Santri NU

Santri NU

Share

Pondok Pesantren Sabilunnajah

17/01/2023

*MBAH YAI*

*_Goleko sedulur sak akeh-akehe_*
*_Sing adoh di awe_*
*_Sing cedhak di gandéng_*
*_Sing raket di rangkul_*

Selengkapnya di:
https://youtu.be/f3Rm9n8s_WA

03/02/2021

Lukisan baru monggo yang minat he...

19/01/2021

*MENGENAL ROIS 'AMM DARI MASA KE MASA*
2⃣ *KH Abdul Wahhab Hasbullah (Rois Amm 1947 sd 1971)*

❤️ KH. Abdul Wahab Chasbullah lahir di Jombang, 31 Maret 1888.
👆Beliau merupakan putra pasangan KH. Hasbulloh Said, Pengasuh Pesantren Tambakberas Jombang Jawa Timur, dengan Nyai Latifah.
❤️ KH. Wahab Chasbullah berasal dari keturunan Raja Brawijaya IV dan bertemu dengan silsilah KH. Hasyim Asy’ari pada Kiai Abdus Salam (Kiai Shoichah) bin Abdul Jabar bin Ahmad bin Pangeran Sumbu bin Pangeran Benowo bin Jaka Tingkir (Mas Karebet), bin Lembu Peteng, bin Brawijaya V (raja Majapahit ketujuh).
❤️ KH. Wahab wafat di Jombang pada usia 83 tahun atau tepatnya pada 29 Desember 1971.
❤️ Diantara pesantren yang pernah disinggahi Mbah Wahab dalam menuntut ilmu adalah sebagai berikut:
1. Pesantren Langitan Tuban
2. Pesantren Mojosari, Nganjuk
3. Pesantren Cempaka
4. Pesantren Tawangsari, Sepanjang
5. Pesantren Kademangan Bangkalan, Madura dibawah asuhan KH. Kholil Bangkalan
6. Pesantren Branggahan, Kediri
7. Pesantren Tebuireng, Jombang dibawah asuhan KH. Hasyim Asy’ari
❤️ Oleh karenanya selain melakukan pendidikan di Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, juga melakukan pendidikan di luar pesantren yang ditujukan untuk kalangan umum dan terpelajar dengan mendirikan kelompok diskusi bernama Tashwirul Afkar.
❤️ Melalui Nahdlatul Wathan beliau juga telah berhasil mendirikan beberapa sekolah di berbagai daerah, antara lain:
1. Sekolah/Madrasah Ahloel Eathan di Wonokromo
2. Sekolah/Madrasah Far’oel Wathan di Gresik
3. Sekolah/Madrasah Hidayatoel Wathan di Jombang, dan
4. Sekolah/Madrasah Khitaboel Wathan di Surabaya (Mashyuri, 2008:86-87).
❤️ KH. Wahab Chasbullah merupakan bapak Pendiri NU. Selain itu juga pernah menjadi Panglima Laskar Mujahidin (Hizbullah) ketika melawan penjajah Jepang. Ia juga tercatat sebagai anggota DPA bersama Ki Hajar Dewantoro.
Tahun 1916 mendirikan Organisasi Pemuda Islam bernama Nahdlatul Wathan
❤️Pada 1926 menjadi Ketua Tim Komite Hijaz.
❤️KH. Abdul Wahab Chasbullah juga seorang pencetus dasar-dasar kepemimpinan dalam organisasi NU dengan adanya dua badan, Syuriyah dan Tanfidziyah.
❤️ KH. Wahab Chasbullah adalah pengarang syair "Ya Lal Wathon" yang banyak dinyanyikan dikalangan Nahdliyyin, lagu Ya Lal Wathon di karangnya pada tahun 1934.
👆 KH. Maimun Zubair mengatakan bahwa syair tersebut adalah syair yang beliau dengar, peroleh, dan di nyanyikan saat masa mudanya di Rembang. Dahulu syair Ya Lal Wathon ini dilantangkan setiap hendak memulai kegiatan belajar oleh para santri.
✅ Beliau adalah seorang ulama pendiri Nahdatul Ulama. KH Abdul Wahab Hasbullah adalah seorang ulama yang berpandangan modern, dakwahnya dimulai dengan mendirikan media massa atau surat kabar, yaitu harian umum “Soeara Nahdlatul Oelama” atau Soeara NO dan Berita Nahdlatul Ulama.

KAB KEDIRI

22/10/2020
16/08/2020

Lirboyo

28/07/2020

Seberapa rapat ukuran shaf dalam sholat?

Jawab :

بغية المسترشدين للسيد باعلوي الحضرمي صحـ : 112 مكتبة دار الفكر وُتُعْتَبَرُ الْمَسَافَةُ فِيْ عَرْضِ الصُّفُوْفِ بِمَا يُهَيَّأُ لِلصَّلاَةِ وَهُوَ مَا يَسَعُهُمْ عَادَةً مُصْطَفِّيْنَ مِنْ غَيْرِ إِفْرَاطٍ فِي السَّعَةِ وَالضَّيْقِ اهـ جمل

Bahu saling menempel. Kaki renggang sejajar bahu saja. Jangan sampai melampaui lebar bahu / mbegagah. Biasanya nanti di raka'at kedua, kaki-nya mingkup alias sudah nggak renggang lagi, sehingga shof-nya malah tidak rapat.

