29/02/2020
السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ
Semoga saudara-saudaraku dalam keadaan sehat dan berada dalam lindungan Allah SWT. Amin ya rabbal 'alamin.
Ada persepsi atau pandangan2 yang salah dengan situasi dan kondisi di lingkungan madrasah dan pondok pesantren saat ini. Pandangan yang beredar dalam masyarakat adalah bahwa pelajar yang menimba ilmu di madrasah atau di pondok pesantren identik dengan para pelajar yang nakal,bodoh ataupun bandal.
Barangkali mereka yang memvonis keadaan santri tersebut hanya mengamati dari satu sudut pandang saja. Padahal bila kita menelisik jauh kedalam,kita dapati beberapa fakta2 tentang latar belakang para santri yang belajar di madrasah dan ponpes tertentu.
Salah satunya adalah keengganan para orangtua (dalam hal ini kita sebagai masyarakat),memasukkan anak2nya yang ber-IQ tinggi dan pintar ke madrasah atau ponpes. Orangtua lebih tertarik memasukkan anak2 tersebut ke Sekolah Umum dan Kejuruan dengan harapan agar anak tersebut lebih mudah sukses dan bekerja di perusahan2 elit,lembaga pemerintahan,atau lain sebagainya.
Mirisnya adalah manakala anak yang paling nakal,bodoh dan susah diatur, tentu itulah yang akan dimasukkan ke madrasah atau ponpes tertentu,dengan harapan supaya si anak tersebut sadar dan bertaubat. Orangtua menganggap bahwa pondok pesantren adalah tempat berbengkelnya orang2 yang kurang beradab. Apa yang terjadi selanjutnya pada anak nakal yang dititipkan di ponpes tersebut? tidak lain dan tidak bukan malah tambah jahat dan tidak beradab. Bagaimana tidak saudaraku, sedangkan orangtuanya saja kewalahan mengajar dan menasehati si anak, apalagilah sang ustad/muallim/muallimah.
Lalu kemudian para orangtua dengan seenaknya saja langsung memvonis bahwa madrasah yang ini tidak baguslah atau pesantren itu tidak becus mendidik. Mereka tidak sadar dengan kondisi awal dan latar belakang anak2 mereka sendiri.
Untuk itulah saudaraku, mari kita titipkan anak2 terbaik kita di madrasah2 atau di pondok pesantren tertentu, dengan jaminan menjadi anak soleh/soleha yang akan mendoakan kedua orangtuanya. Dan juga sebagai tanggung jawab para orangtua untuk mengajarkan ilmu agama kepada anak2 mereka.
Sebagai inti sari dari pemasalahan diatas adalah Q.S.al-Tahrim/66:6
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلَائِكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَا يَعْصُونَ اللَّهَ مَا أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ (6)
Artinya: Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, yang keras, yang tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.
Dan hadits Nabi sebagai berikut:
عن عكرمة عن ابن عباس مرفوعا : إفتحوا على صبيانكم أول كلمة (لا إله إلا الله).
Artinya: Dari Ikrimah, dari Ibn Abbas yang merupakan hadits marfu’. Ajarkanlah anakmu kalimat lailaha illa allah.
Harapan kita semua adalah semoga kedepan, orangtua lebih sadar dan lebih berminat mendidik anak2 mereka di madrasah dan pondok pesantren. Insya allah anak2 kita akan menjadi generasi yang lebih baik dari masa ini dan tentu generasi yang berakhlaqul karimah. Amin.
وَ السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ.......
Ramadhan Syahputra, Hamdan Siregar, Ridwan Hamzah Stpl Wan, Rusmin Nuryadin Situmeang, Rahmat Hutagalung ,Dll