07/05/2026
*UNDANGAN RADAR M3CB PUTARAN KE-27*
Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh
Dengan memohon rahmat dan ridha Allah Subhanahu wa Ta’ala, kami mengundang:
Keluarga Besar M3CB dan Seluruh Masyarakat Desa Nyompok
untuk hadir dalam kegiatan rutin:
RADAR M3CB
(Rutinitas Asma Badar)
Majelis Mudzakarah Muhtadi Cidahu Banten (M3CB)
Desa Nyompok – Kopo
Kegiatan ini merupakan bagian dari rutinitas majelis dalam mempererat ukhuwah Islamiyah, menghidupkan dzikir, serta menjaga semangat menuntut ilmu dan kebersamaan di tengah masyarakat.
InsyaAllah akan dilaksanakan pada:
📅 Hari/Tanggal : Kamis, 07 Mei 2026
🕗 Waktu : Pukul 20.00 WIB – Selesai
📍 Tempat : Kediaman Ust. Nur Ketua M3CB
KP. Cileget RT/RW 004/002
Ds. Nyompok – Kopo
Besar harapan kami agar seluruh keluarga besar M3CB dan masyarakat dapat hadir untuk bersama-sama meramaikan majelis yang penuh keberkahan ini.
Demikian undangan ini kami sampaikan. Atas kehadiran dan partisipasinya kami ucapkan terima kasih.
Wallaahul Muwaffiq ilaa aqwamit thoriq
Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh
Hormat Kami,
Panitia RADAR M3CB
01/05/2026
📢 UNDANGAN KAJIAN RUTIN BULANAN M3CB
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Dengan penuh rasa hormat, kami mengundang kepada seluruh kaum muslimin wal muslimat, khususnya Keluarga Besar M3CB Nyompok dan sekitarnya, untuk hadir dalam:
✨ Kajian Rutin Bulanan M3CB
📚 Kitab: Fathul Wahhab
🕌 Bersama:
👤 Muqri: Abah Kyai Madromi
🎤 Moderator: Akang Seffuh
🗓 Hari/Tanggal: Jum’at, 01 Mei 2026
⏰ Waktu: Ba’da Isya (20.00 WIB – selesai)
📍 Tempat: Pendopo Masjid Jami’ Nurul Huda Cileget
(Kp. Nyompok RT 004/002, Kopo)
Kajian ini menjadi sarana untuk menuntut ilmu, memperdalam pemahaman agama, serta mempererat ukhuwah Islamiyah di tengah masyarakat.
💡 Mari hadir dan ajak keluarga serta sahabat, karena majelis ilmu adalah taman surga di dunia.
Semoga Allah ﷻ memberikan kita kemudahan untuk istiqamah dalam menuntut ilmu dan mengamalkannya.
Wallaahul Muwaffiq ilaa aqwamit thoriq.
Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Keluarga Besar M3CB Nyompok
01/05/2026
إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ
Malam itu… rel yang biasanya menjadi saksi perjalanan p**ang,
berubah menjadi saksi duka yang begitu dalam.
Tragedi kecelakaan yang melibatkan KRL Commuter Line dan KA Argo Bromo Anggrek,
pada Senin, 27 April 2026 di Stasiun Bekasi Timur, Jawa Barat,
meninggalkan luka yang tak hanya dirasakan oleh keluarga korban,
tetapi juga oleh kita semua… sebagai sesama manusia.
Ada yang tak sempat sampai tujuan,
ada yang berpamitan tanpa pernah kembali,
dan ada keluarga yang kini harus belajar menerima kehilangan
yang tak pernah mereka bayangkan sebelumnya.
Kami segenap keluarga besar
Majelis Mudzakarah Muhtadi Cidahu Banten (M3CB)
Desa Nyompok – Kopo
menyampaikan duka cita yang sedalam-dalamnya atas musibah ini.
