Sekolah Tinggi Teologi - STT Renatus

Sekolah Tinggi Teologi - STT Renatus STT Renatus bertujuan menjadi STT yang unggul dalam Bidang Teologi dan Pendidikan Agama Kristen

14/03/2015

Cerita Inspiratif Untuk Kita hari Ini...

Anak Yang Cacat

Seorang Ibu sangat gembira ketika menerima telegram dari anaknya yang telah bertahun-tahun menghilang. Apalagi ia adalah anak satu-satunya. Maklumlah anak tersebut pergi ditugaskan perang ke Vietnam pada 4 tahun yang lampau dan sejak 3 tahun yang terakhir, orang tuanya tidak pernah menerima kabar lagi dari putera tunggalnya tersebut. Sehingga diduga bahwa anaknya gugur di medan perang. Anda bisa membayangkan betapa bahagianya perasaan Ibu tersebut. Dalam telegram tersebut tercantum bahwa anaknya akan p**ang besok.

Esok harinya telah disiapkan segalanya untuk menyambut kedatangan putera tunggal kesayangannya, bahkan pada malam harinya akan diadakan pesta khusus untuk dia, dimana seluruh anggota keluarga maupun rekan-rekan bisnis dari suaminya diundang semua. Maklumlah suaminya adalah Direktur Bank Besar yang terkenal diseluruh ibukota.

Siang harinya si Ibu menerima telepon dari anaknya yang sudah berada di airport.

Si Anak: “Bu bolehkah saya membawa kawan baik saya?”

Ibu: “Oh sudah tentu, rumah kita besar dan kamarpun cukup banyak, bawa saja, jangan segan-segan bawalah!”

Si Anak: “Tetapi kawan saya adalah seorang cacat, karena korban perang di Vietnam.”

Ibu: “……oooh tidak jadi masalah, bolehkah saya tahu, bagian mana yang cacat?” – nada suaranya sudah agak menurun

Si Anak: “Ia kehilangan tangan kanan dan kedua kakinya!”

Si Ibu dengan nada agak terpaksa, karena si Ibu tidak mau mengecewakan anaknya: “Asal hanya untuk beberapa hari saja, saya kira tidak jadi masalah..”

Si Anak: “…tetapi masih ada satu hal lagi yang harus saya ceritakan sama Ibu, kawan saya itu wajahnya juga rusak.. begitu juga kulitnya, karena sebagian besar hangus terbakar, maklumlah pada saat ia mau menolong kawannya ia menginjak ranjau, sehingga bukan tangan dan kakinya saja yang hancur melainkan seluruh wajah dan tubuhnya turut terbakar!”

Si Ibu dengan nada kecewa dan kesal: “Nak, lain kali saja kawanmu itu diundang ke rumah kita, untuk sementara suruh saja tinggal di hotel, kalau perlu biar ibu yang bayar nanti biaya penginapannya..”

Si Anak: “…tetapi
ia adalah kawan baik saya Bu, saya tidak ingin pisah dari dia!”

Si Ibu: “Coba renungkan nak, ayah kamu adalah seorang konglomerat yang ternama dan kita sering kedatangan tamu para pejabat tinggi maupun orang-orang penting yang berkunjung ke rumah kita, apalagi nanti malam kita akan mengadakan perjamuan malam bahkan akan dihadiri oleh seorang menteri, apa kata mereka apabila mereka nanti melihat seorang anak dengan tubuh yang cacat dan wajah yang rusak. Bagaimana pandangan umum dan bagaimana lingkungan bisa menerima kita nanti? Apakah tidak akan menurunkan martabat kita bahkan jangan-jangan nanti bisa merusak citra binis usaha dari ayahmu nanti.”

Tanpa ada jawaban lebih lanjut dari anaknya telepon diputuskan dan ditutup.

Orang tua dari kedua anak tersebut maupun para tamu menunggu hingga jauh malam ternyata anak tersebut tidak p**ang, ibunya mengira anaknya marah, karena tersinggung, disebabkan temannya tidak boleh datang berkunjung ke rumah mereka.

Jam tiga subuh pagi, mereka mendapat telepon dari rumah sakit, agar mereka segera datang ke sana, karena harus mengidetifitaskan mayat dari orang yang bunuh diri. Mayat dari seorang pemuda bekas tentara Vietnam, yang telah kehilangan tangan dan kedua kakinya dan wajahnyapun telah rusak karena kebakar. Tadinya mereka mengira bahwa itu adalah tubuh dari teman anaknya, tetapi kenyataannya pemuda tersebut adalah anaknya sendiri! Untuk membela nama dan status akhirnya mereka kehilangan putera tunggalnya!

