02/01/2014
Akhirnya Gadis Tomboy Itu Berjilbab Juga
dari teman Admin Qolbun Salim dari Jakarta
semoga menjadi Nutrisi Iman akhir pekan
*Lia Aqeela
Gadis itu berusia dua belas tahun.Ia gadis tomboy, teman-temannya bilang begitu. Jika bukan karena ibunya yang senang mendandaninya, ia pasti akan berangkat ke sekolah dengan rambut yang tidak tersisir. Gadis itu tak menyukai penampilan feminin, termasuk cara berbusana girly. Ia akrab dengan celana jins, kaus oblong dan sandal sporty. Jilbab? Maaf, baginya jilbab adalah aksesori yang tidak simple,merepotkan, dan sama sekali bukan preferensinya dalam berpenampilan.
Dalam sebuah kegiatan outing yang diadakan sekolah, guru agamanya marah besar melihat para siswi yang mengenakan kerudung secara serampangan. Salah satunya adalah si gadis tomboy itu.Kemarahan gurunya tersebut menjadi sebuah beban baginya, beban yang membuat hatinya panas, merasa jengkel, beban yang membuat ia sungkan mengikuti kegiatankeislaman di sekolah.
“Kenapa sih harus pake jilbab?? Dankalau ngga pake si bapak itu (baca: guru agama) marah-marah.” Ia menyampaikankekesalan pada salah seorang temannya.
“Tapi elo tuh cantik banget kalaupake jilbab. Suer!” Temannya yang anak ROHIS dan berjilbab rapinampaknya berusaha memotivasi dengan memberi pujian.
Namun hampir tak ada gadis tomboyyang peduli apakah ia terlihat cantik atau tidak. Yang ia rasakan adalah sebuahketidaknyamanan. Tiga tahun di SMP, tak banyak ia mengikuti kegiatan keislamandi sekolahnya. Ia lebih s**a menonton teman-temannya bertanding bola dengansiswa sekolah lain atau ke toko buku di daerah Matraman untuk berburu komik.
***
Waktu bergulir. Si gadis tomboyditerima di sebuah SMA unggulan. Tentunya persaingan dalam bidang akademiklebih ketat dibandingkan dengan sewaktu ia bersekolah di SMP. Ibaratnya jikadulu dengan gigi tiga ia bisa melesat menjadi juara, di jenjang sekolah barunyaini ia harus berada pada posisi gigi lima untuk bisa mengungguli yang lain. Iasendiri menargetkan dirinya untuk selalu masuk daftar peringkat sepuluh besar,agar di kelas tiga nanti bisa mengikuti PMDK (sistem penerimaan mahasiswa diperguruan tinggi negeri tanpa ujian). Ia sadar, itu berarti dirinya harus mengurangikegiatan leha-lehanya seperti dulu ketika SMP.
Di awal masa putih abu-abu, Allahmempertemukan gadis itu dengan orang-orang yang membuatnya merasa nyaman,orang-orang berprestasi –minimal prestasi akademik di sekolah. Juga orang-orangyang senang berkreasi, berlomba dalam kebaikan dan tak pernah merasa direpotkanketika orang lain butuh mas**an atau second opinion. Sebuah lingkungan yangmenurutnya bisa membantu dirinya mencapai target akademis yang telah iacanangkan. Sebuah lingkungan Islami, yang –gadis tomboy itu “syukuri” – tidakmemaksanya berjilbab ketika menghadiri acara-acara mereka.
Namanya liqo. Salah satuprogram kajian Islam sepekan sekali yang dilakukan dalam kelompok-kelompokkecil. Kegiatan ini menjadi rutinitas bagi si gadis tomboy –sekali lagi, walaudiikutinya tanpa mengenakan jilbab. Bukan karena ilmu yang dibagi secaracuma-cuma oleh sang murobbiyah (baca: guru ngaji), tapi lebih karenasuasana hangat di dalam kelompok itu.
