06/07/2026
Kaidah #2:
Tasawuf – Dua Ribu Definisi Satu Arah Wajah Hati
قاعدة 2: ماهية الشيء حقيقته، وحقيقته ما دلت عليه جملته؛ وتعريف ذلك بحد وهو أجمع، أو رسم وهو أوضح، أو تفسير وهو أتم لبيانه وسرعة فهمه.
وقد حد التصوف، ورسم، وفسر بوجوه تبلغ نحو الألفين، ترجع كلها لصدق التوجه إلى الله تعالى، وإنما هي وجوه فيه؛ والله أعلم.
Mahiyah sesuatu adalah hakikatnya, dan hakikatnya adalah apa yang ditunjukkan oleh keseluruhannya. Dan pendefinisian terhadap sesuatu itu adalah dengan hadd, yaitu pendefinisia yang lebih menghimpun; atau dengan rasm, lebih jelas; atau dengan tafsir, lebih sempurna untuk menjelaskan dan mempercepat pemahaman terhadap sesuatu itu.
Tasawuf sungguh telah diberi hadd, diberi rasm, dan diberi tafsir dengan berbagai wajah yang mencapai sekitar dua ribu. Semuanya kembali kepada ketulusan penghadapan wajah hati (tawajuh) kepada Allah. Dan sesungguhnya semua definisi itu hanyalah berbagai sisi dari hakikat tasawuf. Wallahu a’lam.
------------------------
Penjelasan:
Kaidah kedua ini mengajak kita memahami tasawuf dari dasarnya. Sebelum menilai tasawuf, sebelum membela atau menolaknya, sebelum berbicara panjang tentangnya, seseorang perlu tahu dulu: sebenarnya apa yang dimaksud dengan tasawuf?
Syaikh Ahmad Zarruq memulai dengan kalimat yang sangat mendasar: mahiyah sesuatu adalah hakikatnya. Maksudnya, setiap perkara harus dikenali dari jati dirinya. Jangan hanya dikenali dari kulit luarnya, dari nama, dari kebiasaan sebagian orang, atau dari gambaran yang belum tentu tepat.
Begitu juga tasawuf. Tasawuf tidak cukup dipahami dari pakaian, istilah, majelis, tarekat, wirid, atau cerita karamah. Semua itu bisa menjadi bagian dari dunia tasawuf, tetapi bukan inti terdalamnya. Inti tasawuf harus dicari pada hakikatnya.
Lalu Syaikh Zarruq menjelaskan bahwa sesuatu bisa dikenalkan dengan tiga cara:
1. Hadd, yaitu definisi yang padat dan menghimpun. Ini seperti ketika para ahli ilmu membuat batasan yang rapi agar sesuatu tidak tercampur dengan yang lain.
2. Rasm, yaitu penjelasan melalui ciri-ciri yang mudah dikenali. Tidak selalu seketat hadd, tetapi lebih dekat kepada pemahaman orang banyak.
3. Tafsir, yaitu uraian yang membuka maksud. Kadang sebuah istilah tidak cukup dipahami dengan satu kalimat pendek. Ia perlu dijelaskan pelan-pelan supaya maknanya sampai ke hati dan pikiran.
Dari sini kita mengerti mengapa definisi tasawuf sangat banyak. Ada ulama yang mengatakan tasawuf adalah membersihkan hati. Ada yang mengatakan tasawuf adalah adab. Ada yang mengatakan tasawuf adalah ikhlas. Ada yang mengatakan tasawuf adalah memerangi hawa nafsu. Ada yang mengatakan tasawuf adalah mengikuti Rasulullah ﷺ lahir dan batin. Ada p**a yang menjelaskan tasawuf dari sisi mahabbah, muraqabah, zuhud, sabar, ridha, atau fana.
Semua definisi itu tidak harus dipertentangkan. Sebab para sufi dan para salik sering berbicara sesuai pengalaman ruhani yang mereka jalani. Ada yang lebih kuat merasakan sisi mujahadah, maka ia mendefinisikan tasawuf sebagai perjuangan melawan nafsu. Ada yang lebih kuat merasakan sisi adab, maka ia mengatakan tasawuf seluruhnya adalah adab. Ada yang lebih kuat merasakan sisi ikhlas, maka ia menjelaskan tasawuf sebagai pemurnian tujuan hanya kepada Allah.
Jadi, banyaknya definisi bukan tanda bahwa tasawuf tidak jelas. Justru itu menunjukkan bahwa tasawuf memiliki banyak sisi. Tetapi semua sisi itu kembali kepada satu pusat yang sama, yaitu ketulusan penghadapan wajah hati (tawajuh) kepada Allah.
Tasawuf bukan sekadar tampak saleh. Bukan sekadar berbicara indah tentang hati. Bukan sekadar mengaku dekat dengan Allah. Tasawuf adalah kejujuran arah hidup: hati benar-benar menuju Allah, amal diarahkan untuk ridha Allah, dan diri terus dibersihkan dari kepentingan nafsu.
Maka ukuran tasawuf seseorang bukan seberapa banyak istilah yang ia kuasai, bukan seberapa tinggi pengakuan ruhaninya, dan bukan p**a seberapa tampak ia di hadapan manusia. Ukurannya adalah: seberapa jujur dan tulus hatinya menghadap kepada Allah.
Semakin jujur seseorang dalam mencari Allah, semakin besar bagiannya dari tasawuf. Semakin ia membersihkan niatnya, menjaga adabnya, menundukkan nafsunya, dan mengikuti jalan yang diridhai Allah, semakin nyata makna tasawuf dalam hidupnya.
Karena itu, Syaikh Zarruq menutup kaidah ini dengan kalimat penting: semua definisi tasawuf itu hanyalah ragam wajah dan sisi dalam tasawuf. Bukan hakikat yang saling bertentangan, tetapi jendela-jendela yang berbeda menuju satu makna yang sama.
Tasawuf pada akhirnya adalah perjalanan p**ang. Pulang dari kelalaian menuju kesadaran. Pulang dari nafsu menuju penghambaan. Pulang dari kepentingan diri menuju ridha Ilahi.
Dan pintu pertamanya adalah shidqut tawajjuh: kejujuran dan ketulusan hati dalam menghadap kepada Allah.
Penulis: KH. Mohammad Nizam As-Shofa
Pengasuh Kajian Reboan Agung kitab Jami’ul Ushul fil Auliya, Yayasan Pesantren Ahlus-Shafa Wal-Wafa Sidoarjo.