Kita akan menilai bahwa orang tua dari anak tersebut kejam dan hanya mementingkan nama dan status mereka saja, tetapi bagaimana dengan diri kita sendiri? Apakah kita lain dari mereka?

Apakah Anda masih tetap mau berkawan:

……. dengan orang cacat?

……..yang bukan karena cacat tubuh saja?

……. tetapi cacat mental atau

……..cacat status atau cacat nama atau

……..cacat latar belakang kehidupannya?

Apakah Anda masih tetap mau berkawan dengan orang

…….yang jatuh miskin?

…… yang kena penyakit AIDS?

…….yang bekas pelacur?

…….yang tidak punya rumah lagi?

…….yang pemabuk?

…….yang pencandu?

…….yang berlainan agama?

Renungkanlah jawabannya hanya Anda dan Tuhan saja yang mengetahuinya. Dan yang paling penting adalah “SIKAP” kita dalam memandang suatu hal harus kita ubah menjadi yang lebih baik atau lebih positif. Karena dengan sikap positif secara otomatis akan menumbuhkan sikap rendah hati, peduli terhadap orang lain dan tentunya hal-hal lain yang lebih baik.

09/03/2015

Goog night saudara ku.. :)

Renungan untuk malam ini :

Berjudul tentang Dua Serigala

=> Ada dua ekor serigala di hutan belantara, serigala B menantang serigala A untuk menangkap seekor kelinci yang sedang makan wortel, tidak jauh dari tempat mereka berdiri,

"Ayo Serigala A, kamu bisa ngga tangkap kelinci itu?" tanya serigala B.

"Ah, itu gampang, lihat saja nih!" jawab serigala A dan dengan sigap serigala A itupun melompat ke arah kelinci tersebut dan berlari mengejarnya.

Sedangkan kelinci yang melihat serigala itu, langsung lari terbirit-birit ketakutan, tanpa pikir panjang wortel yang masih dikunyahnya di lemparkan ke arah serigala tersebut, "DUAAAKK!!" begitu suaranya.

Karena serigala adalah binatang yang kuat, maka wortel kecil yang mengenai kepalanya tidak terasa sama sekali, serigala tersebut tetap mengejar kelinci itu, 1 menit.. 2 menit.. 3 menit... sampai 5 menit..

Serigala itu belum dapat menangkap kelinci itu, karena kelinci itu larinya lebih kencang. Serigala itupun kelelahan dan menghentikan pengejarannya.

Dengan perasaan yang sangat malu, dia menunduk berjalan dan kembali ke temannya serigala B.

Setelah sampai di tempat serigala B, maka serigala B itupun bertanya, "Bagaimana? Apakah kamu bisa menangkapnya ?" tanya serigala B, lalu serigala A hanya menggeleng-gelengkan kepalanya yang masih tertunduk.

Serigala B lalu melanjutkan perkataanya, "Kamu tahu, kenapa kamu tidak bisa menangkap kelinci itu? Kamu kalah, karena kamu tidak serius. Kamu berlari mengejar kelinci hanya untuk pamer saja, sedangkan kelinci itu berlari untuk nyawanya."

Untuk orang yang sudah bekerja, mungkin Anda merasa, Anda sangat lelah, Anda capai dengan pekerjaan, bosan, tidak ada kemajuan sama sekali dalam pekerjaan Anda. Itu dikarenakan karena Anda tidak serius dengan pekerjaan Anda.

Cobalah pikirkan kembali, apakah tujuan sebenarnya Anda bekerja?

Sebab, terkadang ada orang yang bekerja, karena tuntutan orang tua agar mencari uang sendiri, atau kadang juga ada orang yang bekerja, karena mereka merasa 'harus' bekerja untuk membantu orang tua mereka menghidupi keluarganya, atau ada juga orang yang bekerja karena untuk dapat pamer pada teman-temannya, pada sanak saudara, bahwa dia sudah bekerja.

Jadi, apakah tujuan Anda bekerja? Demi rasa bangga pada serigala B.
Atau demi rasa lapar?

