”
{HR. Muslim (4/2076.)}
Dan lafazh riwayat An-Nasa’i berbunyi,
يا أيها الناس، توبوا إلى اللَّه واستغفروه، فإني أتوب إلى اللَّه، وأستغفره كلّ يومٍ مائة مرّة، أو أكثر من مائة مرّة
“Hai manusia, bertaubatlah kalian kepada Allah dan beristighfarlah kepadaNya, maka sesungguhnya aku bertaubat dan beristighfar kepada Allah setiap hari seratus kali.”
{HR. An-Nasa’i, (no. 444) dalam Amal Al-Yaum wa Al-Lailah.}
Dari ‘Abdullah bin ‘Umar rodhiyallaahu ‘anhuma, beliau berkata, “Sesungguhnya dalam satu majelis kami menghitung Rosulullaah shollallaahu ‘alayhi wa’alaa aalihi wasallam mengucapkan seratus kali,
ربِّ اغفر لي وتب عليَّ إنك أنت التوابُ الرحيم
[Robbighfirliy watub ‘alayya innaka antat tawwaabur rohiim]
“Ya Robb, ampunilah aku dan terimalah taubat diriku, sesungguhnya Engkau Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang.”
{HR. Abu Dawud (no.1516.), Ibnu Majah (no. 3814.), Shohih Abu Dawud (1/283.), dan diriwayatkan juga oleh Imam Ahmad (1/21.).}
Adapun lafazh At-Tirmidzi dalam riwayat Ahmad,
رب اغفر لي وتب عليَّ إنك أنت التواب الغفور
[Robbighfirliy watub ‘alayya innaka antat tawwaabul ghofuur]
“Ya Robb, ampunilah aku dan terimalah taubat diriku, sesungguhnya Engkau Maha Penerima Taubat lagi Maha Pengampun.”
{HR. At-Tirmidzi (no. 3444.)}
Allah berfirman,
وَمَن يَعْمَلْ سُوءًا أَوْ يَظْلِمْ نَفْسَهُ ثُمَّ يَسْتَغْفِرِ اللَّهَ يَجِدِ اللَّهَ غَفُورًا رَّحِيمًا
“Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan dan menganiaya dirinya, kemudian ia mohon ampun kepada Allah, niscaya ia mendapati Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”
{QS. An-Nisa’: 110.}
Dan Allah ‘azza wajalla juga berfirman,
وَإِنِّي لَغَفَّارٌ لِّمَن تَابَ وَآمَنَ وَعَمِلَ صَالِحًا ثُمَّ اهْتَدَى
“Dan sesungguhnya Aku Maha Pengampun bagi orang yang bertaubat, beriman, beramal sholih, kemudian tetap di jalan yang benar.”
{QS. Thoha: 82.}
Dan dari Anas rodhiyallaahu ‘anhu, dia berkata, aku mendengar Rosulullaah shollallaahu ‘alayhi wa’alaa aalihi wasallam bersabda,
قال اللَّه تعالى: يا ابن آدم، إنك ما دعوتني ورجوتني غفرت لك على ما كان فيك ولا أبالي، يا ابن آدم لو بلغت ذنوبك عَنَانَ السماء ثم استغفرتني غفرت لك ولا أبالي، يا ابن آدم لو أتيتني بقراب الأرض خطايا، ثم لقيتني لا تشرك بي شيئاً، لأتيتك بقرابها مغفرة
“Allah yang Mahasuci lagi Mahatinggi berfirman, “Wahai anak Adam, selagi kamu minta dan berharap kepadaKu, maka Aku akan mengampuni bagimu segala yang telah berlalu dari dosamu dan Aku tidak peduli. Wahai anak Adam, walaupun dosamu sampai setinggi langit, kemudian kamu meminta ampun kepadaKu, niscaya Aku ampuni kamu, dan Aku tidak peduli. Wahai anak Adam, jika kamu datang kepadaKu dengan kesalahan (dosa) sepenuh bumi, kemudian kamu mendatangiKu dengan tidak menyekutukanKu dengan sesuatu pun, niscaya Aku datang kepadamu dengan ampunan sepenuh bumi p**a.”
