28/03/2021
Salah satu fenomena yang terjadi pada resesi akibat pandemi ini adalah naiknya harga emas. Saat situasi ekonomi tidak aman, ternyata sejumlah investor berbondong-bondong melindungi aset mereka dalam bentuk emas.
Dengan memanfaatkan situasi perang dagang Amerika dan Cina, investor pada beralih investasi emas karena tak mau ambil risiko yang terlalu tinggi. Karena harga emas lebih memihak pada dolar, maka harganya relatif tinggi jika di suatu negara, sebut saja Indonesia, itu rupiah sedang terdepresiasi alias nilainya tertekan, 1 dolar saja sampai sekarang masih bertengger di kisaran Rp. 14.000,00. Jadinya, investor enggan pegang rupiah, mereka lebih untung memilih emas sebagai pengaman aset sebab selaras dengan naik daunnya dolar. Pandai sekali mereka ini.
Secara klasik, suku bunga yang tinggi akan berdampak pada menurunnya investasi. Diketahui, di tengah pandemi , bank sentralnya Amerika menahan bunga pada level rendah, yakni 2,25 sampai 2,5 persen. Weleh-weleh, secara otomatis investor s**a banget investasi emas deh dan seketika harga emas terdongkrak.
Permintaan yang terus bertambah inilah yang juga ikut andil dalam peningkatan harga emas di tengah pandemi. Dengan demikian, bisa dikatakan bahwa salah satu indikator guncangan perekonomian dunia adalah naik-turunnya harga emas.
Visualisasi data adalah hasil integrasi web scraping dengan
sumber: macrotrends.net