09/02/2015

Renungan Singkat Arti Mengasihi Dengan Cara Yang Benar

Jawab Yesus kepadanya: “Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu. Itulah hukum yang terutama dan yang pertama. Dan hukum yang kedua, yang sama dengan itu, ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. Pada kedua hukum inilah tergantung seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi.
Tentu sebagai seorang Kristiani, kita telah mengenal dengan baik ayat dari Injil Matius tersebut. Namun demikian tak semua orang percaya dapat memahami dengan baik bagaimana cara menjalankan perkataan Yesus Kristus tersebut. Kita terlalu sering tidak menyadari dengan jujur, sebenarnya apa motivasi hati kita ketika berbuat baik kepada sesama. Apakah kita mengasihi karena memang kita benar-benar mengasihi dengan ketulusan atau karena kita ingin dikasihi (ada pamrih)? Yang pertama itu murni, tapi yang kedua tidak lebih baik dari sama sekali tidak mengasihi. Saat kita mengasihi untuk mendapatkan sesuatu, orang yang kita kasihi itu sedang kita peralat, dan saat kita bertindak benar untuk mendapatkan sesuatu dalam kehidupan spiritual kita, kebenaran kita tidaklah sesungguhnya benar.
cara_mengasihi_sesamaAlkitab berbicara tentang berbuat baik tanpa tangan kanan kita mengetahui apa yang tangan kiri kita lakukan. Salah satu cara saya memahaminya adalah kita harus berbuat baik karena dimotivasi oleh kasih dari dalam hati kita, kasih yang terlebih dahulu mengalir masuk dari Allah dan memenuhi kita.
Saat kita merenungkan betapa Allah mengasihi kita dan bukannya betapa penyayangnya diri kita, kita cenderung mengasihi orang lain tanpa keegoisan. Namun saat kita mengasihi untuk dikasihi, kasih kita didorong suatu kebutuhan untuk dikasihi kembali. Saat kasih kita tidak dibalas, kita tidak lagi ingin mengasihi. Hal yang sama dengan kebenaran. Saat kita berpikir betapa baiknya diri kita, kita tidak lagi baik. Sebaliknya, saat kita renungkan betapa baiknya Allah, dan betapa kita dikasihi oleh Dia, maka kita akan hidup di dalam kebenaran itu. Memang tidak mudah untuk membedakan keduanya, tapi yang satunya akan mengikat kita dan satunya akan memerdekakan.
Kita hidup dan mengasihi tanpa mengharapkan apa-apa karena kita hidup di dalam keyakinan bahwa Allah mengasihi kita. Kita mengasihi orang lain demi Allah dan bukan demi diri kita sendiri

06/02/2015

SIKAP HIDUP ORANG KRISTEN

Matius 7:1-12. Menarik untuk diperhatikan bahwa khotbah di bukit ini merupakan rangkaian khotbah yang sangat terstruktur. Di pasal 5 dan 6, Yesus berbicara mengenai diri pribadi atau jati diri orang Kristen, bagaimana orang Kristen harus memiliki watak seperti Kristus. Yesus menetapkan standar karakter yang tinggi bagi pengikut-pengikut-Nya. Orang Kristen harus memiliki karakter yang lebih unggul dari dunia, sehingga terlihat perbedaan antara pengikut Kristus dan yang bukan. Kemudian di pasal 7, Yesus berbicara tentang hubungan orang Kristen dengan orang lain dan Bapa Surgawi. Jika kita memiliki karakter Kristus maka kita harus mempraktekkannya. Dalam teks pembacaan ini ada 3 sikap yang perlu dilakukan seorang pengikut Kristus.

1. Sikap terhadap Saudara Seiman (ayat 1-5,12)

a. Jangan menghakimi (1-5)
Yesus secara khusus mengangkat hal ini karena sikap ini sering kali kita lakukan dan sering kali p**a kita tidak sadar bahwa kita sudah melakukannya. Seringkali kita lebih melihat kesalahan atau kekurangan saudara kita yang cuma sedikit namun tidak menyadari kesalahan/kekurangan kita yang banyak.

Pelarangan Yesus untuk menghakimi tidak berarti menutup mata terhadap kesalahan dan kekurangan saudara-saudara kita. Yesus tidak sedang bermaksud menghilangkan sikap kritis kita untuk menyatakan kesalahan orang lain. Pelarangan ini jangan membuat kita menjadi takut untuk menyatakan kesalahan atau memberikan kritikan kepada orang lain jika memang itu perlu untuk dilakukan. Sebaliknya, arti menghakimi adalah:
• Berusaha mencari-cari kesalahan orang lain untuk menjatuhkannya.
• Memberikan cap atau label atau julukan pada seseorang padahal orang itu tidaklah seperti itu. Mungkin memang orang itu pernah melakukan suatu kesalahan, namun tidak menjadi kebiasaannya.
• Menyalahkan atau menuduh seseorang sebelum tahu persoalan yang sebenarnya, lalu memberi hukuman terhadap orang tersebut.
• Menganggap diri selalu benar sedangkan orang lain selalu salah. Sikap-sikap seperti itulah yang dikatakan oleh Yesus sebagai sikap menghakimi.

