WisPres Qolbun Salim UIN Walisongo

WisPres Qolbun Salim UIN Walisongo

Share

Sebagai wadah untuk saling mengingatkan dalam hal kebenaran dan kesabaran

25/04/2017

Rasulullah saw., bersabda: "Janganlah kamu mempelajari ilmu untuk tujuan berkompetisi dan menyaingi ulama, mengolok-olok orang yang bodoh dan mendapatkan simpati manusia. Barang siapa berbuat demikian, sungguh mereka kelak berada di neraka. (HR. Ibnu Majah).

23/04/2017

sesuatu yang aku khawatirkan dari kalian adalah perbuatan syirik kecil, kemudian beliau di tanya tentang itu, dan beliaupun menjawab : yaitu riya." (HR. Ahmad, thqbrani dan abu dawud)

21/04/2017

*Ngaji yuk*
🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃

Kamu mengaku orang beriman? Seberapa jauh kamu memahami tentang iman?

Yuk ngaji lebih dalam, dalam kajian Wisma Prestasi Qolbun Salim

"Buah dan Manisnya Iman"

👳🏼‍♀ Pemateri : Ustadz Joko Winarso
🗓 Hari/Tanggal: Sabtu,22 April 2017
⏰ Pukul : 07.00
📌 Tempat : Masjid Kampus 2 UIN Walisongo Semarang

Don't Miss it Guys !

19/10/2015

"Semakin seseorang istiqomah dan baik dalam ibadah kepada Allah maka akan semakin berat ujian yang diberikan. Tapi kalau asal-asalan dan tidak istiqomah serta agamanya seperti itu, maka akan di uji sesuai kadar agamanya."

18/10/2015

"3 hal siapa yg memilikinya maka dia akan mrsakan lezatnya iman: Allah & Rasul-Nya lebih dia cintai drpda selainnya, dia mencintai seorang hny krn Allah, dan dia sgt bnci utk kmbli kpd kekufuran, sbgmana dia bnci utk dlempar ke neraka." (HR. Bukhari Muslim)
Semoga allah melindungi kita dr sgla pnykit hati yg brbhya dan mjdikan hati kita hati yg sehat yg bs mrsakan lezatnya iman, islam dan amal sholeh.
Aamiin..

Photos 02/01/2014

Akhirnya Gadis Tomboy Itu Berjilbab Juga

dari teman Admin Qolbun Salim dari Jakarta

semoga menjadi Nutrisi Iman akhir pekan


*Lia Aqeela

Gadis itu berusia dua belas tahun.Ia gadis tomboy, teman-temannya bilang begitu. Jika bukan karena ibunya yang senang mendandaninya, ia pasti akan berangkat ke sekolah dengan rambut yang tidak tersisir. Gadis itu tak menyukai penampilan feminin, termasuk cara berbusana girly. Ia akrab dengan celana jins, kaus oblong dan sandal sporty. Jilbab? Maaf, baginya jilbab adalah aksesori yang tidak simple,merepotkan, dan sama sekali bukan preferensinya dalam berpenampilan.



Dalam sebuah kegiatan outing yang diadakan sekolah, guru agamanya marah besar melihat para siswi yang mengenakan kerudung secara serampangan. Salah satunya adalah si gadis tomboy itu.Kemarahan gurunya tersebut menjadi sebuah beban baginya, beban yang membuat hatinya panas, merasa jengkel, beban yang membuat ia sungkan mengikuti kegiatankeislaman di sekolah.



“Kenapa sih harus pake jilbab?? Dankalau ngga pake si bapak itu (baca: guru agama) marah-marah.” Ia menyampaikankekesalan pada salah seorang temannya.



“Tapi elo tuh cantik banget kalaupake jilbab. Suer!” Temannya yang anak ROHIS dan berjilbab rapinampaknya berusaha memotivasi dengan memberi pujian.



Namun hampir tak ada gadis tomboyyang peduli apakah ia terlihat cantik atau tidak. Yang ia rasakan adalah sebuahketidaknyamanan. Tiga tahun di SMP, tak banyak ia mengikuti kegiatan keislamandi sekolahnya. Ia lebih s**a menonton teman-temannya bertanding bola dengansiswa sekolah lain atau ke toko buku di daerah Matraman untuk berburu komik.



***



Waktu bergulir. Si gadis tomboyditerima di sebuah SMA unggulan. Tentunya persaingan dalam bidang akademiklebih ketat dibandingkan dengan sewaktu ia bersekolah di SMP. Ibaratnya jikadulu dengan gigi tiga ia bisa melesat menjadi juara, di jenjang sekolah barunyaini ia harus berada pada posisi gigi lima untuk bisa mengungguli yang lain. Iasendiri menargetkan dirinya untuk selalu masuk daftar peringkat sepuluh besar,agar di kelas tiga nanti bisa mengikuti PMDK (sistem penerimaan mahasiswa diperguruan tinggi negeri tanpa ujian). Ia sadar, itu berarti dirinya harus mengurangikegiatan leha-lehanya seperti dulu ketika SMP.



Di awal masa putih abu-abu, Allahmempertemukan gadis itu dengan orang-orang yang membuatnya merasa nyaman,orang-orang berprestasi –minimal prestasi akademik di sekolah. Juga orang-orangyang senang berkreasi, berlomba dalam kebaikan dan tak pernah merasa direpotkanketika orang lain butuh mas**an atau second opinion. Sebuah lingkungan yangmenurutnya bisa membantu dirinya mencapai target akademis yang telah iacanangkan. Sebuah lingkungan Islami, yang –gadis tomboy itu “syukuri” – tidakmemaksanya berjilbab ketika menghadiri acara-acara mereka.



