Belajar kitab kuning atau gundul metode al ishlahi

Belajar kitab kuning atau gundul metode al ishlahi

Share

الصرف امّ العلم والنحو ابوها

shorof adalah ibunya ilmu dan nahwu bapaknya

23/08/2025

Jamak yang tidak beraturan alias jamak taktsirr, jamak ada 3 macam ;
1. Jamak MUDZAKKAR SALIM bentuknya teratur tinggal ditambahkan wawu dan nun dalam keadaan rofa' dan ditambahkan ya dan nun dalam keadaan nashob dan jer dengan syarat huruf sebelum ya dikatsrohkan dan huruf nunmya difathahkan karena apabila sebaliknya yakni huruf sebelum ya difathahkan dan nunmya dikasrohkan maka bentuknya berubah menjadi TATSNIYYAH yaitu Kalimah isim yang menunjukkan makna dua.
2. Jamak muannats Salim bentuknya beraturan yakni dengan tambahan Alif dan Ta di akhir lafadz.
3. Jamak taksir bentuknya tidak beraturan seperti contoh berikut 👇

21/07/2025

sering terbalik

seharusnya ketika kita melihat keindahan dan kekaguman maka kita ucapkan MAA SYAA ALLAH adapun ketika kita melihat kejahatan , keburukan dan kemaksiatan maka kita ucapkan SUBHANALLAH tetapi kenyataannya sering tertukar contoh gampangnya ketika kita melihat seorang perempuan yang berparas cantik dengan pakaian yang rapih menutup aurat lalu lewat di depan kita sambil tersenyum apa yang kita ucapkan? subhanallah atau maa syaa allah?

Luass

18/07/2025

Tentang lafadz HAITSU

1. sebagai isim mabni dlomah mahal jer bila didahului huruf jer MIN
2. sebagai dhorof zaman mabni dlomah mahal nashob bila tidak didahului dengan huruf jer

18/07/2025

lafadz istifham atau lafadz yang digunakan untuk bertanya

aina = dimana
mata = kapan
maadza = apa
limaadza ÷ mengapa
kam = berapa
kaifa = bagaimana
man = siapa

03/07/2025

"" kaidah-kaidah ilmu nahwu dan shorof""

agar kita bisa membaca kitab kuning gundul kita harus dan wajib bahkan merupakan syarat mutlak menguasai kaidah-kaidah ilmu nahwu dan shorof tanpa menguasai ilmu nahwu dan shorof mustahil seseorang biasa membaca kitab kuning gundul dimulai dari dasar pengenalan tentang kalimah yang tiga yaitu :

1. kalimah isim

2. kalimah fi'il dan

3. kalimah huruf

Al'awamil 2 03/11/2023

Assalamualaikum untuk yang ingin join grup al'awamil bisa klik link dibawah ini

Al'awamil 2 WhatsApp Group Invite

02/11/2023

[21/6 02.56] My Wife: Pembagian fi'il

1. Fi'il tsulatsi (fi'il 3 hurup)

1.1. Fi'il tsulatsi Mujarrod (fi'il 3 hurup tanpa tambahan) mempunyai 6 bab ;

1. Nashoro (نَصَرَ)
2. Dloroba (ضَرَبَ)
3. Fatah (فَتَحَ)
4. Alima (عَلِمَ)
5. Hasuna (حَسُنَ)
6. Hasiba (حَسِبَ)

1.2. Tsulatsi Majid
Mempunyai tiga kelompok ;

*kelompok pertama mempunyai tiga bab :

1. Akroma (اَكْرَمَ)
2. Farroha (فَرَّحَ)
3. Qootala (قَاتَلَ)

*kelompok kedua
Mempunyai 5 bab :

1. inkasaro (اِنْكَسَرَ)
2. ijtama'a (اِجْتَمَعَ)
3. ihmarro (اِحْمَرَّ)
4. Ta'allama (تَعَلَّمَ)
5. Tabaa'ada (تَبَاعَدَ)

*kelompok ketiga
Mempunyai enam bab ;

1. istakhroja (اِسْتَخْرَجَ)
2. i'syausyaba (اِعْشَوْشَبَ)
3. ijlawwada (اِجْلَوَّذَ)
4. islanQoo (اِسْلَنْقَی)
5. iQ'ansasa (اِقْعَنْسَسَ)
6. ihmaarro (اِحْمَارَّ)

2. Fi'il ruba'i (fi'il empat huruf)

2.1. Fi'il ruba'i Mujarrod (fi'il empat huruf asal tanpa tambahan)
Mempunyai 1 bab yaitu :

Dahroja (دَحْرَجَ) dan Dahroja (دَحْرَجَ) ini mempunyai mulhaq enam ;

1. Hauqola (حَوْقَلَ)
2. Jahwaro (جَهْوَرَ)
3. Baithoro (بَيْطَرَ)
4. Asy-yaro (عَشْيَرَ)
5. Salqoo (سَلْقَی)
6. Jalbaba (جَلبَبَ)

2.2. Fi'il ruba'i Majid (fi'il empat huruf asal dengan tambahan) mempunyai dua kelompok ;

*kelompok pertama hanya mempunyai 1 bab yaitu ;

TaDahroja (تَدَحْرَجَ) dan tadahroja (تَدَحْرَجَ ) ini mempunyai 8 mulhaq ;

1. Tahauqola (تَحَوْقَلَ)
2. Tajahwaro (تَجَهْوَرَ)
3. Tabaithoro (تَبَيْطَرَ)
4. Tasalqoo (تَسَلْقَی)
5. Tajalbaba (تَجَلْبَبَ)
6. Ta'asyyaro (تَعَشْيَرَ)
7.Tasyaithona (تَشَيْطَنَ)
8.Taqolnasa (تَقَلْنَسَ)

*kelompok kedua mempunyai 2 bab yaitu :

1. iqsya'arro (اِقْشَعَرَّ)

Dan mulhaqnya iqsya'arro yaitu : ithma-anna (اِطْمَأَنَّ)

2. ihronjama (اِحْرَنْجَمَ)

Jumlah wajan tashrif yaitu 39.