b. Perlakukan orang lain seperti kita mau diperlakukan (ayat 12)
Pada ayat 1-5, Yesus melarang kita untuk menghakimi dengan mencari-cari kesalahan, menuduh, memberi cap pada orang lain karena kita tidak lebih baik dari orang lain. Kita masih manusia yang masih bisa bersalah karena itu Yesus menasihatkan supaya kita menghargai dan menjaga perasaan sesama kita. Kita tentu mau diperlakukan dengan baik, maka kita harus lebih dahulu bersikap baik dan memperlakukan orang lain dengan baik. Jika kita mau dihargai, kita harus menghargai orang lain. Jika kita mau orang tersenyum kepada kita, tersenyumlah lebih dulu. Jika kita tidak mau dibenci, janganlah membenci orang lain.

Yesus mengatakan bahwa ayat ini merupakan inti dari hukum Taurat. Jika kita sudah melakukan dan mempraktekkannya maka kita sudah melakukan hukum Taurat. Jadi marilah kita memperlakukan saudara-saudara kira sebagaimana kita mau diperlakukan.

2. Sikap terhadap ”anjing” dan ”babi”
Sepintas mendengar ucapan ini kita bisa kaget karena terkesan sangat kasar, padahal sebelumnya Yesus menganjurkan kita untuk bersikap baik terhadap orang lain. Tentu ada alasan Yesus mengatakan hal demikian. Salah satu alasannya adalah karena Yesus adalah pribadi yang jujur dan tidak s**a kompromi. Jika ya, dikatakan ’ya’, jika tidak dikatakan ’tidak’. Yesus bersikap baik terhadap orang lain namun dalam kasus-kasus tertentu yang bersifat prinsipil dalam hubungannya dengan kebenaran, Yesus bersikap tegas tanpa kompromi. Di beberapa bagian Injil terdapat perkataan Yesus yang keras. Yesus dengan berani mengatakan Herodes Antipas sebagai ’serigala’ karena kejahatannya (Lukas 13:32), Yesus menyebut ahli Taurat dan orang Farisi ’kuburan yang dilabur putih’ dan ’keturunan ular beludak’ (Mat. 23:27,33) karena kemunafikan mereka.

Kita memang tidak boleh menghakimi, menuduh, mencari-cari kesalahan orang lain tetapi jika ada terjadi kesalahan janganlah disembunyikan atau kompromi. Lalu siapakah yang disebut Yesus sebagai ’anjing’ dan ’babi’? Kata ’anjing’ ini tidak sama dalam Matius 15:26 (perempuan Kanaan). Anjing dalam Mat 15:26 adalah sejenis anjing peliharaan yang disayangi tuannya, tetapi dalam teks ini, anjing yang dimaksudkan adalah anjing liar yang jorok yang berkeliaran di jalan dan hidup dengan makan sampah. Babi adalah binatang haram bagi orang Yahudi dan juga binatang yang senang mengorek-ngorek tanah dengan mulutnya. Kedua binatang ini menggambarkan orang yang menolak dan melecehkan Firman Tuhan, lalu menghina dan mengejek Tuhan. Sedangkan mutiara menggambarkan berita Injil. Kedua kata ini tidaklah ditujukan kepada seorang pencuri atau perampok atau penjahat lainnya, namun ditujukan kepada seorang yang dengan sadar memandang remeh Injil atau Firman Tuhan. Bisa jadi dia adalah seorang yang terhormat dalam masyarakat, orang yang kaya, namun tidak mau menerima Firman, malah menolak dan menghina Allah terang-terangan. Kepada orang seperti inilah Yesus melarang kita untuk terus memberitakan Injil.

Jadi sikap kita terhadap orang seperti ini adalah jika kita sudah memberitakan Injil namun ia terus menolak bahkan melecehkan Injil, maka jangan lagi beritakan Injil kepadanya karena ia malah akan semakin merendahkan martabat Injil dan menghina Allah.

3. Sikap terhadap Bapa di Surga (ay. 7-11)
Setelah mengajarkan sikap terhadap sesama, maka Yesus beralih kepada hubungan dengan Bapa di surga. Dalam teks ini secara khusus menyorot hubungan dengan Bapa dalam hal pengabulan doa. Frasa ini menunjukkan suatu kedekatan yang erat antara anak dan Bapa dimana sebagai anak kita harus menjalin hubungan yang erat dengan Bapa dalam doa supaya kita dimampukan melakukan perintah-Nya.