{HR. At-Tirmidzi (4/122), Ad-Darimi (2/230), Shohih Al-Jami’ (5/584).}
Kata “Istighfar” sering disebutkan bersama kata “Taubah” di dalam satu kalimat, maka kata istighfar pada saat itu berarti suatu ungkapan meminta ampunan dengan lisan dan taubah berarti meninggalkan dosa-dosa dengan hati dan seluruh organ tubuh, dan Allah telah menjanjikan dalam surat Ali Imron ayat 135 dengan suatu ampunan bagi orang yang meminta ampunan dari dosa-dosanya dan tidak terus menerus dari melakukan dosa (berhenti dari dosa).
Setiap kata Istighfar di dalam Al-Quran atau hadits bermakna memohon ampunan dosa dan meninggalkan dosa tersebut dengan hati dan seluruh anggota tubuh. Adapun orang yang beristighfar dengan lisan sedangkan hatinya terus berbuat dosa, maka hal ini hanya bersifat do’a, jika Allah kehendaki, Dia mengabulkan dan jika meghendaki, Dia menolaknya, bahkan terkadang terus menerus melakukan dosa dapat menjadi penghalang terkabulnya do’a.
{Lihat Jami’ Al-‘Ulum wal Hikam (2/407-411.)}
Dan dari ‘Abdullah bin Amr bin Al-Ash rodhiyallaahu ‘anhuma dari Nabi shollallaahu ‘alayhi wa’alaa aalihi wasallam, beliau bersabda,
ارحموا تُرحموا، واغفروا يغفر اللَّه لكم، ويل لأقماع القول، ويل للمصرين الذين يصرون على ما فعلوا وهم يعلمون
“Sayangilah, niscaya kalian akan disayangi, dan maafkanlah, niscaya Allah akan mengampuni kalian, celakalah bagi ‘aqma’il qoul’ dan celakalah bagi orang yang terus menerus melakukan dosa sedang mereka mengetahui.”
{HR. Ahmad (2/156, 219), Al-Bukhori dalam adabul mufrod (no.380.) dihasankan oleh Al-Hafizh Ibnu Hajar dalam Fath Al-Bari (1/112.) dan silsilah al-ahadits ash-shohihah (no.482.)}
Aqma’il qoul (أقماع القول) adalah bentuk kata jamak dari kata qom’un (قمع) yang berarti; Bejana penampung yang dipasang pada kucuran untuk mengisi benda cair berupa minuman dan minyak, Rosulullaah shollallaahu ‘alayhi wa’alaa aalihi wasallam mengumpamakan pendengaran orang-orang yang mendengar suatu ucapan sedangkan mereka tidak memahaminya, tidak menghafalkannya, dan tidak mengamalkannya, dengan sebuah bejana yang tidak dapat memahami sesuatu pun yang tertuang padanya, maka ucapan yang dikatakan atau didengar hanya lewat begitu saja sebagaimana benda cair melewati corong bejana tersebut.
Jika seseorang mengatakan, “Saya beristighfar kepada Allah dan bertaubat kepadaNya,” maka ada dua kemungkinan:
Keadaan Pertama; Dia mengatakan hal itu tapi hatinya terus berbuat maksiat, maka dia dusta, karena dia mengatakan bertaubat padahal dia tidak meninggalkan dosa dengan hati dan anggota tubuhnya.
Keadaan yang Kedua; Dia meninggalkan maksiat dengan hatinya dan memohon kepadaNya taubat nahusa dan berjanji kepada Allah untuk tidak kembali ke dalam maksiat, maka sesungguhnya tekad untuk meninggalkan maksiat wajib atasnya, ucapannya, “aku bertaubat kepadaNya” mengabarkan tentang keinginan untuk bertaubat dengan sebenar-benarnya.
