Komplek Imam Malik bin Anas Pondok Pesantren Al-Fathaniyah

Komplek Imam Malik bin Anas Pondok Pesantren Al-Fathaniyah

Share

Komplek Imam Malik bin Anas Pondok Pesantren Al-Fathaniyah Tengkele Serang Banten

14/03/2021

[🍃`Detik-Detik Munculnya Karomah Wali Qutub Habib Abu Bakar Gresik
=====================================

Habib Abu Bakar bin Muhammad Assegaf Gresik adalah sosok Wali Qutub yang luar biasa. Beliau khalwat kurang lebih 15 tahun. Haul beliau menjadi salah satu haul terbesar di Indonesia. Makamnya diziarahi para habaib sedunia. Menurut Guru Sekumpul, ada 3 orang auliya Allah yang nama dan maqomnya sama yaitu, Habib Abu Bakar bin Abdullah Alaydrus, Habib Abu Bakar bin Abdullah aL-Atthos, Habib Abu Bakar bin Muhammad Asseghaf Gresik.

Habib Abu Bakar mengisi hidupnya dengan mengajar dan membersihkan hati. Dalam majlis pengajiannya, beliau mengkhatamkan Kitab Ihya Ulumuddin sebanyak 40 kali. Sedangkan di rumahnya sendiri, beliau mengkhatamkan Kitab Ihya’ sebanyak 90 kali. Totalnya adalah 130 kali khatam. Beliau wafat pada malam Senin, tanggal 17 Dzulhijjah 1376 H. Usia beliau saat itu 91 tahun.

Ada cerita sangat menakjubkan tentang beliau. Saat semua penduduk Kota Gresik sepi mensholati jenazah beliau, ada seseorang bapak membeli daging kambing di Pasar Gresik. Kemudian bapak itu tanya kepada penjual daging,”Pak, mengapa pasar ini sepi? Dan engkau terlihat tergesa-gesa.”

“Itu Pak, Habib Abu Bakar wafat, sekarang waktunya mensholatkan beliau, ayo ke sana,” jawab penjual daging itu.

Si bapak pembeli daging langsung berangkat ke masjid jami’ untuk ikut serta mensholati beliau. Sambil membawa “bungkusan daging”.

Saat akan diangkat jenazah beliau, terlihat sama sekali tidak terangkat dan para jamaah ratusan ribu heran.

Alhamdulillah putra dan dhurriyah Habib Abu Bakar ingat bahwa Habib senang dibacakan Sholawat Nabi. Ribuan pelayat bersama membaca sholawat. Subhanallah!!!! Jenazah beliau naik ke atas dan berjalan sendiri tanpa ada yang mengangkat. Yang menakjubkan lagi, bapak yang ikut mensholatkan beliau itu p**ang dan daging yang dibeli di pasar dimasak tidak bisa matang dan digorengpun tak bisa.

Si Bapak ini kemudian menangis menceritakan kejadian daging itu.

Para ulama santri Habib Abu Bakar bercerita bahwa: “Habib Abu Bakar pernah dawuh: “Barang siapa yang kelak ikut menyolati jenazahku, maka aku doakan dia tidak terkena panasnya api neraka dan api dunia.”

Si bapak menangis tersedu. Tak menyangka daging yang ikut jadi saksi mensholati Abu Bakar tidak bisa terkena api dunia.

Saat beliau masih hidup, ada seorang anak pejabat yang hilang sudah lama. Kemudian keluarganya datang ke rumah Habib Abu Bakar saat pengajian di Masjid Jami’ Gresik.

“Anakmu ada kesalahan. Sekarang diikat jin di pohon besar tengah jalan.” kata Habib Abu Bakar.

Setelah itu, Habib Abu Bakar mengajak semua jamaah dan penduduk berjalan ke pohon itu dan Habib Abu Bakar berteriak: “Wahai Jin di dalam pohon besar, keluarkan anak ini cepat!!”

Subhanallah, langsung dari pohon terlihat anak itu ditali rantai dengan sebelahnya panas api. Semua mata melihat sambil takut dan kagum. Alam jin siang itu bisa ditampakkan Habib Abu Bakar, kemudian jin itu berkata: “Iya Habib, karena kemuliaanmu maka anak ini aku lepaskan sekarang.”

Pohon itu sekarang sudah ditebang untuk jalur ke bawah arah makam Syeikh Maulana Malik Ibrahim.