Bina 9 :

1. Sholih (صَحِيْحٌ)
2. Mitsal (مِثَالٌ)
3. Naqish (نَاقِصٌ)
4. ajwaf (اَجْوَفُ)
5. Lafif maqrun (لَفِيْفٌ مَقْرُوْنٌ)
6. Lafif mafruq (لَفِيْفٌ مَفْرُوْقٌ)
7. Mahmuz (مَهْمُوْزٌ)
8. Mudlo'af (مُضَاعَفٌ)
[21/6 10.30] Ahmad Buher: Pembagian fi'il

1. Fi'il tsulatsi (fi'il 3 hurup)

1.1. Fi'il tsulatsi Mujarrod (fi'il 3 hurup tanpa tambahan) mempunyai 6 bab ;

1. Nashoro (نَصَرَ)
2. Dloroba (ضَرَبَ)
3. Fatah (فَتَحَ)
4. Alima (عَلِمَ)
5. Hasuna (حَسُنَ)
6. Hasiba (حَسِبَ)

1.2. Tsulatsi Majid
Mempunyai tiga kelompok ;

*kelompok pertama mempunyai tiga bab :

1. Akroma (اَكْرَمَ)
2. Farroha (فَرَّحَ)
3. Qootala (قَاتَلَ)

*kelompok kedua
Mempunyai 5 bab :

1. inkasaro (اِنْكَسَرَ)
2. ijtama'a (اِجْتَمَعَ)
3. ihmarro (اِحْمَرَّ)
4. Ta'allama (تَعَلَّمَ)
5. Tabaa'ada (تَبَاعَدَ)

*kelompok ketiga
Mempunyai enam bab ;

1. istakhroja (اِسْتَخْرَجَ)
2. i'syausyaba (اِعْشَوْشَبَ)
3. ijlawwada (اِجْلَوَّذَ)
4. islanQoo (اِسْلَنْقَی)
5. iQ'ansasa (اِقْعَنْسَسَ)
6. ihmaarro (اِحْمَارَّ)

2. Fi'il ruba'i (fi'il empat huruf)

2.1. Fi'il ruba'i Mujarrod (fi'il empat huruf asal tanpa tambahan)
Mempunyai 1 bab yaitu :

Dahroja (دَحْرَجَ) dan Dahroja (دَحْرَجَ) ini mempunyai mulhaq enam ;

1. Hauqola (حَوْقَلَ)
2. Jahwaro (جَهْوَرَ)
3. Baithoro (بَيْطَرَ)
4. Asy-yaro (عَشْيَرَ)
5. Salqoo (سَلْقَی)
6. Jalbaba (جَلبَبَ)

2.2. Fi'il ruba'i Majid (fi'il empat huruf asal dengan tambahan) mempunyai dua kelompok ;

*kelompok pertama hanya mempunyai 1 bab yaitu ;

TaDahroja (تَدَحْرَجَ) dan tadahroja (تَدَحْرَجَ ) ini mempunyai 8 mulhaq ;

1. Tahauqola (تَحَوْقَلَ)
2. Tajahwaro (تَجَهْوَرَ)
3. Tabaithoro (تَبَيْطَرَ)
4. Tasalqoo (تَسَلْقَی)
5. Tajalbaba (تَجَلْبَبَ)
6. Ta'asyyaro (تَعَشْيَرَ)
7.Tasyaithona (تَشَيْطَنَ)
8.Taqolnasa (تَقَلْنَسَ)

*kelompok kedua mempunyai 2 bab yaitu :

1. iqsya'arro (اِقْشَعَرَّ)

Dan mulhaqnya iqsya'arro yaitu : ithma-anna (اِطْمَأَنَّ)

2. ihronjama (اِحْرَنْجَمَ)

Jumlah wajan tashrif yaitu 39.

Bina 9 :

1. Sholih (صَحِيْحٌ)
2. Mitsal (مِثَالٌ)
3. Naqish (نَاقِصٌ)
4. ajwaf (اَجْوَفُ)
5. Lafif maqrun (لَفِيْفٌ مَقْرُوْنٌ)
6. Lafif mafruq (لَفِيْفٌ مَفْرُوْقٌ)
7. Mahmuz (مَهْمُوْزٌ)
8. Mudlo'af (مُضَاعَفٌ)
[22/6 11.32] Ahmad Buher: 'Amil lafadz yang bersifat qiyas atau 'amil lafadz qiyasi adalah amil lafadz yang bentuknya dapat diukur dengan cara mencari persamaan dari bentuk yang sudah ditetapkan yaitu berjumlah 7 amilnya :

[1] Fi'il atas jalan ithlaq (اَلْفِعْلُ عَلَی الْاِطْلَاقِ)

Yaitu semua jenis kalimah fi'il baik fi'il madli, mudlori' maupun fi'il amar yang tiga-tiganya itu _madli, mudlori' dan amar merupakan amil lafadz yang bersifat qiyas yaitu beramal atau bertugas merofa'kan pada isim yang menjadi failnya dan menashobkan pada isim yang menjadi maf'ul bihnya apabila fi'ilnya termasuk fi'il yang muta'ad yakni fi'il yang sampai pada maf'ul bihnya , contoh :

ضَرَبَ زَيْدٌ عَمْرًا

Telah memukul oleh zaid pada si amar .

Keterangan :

**Dloroba (ضَرَبَ) = fi'il madli.

**Zaidun (زَيْدٌ) = isim yang dirofa'kan oleh fi'il ضَرَبَ yang kedudukannya menjadi pelaku (fa'il) dari fi'il ضَرَبَ .

**Amron (عَمْرًا) = isim yang dinashobkan oleh fi'il ضَرَبَ yang kedudukannya menjadi sasaran (maf'ul bih) dari perbuatan fi'il ضَرَبَ .