Murobbiyah-nya, adalah seorangmahasiswi tingkat akhir di salah satu perguruan tinggi negeri di Jakarta. Sosokyang tidak pernah ia kenal sebelumnya, namun tidak dirasa sebagai orang asing.Ya, murobbiyah-nya selalu berhasil menciptakan suasana akrab dengan si gadistomboy dan teman-temannya. Hampir di setiap tatap muka, ia membawa camilan,walau hanya sekedar seplastik kerupuk!
Suatu kali gadis itu berjalanbersama murobbiyah-nya. Mereka baru saja menengok sebuah tempat kursus bahasaInggris. Menyusuri jalan aspal, sambil berbincang, sang murobbiyah tiba-tibaberhenti. Rupanya di depan mereka ada sebuah dahan pohon yang cukup panjangmerintangi jalan.
Ia meraih salah satu ujung dahan.Sambil menggesernya ke tepi ia berujar, “ini yang namanya menyingkirkan duridari jalan.”
Si gadis tomboy tercenung. Yangdiucapkan murobbiyahnya barusan adalah sebuah nukilan hadits riwayat BukhariMuslim. Sebelumnya tak terpikir sama sekali untuk melakukan apa yang baru sajadilihatnya. Keduanya kembali berjalan. Dan apa yang terjadi sore itu, baginya,adalah pelajaran bab kepedulian.
***
‘Hai nabi, Katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anakperempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin: “Hendaklah mereka mengulurkanjilbabnya ke seluruh tubuh mereka”. yang demikian itu supaya mereka lebih mudahuntuk dikenal, Karena itu mereka tidak diganggu. dan Allah adalah MahaPengampun lagi Maha Penyayang.’ [Qs. al-Ahzab : 59].
‘Katakanlah kepada wanita yang beriman: “Hendaklah merekamenahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkanperhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya. dan hendaklah merekamenutupkan kain kudung kedadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannyakecuali kepada suami mereka, ….’ [Qs. an-Nûr : 31].
Dua ayat yang sangat tak ingindidengar oleh si gadis tomboy. Tapi tak ada yang bisa ia lakukan untukmenghalangi lisan murobbiyah-nya mengucapkan keduanya. Tak ada cara untukmencegah gurunya menyampaikan kewajiban berjilbab bagi muslimah.
Beban. Hatinya terbebani.
Beberapa temannya, yang di awal liqotidak berjilbab, kini sudah menutup diri rapat dan rapi dengan jilbab merekayang besar. Sementara ia tidak –atau belum. Murobbiyahnya tak pernah memaksaapalagi marah-marah, tak pernah juga menyindir dirinya secara khusus untukmenutup aurat.
Beban itu ia bawa dalam jangka waktuyang tidak sebentar, berbulan-bulan. Semakin banyak temannya yang kinimengenakan jilbab. Anggun (oh, ternyata si tomboy sudah berkenalan dengan kataberbau feminin ini!). Ia merasa terdesak. Antara kewajiban dari Tuhan-nya, danegonya.
“Gimana nanti aku main basket denganjilbab?? Gimana kalau aku kegerahan?? Gimana kalau setelah pakai jilbab terusternyata nggak enak, aku nggak betah??”
Kegalauan menyelimuti hatinya.Bujukan, motivasi dan penguatan untuk berjilbab dari teman-teman liqo dankakak-kakak kelasnya mengalir semakin deras. Sungguh, ini harus diputuskan,pikirnya. Tapi keputusan yang mana yang harus diambil??
Pagi itu, di bulan September,tanggal enam belas. Usianya tepat enam belas tahun. A birthday-girl, sigadis tomboy, mematut diri di depan cermin. Tangannya memegang sebuah jilbabputih berenda. Hatinya mengucapkan basmalah, berharap agar istiqomah. Iakenakan jilbabnya. Ya Allah, benda yang dulu tak dis**ainya itu kini membalutsempurna auratnya.
