04/02/2022
Semoga bermanfaat
Cara Cek Nomor NIK dan KK yang Disalahgunakan Orang Lain untuk Registrasi Simcard
dishare
Contact information, map and directions, contact form, opening hours, services, ratings, photos, videos and announcements from MGMP Informatika Kota Serang, Educational Research Center, Serang.
Dengan Rahmat Allah Tuhan Yang Maha Esa,
Kami menyadari guru mata pelajaran Teknologi Informasi dan Komunikasi Kota Serang, memerlukan usaha bersama dalam membina, meningkatkan dan mengembangkan profesionalisme guru mata pelajaran Teknologi Informasi dan
04/02/2022
Semoga bermanfaat
Cara Cek Nomor NIK dan KK yang Disalahgunakan Orang Lain untuk Registrasi Simcard
dishare
09/08/2021
6 kemampuan / skill di era 4.0
Dijamin anti miskin
06/08/2021
Teori Kecoa : Respons vs Reaksi
Pichai Sundararajan, lebih dikenal sebagai Sundar Pichai, menjadi berita utama ketika ia menjadi CEO Google.
Dia dibicarakan secara luas, bukan hanya karena dia adalah CEO Google, tetapi karena dia berasal dari India dengan karakter pribadinya rendah hati dan telah meraih kesuksesannya melalui kerja keras yang gigih.
Sesuatu yang membuatku tertarik dengan sosok ini adalah ketika kebetulan menemukan pidato Pichai yang ingin kubagikan kepada sahabat semua.
Judulnya 'Teori Kecoa'.
Menurutku cara mendeskripsikan dan mengambil dari pelajaran hidup dari insiden dan kejadian kecil di sekitarnyalah yang secara menakjubkan telah membantunya menjadi seperti sekarang ini..
Begini ceritanya :
Di sebuah restoran, seekor kecoa tiba-tiba terbang dari suatu tempat dan hinggap pada pakaian seorang tamu perempuan yang tengah makan bersama teman temannya.
Dia mulai berteriak ketakutan.
Dengan wajah panik dan suara gemetar, dia mulai melompat, dengan kedua tangannya berusaha mati-matian untuk menyingkirkan kecoa.
Reaksinya menular, karena semua orang di mejanya kemudian ikut juga menjadi panik.
Perempuan itu akhirnya berhasil mengusir kecoa itu, tapi… kecoa itu mendarat di baju perempuan lain dalam kelompok itu.
Sekarang, giliran perempuan lain dalam kelompok itu melanjutkan drama kepanikan .
Pelayan kemudian bergegas maju untuk menyelamatkan mereka.
Dalam estafet lempar melempar , kecoa selanjutnya jatuh ke baju pelayan.
Pelayan itu berdiri dengan diam , menenangkan diri dan mengamati tingkah laku kecoa di bajunya.
Ketika dia cukup percaya diri, dia kemudian mengambilnya dengan jari-jarinya dan melemparkannya keluar dari restoran.
CEO dari India ini kemudian bertanya:
“Lalu apa yang bisa saya dapat dari kejadian tadi?”
Ia melanjutkan pidatonya...
“Dari tempat saya duduk, saya berpikir..
Kenapa para tamu perempuan itu panik, sementara pelayan itu bisa dengan tenang mengusir kecoa?
Apakah kecoa bertanggung jawab atas perilaku mereka?
Jika demikian, lalu mengapa pelayan tidak terganggu?
Bukankah dia bisa menanganinya dengan sempurna, tanpa kekacauan?
Berarti jelas bukan karena kecoanya, tapi karena respon yang diberikan itulah yang menentukan.
Ketidakmampuan kedua tamu perempuan dalam menghadapi kecoa itulah yang membuat suasana restoran jadi kacau.
Kecoa memang menjijikkan.
Tapi ia akan tetap seperti itu selamanya.
Tak bisa kau ubah kecoa menjadi lucu dan menggemaskan.
Begitupun juga dengan masalah...
Sampai kapanpun semua itu tidak akan pernah menyenangkan.
Namun bukan teriakan ayahmu atau bosmu atau istri atau suami yang mengganggumu, tetapi ketidakmampuanmu untuk menangani gangguan yang disebabkan oleh teriakan mereka yang mengganggumu.
Bukan kemacetan di jalan yang mengganggu kita, tetapi ketidakmampuan untuk menangani gangguan akibat kemacetanlah yang mengganggu kita.
Lebih dari masalah, itu adalah reaksi kita terhadap masalah yang menciptakan kekacauan dalam hidup kita. Ketidakmampuan orang orang untuk menghadapinyalah yang membuatnya demikian.