Yaitu ketika bahu bertemu bahu dan kaki bertemu kaki, hal ini dilakukan sewajarnya saja, tidak terlalu rapat namun juga tidak terlalu longgar barisannya.

قال أنس - رواية - فلقد رأيت أحدنا يلصق منكبه بمنكب صاحبه، وقدمه بقدمه.الكتاب : حاشية إعانة الطالبين ج2 ص29

“Sahabat Anas berkata [dalam sebuah riwayat] maka kami melihat di antara kami saling mempertemukan bahu dengan bahu dan kaki dengan kaki dari lainnya.”

وتعتبر المسافة في عرض الصفوف بما يهيأ للصلاة وهو ما يسعهم عادة مصطفين من غير إفراط في السعة والضيق اهـ جمل.الكتاب : بغية المسترشدين ص 140

“Disebutkan bahwa ukuran lebar shaf ketika hendak shalat yaitu yang umum dilakukan oleh seseorang, dengan tanpa berlebihan dalam lebar dan sempitnya.”

15/07/2020

SANAD ILMU NAHDLATUL ULAMA (NU)

Keilmuan dalam Islam terbagi menjadi 3 yaitu:
1. Aqidah(tauhid)
2. Syariah (fiqh)
3. Akhlak (Tasawuf)

Kesemuanya itu mempunyai sanad yang tsiqah sampai ke Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. Nahnu ashhabul haq fiddini wassiyasi. NU adalah aliran yang benar.

SANAD AQIDAH ASY'ARIYYAH ANNAHDLIYYAH

Para ulama Tanah Air, seperti KH. M. Hasyim Asy’ari Jombang, KH. Nawawi bin Nur Hasan Pasuruan, KH. Muhammad Baqir Yogyakarta, KH. Abdul Wahhab Hasbullah Jombang, KH. Bisri Syansuri, KH. Baidhawi bin Abdul Aziz Lasem, KH. Ma’shum bin Ahmad Lasem, KH. Muhammad Dimyathi Termas, KH. Shiddiq bin Abdullah Jember, KH. Muhammad Faqih bin Abdul Jabbar Maskumambang, KH. Abbas Buntet Cirebon dan lain-lain. Para beliau ini berguru kepada:
Syaikh Muhammad Mahfudz bin Abdullah at-Tarmasi (1285-1338 H/1868-1920 M), dari gurunya
Syaikh as-Sayyid Abubakar Utsman bin Muhammad Syatha ad-Dimyathi al-Husaini asy-Syafi’i (w. 1310 H/1892 M), dari gurunya
Syaikh as-Sayyid Ahmad bin Zaini Dahlan (1231-1304 H/1816-1886 M), dari gurunya
Syaikh Utsman bin Hasan ad-Dimyathi, dari gurunya
Syaikh Muhammad bin Ali asy-Syanawani asy-Syafi’i (w. 1233 H/1818 M), dari gurunya
Syaikh Isa bin Ahmad al-Barawi az-Zubairi asy-Syafi’i (w. 1182 H/1768 M), dari gurunya
Syaikh Syamsuddin Muhammad bin Muhammad ad-Dafari asy-Syafi’i (w. setelah 1161 H/ M), dari gurunya
Syaikh Salim bin Abdullah al-Bashri asy-Syafi’i (w. 1160 H/1747 M), dari gurunya
Syaikh Abdullah bin Salim al-Bashri al-Makki asy-Syafi’i (1048-1134 H/1638-1722 M), dari gurunya
Syaikh Syamsuddin Abu Abdillah Muhammad bin al-‘Ala’ al-Babili asy-Syafi’i al-Azhari (1000-1077 H/1591-1666), dari gurunya
Syaikh Ahmad bin Muhammad al-Ghunaimi (964-1044 H/1557-1634 M), dari gurunya
Syaikh Syamsuddin Muhammad bin Ahmad ar-Ramli (919-1004 H/1513-1596 M), dari gurunya
Syaikh al-Islam, Qadhi al-Qudhat Zainuddin Abu Yahya Zakariya bin Muhammad al-Anshari (826-926 H/1423-1520 M), dari gurunya
Al-Hafidz Taqiyyuddin Muhammad bin Muhammad bin Fahad al-Makki asy-Syafi’i al-‘Alawi al-Hasyimi (787-871 H/1385-1466 M), dari gurunya
Syaikh Majduddin Abu Thahir Muhammad bin Ya’qub al-Lughawi asy-Syirazi al-Fairuzabadi (729-817 H/1329-1415 M), dari gurunya
Al-Hafidz Sirajuddin Umar bin Ali al-Qazwini (683-750 H/1284-1349 M), dari gurunya
Al-Qadhi Abubakar Muhammad bin Abdullah al-Taftazani, dari gurunya
Syarafuddin Abubakar Muhammad bin Muhammad al-Harawi, dari gurunya
Syaikh Fakhruddin Muhammad bin Umar ar-Razi (544-606 H/1150-1210 M), dari gurunya
Syaikh Dhiyauddin Umar bin al-Husain ar-Razi (hidup sebelum 559 H/1164 M), dari gurunya
Syaikh Abu al-Qasim Salman bin Nashir bin Imran al-Anshari al-Arghiyani (w. 512 H/1118 M), dari gurunya
Imam al-Haramain Dhiyauddin Abu al-Ma’ali Abdul Malik bin Abdullah al-Juwaini (419-478 H/1028-1085 M), dari gurunya
Al-Ustadz Abu al-Qasim Abdul Jabbar bin Ali bin Muhammad bin Haskan al-Asfarayini al-Iskaf (w. 452 H/1034 M), dari gurunya
Ruknuddin al-Ustadz Abu Ishaq al-Asfarayini (w. 418 H/1027 M), dari gurunya
Syaikh al-Mutakallimin Abu al-Hasan al-Bahili, dari gurunya
Syaikh as-Sunnah, Imam al-Mutakallimin Abu al-Hasan al-Asy’ari (270-330 H/883-947 M), dari gurunya
Al-Hafidz Zakariya as-Saji (220-307 H), dari gurunya
Imam Rabi’ al-Muradi (w. 270), dari gurunya
Imam al-Muzani (w. 264 H), dari gurunya
Imam Muhammad bin Idris bin Syafi’ (w. 204), dari gurunya
Imam Malik bin Anas, dari gurunya
Imam Nafi’, dari gurunya
Sahabat Ibnu Umar Ra., dari
Sayyidina Rasulullah Saw.
Ibnu Qadhi Syuhbah menjelaskan bahwa Imam al-Asy’ari berguru kepada Syaikh Zakariya as-Saji, beliau dari Rabi’ dan al-Muzani, keduanya adalah murid Imam asy-Syafi’i. Dari al-Hafidz Zakariya as-Saji inilah Imam al-Asy’ari mengutip riwayat dalam madzhab Ahlussunnah. (Lihat dalam Thabaqat asy-Syafi’iyyah juz 1 hal. 7)
SANAD AQIDAH MATURIDIYYAH ANNAHDLIYYAH