Semoga Allah SWT melapangkan kubur para korban,
menerangi mereka dengan cahaya rahmat-Nya,
menerima segala amal ibadahnya,
dan menempatkan mereka di tempat terbaik di sisi-Nya.
Dan untuk keluarga yang ditinggalkan…
semoga diberikan kekuatan, kesabaran, dan ketabahan,
karena sejatinya, setiap yang datang… akan kembali.
Mari kita tundukkan hati sejenak,
mengirimkan doa terbaik untuk saudara-saudara kita.
16/04/2026
🌙 Syi’iran Manaqib Sayyid Ulama Hijaz
Haul ke-133 Syekh Nawawi al-Bantani (1447 H / 2026 M)
Tidak semua orang besar lahir di istana…
Sebagian justru lahir dari kampung yang sederhana,
dari tanah yang sunyi,
namun melahirkan gema yang mengguncang dunia.
Dari Tanara…
lahirlah seorang anak yang kelak dikenal dunia:
Syekh Nawawi al-Bantani
Namanya mungkin sederhana…
tapi jejaknya, tak terhapus oleh zaman.
Beliau tidak meninggalkan gedung-gedung megah…
tidak p**a warisan harta berlimpah…
Namun beliau meninggalkan sesuatu yang jauh lebih mahal:
📖 Ilmu yang hidup
📜 Kitab yang terus dibaca
🔥 Semangat yang terus menyala
Hari ini… kita berkumpul.
Bukan hanya untuk mengenang…
tapi untuk menyadari:
Bahwa kita sedang hidup…
di atas perjuangan orang-orang besar.
Syi’iran yang dilantunkan…
bukan sekadar lantunan nada.
Ia adalah rindu…
yang tidak sempat bertemu.
Ia adalah cinta…
yang tidak pernah padam.
Ia adalah doa…
yang menembus langit, mengiringi ruh seorang alim yang mulia.
Wahai para pecinta ulama…
Jika kalian benar mencintai beliau,
maka jangan cukup dengan menangis dalam syi’iran…
Tapi bangkitlah dalam perjuangan.
Karena beliau tidak besar hanya karena nama,
tapi karena pengorbanan.
Beliau meninggalkan kampung halaman…
menempuh perjalanan panjang…
menghadapi kerasnya kehidupan di tanah suci…
bukan untuk dunia…
tapi untuk agama.
Dan hari ini…
kita sering merasa berat hanya untuk membuka kitab.
Berat untuk hadir di majelis ilmu.
Berat untuk istiqamah.
Padahal…
kita tidak berjalan sejauh beliau.
Maka haul ini adalah teguran halus:
👉 Sudahkah kita menghargai ilmu?
👉 Sudahkah kita memuliakan guru?
👉 Sudahkah kita menjaga agama ini… meski sedikit?
Karena sejatinya…
Mengenang ulama bukan untuk memuja masa lalu,
tapi untuk menyalakan masa depan.
Jika malam ini syi’iran dilantunkan…
biarlah bukan hanya suara yang bergetar…
tapi hati yang berubah.
Bukan hanya mata yang basah…
tapi langkah yang berbenah.
Al-Fatihah… untuk Sang Mahaguru Nusantara.
Semoga Allah melimpahkan rahmat-Nya kepada
Syekh Nawawi al-Bantani,
dan menjadikan kita bagian dari mata rantai perjuangan ilmu beliau.
