29/02/2020
Alkisah, pada rakaat pertama..
👨: اللهُ اَكْبَرُ كَبِرًا وَالْحَمْدُ لِلهِ كَشِيْرًا...
👦 : اَللَّهُمَّ بَاعِدْ بَيْنِى وَبَيْنَ خَطَايَاىَ...
Apapun iftitahnya, minumnya...😉
Kita semua 🤝 🤗.
23/02/2020
Ada yang s**a 🚴
Ada yang s**a 🏋️
Ada yang s**a ⛹️
Ada yang s**a 🤾
Ada yang s**a 🏊
Apapun olahraganya, jangan lupa berdoa sebelum memulainya 🙏.
17/02/2020
👄🎤gajah...kupu-kupu...menari-nari di depanku...🎶
..aku...sayang guruku...dengannya tambah ilmu...🎶🎶
12/02/2020
Hai semuanya 😚, bagaimana kabar kalian?
Jaga kesehatan ya, hati-hati flu soalnya sekarang musim hujan. 👌
19/01/2020
Yazid, seorang anak kecil saat ia membaca ayat Al Qur’an, “Hai orang-orang yg berselimut (Muhammad). Bangunlah (untuk shalat) di malam hari, kecuali sebagian kecil.” [QS. Al Muzzammil : 1-2]
Kemudian ia bertanya kepada ayahnya, “wahai ayahku, kepada siapa Allah memfirmankan perintah ini?”
Sang ayah menjelaskan, “anakku, perintah ini ditujukan kepada Nabi Muhammad SAW.”
Yazid bertanya lagi, “wahai ayahku, mengapa engkau tidak melakukan seperti apa yang dilakukan Rasulullah?”
Sang ayah menjawab, “wahai anakku, qiyamul lail dikhususkan dan diwajibkan kepada Rasulullah dan tidak diwajibkan pada ummatnya.”
Yazid terdiam kemudian melanjutkan membaca, “sesungguhnya Rabbmu mengetahui bahwasannya kamu berdiri (shalat) kurang dari dua pertiga malam atau seperdua malam atau sepertiganya dan (demikian p**a) segolongan dari orang-orang yang bersama kamu.” [QS. Al Muzzammil : 20]
---> Yuk, berkunjung ke laman blog kami untuk mengikuti lanjutan kisah si kecil Yazid di atas. Sila klik link di bio kami. Terima Kasih. 😊
11/01/2020
Apakah kita termasuk tipe orang tua atau pendidik yang terlalu protektif?🤔
Tidak salah bahkan pada beberapa kasus itu sangat dibutuhkan, namun kita perlu berhati-hati karena menjadi 'over protektif' terhadap anak dapat merebut kesempatan anak untuk dapat belajar langsung dan mengenali kemampuan mereka.
Terlalu berlebihan dalam melindungi anak dapat memberi dampak negatif terhadap perkembangan perilaku, mental dan tumbuh kembang fisiknya.
Anak-anak membutuhkan resiko sama seperti kita, resiko mengajari kita batasan-batasan diri. 😊
04/01/2020
Di TK Sekar Mentari, kami memiliki peraturan sederhana dalam menanamkan nilai-nilai berdo’a kepada anak-anak :
Bahwa segala sesuatu yang akan dan sudah dilakukan, kami dan anak-anak wajib bersyukur kepada Allah yang telah menciptakan dan memberi kesempatan. Biasanya anak-anak akan bertanya tentang apa itu kesempatan 😁.
01/09/2019
- Tips Menghafal Qur’an Untuk Anak-Anak Bersama TK Sekar Mentari -
Salah satu kurikulum di TK Sekar Mentari Sidoarjo adalah menghafal Qur’an. Dimulai dari surat-surat pendek sampai ayat-ayat yang berhubungan dengan keseharian anak-anak. Tidak hanya menghafal, anak-anak juga diberi tahu apa isi dan intisari dari setiap ayat.