[2] isim fail (اِسْمٌ فَاعِلٌ)

isim fail berwazan atau berpola فَاعِلٌ jika dari jenis fi'il tsulatsi mujarrod contoh : نَاصِرٌ (orang yang menolong)

sedangkan untuk isim faa'il dari jenis fi'il selain tsulatsi mujarrod yaitu berwazan mengikuti fi'il mudlorinya hanya saja huruf mudloro'ahnya (huruf penanda fi'il mudlori'nya) dibuang lalu digantikan dengan huruf mim yang didlommahkan lalu huruf sebelum akhir dari fi'il mudlori tersebut dikasrohkan contoh : مُكْرِمٌ adalah isim fail yang dibentuk dari fi'il mudlori يُكْرِمُ lalu dibuang huruf Ya (ي) dalam يُكْرِمُ sehingga menjadi كْرِمُ lalu huruf Ya (ي) yang dibuang tersebut digantikan dengan huruf mim yang didlommahkan (مُ) sehingga menjadi مُكْرِمٌ (orang yang memuliakan) jadi isim fail نَاصِرٌ dan مُكْرِمٌ dan yang semisal dengan keduanya adalah amil lafadz yang besifat qiyas atau amil lafadz qiyasi yang beramal atau bertugas seperti fi'ilnya yaitu merofakan isimnya lalu isim yang dirofa'kan oleh isim fa'il ini disebut fa'il Dan isim fa'il juga menashobkan pada isimnya lalu isim yang dinashobkan oleh isim fa'il ini disebut maf'ul bihnya contoh :

زَيْدٌ ضَارِبٌ غُلَامُهُ عَمْرًا

"Bermula si zaid yaitu orang yang memukul oleh pelayannya zaid pada si amar"

Keterangan :

Zaidun (زَيْدٌ) mubtada

Dlooribun (ضَارِبٌ) = amil lafadz qiyasi berupa isim fa'il menjadi khobar

Gulaamu (غُلامُ) fa'il yang dirofa'kan oleh ضَارِبٌ ,dan Gulaamu (غُلامُ) mudlof,
Hu (هُ) dlomir muttashil mabni dlommah mahal jer mudlof ileh.

Amron (عَمْرًا) menjadi maf'ul bih dinashobkan oleh amil lafadz qiyasi berupa isim fa'il yaitu ضَارِبٌ

perlu diketahui bahwa isim fa'il dan fa'il adalah dua hal yang berbeda bila isim fa'il kaitannya dengan bentuk suatu kalimah yaitu berwazan فَاعِلٌ atau مُفْعِلٌ sedangkan fa'il yaitu kedudukan suatu kalimah dalam kalimat yaitu sebagai pelaku dari suatu pekerjaan contoh :

خَرَجَ زَيْدٌ

"Telah keluar oleh si zaid"

Keterangan :

Khoroja (خَرَجَ) = fi'il
Zaidun (زَيْدٌ) = fa'ilnya yaitu pelaku pekerjaan keluar .

[3] isim maf'ul (اِسْمٌ مَفْعُوْلٌ)

isim maf'ul dibentuk dengan pola مَفْعُوْلٌ seperti مَضْرُوْبٌ maknanya orang yang dipukul apabila dibentuk dari jenis fi'il tsulatsi mujarrod sedangkan apabila dibentuk dari fi'il selain tsulatsi mujarrod maka bentuk isim maf'ulnya diambil dari fi'ilnya sebagaimana yang terjadi pada isim fa'il namun perbedaannya isim maf'ul sebelum huruf akhir difathahkan, contoh : مُكْرَمٌ maknanya orang yang dimuliakan. isim maf'ul merupakan amil lafadz qiyasi yang pengamalannya atau tugasnya yaitu merofa'kan pada isimnya saja lalu isim yang dirofa'kan oleh isim maf'ul ini kedudukan kalimahnya menjadi maf'ul bih yang menggantikan fa'il yang tidak disebutkan karena isim maf'ul setara dengan fi'il yang majhul dan beramal seperti fi'il yang majhul yaitu merofa'kan isimnya yang menjadi maf'ul bih namun maf'ul bih tidak diberi i'rob nashob tapi diberi i'rob rofa' karena menggantikan fa'il sebagaimana fa'il diberi i'rob rofa' maka penggantinya pun yang disebut naibul fa'il juga diberi i'rob rofa' contoh :

زَيْدٌ مَضْرُوْبٌ غُلَامُهُ

"Bermula si zaid yaitu orang yang dipukul terhadap pelayannya zaid"

Keterangan :

Zaidun (زَيْدٌ) = mubtada.

Madlruubun (مَضْرُوْبٌ) = isim maf'ul.

Gulamu (غُلَامُ) = naibul fa'il yang dirofa'kan oleh isim maf'ul, غُلَامُ mudlof , Hu (هُ) dlomir muttashil mudlof ileh kembali ke zaidun (زَيْدٌ).

Perlu diketahui bahwa isim maf'ul dan maf'ul bih adalah dua hal yang berbeda bila isim maf'ul kaitannya dengan bentuk suatu kalimah yaitu berwazan مَفْعُوْلٌ atau مُفْعَلٌ atau wazan yang lainnya sedangkan maf'ul bih yaitu kedudukan suatu kalimah dalam kalimah yaitu sebagai sasaran dari suatu pekerjaan Dan isim maf'ul bisa beramal atau bertugas merofa'kan isimnya sedangkan maf'ul bih tidak bisa beramal malah dikenai amal atau dikenai tugas.

[4] Sifat musyabbahat atau musyabbihat (اَلصِّفَةُ الْمُشَبّهَةُ)

Sifat musyabbihat adalah isim fail dari jenis fi'il yang lazim (fi'il yang hanya merofa'kan fa'ilnya tidak memiliki maf'ul bih) dan sifat musabbihat ini beramal atau bertugas merofa'kan isimnya lalu isim yang dirofa'kan oleh sifat musyabbihat ini menjadi fa'ilnya karena sifat musyabihat setara dengan fi'il yang lazim sebagaimana fi'il yang lazim merofa'kan failnya begitupun sifat musyabbihat juga merofa'kan fa'ilnya.
[25/6 15.22] Ahmad Buher: Makna amil yang berada pada kelompok yang pertama yang pengamalannya atau yang tugasnya adalah :

تَجُرُّ الْاِسْمَ فَقَطْ

1. Ba (بِ) dengan.

2. Min (من) dari.

3. iLaa (الى) ke atau kepada.

4. Fii (في) di dalam.

5. 'an (عن) dari atau tentang.