Namanya liqo. Salah satuprogram kajian Islam sepekan sekali yang dilakukan dalam kelompok-kelompokkecil. Kegiatan ini menjadi rutinitas bagi si gadis tomboy –sekali lagi, walaudiikutinya tanpa mengenakan jilbab. Bukan karena ilmu yang dibagi secaracuma-cuma oleh sang murobbiyah (baca: guru ngaji), tapi lebih karenasuasana hangat di dalam kelompok itu.



Murobbiyah-nya, adalah seorangmahasiswi tingkat akhir di salah satu perguruan tinggi negeri di Jakarta. Sosokyang tidak pernah ia kenal sebelumnya, namun tidak dirasa sebagai orang asing.Ya, murobbiyah-nya selalu berhasil menciptakan suasana akrab dengan si gadistomboy dan teman-temannya. Hampir di setiap tatap muka, ia membawa camilan,walau hanya sekedar seplastik kerupuk!



Suatu kali gadis itu berjalanbersama murobbiyah-nya. Mereka baru saja menengok sebuah tempat kursus bahasaInggris. Menyusuri jalan aspal, sambil berbincang, sang murobbiyah tiba-tibaberhenti. Rupanya di depan mereka ada sebuah dahan pohon yang cukup panjangmerintangi jalan.



Ia meraih salah satu ujung dahan.Sambil menggesernya ke tepi ia berujar, “ini yang namanya menyingkirkan duridari jalan.”



Si gadis tomboy tercenung. Yangdiucapkan murobbiyahnya barusan adalah sebuah nukilan hadits riwayat BukhariMuslim. Sebelumnya tak terpikir sama sekali untuk melakukan apa yang baru sajadilihatnya. Keduanya kembali berjalan. Dan apa yang terjadi sore itu, baginya,adalah pelajaran bab kepedulian.



***



‘Hai nabi, Katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anakperempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin: “Hendaklah mereka mengulurkanjilbabnya ke seluruh tubuh mereka”. yang demikian itu supaya mereka lebih mudahuntuk dikenal, Karena itu mereka tidak diganggu. dan Allah adalah MahaPengampun lagi Maha Penyayang.’ [Qs. al-Ahzab : 59].



‘Katakanlah kepada wanita yang beriman: “Hendaklah merekamenahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkanperhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya. dan hendaklah merekamenutupkan kain kudung kedadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannyakecuali kepada suami mereka, ….’ [Qs. an-Nûr : 31].



Dua ayat yang sangat tak ingindidengar oleh si gadis tomboy. Tapi tak ada yang bisa ia lakukan untukmenghalangi lisan murobbiyah-nya mengucapkan keduanya. Tak ada cara untukmencegah gurunya menyampaikan kewajiban berjilbab bagi muslimah.



Beban. Hatinya terbebani.



Beberapa temannya, yang di awal liqotidak berjilbab, kini sudah menutup diri rapat dan rapi dengan jilbab merekayang besar. Sementara ia tidak –atau belum. Murobbiyahnya tak pernah memaksaapalagi marah-marah, tak pernah juga menyindir dirinya secara khusus untukmenutup aurat.



Beban itu ia bawa dalam jangka waktuyang tidak sebentar, berbulan-bulan. Semakin banyak temannya yang kinimengenakan jilbab. Anggun (oh, ternyata si tomboy sudah berkenalan dengan kataberbau feminin ini!). Ia merasa terdesak. Antara kewajiban dari Tuhan-nya, danegonya.



“Gimana nanti aku main basket denganjilbab?? Gimana kalau aku kegerahan?? Gimana kalau setelah pakai jilbab terusternyata nggak enak, aku nggak betah??”



Kegalauan menyelimuti hatinya.Bujukan, motivasi dan penguatan untuk berjilbab dari teman-teman liqo dankakak-kakak kelasnya mengalir semakin deras. Sungguh, ini harus diputuskan,pikirnya. Tapi keputusan yang mana yang harus diambil??



Pagi itu, di bulan September,tanggal enam belas. Usianya tepat enam belas tahun. A birthday-girl, sigadis tomboy, mematut diri di depan cermin. Tangannya memegang sebuah jilbabputih berenda. Hatinya mengucapkan basmalah, berharap agar istiqomah. Iakenakan jilbabnya. Ya Allah, benda yang dulu tak dis**ainya itu kini membalutsempurna auratnya.



Di sekolah, kehebohan terjadi.Teman-temannya, kakak-kakak kelasnya begitu surprised. Ia dipeluk,dikerubungi, diberi selamat, bahkan dikecup pipinya. Ia tersipu, masih merasatidak percaya diri.



Sang murobbiyah tersenyum, tidakberkomentar banyak. Tidak memuji berlebihan. Hal ini justru membuatnya merasanyaman. Terlebih lagi, apa yang ia khawatirkan sebelum berjilbab, tidak pernahterjadi. Ia masih bisa main basket, ia tidak merasa gerah, dan ia merasa nyamandengan jilbabnya.



Namun satu hal, ia tidak mengenakanrok seperti murobbiyah atau beberapa kakak kelasnya. Dalam keseharian, iaselalu mengenakan celana panjang. Hanya ada satu jenis rok yang ia punya: rokabu-abu, seragam sekolahnya.



***



Si gadis tomboy bersama dua orangteman liqo-nya yang lain diajak oleh sang murobbiyah mengikuti sebuah event:malam bina iman taqwa (mabit). Sebuah event umum, tapi sudah diprediksi bakaldihadiri oleh para jilbaber dan laki-laki yang kebanyakan berjanggut. Lucunya,gadis-gadis SMA itu bersepakat mengenai dress code.



“Eh, kita pake gamis yok!” si tomboymenyeletuk (hebat, akhirnya dia kenal juga sama gamis :p).



