17/02/2021
Baju Kiai Marzuqi dan Tangis Kiai Mahrus
Suatu hari Kiai Mahrus Aly mengajak Abdul Halim Zainuddin (salah seorang pengurus NU kota Kediri yang biasa melayani beliau) untuk menghadiri sebuah acara. Sebelum menuju ke tempat acara, mereka mampir ke rumah Kiai Marzuqi Dahlan untuk mengajaknya sekalian karena beliau termasuk orang mendapat undangan acara itu juga.
Sesampainya di muka jalan menuju rumah beliau, Kiai Mahrus menyuruh Abdul Halim ngaturi (memanggil) Kiai Marzuqi, sementara Kiai Mahrus menunggu di kendaraan dengan sang sopir.
Setelah dipersilahkan masuk, Abdul Halim segera menyampaikan maksud kedatangannya. "Masya Allah, kulo supe menawi dinten meniko acaranipun" (Masya Allah saya lupa kalo acaranya hari ini) kata Kiai Marzuqi yang waktu itu hanya mengenakan sarung saja dan bertelanjang dada.
Kemudian beliau berjalan menuju kebelakang mengambil sesuatu dari bak yang biasa digunakan untuk mencuci baju. Ternyata yang beliau ambil itu baju belliau yang belum sempat dicuci, lalu dengan tenang tanpa canggung dan risih, beliau kenakan kembali baju itu.
Sepertinya hal-hal yang bersifat duniawi begitu simpel & sederhana sekali di mata beliau serta tidak perlu dibikin ribet. Sambil tersenyum beliau berkata "Alhamdulillah durung sido diumbah" (Alhamdulillah, bajunya belum sempat dicuci). Ternyata pada waktu itu beliau hanya memiliki satu baju. Ketika baju itu dicuci, otomatis beliau tidak mengenakan baju lagi. Padahal beliau seorang kiai besar dengan ribuan santri yang diasuhnya.
Selesai mendatangi tempat acara dan mengantarkan kembali Kiai Marzuqi ke rumah beliau, Abdul Halim menceritakan apa yang ia ketahui perihal Kiai Marzuqi tadi kepada Kiai Mahrus. Sontak Mbah Yai Mahrus sesenggukan tidak kuasa menahan tangis, merasa iba, prihatin, trenyuh dan haru berbaur menjadi satu dalam dada beliau melihat pilihan hidup yang sedang dilakoni Kiai Marzuqi, partner beliau dalam mengelola dan melestarikan Pondok Pesantren Lirboyo peninggalan dari mertua beliau berdua.
Lahumal faatihah
14/02/2021
OSIS Al-Fathaniyah, Cetak Generasi yang PASTI Melalui LDKS
OSIS Al-Fathaniyah, Cetak Generasi yang Pasti melalui Kaderisasi LDKS
Serang, Organisasi Siswa Intra Sekolah (OSIS) Madrasah Tsanawiyah dan Madrasah Aliyah Al-Fathaniyah Menyelenggarakan Kaderisasi Latihan Dasar Kepemimpinan Siswa (LDKS) selama tiga hari dua malam be…
30/01/2021
"Islam itu agama yang penuh dengan kasih sayang, karena itu berprasangka, menuduh orang munafik, mengkafirkan orang, tidak boleh. Apalagi sesama muslim". (KH. Matin Syarkowi, Pimpinan Pondok Pesantren Al-Fathaniyah dan Ketua Tanfidziyah PCNU Kota Serang)
______________________
12/01/2021
*NGAJI DURRATU AN-NAASHIHIN*
Qori' : Abah KH. Saifun Nawasi
Pengasuh Pondok Pesantren Al-Fathaniyah
Tengkele, Kota Serang Banten
12 Januari 2021
DURRATU AN-NAASHIHIN | 22 April 2020
Kitab Durratun Nasihin, Karya Kitab yang ditulis oleh Syekh Utsman bin Hasan bin Ahmad Asy-Syakir al-Khaubawiyyi (ada yang menyebut al-Khubawi atau al-Khubuw...
10/01/2021
"Rasulullah ﷺ Bersabda : Barangsiapa berwudhu dan menyempurnakan wudhunya, kemudian mengangkat pandangannya ke langit sambil membaca :
أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ
☝🏻maka akan dibukakan baginya delapa pintu Surga dan dia akan masuk dari pintu mana saja yang dia sukai."
(H.R Ahmad No : 116).
07/01/2021
AHLAN WA SAHLAN
CHANNEL YOUTUBE : AL-FATHANIYAH OFFICIAL
Al-Fathaniyah Official - YouTube
Pondok Pesantren Al-Fathaniyah, pada awalnya bernama Al-Ikhlas dengan lokasi hanya beberapa meter dari jalan raya, yaitu tepat berseberangan dengan penziarah...
31/12/2020
SEJARAH SINGKAT BERDIRINYA PONDOK PESANTREN AL-FATHANIYAH TENGKELE, KOTA SERANG BANTEN
[Episode 01]
Pondok Pesantren Al-Fathaniyah merupakan pesantren yang terletak di Jalan Raya Pandeglang KM. 03 Komplek. Tembong Indah (Tengkele) RT/RW. 002/001 Kelurahan. Tembong Kecamatan. Cipocok Jaya Kota. Serang Provinsi. Banten Kode Pos 42126.
Sejarah pada awal pendiriannya pesantren ini bernama Al-Ikhlas dengan lokasi hanya beberapa meter dari jalan raya, yaitu tepat berseberangan dengan penziarahan Tengkele (Tubagus Ahmad dan Tubagus Chuluq). didirikan pada tahun 1970 oleh seorang ulama kharismatik bernama KH. Fathoni Bin Sa’id, membuat pesantren ini termasuk kategori relatif muda. Pada perkembangan selanjutnya dalam kepemimpinan pesantren ini dipegang oleh salah satu murid kesayangan beliau yaitu KH. Syarqowi Bin Rofieq.