6. Wawu QOSAM (وَ) demi.

7. Ba QOSAM (بِ) demi.

8. Ta QOSAM (تَ) demi.

9. Lam (لِ) bagi atau untuk.

10. RUBBA (ربَ) sedikit

11. Wawu RUBBA (وَ) sedikit

12. 'ala (على) atas atau di atas

13. Kaf (كَ) seperti

14. MUDZ (مذ) sejak

15. MUNDZU (منذ) sejak

16. Hatta (حتّى) sampai

17. HAASYAA (حاشا)
kecuali

18. 'ada (عدا) kecuali

19. KHOLAA (خلا) kecuali
[25/6 15.22] Ahmad Buher: Makna amil yang berada pada kelompok yang kedua dari amil lafadz yang bersifat sama'i yang pengamalannya atau yang tugasnya adalah :

تَنْصِبُ الْاِسْمَ وَتَرْفَعُ الْخَبَرَ

1. Inna (اِنَّ) sesungguhnya.

2. Anna (اَنَّ) sesungguhnya.

3. Ka-anna (كَأَنَّ) seakan-akan.

4. Lakinna (لَكِنَّ) tetapi.

5. Laita (لَيْتَ) seandainya.

6. La'alla (لَعَلَّ) mudah-mudahan.
[25/6 15.22] Ahmad Buher: Makna amil yang berada pada kelompok yang keempat dari amil lafadz yang bersifat sama'i yang pengamalannya atau yang tugasnya adalah :

تَنْصِبُ الْاِسْمَ فَقَطْ

1. Wawu (وَ) bersama.

2. Illa (اِلّا) kecuali.

3. Yaa (يَا) wahai.

4. AYaa (اَيَا) wahai.

5. Hayaa (هَيَا) wahai.

6. Ay (اَيْ) wahai.

7. Hamzah yang difathahkan (أَ) wahai.
[25/6 15.22] Ahmad Buher: Makna amil yang berada pada kelompok yang ketiga dari amil lafadz yang bersifat sama'i yang pengamalannya atau yang tugasnya adalah :

تَرْفعُ الْاِسْمَ وَتَنْصِبُ الْخَبَرَ

1. Maa (مَا) tidak sedang.

2. Laa (لَا) tidak.
[25/6 15.22] Ahmad Buher: Makna amil yang berada pada kelompok yang kelima dari amil lafadz yang bersifat sama'i yang pengamalannya atau yang tugasnya adalah :

تَنْصِبُ الْفِعْلَ الْمُضَارِعَ

1. An (اَنْ) sekiranya.

2. Lan (لَنْ) tidak akan.

3. Kay (كَيْ) agar.

4. Idan (اِذَنْ) kalau begitu.
[25/6 15.22] Ahmad Buher: Makna amil yang berada pada kelompok yang ketujuh dari amil lafadz yang bersifat sama'i yang pengamalannya atau yang tugasnya adalah :

تَجْزِمُ الْفِعْلَيْنِ الْمُضَارِعَيْنِ عَلَی مَعْنَی اِنْ

1. Man (مَنْ) siapa seseorang yang.

2. Ma (مَا) apa sesuatu yang.

3. Ayyun (اَيٌّ) mana saja yang.

4. Mataa (مَتَی) kapan saja.

5. Mahma (مَهْمَا) bagaimana saja.

6. Ayna (اَيْنَ) di mana saja.

7. Annaa (اَنَّی) di mana saja.

8. Haitsumaa (حَيْثُمَا) kemana saja.

9. Idzmaa (اِذْمَا) ketika.
[25/6 15.22] Ahmad Buher: Makna amil yang berada pada kelompok yang keenam dari amil lafadz yang bersifat sama'i yang pengamalannya atau yang tugasnya adalah :

تَجْزِمُ الْفِعْلَ الْمُضَارِعَ

1. Lam (لَمْ) tidak pernah.

2. Lammaa (لَمّا) tidak.

3. Lam amer (لِ) hendaklah.

4. Laa nahyi (لَا) janganlah.

5. In syartiyah (اِنْ) jika.
[25/6 15.22] Ahmad Buher: Makna amil yang berada pada kelompok yang kedelapan dari amil lafadz yang bersifat sama'i yang pengamalannya atau tugasnya adalah :

تَنْصِبُ اَسْمَاءَ النَّكِرَاتِ عَلَی التَّمْيِيْزِ

1. Lafadz asyarotun (عَشَرَةٌ) atau lafadz asyarun (عَشَرٌ) maknanya "sepuluh" beramal atau bertugas menashobkan isim nakiroh atas menjadi tamyiz apabila lafadz عَشَرَةٌ atau عَشَرٌ bergandengan dengan isim adad اَحَدٌ (satu) sampai تِسْعَةٌ (sembilan)

2. Kam (كَمْ) istifham maknanya "berapa" digunakan untuk bertanya jumlah.

3. Ka-ayyin (كَأَيِّنْ) maknanya "banyak sekali"

4. Kadzaa (كَذَا) maknanya "sekian banyak"
[25/6 15.22] Ahmad Buher: Kelompok yang kesembilan dari amil lafadz yang bersifat sama'i amilnya berupa kalimah yang dinamakan dengan isim fi'il , isim fi'il ini beramal seperti fi'il,

**ada yang beramal seperti fi'il amer yang

menashobkan pada isimnya seperti :

1. Ruwaida (رُوَيْدَ) dengan makna fi'il amer اَمْهِلْ (amhil) maknanya "berilah tempo oleh kamu" atau maknanya "tunggulah oleh kamu"

2. Balha (بَلْهَ) dengan makna fi'il amer اُتْرُكْ (utruk) maknanya "tinggalkanlah oleh kamu"

3. Duunaka (دُوْنَكَ) dengan makna fi'il amer خُذْ (khudz) maknanya "ambil lah oleh kamu" atau "bawalah oleh kamu".

4. Alaika (عَلَيْكَ) dengan makna fi'il amer اِلْزَمْ (ilzam) maknanya "tetaplah oleh kamu"

5. Haa-a (هَاءَ) juga dengan makna fi'il amer خُذْ (khudz) maknanya "ambil lah oleh kamu" atau "bawalah oleh kamu".

6. Hayyahal (حَيَّهَلْ) dengan makna fi'il amer اِيْتِ (iiti) maknanya "datanglah oleh kamu".

**Ada yang beramal seperti fi'il madli yang lazim yang

Merofa'kan pada isimnya seperti :

1. Haihaata (هَيْهَاتَ) dengan makna fi'il madli بَعُدَ (ba'uda) maknanya "telah jauh".

2. Syattaana (شَتَّانَ) dengan makna fi'il madli اِفْتَرَقَ (iftaroqo) maknanya "telah berbeda" atau "telah terpisah".

3. Sar'aana (سَرْعَانَ) dengan makna fi'il madli سَرُعَ (saru'a) maknanya "telah cepat"
[25/6 15.22] Ahmad Buher: Makna amil yang berada pada kelompok yang kesepuluh dari amil lafadz yang bersifat sama'i , amilnya berupa fi'il naqis yang pengamalannya atau tugasnya adalah :