“Okee, tapi di hari kedua aja ya.Hari pertamanya kita pake celana panjang.” Temannya menimpali.





Selesai sholat isya, banyak pesertayang tilawah Qur’an, termasuk sang murobbiyah. Ia membuka mushafnya dan mulaimelantunkan ayat-ayat mulia. Si gadis tomboy tak bisa menahan kantuk. Iarebahkan kepalanya di pangkuan sang murobbiyah, menikmati alunan merdu tilawahQur’annya. Ia terlelap, kecapekan. Ketika membuka mata, posisinya masih sepertisemula, di pangkuan. Namun murobbiyahnya sudah tidak lagi tilawah. Rabbi! Iaterkesiap. Pasti kaki murobbiyahnya sudah pegal menahan beban kepalanya! Iacepat-cepat bangun. Namun murobbiyahnya bersikap biasa, tidak mengeluh apa-apa.Sungguh sabar ia!



Dan dini hari itu adalah dini hariyang berat bagi si tomboy dengan kedua temannya. Saat itulah kali pertamamereka merasakan sholat malam berjam-jam. Mereka bahkan hampir tertidur sambilberdiri saat imam membaca surat-surat Al-Qur’an. Namun ketiganya berusahabertahan, malu dengan peserta lain yang –entah energi dari mana – tetap bisakhusyuk dalam tiap rakaatnya.



***



Ketiganya tampil rapi dalam balutangamis. Ya, untuk event itu si gadis tomboy rela bergamis ria. Mereka memanggultas ransel, bersiap menuju persinggahan selanjutnya: kediaman sang murobbiyahdi ujung timur Jakarta.



Tiga perempuan berjilbab itu berdiridi trotoar, menanti angkutan kota yang muat menampung mereka semua. Takseberapa jauh di depan, seorang ikhwan peserta mabit juga melakukan hal yangsama. Cukup lama mereka menunggu sampai angkot yang dinanti mulai nampak dikejauhan. Ketiganya merasa lega, namun ternyata si ikhwan menyetopnya lebihdulu. Spontan ketiganya ber-“yaaah” kecewa karena itu berarti mereka harusmenunggu lagi angkot berikutnya.



Eh, rupanya ikhwan itu tahu diri. Iaurung naik. Memandang ke arah empat perempuan itu sambil tersenyum. Sebuahgestur yang mereka terjemahkan sebagai, “silakan naik duluan, biar saya yangmenunggu angkot berikutnya.”



Itsar. Si gadis tomboy ingat betul kata yang sering diucapkanmurobbiyahnya. Mendahulukan kepentingan saudaranya diatas kepentingan pribadi.Kebaikan dengan nilai tertinggi dalam lingkup ukhuwah islamiyah.



Alhamdulillah, ikhwan itu tidakharus menunggu angkot berikutnya karena ternyata masih ada space yang cukupuntuk mereka berempat.



***



Kediaman murobbiyah mereka ada didaerah antah berantah –begitulah menurut si gadis tomboy. Ia danteman-temannya sudah pernah kesana sebelumnya menggunakan angkutan kota,berangkat bersama-sama dari tempat biasa mereka liqo. Dan itu membutuhkan waktusatu setengah jam! Goodness! Jadi hampir setiap pekannya, murobbiyah merekamenempuh satu setengah jam perjalanan yang melelahkan. Kendati demikan iaselalu bisa memberikan kehangatan dan rasa nyaman untuk para binaannya. Bahkantak pernah lupa membawa makanan kecil untuk selingan kala liqo.



Ketiga gadis SMA itu diajak ke kamarsang murobbiyah. Sebuah kamar sederhana yang hanya diisi sebuah kasur yangdiletakkan di lantai. Tak ada lemari pakaian. Tak ada toalet. Mereka dudukmelingkar. Liqo.



Si tomboy mengambil posisi dekatkasur yang diletakkan di lantai. Lama-kelamaan tak bisa ia tahan kantuknya. Taksadar, tahu-tahu ia sudah tertidur pulas di kasur. Rasanya cukup lama, karenaketika terbangun tidak lagi suasana liqo yang ia dapati. Teman-temannyameledek. Namun murobbiyahnya, seperti sebelumnya, bersikap biasa. Tidak marahsedikitpun! Tak keluar ledekan apapun dari lisannya! Ya Rabb, kesabaran levelberapa yang Kau sematkan pada dirinya??



***



Epilog



Di akhir tahun ketiganya di SMA,gadis tomboy itu memenuhi seluruh persyaratan untuk pengajuan PMDK ke sebuahPTN di Jakarta, bersama dengan dua orang teman liqo-nya yang lain. Namunternyata bukan itu jalan untuk diterima di PTN dan jurusan impiannya. Diataslangit, ada langit. Ia tetap harus menempuh ujian masuk PTN (sekarang SNMPTN)dan –Alhamdulillah –lulus. Bahkan prestasi akademiknya ini tak terlepas dariperan murobbiyahnya yang tak sungkan berbagi ilmu, nasihat, dan informasiseputar dunia perkuliahan.



Gadis itu tetap tomboy. Namun sudahbanyak terpoles oleh nilai-nilai Islam yang didapatnya sejak masa putihabu-abu. Nilai-nilai mengenai ibadah, kepedulian terhadap sesama, ukhuwahislamiyah, kegigihan, pengorbanan, ah, tak terhitung apa saja yang telah iadapat. Semuanya diberi secara cuma-cuma oleh para murobbiyah-nya.