Dari ini kita bisa menarik beberapa analisa da pelajaran
Masalah akan selalu datang menghampiri .
Namun kita tidak boleh bereaksi dalam menghadapi masalah.
Tetapi kita harus selalu meresponnya/ menanggapinya.
Para tamu perempuan bereaksi, sedangkan pelayan merespons.
Reaksi selalu naluriah, sering di luar kendali, sedangkan tanggapan selalu dipikirkan dengan baik.
Reaksi yang tidak dipikirkan dapat membawa kita ke dalam masalah yang tidak diinginkan;
Sedangkan tanggapan yang praktis dan masuk akal dapat membantu kita keluar dari masalah.
Orang yang bahagia itu bukan karena segala sesuatunya berjalan dengan benar dalam hidup.
Dia bahagia karena sikapnya menghadapi segala sesuatu dalam hidup adalah Benar..!!
Apakah kita telah sama dlm memandang masalah di dalam hidup ini ?
Come on…
We are the champion my friends..and We’ll keep on fighting till the end… No time for looser.. Cause
We are the champion of the world..
Adi Ketu
17/07/2021
9 Laptop Terbaik untuk Pelajar, Mahasiswa dan Guru untuk Kegiatan belajar Mengajar Daring / online tahun 2021
02/06/2021
Kenali perangkat komputermu, agar bisa berkerja maksimal & bisa memperbaiki manakala ada kerusakan.
#
02/06/2021
Cek keaslian Handphone Android anda dengan cara tekan
* #* #0000 #* #* dan temukan rahasia lainya dari handphone yang jarang diketahui kebanyakan orang
31/05/2021
Apa Yang Terjadi di Internet Selama 1 Menit?
Bagaimana dengan web mu ?
#
Minal Aidzin wal faidzin
Mohon maaf lahir & batin.
Selamat Merayakan hari kemenang. Idul Fitri 1 syawwal 1442 H
11/05/2021
Kenapa Tesla, Google dan Netflix Tidak Lagi Mensyaratkan Lulusan S1 dalam Lowongan Kerjanya?
*****
Perusahaan-perusahaan high tech raksasa seperti Tesla, Google, Netflix hingga Apple kini tak lagi mensyaratkan lulusan S1 (college degree) untuk bisa mendaftar lowongan kerja yang mereka sediakan.
Anda tidak perlu ijasah S1 untuk bergabung dengan kami, begitu kata Elon Musk, pendiri Tesla. Sepanjang Anda punya skills yang ekselen dalam pekerjaan yang kami butuhkan, silakan saja daftar. Kami tidak akan melihat apakah Anda lulusan S1 atau SMA. Kami tidak peduli dengan gelar akademik ini, yang lebih penting Anda terbukti punya SKILLS yang tangguh (proven skills).
Begitu pengumuman yang pernah dirilis Elon Musk. Manajer HRD di Google dan Tesla dan juga Apple juga menyatakan hal yang sama. Seseorang kini tidak perlu lagi lulus S1 untuk bisa mendaftar menjadi highly capale employees di berbagai perusahaan terkemuka itu.
Apakah itu artinya gelar dan ijasah S1 akan menjadi kian tak relevan di era Revolusi Industri 4.0 ini? Apakah gelar S1 itu sesungguhnya sesuatu yang “over-rated”?
Problemnya mungkin karena memang sejumlah besar lulusan S1 yang tidak memiliki kualifikasi yang sesuai ekspektasi. Para petinggi dalam industri yang amat kompetitif membutuhkan karyawan baru dengan proven skills dan “siap pakai”.
Sayangnya, kurikulum dalam perguruan tinggi S1 didesain untuk lebih mengedepankan teori dan pemahaman konseptual, sehingga lulusannya kebanyakan kurang memiliki ketrampilan praktis yang siap pakai.
Demikianlah, lalu ada pendapat yang bilang lulusan S1 terlalu kebanyakan teori, tapi tidak paham skills aplikatif, maka akhirnya banyak yang nganggur. Namun pendapat ini juga kurang akurat.
Lulusan S1 kebanyakan teori? Yang terjadi justru sebaliknya : kini banyak lulusan S1 yang tidak paham teori sama sekali atau penguasaan teori-nya amat lemah. Misal berapa rata-rata buku ilmiah yang tuntas dibaca oleh para lulusan S1 di tanah air, sepanjang empat atau lima tahun kuliah? 50, 100 atau 400 judul buku ilmiah? Mungkin tidak sampai 50.