تَرْفَعُ الْاِسْمَ وَتَنْصِبُ الْخَبَرَ

1. Kaana (كَانَ) ada

2. Shooro (صَارَ) menjadi.

3. Ashbaha (اَصْبَحَ) masuk pada waktu subuh.

4. Amsaa (اَمْسَی) masuk pada waktu sore.

5. Adlhaa (اَضْحَی) masuk pada waktu dluha.

6. Dzolla (ظَلَّ) masuk pada waktu siang.

7. Baata (بَاتَ) masuk pada waktu malam.

8. Maa zaala (مَا زَالَ) terus-menerus atau masih.

9. Maa bariha (مَا بَرِحَ) terus-menerus atau masih.

10. Maa fati-a (مَا فَتِئَ) terus-menerus atau masih.

11. Maa infakka (مَا اِنْفَكَّ) terus-menerus atau masih.

12. Maa daama (مَا دَامَ) selagi terus-menerus atau selagi masih.

13. Laisa (لَيْسَ) tidak ada.
[25/6 15.22] Ahmad Buher: Makna amil yang berada pada kelompok yang kesebelas dari amil lafadz yang bersifat sama'i , amilnya berupa fi'il muqoorobah pengamalannya atau tugasnya adalah :

تَرْفَعُ الْاِسْمَ وَتَنْصِبُ الْخَبَرَ لَكِنْ خَبَرُهَا فِعْلٌ مُضَارِعٌ بِاَنْ قَبْلَهُ .

1. 'Asaa (عَسَی) mudah-mudahan dekat.

2. Kaada (كَادَ) hampir.

3. Karoba (كَرَبَ) hampir.

4. Ausyaka (اَوْشَكَ) hampir.
[25/6 15.22] Ahmad Buher: Makna amil yang berada pada kelompok yang kedua belas dari amil lafadz yang bersifat sama'i yang pengamalannya atau tugasnya :

تَرْفَعُ الْاِسْمَ الْجِنْسَ الْمُعَرَّفَ بِالْاَلِفِ وَاللَّامِ وَالْمَخْصُوْصَ بِالْمَدْحِ وَالذَّمِّ .

Penjelasan :

Kelompok yang kedua belas ini adalah beberapa fi'il yang dinamakan fi'il madah dan dzamm sesuai namanya MADAH artinya pujian karena fi'il ini akan digunakan untuk memuji seperti نِعْمَ dan حَبَّذَا , dan fi'il dzamm artinya celaan seperti بِئْسَ dan سَاءَ karena fi'il madah dan dzamm ini adalah fi'il seperti fi'il-fi'il yang lain maka setiap fi'il pasti membutuhkan fa'il atau isim yang dirofa'kannya terkhusus untuk fi'il madah dan dzamm failnya harus berupa kalimah isim yang diawali dengan alif dan lam (اَلْ) setelah disebutkan failnya lalu disebutkan isim makhsus yaitu isim yang dikhususkan dengan pujian atau celaan contoh :

نِعْمَ الَّرَّجُلُ زَيْدٌ

"Yaitu sebaik-baik oleh lelaki bermula si zaid"

Keterangan :

Ni'ma (نِعْمَ) fi'il madah .
Arrojulu (اَلرَّجُلُ) fail .
Zaidun (زَيْدٌ) isim makhsus , isim makhsus ini kedudukan dalam kalimatnya menjadi mubtada yang letaknya diakhirkan sedangkan ni'ma beserta failnya menjadi khobar yang letaknya didahulukan .

Adapun makna fi'il madah dan dzamm :

1. Ni'ma (نِعْمَ) "yaitu sebaik-baik".

2. Bi-sa (بِئْسَ) "yaitu seburuk-buruk" .

3. Saa-a (سَاءَ) "Yaitu seburuk-buruk" .

4. Habbadza (حَبَّذَا) "yaitu sebaik-baik orang" .
[25/6 15.22] Ahmad Buher: Makna amil yang berada pada kelompok yang ketiga belas (kelompok yang terakhir) dari amil lafadz yang bersifat sama'i amilnya berupa fi'il yang dinamakan dengan fi'il syakk dan fi'il yakin sesuai dengan namanya fi'il syakk artinya fi'il keraguan karena fi'il syak ini merupakan pekerjaan hati di mana hati yang ragu terhadap suatu perkara antara benar dan tidak benar contoh :

ظَنَنْتُ زَيْدًا سَارِقاً

"Menduga oleh saya pada zaid yaitu orang yang mencuri"

Keterangan :

Dhonantu (ظَنَنْتُ) fi'il keraguan dan failnya dlomir tu (تُ) .

Zaidan (زَيْدًا) maf'ul pertama dari ظَنَنْتُ .

Saariqon (سَارِقًا) maf'ul kedua dari ظَنَنْتُ , maf'ul kedua ini secara bacaan dibaca nashob karena menjadi maf'ul sebagaimana maf'ul dari fi'il-fi'il yang lainnya juga dibaca nashob namun secara makna maf'ul yang kedua dari ظَنَنْتُ dan kawan-kawannya itu adalah khobar yang memberi informasi pada maf'ul yang pertama dari ظَنَنْتُ dan kawan-kawannya makanya maf'ul yang kedua dari ظَنَنْتُ dan kawan-kawannya dimaknai "yaitu" karena asalnya adalah khobar .