Entah apa jadinya ia jika tak adaorang-orang yang ikhlas menyerukan agama Tuhannya. Mungkin ia hanya akanmemikirkan kesuksesan di dunia dan menyisakan sedikit porsi kesuksesanakhiratnya. Mungkin ia akan menjadi salah satu dari beberapa kawan sekolahnyayang senang clubbing dan pulang malam. Mungkin ia tak bisa mendapatkannasihat-nasihat menyejukkan dari lisan-lisan yang terjaga...



Ya Allah, gadis itu menjadi salahsatu saksi atas keikhlasan para da’i-Mu. Ia kelak menjadi saksi atas keteguhanperjuangan serta pengorbanan para kader da’wah yang menyerukan al-haq. Iaadalah alasan tak terputusnya pahala untuk para murobbiyahnya, walau ruh telahtercerabut dari raga mereka. Duhai Rabb, sungguh ia akan bersaksi di hadapan-Mukelak.



Notes: Admin telah mendapatkan izin dari penulis (Lia) untuk memposting tulisannya melalui media Qolbun Salim

16/12/2013

"suatu jiwa sama sekali tidak akan mati hingga disempurnakan rezkinya. Maka bertakwalah kepada Allah, baguskan dalam meminta, dan janganlah kalian menganggap lamban datangnya rezki, sehingga kalian mencarinya dengan cara mendurhakai Allah, karena apa yang ada disisi Allah tidak akan bisa diperoleh kecuali dengan menaatiNya". Rezki memang satu dari tiga hal yang sudah ditentukan Allah. Seseorang tidak akan mati sebelum rezki yang ditentukan untuknya sudah sempurna.

11/12/2013

Do'aku diwaktu dhuha ini... ~>

Ya Allah, kayakanlah aku dengan harta halalMu hingga aku terhindar dari apa yang Kau haramkan.

Ya Allah, kenyangkanlah perut ini dengan makanan yang Kau halalkan hingga darah yang mengalir dalam tubuhku menjadi suci dari barang haram Mu.

Aamiin

29/11/2013



Buah yang paling manis didunia ini adalah buah dari kesabaran dan ketawakkalan. Itulah ungkapan yang tepat untuk kisah yang ditulis oleh Ukhtina Noor Septaningsih dalam cerpennya. Semoga menginspirasi dan memotivasi kita semua and ^_^