Para ulama Tanah Air, seperti KH. M. Hasyim Asy’ari Jombang, KH. Nawawi bin Nur Hasan Pasuruan, KH. Muhammad Baqir Yogyakarta, KH. Abdul Wahhab Hasbullah Jombang, KH. Bisri Syansuri, KH. Baidhawi bin Abdul Aziz Lasem, KH. Ma’shum bin Ahmad Lasem, KH. Muhammad Dimyathi Termas, KH. Shiddiq bin Abdullah Jember, KH. Muhammad Faqih bin Abdul Jabbar Maskumambang, KH. Abbas Buntet Cirebon dan lain-lain. Para beliau ini berguru kepada:
Syaikh Muhammad Mahfudz bin Abdullah at-Tarmasi (1285-1338 H/1868-1920 M), dari gurunya
Syaikh as-Sayyid Abubakar bin Muhammad Syatha ad-Dimyathi (w. 1310 H/1892 M), dari gurunya
Syaikh as-Sayyid Ahmad bin Zaini Dahlan (1231-1304 H/1816-1886 M), dari gurunya
Syaikh Utsman bin Hasan ad-Dimyathi, dari gurunya
Syaikh Muhammad bin Ali asy-Syanwani (w. 1233 H/1818 M), dari gurunya
Syaikh Muhammad bin Muhammad bin Hasan al-Munir as-Samanudi asy-Syafi’i (1099-1199 H/1688-1785M), dari gurunya
Burhanuddin Abu Hamid Muhammad bin Muhammad al-Budairi al-Husaini ad-Dimyathi al-Asy’ari asy-Syafi’i, populer dengan sebutan Ibn al-Mayyit (w. 1131 H/1719 M), dari gurunya
Burhanuddin Abu al-‘Irfan al-Mulla Ibrahim bin Hasan al-Kurani (1025-1101 H/1616-1690 M), dari gurunya
Syaikh Ahmad bin Muhammad bin Yunus al-Qusyasyi ad-Dajani al-Husaini (991-1071 H/1583-1661 M), dari gurunya
Syaikh Syamsuddin Muhammad bin Ahmad ar-Ramli (919-1004 H/1513-1596 M), dari gurunya
Syaikh al-Islam Zakariya al-Anshari (826-926 H/1423-1520), dari gurunya
Al-Hafidz Ibn Hajar al-‘Asqalani (773-852 H/1372-1449 M), dari gurunya
Syaikh Syamsuddin Muhammad al-Qurasyi, dari gurunya
Syaikh Abu Muhammad Abdullah bin Hajjaj al-Kasyqari, dari gurunya
Syaikh Hisyamuddin Husain bin Ali as-Saghnaqi (w. 711 H/1311 M), dari gurunya
Syaikh Muhammad bin Muhammad bin Nashr an-Nasafi (w. 693 H/1294 M), dari gurunya
Al-Hafidz Najmuddin Umar bin Muhammad an-Nasafi (461-537 H/1068-1142 M), dari gurunya
Al-Qadhi Shadrul Islam Abu al-Yusr Muhammad bin Muhammad bin Husain al-Bazdawi (421-493 H/1030-1100 M), dari gurunya
Syaikh Muhammad bin Husain al-Bazdawi, dari gurunya
Syaikh Husain bin Abdu Karim al-Bazdawi, dari gurunya
Syaikh Abu Muhammad Abdul Karim bin Musa bin Isa al-Bazdawi (w. 390 H/1000 M), dari gurunya
Imam Abu Manshur al-Maturidi (w. 333 H/945 M).
Demikian mata rantai sanad madzhab al-Asy’ari dan madzhab al-Maturidi yang sampai kepada guru-guru kita, para tokoh pendiri organisasi Nahdlatul Ulama. Selain sanad di atas, masih banyak jalur-jalur lain yang menyambungkan mata rantai akidah Ahlussunnah wal Jama’ah kepada para ulama terdahulu, hingga kepada Rasulullah Saw.

