11/02/2019
REJEKINE GUSTI ALLAH
Al kisah, disamping ada warung yang sepenuhnya jajan atau indekos, sebagian santri pondok krapayak biasa menanak sendiri nasinya kemudian membeli lauk dari warung sekitar pondok.
Siang itu, ketika membawa pulang sayur tempe dari warung utk kelompok masaknya, seorang santri berpapasan dengan mbah Ali ma'shum.
Apa itu cung? Mbah ali menyapa
"sayur tempe mbah".
"coba liat! "
Mbah Ali melongok ke dalam panci kecil itu dan melihat beberapa potong tempe di dalam kuah gulai. Mbah Ali pun mengulurkan tangan, memungut tempe sepotong dan melahapnya.
"rejekine gusti allah.... "kata beliau sambil berlalu.
Rupanya, itu cara mbah Ali mengakrabi santri. Tak hanya sekali dua kali beliau melakukannya.,tapi berulang kali. Sengaja mencegat santri untuk mencicipi lauknya: sepotong tempe, tahu atau seiris sayuran di emplok dengan nikmatnya, "rejekine gusti allah... "
Pada hari raya kurban, setelah hingar bingar penyembelehan usai, ada laporan bahwa sebuah kepala kambing hilang. Usut punya usut, ketahuan sekelompok santri memasak dan memakannya beramai ramai.
Di hadapkan kepada mbah Ali, santri membela diri,
"kepala kambing itu tergeletak begitu saja nggak ada yang ngurus. Kata teman-teman, itu rejeki... "
Entah jengkel entah menahan geli, mbah Ali menggrutu,
"rejeki yo rejeki, tapi nek endas wedhus iku kegeden, cung! "
~ngopi di pesantren~