Ingat QS Al-Baqarah ya, Ukhti….
*Noor Septaningsih Al Ma'wa

“ Dan infakkanlah (hartamu) di jalan Allah dan janganlah kamu jatuhkan dirimu ke dalam kebinasaan dengan tangan sendiri dan berbuat baiklah. Sungguh, Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik” QS. Al-Baqarah : 195
Sore itu aku sedang asyik tiduran di kamar kecilku yang tak lumayan besar, berdindingkan kayu dan beralaskan kasur yang empuk. Sungguh nikmat rasanya ketika badanku mulai letih, lalu ku rebahkan diatas tempat tidurku yang mungil dengan di temani teman-teman seperjuanganku dan juga adik-adik pesmaku yang harus ku bina. Tiba-tiba hp Samsung duos warna hitamku berbunyi, tanda ada sms masuk.ku baca sms dari temanku yang bertuliskan:
“ assalamu’alaikum wr.wb., mbak asih maaf ya, aku boleh pinjam uang 500 ribu nggak? Aku sudah nyari-nyari pinjaman tapi belum dapat. Aku butuh uangnya besok mbak. Bagaimana mbak? Soalya aku pernah hutang sama temenku, lalu dia mendadak minta uang 500 ribu. Bisa nggak mbak?”
“ iya ukhti, tak pinjemin. Alhamdulillah aku baru aja mendapat rezeki dari Allah. Aku mau minjemim ke anti karena aku percaya sama anti. Semoga anti tidak mengingkari kepercayaanku ya.” Balasku.
Mungkin uang 500 ribu adalah nominal yang bisa dibilang besar untuk kalangan mahasiswa. Bahkan bisa untuk makan selama satu bulan lebih. Akan tetapi jika kita para mahasiswa dihutangi uang 500 ribu kepada teman kita bagaimana? Pikir-pikir dulu apa langsung kita pinjamkan? Saya yakin hal itu pasti berat. Tapi entah kenapa aku langsung reflek membalas temanku seperti itu. Akupun heran kenapa aku santai-santai saja meminjamkan uang segitu banyaknya kepada temenku yang bisa dibilang baru kenal. Ya, kita baru kenal ketika pembekalan PPL. Kita sekelompok tim PPL di MA AL-Khoiriyah. Belum genap satu bulan aku mengenalnya. Kenapa aku tidak takut jika suatu saat nanti aku membutuhkan uang banyak dan ketika aku menagih uang ke temenku ia belum bisa bayar? Pasti semua orang akan menyalahkanku. Kenapa aku terlalu baik jadi orang. Astagfirullahaladzim…
“ Bismillahirrahmanirrrahim. Ya Allah, hamba berniat untuk membantu teman hamba. Semoga ini keputusan yang terbaik. Kuatkan hati hamba jika suatu saat nanti hal yang tidak diinginkan terjadi. Hamba yakin ujian itu adalah kehendak-Mu. Kuatkan hamba,Ya Allah. Jangan sampai hati hamba tergoyahkan hanya karena uang. Naudzubillah min dzalik.” Batinku menenangkan diriku yang mulai gelisah.
Aku yakin kok, jika kita membantu urusan orang lain maka Allah akan membantu urusan kita. Aku yakin sekali dengan kata-kata itu. Orang baik itu ujiannya memang berat. Semua bisa di lihat dari bagaimana orang itu menyikapinya. Aku hanya ingin mempertahankan nama baikku di hadapan Allah. Jika orang menganggap aku bodoh, salah dan gampang di apusi, biarkan saja. Anggap saja itu angin lalu yang keluar dari mulut seseorang lalu hilang begitu saja. Aku nggak boleh nyerah. Aku yakin Allah ingin mengujiku saat itu. Dan ternyata benar..
Seminggu setelah kejadian itu, hal yang aku takutkan terjadi. Orangtuaku yang sedang marantau di Sumatra tertimbah sedikit musibah. Truk yang digunakan bapakku bekerja rusak. Dan biaya untuk memperbaiki truk lumayan banyak. Ketika itu bapak meneponku. Di telepon bapak memintaku untuk meminjamkan uang tabungannku untuknya. Nanti setelah beliau bekerja uang bulananku akan bapak tanggung.
“ mereka adalah orangtuaku, orang yang sangat berjasa dalam hidupku. Apapun permintaannya selagi aku masih bisa membantu kenapa tidak.” Batinku
“ ya pak, nanti saya kasihkan uangku dua juta buat bapak, semoga Allah mempermudahkan rezeki bapak.” Jawabku ketika bapak meneponku.
Setelah uang tabunganku ku kasihkan ke orangtuaku aku sisihkan sedikit sembari untuk kebutuhanku selama PPL dan jaga-jaga jika suatu saat nanti bapak belum bisa mengirimkan uang. Memang tidak terlalu banyak uang yang aku bawa. Bahkan ketika itu aku sudah mereng-reng semua keinginannku yang akan aku beli besok, tapi apa boleh buat. Aku harus bersabar dulu mendapatkannya. Jika ada rezeki aku yakin Allah akan memberikannya untukku. Allah memang tidak memberikan apa yang kita inginkan tapi apa yang kita butuhkan. Aku pun ketika itu sedikit berbohong kepada orangtuaku mengenai uang 500 ribu yang aku pinjamkan ke temanku. Jika aku jujur aku takut orang tuaku akan marah besar. Tapi, aku juga takut jika aku berdosa kalau berbohong dengan orangtuaku sendiri. Lalu aku beranikan diriku untuk jujur dengan orang tuaku. Alhamdulillah, orangtuaku tidak memarahiku. Tapi mereka memintaku untuk menagih hutang itu tiap bulan ke temenku biar uang itu kembali lagi.
Sebulan telah berlalu. Aku semakin sibuk dengan kegiatan PPL ku yang sebentar lagi akan usai. Tetapi, pengeluaran ketika itu juga lumayan banyak. Sementara uang tabungan yang aku bawa tidak cukup untuk membayar iuran untuk agenda perpisahan PPL. Buat makan saja sebenarnya memang pas-pasan. Aku sedikit bingung ketika itu. Sebelumnya aku memang sudah sms temenku mengingatkannya untuk mencicil hutangnya karena aku juga membutuhkan uang akhir-akhir itu. Tapi dia membalas jika ia belum bisa membayarnya karena uang sakunya dari orangtua ternyata juga habis untuk kebutuhan PPl. Aku benar-benar bingung ketika itu. Aku harus pinjam uang ke siapa? Aku malu kalau harus meminta orangtuaku ? lalu aku terpaksa menelpon orangtuaku. Tapi, aku sedikit kecewa dengan jawaban mereka ketika itu. Bapak bilang kalau ternyata PT tempat bapak bekeja sedang tutup beberapa minggu. Berarti dari kemarin bapak juga belum bisa bekerja. Ketika itu bapak juga memarahiku untuk meminta uang ke temanku, akupun sudah memberitahunya kalau temenku belum bisa membayarnya. Lalu bapak menasehatiku banyak sekali kalau aku jangan terlalu baik dengan seseorang, kalau mau meminjamkan uang ya sewajarnya saja. Kalau begini jadinya kan susah. Apalagi ibu juga sedikit memarahiku dan memaksaku untuk bilang ke temanku mencarikan pinjaman agar bisa membayar hutangku. Aku tau ini memang salahku, tapi aku juga tidak enak hati dengan temanku. Aku tidak mau memaksanya karena aku tau apa yang dia rasakan juga sama seperti apa yang ku rasakan. Dan aku yakin dia juga sedang berusaha untuk membayar hutang padaku. Sudahlah, biarkan ujian ini ku nikmati dengan lapang hati.