SANAD ILMU FIQIH NAHDLATUL ULAMA

Sanad Imam Syafi’i (w. 204 H) kepada Rasulullah Shalla Allahu Alaihi wa Sallama memiliki 2 Jalur, Jalur Imam Malik dan Jalur Imam Abu Hanifah.

1. Jalur Imam Malik

Imam Malik bin Anas (w. 179 H, Pendiri Madzhab Malikiyah) berguru kepada ① Ibnu Syihab al-Zuhri (w. 124 H), ② Nafi’ Maula Abdillah bin Umar (w. 117 H), ③ Abu Zunad (w. 136 H), ④ Rabiah al-Ra’y (w. 136H), dan ⑤ Yahya bin Said (w. 143 H)

Kesemuanya berguru kepada ① Abdullah bin Abdullah bin Mas’ud (w. 94 H), ② Urwah bin Zubair (w. 94 H), ③ al-Qasim bin Muhammad bin Abu Bakar (w. 106 H), ④ Said bin Musayyab (w. 94 H), ⑤ Sulaiman bin Yasar (w. 107 H), ⑥ Kharihaj bin Zaid bin Tsabit (w.100 H), ⑦ dan Salim bin Abdullah bin Umar (w.106 H).

Kesemuanya berguru kepada ① Umar bin Khattab (w. 22 H), ② Utsman bin Affan (w. 35 H),③ Abdullah bin Umar (w. 73 H), ④ Abdullah bin Abbas (w. 68 H), dan ⑤ Zaid bin Tsabit (w. 45 H).

Kesemua Sahabat dari Rasulullah Shalla Allahu Alaihi wa Sallama

2. Jalur Imam Abu Hanifah

Imam Syafii berguru kepada Muhammad bin al-Hasan (w. 189 H), berguru kepada Abu Hanifah (w. 150 H, Pendiri Madzhab Hanafiyah), berguru kepada Hammad bin Abi Sulaiman (w. 120 H).

Berguru kepada ① Ibrahim bin Yazid al-Nakhai (w. 95 H), ② al-Hasan al-Basri (w. 110 H), dan ③ Amir bin Syarahbil (w. 104 H).

Kesemuanya berguru kepada ① Syuraih bin al-Haris al-Kindi (w. 78 H), ② Alqamah bin Qais al-Nakhai (w. 62 H), ③ Masruq bin al-Ajda’ al-Hamdani (w. 62 H), ④ al-Aswad bin Yazid bin Qais al-Nakhai (w. 95 H).

Kesemuanya berguru kepada ① Abdullah bin Mas’ud (w. 32 H) dan ② Ali bin Abi Thalib (w. 40 H)

Kesemua Sahabat dari Rasulullah Shalla Allahu Alaihi wa Sallama

Madzhab Syafiiyah terdiri dari beberapa generasi (Thabqah).

Thabqah I Murid-Murid Imam Syafi’i

Abdullah bin Zubair Abu Bakar al-Humaidi (w. 219 H), Abu Ya’qub Yusuf bin Yahya al-Buwaithi (w. 231 H), Ishaq bin Rahuwaih (w. 238 H), Abu Utsman al-Qadhi Muhammad bin Syafi’i (w. 240 H), Ahmad bin Hanbal (w. 241 H, Pendiri Madzhab Hanbali), Harmalah bin Yahya bin Abdullah al-Tajibi (w. 243 H), Abu Ali al-Husain bin Ali bin Yazid al-Karabisi (w. 245 H), Abu Tsaur al-Kulabi al-Baghdadi (w. 246 H), Ahmad bin Yahya bin Wazir bin Sulaiman al-Tajibi (w. 250 H), al-Bukhari (w. 256 H), al-Hasan bin Muhammad bin al-Shabbah al-Za’farani (w. 260 H).

Thabqah II

Abu Ibrahim Ismail bin Yahya al-Muzani (w. 264 H), Ahmad bin al-Sayyar (w. 268 H), al-Rabi’ bin Sulaiman (w. 270 H), Abu Dawud (w. 275 H), Abu Hatim (w. 277 H), al-Darimi (w. 280 H), Ibnu Abi al-Dunya (w. 281 H), Abu Abdillah al-Marwazi (w. 294 H), Abu Ja’far al-Tirmidzi (w. 295 H), Al-Junaid al-Baghdadi (w. 298 H).