Tentu hal yang membanggakan bagi orang tua, dan khususnya bagi kami para guru saat menyaksikan anak-anak mampu menghafal ayat Qur’an walau hanya sebatas surat-surat pendek. Kami merasa adalah kewajiban untuk mengajarkan Qur’an kepada mereka. Walaupun ada beberapa anak yang kesulitan dalam menghafal, kami menganggap itu lumrah dan setidaknya dengan belajar bersama di sini mereka telah mengerti bacaan dan makna dari Qur’an dalam keseharian mereka.
“Perumpamaan orang yang membaca al Qur’an sementara dia telah menghafalkannya. Maka bersama para Malaikat yang mulia. Dan perumpamaan yang membaca dalam kondisi berusaha keras (belajar membacanya) maka dia mendapatkan dua pahala.” (HR. Bukhari & Muslim)
Berikut kami berbagi catatan dan pengalaman kami dalam mengajarkan anak-anak hafalan Qur’an.
1. Waktu. Setiap harinya kami menjadwalkan untuk anak-anak menghafal Qur’an yaitu pagi hari saat baru masuk kelas, sekiranya pukul 09.00 WIB. Sedangkan rentang waktu yang kami terapkan berkisar antara 15-20 menit.
Waktu tersebut kami pilih berdasarkan pertimbangan bahwa di pagi hari pikiran anak-anak masih segar dan bersemangat, sehingga dalam pembelajaran menghafal Qur’an mereka tidak merasa terlalu sulit. Sedangkan jangka waktu belajar antar 15-20 menit kami gunakan karena kami merasa bahwa melebihi waktu tersebut anak-anak sudah merasa bosan, dan itu berarti waktu untuk berganti kegiatan.
2. Tempat dan suasana yang kondusif. Dalam kasus anak yang sulit menghafal, kami memberi perlakuan khusus kepada mereka. Yaitu waktu dan tempat yang berbeda dengan anak yang lainnya. Maksudnya walaupun sudah belajar menghafal Qur’an bersama dengan teman-temannya, kami memberinya waktu tambahan dan tempat yang tenang bagi mereka. Salah satu dari kami akan mengajarinya sedikit demi sedikit, perlahan-lahan.
Namun bukan berarti waktu tambahan yang kami berikan kepada mereka akan menyita jam pelajaran lain yang menjadi hak mereka. Waktu dan tempat di sini bersifat kondisional yang berarti tidak setiap harinya dan ketika waktu luang, contohnya pagi hari saat anak-anak belum sepenuhnya lengkap hadir di sekolah, setelah istirahat makan siang atau seusai jam sekolah.
Sudah menjadi peraturan wajib bagi kami (para guru) untuk tidak menyalakan atau berinteraksi menggunakan handphone saat proses belajar mengajar. Sedangkan foto-foto yang kami ambil saat proses belajar mengajar bukan dari guru yang saat itu bertugas, tentu dengan seizin direktur dan guru yang saat itu sedang bertugas. Hal ini menurut pertimbangan kami agar suasana belajar yang kondusif bagi anak-anak tetap terjaga.
3. Perencanaan dan konsisten. TK Sekar Mentari, kami memiliki blue-print atau metode tertulis yang kami jadikan patokan dalam mengajari anak-anak menghafal Qur’an. Tentu metode/kurikulum yang kami miliki tidak bersifat mutlak atau dalam artian lain akan selamanya seperti itu. Setiap harinya kami mengevaluasi dan mencari cara yang terbaik, dari hal-hal yang kami temui di lapangan. Dengan adanya metode dan kurikulum seperti ini kami berupaya menjaga momentum dan konsisten kami dalam mengajari anak-anak menghafal Qur’an.