{Lihat Jami’ Al-‘Ulum wal Hikam (2/410-412).}
3. Memohon Surga Kepada Allah dan Berlindung Kepada Allah dari Neraka.
Sebagaimana hadits Abu Huroiroh rodhiyallaahu ‘anhu, dia berkata,
قال: قال رسول اللَّه لرجلٍ: ((ما تقول في الصلاة))؟ قال: أتشهد ثم أسأل اللَّه الجنة، وأعوذ به من النار. أما واللَّه ما أحسن دندنتك، ولا دندنة مُعاذ. فقال: ((حولها ندندنُ))
“Rosulullaah shollallaahu ‘alayhi wa’alaa aalihi wasallam bertanya kepada seorang laki-laki, “Apa yang kamu baca dalam sholat?” Dia menjawab, “Saya bertasyahud kemudian saya memohon surga kepada Allah dan berlindung kepadaNya dari neraka, ketahuilah, demi Allah, saya tidak bisa mengikuti bacaan anda dan juga bacaan Mu’adz,” lalu beliau bersabda, “Sekitar itu juga yang kami baca”.”
{HR. Abu Dawud (no.792,793). Ibnu Majah (no.910). Shahih Abu Dawud (1/10) dan Shohih Ibnu Majah (1/150).}
Yakni sekitar memohon surga kepada Allah dan berlindung memohon keselamatan dari neraka.
Dan dari Anas bin Malik rodhiyallaahu ‘anhu, beliau berkata, Rosulullaah shollallaahu ‘alayhi wa’alaa aalihi wasallam bersabda,
من سأل اللَّه الجنة ثلاث مرات قالت الجنة: اللَّهم أدخله الجنة، ومن استجار من النار ثلاث مرات قالت النار: اللَّهم أجره من النار
“Barangsiapa memohon surga kepada Allah tiga kali, maka surga itu berkata, “Ya Allah, masukkanlah dia ke dalam surga,” dan barangsiapa memohon perlindungan dari neraka tiga kali, maka neraka berkata, “Ya Allah, lindungilah ia dari neraka”.”
{HR. At-Tirmidzi (4/700). Ibnu Majah (1/1452). Shohih At-Tirmidzi (2/319).}
Dari Robi’ah bin Ka’ab Al-Aslami rodhiyallaahu ‘anhu, dia berkata,
كنت أبيت مع رسول اللَّه فأتَيْتُهُ بِوَضُوئهِ وحاجته فقال لي: ((سَلْ)) فقلت: أسألك مرافقتك في الجنة. قال: ((أو غير ذلك))؟ قلت: هو ذاك. قال: ((فأعني على نفسك بكثرة السجود))
“Aku pernah bermalam bersama Rosulullaah shollallaahu ‘alayhi wa’alaa aalihi wasallam, aku datangkan air wudhu dan juga keperluan beliau, lalu beliau berkata kepadaku, “Mintalah”, aku berkata, “Aku memohon agar bisa menemani anda di surga,” beliau berkata, “Adakah selain itu?” Aku berkata, “Hanya itu.” Lalu beliau berkata, “Bantulah aku untuk mewujudkan keinginanmu dengan memperbanyak sujud”.”
{HR. Muslim (1/353, no.489).}
Dan ini menunjukkan atas sempurnanya pemikiran Robi’ah rodhiyallaahu ‘anhu dan kecintaannya terhadap permohonan yang paling agung dan kekal, lalu Nabi shollallaahu ‘alayhi wa’alaa aalihi wasallam menunjukkan untuk memperbanyak sujud (sholat). Sebagaimana juga hadits Tsauban rodhiyallaahu ‘anhu bahwasanya beliau berkata kepada Nabi shollallaahu ‘alayhi wa’alaa aalihi wasallam, “Kabarkanlah kepadaku suatu amalan yang (jika) aku kerjakan akan memasukkanku ke surga,” atau dia mengatakan dengan amalan yang sangat dicintai Allah, maka beliau bersabda,
عليك بكثرة السجود، فإنك لا تسجد للَّه سجدة إلا رفعك اللَّه بها درجة، وحطَّ عنك بها خطيئة
“Hendaklah kamu memperbanyak sujud (sholat) kepada Allah, karena tidaklah kamu bersujud kepada Allah sekali saja, melainkan Allah akan mengangkatmu satu derajat karenanya, dan dihapuskan darimu satu kesalahan juga karenanya.”