Di sekolah, kehebohan terjadi.Teman-temannya, kakak-kakak kelasnya begitu surprised. Ia dipeluk,dikerubungi, diberi selamat, bahkan dikecup pipinya. Ia tersipu, masih merasatidak percaya diri.
Sang murobbiyah tersenyum, tidakberkomentar banyak. Tidak memuji berlebihan. Hal ini justru membuatnya merasanyaman. Terlebih lagi, apa yang ia khawatirkan sebelum berjilbab, tidak pernahterjadi. Ia masih bisa main basket, ia tidak merasa gerah, dan ia merasa nyamandengan jilbabnya.
Namun satu hal, ia tidak mengenakanrok seperti murobbiyah atau beberapa kakak kelasnya. Dalam keseharian, iaselalu mengenakan celana panjang. Hanya ada satu jenis rok yang ia punya: rokabu-abu, seragam sekolahnya.
***
Si gadis tomboy bersama dua orangteman liqo-nya yang lain diajak oleh sang murobbiyah mengikuti sebuah event:malam bina iman taqwa (mabit). Sebuah event umum, tapi sudah diprediksi bakaldihadiri oleh para jilbaber dan laki-laki yang kebanyakan berjanggut. Lucunya,gadis-gadis SMA itu bersepakat mengenai dress code.
“Eh, kita pake gamis yok!” si tomboymenyeletuk (hebat, akhirnya dia kenal juga sama gamis :p).
“Okee, tapi di hari kedua aja ya.Hari pertamanya kita pake celana panjang.” Temannya menimpali.
Selesai sholat isya, banyak pesertayang tilawah Qur’an, termasuk sang murobbiyah. Ia membuka mushafnya dan mulaimelantunkan ayat-ayat mulia. Si gadis tomboy tak bisa menahan kantuk. Iarebahkan kepalanya di pangkuan sang murobbiyah, menikmati alunan merdu tilawahQur’annya. Ia terlelap, kecapekan. Ketika membuka mata, posisinya masih sepertisemula, di pangkuan. Namun murobbiyahnya sudah tidak lagi tilawah. Rabbi! Iaterkesiap. Pasti kaki murobbiyahnya sudah pegal menahan beban kepalanya! Iacepat-cepat bangun. Namun murobbiyahnya bersikap biasa, tidak mengeluh apa-apa.Sungguh sabar ia!
Dan dini hari itu adalah dini hariyang berat bagi si tomboy dengan kedua temannya. Saat itulah kali pertamamereka merasakan sholat malam berjam-jam. Mereka bahkan hampir tertidur sambilberdiri saat imam membaca surat-surat Al-Qur’an. Namun ketiganya berusahabertahan, malu dengan peserta lain yang –entah energi dari mana – tetap bisakhusyuk dalam tiap rakaatnya.
***
Ketiganya tampil rapi dalam balutangamis. Ya, untuk event itu si gadis tomboy rela bergamis ria. Mereka memanggultas ransel, bersiap menuju persinggahan selanjutnya: kediaman sang murobbiyahdi ujung timur Jakarta.
Tiga perempuan berjilbab itu berdiridi trotoar, menanti angkutan kota yang muat menampung mereka semua. Takseberapa jauh di depan, seorang ikhwan peserta mabit juga melakukan hal yangsama. Cukup lama mereka menunggu sampai angkot yang dinanti mulai nampak dikejauhan. Ketiganya merasa lega, namun ternyata si ikhwan menyetopnya lebihdulu. Spontan ketiganya ber-“yaaah” kecewa karena itu berarti mereka harusmenunggu lagi angkot berikutnya.
Eh, rupanya ikhwan itu tahu diri. Iaurung naik. Memandang ke arah empat perempuan itu sambil tersenyum. Sebuahgestur yang mereka terjemahkan sebagai, “silakan naik duluan, biar saya yangmenunggu angkot berikutnya.”
Itsar. Si gadis tomboy ingat betul kata yang sering diucapkanmurobbiyahnya. Mendahulukan kepentingan saudaranya diatas kepentingan pribadi.Kebaikan dengan nilai tertinggi dalam lingkup ukhuwah islamiyah.