Bekal literasi yang amat buruk semacam ini, hampir pasti akan menciptakan lulusan S1 yang minim penguasaan teorinya. Idealnya setiap lulusan S1 wajib membaca dan mereview minimal 200 judul buku ilmiah selama 4 tahun kuliah, sebelum diijinkan daftar wisuda.
Maka yang akhirnya terjadi adalah sebuah kombinasi maut : sudah penguasaan teorinya kosong (karena malas membaca buku-buku ilmiah selama kuliah), ditambah bekal ketrampilan aplikatifnya juga nihil. Alhasil, gelar ijasah S1 yang dia banggakan juga nihil nilainya. Maka wajar jika Elon Musk tidak butuh mereka.
Sebagai solusinya, Google telah memperkenalkan “metode pendidikan alternatif” berupa Google Certificates. Dalam program ini, seseorang mendapatkan pelatihan dan pendidikan hanya selama 6 bulan, tapi full praktek. Jadi tujuannya benar-benar untuk membekali seseorang dengan SKILLS yang PROVEN. Bukan dengan ijasah kosong seperti S1.
Siapapun juga boleh mendaftar di program tersebut, meski hanya lulusan SMA atau bahkan SMP. Google tak peduli lulusan pendidikan apa. Yang penting, mereka mau belajar menguasai skills tertentu. Saat ini, Google Certificate baru tersedia untuk skills Android App Development, UX Design, Data Analytics dan Project Management serta IT Support.
Setelah 6 bulan lulus, mereka bisa menggunakan sertifikat itu untuk melamar kerja di Google, dan bahkan banyak perusahaan di Amerika yang mau menerimanya. Sebab para lulusan Google Certificates ini memang terbukti memiliki SKILLS yang dibutuhkan pasar.
Saya membayangkan solusi seperti Google Certtificates itu juga selayaknya diadopsi di tanah air. Sediakan pelatihan dan pendidikan yang fokus pada penguasaan skills yang menghasilkan, dengan durasi cukup 6 bulan, namun FULL praktek.
Selain jenis skills IT seperti Android App, UX Desin, atau programming, ada sejumlah skills lain yang juga bisa diajarkan secara aplikatif. Contoh beragam skills hot yang kini makin dibutuhkan antara lain :
Shopee/Tokopedia Selling Skills
Online Copywriting
Facebook Advertising
Tiktok Marketing
Youtube Content Creation Skills
Blogging for Money Skills
Google Search Engine Skills
Culinary Business Skills (Ketrampilan bisnis kuliner)
Demikianlah, selama 6 bulan full praktek, seseorang fokus memilih salah satu jenis skills yang ingin dikuasainya. Para pengajarnya tentu saja adalah para praktisi yang sudah proven. Misal dosen tamu pengajar Shopee Selling Skills adalah para STAR Sellers yang omzetnya sudah tembus Rp 500 juta/bulan. Atau yang mengajar mata kuliah Blogging for Money adalah para bloger legendaris yang sudah meraih income ratusan juta hingga miliaran dari kegiatan blogging.
Biaya kuliah selama 6 bulan full praktek itu mungkin antara Rp 3 – Rp 5 juta saja; namun setelah lulus, dijamin para lulusannya pasti akan menguasai SKILLS yang proven dan menghasilkan (persis seperti konsep Google Certificates yang terbukti sukses menghasilkan lulusan yang skillful). Setiap orang juga boleh daftar dalam program tersebut, meski hanya lulusan SMA atau bahkan SMP.
Saya membayangkan, para lulusan program lokal a la Google Certificates selama 6 bulan ini, akan bisa menghasilkan lulusan yang lebih SIAP menghasilkan UANG SENDIRI, dibanding lulusan S1 yang kuliah selama 4 tahun, dengan biaya yang jauh lebih mahal. Saat ini, rata-rata biaya kuliah di PTN Mandiri atau PTS sekitar Rp 5 juta/semester atau total Rp 40 juta untuk kuliah selama 8 semester, belum uang pangkalnya dan uang kos.
Pada sisi lain, program sertifikat full praktek 6 bulan ini, merupakan solusi bagus bagi para lulusan SMA yang tidak punya biaya untuk melanjutkan kuliah S1. Dengan biaya yang terjangkau, mereka semua bisa mendaftar mengikuti program ini, dan lalu digembleng selama 6 bulan secara spartan, demi menguasai SKILLS yang APLIKATIF. Metode pendidikan alternatif semacam ini, saya yakin, akan lebih mampu membekali mereka untuk mendapatkan nafkah secara mandiri di kemudian hari.