{HR. Muslim (1/353, no.488).}
4. Memohon Kepada Allah Ampunan dan Keselamatan di Dunia dan Akherat.
Sebagaimana hadits Al-Abbas bin Abdul Muththolib, ia berkata,
“Aku berkata, “Wahai Rosulullaah, ajarkan kepadaku sesuatu yang aku mohonkan kepada Allah.” Maka beliau bersabda,
سل اللَّه العافية
“Mintalah kepada Allah ke’afiyatan (keselamatan).” Lalu aku berdiam beberapa hari, kemudian aku datang kembali dan berkata, “Wahai Rosulullaah, ajarkan kepadaku sesuatu yang aku mohonkan kepada Allah.” Lalu beliau berkata kepadaku,
يا عباسُ، يا عمَّ رسول اللَّه: سل اللَّه العافية في الدنيا والآخرة
“Wahai ‘Abbas, wahai paman Rosulullaah, mintalah kepada Allah ke’afiyatan di dunia dan akherat”.”
{HR. At-Tirmidzi (5/534, no.3761.). Shohih At-Tirmidzi (3/170).}
Dan hadits dari Abu Bakar Ash-Shiddiq rodhiyallaahu ‘anhu bahwa Nabi shollallaahu ‘alayhi wa’alaa aalihi wasallam pernah bersabda di mimbar,
سلوا اللَّه العفو والعافية؛ فإن أحداً لم يُعْطَ بعد اليقين خيراً من العافية
“Mintalah kepada Allah ampunan dan ke’afiyatan (keselamatan), karena tidaklah seseorang diberi sesuatu setelah keyakinan (dalam iman), yang lebih baik dari ke’afiyatan.”
{HR. At-Tirmidzi (no.3811). Shohih At-Tirmidzi (3/180). Hadits ini memiliki banyak penguat dalam Musnad Ahmad, tahqiq Ahmad Syakir (1/156-157) dan hadits Anas bin Malik rodhiyallaahu ‘anhu dalam riwayat Tirmidzi (no.3846). lihat Shohih At-Tirmidzi (3/170,180).}
Dan Rosulullaah shollallaahu ‘alayhi wa’alaa aalihi wasallam pun langsung mengajarkan kepada kita semua bahwa hal tersebut sangat penting untuk diminta, Rosulullaah selalu meminta hal tersebut kepada Allah dalam dzikir pagi dan petang, do’a yang beliau ajarkan;
اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَسْأَلُكَ الْعَفْوَ وَالْعَافِيَةَ فِي الدُّنْيَا وَاْلآخِرَةِ، اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَسْأَلُكَ الْعَفْوَ وَالْعَافِيَةَ فِي دِيْنِيْ وَدُنْيَايَ وَأَهْلِيْ وَمَالِيْ. اَللَّهُمَّ احْفَظْنِيْ مِنْ بَيْنِ يَدَيَّ، وَمِنْ خَلْفِيْ، وَعَنْ يَمِيْنِيْ وَعَنْ شِمَالِيْ، وَمِنْ فَوْقِيْ، وَأَعُوْذُ بِعَظَمَتِكَ أَنْ أُغْتَالَ مِنْ تَحْتِيْ
[Allaahumma inny as-alukal ‘afwa wal ‘aafiyah fiid dunyaa wal aakhiroh, Allaahumma inny as-alukal ‘afwa wal ‘aafiyah fii diiniy wa dunyaaya wa ahliy wa maaliy, Allaahummahfazhniy min bayni yadayya wa min kholfiy wa ‘an yamiiniy wa ‘an syimaaliy wa min fauqiy wa a’uudzu bi ‘azhomatika an ughtaala min tahtiy]
“Ya Allah! Sesungguhnya aku memohon kebajikan dan keselamatan di dunia dan akhirat. Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kebajikan dan keselamatan dalam agama, dunia, keluarga dan hartaku. Ya Allah, tutupilah auratku (aib dan sesuatu yang tidak layak dilihat orang) dan tenteramkanlah aku dari rasa takut. Ya Allah! Peliharalah aku dari muka, belakang, kanan, kiri dan atasku. Aku berlindung dengan kebesaranMu, agar aku tidak disambar dari bawahku.”