Menjelang wafatnya, Habib Abu Bakar berpuasa selama 15 hari tidak pernah makan dan minum dan tidak keluar dari kamar kholwatnya. Dalam keadaan rambutnya seperti 15 tahun yang dulu tidak panjang dan sering kali berkata’ “Aku merasa bahagia akan berjumpa dengan Allah swt.”

Jasad beliau dimakamkan di samping Masjid Agung Jami’ Gresik, Jawa Timur, bersanding dengan makam Al-Habib Alwi bin Muhammad Hasyim Assegaf (Guru Syaikhona Kholil Bangkalan).

Semoga mendapatkan berkah dari beliau dan para wali Allah… Al-Fatihah…
-

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ ۞ الفَاتِحِ لِمَا أُغْلِقَ ۞ وَالخَاتِمِ لِمَا سَبَقَ ۞ نَاصِرِ الحَقِّ بِالحَقِّ ۞ وَالهَادِي إِلَى صِرَاطِكَ المُسْتَقِيمِ ۞ وَعَلَى آلِهِ حَقَّ قَدْرِهِ وَمِقْدَارِهِ العَظِيمِ ۩

17/02/2021

"BIOGRAFI SYEKH IHSAN MUHAMMAD DAHLAN AL-JAMPESI KEDIRI"

Beliau terkenal sebagai seorang ulama yang pendiam dan tak s**a publikasi. Salah satu ulama yang paling berpengaruh dalam penyebaran ajaran Islam di wilayah nusantara pada abad ke-19 (awal abad ke-20) adalah Syekh Ihsan Muhammad Dahlan al-Jampesi. Namun, namanya lebih dikenal sebagai pengasuh Pondok Pesantren Jampes (kini Al Ihsan Jampes) di Dusun Jampes, Desa Putih, Kecamatan Gampengrejo, Kabupaten Kediri, Jawa Timur. Namanya makin terkenal setelah kitab karangannya Siraj Al-Thalibin menjadi bidang ilmu yang dipelajari hingga perguruan tinggi, seperti Universitas Al-Azhar, Kairo, Mesir. Dan, dari karyanya ini p**a, ia dikenal sebagai seorang ulama sufi yang sangat hebat.

Semasa hidupnya, Kiai dari Dusun Jampes ini tidak hanya dikenal sebagai ulama sufi. Tetapi, ia juga dikenal sebagai seorang yang ahli dalam bidang ilmu-ilmu falak, fikih, hadis, dan beberapa bidang ilmu agama lainnya. Karena itu, karya-karya tulisannya tak sebatas pada bidang ilmu tasawuf dan akhlak semata, tetapi hingga pada persoalan fikih.

Dilahirkan sekitar tahun 1901, Syekh Ihsan al-Jampesi adalah putra dari seorang ulama yang sejak kecil tinggal di lingkungan pesantren. Ayahnya KH Dahlan bin Saleh dan ibunya Istianah adalah pendiri Pondok Pesantren (Ponpes) Jampes. Kakeknya adalah Kiai Saleh, seorang ulama asal Bogor, Jawa Barat, yang masa muda hingga akhir hayatnya dihabiskan untuk menimba ilmu dan memimpin pesantren di Jatim.

Kiai Saleh sendiri, dalam catatan sejarahnya, masih keturunan dari seorang sultan di daerah Kuningan (Jabar) yang berjalur keturunan dari Syarif Hidayatullah atau Sunan Gunung Jati Cirebon, salah seorang dari sembilan wali penyebar agama Islam di Tanah Air.

Sedangkan, ibunya adalah anak dari seorang kiai Mesir, tokoh ulama di Pacitan yang masih keturunan Panembahan Senapati yang berjuluk Sultan Agung, pendiri Kerajaan Mataram pada akhir abad ke-16.

Keturunan Syekh Ihsan al-Jampesi mengenal sosok ulama yang s**a menggeluti dunia tasawuf itu sebagai orang pendiam. Meski memiliki karya kitab yang berbobot, namun ia tak s**a publikasi. Hal tersebut diungkap KH Abdul Latief, pengasuh Ponpes Jampes sekaligus cucu dari Syekh Ihsan al-Jampesi.

Membaca dan menulis
Semenjak muda, Syekh Ihsan al-Jampesi terkenal s**a membaca. Ia memiliki motto (semboyan hidup), ‘Tiada Hari tanpa Membaca’. Buku-buku yang dibaca beraneka ragam, mulai dari ilmu agama hingga yang lainnya, dari yang berbahasa Arab hingga bahasa Indonesia.