Akang Seffuh al-Bantani
16/04/2026
UNDANGAN RADAR M3CB PUTARAN KE-26
(Sekaligus Memperingati Haul Syekh Nawawi al-Bantani ke-133)
Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh
Dengan memohon rahmat dan ridha Allah Subhanahu wa Ta’ala, kami mengundang:
Keluarga Besar M3CB dan Seluruh Masyarakat Desa Nyompok
untuk hadir dalam kegiatan rutin:
RADAR M3CB
(Rutinitas Asma Badar)
Majelis Mudzakarah Muhtadi Cidahu Banten (M3CB)
Nyompok – Kopo
Yang InsyaAllah akan dilaksanakan pada:
📅 Hari/Tanggal : Kamis, 16 April 2026
🕗 Waktu : Pukul 20.00 WIB – Selesai
📍 Tempat : Musholla Nurul Huda
Kp. Cibende Blok Palawad RT/RW 001/003
Ds. Nyompok – Kopo
Dalam kesempatan ini juga akan dilaksanakan:
Peringatan Haul Syekh Nawawi al-Bantani ke-133
Semoga dengan menghadiri majelis ini, kita semua mendapatkan keberkahan, mempererat ukhuwah, serta menambah kecintaan kepada ulama dan majelis dzikir.
Demikian undangan ini kami sampaikan. Atas kehadiran dan partisipasinya, kami ucapkan terima kasih.
Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh
Hormat Kami,
Panitia RADAR M3CB
13/04/2026
HUKUM NGAJI VIA SOSMED — ANTARA MANFAAT, KELALAIAN, DAN KESELAMATAN
Di zaman sekarang, ilmu tidak lagi dicari…
tapi datang sendiri ke layar kita.
Sekali scroll — muncul ceramah.
Sekali klik — keluar dalil.
Lalu banyak orang merasa:
“Sudah cukup… saya sudah belajar agama.”
Padahal… belum tentu.
Ngaji via sosmed, bagaimana hukumnya?
Jawabannya: BOLEH.
Karena dalam kaidah fiqih disebutkan:
«الأصل في الأشياء الإباحة حتى يدل الدليل على التحريم
Hukum asal segala sesuatu adalah boleh, sampai ada dalil yang melarang.»
Sosmed hanyalah alat (wasilah),
bukan inti dari ilmu itu sendiri.
Tapi ingat… dalam fiqih juga ada kaidah:
«الوسائل لها أحكام المقاصد
Sarana itu mengikuti hukum tujuannya.»
Kalau sosmed dipakai untuk:
✔ Menyebarkan ilmu
✔ Mengingatkan manusia kepada Allah
✔ Mengajak kepada kebaikan
Maka hukumnya bisa menjadi sunnah, bahkan berpahala besar.
Namun… jangan berhenti di situ.
Ada kaidah lain yang sering dilupakan:
«ما لا يتم الواجب إلا به فهو واجب
Apa yang tidak sempurna suatu kewajiban kecuali dengannya, maka ia menjadi wajib.»
Belajar agama itu wajib.
Dan belajar agama tidak akan sempurna tanpa guru.
Maka…
punya guru itu bukan pilihan — tapi keharusan.
Di sinilah letak bahayanya…
Ketika sosmed dijadikan:
❌ Satu-satunya sumber ilmu
❌ Pengganti majelis
❌ Pengganti sanad dan talaqqi
Maka kita sedang melanggar satu prinsip penting dalam agama.
Para ulama telah mengingatkan:
«من كان شيخه كتابه كان خطؤه أكثر من صوابه
Barangsiapa gurunya hanya buku, maka kesalahannya lebih banyak dari benarnya.»
Sekarang lebih parah…
Bukan lagi buku, tapi video 1 menit tanpa penjelasan.
Ada lagi kaidah penting:
«درء المفاسد مقدم على جلب المصالح
Mencegah kerusakan lebih diutamakan daripada mengambil manfaat.»
Kalau ngaji di sosmed:
- Menjadikan kita salah paham
- Membuat kita merasa paling benar
- Menjauhkan kita dari ulama
Maka meninggalkannya lebih utama daripada mengambil manfaatnya.
Jangan sampai kita tertipu oleh kemudahan…
Merasa sudah berilmu hanya karena sering menonton.
Merasa sudah paham hanya karena hafal potongan dalil.
Padahal…
ilmu itu bukan sekadar didengar, tapi dituntut dengan adab.