{HR. Abu Dawud dan Ibnu Majah, lihat Shahih Ibnu Majah 2/332.}
5. Memohon Kepada Allah Keteguhan di Atas Agama dan Akibat yang Baik Pada Setiap Urusan.
Sebagaimana hadits ‘Abdullaah bin Amr bin Al-Ash rodhiyallaahu ‘anhuma, dia mendengar Rosulullaah shollallaahu ‘alayhi wa’alaa aalihi wasallam bersabda,
إنَّ قلوب بني آدم كلها بين إصبعين من أصابع الرحمن كقلب واحد، يصرِّفه حيث شاء
“Sesungguhnya hati-hati anak cucu Nabi Adam seluruhnya berada di antara dua Jemari dari Jari Jemari Dzat yang Maha Pengasih. Seperti satu hati yang Allah bolak-balikkan sesuai dengan apa yang Dia kehendaki. Kemudian Rosulullaah shollallaahu ‘alayhi wa’alaa aalihi wasallam berdo’a,
اللَّهم مُصرِّف القلوب صرِّف قلوبنا على طاعتك
[Allaahumma mushorrifal quluubi shorrif quluubanaa ‘alaa thoo’atika]
“Ya Allah, Dzat Yang membolak-balikkan hati, balikkanlah hati-hati kami terhadap ketaatan kepadaMu”.”
{HR. Muslim (4/2045, no.2645).}
Dan dari hadits Ummu Salamah rodhiyallaahu ‘anha ketika ditanya tentang do’a yang banyak diucapkan oleh Nabi shollallaahu ‘alayhi wa’alaa aalihi wasallam ketika di sisinya, beliau menjawab bahwa beliau banyak berdo’a,
يا مقلب القلوب ثبت قلبي على دينك
[Yaa muqollibal quluubi tsabbit qolbiy ‘alaa diinika]
“Wahai Dzat yang membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku di atas agamaMu.”
Lalu Ummu Salamah bertanya kepada Nabi, “Wahai Rosulullaah, kenapa anda banyak mengucapkan doa,
يا مقلب القلوب ثبت قلبي على دينك؟
[Yaa muqollibal quluubi tsabbit qolbiy ‘alaa diinika]?
“Wahai Dzat yang membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku di atas agamaMu”?
Beliau bersabda,
يا أم سلمة، إنه ليس آدمي إلا وقلبه بين إصبعين من أصابع اللَّه، فمن شاء أقام، ومن شاء أزاغ
“Wahai Ummu Salamah, sesungguhnya tak seorang pun dari anak cucu Adam kecuali hatinya di antara dua Jemari dari Jari Jemari Allah, maka apabila Allah kehendaki, Allah tegakkan (di atas kebenaran), dan jika Dia kehendaki, Allah palingkan.”
{HR. At-Tirmidzi (5/238), Ahmad (4/182), Al-Hakim (1/525,528), Shohih At-Tirmidzi (3/171).}
Dan juga hadits Busr bin Artho’ah rodhiyallaahu ‘anhu, beliau berkata, “Aku telah mendengar Rosulullaah shollallaahu ‘alayhi wa’alaa aalihi wasallam mengucapkan,
اللَّهم أحسن عاقبتنا في الأمور كلها وأجرنا من خزي الدنيا وعذاب الآخرة
[Allaahumma ahsin ‘aaqibatanaa fiil umuuri kullihaa, wa ajirnaa min khizyid dunyaa wa ‘adzaabil aakhiroti]
“Ya Allah, jadikanlah akibat (akhir) seluruh urusan kami adalah akhir yang baik dan selamatkanlah kami dari kehinaan dunia dan adzab akherat.”