“ orang yang menginfakkan hartanya di jalan Allah, kemudian tidak mengiringi apa yang dia infakkan itu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan penerima), mereka memperoleh pahala di sisi Tuhan mereka. Tidak ada rasa takut pada mereka dan mereka tidak bersedih hati.” QS Al-Baqarah: 262
Dalam ayat itu saja jika kita mau menginfakkan harta kita, kita jangan sampai menyakiti perasaan orang yang akan kita beri infak. Sedangkan aku hanya meminjamkan uang untuk temanku yang nantinya akan ia ganti. Aku juga tidak boleh menyakiti hatinya dan memaksanya membayar hutangku dengan mencari hutangan ke teman lain. Aku tak tega dengannya. Aku tahu ini memang berat untukku. Tapi aku yakin ini scenario dari Allah yang segaja Allah berikan padaku untuk menguji seberapa kuat diriku. Dengan terpaksa aku meminjam uang temanku yang tidak begitu banyak dan menjalani hari-hari itu dengan sedikit berat. Hanya tangisan air mataku yang mengerti keadaanku.
“ Dan Kami pasti akan menguji kamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar. ( yaitu) orang- orang yang apabila ditimpa musibah, mereka berkata “Innā lillāhi wa innā ilaihi rāji’ūn. ( Sesungguhnya kami milik Allah dan kepada-Nyalah kami kembali). QS Al-Baqarah : 155-156
Innā lillāhi wa innā ilaihi rāji’ūn……….
Astagfirullahaladzim…..Ya Allah, inikah cobaan yang ingin kau berikan padaku? Jika ia kuatkanlah hatiku. Kuatkanlah imanku agar aku hanya bergantung pada-Mu. Aku yakin Engkau tidak akan membiarkanku kelaparan. Kucing saja yang tidak tahu nasibnya besok akan makan apa, bisa tenang menjalani hidup. Kenapa aku tidak? kenapa aku khawatir esok akan makan apa dan membayar iuran PPL dengan uang siapa, padahal aku yakin Engkau Maha Penyayang. Kenapa aku harus Khawatir? Aku kan punya Allah yang dekat denganku dan pasti akan membantu hamba-Nya yang kesusahan.
“ Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu ( Muhammad) tentang Aku, maka sesungguhnya Aku dekat. Aku kabulkan permohonan orang yang berdo’a apabila ia berdo’a kepada-Ku. …” QS Al-Baqarah : 186
Meskipun berat, ku lewati hari-hari itu dengan penuh kesabaran. Bahkan aku sempat berbohong dengan kedua orangtuaku kalau temanku sudah membayar padahal belum. Aku hanya tidak ingin mereka mengkhawatirkanku. Alhamdulillah pertolongan Allah selalu ada untukku.
Setelah selesai pelepasan temanku belum juga membayar hutangku. Aku masih ingat sekali waktu itu. Ujian datang lagi padaku. Dengan masalah yang sama tetapi masalah ini lebih berat dari yang awal. Jika meminjam hutang temanpun tidak akan ada yang bisa meminjamkan. Kalau buat makan sehari-hari aku masih bisa mengatasi. Tapi ini masalah tempat tinggal sementaraku di Ngaliyan dan nama baik orang muslim. Ibu kos meminta aku yang ketika itu menjadi Pembina di tempat kosnya dan bendahara sementara di tempat itu untuk melunasi pembayaran uang kontrakan seminggu lagi. Aku sudah meminta toleransi tetapi ibu kos itu hanya memberikan toleransi lima hari lagi. Aku bingung karena uang yang aku bawa belum cukup untuk melunasinya bahkan kurang lumayan banyak.
Lalu aku menariki teman-temanku yang belum membayar kontrakan begitu juga aku. Aku malu jika menariki temanku tapi aku juga belum bayar. Apalagi ibu kos yang aku tempati adalah orang Nasrani. Aku hanya tidak ingin mengingkari janjinya. Aku ingin menjaga nama baik orang muslim dari pandangan orang Non Muslim. Kalaupun waktu itu aku punya uang untuk melunasinya, pasti uang itu ku pinjamkan semua untuk biaya kontrakan. Tapi apa boleh buat. Akupun juga sedang kekurangan uang.
Dengan terpaksa aku sms temanku dan sedikit memaksa untuk membayar tetapi jika tidak ada aku juga tidak mau memberatkannya. Intinya aku mengharapkannya jika ada sedikitpun tidak apa-apa. Tapi ketika aku sms temanku, dia tidak membalas. Selang 3 hari dia tidak juga membalas. Aku bingung sekali ketika itu. Benar-benar bingung. Lalu aku berusaha untuk bersabar dan yakin Allah pasti akan membantuku.
“ Wahai orang-orang yang beriman,! Mohonlah pertolongan kepada Allah dengan sabar dan shalat. Sungguh, Allah beserta orang-orang yang sabar.” QS Al-Baqarah : 153
Sehari sebelum jatuh tempo aku harus membayar uang kontrakan rumah, temanku tiba-tiba membalas smsku.
“ assalamu’alaikum, mbak asih dimana? Alhamdulillah beasiswaku udah cair, tadi sudah tak ambil semua, ni aku mau nglunasi hutang-hutangku. Maaf ya mbak baru bales.”
Alhadulillah,Ya Allah… hamba yakin Engkau akan menolongku. Hamba yakin…Alhamdulillah. Air mataku sedikit menetes ketika membaca sms dari temanku meskipun sebelumnya aku benar-benar pasrah bahkan jika temanku tidak bisa membayarnya aku ikhlaskan saja uangku. Tapi Allah memang Maha Baik. Allah memberikan apa yang aku butuhkan tepat waktu. Alhamdulillah, Ya Allah. Subhanallah.. inikah scenario yang Engkau rajut untukku? Begitu indah Skenario-Mu..karena aku harus merasakan dulu perasaan khawatir, jengkel, marah dan galau yang aku pendam terlalu lama dan tidak ku ungkapkan ketika itu meskipun sebenarnya aku juga berhak untuk itu. Tapi aku merasakan akhirnya begitu bahagia. Benar- benar bahagia dan yakin dengan janji-Mu.
“Sungguh manis sekali buah dari kesabaran”
Langsung keesokan harinya uang itu aku bayarkan untuk kontrakan rumah semua dan bisa membayar ke ibu kos tepat waktu. Alhamdulillah.
“ jika kita membantu urusan orang lain maka Allah akan membantu dan mempermudah urusan kita. Bahkan jika kita bersabar, ikhlas dan tawakal. Allah akan memberikan kenikmatan itu berlipat ganda. Percayalah. Karena Allah sangat dekat dengan kita dan tidak akan membiarkan hamba-Nya yang baik terluka.”
LAA TAHZAN…INNALLAHA MA’ANA