Seiring kes**aannya menyantap aneka bacaan, tumbuh p**a hobi menulis dalam dirinya. Di waktu senggang, jika tidak dimanfaatkan untuk membaca, diisi dengan menulis atau mengarang. Naskah yang ia tulis adalah naskah-naskah yang berisi ilmu-ilmu agama atau yang bersangkutan dengan kedudukannya sebagai pengasuh pondok pesantren.

Pada tahun 1930, Syekh Ihsan al-Jampesi menulis sebuah kitab di bidang ilmu falak (astronomi) yang berjudul Tashrih Al-Ibarat , penjabaran dari kitab Natijat Al-Miqat karangan KH Ahmad Dahlan, Semarang. Selanjutnya, pada 1932, ulama yang di kala masih remaja menyukai p**a ilmu pedalangan ini juga berhasil mengarang sebuah kitab tasawuf berjudul Siraj Al-Thalibin . Kitab Siraj Al-Thalibin ini di kemudian hari mengharumkan nama Ponpes Jampes dan juga bangsa Indonesia.

Tahun 1944, beliau mengarang sebuah kitab yang diberi judul Manahij Al-Amdad , penjabaran dari kitab Irsyad Al-Ibad Ilaa Sabili al-Rasyad karya Syekh Zainuddin Al-Malibari (982 H), ulama asal Malabar, India. Kitab setebal 1036 halaman itu sayangnya hingga sekarang belum sempat diterbitkan secara resmi.

Selain Manahij Al-Amdad , masih ada lagi karya-karya pengasuh Ponpes Jampes ini. Di antaranya adalah kitab Irsyad Al-Ikhwan Fi Syurbati Al-Qahwati wa Al-Dukhan , sebuah kitab yang khusus membicarakan minum kopi dan merokok dari segi hukum Islam.

Kitab yang berjudul Irsyad al-Ikhwan fi Syurbati al-Qahwati wa al-Dukhan (kitab yang membahas kopi dan rokok) ini tampaknya ada kaitannya dengan pengalaman hidupnya saat masih remaja.

Di kisahkan, sewaktu muda, Syekh Ihsan terkenal bandel. Orang memanggilnya ‘Bakri’. Kegemarannya waktu itu adalah menonton wayang sambil ditemani segelas kopi dan rokok. Kebiasannya ini membuat khawatir pihak keluarga karena Bakri akan terlibat permainan judi. Kekhawatiran ini ternyata terbukti. Bakri sangat gemar bermain judi, bahkan terkenal sangat hebat. Sudah dinasihati berkali-kali, Bakri tak juga mau menghentikan kebiasan buruknya itu.

Hingga suatu hari, ayahnya mengajak dia berziarah ke makam seorang ulama bernama KH Yahuda yang juga masih ada hubungan kerabat dengan ayahnya. Di makam tersebut, ayahnya berdoa dan memohon kepada Allah agar putranya diberikan hidayah dan insaf. Jika dirinya masih saja melakukan perbuatan judi tersebut, lebih baik ia diberi umur pendek agar tidak membawa mudharat bagi umat dan masyarakat.

Selepas berziarah itu, suatu malam Syekh Ihsan (Bakri) bermimpi didatangi seseorang yang berwujud seperti kakeknya sedang membawa sebuah batu besar dan siap dilemparkan ke kepalanya.”Hai cucuku, kalau engkau tidak menghentikan kebiasaan burukmu yang s**a berjudi, aku akan lemparkan batu besar ini ke kepalamu,” kata kakek tersebut.

Ia bertanya dalam hati, ”Apa hubungannya kakek denganku? Mau berhenti atau terus, itu bukan urusan kakek,” timpal Syekh Ihsan.Tiba tiba, sang kakek tersebut melempar batu besar tersebut ke kepala Syekh Ihsan hingga kepalanya pecah. Ia langsung terbangun dan mengucapkan istighfar. ”Ya Allah, apa yang sedang terjadi. Ya Allah, ampunilah dosaku.”

Sejak saat itu, Syekh Ihsan menghentikan kebiasaannya bermain judi dan mulai gemar menimba ilmu dari satu pesantren ke pesantren lainnya di Pulau Jawa. Mengambil berkah dan restu dari para ulama di Jawa, seperti KH Saleh Darat (Semarang), KH Hasyim Asyari (Jombang), dan KH Muhammad Kholil (Bangkalan, Madura).