Thabqah III

al-Nasai (w. 303 H), Ibnu Suraij (w. 306 H), Ibnu al-Mundzir (w. 318 H), Abu Hasan al-Asy’ari (w. 324 H, Imam Ahlissunah Dalam Aqidah), Ibnu al-Qash (w. 335 H), Abu Ishaq al-Marwazi (w. 340 H), al-Mas’udi (w. 346 H), Abu Ali al-Thabari (w. 350 H), al-Qaffal al-Kabir al-Syasyi (w. 366 H), Ibnu Abi Hatim (w. 381 H), Al-Daruquthni (w. 385 H).

Thabqah IV

al-Qadhi Abu Bakar al-Baqillani (w. 403 H), Ibnu al-Mahamili (w. 415 H), Mahmud bin Sabaktakin (w. 422 H), Abu Muhammad al-Juwaini (w. 438 H), al-Mawardi (w. 458 H), Ahmad bin Husain al-Baihaqi (w. 458 H), al-Qadhi al-Marwazi (w. 462 H), Abu al-Qasim al-Qusyairi (w. 465 H), Abu Ishaq al-Syairazi (w. 476 H), Imam al-Haramain (w. 478 H), Al-Karmani (w. 500 H).

Thabqah V

al-Ghazali (w. 505 H), Abu Bakar al-Syasyi (w. 507 H), al-Baghawi (w. 516 H), al-Hamdzani (w. 521 H), al-Syahrastani (w. 548 H), al-Amudi (w. 551 H), Ibnu Asakir (w. 576 H), Ibnu al-Anbari (w. 577 H), Abu Syuja’ al-Ashbihani (w. 593 H).

Thabqah VI

Ibnu al-Atsir (w. 606 H), Fakhruddin al-Razi (w. 606 H), Aminuddin Abu al-Khair al-Tibrizi (w. 621 H), al-Rafii (w. 623 H), Ali al-Sakhawi (w. 643 H), Izzuddin bin Abdissalam (w. 660 H), Ibnu Malik (w. 672 H), Muhyiddin Syaraf al-Nawawi (w. 676 H), Al-Baidhawi (w. 691 H).

Thabqah VII

Ibnu Daqiq al-Id (w. 702 H), Quthbuddin al-Syairazi (w. 710 H), Najmuddin al-Qamuli (w. 727 H), Taqiyuddin al-Subki (w. 756 H), Tajuddin al-Subki (w. 771 H), Jamaluddin al-Asnawi (w. 772 H), Ibnu Katsir (w. 774 H), Ibnu al-Mulaqqin (w. 804 H), al-Zarkasyi (w. 780 H).

Thabqah VIII

Sirajuddin al-Bulqini (w. 805 H), Zainuddin al-Iraqi (w. 806 H), Ibnu al-Muqri (w. 837 H), Syihabuddin al-Ramli (w. 844 H), Ibnu Ruslan (w. 844 H), Ibnu Zahrah (w. 848 H), Ibnu Hajar al-‘Asqalani (w. 852 H), Jalaluddin al-Mahalli (w. 864 H), Kamaluddin Ibnu Imam al-Kamiliyah (w. 874 H).

Thabqah IX

Jalaluddin al-Suyuthi (w. 911 H), al-Qasthalani (w. 923 H), Zakariya al-Anshari (w. 928 H), Zainuddin al-Malibari (w. 972 H), Abdul Wahhab al-Sya’rani (w. 973 H), Ibnu Hajar al-Haitami (w. 974 H), al-Khatib al-Syirbini (w. 977 H), Ibnu al-Qasim al-Ubbadi (w. 994 H).

Thabqah X

Syamsuddin al-Ramli (w. 1004 H), Abu Bakar al-Syinwani (w. 1019 H), Syihabuddin al-Subki (w. 1032 H), Ibnu ‘Alan al-Makki (w. 1057 H), al-Raniri (w. 1068 H), Syihabuddin al-Qulyubi (w. 1070 H), Muhammad al-Kaurani (w. 1078 H), Ibrahim al-Maimuni (w. 1079 H), Ali al-Syibramalisi (w. 1078 H), Abdurrauf al-Fanshuri (w. 1094 H).

Thabqah XI

Najmuddin al-Hifni (w. 1101 H), Ibrahim al-Kaurani (w. 1101 H), Ilyas al-Kurdi (w. 1138 H), Abdul Karim al-Syarabati (w. 1178 H), Jamaluddin al-Hifni (w. 1178 H), Isa al-Barmawi (w. 1178 H), Athiyah al-Ajhuri (w. 1190 H), Ahmad al-Syuja’i (w. 1197 H).

Thabqah XII

Abdushomad al-Palimbani (w. 1203 H), Sulaiman al-Jamal (w. 1204 H), Sulaiman al-Bujairimi (w. 1221 H), Arsyad al-Banjari (w. 1227 H), Muhammad al-Syinwani (w. 1233 H), Muhammad al-Fudhali (w. 1236 H), Khalid al-Naqsyabandi (w. 1242 H), Abdurrahman Ba’alawi al-Hadhrami (w. 1254 H), Khatib al-Sanbasi (w. 1289 H), Ibrahim al-Bajuri (w. 1276 H).