Sikap yang benar itu jelas:
✔ Sosmed → untuk pengingat dan tambahan
✔ Guru & majelis → untuk belajar yang sebenarnya
Karena ilmu itu ada jalurnya…
dan jalur itu bernama sanad dan talaqqi.
Penutup…
Di zaman ini, banyak orang dekat dengan ilmu…
tapi jauh dari pemahaman.
Banyak yang sering mendengar…
tapi jarang yang benar-benar belajar.
Maka hati-hati…
Ilmu yang berkah bukan yang sering lewat di beranda,
tapi yang diambil dengan benar jalannya.
✍️ Akang Seffuh Al-Bantani
12/04/2026
Tentang Sang Paku Banten, Abuya Muhtadi bin Abuya Dimyathi al-Bantani
Di tengah zaman yang penuh kebisingan…
di saat banyak orang ingin cepat dikenal, cepat viral, cepat dianggap “alim”…
Ada satu sosok yang justru berjalan dalam diam…
tapi langkahnya mengguncang zaman.
Beliau bukan sekadar kiai…
Beliau adalah penjaga warisan ilmu,
penyambung sanad para ulama,
dan bukti hidup bahwa kemuliaan itu tidak lahir dari pop**aritas, tapi dari kesabaran dalam belajar.
🌿 Santri… lihatlah perjalanan beliau
Beliau tidak lahir sebagai “ulama instan”.
Beliau ditempa…
bukan sehari, bukan setahun…
tapi 38 tahun lamanya berguru dan digembleng langsung oleh ayahandanya: Abuya Muhammad Dimyathi al-Bantani
Bayangkan…
Saat orang lain sibuk mencari dunia,
beliau sibuk membuka kitab demi kitab…
Saat yang lain ingin cepat berdiri di mimbar,
beliau justru lama duduk di bawah kaki guru.
🔥 Pertanyaannya untuk kita (wahai santri):
Kita baru ngaji 1–2 tahun… sudah ingin dianggap paham?
Baru bisa baca kitab… sudah ingin berdebat?
Baru hafal istilah… sudah merasa alim?
Di mana kita… dibanding beliau?
📚 Ilmu itu bukan hafalan… tapi pengorbanan
Beliau mengkhatamkan kitab-kitab besar madzhab Syafi’i,
hingga diakui sebagai M***i Syafi’iyyah
Bukan karena titel…
tapi karena kedalaman ilmu dan keikhlasan dalam menuntutnya.
Beliau tidak sekadar membaca…
tapi hidup bersama ilmu.
🧭 Kenapa beliau disebut “Paku Banten”?
Karena di saat banyak yang goyah…
beliau tetap tegak.
Di saat banyak yang ribut…
beliau menenangkan.
Di saat ilmu mulai ditinggalkan…
beliau justru menjadi bentengnya.
Beliau bukan hanya mengajar santri…
tapi juga menjadi rujukan para kiai.
⚡ Pelajaran terbesar untuk kita
Wahai santri…
Kalau kamu ingin seperti beliau,
maka jalannya jelas:
Duduk lama di majelis ilmu
Sabar dalam proses
Hormat kepada guru
Jangan buru-buru ingin dikenal
Karena…
Ilmu itu seperti pohon besar
Akar yang dalam tidak terlihat…
tapi justru itulah yang membuatnya kokoh.
🌙 Renungkan ini…
Abuya Muhtadi tidak mengejar dunia…
tapi dunia datang menghormatinya.
Beliau tidak mengejar pengakuan…
tapi para ulama mengakuinya.
Beliau tidak sibuk membangun citra…
tapi Allah yang meninggikan derajatnya.
Kalau hari ini kamu capek ngaji…
ingatlah beliau pernah lebih capek dari itu.
Kalau hari ini kamu merasa lama belajar…
ingatlah beliau menempuh puluhan tahun.
Dan kalau hari ini kamu ingin menyerah…
Tanya pada dirimu sendiri:
Apakah kamu ingin jadi santri biasa…
atau ingin jadi pewaris ulama?