27/11/2013

*Nutrisi pagi dengan bacaan Islami*

tentang indahnya persahabatan meski dipisahkan oleh jarak sejauh Indonesia-Palestina. mengharukan, menyentuh hati, dan memotivasi
oleh: Ukhtina Eka Setyawati

HUJAN KEMARIN
*Oleh: EKA SETYAWATI
Disenja yang berawankan hitam, ketika saat itu tiba. Dengan hati yang berdebar kencang. Entah apa yang ku pikirkan. Apakah ini yang ku inginkan?. setelah sekian lama aku menunggu. Menunggu. Dan terus menunggu. Hingga tiba masanya. Aku tiada sanggup. Dari penantian panjangku, akankah ini?. Tidak!!!. Aku harus yakin inilah yang diinginkan sahabatku, inlah yang menjadi impiannya. Tidak mengingkari kalbu ini terselip rasa marah padanya. Tetap saja aku bersyukur atas hadirnya dalam hidupku. Bersamanya aku tau, inilah pengorbananan dan kesetiaan, inilah cinta dan ketulusan, dan inilah persahabatan.
Sahabat, disetiap malam yang hening, kucoba untuk merenung dan mengingati perjalanan kita. Begitu banyak kisah dan cerita yang sudah kita ukir dengan tinta warna.
Sahabat, setelah sekian lama kita jalani bersama, penuh s**a dan duka, hingga ku sadari engkaulah yang terbaik. Dalam doaku di senja ini.
“Ya Allah ya tuhanku, andai kau takdirkan diriku dengannya, Ya Allah yang maha perkasa, beri kuat lahir lahir batin, teguhkan akad dan tekatnya”.
Dengan hati yang tak ingin, ku paksa tangan ini untuk membuka sepucuk surat berwarna putih, yang bertuliskan dari Dina untuk Tya, yang selalu sayang padanya. Palestina.
1 September 2004, Palestine
Takut, pada awalnya sahabat.
Ragu, itu yang kurasa sahabat.
Bimbang, tidak percaya hati, yang menghantuiku sahabat. Semua itu aku bunuh dengan tekat perjuangan dan melahirkan sebuah keyakinan.
Keyakinan yang kuat untuk terus menjadi seorang muslim yang berguna bagi sesama muslim yag teraniyaya disini sahabat. Percayalah perjuangan ku ini tidak ada apa-apanya, jika dibandingkan dengan mereka. Yang setiap hari kulihat darah suci tumpah sebagai syuhada islam. Disinilah aku meliahat jihad seorang muslim yang sesungguhnya.
Sedih sahabat, jika meliahat mereka harus gugur dengan mengoreskan tinta darah yang berkesimpah ditanah Palestina ini. Semua menjadi saksi atas langkah keberaniannya membebaskan bumi jihad Palestina.
Miris disertai rasa bangga terhadap mereka yang tak gentar sedikitpun, walau akhirnya mereka mati dengan senyum yang terukir manis dibibir. Aku yakin inilah yang dinamakan kematian terindah.
Apa kau ingat sahabat, perkataanmu yang pada saat itu, disertai awan mendung dan hujan gerimis. Disebuah tempat yang hanya kita yang tau, dan apakah kau masih sering ketempat kita itu, walau tak bersamaku? Aku yakin masih, betulkan?.

Air mata ini tanpa kusadari menetes jatuh penuh haru.

