27/11/2025
“BAGHY EKOLOGIS: Ketika Tanah Menagih Utang Kezaliman”
Musibah demi musibah yang menimpa Sumatra Utara akhir-akhir ini sebenarnya bukan tiba-tiba, bukan misteri, dan bukan semata cuaca. Alam hanya sedang membacakan nota protesnya atas kelakuan manusia. Dalam bahasa agama, ini bagian dari baghy—kezaliman yang melampaui batas—yang oleh Nabi disebut sebagai dosa yang azabnya disegerakan di dunia.
Selama bertahun-tahun, kita memperlakukan bumi bukan sebagai amanah, tetapi sebagai barang rampasan. Hutan yang dulu lebat dipangkas sampai botak. Gunung yang seharusnya menjadi penjaga stabilitas tanah dikeruk seperti tak punya nilai. Tanah digali tanpa pertimbangan, sungai dipersempit, kontur alam diacak tanpa ilmu dan tanpa adab.
Pertanyaannya sederhana:
kalau semua itu dirusak, di mana lagi air akan disimpan?
Kalau pegunungan dilukai, apa lagi yang menahan longsor?
Kalau tanah dilubangi tanpa kendali, bagaimana ia mampu menahan hujan?
Kita sering menyalahkan cuaca, padahal akar masalahnya adalah nafsu rakus manusia. Ketika tangan yang kuat mengambil terlalu banyak, dan tangan yang lemah ikut merusak demi bertahan hidup, kerusakan menjadi sistem, bukan lagi insiden.
Allah sudah mengingatkan:
“Telah tampak kerusakan di darat dan laut akibat ulah tangan manusia.”
(QS. Ar-Rum: 41)
Kerusakan itu bukan ayat simbolik. Ia nyata. Ia datang dalam bentuk:
air bah yang menghempas rumah,
tanah yang runtuh menelan badan jalan,
sungai yang berubah warna dan arusnya,
ladang yang tenggelam,
bahkan nyawa yang melayang.
Musibah hari ini bukan hanya bencana alam—ini tagihan atas utang kezaliman ekologis yang kita kumpulkan perlahan-lahan. Dan seperti utang lainnya, ia harus dibayar. Bedanya, alam menagih tanpa menunggu jatuh tempo.
Di tengah situasi ini, kita butuh dua hal:
Pertama, kesadaran kolektif bahwa kerusakan ini bukan takdir buta, tapi akibat langsung dari kebijakan dan perilaku manusia.
Kedua, keberanian moral untuk menghentikan baghy sebelum tanah ini semakin lelah menanggung beban dosa ekologis kita.
Bumi tak pernah berhenti bicara.
Kadang suaranya angin, kadang hujan, kadang gemuruh.
Dan hari ini, suaranya tegas:
“Cukup.”