Alhamdulillah, ikhwan itu tidakharus menunggu angkot berikutnya karena ternyata masih ada space yang cukupuntuk mereka berempat.
***
Kediaman murobbiyah mereka ada didaerah antah berantah –begitulah menurut si gadis tomboy. Ia danteman-temannya sudah pernah kesana sebelumnya menggunakan angkutan kota,berangkat bersama-sama dari tempat biasa mereka liqo. Dan itu membutuhkan waktusatu setengah jam! Goodness! Jadi hampir setiap pekannya, murobbiyah merekamenempuh satu setengah jam perjalanan yang melelahkan. Kendati demikan iaselalu bisa memberikan kehangatan dan rasa nyaman untuk para binaannya. Bahkantak pernah lupa membawa makanan kecil untuk selingan kala liqo.
Ketiga gadis SMA itu diajak ke kamarsang murobbiyah. Sebuah kamar sederhana yang hanya diisi sebuah kasur yangdiletakkan di lantai. Tak ada lemari pakaian. Tak ada toalet. Mereka dudukmelingkar. Liqo.
Si tomboy mengambil posisi dekatkasur yang diletakkan di lantai. Lama-kelamaan tak bisa ia tahan kantuknya. Taksadar, tahu-tahu ia sudah tertidur pulas di kasur. Rasanya cukup lama, karenaketika terbangun tidak lagi suasana liqo yang ia dapati. Teman-temannyameledek. Namun murobbiyahnya, seperti sebelumnya, bersikap biasa. Tidak marahsedikitpun! Tak keluar ledekan apapun dari lisannya! Ya Rabb, kesabaran levelberapa yang Kau sematkan pada dirinya??
***
Epilog
Di akhir tahun ketiganya di SMA,gadis tomboy itu memenuhi seluruh persyaratan untuk pengajuan PMDK ke sebuahPTN di Jakarta, bersama dengan dua orang teman liqo-nya yang lain. Namunternyata bukan itu jalan untuk diterima di PTN dan jurusan impiannya. Diataslangit, ada langit. Ia tetap harus menempuh ujian masuk PTN (sekarang SNMPTN)dan –Alhamdulillah –lulus. Bahkan prestasi akademiknya ini tak terlepas dariperan murobbiyahnya yang tak sungkan berbagi ilmu, nasihat, dan informasiseputar dunia perkuliahan.
Gadis itu tetap tomboy. Namun sudahbanyak terpoles oleh nilai-nilai Islam yang didapatnya sejak masa putihabu-abu. Nilai-nilai mengenai ibadah, kepedulian terhadap sesama, ukhuwahislamiyah, kegigihan, pengorbanan, ah, tak terhitung apa saja yang telah iadapat. Semuanya diberi secara cuma-cuma oleh para murobbiyah-nya.
Entah apa jadinya ia jika tak adaorang-orang yang ikhlas menyerukan agama Tuhannya. Mungkin ia hanya akanmemikirkan kesuksesan di dunia dan menyisakan sedikit porsi kesuksesanakhiratnya. Mungkin ia akan menjadi salah satu dari beberapa kawan sekolahnyayang senang clubbing dan pulang malam. Mungkin ia tak bisa mendapatkannasihat-nasihat menyejukkan dari lisan-lisan yang terjaga...
Ya Allah, gadis itu menjadi salahsatu saksi atas keikhlasan para da’i-Mu. Ia kelak menjadi saksi atas keteguhanperjuangan serta pengorbanan para kader da’wah yang menyerukan al-haq. Iaadalah alasan tak terputusnya pahala untuk para murobbiyahnya, walau ruh telahtercerabut dari raga mereka. Duhai Rabb, sungguh ia akan bersaksi di hadapan-Mukelak.
Notes: Admin telah mendapatkan izin dari penulis (Lia) untuk memposting tulisannya melalui media Qolbun Salim