Di era ledakan digital economy seperti saat sekarang, mungkin yang lebih dibutuhkan adalah PROVEN SKILLS yang langsung bisa menghasilkan income. Bukan selembar ijasah S1 yang acapkali kosong maknanya.
Sajian 5 buku pengembangan diri yang menarik bisa Anda dapatkan secara gratis pada link ini :
https://strategimanajemen.net/free-ebooks/
https://strategimanajemen.net/free-ebooks/
Salam sukses mulia,
Yodhia Antariksa
02/05/2021
MANUFAKTUR JASA IT
---
Saya sering ngobrol dengan teman2 yg bergelut dibisnis IT, ada 3 jenis Programmer di pasaran :
1. Programmer pemula, pengalaman nol, kemampuan minim, honor kecil
2. Programmer expert, pengalaman bejibun, gaji selangit.
3. Programmer menengah, pengalaman ada, kemampuan sedang tapi mudah dikembangkan lagi, gaji/honor masih cukup ramah di kantong pengusaha.
No 1 jelas butuh waktu dan tenaga utk upgrade ke level menengah. Banyak gagalnya daripada berhasilnya karena motivasi programmer ini beda2, apalagi masuk jurusan IT sering bukan karena pengin berkarier professional tapi karena lagi ngetrend saja. Jadinya kriteria no 1 ini banyak menggenangi pasaran.
No 2 tidak usah ditanya lagi. Project model apapun wusss wusss wusss. Hanya saja, kompensasi upahnya yg bikin mikir2. Kalo bukan project besar yang kompleks atau perusahaan besar yg sudah settle punya produk khusus, tidak bisa hire. Apalagi startup yg baru berdiri, lewat aja deh.
Nah, No 3 ini sebenarnya yg banyak dibutuhkan, terutama perusahaan kecil-menengah dan startup digital. Ratenya masih bisa dipenuhi, upgradenya tidak terlalu susah. Bisa dikembangkan seiring pertumbuhan perusahaan. Sayangnya, populasinya malah sedikit. Ada gap yang besar antara no 1 dan no 3 ini.
Jadi menurut saya, target pengembangan SDM Programmer ini tidak perlu muluk2, bagaimana cara memenuhi pasar dengan programmer kelas menengah ini.
Salah satu solusinya, bentuk unit bisnis Software Developer di Kampus/Sekolah Vokasi. Disini mahasiswa/siswa yg memang serius memperdalam skill dan pengalaman, digodok benar2. Dipersiapkan utk bekerja secara profesional dan ada honornya yg bisa didapat. Ini bisnis Manufaktur Jasa IT. Software house kampus bisa menerima pesanan dari klien perseorangan, startup, perusahaan, pemerintahan. Untuk urusan skill, kampus/sekolah bisa mengandalkan tenaga dosen/guru yg mumpuni. Untuk urusan bisnis, bisa menggandeng perusahaan rekanan yg berpengalaman. Ratenya? Bisa dimulai dibawah harga pasaran agar bersaing. Tujuannya memang untuk usaha, tapi juga sekaligus menggodok programmer2 pemula di kawah candradimuka. Dan, ini yg penting, menggandeng relasi bisnis sebanyak2nya. Membantu founder2 startup kecil yg punya ide dan konsep tapi tidak punya Tenaga Coding dan tidak mampu bayar mahal programmer.
Bentuk kerjasama bisnisnya? Bisa terima langsung pesanan aplikasi produksi. Bisa kerjasama tenaga kerja outsourcing. Bisa juga kemitraan dengan Perusahaan.
Adanya unit ini bisa mengurangi ketergantungan (baca: kelimpungan) mencari tempat magang di Perusahaan. Biasanya beberapa perusahaan enggan menerima magang karena musti menyediakan tempat dan fasilitas, sementara hal itu terbatas utk karyawan2nya. Dengan unit ini perusahaan bisa menerima magang, melibatkan peserta magang dalam project tanpa ribet menyediakan fasilitas. Kampus/sekolah bisa memantau perkembangan anak didiknya dengan mudah dan sekaligus menyesuaikan dengan apa yg dibutuhkan industri. Harapannya, sebelum lulus, mereka sudah menguasai skill dan pengalaman yg riil utk bersaing dalam dunia kerja, syukur2 Perusahaan klien atau rekanan sudah 'kepincut' duluan dan siap menampung lulusannya.
---
Andi Riza
Direktur Business Development PT. Netsindo Sentra Computama
14/04/2021
Semoga menginspirasi & bisa memiliki
#
14/04/2021
Ruang Kerja Komputermu seperti apa ?
ruang kerja, semoga bermanfaat. Buat yang blm punya, semua tercapai harapanya.
#