Kami memahami bahwa pada beberapa anak akan mudah menghafal jika mereka memahami isi atau tafsir suatu ayat terlebih dahulu. Jadi sebelum anak-anak menghafal, kami akan membacakan kepada mereka kata per-kata di dalam ayat-ayat Qur’an beserta tafsirnya kemudian kami mengulanginya kembali dalam bacaan satu ayat beserta juga tafsirnya, pengulangan tidak hanya sekali-dua kali, kami mengulanginya terus menerus sampai setiap anak dapat menirunya dengan benar. Manfaat lain dari metode ini ialah pemahaman anak-anak tentang ayat-ayat Qur’an menjadi bertambah.
Hal terpenting dalam metode yang kami terapkan adalah pengamalan. Maksudnya supaya anak-anak tidak lupa terhadap hafalan-hafalannya sering kami mengkaitkannya dengan keseharian mereka di sekolah. Contohnya setiap shalat dzuhur anak-anak bersama-sama akan melantunkan bacaan shalat beserta surat pendek dengan suara yang lantang. Tentu tidak bisa dibayangkan seperti shalat yang orang dewasa lakukan, karena maksud kami di sini adalah pendidikan. Contoh lainnya adalah di tengah kegiatan sekolah terkadang kami memberi pertanyaan kepada anak-anak menyangkut hafalan-hafalan mereka, seperti ‘jam berapa sekarang anak-anak, surat apa yang berhubungan dengan waktu?’ atau ‘tadi pagi siapa yang shalat subuh berjamaah, ada yang tahu surat tentang shalat subuh?’, dsb.
4. Semangat. Tiga kali dalam seminggu seluruh jajaran pengurus Yayasan Sekar Mentari termasuk di dalamnya guru-guru TK diwajibkan mengikuti pengajian tafsir di Masjid Usisa Ala Taqwa yang berlokasi di Sumput, Sidoarjo. Selain itu setiap minggunya setelah selesai evaluasi mingguan kami membuka pengajian tafsir sendiri demi memperdalam pengetahuan dan pemahaman kami tentang Qur’an.
Kami memahami bahwa segala sesuatu harus berawal dari diri kami terlebih dahulu, termasuk dalam mempelajari Qur’an. Sehingga semangat yang kami miliki dapat kami tularkan kepada murid-murid kami.
Setiap anak memiliki keterterikan kepada sesuatu yang berbeda-beda oleh sebab itu dalam prosesnya terkadang kami memberi reward kepada anak-anak jika mereka menyelesaikan hafalan mereka, entah ayat per-ayat maupun surat-surat pendek. Hal ini dimaksudkan agar anak-anak memiliki motivasi dalam menghafal Qur’an. Contohnya ketika anak-anak berhasil menghafal satu surat pendek (juz amma) kami menyuruhnya memilih salah satu kartu yang kami sediakan lalu mereka akan membaca tulisan tentang hadiah dibalik kartu tersebut. Sungguh menyenangkan melihat anak-anak tampak antusias dalam menghafal Qur’an.
Akhir kata kami dari Yayasan Sekar Mentari Mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya bagi kalian yang telah membaca tulisan kami ini karena dengan begitu telah mengunjungi laman blog kami. Jelas tulisan kami di atas jauh dari kata sempurna, kami terus mengevaluasi metode-metode kami setiap waktunya. Oleh sebab itu komentar kalian akan sangat membantu kami terkait pendidikan anak-anak usia dini.
10/04/2019
- Membimbing Cita-Cita Anak -
Sepertinya hanya sebagian kecil orang yang benar-benar menuliskan cita-citanya? menulis dalam arti kata sebenarnya yaitu di atas kertas dan menggunakan alat tulis. Dalam rangka membentuk seseorang (dewasa) yang mempunyai visi dan misi yang jelas dalam mencapai tujuan, kita perlu mengajarkan anak-anak kita cara .menetapkan tujuan–merancang strategi agar cita-cita tercapai.