Adapun makna-maknanya fi'il syakk dan yakin adalah :

1. Hasibtu (حَسِبْتُ) mengira oleh saya .

2. Khiltu (خِلْتُ) menyangka oleh saya .

3. Dhonantu (ظَنَنْتُ) menduga oleh saya .

4. Ro-aitu (رَاَيْتُ) melihat oleh saya .

5. Alimtu (عَلِمْتُ) mengetahui oleh saya .

6. Wajadtu (وَجَدْتُ) mendapati oleh saya .

7. Za'amtu (زَعَمْتُ) menyangka oleh saya .
[25/6 15.22] Ahmad Buher: 'Amil lafadz yang bersifat qiyas atau 'amil lafadz qiyasi adalah amil lafadz yang bentuknya dapat diukur dengan cara mencari persamaan dari bentuk yang sudah ditetapkan yaitu berjumlah 7 amilnya :

[1] Fi'il atas jalan ithlaq (اَلْفِعْلُ عَلَی الْاِطْلَاقِ)

Yaitu semua jenis kalimah fi'il baik fi'il madli, mudlori' maupun fi'il amar yang tiga-tiganya itu _madli, mudlori' dan amar merupakan amil lafadz yang bersifat qiyas yaitu beramal atau bertugas merofa'kan pada isim yang menjadi failnya dan menashobkan pada isim yang menjadi maf'ul bihnya apabila fi'ilnya termasuk fi'il yang muta'ad yakni fi'il yang sampai pada maf'ul bihnya , contoh :

ضَرَبَ زَيْدٌ عَمْرًا

Telah memukul oleh zaid pada si amar .

Keterangan :

**Dloroba (ضَرَبَ) = fi'il madli.

**Zaidun (زَيْدٌ) = isim yang dirofa'kan oleh fi'il ضَرَبَ yang kedudukannya menjadi pelaku (fa'il) dari fi'il ضَرَبَ .

**Amron (عَمْرًا) = isim yang dinashobkan oleh fi'il ضَرَبَ yang kedudukannya menjadi sasaran (maf'ul bih) dari perbuatan fi'il ضَرَبَ .

[2] isim fail (اِسْمٌ فَاعِلٌ)

isim fail berwazan atau berpola فَاعِلٌ jika dari jenis fi'il tsulatsi mujarrod contoh : نَاصِرٌ (orang yang menolong)

sedangkan untuk isim faa'il dari jenis fi'il selain tsulatsi mujarrod yaitu berwazan mengikuti fi'il mudlorinya hanya saja huruf mudloro'ahnya (huruf penanda fi'il mudlori'nya) dibuang lalu digantikan dengan huruf mim yang didlommahkan lalu huruf sebelum akhir dari fi'il mudlori tersebut dikasrohkan contoh : مُكْرِمٌ adalah isim fail yang dibentuk dari fi'il mudlori يُكْرِمُ lalu dibuang huruf Ya (ي) dalam يُكْرِمُ sehingga menjadi كْرِمُ lalu huruf Ya (ي) yang dibuang tersebut digantikan dengan huruf mim yang didlommahkan (مُ) sehingga menjadi مُكْرِمٌ (orang yang memuliakan) jadi isim fail نَاصِرٌ dan مُكْرِمٌ dan yang semisal dengan keduanya adalah amil lafadz yang besifat qiyas atau amil lafadz qiyasi yang beramal atau bertugas seperti fi'ilnya yaitu merofakan isimnya lalu isim yang dirofa'kan oleh isim fa'il ini disebut fa'il Dan isim fa'il juga menashobkan pada isimnya lalu isim yang dinashobkan oleh isim fa'il ini disebut maf'ul bihnya contoh :

زَيْدٌ ضَارِبٌ غُلَامُهُ عَمْرًا

"Bermula si zaid yaitu orang yang memukul oleh pelayannya zaid pada si amar"

Keterangan :

Zaidun (زَيْدٌ) = kalimah isim yang berada di awal kalimat dibaca rofa' karena menjadi mubtada

Dlooribun (ضَارِبٌ) = amil lafadz qiyasi berupa isim fa'il dibaca rofa' karena menjadi khobar .

Gulaamu (غُلامُ) kalimah isim yang dirofa'kan oleh ضَارِبٌ karena menjadi fa'ilnya.

Gulaamu (غُلامُ) = mudlof,
Hu (هُ) = dlomir muttashil mabni dlommah mahal jer mudlof ileh.

Amron (عَمْرًا) menjadi maf'ul bih dinashobkan oleh amil lafadz qiyasi berupa isim fa'il yaitu ضَارِبٌ

perlu diketahui bahwa isim fa'il dan fa'il adalah dua hal yang berbeda bila isim fa'il kaitannya dengan bentuk suatu kalimah yaitu berwazan فَاعِلٌ atau مُفْعِلٌ sedangkan fa'il yaitu kedudukan suatu kalimah dalam kalimat yaitu sebagai pelaku dari suatu pekerjaan contoh :

خَرَجَ زَيْدٌ

"Telah keluar oleh si zaid"

Keterangan :

Khoroja (خَرَجَ) = fi'il
Zaidun (زَيْدٌ) = fa'ilnya yaitu pelaku pekerjaan keluar .

[3] isim maf'ul (اِسْمٌ مَفْعُوْلٌ)

isim maf'ul dibentuk dengan pola مَفْعُوْلٌ seperti مَضْرُوْبٌ maknanya orang yang dipukul apabila dibentuk dari jenis fi'il tsulatsi mujarrod sedangkan apabila dibentuk dari fi'il selain tsulatsi mujarrod maka bentuk isim maf'ulnya diambil dari fi'ilnya sebagaimana yang terjadi pada isim fa'il namun perbedaannya isim maf'ul sebelum huruf akhir difathahkan, contoh : مُكْرَمٌ maknanya orang yang dimuliakan. isim maf'ul merupakan amil lafadz qiyasi yang pengamalannya atau tugasnya yaitu merofa'kan pada isimnya saja lalu isim yang dirofa'kan oleh isim maf'ul ini kedudukan kalimahnya menjadi maf'ul bih yang menggantikan fa'il yang tidak disebutkan karena isim maf'ul setara dengan fi'il yang majhul dan beramal seperti fi'il yang majhul yaitu merofa'kan isimnya yang menjadi maf'ul bih namun maf'ul bih tidak diberi i'rob nashob tapi diberi i'rob rofa' karena menggantikan fa'il sebagaimana fa'il diberi i'rob rofa' maka penggantinya pun yang disebut naibul fa'il juga diberi i'rob rofa' contoh :

زَيْدٌ مَضْرُوْبٌ غُلَامُهُ

"Bermula si zaid yaitu orang yang dipukul terhadap pelayannya zaid"

Keterangan :

Zaidun (زَيْدٌ) = kalimah isim yang berada di awal kalimah dibaca rofa' karena menjadi mubtada.

Madlruubun (مَضْرُوْبٌ) = isim maf'ul dibaca rofa' karena menjadi khobar

Gulamu (غُلَامُ) = kalimah isim yang dirofa'kan oleh مَضْرُوْبٌ karena menjadi naibul fa'ilnya.