Thabqah XIII

Zaini Dahlan (w. 1303 H), al-Bakri Muhammad Syatha (w. 1310 H), Nawawi al-Bantani (w. 1315 H), Shalih Darat (w. 1321 H), Muhammad Amin al-Kurdi (w. 1332 H), Ahmad Khatib al-Minangkabawi (w. 1334 H), Mahfudz al-Tarmasi (w. 1338 H), Ahmad Khalil al-Bangkalani (w. 1345 H), Yusuf bin Ismail al-Nabhani (w. 1350 H).

Thabqah XIV

KH Hasyim Asy’ari (w. 1367 H), Pendiri Jamiyah Nahdlatul Ulama

Referensi:

1. Muhammad Abu Zahrah “al-Syafi’i”
2. Hadlari Bik “Tarikh Tasyri”
3. Sirajuddin Abbas “Tabaqat al-Syafi’iyah”

SANAD TASHAWWUF ANNAHDLIYYAH

Dalam bidang Tasawuf, Nahdlatul Ulama mengikuti Imam al-Junaid al-Baghdadi (w. 297H.) dan Abu Hamid al-Ghazali (450-505 H./1058-1111 M.). KH. M. Hasyim Asy’ari berguru kepada:
Syaikh Mahfudz at-Tarmasi, dari gurunya
Syaikh Abubakar bin Muhammad Syatha ad-Dimyathi, dari gurunya
Syaikh as-Sayyid Ahmad Zaini Dahlan, dari gurunya
Syaikh Utsman bin Hasan ad-Dimyathi, dari gurunya
Syaikh Muhammad bin Ali asy-Syinwani, dari gurunya
Syaikh Abdullah bin Hijazi, (memiliki dua jalur, pertama) dari gurunya Mahmud bin Abu Yazid al-Kurdi, dari gurunya Muhammad bin Salim al-Hifni, (kedua) dari al-Hifni, dari gurunya
Syaikh Mushtafa al-Bakri (w. 1162 H), dari gurunya
Syaikh Abdullathif al-Halabi, dari gurunya
Syaikh Musthafa al-Afandi, dari gurunya
Syaikh Ali Qarrah Basya, dari gurunya
Syaikh Ismail al-Jurumi, dari gurunya
Syaikh Umar al-Fuadi, dari gurunya
Syaikh Muhyiddin al-Qasthamuni, dari gurunya
Syaikh Sya’ban al-Qasthamuni, dari gurunya
Syaikh Khairuddin al-Waqqadi, dari gurunya
Syaikh Sulthan Afandi (populer dengan Jamal al-Halwati), dari gurunya
Syaikh Muhammad bin Bahauddin asy-Syairawani, dari gurunya
Syaikh Jalaluddin Yahya al-Bakuri, dari gurunya
Syaikh Shadruddin al-Jayani, dari gurunya
Syaikh Izzuddin asy-Syarwani, dari gurunya
Syaikh Muhammad Amiram al-Khalwati, dari gurunya
Syaikh Umar al-Khalwati, dari saudaranya
Syaikh Muhammad al-Khalwati asy-Syarwani, dari gurunya
Syaikh Ibrahim az-Zahid al-Kailani, dari gurunya
Syaikh Jamaluddin at-Tibrizi (populer dengan Ibnu Shaidalani), dari gurunya
Syaikh Syihabuddin Muhammad bin Mahmud al-Atiqi asy-Syairazi, dari gurunya
Syaikh Ruknuddin Abu Ghanaim Muhammad bin Fadhl an-Najjasyi, dari gurunya
Syaikh Quthbuddin Muhammad bin Ahmad al-Abhari, dari gurunya
Syaikh Abu Najib al-Abhari (wf. 563 H), dari gurunya
Syaikh Umar al-Bakri, dari gurunya
Syaikh Wajihuddin al-Qadhi, dari gurunya
Syaikh Muhammad al-Bakri, dari gurunya
Syaikh Ahmad ad-Dainuri, dari gurunya
Syaikh Mamsyad ad-Dainuri, dari gurunya
Imam Abul Qasim al-Junaid al-Baghdadi (w. 297 H), dari gurunya
Imam Sirri as-Saqathi (w. 253 H), dari gurunya
Imam Abu Mahfudz Ma’ruf al-Karakhi (w. 200 H), dari gurunya
Imam Dawud ath-Thai (w. 165 H), dari gurunya
Imam Habib al-Ajami, dari gurunya
Imam Hasan al-Bashri (w. 110 H), dari gurunya
Amirul Mu’minin Sayyidina Ali bin Abi Thalib Ra. (w. 40 H), dari gurunya
Sayyidina Rasulullah Saw.

* *

11/07/2020

LBM PCNU Tulungagung Kaji Subtansi Aqad dan Hukum Mengikuti Auto Gajian.

Waktu itu tak seperti biasanya. Bahsul Masail LBM PCNU Tulungagung yang seharusnya cukup dihadiri tim ahli tingkat Kabupaten, kali ini turut serta menghadirkan Tim Ahli LBM PBNU dan LBM PWNU Jawa Timur.

LBM PBNU di wakili KH. Azizi Chasbullloh dari Kabupaten Blitar, LBM PWNU diwakili KH. Zahro Wardi dari Trengggalek.

Bukan tanpa alasan, dua tim ahli sengaja didatangkan sebab tema kajian dinilai sangat krusial di masyarakat dan butuh penyikapan yang tepat.