Beberapa anak membutuhkan motivasi dan dorongan untuk mencapai prestasi akademik di sekolah. Dengan menetapkan tujuan, memberi mereka sesuatu yang spesifik untuk dicapai, memberi mereka rasa percaya diri, yang pada gilirannya memotivasi mereka untuk bekerja keras. Dalam tulisan ini akan dijelaskan kiat atau cara membimbing anak meraih tujuannya–cita cita. Sekaligus untuk kita (orang tua, pengasuh atau pendidik) belajar mengintropeksi diri tentang tujuan hidup yang hendak kita capai.
Menetapkan tujuan yang spesifik, karena jika kita hanya menetapkan sasaran yang umum atau kurang jelas (bagi anak-anak), yang terlalu luas jangkauannya, jelas itu akan menyusahkan mereka. Bahkan kita sendiri mungkin ragu-ragu kapan sasaran itu akan terpenuhi, atau karena terlalu umum maka anak akan dengan mudah dan cepat memenuhi tujuan tersebut.
Sebagai contoh, katakanlah tujuan yang akan dicapai anak kita adalah membaca buku lebih banyak. Memang ini baik untuk mereka tetapi terlalu umum dan secara teknis mereka dapat memenuhi sasaran ini dengan membaca apa saja dalam beberapa jangka waktu. Hal ini kurang mendorong mereka cukup keras dan tidak cukup spesifik untuk tahu kapan mereka mencapai tujuan ini.
Tujuan yang lebih spesifik dan tidak membuat anak bingung salah satu misalnya adalah dengan membuatkan mereka jadwal membaca, lengkap dengan genre bukunya, setiap harinya–10 menit menjelang tidur malam. Dengan begitu kita dapat dengan mudah mengamati dan mengukur kualitas
10/01/2019
- Menjauhkan Televisi, Handphone atau Konsol Game dari Anak-anak -
Televisi, handphone atau konsol-konsol game seperti PC atau Play Station tidak sepenuhnya buruk bagi anak-anak, tentu ada sisi positifnya, meskipun begitu orang tua harus selalu mengawasi agar anak-anak tidak menjadi candu dan melupakan kewajibannya. Dalam waktu-waktu tertentu seperti waktu belajar dan beribadah, menjauhkan hal-hal tersebut dari anak-anak adalah langkah yang tepat.
Sebelum itu kita (orang tua/pengasuh) juga harus sadar, saat tiba waktu anak-anak belajar, agar tidak juga menonton televisi–atau asyik bermain handphone walaupun kita ada urusan penting–atau malahan bermain games di dekat mereka.
Televisi dan gadget adalah magnet bagi siapapun tidak hanya anak-anak, sedikit kita melanggar/lengah maka suasana belajar anak-anak akan hilang menguap dan sulit untuk menciptakannya kembali. Orang tua adalah teladan utama bagi anak-anak mereka.
02/01/2019
- Memberi anak-anak rutinitas yang positif sedini mungkin. -
Karakter atau kebiasaan tidak dapat diciptakan dan ditanamkan hanya dalam semalam. Sebuah kesempatan emas memberi rutinitas yang baik-positif sejak mereka kecil.
Mungkin beberapa dari orang tua mempunyai pikiran bahwa pekerjaan rumah (PR) anak-anaknya tidaklah penting dan tidak terlalu memberikan pengaruh dikehidupan dewasanya sehingga orang tua tidak terlalu menekankan anak dalam mengerjakannya, atau justru membiarkannya. Di sisi lain ada juga orang tua yang menakut-nakuti anak mereka dengan 'hukuman' jika tidak mau mengerjakan PR. Permasalahannya bukan pada keharusan anak-anak mengerjakan PR sehingga terbebas dari hukuman, tetapi bagaimana kita (orang tua) menciptakan suasana yang belajar yang nyaman dan mendukung sehingga anak-anak tanpa harus dipaksa, dengan senang hati mau untuk membuka buku-buku pelajarannya–belajar.
Pada akhirnya kesadaran dan rasa tanggung jawab untuk belajar akan tumbuh dengan sendirinya pada diri mereka.