Hu (هُ) dlomir muttashil mabni dlommah mahal jer mudlof ileh.

Perlu diketahui bahwa isim maf'ul dan maf'ul bih adalah dua hal yang berbeda bila isim maf'ul kaitannya dengan bentuk suatu kalimah yaitu berwazan مَفْعُوْلٌ atau مُفْعَلٌ atau wazan yang lainnya sedangkan maf'ul bih yaitu kedudukan suatu kalimah dalam kalimah yaitu sebagai sasaran dari suatu pekerjaan Dan isim maf'ul bisa beramal atau bertugas merofa'kan isimnya sedangkan maf'ul bih tidak bisa beramal malah dikenai amal atau dikenai tugas.

[4] Sifat musyabbahat atau musyabbihat (اَلصِّفَةُ الْمُشَبّهَةُ)

Sifat musyabbihat adalah isim fail dari jenis fi'il yang lazim (fi'il yang hanya merofa'kan fa'ilnya tidak memiliki maf'ul bih) dan sifat musabbihat ini beramal atau bertugas merofa'kan isimnya lalu isim yang dirofa'kan oleh sifat musyabbihat ini menjadi fa'ilnya karena sifat musyabihat setara dengan fi'il yang lazim sebagaimana fi'il yang lazim merofa'kan pada failnya begitupun sifat musyabbihat juga merofa'kan pada fa'ilnya. Contoh :

اَلْعِبَادَةُ حَسَنٌ ثَوَابُهَا

"Bermula ibadah yaitu yang bagus oleh pahalanya ibadah"

Keterangan :

Al'ibadatu (اَلْعِبَادَةُ) = kalimah isim berada pada permulaan kalimat dibaca rofa' karena menjadi mubtada

Hasanun (حَسَنٌ) = sifat musyabbihat dibaca rofa karena menjadi khobar

Tsawabuha (ثَوَبُهَا) ثَوَابُ = kalimah isim yang dirofa'kan oleh حَسَنٌ .
tsawaabu (ثَوَابُ) = mudlof
Ha (هَا) = dlomir muttashil mabni sukun mahall jer mudlof ileh.
[25/6 15.22] Ahmad Buher: [5] mashdar atau isim mashdar (اِسْمُ مَصْدَرٍ)

Adalah kalimah isim yang berada pada urutan yang ke-tiga dari tashrifan fi'ilnya contoh :

**Nashrun (نَصْرٌ) adalah mashdar dari tashrifan fi'il :

نَصَرَ، يَنْصُرُ نَصْرٌ

Fathun (فَتْحٌ) adalah mashdar dari tashrifan fi'il :

فَتَحَ ، يَفْتَحُ ، فَتْحٌ

**Dlorbun (ضَرْبٌ) adalah mashdar dari tashrifan fi'il :

ضَرَبَ، يَضْرِبُ، ضَرْبٌ

Jadi lafadz نَصْرٌ dan فَتْحٌ serta ضَرْبٌ dan yang sejenis dengan ketiganya adalah contoh isim mashdar yang beramal atau bertugas merofa'kan pada isimnya lalu isim yang dirofa'kan oleh mashdar kedudukannya menjadi fa'il dari mashdar tersebut akan tetapi isim yang dirofa'kan oleh mashdar yang menjadi fa'ilnya mashdar dibaca kasroh karena menjadi mudlof ileh dan mudlofnya adalah mashdar itu sendiri, contoh :

اَعْجَبَنِيْ قِيَامُ زَيْدٍ

"Telah membuat kagum padaku oleh berdirinya zaid"

Keterangan :

**A'jabani (اَعْجَبَنِيْ) = fi'il dan maf'ul bih yang didahulukan.

**Qiyaamu (قِيَامُ) = failnya اَعْجَبَ yang letaknya diakhirkan dan قِيَامُ adalah mashdar dari tasrifan fi'il :

قَامَ، يَقُوْمُ، قِيَامٌ

**zaidin (زَيْدٍ) = isim yang dirofa'kan oleh mashdar (قِيَامُ) karena menjadi fa'ilnya namun lafadz زَيْدٍ tidak dirofa'kan sebagaimana mestinya fail yang dirofa'kan akan tetapi dikasrohkan karena menjadi mudlof ileh dari lafadz قِيَامُ yang menjadi mudlofnya.

Setelah mengkasrohkan fa'ilnya lalu mashdar juga dapat menashobkan isim yang menjadi maf'ul bihnya apabila mashdar dari jenis fi'il yang muta'ad (fi'il yang membutukan maf'ul bih) contoh :

اَعْجَبَنِيْ ضَرْبُ زَيْدٍ عَمْرًا

"Telah membuat kagum padaku oleh pukulan zaid pada si amar"

Keterangan :

A'jabani (اَعْجَبَنِيْ) = fi'il dan maf'ul bih yang didahulukan.

Dlorbu (ضَرْبُ) fa'ilnya اَعْجََبَ dan ضَرْبُ adalah mashdar dari tashrifan fi'il :

ضَرَبَ، يَضْرِبُ، ضَرْبٌ

Zaidin (زَيْدٍ) adalah failnya ضَرْبُ yang dikasrohkan karena menjadi mudlof ileh dari lafadz ضَرْبُ yang menjadi mudlofnya.

'Amron (عَمْرًا) = isim yang dinashobkan oleh mashdar (ضَرْبُ) karena menjadi maf'ul bihnya.

[6] kalimah isim yang dimudlofkan kepada isim yang lain yang selanjutnya disebut idlofah (اِضَافَةٌ) .

idlofah adalah dua kalimah isim yang disusun atau dirangkaikan menjadi satu seperti lafadz :

عَبْدُ اللّٰهِ
"Hambanya allah"

Lafadz pertama yaitu عَبْدُ dinamakan mudlof dan lafadz yang ke-dua yaitu اَللّٰهُ dinamakan mudlof ileh lalu lafadz اَللّٰهِ dikasrohkan oleh mudlof yaitu lafadz عَبْدٌ , lafadz عَبْدُ sebagai mudlof merupakan amil lafadz yang bersifat qiyas yang pengamalannya atau tugasnya adalah mengkasrohkan pada mudlof ilehnya .