Tawaran Raja Mesir
Di antara kitab-kitab karyanya, yang paling populer dan mampu mengangkat nama hingga ke mancanegara adalah Siraj Al-Thalibin . Bahkan, Raja Faruk yang sedang berkuasa di Mesir pada 1934 silam pernah mengirim utusan ke Dusun Jampes hanya untuk menyampaikan keinginannya agar Syekh Ihsan al-Jampesi bersedia diperbantukan mengajar di Universitas Al Azhar, Kairo, Mesir.

Namun, beliau menolak dengan halus permintaan Raja Faruk lewat utusannya tadi dengan alasan ingin mengabdikan hidupnya kepada warga pedesaan di Tanah Air melalui pendidikan Islam.
Dan, keinginan Syekh Ihsan al-Jampesi tersebut terwujud dengan berdirinya sebuah madrasah dalam lingkungan Ponpes Jampes di tahun 1942. Madrasah yang didirikan pada zaman pendudukan Jepang itu diberi nama Mufatihul Huda yang lebih dikenal dengan sebutan ‘MMH’ (Madrasah Mufatihul Huda).

Di bawah kepemimpinannya, Ponpes Jampes terus didatangi para santri dari berbagai penjuru Tanah Air untuk menimba ilmu. Kemudian, dalam perkembangannya, pesantren ini pun berkembang dengan didirikannya bangunan-bangunan sekolah setingkat tsanawiyah dan aliyah. Dedikasinya terhadap pendidikan Islam di Tanah Air terus ia lakukan hingga akhir hayatnya pada 15 September 1952.

Siraj Al-Thalibin, Kitab yang Sarat dengan Ilmu Tasawuf

Umat Muslim yang pernah menuntut ilmu agama di pesantren tentu pernah mendengar atau bahkan memiliki sebuah buku berbahasa Arab berjudul Siraj al-Thalibin karya Syekh Ihsan Dahlan al-Jampesi. Kitab tersebut merupakan syarah Minhaj Al-Abidin karya Imam Al-Ghazali, seorang ulama dan filsuf besar di masa abad pertengahan.

Kitab Siraj al-Thalibin disusun pada tahun 1933 dan diterbitkan pertama kali pada 1936 oleh penerbitan dan percetakan An Banhaniyah milik Salim bersaudara (Syekh Salim bin Sa’ad dan saudaranya Achmad) di Surabaya yang bekerja sama dengan sebuah percetakan di Kairo, Mesir, Mustafa Al Baby Halabi. Yang terakhir adalah percetakan besar yang terkenal banyak menerbitkan buku-buku ilmu agama Islam karya ulama besar abad pertengahan.

Siraj al-Thalibin terdiri atas dua juz (jilid). Juz pertama berisi 419 halaman dan juz kedua 400 halaman. Dalam periode berikutnya, kitab tersebut dicetak oleh Darul Fiqr–sebuah percetakan dan penerbit di Beirut, Lebanon. Dalam cetakan Lebanon, setiap juz dibuat satu jilid. Jilid pertama berisi 544 halaman dan jilid kedua 554 halaman.

Kitab tersebut tak hanya beredar di Indonesia dan negara-negara yang penduduknya mayoritas beragama Islam, tetapi juga di negara-negara non-Islam, seperti Amerika Serikat (AS), Kanada, dan Australia, di mana terdapat jurusan filsafat, teosofi, dan Islamologi dalam perguruan tinggi tertentu. Sehingga, kitab Siraj al-Thalibin ini menjadi referensi di mancanegara.

Tidak hanya itu, kitab ini juga mendapatkan pujian luas dari kalangan ulama di Timur Tengah. Karena itu, tak mengherankan jika kitab ini dijadikan buku wajib untuk kajian pascasarjana Universitas Al Azhar Kairo, Mesir, sebuah lembaga perguruan tinggi tertua di dunia.

Kitab ini dipelajari beberapa perguruan tinggi lain dan digunakan oleh hampir seluruh pondok pesantren di Tanah Air dengan kajian mendalam tentang tasawuf dan akhlak. Menurut Ketua PBNU, KH Said Aqil Siradj, seperti dikutip dari situs NU Online , kitab ini juga dikaji di beberapa majelis taklim kaum Muslim di Afrika dan Amerika.