Sekitar tiga minggu sebelumnya, LBM PCNU diminta Rois Syuriyah PCNU Tulungagung KH. Muhson Hamdani dan Katib Syuriyah KH. Bagus Ahmadi membahas pertanyaan tentang praktik Auto Gajian dalam pandangan Fiqih.

Perintah ini muncul, setelah Rois Syuriah dan Katib Syuriah mendapatkan pertanyaan terkait Auto Gajian dari masyarakat Tulungagung.

Sekilas, mendengar sebutan Auto Gajian sebenarnya saya kurang tertarik. "Paling Auto Gajian tak ubahnya seperti MMM yang sempat booming beberapa tahun lalu", pikir saya waktu itu.

Namun setelah mendengar paparan lengkap tentang pertanyaan perihal Auto Gajian, ternyata fenomena ini menarik untuk dibahas. Sebab investasi yang dilebeli "Auto Gajian", konon sedang marak diikuti ribuan warga Tulungagung. Bahkan diduga mencapai jutaan member di dalam dan luar negeri.

Selanjutnya setelah musyawarah, pengurus LBM PCNU sepakat permasalahan ini dibawa ke forum Bahsul Masail yang dilaksanakan 04 Juli 2020 di Ngunut - Tulungagung.

Guna mendapatkan hasil yang maksimal, Lembaga Bahsul Masail (LBM) PCNU Tulungagung berusaha mengundang Otoritas Jasa Keuangan Kediri (OJK) untuk mengirimkan narasumber dalam forum tersebut. Namun karena alasan protokol kesehatan, OJK menjawabnya dengan mengirim surat balasan via pos dan email yang menerangkan bahwa entitas Auto Gajian telah dibubarkan oleh Satgas Waspada Investasi (SWI) sejak April 2020.

Selain mengundang OJK, agar diskusi berimbang LBM juga mengundang pihak Auto Gajian menjadi narasumber dalam forum tersebut, dan hadir dua orang yang mewakili Auto Gajian.

Pengamatan saya, bahsul masail di ponpes Sunan Kalijogo Ngunut Tulungagung banyak mengulas aqad dan hukum mengikuti Auto Gajian dalam pandangan Fiqh.

Diskusi pagi itu diawali dengan penjelasan narasumber dari Auto Gajian.

Peserta Bahstu terlihat antusias memahami paparan narasumber.

Berbagai pertanyaan dilontarkan peserta. Termasuk pertanyaan siapakah yang akan memberi uang anggota terakhir komunitas auto gajian jika diandaikan seluruh dunia mengikuti komunitas tersebut.

Menaggapi pertanyaan itu narasumber auto gajian memaparkan pihaknya telah menyiapkan dana cadangan jika hal-hal demikan terjadi di komunitas auto gajian.

Dana cadangan yang mereka klaim, saat ini dikelola oleh PT BOS yang baru saja didirikan komunitas Auto Gajian.

Pertanyaan demi pertanyaan dijawab detail oleh narasumber Auto Gajian.

Hingga tibalah acara di sesi penggalian hukum.

Pada sesi ini, beragam pendapat diutarakan peserta bahsul masail. Di antarannya:

1. Perwakilan LBM MWC Kalidawir menjawab Auto Gajian masuk kategori judi karena mengandung unsur probabilitas antara kalah dan menang.

2. Perwakilan LBM MWC Pucanglaban berpendapat Auto Gajian bisa dimasukkan aqad ju'alah (sayembara) karena telah memenuhi syarat dan rukun, meskipun kemudian mendapat banyak sanggahan dari peserta dan dinilai tidak singkron dengan praktik yang ada di sistem Auto Gajian.

3. Berbeda dengan Kalidawir dan Pucanglaban, LBM MWC Ngantru memaparkan, aqad Auto Gajian dapat dimasukkan aqad hibah, namun hukum mengikuti bisnis Auto Gajian adalah haram. Alasannya, sistem dalam auto gajian terdapat unsur idlrar (merugikan) terhadap
sebagian member, al-Gharar (ketidakpastian), dan Al-Tadlis (penipuan).

Dari banyaknya pendapat yang tidak bisa saya utarakan satu persatu, selanjutnya, tanggapan disampaikan oleh Tim AhliLBM PWNU Jawa Timur KH Zahro Wardi dengan mengarahkan agar pembahasan tidak terjebak di tataran lahiriyah aqad.

Sebab menurut penjelasannya, semua aqad bisa jadi dapat dimasukkan dalam Auto Gajian meskipun batil.

Lebih dari itu, KH. Zahro Wardi mengajak musyawirin untuk lebih mendalami substansi kegiatan agar diketahui hukum halal dan tidaknya.

KH. Azizi Hasbulloh selaku Tim Ahli PBNU mengatakan Auto Gajian termasuk Akhdzul Maalil ghoir Bil Batil (mengambil harta orang lain dengan jalan batil), sehingga apapun bungkus akadnya tetap tidak diperbolehkan.

Alhasil Forum pun menyepakati bahwa praktik yang dijalankan Auto Gajian merupakan investasi “bodong” yang mengandung unsur Ghurur/غرور (tipu daya) dan melanggar prinsip-prinsip pengelolaan keuangan syariah. Sehingga hukum mengikuti Auto Gajian juga diharamkan.