Dan syarat kalimah isim yang dijadikan mudlof adalah bahwa kalimah isim tersebut tidak boleh ditanwin dan tidak boleh kemasukan alif dan lam (اَلْ) dan tidak boleh kemasukan nun (ن) pengganti tanwin yakni nun tatsniyah dan nun jama' mudzakkar salim adapun mudlof ileh yaitu kebalikan dari mudlof yaitu boleh ditanwin atau kemasukan alif dan lam (اَلْ) namun tidak boleh dua-duanya artinya tidak boleh ditanwin sekaligus dimasukkan alif dan lam (اَلْ) secara bersamaan.

[7] isim tamm (اِسْمٌ ثَمٌّ)

Adalah kalimah isim yang tidak membutuhkan idlofah akan tetapi yang dibutuhkan oleh isim tamm adalah tamyiz (penjelasan) untuk menjelaskan kesamaran makna yang terkandung pada isim tamm, isim tamm adalah isim yang sempurna secara lafadz karena kemasukan tanwin atau kemasukan penggantinya tanwin yaitu nun (نْ) (nun tatsniyah atau nun jama') atau setelah isim tamm terdapat mudlof ileh akan tetapi dari segi makna isim tamm belum sempurna oleh karena itu isim tam membutuhkan tamyiz (penjelasan) untuk menyempurnakan kesamaran maknanya tersebut.
lalu isim tamm menashobkan tamyiznya contoh 1 :

عِنْدِي عِشْرُوْنَ دِرْهَمًا
" yaitu berada di sisiku bermula dua puluh berupa dirham"

Keterangan :

'indi (عِنْدِيْ) = dzorof dan madzruf menjadi khobar yang didahulukan .

'isyruuna (عِشْرُوْنَ) = isim tam karena diakhiri dengan huruf nun yaitu nun mulhaq jamak mudzakkar salim dan maknanya samar. Dan lafadz عِشْرُوْنَ dibaca rofa' karena menjadi mubtada yang diakhirkan tanda rofa'nya wawu (و) karena isim mulhaq jamak mudzakkar salim.

Dirhaman (دِرْهَمًا) = tamyiz atau penjelasan bagi isim tam karena isim tam secara makna masih samar maka dibutuhkan tamyiz atau penjelasan untuk menghilangkan kesamarannya itu dan tamyiz dinashobkan oleh isim tam karena isim tam termasuk amil lafadz yang bersifat qiyasi yang pengamalannya atau tugasnya yaitu menashobkan pada kalimah isim yang menjadi tamyiz.

Contoh 2 :

لَهُ قفِيْزٌ تَمْرًا
"Yaitu berada untuknya bermula segenggam berupa kurma"

Keterangan :

Lahu (لَهُ) = jaar dan majrur menjadi khobar yang didahulukan.

Qofiizun (قَفٍيْزٌ ) = isim tam karena bertanwin dan maknanya samar dibaca rofa' karena menjadi mubtada yang diakhirkan. dan isim tam termasuk dari amil lafadz yang bersifat qiyasi yang beramal atau bertugas menashobkan pada isim yang menjadi tamyiz (penjelasan)

Tamron (تَمْرًا) = tamyiz yang menjelaskan kesamaran makna yang terdapat pada isim tam lafadz تَمْرًا dibaca nashob dan amil yang menashobkan adalah isim tam yaitu lafadz قَفِيْزٌ.
[25/6 15.22] Ahmad Buher: Amil yang bersifat makna atau amil maknawi adalah amil yang tidak berbentuk atau amil yang tidak terlihat di dalam tulisannya akan tetapi keberadaan amil maknawi tersimpan dalam makna . Amil yang bersifat makna ada dua :

[pertama] makna ibtida yaitu letak kalimah isim yang berada pada permulaan kalimat atau kalam , amil maknawi ibtida ini pengamalannya atau tugasnya adalah merofa'kan pada mubtada dan khobar, contoh :
زَيْدٌ قَائِمٌ
"Bermula si zaid yaitu orang yang berdiri"

Keterangan :

Zaidun (زَيْدٌ) = kalimah isim yang berada di permulaan dinamakan mubtada maka dimaknai "bermula" lafadz زَيْدٌ dibaca rofa tanda rofa'nya adalah dlommah karena isim mufrod dan amil yang merofa'kan lafadz زَيْدٌ adalah amil maknawi berupa ibtida yaitu letak lafadz zaidun (زَيْدٌ) berada pada permulaan kalimat.

Qoo-imun (قَائِمٌ) = kalimah isim yang memberikan informasi atau kabar berita tentang mubtada oleh karenanya dinamakan khobar dan dimaknai "yaitu" dan khobar ini selalu menemani mubtada dimanapun mubtada berada, lafadz قَائِمٌ dibaca rofa' karena menjadi khobar tanda rofa'nya adalah dlommah karena isim mufrod dan amil yang merofa'kan lafadz قَائِمٌ adalah amil maknawi berupa ibtida karena satu paket dengan mubtada.

[Ke-dua] amil makna berupa makna " wuqu'uhu mauqi'al ismi" yaitu terjadinya dia fi'il mudlore di dalam tempat terjadinya isim , amil makna berupa "wuqu'uhu mauqi'al ismi" yaitu khusus merofa'kan fi'il mudlori' contoh :

زَيْدٌ يَقُوْمُ

"Bermula si zaid yaitu akan atau sedang berdiri oleh dia si zaid"

Keterangan :

Zaidun (زَيْدٌ) = mubtada dibaca rofa' dirofa'kan oleh amil makna berupa ibtida yaitu letak lafadz زَيْدٌ berada pada permulaan kalimat.

yaqumu (يَقُوْمُ) = fi'il mudlore menjadi khobar , amil yang merofa'kan fi'il mudlori' adalah amil makna berupa "wuqu'uhu mauqi'al ismi" yaitu terjadinya dia fi'il mudlori' di dalam tempat terjadinya isim karena lafadz :
زَيْدٌ يَقُوْمُ

YaitU berada di dalam tempat cetaknya lafadz :

زَيْدٌ قَائِمٌ

dan Karena lafadz يَقُوْمُ bisa dicetak menjadi قَائِمٌ .

Want your school to be the top-listed School/college in Serang?

Click here to claim your Sponsored Listing.

Location

Category

Telephone

Address


Ciujung Lama
Serang
42193