Pada saat itu kau menanyakan sebuah pertanyaan kepadaku. Apa kau sudah berguna hari ini?. disaat itulah aku tersadar. Kubulatkan dan kuteguhkan hati ini, agar selalu berguna untuk orang lain. Ya, dengan cara seperti inilah yang aku inginkan. Pergi ke Palestina sebagai relawan kemanusiaan. Dan disinilah aku merasa berguna sahabat.
Aku sadar betul akan konsekuensi dari perbuatanku ini. jadi, berhentilah menyalahkan dirimu sendiri, kalau aku pergi gara-gara perkataanmu. Aku bilang sich kamu GR Banget .
Sahabat, jika kehidupan akhirku berada disini, aku ikhlas. Aku hanya berharap dirimu selalu dalam keadaan baik disana. Dan jika kau merindukan diriku, pergilah keluar pasti kau dapati hujan gerimis yang tenang, disaat itulah kau bisa merasakan kehadiranku. Lanjutkan apa yang menjadi angan-anganmu yang kita tulis bersama dulu. Aku hanya ingin melihatmu sukses suatu saat nanti, berjanjilah sahabat !...
Senyum manis dariku .
Kututup surat drinya, hanya terdengar suara tangisan tersedu-sedu dariku, dan suara hujan gerimis disenja gelap hari ini. Dihari ini juga, kubulatkan tekatku dan berjanji dalam hati, untuk menjadi orang yang lebih baik dan menjadi orang yang sukses, seperti yang diinginkan sahabatku. Sahabat yang mungkin tak akan pernah kutemukan lagi di dunia ini.
***
“Din, apa sich yang menjadi keinginanmu sekarang ?” Tanyaku membuka keheningan diantara kami berdua.
“Entahlah... aku sendiri tidak tau apa yang sedang kupikirkan sekarang” Jawabnya.
“Kau tau Din, tempat kita ini adalah tempat yang sangat..sangat aku s**ai”. Tuturku.
Dinapun hanya memandangi wajahku dan bertanya.
“Emang kenapa ?”
“Tempat ini sangat bersejarah bagiku dan bagi kita berdua tentunya. Lihat saja tempat ini begitu indah dan membuat hati terasa tenang”. Jelasku.
“Kalau begitu kenanglah selalu tempat ini walau diriku sudah tidak ada nanti”. Sambung dina.
Akupun merasa terkejut dengan penuturannya barusan. “Dirimu sudah tidak ada nanti maksudnya apa !”.
“Hmm... Tidak, tadi aku hanya asal bicara, lupakanlah”. Jawabnya.
Kami hanya terdiam untuk sejenak. Tidak berapa lama kemudian, awan yang cerah pada awalnya, menjadi mendung seketika. Dan menumpahkan rintikan-rintikan kecil air ke bumi.
“Dina,..?” Panggilku.
“Iya..” Jawabnya.
“Apa kau sudah berguna untuk orang lain hari ini ?” Tanyaku.
Dina hanya terdiam seribu bahasa, tanpa menjawab pertanyaanku, tiba-tiba saja dia mengajakku pulang.
“Ayo kita pulang sepertinya hujannya mulai deras”.
Akupun hanya mengiyakan. Dan beranjak pergi dari tempat itu.
***
Disiang hari, saat matahari tepat berada ditengah titik pusatnya, panas yang sangat dirasa. Akupun pulang dari sekolah kerumah bersama Dina, yang kebetulan pada saat itu dia ingin main kerumahku untuk mengerjakan pekerjaan sekolah bersama.
Diruang tamu.
“Tya, aku nyalain ya TV nya, lagi Boring nie ”. Kata Dina.
“Iya silahkan aja...!”. Jawabku.
Salah satu acara berita diTV mengabarkan tentang konflik yang ada di Palestina pada saat itu. Aku dan Dina hanya terdiam melihat pemberitaan tersebut. Tanpaku sangka, aku melihat Dina mengeluarkan air mata. Dan aku bertanya padanya.
“Kau kenapa ? terharu ya ?”
“Tidak !” Jawabnya.
“Lantas kenapa ?” Tanyaku lagi.
“Andai aku bisa pergi kesana, bisa membantu mereka, pasti aku merasa berguna bagi orang lain, mungkin tidak hari ini saja, bisa setiap hari”. Ungkapnya
“Maksudmu apa ? sudah jangan berkhayal yang tidak-tidak”. Tegasku.
Seperti biasa Dina hanya terdiam, seperti ada yang dipikirkan dalam benaknya.
***
Hari kelulusan kamipun telah tiba. Sekarang aku bukan lagi anak SMA, dan sebentar lagi aku menjadi anak kuliahan seperti aku dan Dina inginkan.
“Tya, pergi ketempat kita seperti biasa yuk !” Ajaknya.
“Boleh” Jawabku.
Sesampainya ditempat tersebut.
“Hari ini adalah hari kelulusan kita, maukah kau menulis harapan-harapan kita nanti, sebelum kita melangkah kedepan ?” Pinta Dina.
“Ide bagus !” kataku.
Kamipun menulis harapan-harapan kami diselembar kertas putih, setelahnya kertas tersebut kami kubur ditempat itu.
“Dina, harapan yang kamu tulis apa pada kertas itu ?” Tanyaku.
“Hmmm... Mau tau aja..!” Jawabnya dengan senyum.
“Terserah kamulah ..” Balasku.
“Maafkan aku tya, aku ingin berguna bagi orang lain untuk saat ini dan seterusnya, entah kenapa terlintas dalam pikiranku untuk menjadi relawan di Palestina. Sebentar lagi aku akan mewujudkan harapanku itu, aku tidak bisa mengatakan semua ini padamu, aku yakin kau tidak mengizinkan aku pergi. Maafkan aku. Besok lusa aku akan mendaftarkan diri untuk menjadi relawan Palestina. Aku berharap kau bisa meraih semua harapan dan angan-anganmu. Berjanjilah sahabat !!!” gumam Dina.
“Din, kenapa kau diam ?” tanyaku mengejutkannya.
“Tidak apa-apa... Tya, maukah kau berjanji untukku ?” Tanya Dina.
“Berjanji apa ?” Tanyaku lagi.
“Berjanjilah kau selalu bahagia dan menyelesaikan apa yang kau citakan walau suatu saat kita tidak bersama lagi !” kata Dina.
Akupun hanya diam menanggapi pertanyaannya. Kami berdua akhirnya memutuskan untuk pergi dari tempat tersebut.
***
2 minggu kemudian
Aku bingung kenapa Dina tidak ada kabar selama ini, akupun mencoba untuk mencari kerumahnya setiap hari, ditempat biasanya kita sering berdua juga tidak ada. Dia seperti hilang ditelan oleh bumi. Tidak ada kabar sama sekali. Aku takut. Takut sekali. Apa yang selama ini menjadi pikiranku menjadi kenyataan. Aku kehilangan dirinya untuk selamanya. Tidak !!! aku tidak boleh berpikiran seperti itu, sesegera mungkin pikiran tersebut aku hilangkan. Karena aku tidak tau, apa jadinya aku tanpa sahabatku itu.
Berhari-hari aku mencari serta menunggu kabar darinya. Namun, tak kunjung ada titik cerah yang kutemukan. Kemana kau sahabat ? kemana ? hampir lelah diri ini mencarimu. Hingga akhirnya tiba, sebuah surat yang kuterima dari pak pos hari ini. ternyata surat tersebut dari sahabatku, Dina.
Untuk sahabatku yang sangat aku sayang. Tya.
Maafkan diri ini sahabat, yang sudah pergi tanpa pamit padamu. Bila kau mengetahui kepergianku, aku yakin kau pasti tidak mengiZinkan
Sahabat, aku pergi bukan semata-mata untuk diriku sendiri. Tetapi, karena jiwa kemanusiaan ini yang telah memanggilku. Aku harus berguna hari ini untuk orang lain sahabat, seperti perkataanmu waktu itu.
Bila umurku panjang, doakan aku bisa kembali padamu. Satu lagi, jangan lupa kejar harapan yang telah kita tulis bersama dulu. Berjanjilah. Sahabat.

SELESAI

EKA SETYAWATI
PESMA AL-IZZA

Want your school to be the top-listed School/college in Semarang?

Click here to claim your Sponsored Listing.

Location

Category

Website

Address


Perumahan BPI No. S24 Ngaliyan-Semarang
Semarang