Untuk lebih detail memahami putusan tersebut, berikut saya tampilkan hasilnya:

Bahsul Masail Waqi'iyah #
(LBM PCNU TULINGAGUNG)
NO: 008/PC/LBM-NU/L.24/VII/2020
04 JULI 2020,
Ponpes Sunan Kali Jogo, Ngunut - Tulungagung

Tema : Bantuan Menguntungkan (AUTO GAJIAN)

Deskripsi Masalah :
Sejak dua bulan terakhir, warga Tulungagung dikejutkan kabar tentang program tolong menolong atau sedekah menguntungkan. Memang menggiurkan, hanya dengan uang Rp.1.500.000, beberapa bulan berikutnya bisa menikmati hasil Rp.150.000.000. Program yang dinamai AUTO GAJIAN ini dikemas dengan konsep dan sistem sebagaimana terlampir di Lampiran 1.

Pertanyaan :
A. Tergolong aqad apakah program tersebut?
B. Bagaimana hukum mengikuti program AUTO GAJIAN sebagaimana dijelaskan dalam deskripsi di atas?

Jawaban :
A. Tergolong investasi “bodong” yang mengandung unsur Ghurur/غرور (tipu daya) dan melanggar prinsip-prinsip legalitas pengelolaan keuangan syariah. Disebut Investasi karena konsep yang dibangun di dalamnya nyata-nyata menunjukkan sebuah bisnis investasi meskipun dibungkus dengan istilah ‘íkhlas berbagi’.

Unsur Ghurur/غرور dalam Auto Gajian di antaranya :

1. Penggunaan jargon atau istilah “Ikhlas Berbagi” dan klaim sebagai “komunitas sosial”, tidak sesuai dengan realita sistem yang dijalankan mereka. Sebab dilihat dari konsepnya, Entitas Auto Gajian murni kegiatan bisnis yang berorientasi keuntungan.

Di lain sisi, jika istilah ‘ikhlas berbagi’ dimaknai shadaqah tentu tidak sesuai dengan konsep shadaqah itu sendiri. Konsep shadaqah dalam ilmu fiqh adalah pemberian dengan mengharapkan pahala. Bukan mengharapkan selain pahala.

Begitu p**a jika ‘ikhlas berbagi’ dimaknai hibah (pemberian), juga tidak tepat. Sebab hibah adalah pemberian tanpa mengharapkan imbal balik. Sedangkan di Auto Gajian tidak demikian.

Pemberian (Hibah) dengan mengharapkan imbal balik, dalam ilmu fiqh masuk kategori transaksi Bai’ (Jual Beli). Andaikata ‘Ikhlas Berbagi’ disebut jual beli, ini juga tidak tepat. Sebab konsep dan sistem yang dibangun Auto Gajian nyatanya tidak memenuhi syarat rukun jual beli.

2. Klaim tidak adanya mitra terakhir atau tidak ada peserta yang dirugikan adalah bentuk tipu daya yang nyata. Sebab sistem seperti ini pasti ada peserta terakhir yang dirugikan, meskipun Auto Gajian mengklaim memiliki dana yang disimpan sebagai antisipasi jika terjadi kejenuhan atau mati. Namun demikian dalam hitung-hitungan matematik, tidak mungkin dana yang masuk dapat mencukupi kebutuhan seluruh anggotanya jika hanya mengandalkan pemasukkan dari anggota.

3. Tidak adanya transparansi publik dalam skema penentuan pencairan.

4. Tidak adanya legalitas dari pemerintah sesuai ketentuan perundang-undangan yang berlaku. Sehingga kegiatan Auto Gajian tidak bisa dikontrol dan diawasi oleh pihak-pihak terkait.

B. Hukum mengikuti Auto Gajian adalah haram. Sebab :

1. AUTO GAJIAN Melanggar aturan pemerintah, yaitu surat penghentian kegiatan usaha AUTO GAJIAN oleh Satgas Waspada Investasi (SWI) Otoritas jasa Keuangan (OJK) Nomor : S-210/SWI/2020 pada 11 Mei 2020. Dikuatkan dengan siaran pers Nomor : SP 03/SWI/IV/2020 Tentang Daftar Entitas Investasi Ilegal yang salah satunya adalah AUTO GAJIAN. Surat tersebut sebagai jawaban OJK Kediri atas surat LBM PCNU Tulungagung tertanggal 02 Juli 2020.

2. Esensi AUTO GAJIAN sendiri adalah haram, meskipun di“bungkus” dengan akad apapun. Sebab tinjauan halal haramnya sebuah akad dalam ilmu fiqh dilihat dari maksud dan tujuannya, bukan dari perkataan dan “bungkus”nya. Sementara konsep yang dijalankan AUTO GAJIAN esensinya masuk kategori اخذ أموال الناس بالباطل (Mengambil harta orang lain dengan cara batil) dan itu hukumnya HARAM.

ILHAM NADHIRIN.
Tulungagung, 05 Juli 2020.

Want your school to be the top-listed School/college in Semarang?

Click here to claim your Sponsored Listing.

Location

Website

Address


Jalan Kali Aji
Semarang
51371