{HR. Ahmad (4/181). Para perowinya tsiqot.}
6. Memohon Kepada Allah, Kenikmatan yang Langgeng dan Perlindungan dari Hilangnya Kenikmatan Tersebut.
Nikmat yang paling agung adalah mendapatkan petunjuk kepada Agama Allah (Islam) sebagaimana hadits Abu Huroiroh rodhiyallaahu ‘anhu bahwa Rosulullaah shollallaahu ‘alayhi wa’alaa aalihi wasallam berdo’a,
اللَّهم أصلح لي ديني الذي هو عصمة أمري، وأصلح لي دنياي التي فيها معاشي، وأصلح لي آخرتي التي فيها معادي، واجعل الحياة زيادةً لي في كل خير، واجعل الموت راحة لي من كل شر
[Allaahumma ashlihliy diiniy alladziy huwa ‘ishmatu amriy, wa-ashlih liy dunyaaya allatiy fiihaa ma’aasyiy wa-ashlihliy aakhirotiy allatiy fiihaa ma’aadiy, waj’alil hayaata ziyaadatan liy fii kulli khoyr, waj’alil mauta roohatan liy min kulli syarrin.]
“Ya Allah, perbaikilah bagiku agamaku yang menjadi penjaga segala urusanku, dan perbaikilah bagiku duniaku yang di dalamnya terdapat kehidupanku, dan perbaikilah bagiku akheratku yang merupakan tempat kembaliku, dan jadikanlah kehidupan ini bagiku tempat bertambahnya setiap kebaikan, dan jadikanlah kematian nanti sebagai istirahatku dari setiap keburukan.”
{HR. Muslim (4/2079, no.2720).}
Dari ‘Abdullah bin ‘Umar, beliau berkata, di antara do’a Nabi shollallaahu ‘alayhi wa’alaa aalihi wasallam,
اللَّهم إني أعوذ بك من زوال نعمتك، وتحوّل عافيتك، وفجاءة نقمتك، وجميع سخطك
[Allaahumma inniy a’uudzubika min zawaali ni’matika, watahawwuli ‘aafiyatika, wafujaa-ati niqmatika, wajamii’i sakhothika.]
“Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepadaMu dari hilangnya nikmatMu, berubahnya ke’afiyatan dariMu, hukumanMu yang tiba-tiba datang, dan seluruh kemurkaanMu.”
{HR. Muslim (4/2097, no.2739).}
7. Berlindung Kepada Allah dari Cobaan yang Berat, Kesengsaraan yang Dalam, Ketetapan (Taqdir) yang Buruk dan dari Kesenangan Musuh-Musuh.
Dari Abu Huroiroh rodhiyallaahu ‘anhu,
أن النبي : كان يتعوَّذ من سوء القضاء، ومن درك الشقاء، ومن شماتة الأعداء، ومن جهد البلاء
“Sesungguhnya Nabi shollallaahu ‘alayhi wa’alaa aalihi wasallam, beliau selalu berlindung dari ketetapan (taqdir) yang buruk, kesengsaraan yang perih, kesenangan para musuh, dan dari beratnya cobaan.”
{HR. Muslim (4/2080, no.2707).}
Dan contoh-contoh ini merupakan permohonan-permohonan yang penting, di mana tidak sepantasnya seorang hamba melalaikannya, dan hendaklah setiap hamba tidak melalaikan do’a kebaikan dirinya, keturunannya, dan seluruh kaum Muslimin.
Dan akhirnya mudah-mudahan sholawat, salam, dan berkah, Allah curahkan kepada Nabi kita Muhammad, keluarga, para shahabat beliau, dan orang-orang yang mengikuti jejak langkah mereka dengan baik sampai Hari Pembalasan.
{Dikutip dari kitab “Syuruth ad-du’a wa mawani’ al-ijabah fi dhou-il kitab was sunnah” Asy-Syaikh Dr. Sa’id bin ‘Aliy Wahf Al-Qohthoni; edisi terjemah “Agar Do’a Dikabulkan”, penerbit Darul Haq.}