Karya fenomenal ulama dari Dusun Jampes, Kediri, ini belakangan menjadi pembicaraan hangat di Tanah Air. Ini setelah sebuah penerbitan terbesar di Beirut, Lebanon, kedapatan melakukan pembajakan terhadap karya Syekh Ihsan Muhammad Dahlan al-Jampesi. Perusahaan penerbitan dengan nama Darul Kutub Al-Ilmiyah ini diketahui mengganti nama pengarang kitab Siraj al-Thalibin dengan Syekh Ahmad Zaini Dahlan. Bahkan, kitab versi baru ini sudah beredar luas di Indonesia.

Dalam halaman pengantar kitab Siraj al-Thalibin versi penerbit Darul Kutub Al-Ilmiyah, nama Syekh Ihsan al-Jampesi di paragraf kedua juga diganti dan penerbit menambahkan tiga halaman berisi biografi Syekh Ahmad Zaini Dahlan yang wafat pada 1941, masih satu generasi dengan Syeh Ihsan al-Jampesi yang wafat pada 1952. Sementara itu, keseluruhan isi dalam pengantar itu bahkan keseluruhan isi kitab dua jilid itu sama persis dengan kitab asal. Penerbit juga membuang taqaridh atau semacam pengantar dari Syekh KH Hasyim Asyari (Jombang), Syekh KH Abdurrahman bin Abdul Karim (Kediri), dan Syekh KH Muhammad Yunus Abdullah (Kediri).

Kitab tersebut menawarkan konsep tasawuf di zaman modern ini. Misalnya, pengertian tentang uzlah yang secara umum bermakna pengasingan diri dari kesibukan duniawi. Menurut Syekh Ihsan, maksud dari uzlah di era sekarang adalah bukan lagi menyepi, tapi membaur dalam masyarakat majemuk, namun tetap menjaga diri dari hal-hal keduniawiyan.

30/01/2021

"Islam itu agama yang penuh dengan kasih sayang, karena itu berprasangka, menuduh orang munafik, mengkafirkan orang, tidak boleh. Apalagi sesama muslim". (KH. Matin Syarkowi, Pimpinan Pondok Pesantren Al-Fathaniyah dan Ketua Tanfidziyah PCNU Kota Serang)

______________________

21/01/2021

SALING MEMBERI TEMPAT UNTUK YANG LAIN

Di tengah situasi pergulatan politik yang keras, perebutan kekuasaan yang sering tak beretika dan kehendak menampilkan diri di depan tatapan banyak mata tanpa basa basi, dua orang ini justeru saling memberi tempat untuk orang lain dan mengundurkan diri. Mereka adalah maestro sufisme : Shadr al-Din al-Qunawi dan Maulana Jalal al-Din Rumi. Keduanya tinggal di Konya, Anatolia, Turki.
Aku pernah menuliskan cerita ini beberapa waktu lalu di ruang ini. Dan aku pernah ziarah ke tempat istirah beliau berdua 2014.

Syeikh Shadr al-Din al-Qunawi (w. 674 H), adalah tokoh besar dalam dunia tasawwuf. Ia murid utama sekaligus anak tiri al-Syeikh al-Akbar (guru terbesar): Ibn Arabi. Dialah salah satu tokoh penting yang menyebarkan ajaran-ajaran Ibn Arabi dan dia p**alah yang menyebut "Wahdat al-Wujud" (Kesatuan Wujud/Unity of Being) sebagai ajaran utama/inti Ibn Arabi. Ia seangkatan dengan Maulana Jalal al-Din Rumi. Pada mulanya dia tidak cukup akrab dengan Maulana Rumi. Tetapi akhirnya menjadi sahabat yang baik. Keduanya saling belajar dan menghormati, dan keduanya menjadi sumber rujukan para ulama dalam dunia sufisme. Nama mereka menjulang di langit sufisme sepanjang masa.

Ada cerita menarik tentang persahabatan dua sufi besar ini. Suatu hari, Syeikh Shadr al-Din al-Qunawi memberikan pengajian di hadapan para ulama besar di rumahnya. Tiba-tiba Maulana Rumi datang. Ingin ikut mengaji kepadanya, meski ia adalah syeikh sufi besar. Syeikh al-Qunawi berdiri menyambutnya. Para ulama lain mengikutinya. Maulana kemudian duduk di pojok paling belakang. Ia tidak mau melangkahi dan mengambil tempat kosong di tengah-tengah para ulama itu. Syeikh Qunawi menggelarkan sajadah untuk Maulana dan meminta dengan sungguh-sungguh agar Maulana mau duduk di atas sajadah itu. Maulana menjawab : “Tidak. Aku tidak patut duduk di atas sajadah itu. Bagaimana aku harus menjawab peristiwa ini di hadapan Allah kelak”. “Jika begitu, duduklah di atasnya bersamaku, engkau di separuh sajadah ini dan aku separuh yang lain”. Maulana tetap menolak. Syeikh Qunawi menjawab : “Jika sajadah ini tidak patut diduduki Maulana, maka ia juga tidak patut aku duduki”. Syeikh Qunawi lalu melipat sajadah itu.