Ketika kita mengharapkan sesuatu dari Bapa, Yesus mengajarkan untuk ”mintalah..., carilah..., dan ketoklah....” maka Bapa pasti akan memberi yang terbaik. Hal berdoa ini sangat sederhana tetapi mengandung unsur yang sangat penting yang harus kita ketahui dan lakukan:
a. Pengetahuan. Bapa akan memberi sesuai dengan kehendak-Nya karena itu kita harus tahu apa yang menjadi kehendak-Nya agar doa kita dikabulkan. Cara untuk mengetahui adalah belajar dan merenungkan Firman-Nya serta bersekutu erat dengan-Nya.
b. Iman. Jika kita sudah mengetahui kehendak Bapa maka unsur lain yang perlu ada adalah iman. Kita harus mengimani dan sungguh-sungguh percaya maka pasti Dia akan mengabulkan doa kita sesuai kehendak-Nya.
c. Keinginan. Kita tahu kehendak Bapa, kita mengimani bahwa Bapa pasti memberi, dan memang itu sangat kita inginkan atau butuhkan, percayalah Bapa pasti akan memberikannya.

Marilah kita memiliki sikap yang benar dalam berhubungan dengan sesama kita dan teristimewa dalam hubungan kita dengan Bapa di surga.

Foto Dosen Saat Wisuda angkatan ke 5, Jumat, 17 Juli 2014
05/02/2015

Foto Dosen Saat Wisuda angkatan ke 5, Jumat, 17 Juli 2014

Foto wisudah alumni 2014 bersama para dosen
05/02/2015

Foto wisudah alumni 2014 bersama para dosen

04/02/2015

LETIH, LESU DAN TAK BERDAYA

Baca: Matius 11:25-30

"Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu." Matius 11:28

Apakah saat ini Saudara merasa letih, lesu dan tak berdaya karena beratnya beban permasalahan yang harus Saudara tanggung dalam hidup ini? Mulai dari bangun pagi sampai hendak tidur malam banyak perkara yang kita pergumulkan dan keluhkan, mulai dari masalah keuangan keluarga yang pas-pasan, usaha yang seret dan sedang berada di ujung tanduk, beban pekerjaan, dan suasana kerja yang tidak kondusif, kesehatan yang terganggu karena sakit-penyakit yang lama belum kunjung sembuh, belum lagi anak-anak di rumah yang susah diatur dan studinya yang kian terseok-seok.

Dalam hal pelayanan pun kita merasa bahwa pelayanan yang kita lakukan selama ini serasa sia-sia, tidak ada kemajuan, jalan di tempat dan kita pun berniat untuk mundur karena tidak tahan dengan tekanan dari berbagai pihak. Akhirnya kekuatiran dan kecemasan terus saja membayangi langkah kaki kita yang kian gontai. Abraham L. Feinberg, seorang rohanian Amerika, menulis tentang sepuluh kita untuk menikmati kebahagiaan hidup. Salah satu dari sepuluh kiat itu adalah: "Berhentilah kuatir. Rasa kuatir akan membinasakan hidupmu." Alkitab juga menegaskan bahwa kekuatiran itu sama sekali tidak mendatangkan kebaikan bagi seseorang, sebab "Kekuatiran dalam hati membungkukkan orang," (Amsal 12:25), dan "Siapakah di antara kamu yang karena kekuatirannya dapat menambahkan sehasta saja pada jalan hidupnya?" (Matius 6:27).

Mengapa Saudara harus memikul beban itu sendirian? Rasul Petrus menasihati, "Serahkanlah segala kekuatiranmu kepada-Nya, sebab Ia yang memelihara kamu." (1 Petrus 5:7). Tuhan berjanji, "Aku sekali-kali tidak akan membiarkan engkau dan Aku sekali-kali tidak akan meninggalkan engkau." (Ibrani 13:5b). Karena itu kuatkan diri dan tetaplah percaya kepada Tuhan Yesus! Keadaan dunia ini boleh saja berubah, tetapi kita punya Tuhan yang tidak pernah berubah: kuasa, kasih, kemurahan dan kebaikan-Nya "...tetap sama, baik kemarin maupun hari ini dan sampai selama-lamanya." (Ibrani 13:8). Tuhan Yesus tetaplah sebagai jalan dan kebenaran dan hidup bagi orang percaya.

"Aku telah melakukannya dan mau menanggung kamu terus; Aku mau memikul kamu dan menyelamatkan kamu." Yesaya 46:4b

Address

Jalan H. Ulakma Asahan. Km. 4 Rambung Merah Pematang Siantar
Siantar
21151

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Sekolah Tinggi Teologi - STT Renatus posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Contact The School

Send a message to Sekolah Tinggi Teologi - STT Renatus:

Shortcuts

Share

Category