04/12/2019
Album Foto
RizkyN
Aku mendudukkan diri dengan pelan di kursi goyang. Semakin bertambahnya usia, tubuh yang renta memaksaku harus berhenti bekerja dan berdiam diri di rumah. Sudah sepuluh tahun ini aku melewati masa pensiun.
Sebuah album foto dengan sampul putih kusam berada di meja kecil sebelah kananku. Foto-foto lama saat aku bekerja masih tersimpan dengan rapi, meskipun sedikit demi sedikit warnanya mulai memudar.
Aku membukanya dan menemukan sebuah tanggal.
23 Maret 1987. Faldi dan Sindi.
Masih kuingat malam itu saat bersama kekasihku, Sindi. Aku mengajaknya makan malam. Kemudian membawanya ke rumah dan kami saling berbincang dengan topik masa depan.
Awalnya semua berjalan dengan lancar. Tiba-tiba dia mulai membanding-bandingkan diriku dengan Gio—si pria romantis dengan segala kejutannya—lagi.
Aku tidak s**a, tapi dia seakan tidak peduli. Dia mau aku harus seperti ini, itu, dan sebagainya.
Aku menatapanya tajam, tapi sepertinya dia acuh tak acuh. Baiklah, sepertinya dia memang menginginkan aku untuk memberinya kejutan.
"Sayang, aku ada sesuatu untukmu," kataku dengan memberikan senyuman termanis yang kupunya.
Matanya berbinar. "Benarkah?"
"Tutup matamu dulu. Jangan membuka mata sebelum aku memintanya."
Dia mengangguk setuju.
Aku melangkah, mengambil sesuatu yang akan membuatnya merasakan seperti terbang di atas awan dan takkan pulang.
"Faldi, Sayang. Sudah belum?"
"Iya, sebentar lagi."
Aku mendekat. Menutup mata dan mengambil ancang-ancang. Mengangkat dengan sekuat tenaga dan ....
Suara seperti benda yang sangat keras terjatuh ke lantai. Aku membuka mata dan melihat tubuhnya masih terduduk tegap, tanpa kepala.
"Kejutaaan!"
Aku menyeringai lebar saat melihat sebuah kepala di lantai dengan darah yang bercucuran. Matanya masih tertutup rapat, senyum sumringah pun tak luntur dari wajahnya. Momen yang sangat indah. Aku harus mengabadikannya lewat foto.
Dering gawai mengejutkanku. Terdengar suara berat dari ujung sana. "Jangan lupa akan pekerjaanmu. Bulan ini kau belum memberiku mata."
"Ya, sudah kudapatkan, Bos."