Ada lagi cerita menarik tentang persahabatan dua orang besar ini. Abd al-Rahman al-Jami menceritakan: “Suatu hari Jama’ah shalat meminta Maulana menjadi Imam di sebuah masjid. Maulana menolak, karena ia tahu di situ ada Syeikh al-Qunawi. Maulana mengatakan : ”Kita para “abdal” (para santri) duduk di tempat kita sampai dan berdiri di situ. Yang patut menjadi Imam Shalat adalah sang sufi mumpuni, sambil tangannya menunjuk Syeikh Qunawi”. Keduanya saling mengajukan yang lain untuk menjadi Imam. Akhirnya al-Syeikh berdiri di depan, menjadi Imam. Maulana mengatakan kepada para jama’ah :

من صلى خلف امام تقي فكانما صلى خلف نبي

“Man Shalla Khalfa Imam Taqiyy fa Ka Annama Shalla Khalfa Nabiyyin” (Siapa yang shalat di belakang seorang Imam yang amat saleh, maka dia seperti shalat di belakang Nabi).
Manakala Maulana menjelang p**ang, Husam al-Din, murid utama Maulana, bertanya kepada Maulana : “Siapakah yang akan memimpin shalat Jenazahmu, kelak?”. Maulana menjawab : “Syeikh Shadr al-Din”.

Betapa indah perilaku dua sufi besar itu. Mereka sangat rendah hati, dan saling memberi tempat bagi yang lain. Persahabatan mereka begitu tulus.

DURRATU AN-NAASHIHIN: KUPAS TUNTAS TUGAS ULAMA YANG SESUNGGUHNYA 12/01/2021

*NGAJI DURRATU AN-NAASHIHIN*

Qori' : Abah KH. Saifun Nawasi
Pengasuh Pondok Pesantren Al-Fathaniyah
Tengkele, Kota Serang Banten
12 Januari 2021

DURRATU AN-NAASHIHIN: KUPAS TUNTAS TUGAS ULAMA YANG SESUNGGUHNYA Kitab Durratun Nasihin, Karya Kitab yang ditulis oleh Syekh Utsman bin Hasan bin Ahmad Asy-Syakir al-Khaubawiyyi (ada yang menyebut al-Khubawi atau al-Khubuw...

07/01/2021

Diriwayatkan dari Aus bin Aus, Rasulullah SAW bersabda: ان من افضل ايامكم يوم الجمعة فيه خلق ادم و فيه قبض وفيه النفخة وفيه الصعقة فاكثروا من الصلاة علي فيه فان صلاتكم معروضة علي


Artinya, "Sesungguhnya di antara hari kalian yang paling utama adalah Hari Jumat. Pada hari itu Adam diciptaan dan diwafatkan, dan pada hari itu juga ditiup sangkakala dan akan terjadi kematian seluruh makhluk. Oleh karena itu perbanyaklah membaca shalawat kepadaku pada hari Jumat, karena shalawat kalian akan dipersembahkan kepadaku".

Sumber: https://islam.nu.or.id/post/read/76046/nilai-lebih-baca-sholawat-pada-hari-jumat



Al-Fathaniyah Official - YouTube 07/01/2021

AHLAN WA SAHLAN
CHANNEL YOUTUBE : AL-FATHANIYAH OFFICIAL

Al-Fathaniyah Official - YouTube Pondok Pesantren Al-Fathaniyah, pada awalnya bernama Al-Ikhlas dengan lokasi hanya beberapa meter dari jalan raya, yaitu tepat berseberangan dengan penziarah...

Want your school to be the top-listed School/college in Serang?

Click here to claim your Sponsored Listing.

Location

Category

Address


Jalan Raya Pandeglang KM. 03 Komplek. Tembong Indah (Tengkele) Kelurahan. Tembong, Kecamatan. Cipocok Jaya
Serang
42126