10/02/2021
JANGAN SEPELEKAN CORAT-CORET ANAK.
Sebagai orangtua seringkali kita keliru dengan persepsi yang kita miliki. Kita sering keburu emosional ketika melihat anak mencorat-coret dinding rumah. Kita lebih sayang dengan cat dinding rumah kita yang sudah bagus ketimbang hati anak yang sedih karena dimarahi akibat mengotori dinding rumah.
Padahal dinding rumah yang kotor bisa dibersihkan kembali, tapi bagaimana dengan perasaan sedih anak yang sulit diobati ?
Jangan keburu melarang anak ketika mereka corat-coret dinding, karena kreativitas anak jauh lebih mahal ketimbang cat tembok. Dibalik corat-coret tak beraturan pada anak, ternyata bermanfaat bagi mereka, yaitu :
1. Menyeimbangkan otak kiri dan kanan
Aktivitas menggambar merupakan salah satu cara untuk merangsang kerja otak kanan. Oleh karena itu seringkali otak kanan disebut sebagai “otak gambar”. Pengembangan otak kanan sejak dini sangat penting dan diperlukan bagi masa depan anak. Karena otak kanan yang distimulasi dengan baik dapat mendorong anak untuk berpikir lebih kreatif, positif, optimis, meningkatkan daya ingat, melatih motorik halus dan merangsang rasa ingin tahu anak.
Selain itu, anak juga akan lebih mudah bersosialisasi, mudah empati dengan orang lain dan meningkatkan ekspresinya. Dengan begitu kreativitas dan imajinasi anak akan semakin berkembang dan harapannya, di kemudian hari anak akan mampu menciptakan kreasi, konsep dan inovasi dari pemikirannya sendiri.
Keseimbangan antara otak kanan dan otak kiri ini ternyata juga dapat mempengaruhi bagaimana seorang anak mampu mengatasi stresnya dengan lebih baik dibandingkan dengan anak yang memiliki otak kiri lebih dominan. Faktor-faktor inilah yang akan menjadikan pola pikir anak yang akan terbawa hingga mereka dewasa dan berkarir kelak.
2. Mengembangkan kreativitas dan imajinasi
Corat-coret merupakan kreativitas alamiah yang ada pada setiap anak dan menjadi “media” bagi anak untuk mengekspresikan pikiran maupun perasaannya. Namun sayangnya tanpa kita sadari justru perilaku kita seringkali telah menghambat kreatifitas mereka. Baru melihat anak mengambil spidol atau krayon saja kita sudah marah-marah atau ngomel karena takut dinding atau sofa rusak dan kotor. Bila anak sudah mau menggambar pun, tak jarang orang tua masih saja mengkritik hasil karya anaknya. Hal ini menyebabkan anak merasa gagal dan malu untuk melakukan aktivitas menggambar kembali.
Kreativitas anak juga seringkali menjadi terhambat karena mereka ditekankan harus meniru sama persis gambar dari buku, misalnya mencontoh gambar, warna dan ukuran yang ada. Kalau warna daun harus hijau, pisang harus kuning, rambut harus hitam. Misalnya ketika anak memberi rambut warna ungu, kita justru malah complain kepada mereka.Seringkali anak tidak diberi kesempatan memilih gambar dan warna yang mereka inginkan.
Oleh karena itu sebaiknya orang tua tidak melarang kegiatan anaknya ini. Karena banyaknya larangan yang diterima oleh si kecil akan menghambat sisi kreatifitas anak untuk berani mengekspresikan diri, apa yang ada dalam pikiran dan imajinasinya secara bebas.
Bila kita hanya memberi larangan atau memarahinya sebetulnya tidak akan memberitahu anak, mana yang salah dan mana yang benar. Sebagai orangtua bijaksana, hendaknya juga dapat menyediakan sarana bagi anak untuk menggambar serta memberitahu dan memberi pengertian pada anak dimana saja anak boleh menggambar dan daerah mana saja yang tidak boleh.
Referensi : Olivia, Femi. Gembira Bermain Corat-Coret. Jakarta : Kompas Gramedia. 2013
biMBA-AIUEO MEMBIMBING ANAK AGAR BUKAN HANYA BISA BACA, TETAPI MENJADIKAN ANAK GEMAR MEMBACA & SENANG BELAJAR